Anda di halaman 1dari 11

ANTI INFLAMASI

I. Tujuan praktikum Mahasiswa dapat memahami proses terjadinya inflamasi Mahasiswa dapat mengenal obat-obat antiinflamasi dan penggolongannya Mahasiswa mengetahui metode pengujian obat antiinflamasi (rat paw oedema ) dan pengolahan data yang dihasilkan. II. Teori Radang atau inflamasi merupakan respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan pada jaringan yang berfungsi untuk menghancurkan, mengurangi, atau melokalisasi (sekuster) baik agen pencedera maupun jaringan yang ncedera itu. Tanda-tanda pokok peradangan akut mencakup pembengkakan/edema, kemerahan, panas, nyeri, dan perubahan fungsi. Hal-hal yang terjadi pada proses radang akut sebagian besar dimungkinkan oleh pelepasan berbagai macam mediator kimia, antara lain amina vasoaktif, protease plasma, metabolit asam arakhidonat dan produk leukosit (Erlina dkk., 2007) Obat anti inflamasi dibagi menjadi dua, yaitu Steroid dan OAINS. Obat anti inflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs)/AINS adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), anti piretik (penurun panas), dan anti inflamasi (anti radang). Istilah "non steroid" digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. AINS bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika. Inflamasi adalah salah satu respon utama dari system kekebalan tubuh terhadap infeksi atau iritasi. Adapun tanda tanda inflamasi adalah : 1. tumor atau membengkak 2. calor atau menghangat 3. dolor atau nyeri

4. rubor atau memerah 5. functio laesa atau daya pergerakan menurun dan kemungkinan disfungsi organ atau jaringan. Penyebab nyeri sendiri yaitu akibat pengeluaran prostaglandin secara berlebihan akibat adanya rangsangan nyeri. rangsangan nyeri dapat berupa rangsangan fisika ,kimia, biologi. Nyeri timbul oleh karena aktivasi dan sensitisasi sistem nosiseptif, baik perifer maupun sentral. Dalam keadaan normal, reseptor tersebut tidak aktif. Dalam keadaan patologis, misalnya inflamasi, nosiseptor menjadi sensitive bahkan hipersensitif. Adanya pencederaan jaringan akan membebaskan berbagai jenis mediator inflamasi, seperti prostaglandin, bradikinin, histamin dan sebagainya. Mediator inflamasi dapat mengaktivasi nosiseptor yang menyebabkan munculnya nyeri. AINS mampu menghambat sintesis prostaglandin dan sangat bermanfaat sebagai antinyeri. Mekanisme Kerja Mekanisme kerja anti-inflamsi non steroid (AINS) berhubungan dengan sistem biosintesis prostaglandin yaitu dengan menghambat enzim

siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi PGG2 menjadi terganggu. Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2 isoform yang disebut KOKS-1 dan KOKS-2. Kedua isoform tersebut dikode oleh gen yang berbeda. Secara garis besar KOKS-1 esensial dalam pemelihraan berbagai fungsi dalam keadaan normal di berbagai jaringan khususnya ginjal, saluran cerna, dan trombosit. Di mukosa lambung aktivitas KOKS-1 menghasilakan prostasiklin yang bersifat protektif. Siklooksigenase 2 diinduksi berbagi stimulus inflamatoar, termasuk sitokin, endotoksindan growth factors. Teromboksan A2 yang di sintesis trombosit oleh KOKS-1 menyebabkan agregasi trombosit vasokontriksi dan proliferasi otot polos. Sebaliknya prostasiklin PGL2 yang disintesis oleh KOKS-2 di endotel malro vasikuler melawan efek tersebut dan menyebabkan penghambatan agregasi trombosit.

Obat-obat AINS ditinjau dari segi efetivitasnya dapat dibagi dalam tiga kelompok : 1. Efek antiinflamasi lemah :Paracetamol 2. Efek antiinflamasi ringan : a. Derivat asam propionat: Fenbufen, Ketoprofen, Ibuprofen, Naproksen b. Derivat asam mefenamat : Asam mefenamat c. Obat non asam : nabumeton 3. Efek antiinflamasi Kuat a. Derivat asam salisilat : Aspirin, Diflunisal, Benorilat, Salsalat. b. Derivat Pirazolon : Osifenbutason,Antipirin, Aminopirin c. Derivat indol asam asetat : Diklofenak ,Indometasin, Sulindak, Tolmetin d. Derivat Oksikam : Piroksikam

III.

Alat dan bahan untuk eksperimental Alat : Pletysmometer air raksa yang prinsip kerjanya berdasarkan hukum archimedes Obat : Profenid (Ketoprofen) 5 % Dosis : 50 mg/ 70 kgBB Voltaren (Na.Diklofenac) 2,5 % Dosis : 25 mg,50 mg /70 kgBB Rute penyuntikan obat :intraperotoneal

Penginduksi : Larutan Karagenan 1 % dalam air suling (dibuat semalam sebelum esperimen digerus dengan PGA).Volume penyuntikan 0,1 ml (sub cutan, intra plantar) Hewan percobaan : Tikus putih wistar, Berat badan 100 g dipuasakan selama 18 jam sebelum eksperimen (minum ad libidum)

IV.

Perhitungan dosis Obat Obat = Profenid 5 % Konversi dosis Untuk tikus 100 gram Vp = Vpc = Cara pembuatan ambil obat 0,05 ml, kemudian tambahkan aquades steril ad 0,3 ml lalu campur. Buang sejumlah (0,3-0,054)=2,46ml sehingga tersisa 0,054 ml untuk disuntikkan

50 mg /70 kgBB

Obat = Voltaren (Na Diklofenac 2,5%) Dosis 25 mg/70kgBB Konversi dosis Untuk tikus 100 gram Vp = Vpc = Cara pembuatan ambil obat 0,05 ml, kemudian tambahkan aquades steril ad 0,3 ml lalu campur. Buang sejumlah (0,3-0,054)=2,46ml sehingga tersisa 0,054 ml untuk disuntikkan Dosis 50 mg/70kgBB Konversi dosis Untuk tikus 100 gram Vp = Vpc = Cara pembuatan ambil obat 0,05 ml, kemudian tambahkan aquades steril ad 0,15 ml lalu campur. Buang sejumlah (0,15-0,054)=0,096ml sehingga tersisa 0,054 ml untuk disuntikkan

V.

Skema Kerja Sebelum mulai percobaan ,tikus ditimbang kemudian beri tanda untuk masing-masing tikus

Beri tanda dengan spidol batas pada sendi kaki belakang kiri/kanan untuk setiap tikus

tujuannya untu pemasukan kaki dalam air rasa setiap kali selalu sama.

Pada tahap awal, volume kaki setiap diukur dan digunakan sebagai volume dasar untuk setiap tikus (Volume kaki saat t=0) pada setiap pengukuran volume supaya diperiksa tinggi cairan pada alat dan dicatat sebelum dan sesudah pengukuran ,usahakan jangan ada air raksa yang tumpah Penyuntian dapat dilakukan dengan 2 cara: Cara A Sunti karagenan 0,1 ml (intraplantar) pada telapak kaki kiri /anan tikus yang sudah ditandai (biarkan 10) setelah itu suntikan obat secara ip

Lakukan pengukuran volume kaki yang disuntik karagenan pada 5 dan 10 menit untuk mengamati pembentukan edema dan setelah itu catat volume kaki 10,15,30,45 dan 60 menit setelah penyuntia OBAT.untuk menghitung presentase inhibisi edema Cara B Setelah disuntik obat langsung suntikan karagenan (intraplantar) sebanyak 0,1 ml pada telapak kaki kiri/kanan tikus yang telah ditandai

Lakukan pengukuran volume kaki yang disuntik karagen setiap 10,15,30,45,dan 60 menit setelah penyuntikan OBAT ,untuk menghitung presentase inhibisi edema.catat perbedaan volume kaki untuk setiap pengukuran.

Selanjutnya untuk setiap kelompok dihitung presentase inhibisi edema dan bandingkan hasil yang diperoleh untuk kelompok Adan B .kemudian bahas apakah terjadi perbedaan hasil. Rumus yang digunakan untuk % inhibisi edema adalah sebagai berikut:

Tabel volume edema ,prosentase volume edema, dan prosentase inhibisi edema Tikus 1 2 3 4 Volume Edema 30 45 BB (g) T=0 Vol dasar 10 15 Volume kaki 30 45 60 90

TIKUS 1 2 3 4

10

15

60

90

TIKUS 1 2 3 4

10

% Udema 15 30 45 60

90

10

% Inhibisi Edema 15 30 45 60 90

Gambar grafik variasi % inhibisi udem yang tergantung pada waktu

% Inhibisi udem

Waktu

VI.

Hasil Praktikum Perhitungan dosis kelompok 4 (Kontrol): - Obat: Voltaren 2,5 % , dosis 25 mg/70 kg BB - Berat mencit : 110 g B Konversi dosis Untuk tikus 110 gram Vp = Vpc = Cara pembuatan ambil obat 0,05 ml, kemudian tambahkan aquades steril ad 0,3 ml lalu campur. Buang sejumlah (0,3-0,056)=0,244ml sehingga tersisa 0,056 ml untuk disuntikkan Hasil: T=0 vol. kaki 27,9 127,1 27,8 131 34,9 V kaki karagenan + air raksa 28,2 127,3 27,9 131 27,9 27,9 27,9 27,9 127 27,9 27,9 127 27,9 10 15 30 45 60 Volume kaki

Tikus

BB (g)

Vo raksa

I II III IV V

110 90 95 110 105

27,7 126,9 27,75 130,8 34,6

127,3 127,2 127,2 27,9 27,9 27,9

131,1 131,1 131,1 131,1 131,1 -

Kel I : Profenid 5 % 50 mg/70 kg BB (metode A) Kel II : Profenid 5 % 50 mg/70 kg BB (metode B) Kel III : Voltaren 2,5 % 25 mg/70 kg BB (metode A) Kel IV : kontrol (selesai praktek suntik dengan voltaren 2,5 % 25 mg/70 kg BB) Kel V : Voltaren 2,5 % 25 mg/70 kg BB (metode B)

Perhitungan % inhibisi edema :

Tikus IV (tikus kontrol, yang disuntikkan voltaren 2,5 % 25 mg/70 kg BB) Volume rata-rata kelompok kontrol = 0,3 ml. Tikus I tikus yang diberi Profenid 5 % 50 mg/70 kg BB (metode A)

% inhibisi edema

Tikus II tikus yang diberi Profenid 5 % 50 mg/70 kg BB (metode B)

% inhibisi edema

Tikus III tikus yang diberi Voltaren 2,5 % 25 mg/70 kg BB (metode A)

% inhibisi edema

Tikus V tikus yang diberi Voltaren 2,5 % 25 mg/70 kg BB (metode B)

% inhibisi edema = tidak diketahui (karena tikus yang akan diuji sedang sakit dan mengalami perdarahan setelah penyuntikkan karagenan)

VII.

Pembahasan Radang atau inflamasi adalah suatu respon utama sistem kekebalan terhadap infeksi atau iritasi. Untuk pengobatan inflamasi ada dua golongan besar obat yang digunakan yaitu golongan steroid dan non steroid (AINS). Golongan obat steroid bekerja dengan menghambat sintesis enzim fosfolipase sehingga asam arakidonat tidak terhambat. Sedangkan golongan obat AINS bekerja dengan menghambat pembentukan prostaglandin (PG) melalui penghambatan enzim siklooksigenase (cox). Dalam percobaan untuk mengetahui efek antiinflamasi dari Profenid (ketoprofen) dan vortaren (Na Diklofenak), digunakan plethysmometer untuk mengukur volume udem telapak kaki hewan uji tikus yang bekerja sesuai hukum Archimedes, dimana volume udem telapak kaki yang di celupkan pada air raksa adalah sama banyaknya dengan skala yang ditunjukan. Percobaan ini menggunakan 5 hewan coba yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu tikus kelompok 1 diberi obat profenid dengan dosis 50 mg/70 kg BB dengan menggunakan metode A, kelompok 2 dengan obat profenid dengan dosis 50 mg/70 kg dengan menggunakan metode B, kelompok 3 dengan obat voltaren dengan dosis 25 mg/70 kg dengan menggunakan metode A, kelompok 4 sebagai kontrol, dan kelompok 5 dengan obat voltaren dengan dosis 25 mg/70 kg dengan menggunakan metode B. Sebagai bahan penginduksi inflamasi, digunakan larutan karagenan 1% yang diberikan pada hewan coba secara subkutan, sedangkan untuk rute pemberian obat antiinflamasi dilakukan secara intraperitoneal. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh % inhibisi edema untuk Profenid dengan metode A adalah 33,33%, untuk Profenid dengan metode B adalah 20 %, sedangkan untuk Voltaren dengan metode A adalah 50 %, Voltaren dengan metode B adalah tidak diketahui (karena tikus yang akan diuji sedang sakit dan mengalami perdarahan setelah penyuntukan karagenan). Sehingga dari data yang diperoleh dapat dilihat terbukti bahwa

kerja obat AINS dalam menurunkan volume udem lebih baik dibandingkan dengan golongan steroid. Hal ini sesuai literatur bahwa voltaren yang mengandung Natrium diklofenak tergolong obat AINS lebih efektif menurunkan volume udem dengan 50% .

VIII.

Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakuakan doperoleh % inhibisi udema dari obat antiinflamsi Profenid dengan metode A adalah 33,33%, untuk Profenid dengan metode B adalah 20 %, sedangkan untuk Voltaren dengan metode A adalah 50 %.

IX.

Daftar Pustaka Katzung,BG et.al, Basic and Clinical Pharmacology, 12th Ed, Mc Graw Hill, singapore,2012. Lucy Sanchez-Covarrubias, et al. (2014) P-glycoprotein Modulates Morphine Uptake into the CNS: A Role for the Non-steroidal Anti-inflammatory Drug Diclofenac. PLOS ONE: (9)2 Gosal,F., Paringkoan,B., Wenas,NT. (2012) Patofisiologi dan Penanganan Gastropati Obat Antiinflamasi Nonsteroid. J Indon Med Assoc, Volum: 62, Nomor: 11. pp 444-449.

Anda mungkin juga menyukai