Anda di halaman 1dari 4

Perjanjian Keagenan dan Distributor 1.

Dasar Hukum Perjanjian keagenan dan perjanjian distributor merupakan perjanjian tidak bernama yang tidak terdapat dalam BW. Dasar hukum perjanjian-perjanjian ini berdasarkan kebebasan berkontrak, yakni pada pasal 1338 Ayat (1) BW. Sepanjan memenuhi pasal 1320 BW mengenai syarat sahnya kontrak , maka perjanjian ini berlaku dan memiliki nilai hukum. Perjanjian tidak bernama diatur dalam pasal 1319 BW yang menyatakan bahwa, Semua perjanjian, baik yang mempunyai suatu nama khusus, maupun yang tidak terkenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan-peraturan umum. Dengan berjalannya waktu perjanjian keagenan dan perjanjian distributor tidak hanya didukung prinsip kebebasan berkontrak saja, tapi juga Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 11/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen dan Distributor Barang dan/atau Jasa (Permendag 11/2006). 2. Karakteristik 2.1 Karakteristik Perjanjian Keagenan Usaha dalam bidang keagenan adalah jasa perntara untuk melakukan transaksi bisnis tertentu yang menghubungkan pelaku usaha yang satu dengan yang lain atau yang menghubungkan pelaku usaha dengan konsumen di pihak yang lain. Perjanjian Keagenan adalah perjanjian tidak bernama atau tidak terdapat dalam BW. Pihak-pihaknya antara lain : Pihak yang memberi perintah disebut prinsipal, sedangkan pihak diminta untuk melakukan perbuatan hukum disebut agen. Hubungan prinsipal dengan agen pada prinsipnya didasarkan pada suatu kesepakatan, yaitu agen setuju untuk melakukan suatu perbuatan hukum bagi prinsipal dan pada sisi lain prinsipal setuju atas perbuatan hukum yang dilakukan oleh agen tersebut.

Sehingga dengan adanya kesepakatan tersebut, maka tanggung jawab atas perbuatan hukum yang dilakukan oleh agen dibebankan pada prinsipal. Agen pada dasarnya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan hukum untuk dan atas nama prinsipal karena pada dasarnya agen bukanlah pemilik barangdan /atau jasa, pemilik barang dan/atau jasa tersebut adalah prinsipal. Hal-hal yang menjadi unsur esensial perjanjian keagenan adalah : Adanya perintah atau wewenang untuk melakukan pemasaran Barang dan/atau jasa milik prinsipal Dalam suatu wilayah pemasaran tertentu, dan Adanya upah atau komisi

Syarat sahnya perjanjian distributor harus memenuhi pasal 1320 BW.

2.2 Karakteristik Perjanjian Distributor Pengertian distribusi adalah cara menjual suatu produk perusahaan kepada konsumennya. Perjanjian Distributor adalah perjanjian tidak bernama atau tidak terdapat dalam BW. Alasan munculnya perjanjian ini adalah karena prinsipal tidak terlalu menguasai wilayah yang akan menjadi wilayah pemasaran produknya dan/atau prinsipal membutuhkan pihak lain yang memiliki jaringan bisnis yang luas sehingga sasaran dan target pemasaran produknya segera terealisasi. Esensi perjanjian distributor adalah suatu perjanjian untuk dan atas namanya sendiri melakukan pembelian, penyimpanan dan penjualan serta pemasaran barang dan/atau jasa yang dimiliki/dikuasai dengan tujuan memperoleh keuntngan. Jadi tidak ada hubungan perwakilan antara prinsipal dan distributor, hubungannya adalah jual-beli dimana distributor membeli barang/jasa kepada prinsipal kemudian oleh

karena distributor menjadi pemilik barang/jasa tersebut oleh distributor barang/jasa tersebut dijual kembali kepada konsumen. Namun ketentuan jual-beli tidak dapat dapat sepenuhnya ditetapkan terhadap perjanjian distributor mengingat konteks dari munculnya adalah mencari keuntungan. Perjanjian distributor adalah bersifat kontinu dan secara terus menerus. Perjanjian keagenan adalah wujud rekonstruksi dari perjanjian Pemberian Kuasa. Unsur esensial pembentuk perjanjian distributor adalah : Barang dan/atau jasa Harga, dan Dalam suatu wilayah pemasaran tertentu.

Syarat sahnya perjanjian distributor harus memenuhi pasal 1320 BW.

3. Perbedaan Perjanjian Keagenan dan Perjanjian Distributor 1. Dalam perjanjian keagenan, agen bertindak sebagai peantara untuk dan atas nama prinsipal. Sedangkan dalam perjanjian distributor, distributor bertindak untuk dan atas namanya sendiri 2. Dalam perjanjian keagenan, barang dan/atau jasa yag dipasarkan oleh agen adalah bukan milik agen, tetapi milik prinsipal. Sedangkan dalam perjanjian distributor, barang dan/atau jasa yang dipasarkan oleh distributor adalah milik distributor sepenuhnya. 3. Dalam perjanjian keagenan, segala tanggung jawab akibat dari perbuatan hukum agen ditanggung oleh dan dibebankan kepada prinsipal. Sedangkan dalam perjanjian distributor, segala tanggung jawab akibat dari perbuatan hukum sepenuhnya ditanggung oleh pihak distributor. distributor

4.

Contoh Perjanjian Keagenan : Agen CV. Iganta Satu merupakan agen yang bergerak di bidang usaha pemasaran LPG milik PT. Pertamina sebagai prinsipal dan dalam tindakannya tersebut CV Iganta Satu memasarkan LPG kepada konsumen sebagai pihak ketiga untuk dan atas nama PT. Pertamina. Pada prinsipnya PT Pertamina sebenarnya yang berhubungan dengan konsumen sebagai pihak ketiga, hanya saja dalam pelaksanaannya direpresentasikan oleh CV Iganta Satu. Perjanjian Distributor :

Anda mungkin juga menyukai