Anda di halaman 1dari 41

BUKU AJAR

KALKULUS PEUBAH BANYAK

Oleh:
Ir. LILIK ZULAIHAH, MSi

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
JAKARTA, 2010

ACUAN PROSES PEMBELAJARAN


KALKULUS PEUBAH BANYAK
A. INDENTITAS MATA KULIAH
Kode Kuliah
Nama Mata Kuliah
Deskripsi

: TI1223
: Kalkulus Peubah Banyak
: Mahasiswa memahami prinsip-prinsip penurunan fungsi
lebih dari sau variabel dan intregral ganda untuk dapat
diaplikasikan pada matakuliah lain atau dalam kehidupan
sehari-hari

Semester
Beban Kredit
Persyarat

: IV
: 2 sks
: Kalkulus II & III

B. KOMPETENSI MATA KULIAH


1. Mahasiswa memahami konsep-konsep dasar yang diperlukan untuk
mempelajari bidang optimisasi.
2. Mahasiswa memahami konsep tentang fungsi peubah banyak.
3. Mahasiswa memahami konsep serta trampil dalam memakai rumus dan
metode turunan parsial untuk menyelesaikan masalah.
4. Mahasiswa memahami konsep serta trampil dalam memakai rumus dan
metode penghampiran nilai fungsi untuk menyelesaikan masalah.

C. SUBSTANSI KAJIAN MATA KULIAH


1.
2.
3.
3.
5.
6.
6.
3.
8.
9.

Integral Lipit Dua dan aplikasinya, pertemuan 1 & 2


Integral lipat Tiga, pertemuan 3 & 4
Integral Garis, pertemuan 5
Latihan Soal, pertemuan 6
UTS pertemuan ke 7
Membahas soal UTS pertemuan 8
Deferensial parsial pertemuan 9 &10
Deret Fourier periode 2 pertemuan 11 13
Deret Fourier periode 2p pertemuan 14 15
Latihan soal 16

D. METODE PEMBELAJARAN
1. Kelas
2. Tutorial

E. EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN


1. Tugas Individu
2. Kuis
3. Ujian
Komponen dan bobot penilaian:
1. Kehadiran
10 %
2. Tugas dan Kuis
15 %
3. Ujian Tengah Semester 25 %
4. Ujian Akhir Semester
50 %
Skala Penilaian
Skala penilaian 1 100
Nilai Huruf
A
AB+
B
BC+
C
CD+
D
E

Nilai Mutu
4
3.7
3.3
3
2.7
2.3
2
1.7
1.3
1
0

Nilai Absolut
80 100
78 79
74 77
70 73
65 69
60 64
55 59
50 54
45 49
40 44
<40

Keterangan
Lulus
Lulus
Lulus
Lulus
Lulus
Lulus
Lulus
Tidak Lulus
Tidak Lulus
Tidak Lulus
Tidak Lulus

F. PERSYARATAN KUALIFIKASI DOSEN


Minimal Pendidikan S2 dengan latar belakang Matematika
G. FASILITAS PEMBELAJARAN
Sarana penunjang yang diperlukan
1. Ruang perkuliahan dengan fasilitas White Board dan Overhead projector
untuk perkuliahan
2. Kepustakaan
H. DAFTAR PUSTAKA
1. Erwin Kreyszig, Matematika Teknik Lanjutan, 1993.
2. Folland, G.B., Fourier Analysis and Its Applications, Wadsworth &
Brooks, 1992.
3. Muhammad Razali, Mahmud N. Siregar, Faridawaty Marpaung, Kalkulus
Differensial, Agustus 2010.

4. Wikaria Gazali, Kalkulus Lanjut, 2007.


5. Yusuf Yahya, D. Suryadi HS., Agus S., Matematika Dasar Perguruan
Tinggi, Februari 2010.

INTEGRAL RANGKAP
INTEGRAL GANDA
Integral untuk fungsi satu variable, kita membentuk suatu partisi dari
interval [a,b] menjadi interval-interval yang panjangnya xk , k = 1, 2, 3, 4, .n.
b

f ( x ) dx = lim

f(x

k=
1

) x k

Dengan cara yang sama, Kita definisikan integral untuk fungsi dua variable.
Misalkan fungsi z = f(x,y) didefinisikan pada suatu daerah tertutup R di bidang
xoy. Kemudian daerah ini dibagi atas n buah sub daerah yang masing-masing
luasnya A1 , A2 , A3 An
Dalam setiap sub daerah, pilih suatu titik Pk(xk, yk
dan bentuklah jumlah :
n

f ( x

, y k ) k A = f ( x1 , y1 ) 1 A +f ( x 2 , y 2 ) 2 A +....... + f ( x n , y n ) n A

k =1

Jika jumlah sub daerah makin besar (n~), maka integral rangkap (lipat dua) dari
fungsi f(x,y) atas daerah R didefinisikan :

f ( x, y ) dA = lim

f ( x

k,

yk ) k A

k =1

Untuk menghitung integral lipat dua dapat digunakan integral berulang


yang ditulis dalam bentuk :
a.

f ( x, y ) dA =

y =f 2 ( y )

f
(
x
,
y
)
dx

dy
y =f ( y )

f ( x, y ) dxdy =

dimana integral yang ada dalam kurung harus dihitung terlebih dahulu dengan
menganggap variabl y konstanta, kemudian hasilnya diintegral kembali terhadap
y.

f ( x, y ) dA =

b.

y =f 2 ( y )

f
(
x
,
y
)
dy

dx
y =f ( y )

f ( x, y ) dydx =

dimana integral yang ada dalam kurung harus dihitung terlebih dahulu dengan
menganggap variable x konstanta, kemudian hasilnya diintegral kembali
terhadap x.
Jika integral lipat dua diatas ada, maka (a) dan (b) secara umum akan memberikan
hasil yang sama.

INTEGRAL LIPAT DUA


DENGAN BATAS PERSEGI PANJANG
Bentuk umum :

f ( x, y )dA =f ( x, y )dxdy
R

dimana : R = { (x,y) ; a x b,c y d }


a,b,c dan d adalah konstanta
Contoh :
1 2

1.

dxdy
0 1
4 2

2. ( x 2 + y 2 )dxdy
2 1

4 2

3.

( xy +3 y

) dydx

2 1

4.

(sin + r cos 2)ddr


2 0

INTEGRAL LIPAT DUA


DENGAN BATAS BUKAN PERSEGI PANJANG

a.

f ( x, y ) dA =

f 2 ( x)

f ( x, y )dy dx

x =a y =f 1 ( x )

dimana :
R = { (x,y) ; f1(x) y f2(x) ,a x b }
b.

f ( x, y ) dA =

f 2 ( y)

f ( x, y)dx dy

y =c x =f1 ( y )

dimana :
R = { (x,y) ; f1(y) x f2(y) ,c y d }
Contoh :
1 x

1.

xy
0 x

dydx

2 3y

2.

( x +y)dxdy
1

2 x 2 +x

3.

x dydx
0 2 x2

APLIKASI INTEGRAL LIPAT DUA


Aplikasi integral lipat dua yang bentuk umumnya :

f ( x, y ) dA
R

dapat dijelaskan sbb :


1.

LUAS
Luas bidang dapat dipandang sebagai integral lipat dua jika f(x,y) = 1 ,
sehingga integral lipat dua menjadi :

dA

A=

dxdy = dydx

atau A =

Dalam koordinat polar :

A=

dA

contoh :

2 = 2

dd

1 =

Hitung luas daerah yang dibatasi oleh x + y = 2 dan 2y = x + y


Jawab :
2 2- y

A = dA =
R

0 2y -4

2- y

2y -4

dxdy = x

dt

= ( 2 y 2 y 4)dy = (6 3y)dy
0

= (6y -

3 2
y ) = (12 6) = 6
2
0

TURUNAN PARSIAL
a. Fungsi dua peubah atau lebih
Fungsi dua peubah atau lebih dapat ditulis dalam bentuk eksplisit atau implisit. Jika
fungsi dua peubah dinyatakan dalam bentuk eksplisit, maka secara umum ditulis dalam
bentuk z = F(x,y). Sebaliknya jika fungsi dituliskan dalam bentuk implisit, secara umum
ditulis dalam bentuk F(x,y,z) = 0.
Contoh:
1. z = 2x + y
2. z = ln

x 2 2 y 4

3. z = 1 2

1
2 sin x sin y

4. xy + xz yz = 0
5. xy - e x sin y = 0
6. ln x 2 y 2 arctan
7. arc tan

y
=0
x

y
- 2z = 0
x

Pada contoh di atas, fungsi yang ditulis dalam bentuk eksplisit adalah pada contoh
1,2, dan 3. Sedangkan contoh 4, 5, 6, dan 7 adalah fungsi yang ditulis dalam bentuk
implisit. Semua fungsi dalam bentuk eksplisit dengan mudah dapat dinyatakan dalam
bentuk implisit. Akan tetapi tidak semua bentuk implisit dapat dinyatakan dalam bentuk
eksplisit.
Untuk menggambar fungsi dua peubah dapat dengan membuat sumbu-sumbu
koordinat, yaitu sumbu x, sumbu y, dan sumbu z seperti gambar berikut:

X
Y
b. Turunan Parsial Fungsi Dua dan Tiga Peubah
Misal z = F(x,y) adalah fungsi dengan variable bebas x dan y. Karena x dan y variable
bebas maka terdapat beberapa kemungkinan yaitu:
1. y dianggap tetap, sedangkan x berubah-ubah.
2. x dianggap tetap, sedangkan y berubah-ubah
3. x dan y berubah bersama-sama sekaligus.
Pada kasus 1 dan 2 diatas mengakibatkan fungsinya menjadi fungsi satu peubah,
sehingga fungsi tersebut dapat diturunkan dengan menggunakan definisi turunan pertama
yang telah dipelajari pada kalkulus diferensial.
Definisi
Misal z = F(x,y) adalah fungsi dua peubah yang terdefinisi pada interval tertentu, turunan
parsial pertama z terhadap x dan y dinotasikan dengan
oleh
Z
Lim F ( x + x, y ) F ( x, y )
= x
0
x
x

dan
Z
Lim F ( x, y + y ) F ( x, y )
=

y 0
y
y

Asalkan limitnya ada.


Contoh :
Tentukan turunan parsial pertama dari

z
z
dan y dan didefinisikan
x

a. z =

x2 + y2

Jawab
Z
Lim F ( x + x, y ) F ( x, y )
= x
0
x
x

Lim
= x
0

( x + x) 2 + y 2 x 2 + y 2
x

Lim
= x
0

( x + x) 2 + y 2 x 2 + y 2
.
x

( x + x) 2 + y 2 + x 2 + y 2
( x + x) 2 + y 2 + x 2 + y 2

2
2
2
2
Lim ( x + x) + y ( x + y )
= x
0

Lim
= x
0
Lim
= x
0

2 xx + x 2
x ( x + x ) 2 + y 2 + x 2 + y 2
2 x + x
( x + x) 2 + y 2 + x 2 + y 2

2x

= 2 x2 + y 2
=

x
x + y2
2

Z
Lim F ( x, y + y ) F ( x, y )
=

y 0
y
y

Lim
= x
0

( x 2 + ( y + y ) 2 x 2 + y 2
y

Lim
= x
0

( x 2 + ( y + y ) 2 x 2 + y 2
.
y

( x + x ) 2 + y 2 ( x 2 + y 2 )
Lim
= x 0
x

( x 2 + ( y + x) 2 + x 2 + y 2
( x2 + ( y 2 + x2 + y 2

Lim
= x
0

2 xx + x 2
x ( x + x ) 2 + y 2 + x 2 + y 2

Lim
= x
0

2 x + x
( x + x) 2 + y 2 + x 2 + y 2

2y

= 2 x2 + y 2
=

y
x + y2
2

b. z = Sin (x+y)
Jawab
Z
Lim F ( x + x, y ) F ( x, y )
= x
0
x
x

Lim sin( x + x + y ) sin( x + y )


= x
0
x
1
1
2 cos ( x + x + y + x + y ) sin ( x + x + y x y )
Lim
= x 0
2
2
x
x
x
Lim cos( x + y + 2 ) sin 2
= 2 x
0
x

sin
x
= 2 Lim
cos (x+y+
) Lim
x 0
2
x 0

x
= 2 Lim
cos (x+y+
) Lim
x 0
2
x 0

= 2 cos (x+y)(1)(1/2)

x
sin x

2.1
x / 2 2

= cos (x+y)
Z
Lim F ( x, y + y ) F ( x, y )
=
x
0
y
y

Lim sin( x + y + y ) sin( x + y )


= x
0
y

Lim 2 cos 2 ( x + y + y + x + y ) sin 2 ( x + y + y x y )


= x
0
y
x
x
cos( x + y +
) sin
Lim
= 2 x 0
2
2
x

sin
x
= 2 Lim
cos (x+y+
) Lim
x 0
2

x
sin x 1
2.
) Lim
x 0 x / 2
2
x 0

x
= 2 Lim
cos (x+
x 0
2

= 2 cos (x+y)(1)(1/2)
= cos (x+y)

Untuk memudahkan dalam menentukan turunan parcial dapat dilakukan dengan


menggunakan metode sederhana sebagai berikut. Andaikan z = F(x,y) maka untuk
menentukan

z
sama artinya dengan menurunkan variabel x dan variabel y dianggap
x

konstan dan selanjutnya y diturunkan. Demikian pula untuk menentukan y sama


artinya dengan menurukan variable y dan variable x dianggap konstant lalu diturunkan.

Dengan cara yang sama, andaikan W = F(x,y,z) adalah fungsi tiga peubah yang
terdefinisi dalam selang tertentu maka turunan parsial pertama dinyatakan dengan
W W
W
,
, dan
yang secara berturut didefinisikan oleh:
x
y
z

W
F ( x + x, y , z ) F ( x, y , z )
= Lim

o
x
x
W
F ( x, y + y, z ) F ( x, y, z )
= Lim

o
y
y

W
F ( x, y, z + z ) F ( x, y , z )
= Lim
z o
z
z

Asalkan limitnya ada.


Contoh:

y
x

1. Ditentukan F(x,y,z) = xyz + 2 tan


Carilah turunan parsial pertamanya.
Dengan metode sederhana didapat
2

F ( x, y , z )
y
= yz +
a.
y2 2
1+ 2 x
x

= yz -

2 yx 2
x 2 (1 + y 2 )

F ( x, y , z )
1
= xz +
b.
y2
y
1+ 2 x

2x2
= xz x(1 + y 2 )

c.

F ( x, y , z )
= xy
z

Untuk latihan para pembaca tentukan turunan persial fungsi-fungsi di bawah ini:
1. z = ln

x +y

2. z = 36 x2 y2
3. z = 3 -

1
sin( x + y )

4. z = xy2 2x2 + 3y3


y
x

5. z = arc tan

6. F(x,y,z) = xy yz + xz
7. F(x,y,z) =

x2 + y2 + z 2

8. F(x,y,z) = sin (xy) 2e xy


xy

9. F(x,y,z) = arc sin

Selanjutnya turunan parsial fungsi dua peubah atau lebih dapat ditentukan turunan parsial
ke n, untuk n 2 turunan parsialnya dinamakan turunan parsial tingkat tinggi.
Dengan menggunakan analogi fungsi satu peubah dapat ditentukan turunan parsial
tingkat 2, 3 dan seterusnya.
Jadi andaikan z = F(x,y) maka:
Turunan parsial tingkat dua adalah

2 z 2 z 2 z
2 z
,
,
,
dan

y
x
x 2 y 2 xy

Demikian pula, jika W = F(x,y,z)


Turunan parsial tingkat dua adalah
2W 2W 2W 2W 2W 2W 2W 2W 2W
,
,
,
,
,
,
,
,
x 2
y 2
z 2 xy xz yz yx zx zy

Demikian seterusnya. Banyaknya turunan tingkat ditentukan oleh rumus m n , dimana m


banyaknya variabel dan n menunjukkan turunan ke-n
Contoh
2 z
2 z
dan
dari fungsi berikut:
y 2
x 2

Tentukan

xy

1. z = x y
Jawab
z
y ( x y ) xy (1)
xy
=
Dari z = x y , diperoleh
x
( x y)2

y2
( x y)2

z x( x y ) xy ( 1)
=
y
( x y) 2
x2
=
( x y)2

Sehingga

2 z
z
=

2
x
x x

y2

=
x ( x y ) 2

0( x y ) 2 ( y 2 )(2)( x y )(1)
=
( x y) 4

=
Dan

2 xy 2 2 y 3
( x y)4

x2
2 z

=
y 2
y ( x y ) 2

0( x y ) 2 x 2 ( 2)( x y )(1)
=
( x y)4
2 x 3 yx 2
=
( x y)4

x
y
2
2
y
x

2. z =

3. z = sin 3x cos 4y
d. Differensial Total dan Turunan Total
Misal z = F(x,y), dan fungsi tersebut dapat diturunkan terhadap variable x dan y,
maka diperoleh turuna parisal terhadap x dan turunan parsial terhadap y yang secara
berturut-turut dinotasikan dengan
z
F ( x, y )
=
------------- (1) dan
x
x
z
F ( x, y )
=
------------- (2)
y
y

Dari (1) dan (2) diperoleh:


dz =

F ( x, y )
F ( x, y )
dy
dx dan dz =
y
x

Jumlah diferensialnya diperoleh:


dz =

F ( x, y )
F ( x, y )
dy
dx +
y
x

Bentuk di atas disebut diferensial total.


Contoh.
1. Jika r =

x2 + y2

dengan x = panjang sisi yang pendek, y = panjang sisi yang panjang

Differensial total
r

dr = x dx + y dy
dimana dr r , dx x , dx y
didapat
r

r = x x + y y
=

2x
2 x +y
2

x +

2y
2 x2 + y2

20
5
5
+

2
2
15 + 20 8
15 + 20 16
15

15 5 20 5

25 8 25 16

1
cm
8

2. Suatu tempat berbentuk silinder (tabung) dengan jari-jari alasnya 15 cm dan tingginya
20 cm. Karena pemuaian, tinggi slinder bertambah 0,5 cm/det dan tingginya
berkurang 1 cm/det. Hitunglah perubahan yang terjadi terhadap volume dan luas
permukaan silinder.
Jawab.
Misal jari-jari tabung r, tinggi h dan volume I, maka
I = r 2 h
I = I(r,h)
Diketahui r = 15 cm, h = 20,

r
h
= 0,5cm / det ,
= 1cm / det
t
t

Dengan definisi turunan total


I = I(r,h) dengan r dan h bergantung pada waktu t, maka diperoleh
dI I dr I dh
=
+
dt r dt h dt

= 2 rh

dr
dh
+ r 2
dt
dt

Turunan Parsial Fungsi Implisit


Turunan Fungsi Implisit 2 Peubah

Fungsi implisit dua peubah secara umum dinyatakan dengan F(x,y) = 0.


Untuk menentukan turunan parsialnya dapat dilakukan dengan menggunakan kaidah
differensial total.
Karena f(x,y) = 0, maka df(x,y) = d(0)
Atau
f ( x, y )
f ( x, y )
dx +
dy = 0
x
y

f ( x, y ) f ( x, y ) dy
+
=0
x
y
dx

f ( x, y ) dy
f ( x, y )
=
y
dx
x

f ( x, y )
dy
x
=

f ( x, y )
dx
y

Carilah

dy
dari
dx

b. f(x,y) = xy-ex sin y = 0 (FUNGSI IMPLISIT 2 PEUBAH X DAN Y)


akan dicari

dy
, menurut definisi turunan total
dx

f ( x, y )
dy
x
= f ( x, y )
dx
y

y e x sin y
x e x cos y

y
x

3. ln(x 2 +y 2 ) - arc tan = 0 (FUNGSI IMPLISIT 2 PEUBAH X DAN Y)


f ( x, y )
dy
x
= f ( x, y )
dx
y
2x + y
x2 + y2
=
2y x
x2 + y2

2x + y
x 2 y

Turunan Fungsi Implisit 3 Peubah

Fungsi Implisit 3 peubah secara umum dinyatakan dalam bentuk f(x,y,z) =0


Contoh:
Contoh
1. xy + yz + xz = 0
x

2. exyz zsin = 0
y

3. x2 + y2 + z2 25 = 0
Fungsi Implisit 4 Peubah
BU dinyatakan dengan

F ( x, y , u , v ) = 0

G ( x, y , u , v ) = 0

Atau ditulis dalam bentuk


F(x,y,u,v) = 0 dan G(x,y,u,v) = 0
dengan x,y variable berpasangan dan u,v variabel berpasangan dan F(x,y,u,v) = 0 serta
G(x,y,u,v) = 0 tidak dapat berdiri sendiri.
Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini.
Contoh

x + y 2 + 2uv = 0
1.
x 2 xy + y 2 + u 2 + v 2 = 0
Atau ditulis dengan x+y 2 + 2uv = 0, x 2 xy + y 2 + u 2 + v 2 = 0

2u v + x 2 + xy = 0
2.
u + 2v + xy y 2 = 0

u 2 v2 + 2x + 3 y = 0
3.
dan seterusnya.
uv + x y = 0

Turunan Parsial dilakukan dengan menggunakan metode substitusi.


Dalam F(x,y,u,v) = 0 dan G(x,y,u,v)= 0, u,v variabel sejenis, x,y variabel sejenis
x y u

sehingga tidak dapat ditentukan y , x , v , dan u .


x

Sehingga turunan parsialnya adalah u , y dan seterusnya.


Untuk menentukan turunan parsial 4 peubah, langkah ditempuh adalah menurunkan
fungsi terhadap peubah yang dimaksud.
Contoh:
1. Tentukan

u
x
dan
dari
x
u

x+y2 +2uv = 0 dan x2-xy+y2+u2+v2 = 0 didapat


u
x
y v
+v
+ 2 y + 2 u
= 0 ----- 1
x
x
x x

1 + 0 + 2u

v
u
v
u
+ 2v
= 0 atau 2u
+ 2v
= 1
x
x
x
x

x
y
u
v
x y
+y
+ 2u
+ 2v
= 0 ---- 2
x
+2y
x
x
x
x
x x

2x

2x-0-y+0+2u

u
v
u
v
+ 2v
= 0 atau 2u
+ 2v
= y 2x
x
x
x
x
v
didapat
x

Setelah di eliminasi
u v u ( y 2 x )
=
x
2(v 2 u 2 )

v + u ( y 2 x)
2(u 2 v 2 )

x+y2 +2uv = 0 dan x2-xy+y2+u2+v2 = 0 didapat


diturunkan terhadap
1

x
v
= 0)
(yang tidak boleh
u
u

x
y
+2y
+ 2v = 0 atau
u
u

x
y
+2y
= 2v ----- (1)
u
u

2x

x y
x
y
u
x
+y
+ 2u
+ 0 = 0 atau
+2y
u u
u
u
u

(2 x y )

x
y
+ (2 y x)
= 2u ------- (2)
u
u

Berdasarkan persamaan (1) dan (2), dengan metode eliminasi diperoleh


1

x
y
+2y
= 2v
u
u

(2 x y )

................................... . (2y-x)

x
y
+ (2 y x)
= 2u . (2y)
u
u

Didapat

(2y-x) 1

x
y
+ 2 y ( 2 y x)
= 2v(2 y x)
u
u

(2 x y )2 y

x
y
+ (2 y x)2 y
= 2u ( 2 y )
u
u

--------------------------------------------------------------- [(2y-x)-(2x-y)(2y)]

x
= -2v(2y-x)+2u(2y)
u

Diperoleh
x
4vy + 2vx + 4uy
=
u (2 y x) ( 4 xy 2 y 2 )

4vy 2vx 4uy


(2 y x 4 xy + 2 y 2 )

2. Cari turunan parsial pertama dari

dan

dari persamaan

, dan

1)

Mencari

Persamaan 1)

.(1)

Persamaan 2)

.... (2)

dikali
dikali

Maka,

DERET FOURIER
Suatu fungsi (x) disebut fungsi periodik dengan pewriode T,
jika untuk semua x berlaku :
(x +T) = (x), disini T suatu konstanta Pos
Contoh : a.

(x) = sin x mempunyai periode-periode 2 , 4 , 6 ,


sin x = sin x + 2
= sin x + 4
= sin x + 6
sin x = sin ( x + 2k )

dimana

k = bilangan bulat positif


3

4
2

2 adalah periode terkecil atau periode darisin x


b.

periode dari sin nx atau cos nx untuk n bulat positif


adalah 2 /n

c.

(x ) = tg x
tg x = tg (x + )
= tg (x + 2)
= tg (x + 3)
tg x = tg (x + k )

periode dari tg x adalah

d. Fungsi periodik dengan periode 4

-4

-2

x, 0 < x < 2
(x )

2, 2 < x < 4
I.

Fungsi Ganjil
Suatu fungsi (x ) disebut fungsi ganjil bila untuk semua x berlaku,
(-x ) = - (x )
Contoh : a).

(x) = sin x
(-x) = - sin x
(x) = x3 5x
(-x) = - x3 5 (-x)
= - (x3 5x )
= - (x)
Suatu fungsi (x) disebut fungsi ganjil bila kurva simetris

b).

c).
terhadap

titik 0

-5

II.

-4

-3

-2

Fungsi Genap
Fungsi (x) disebut, bila untuk semua x berlaku. (-x) = (x)
Contoh,

a).

b).

(x) = cos x
(-x)
= cos (-x) = cos x
(-x) = (x)
(x) = x6 7x4 + 8x2 -7
(-x) = (-x)6 7-(x)4 + 8(-x_)2 -7

= x6 7x4 + 8x2 -7
(-x) = (x)
c).

(x)

= x2, -3 < x < 3

suatu fungsi (x) disebut fungsi genap, bila curve fungsi


tersebut letaknya simetris terhadap sumbu tegak.
Deret Fourier Untuk Fungsi Dengan Periode 2 Diambil Deret
1.

+ a1 cos x + a 2 cos 2 x + a3 cos 3x + ...................

................ +b1 sin x +b2 sin 2 x +b3 sin 3 x +........................

atau
2.

a + [a
2

n =1

cos nx + bn sin nx]disebutderetgoneometri

Rumus Pokok
d +2

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

sin nxdx = 0

d
d +2

d
d +2

cos mx cos nxdx = 0, m n

d +2

cos 2 nxdx = , n 0

d
d +2

d
d +2

d
d +2

cos nxdx = 0, n 0

cos mx sin nxdx = 0


sin mx sin nxdx = 0

sin 2 nxdx = , n 0

Ditentukan (x) = periodik dengan periode 2 , maka


a0
+
10. (x) =
(an cos nx + bn sin nx)
2 n =1

a.

Mencari

a0

Bentuk (10) di integralkan dari


X = d sampai
X = d + 2, terdapat
d +2

d +2

d +2

( x ) dx =

1
a0
2

d +2

a
( x) dx = 0 x
2

d +2
d

d +2

(an cos nxdx + bn sin nxdx)

dx + d

+ a1

d +2

n =1

cosdx + a 2

cos 2 xdx +......an


d +2

cos nxdx + b1

d +2

sin axdx + b2

d +2

sin 2 xdx +......bn

d +2

sin nxdx

Sesuai (3) dan (4) terdapat


d +2

( x )dx =

11.

a0

b.

Mencari

a0
( d + 2 d )
2

d +2

( x) dx

an

Bentuk (10) dikalikan cos nx.


Kemudian di integralkan ke x,
Dari x = d sampai
x = d + 2
d +2

d
d +2

( x) cos nxdx =

a0
2

d +2

cos nxdx +

cos nx ( an cos nxdx + bn sin nxdx)


n +1

a0
2

d +2

cos nxdx + a1

d +2

a2

d +2

d +2

d +2

cos nx cos 2 xdx +........... + a n

d +2

cos nx sin xdx + b2

d +2

bn

cos nx cos xdx +

cos nx sin xdx

cos 2 nxdx + b1

cos nx sin 2 xdx +...... +

d +2

an =

12.

c.

d +2

( x) cos nxdx =

cos 2 nxdx = a n

1 d +2
( x) cos nxdx
d

Mencari bn
Bentuk (10) dikalikan sin nx
kemudian di integralkan ke x,
dari x = d sampai
x = 2

d +2

( x) sin nxdx =
d +2

d +2

a0
2

d +2

a0
( x) sin nxdx = 2
d +2

sin nx cos 2 xdx + a 3

b1

sin nx sin xdx + b2

d +2

13.

d
d +2

d +2

sin nx ( a n cos nx + bn sin nx )dx


n =1

d +2

sin nxdx + a1

d
d +2

sin nx sin 2 xdx + ....... + bn

d +2

1 d +2
( x) sin nxdx
d

sin nxcosxdx

d +2

sin nx cos 3 xdx + ....... + a n

( x) sin nxdx = b

bn =

d +2

a2

d
d +2

sin nxdx +

sin 2 nxdx = bn

sin nx cos nxdx

sin 2 nxdx .

Bentuk (11), (12) dam (13) disebut koefisien fourier dari

a0
+ ( an cos nx + bn sin nx)
2 n =1

( x). =

1 d +2
( x)dx
d
1 d +2
an =
( x) cos nxdx
d

Dimana : a 0 =

bn =

1 d +2
( x) sin nxdx
d

Contoh :
1.
Jawab:

Tentukan deret Fourier


( x). =X2, 0 x 2
a0 =

1 d +2
( x)dx
d
=

1 d +2 2
x dx
d
2

1 1 3
x
dx

3
0

1 1
. ( 2) 3
3

2.

an =

8 2

1 d +2
( x) cos nxdx
d
an =

1 2
cos nxdx
0

( x).

1 x 2 sin nx 2 x cos nx
an =
+

n
n2
0

bn =
bn =

1 4 cos 2n

n2

an =

4 cos 2n
4
= 2
2
n
n

a1 =

4
4
4
4
; a2 = 2 ; a3 = 2 ; a4 = 2
2
1
2
3
4

1 d +2
( x) sin nxdx
d

1 2
x sin nxdx

1 x 2 cos nx 2 x sin nx
=
+

n
n2
0

1 4 2 cos 2n 4 sin 2n
+

n
n2

b1 =

4
4
4
; b2
=; b3 =
1
2
3

Deret Fourier

( x). =X2 ; 0 x 2 adalah

a0
+ (an cos nx + bn sin nx)
2 n =1

( x). =

8 2
cos x cos 2 x cos 3 x cos 4 x

X = 3 + 2 + 2 + 2 + 2 + .......
2
2
3
4

1
2

sin x sin 2 x sin 3 x sin 4 x


4 2 +
+
+
+
22
32
42
1

4 2
cos x cos 2 x cos 3 x cos 4 x

X = 3
+ 4 2 + 2 + 2 + 2 + .......
2
2
3
4

1
2

sin x sin 2 x sin 3 x sin 4 x


4 2 +
+
+
22
32
42
1

Contoh
2).

Tentukan deret Fourier

( x). =X2 ; - < x < adalah


Jawab :
a0 =

1
1 2
( x )dx =
x dx

an =

1 1 3
1
22
3
3
X

=
=

3
3
3

1 2
x cos nxdx

2

1 x 2 sin nx 2 x cos nx
an =
+

n
n2

2

an =

1 2 x cos nx

n 2

1 2 cos n 2 cos n
4 cos n
4
+
= 2
=
2
2
2

n
n
n
n

bn =

1 2
x sin nxdx

2

1 x 2 cos nx 2 x sin nx
bn =
+

n
n2

1 (2) cos n 2() 2 cos n()

=0

n
n

Contoh
1).

Penyelesaian:

Tentukan deret Fourier

( x). = (2X)2 ; - < x <

Contoh :
2.

Tentukan deret Fourier


( x). =( X2 + 3 ), 0 x 2
Penyelesaian :

Contoh
3).

Penyelesaian :

Tentukan deret Fourier

( x). = SinX2 ; - < x <

DAFTAR ISI
Hal
A.

B.

INTEGRAL RANGKAP
1. Integral Ganda

2. Integral Lipat Dua Dengan Batas Persegi panjang

3. Integral Lipat Dua Dengan Batas Bukan Persegi Panjang

10

4. Aplikasi Integral Lipat Dua

14

Deret Fourier

16

DAFTAR PUSTAKA

Erwin Kreyszig, Matematika Teknik Lanjutan, 1993.


Folland, G.B., Fourier Analysis and Its Applications, Wadsworth &
Brooks, 1992.
Muhammad Razali, Mahmud N. Siregar, Faridawaty Marpaung, Kalkulus
Differensial, Agustus 2010.
Wikaria Gazali, Kalkulus Lanjut, 2007.
Yusuf Yahya, D. Suryadi HS., Agus S., Matematika Dasar Perguruan
Tinggi, Februari 2010.

BUKU AJAR
KALKULUS PEUBAH BANYAK

Oleh:
Ir. LILIK ZULAIHAH, MSi

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
JAKARTA, 2010

BUKU AJAR
MATEMATIKA REKAYASA

Oleh:
Ir. LILIK ZULAIHAH, MSi

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

JAKARTA, 2010