Anda di halaman 1dari 24

TUGAS DISKUSI KELOMPOK V TENTANG DM DAN ULKUS GANGREN

OLEH: 1. SUKENDAR 2. SETYADI 3. SULISTYANTO 4. RISWANTO 5. TITIK P 6. TOFAN DEDI PRASETYO

KELAS B8 ALUR KHUSUS S1 KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TH. AKADEMIK 2!1! " 2!11


KASUS Tn. H umur 50 th datang ke RS dengan riwayat : sejak 1 bulan yang lalu terdapat luka di dorsalis pedis, luka sudah diobati tapi tak kunjung sembuh dan tambah melebar, badan terasa lemas, sering !" terutama dimalam hari. Sementara diagnose dokter #$ dengan ulkus gangrene, pemeriksaan %#S &50 mg'dl. SEVEN UMPS A. I#$%&'(')*+' I+&',*1. #iabetes militus (#$) #iabetes mellitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemi( Smelt*er and are,1++, ) -. %angrene %anggren diabetik adalah nekrosis jaringan pada bagian tubuh peri.er akibat penyakit diabetes mellitus. iasanya gangren tersebut terjadi pada daerah tungkai. "eadaan ini ditandai dengan pertukaran sekulitis dan timbulnya /esikula atau bula yang hemoragik kuman yang biasa mengin.eksi pada gangren diabetik adalah strepto0o00us (Soeatmaji, 1+++). &. %ula darah sewaktu (%#S) "andungan gula darah seseorang ,dimana dalam pemeriksaannya sampel diambil sewaktu 1 waktu tanpa puasa. 2. !" Sering

B. M$%$&*.)*% M*+*,*3lkus gangrene akibat #iabetes $ilitus

/. P$0&*%1**% 1. !pa itu luka %angren %angren atau pemakan luka dide.inisikan sebagaii jaringan nekrosis atau jaringan mati yang disebabkan oleh adanya emboli pembuluh darah besar arteri pada bagian tubuh sehingga suplai darah terhenti. #apat terjadi sebagai akibat proses in.lamasi yang memanjang4 perlukaan (digigit serangga, ke0elakaan kerja atau terbakar)4 proses degenerati. (arteriosklerosis) atau gangguan metabolik diabetes mellitus (Tabber, dikutip %itarja, 1+++). -. $engapa terjadi luka gangrene 5aktor resiko terjadinya gangren diabetik erbagai .aktor resiko yang dapat

mempengaruhi timbulnya gangren diabetik adalah neuropati, iskemia, dan in.eksi. (Sutjahyo !, 1++6 ) 7skemia disebabkan karena adanya penurunan aliran darah ke tungkai akibat makroangiopati ( aterosklerosis ) dari pembuluh darah besar di tungkai terutama pembuluh darah di daerah betis. &. agaimana !ngka kejadian gangguan pembuluh darah peri.er lebih besar pada diabetes millitus dibandingkan dengan yang bukan diabetes millitus. $enurut !ri Sutjahjo (1++6 ) hal ini disebabkan karena beberapa .aktor. Resiko lebih banyak dijumpai pada diabetes mellitus sehingga memperburuk .ungsi endotel yang berperan terhadap terjadinya proses atherosklerosis. "erusakan endotel ini merangsang agregasi platelet dan timbul trombosis, selanjutnya akan terjadi penyempitan pembuluh darah dan timbul hipoksia. 7s0hemia atau gangren pada kaki diabetik dapat terjadi akibat dari atherosklerosis yang disertai trombosis, pembentukan mikro trombin akibat in.eksi, kolesterol emboli yang bersal dari plak atheromatous dan obat8obat /asopressor. %ambaran klinik yang tampak adalah penderita mengeluh nyeri tungkai bawah waktu istirahat, kesemutan, 0epat lelah, pada perabaan terasa dingin, pulsasi pembuluh darah kurang kuat dan didapatkan ulkus atau gangren. !danya neurophaty peri.er akan menyebabkan gangguan sensorik maupun motorik. %angguan sensorik akan

menyebabkan hilangnya atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga penderita akan mengalami trauma tanpa terasa, yang mengakibatkan terjadinya atropi pada otot kaki sehingga merubah titik tumpu yang mengakibatkan pula terjadinya ulkus pada kaki. 3lkus yang terjadi pada kaki diabetik umumnya diakibatkan karena trauma ringan, ulkus ini timbul didaerah8daerah yang sering mendapat tekanan atau trauma pada telapak kaki, hal ini paling sering terjadi, didaerah sendi metatarso.alangeal satu dan lima didaerah ibu jari kaki dan didaerah tumit. $ula8mula inti penebalan hiper keratotik dikulit telapak kaki, kemudian penebalan tersebut mengalami trauma disertai dengan in.eksi sekunder. 3lkus terjadi makin lama makin dalam men0apai daerah subkutis dan tampak sebagaii sinus atau keru0ut bahkan sampai ketulang. 7n.eksi sendiri jarang merupakan .aktor tunggal untuk terjadinya gangren. 7n.eksi lebih sering merupakan komplikasi yang menyertai gangren akibat is0hemia dan neuropathy. 3lkus berbentuk bullae, biasanya berdiameter lebih dari satu sentimeter dan terisi masa, sisa8sisa jaringan tanduk, lemak pus dan krusta diatas dasar granulomatous. 3lkus berjalan progresi. se0ara kronik, tidak terasa nyeri tetapi kadang8kadang ada rasa sakit yang berasal dari struktur jaringan yang lebih dalam atau lebih luar dari luka. ila krusta dan produk8produk ulkus dibersihkan maka tampak ulkus yang dalam seperti keru0ut, ulkus ini dapat lebih progresi. bila tidak diobati dan dapat terjadi periostitis atau osteomyelitis oleh in.eksi sekunder akibatnya timbul osteoporosis, osteolisis dan destrukti. tulang. %ejala 3mum 9enderita dengan gangren diabetik, sebelum terjadi luka keluhan yang timbul adalah berupa kesemutan atau kram, rasa lemah dan baal pada tungkai dan nyeri pada waktu istirahat. !kibat dari keluhan ini, maka apabila penderita mengalami trauma atau luka ke0il hal tersebut tidak dirasakan. :uka tersebut biasanya disebabkan karena penderita tertusuk atau terinjak paku kemudian timbul gelembung8gelembung pada telapak kaki. "adang menjalar sampai punggung kaki dimana tidak menimbulkan rasa nyeri, sehingga bahayanya mudah terjadi in.eksi pada gelembung tersebut dan akan menjalar dengan 0epat (Sutjahyo !, 1++6 ). !pabila luka tersebut tidak sembuh8 sembuh, bahkan bertambah luas baru penderita menyadari dan men0ari pengobatan. iasanya gejala yang menyertai adalah kemerahan yang makin meluas, rasa nyeri

makin meningkat, panas badan dan adanya nanah yang makin banyak serta adanya bau yang makin tajam. 2. Siapa saja yang beresiko mengalami #$ a. 3sia Resistensi insulin 0enderung meningkat pada usia diatas ,5 tahun b. ;besitas 0. Riwayat "eluarga 9enderita #$ tidak mewarisi #$ tipe 1 itu sendiri tapi mewarisi suatu predisposisi ' ke0enderungan geneti0 ke arah terjadinya #$ tipe 1. 7ni ditemukan pada indi/idu yang mempunyai tipe antigen H:! ( Human Leucocyte Antigen ) tertentu. H:! merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplatasi dan proses imun lainnya.

d. "elompok etnik #i !merika Serikat, golongan hispanik serta penduduk asli amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe 77 disbanding dengan golongan !.ro8!merika ( Smelt*er and are,1++, ) D. H'.2&$+'+"P$0%1*&**%

DIABETES MELLITUS

PENGERTIAN 1. -. #iabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. ( runner dan Suddarth. -00-) #iabetes $ellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua8 duanya, dimana hiperglikemia berhubungan dengan kerusakan jangka panjang,

dis.ungsi atau kegagalan berbagai organ tubuh, terutama mata, ginjal, syara., jantung dan pembuluh darah. (!meri0an #iabetes !sso0iation, 1++6)

TIPE DM 1. Tipe 7 : #iabetes mellitus tergantung insulin (7##$) -. Tipe 77 : #iabetes mellitus tidak tergantung insulin (<7##$) &. #iabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya 2. #iabetes mellitus gestasional (%#$) ETIOLOGI 1. #iabetes tipe 7 #irumuskan bahwa kerusakan sel beta terjadi diakibatkan karena in.eksi , biasanya /irus dan atau respon autoimun se0ara genetik pada orang yang terkena. !witan dimulai pada saat usia kurang dari &0 tahun. a. 5aktor genetik b. 5aktor8.aktor imunologi 0. 5aktor lingkungan : /irus'toksin d. 9enurunan sel beta : 9roses radang, keganasan pankreas, pembedahan. e. "ehamilan .. 7n.eksi lain yang tidak berhubungan langsung.

-. #iabetes Tipe 77 $ekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe 77 masih belum diketahui. 5aktor8.aktor resiko : a. 3sia (resistensi insulin 0enderung meningkat pada usia di atas ,5 th) b. ;besitas 0. Riwayat keluarga d. %aya hidup

( runner = Suddarth, Tu0ker Susan $artin) PATHOFISIOLOGI DAN PATHWAYS #alam keadaan normal, jika terdapat insulin, asupan glukosa ' produksi glukosa yang melebihi kebutuhan kalori akan di simpan sebagai glikogen dalam sel8sel hati dan sel8sel otot. 9roses glikogenesis ini men0egah hiperglikemia ( kadar glukosa darah > 110 mg ' dl ). ?ika terdapat de.isit insulin, empat perubahan metaboli0 terjadi menimbulkan hiperglikemi. @mpat perubahan itu adalah : 1. Transport glukosa yang melintasi membran sel berkurang -. %likogenesis berkurang dan tetap terdapat kelebihan glukosa dalam darah &. %likolisis meningkat sehingga dadangan glikogen berkurang dan glukosa hati di0urahkan ke dalam darah se0ara terus menerus melebihi kebutuhan. 2. %lukoneogenesis meningkat dan lebih banyak lagi glukosa hati yang ter0urah ke dalam darah dari peme0ahan asam amino dan lemak (:ong ,1++, ) 9ada #$ tipe 1 terdapat ketidak mampuan menghasikan insulin karena sel8sel beta telah dihan0urkan oleh proses autoimun. !kibat produksi glukosa tidak terukur oleh hati, maka terjadi hiperglikemia. ?ika konsentrasi klokosa dalam darah tinggi, ginjal tidak dapat menyerap semua glukosa, akibatnya glukosa mun0ul dalam urine (glukosuria). "etika glukosa berlebihan diekskresikan dalam urine disertai pengeluaran 0airan dan elektrolit (diuresis osmotik). !kibat kehilangan 0airan berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan berkemih (poli uri) dan rasa haus (polidipsi). #e.isiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan . pasien juga mengalami peningkatan selera makan (poli.agi) akibat penurunan simpanan kalori.gejala lainnya men0akup kelelahan dan kelemahan 9ada #$ tipe - terdapat - masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan ganguan sekresi insulin. Resistensi insulin ini disertai dengan penurunan reaksi intra sel sehingga insulin menjadi tidak e.ekti. untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. 9ada gangguan sekresi insulin berlebihan, kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat normal atau sedikit meningkat. <amun jika sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan insulin maka kadar glukosa darah meningkat. !kibat intoleransi

glukosa yang berlangsung lambat dan progresi. maka awitan #$ tipe - dapat berjalan tanpa terdeteksi. %ejala yang dialami sering bersi.at ringan seperti kelelahan, iritabilitas, poliuri, polidipsi, luka pada kulit yang lama sembuh, in.eksi /agina atau pandangan yang kabur ( jika kadar glukosanya sangat tinggi ) ( Smelt*er and are,1++, )

#ingkungan, "enetik , $munologi,%besitas, &sia


Penurunan kadar insulin Penggunaan glukosa sel menurun, glukagon meningkat Hiperglikemia Rendahnya informasi Kurang pengetahuan Resiko infeksi

Sel kelaparan

Mual muntah, anoreksia

Diuresis osmotik Poliuri

Mikroangiopati Sklerosis mikrovaskuler Neuron Sel saraf sensori iskemik Parestesi, kebas, kesemutan

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

Kekurangan volume cairan

Mata Penurunan perfusi retina, pengendapan sorbitol lensa keruh!

"angguan fungsi penglihatan

Perubahan persepsi sensori perabaan

Perubahan persepsi sensori penglihatan

MANIFESTASI KLINIS a. 9oliuria b. 9oli.agia 0. 9olidipsi d. e. "elemahan erat badan turun g. "esemutan, rasa baal h. 9ruritus, bisul i. $ata kabur j. 7mpotensi pada pria k. 9ruritus /ul/a ' keputihan l. :uka yang lama sembuhnya

.. 7n.eksi Saluran "en0ing

(9!9#7, 79#, -000)

PEMERIKSAAN PENUN ANG 1. %lukosa darah sewaktu -. "adar glukosa darah puasa &. Tes toleransi glukosa "adar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis #$ (mg'dl) ukan #$ "adar glukosa darah sewaktu 9lasma /ena #arah kapiler A 100 1008-00 >-00 elum pasti #$ #$

"adar glukosa darah puasa

9lasma /ena #arah kapiler

A60

608-00

>-00

A110 A+0

11081-0 +08110

>1-, >110

"riteria diagnostik BH; untuk diabetes mellitus 9ada sedikitnya - kali pemeriksaan : 1. %lukosa plasma sewaktu >-00 mg'dl (11,1 mmol':) -. %lukosa plasma puasa >120 mg'dl (C,6 mmol':) &. %lukosa plasma dari sampel yang diambil - jam kemudian sesudah mengkonsumsi C5 gr karbohidrat (- jam post prandial (pp) > -00 mg'dl

PENATALAKSANAAN Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah men0oba menormalkan akti/itas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi /askuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah men0apai kadar glukosa darah normal. !da 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : 1. #iet #iet dan pengendalian beratbadan merupakan dasar dari penatalaksanaan #$ dengan tujuan :

$emberikan semua unsur makanan essensial $en0apai dan mempertahankan $emenuhi kebutuhan energi $en0egah .luktuasi kadar glukosa darah setiap harinya yang sesuai

$enurunkan kadar kemak darah jika meningkat. :atihan

-.

@.ek latihan dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi resiko penyakit kardio/askuler. &. 9emantauan #engan melakukan pemantauan kadar glukosa darah se0ara mandiri, penderita #$ dapat mengukur terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa darah se0ara optimal. Dara ini memungkinkan deteksi dan pen0egahan hipoglikemi serta hiperglikemia lainnya. 2. Terapi (jika diperlukan) 9ada #$ tipe 7, tubuh kehilangan kemampuan untuk memproduksi insulin. #engan demikian insulin eksogeneus harus diberikan dalam jumlah tak terbatas. 9ada #$ tipe 77, insulin myngkin diperlukan terapi jangka panjang untuk mengendalikna kadar glukosa darah jika diet dan obat hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnya. 5. 9endidikan 9endidikan mengenai penyuntikan insulin perlu diberikan kepada klien dan keluarganya. ( runner = Suddarth)

KOMPLIKASI "oomplikasi akut #$ : 1. Hipoglikemia -. Hiperglikemia &. "etoasidosis #iabetik "omplikasi kronis #$ : 1. $ata : retinopati diabetik, katarak -. %injal : glomerulosklerosis intra kapiler, in.eksi &. Sara. : <europati peri.er, neuropati kranial, neuropati otonom.

2. "ulit : dermopati diabetik, nekrobiosis lipoidika diabetikorum, kandidiasis, tukak kaki dan tungkai 5. Sistem kardio/askuler : penyakit jantung dan gangren pada kaki ,. 7n.eksi tak la*im : .asilitis dan miositis nekrotikans, meningitis mu0or, kolesistitis em.isematosa, otitis eksterna maligna.

H. 9@$@R7"S!!< #7!%<;ST7" - %lukosa darah : meningkat -008100 mg'dl atau lebih - !seton plasma : 9ositi. se0ara men0olok - !sam lemak bebas : "adar lipid dan kolesterol meningkat - ;smolalitas serum : meningkat - @lektrolit : <atrium : mungkin normal meningkat'menurun "alium : <ormal, peningkatan semu selanjutnya akan menurun 5os.or : lebih sering menurun ureum' kreatinin : mungkin meningkat'normal 7nsulin darah : mungkin menurun 3rine : gula dan aseton positi. "ultur dan sensi/itas : kemungkinan adanya in.eksi pada saluran kemih

LUKA GANGRENE

7. 9@<%@RT7!< :uka dide.inisikan sebagai suatu kelainan dimana terjadi gangguan keseimbangan terhadap imtegritas kulit baik kehilangan ataupun kerussakan sebagian struktur jaringan utuh, akibat trauma mekanik, termal, radiasi, .isik, pembedahan dan *at kimia. merupakan kejadian luka yang tersering pada klien diabetik. hilangnya rasa pada kondisi terpotong kaki. :uka kaki <europati menyebabkan

%angrene atau pemakan luka dide.inisikan sebagai jaringan nekrosis atau jaringan mati yang disebabkan oleh akarena adanya emboli pembuluh darah besar arteri pada bagian tubuh sehingga suplai darah terhenti, dapat terjadi akibat proses in.lamasi yang memanjang perlukaan bisa akibat digigit serangga, ke0elakaan kerja atau terbakar, proses degenerati.'ateriosklerosis atau ganggaun metabolik ' diabetes mellitus. ?. 9@<!T!:!"S!<!!< :3"! #7! @T7" (%!<%R@<@) 1. Tujuan perawatan luka a. b. 0. d. -. a. $engurangi atau menghilangkan .aktor penyebab ;ptimalisasi suasana luka dalam kondisi lembab #ukungan ' kondisi klien termasuk nutrisi, kontrol #$, kontrol .aktor penyebab. Tingkatkan edukasi klien dan kelluarganya. $en0u0i luka $en0u0i luka merupakan hal yang pokok unutk memperbaiki, meningkatkan dan memper0epat proses penyembuhan luka serta menghindari kemungkinan terjadinya in.eksi. Tujuan men0u0i luka adalah menghilangkan jaaringan neksrosis, menghilangkan 0airan luka yang berlebihan, dan menghilangkan sisa metabolisme tubuh pada permukaan luka. Dairan yang terbaik untuk men0u0i luka adalah 0airan non toksik misalnya normal saline ' <aDl 0.+ E. Dairan anti septik sebaiknya digunakan ketika luka mengalami in.eksi atau tubuh dalam keadaan penurunan imunitas, yang kemudian dilakukan pembilasan kembali dengan normal saline. b. #ebridement $erupakan upaya untuk membuang jaringan nekrosis ' slough pada luka. #ebridement dilakukan untuk menghindari in.eksi atau selulitis, karena jaringan nekrosis selalu berhubungan dengan peningkatan jumlah bakteri. 0. 9erawatan kulit sekitar luka $elindungi kulit di sekitar luka merupakan hal penting untuk men0egah timbulnya luka baru. 9enggunaan Zinc-oxide salep 0ukup e.ekti. untuk melindungi kulit sekitar luka dari 0airan atau eksudat berlebihan.

9erawatan luka diabetik

d.

9enggunaan balutan pada luka 9enggunaan balutan bertujuan untuk mempertahakan daaerah luka agar selalu lembab, memper0epat proses penyembuhan hingga 50 E, absorpsi eksudat dan 0airan luka yang berlebihan, membuang jaaringan nekrosis, kontrol terhadap in.eksi dan menurunkan rasa sakit serta menurunkan biaya selama perawatan. 1. Absorbent dressing ?enis balutan yang paling banyak menyerap 0airan pada luka, juga ber.ungsi sebagai homeostasis tubuh jika terdapat perdarahan dan brter terhadap kontaminasi pseudomonas. Dontoh balutan : aliginate, kaltostaat, sorbsan, alevyn. 2. Hydrocoloid ?enis balutan yang ber.ungsi untuk mempertahankan luka dalam keadaan lembab, melindungi luka dari trauma dan menghindari kontaminasi, digunakan pada keadaan luka berwarna merah. duoderm C !, com"ell. "edua jenis balutan diatas disebut o00lusi/e dressing, merupakan jenis balutan yang mempertahankan lingkungan luka dalam keadaan optimal, saat penggantian balutan akan tampak peluruhan jaringan nekrotik dengan dasar luka bersih. Dontoh balutan : cuntinova-hydro,

e.

Topikal terapi Hydroa0ti/e gel merupakan jenis terapi topi0l yang membnatu peluruhan jaringan nekrotik oleh tubuh sendiri (su##ort autolisis debridement$. Dontoh : intrasit gel, duoderm-gel.

..

alutan untuk mengontrol terjadinya edema "ontrol edema diperlukan guna membantu proses penyembuhan luka diabetik, seringkali ditemukan edema pada ekstremitas. "ontrol edema dapat dilakukan dengan 0ara memberikan kompresi atau penekanan dengan menggunakan elastic bandage %elastis stoking$, dengan penekanan kurang lebih sekitar 16 mmHg atau kekuatan 50E tarikan.

". !S3H!< "@9@R!B!T!< 1. 9engkajian


7dentitas klien Riwayat kesehatan Riwayat pengobatan 9emeriksaan .isik 9emeriksaan penunjang

a. !kti/itas ' istirahat %ejala : lemah, letih, sulit bergerak'berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan tidur. Tanda : Takikardia dan takipneu, letargi dan disorientasi, koma, penurunan kekuatan otot. b. Sirkulasi %ejala : !danya riwayaat hipertensi, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki,penyembuhan yang lama. Tanda : Takikardia, perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yang menurun, disritmia, krekels, kulit panas, kering dan kemerahan, mata 0ekung 0. 7ntegritas @go %ejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah keuangan. Tanda d. @liminasi %ejala : 9erubahan pola berkemih (poliuria'nokturia), rasa nyeri'terbakar, kesulitan berkemih, 7S" baru'berulang, nyeri tekan abdomen, diare. Tanda : 3rine en0er, pu0at, kuning, poluria dapat berkembang menjadi oligouria'anuria jika terjadi hipo/olemia berat, urine berkabut, bau : !nsietas, peka rangsang.

busuk (in.eksi), abdomen keras, adanya asites, bising usus lemah dan menurun : hiperakti. (diare) e. $akanan'Dairan %ejala : hilang na.su makan, mual'muntah, peningkatan masukkan glukosa dan karbohidrat, penurunan , haus, penggunaan diuretik.

Tanda : "ulit kering, bersisik, turgor jelek, muntah, bau halitosis, na.as bau aseton. .. <eurosensori %ejala : 9using, sakit kepala, kesemutan, parastesia, ganguan penglihatan. Tanda : #isorientasi, mengantuk, letargi, stupor, gangguan memori, akti.itas kejang. g. <yeri'ketidaknyamanan %ejala : !bdomen tegang'nyeri. Tanda : Bajah meringis. h. 9ernapasan %ejala : $erasa kekuranagn oksigen, batuk Tanda : :apar udara, batuk i. "eamanan %ejala : "ulit kering, gatal, ulkus kulit Tanda : #emam, dia.oresis, kulit rusak ' ulserasi, menurunnya kekuatan umum ' rentang gerak, parestesia ' paralisis otot termasuk otot8otot perna.asan jika kadar kalium menurun dengan 0ukup tajam. j. Seksualitas %ejala : 7mpotensi, kesulitan orgasme pada wanita, luka ' le0et pada /agina. (#oenges, Ren0ana !suhan "eperawatan, -000)

Hal8hal yang perlu diperhatikan pada pengkajian luka #iabetes $ellitus (gangrene) adalah : 1. :okasi ' letak luka :okasi atau letak luka dapat digunakan sebagai indikator terhadap kemungkinan penyebab terjadinya luka sehingga luka dapat diminimalkan. -. Stadium luka #ibedakan atas 4 a. !natomi kulit (9ressure 3l0ers 9anel, 1++0) 1). 9artial Thi0kness : hilangnya lapisan epidermis hingga lapisan dermis yang paling atas. -). 5ull thi0knes : hilangya lapisan epidermis hingga lapisan sub kutan. Stadium 7 : "ulit berwarna merah, belum tampak adanya lapisan epidermis. Stadium 77 : Hilangnya lapisan epidermis atau le0et sampai batas dermis paling atas. Stadium 777 : Rusaknya lapisan dermis bagian bawah hingga lapisan sub kutan. Stadium 7F : Rusaknya lapisan sub kutan hingga otot dan tulang. b. Barna dasar luka (<edherlands Bound0are Donsultant So0iety, 1+62) $erah : (pink, merah, merah tua) disebut jaringan sehat, granulasi ' epitelisasi ' /askularisasi. "uning : (kuning muda, kuning kehijauan, kuning tua, kuning ke0oklatan) disebut jaringan mati yang lunak, .ibrionilitik, slough, a/askularisasi.

Hitam : ?aringan nekrosis, a/askularisasi. 0. Stadium Bagner untuk luka diabetik 1). Super.i0ial ul0er Stadium 0 : Tidak terdapat lesi, kulit dalam keadaan baik, tapi dengan bentuk tulang kaki yang menonjol (0har0ot arthropathies) Stadium 7 : Hilang lapisan kulit hingga dermis dan kadang8kadang tampak menonjol. -). #eep 3l0ers Stadium 77 : :esi terbuka dengan penetrasi tulang atau tendon (dengan goa). Stadium 777 : 9enetrasi dalam, osteomyelitis, pyartrosis, plantar abses atau in.eksi hingga ke tendon. &). %angrene Stadium 7F : %angrene sebagian, menyebar hingga sebagian jari kaki, kulit sekitarnya selulitis, gangrrene lembab atau kering. Stadium F : Seluruh kaki dalam kondisi nekrotik atau gangrene. &. entuk dan ukuran luka 9engkajian bentuk dan ukuran luka dapat dilakukan dengan pengukuran tiga dimensi atau mengambil .oto untuk menge/aluasi kemajuan proses penyembuhan luka. Hal yang harus diperhatikan dalam pengukuran adalah

dengan menggunakan alat ukur yang tepat dan jika alat ukur tersebut digunakan berulang kali, hindari terjadinya in.eksi silang (nosokomial). :akukan inspeksi

dan palpasi pada kulit selitar luka untuk mengetahui apakah pada luka terdapat selulitis, edema, benda asing, dermatitis kontak atau maserasi. a. 9engukuran tiga dimensi #ilakukan dengan mengkaji panjang8lebar8kedalaman dan dengan menggunakan kapas lidi steril untuk menilai ada tidaknya goa (sinus tra0k'undermining0 dengan mengukur berputar searah jarum jam. b. 9hotography 0. Serial .oto dapat memberikan gambaran proses penyembuhan luka se0ara komprehensi., (0atatan berikan in.orm 0onsent sebelum pengambilan .oto). 2. Status Faskuler $enilai status /askuler berhubungan dengan pengangkutan atau penyebaran oksigen yang adekuat ke seluruh lapisan sel dan merupakan unsur penting dalam proses penyembuhan luka. 9engkajian status /askuler meliputi perlakuan palpasi, 0apillaryre.ill, edema dan temperatur kulit. a. 9alpasi b. :angkah pertama dalam pengkajian status perkusi jaringan adalah palpasi pada daerah tibia dan dorsal pedis untuk menilai ada tidaknya denyut nadi. "lien usia lanjut kadang sulit diraba denyut nadinya dan dapat menggunakan stetoskop ultrasoni0 doppler. Tingkatan denyut nadi : 0 1 & 2 : <adi tidak teraba : !da denyut nadi sebentar : Teraba tapi kemudian hilang : <ormal Sangat jelas kemudian ada bendungan (aneurysm)

0. Dapillary Re.ill Baktu pengisian kapiler die/aluasi dengan memberikan tekanan pada ujung jari, setelah tampak kemerahan segera lepasksna dan lihatlah

apakah ujung jari segera kembali ke kulit normal. 9ada beberapa kondisi menurunnya atau hilangnya denyut nadi, pu0at, kulit dingin, kulit jari tipis dan rambut yang tidak tumbuh merupakan indikasi iskemik (arterrial insu..i0ien0y) dengan 0apillary re.ill labih dari 20 detik. Dapillary Re.ill Time <ormal 7skemik Sedang 7skemik berat : 10 1 15 detik : 15 1 -5 detik : -5 1 20 detik

7skemik sangat berat : lebih dari 20 detik d. @dema 9engkajian ada tidaknya edema dilakukan dengan mengukur lingkar pada mideal., ankle, dorsum kaki kemudian dilanjutkan dengan menekan jari kaki pada tulang menonjol di tibia atau maleolus. "ulit yang edema akan tampak lebih 0oklat kemerahan atau mengkilat, seringkali merupakan tanda adanya ganguan darah balik /ena. Tingkatan udema : Tingkatan edema : 0 1 G in0hi : 1 H (mild)

G 8 I in0hi : - H (moderate) I 8 1 in0hi : & H (se/eral)

e. Temperaturkulit Temperatu kulit memberikan in.ormasi tentang kondisi per.usi jaringan dan .ase in.lamasi, serta merupakan /ariabel penting dalam menilai adanya peningkatan atau penurunan per.usi jaringan terhadap tekanan.

Dara melakukan penilaian dengan menempelkan puggung tangan pada kulit sekitar luka, membandingkannya dengan kulit pada bagian lain yang sehat. 5. Status<eurologik a. 5ungsi $otorik 9engkajian .ungsi motorik berhubungan dengan kelemahan otot se0ara umum, yang menampakkan adanya perubahan bentuk tubuh (terutama kaki), seperti jari0jari yang menekuk atau men0engkram dan telapak kai yang menonjol. 9enurunan .ungsi motorik menyebabkan pengguanaan sepatu atausandal berubah, biasanya akan terjadi penekanan terus menerus pada ujung8ujung tulang kaki sehingga menimbulkan kalus yang kemudian menjadi luka. b. 5ungsi Sensorik 9engkajian .ungsi ini berhubungan dengan 0ara penilaian terhadap kehilangan sensasi pada ujung8ujung ekstremitas. anyak klien #$ dengan neuropati sensori akan mengatakan bahwa lukanya barusaja terjadi namun kenyatannya terjadi beberapa waktu sebelumnya. 0. 5ungsi !utonom #ilakukan pada klien #$ untuk melihat tingkat kelembaban kulit. iasanya klien mengatakan keringatnya berkurang dan kering kulitnya. 9enurunan .aktor kelembaban kulit akan mempermudah terjadinya le0et atau pe0ah8pe0ah (terutama pada ektremitas) akibatnya akan timbul .isura yang akan diikuti oleh .ormasi luka. ,. 7n.eksi $erupakan masalah yang paling serius pada penderita luka #$. 9seudomonas !ureginase dan staphylo0o00us aureus, keduanya merupaka organisme patogenik yang paling sering mun0ul saat perawatan luka. 9enilaian ada tidaknya in.eksi pada luka didasari pengertian bahwa seluruh jenis luka kronik adalah jenis luka yang terkontaminasi oleh adanya kolonisasi bakteri, tetapi tidak

semuanya terin.eksi. adanya : a. Sistematik Tubuh

9ada keadaan luka terin.eksi akan memperlihatkan

ertambahnya jumlah leukosit dan mekro.ag melebihi batas normal yang diikuti dengan peningkatan suhu tubuh. b. :okal 7n.eksi ?umlah eksudat yang bertambah banyak danmenjadi lebih kental, berbau tidak sedap dan disertai dengan penurunan panas dan nyeri. 7n.eksi dapat meluas dengan 0epat hingga tulang (osteomyelitis dapat dilihat dengan J 1 rays) jika tidak dibatasi segera. "ultur merupakan rekomendasi yang dikerjakan untuk menentukan pemberian antibiotik.

-. #iagnosa keperawatan a. "ekurangan /olume 0airan b.d. gejala poliuria, masukan dibatasi Tujuan : Hidrasi adekuat "riteria : Tanda /ital stabil, nadi peri.er dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urine tepat se0ara indi/idu, kadarelektrolit dalam batas normal. 7nter/ensi :

9antau masukan dan keluaran 9antau tanda8tanda /ital Baspadai tanda8tanda hipo/olemik dan penurunan lambung. . Datat hal8hal yang dilaporkan seperi mual, muntah, nyeri abdomen dan distensi 9ertahankan untuk memberikan 0airan paling sedikit -500 ml'hari dlam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan oral dapat diberikan.

b. 9erubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d. gangguan keseimbangan insulin, anoreksia, mual

Tujuan : Tidak terjadi perubahan nutrisi "riteria : $en0erna jumlah kalori ' nutrien yang tepat, $enunjukkan tingkat energi biasanya, 7nter/ensi :

stabil, nilai laboratorium normal.

"aji pola masukan diet dan status nutrisi. erikan konsultasi diet untuk instruksi tentang diet. !njurkan klien makan sesuai jumlah porsi yang diberikan erikan insulin sebelum makan "aji asupan nutrisi -2 jam Timbang setiap hari sekali ?elaskan man.aat nutrisi "olaborasi pemeriksaan Hb.

0. Resiko in.eksi b.d kadar glukosa tinggi Tujuan : Tidak terjadi in.eksi "riteria : $erawat luka denagn tehnik septik 7nter/ensi :

;bser/asi tanda8tanda in.eksi Tingkatkan upaya pen0egahan dengan melakukan 0u0i tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan klien termasuk kliennya sendiri. 9ertahankan tehnikaseptik pada prosedur in/asi.. erikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh8sungguh, massage daerah yang tertekan, jaga kulit tetap kering, linen kering. :akukan perubahan posisi minimal - jam sekali

d. "elelahan b.d penurunan produksi energi metabolik, insu.isiensi insulin Tujuan : "lien dapat mengungkapkan peniingkatan tingkat energi "riteria : "lien mampu untuk berpartisipasi dalam akti.itas yang diinginkan.

7nter/ensi :

#iskusikan dengan klien kebutuhan akan akti.itas. erikan akti.itas alternati. dengan periode istirahat yang 0ukup. 9antau nadi, .rekuensi perna.asan dan tekanan darah sebelum dan sesudah melakukan akti.itas. Tingkatkan partisipasi klien dalam melkukan akti.itas sehari8hari sesuai dengan yang dapat ditoleransi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Smelt*er Su*anne D,

are

rendo % Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah

runner,

Suddart, @disi 6, /ol -, ?akarta: @%D -00-. Soegondo Sidartawan, Soewondo 9radana, Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu, ?akarta : Heul -00&. Ree/es,RouK,:o0khart4 Keperawatan medikal Bedah (-001),Salemba $edika, ?akarta. 2. 9ri0e, Bilson, Pato isiolo!i Konsep klinis Proses Pen"akit(1++5),@%D,?akarta. 5. #oenges, $@ and $oor House, Ren#ana Asuhan Keperawatan. @disi ke &, 9enerbit uku "edokteran, @%D, ?akarta. 6. Tu0ker, et al, Standar Perawatan Pasien $ Proses Keperawatan Dia!nosis dan %&aluasi (1++6) @d. F, Fol.-, @%D, ?akarta