Anda di halaman 1dari 16

Strategi Terapi Antibiotik untuk Pneumonia SIMPOSIA Infeksi organ pernapasan masih menjadi masalah besar bagi dokter

paru. Satu atau lebih kesalahan dalam penggunaan antibiotika akan mendatangkan hasil yang buruk Lagi-lagi antibiotik. Memang tak akan pernah ada habisnya kalau bicara agen pembasmi bakteri ini. Dalam The Seventh International Meeting on Respiratory Care Indonesia (Respina), di Hotel Borobudur 2-4 Desember lalu, topik tentang antibiotik dan resistensi bakteri menjadi perdebatan cukup seru. Lebih-lebih penggunaan antibiotik di paru . Menurut Prof. Dr. Hadiarto Mangunnegoro SpP(K) dari RS Persahabatan Jakarta, infeksi organ pernapasan seperti pneumonia masih menjadi masalah besar bagi sebagian besar dokter paru. Keputusan yang tepat sangat diperlukan saat memilih dan kapan harus memberikan antibiotik dengan akurat. "Satu atau lebih kesalahan dalam keputusan klinis mungkin akan mendatangkan hasil yang buruk," jelas Hadiarto. Tak heran jika tingkat morbiditas dan mortalitas pneumonia masih sangat tinggi khususnya pada pasien dengan risiko tinggi seperti pasien lansia, penderita HIV, pengguna alkohol dan pasien dengan kondisi kekebalan tubuh yang tidak baik. Terapi antibiotik optimal, masih menurut Hadiarto, dalam manajemen community-acquired pneumonia (CAP) selalu menimbulkan kontroversi. Yang paling utama adalah kebanyakan terapi yang appropriate terhadap CAP tidak disertai diagnosis dan etiologi CAP yang akurat di sebagian besar pasien. Selain itu kemungkinan timbulnya resistensi bakteri dan infeksi polimikrobial pada CAP. Dikatakan pria kelahiran Cianjur 18 Juli 1942 ini, insiden SCAP (Severe community-acquired pneumonia yakni CAP yang berat hingga harus dirawat di ICU) cukup tinggi yaitu sekitar 5-35 % dengan kematian mencapai 20-50%. Dan, hampir 50% penyebab SCAP tidak diketahui. Pasien SCAP, menurut panduan BTS tahun 2001, harus diterapi dengan antibiotik secara parenteral segera setelah didiagnosis. Kombinasi intravena -lactamasespektum luas seperti coamoxiclav atau generasi kedua cephalosporin (misal cefuroxime), generasi ketiga cephalosporin (misal cefotaxime atau ceftriaxone) dengan makrolide (misal clarithromycin atau erythromycin) sangat dianjurkan. Bagi pasien yang tidak toleran dengan -lactam dan macrolide, atau diketahui ada kuman C difficile yang menimbulkan diare, maka fluoroquinolone dengan aktivitas tinggi melawan S pneumoniae bisamenjadi alternatif. Pemberian antibiotik pasien SCAP yang dirujuk ke ICU juga bisa berdasarkan konsensus ahli dalam ASCAP (Antibiotic Selection for CAP) yang diterbitkan 1 Januari 2005 lalu. Antibiotik lini pertama untuk pasien SCAP dengan kemungkinan patogen sudah diketahui (misal Pseudomonas saja atau bersamaan dengan S. pneumoniae, H. influenzae, M. catarrhalis dan patogen atipikal lain) adalah antibiotik intravena ceftazidime plus aminoglycoside dan azithromycin ATAU impenem, aminoglycoside, dan levofloxacin. Untuk lini kedua bila ada kemungkinan resistensi, bisa diberikan ceftazidime plus aminoglycoside, dan levofloxacin, ATAU piperacillin plus aminoglycoside dan azithromycin.

Durasi pemberian antibiotik bagi pasien community atau dirujuk ke rumah sakit dengan pneumonia non-severe atau tanpa komplikasi, adalah 7 hari. Namun untuk severe pneumonia dengan jenis mikrobiologi belum diketahui, menurut BTS, antibiotik diberikan selama 10 hari. Durasi diperpanjang hingga 14-21 hari bila ada kecurigaan atau dikonfirmasi legionella, staphylococcal, atau Gram negative enteric bacilli pneumonia.

HAP
Selain keputusan pemberian antibiotik berdasarkan evidence based medicine (EBM), Hadiarto menekankan, perlunya melihat pola-pola lokal dalam pemberian antibiotik. Ia mencontohkan, pola infeksi di Indonesia masih dikuasai Gram- negatif. Dari pengamatan Hadiarto di sejumlah rumah sakit di Indonesia, penggunaan ciclosporin sudah mencapai lebih dari 60%. "Jadi selain EBM, dibutuhkan juga experience dan melihat pattern lokal," kata Hadiarto. Tingginya penggunaan antibiotik tertentu akan memperbesar terjadinya resistensi. Maka perlu dilihat alternatif panggunaan antibiotik. Meski bukan yang terbaik, namun penggunaan kombinasi piperacillin dan tazobactam ternyata sama efektifnya dengan antibiotik jenis lain. Dipaparkan oleh Prof. DR.Dr. Rianto Setiabudy SpFK, dari Departemen Farmakologi Klinik FKUI, beberapa studi dilakukan untuk melihat efikasi kombinasi piperacillin dan tazobactam dalam manajemen Hospital-acquired Pneumonia (HAP). HAP merupakan pneumonia yang terjadi selama atau lebih dari 48 jam setelah masuk rumah sakit. HAP merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi dari infeksi nosokomial di rumah sakit. Faktor risiko terjadinya HAP antara lain adanya kolonisasi oroparingeal, penggunaan ventilasi mekanik lebih dari 48 jam, perawatan di ICU dan perawatan yang lama di rumah sakit, keparahan penyakit dan munculnya komorbiditas. Studi di Swiss dilakukan pada pasien HAP dewasa yang dirawat di rumah sakit lebih dari 72 jam. 75 pasien diberikan injeksi IV piperacillin/tazobactam4,8 gram tiap 8 jamdan 79 pasien mendapat imipenem/cilastatin injeksi IV 500 mg/500 mg tiap 6 jam. Respon klinis pada kelompok piperacillin/tazobactam, dilihat melalui gejala peneumonia dan foto toraks mencapai 83% sementara di kelompok imipenem/cilastatin hanya 71%. Respon terhadap bakteri P. aeruginosa 91% dibandingkan imipenem/cilastatin yang hanya 50%. Resistensi di kelompok piperacillin/tazobactam hanya terjadi pada 1 pasien sementara di kelompok pembandingnya 6 pasien. Studi lain yang dilakukan di Spanyol maupun Perancis dengan pembanding ceftazidime menunjukkan hasil yang tidak jauh bermakna. Baik piperacillin/tazobactam maupun ceftazidime dikombinasikan dengan amikacin 15 mg/kg/hari. Dari dua studi di Spanyol dan Perancis ini, piperacillin/tazobactam ekuivalen dari segi efikasi dengan ceftazidime ditambah amikacin. Demikian pula dalam hal angka eradikasi patogen dan angka mortalitas yang tidak jauh berbeda.

Mono atau Kombinasi?

Pertanyaan ini sering dipertanyakan dalam pemberian terapi antibiotik. Menurut Hadiarto, terapi tunggal tidak direkomendasikan untuk SCAP. "Kombinasi minimal dua agen lebih bagus untuk mengurangi mortalitas dan resistensi," jelasnya. Sementara itu dipaparkan Rianto lagi, ada kriteria kapan harus diberikan terapi kombinasi antibiotik. Menurut Rianto, ada empat kriteria terapi kombinasi. Pertama, bila kombinasi tersebut memberikan sinergi. Kedua apabila kuman masuk kategori berat dan belum diidentifikasi. Ketiga, jika bisa dibuktikan kalau terapi kombinasi tersebut bisa menunda terjadinya resistensi dan keempat, bila terjadi infeksi campuran bakteri Gram positif, Gram negatif dan anaerob. Bila kriteria ini dipenuhi dan diterapkan secara benar maka kecil kemungkinan terjadinya multidrug resistance. "Kalau sekadar batuk pilek saja tidak perlu terapi kombinasi," tegas Rianto. Rianto menambahkan, kombinasi tidak dilarang bahkan dalam keadaan tertentu justru dianjurkan. Yang tidak boleh adalah pemberian antibiotik kombinasi untuk infeksi remeh temeh sehari-hari. "Bila infeksi berat, jangan kasih kesempatan kuman untuk hidup. Jangan tanggungtanggung memberikan antibiotik," tegasnya. Bila dosis besar maka semua kuman baik yang lemah maupun yang kuat akan mati, tidak memberi kesempatan kuman untuk bermutasi. Jika antibiotik diberikan dalam dosis nanggung, maka first step mutan tidak mati dan memberi kesempatan padanya untuk menggandakan diri dan mengisi posisi teman-temannya yang mati. "Justru kalau kadarnya rendah sekalian tidak jadi masalah yang besar. Meskipun kuman yang kuat tidak mati, tetapi first step mutan tidak ada kesempatan berkembang karena dia minoritas," jelas Rianto lagi.

MRSA
Saat lunch simposium, tema resistensi bakteri menjadi topik yang dibicarakan. Timbulnya resistensi baik pada organisme-organisme gram negatif maupun methicillin-resistant staphylococcus aureus (MRSA) menjadi ancaman yang besar, di luar infeksinya sendiri. Resistensi bakteri berkaitan dengan penggunaan antibiotik secara berlebihan. Padahal hal ini seharusnya bisa dihindari dengan menggunakan EBM. MRSA hingga kini masih menjadi ancaman serius di ICU. Ada beberapa alasan kenapa MRSA masuk kategori "berbahaya", seperti dijelaskan Hadiarto. Pertama, S. aureus ditakuti karena sifat virusnya dan kemampuan menyebabkan infeksi metastasis foci. Kedua, infeksi MRSA diasosiasikan dengan tingginya angka terapi empirik antibiotik yang tidak appropiate, sehingga memicu hasil yang mengerikan. Alasan selanjutnya, hingga kini terapi infeksi MRSA sebenarnya masih terbatas pada glikopeptida, yang diketahui memiliki penetrasi jaringan yang tidak bagus, sama halnya dalam aktivitas membunuh bakteri yang sangat kurang dibandingkan penisilin.

Pada awalnya vancomycin merupakan pilihan pertama untuk infeksi MRSA. Namun kini mulai terjadi resistensi pada agen ini. Antibiotik alternatif pun harus dicari, misalnya linezolid. Dr. Yati Istiantoro SpFK dari Departemen Farmakologi FKUI/RSCM, memaparkan penetrasi antara linezolid dan vancomycin pada paru. Secara umum, seperti diutarakan juga oleh Prof. J. Lipman, Kepala Bagian Anastesi dan ICU, Universitas Queensland, penetrasi linezolid ke jaringan pada pasien dengan ventilator sangat bagus. "Beberapa studi farmakokinetik tentang penetrasi ini juga menunjukkan distribusi volume yang tinggi dan penetrasi jaringan yang bagus." (ana)

ASKEP ISPA
Asuhan Keperawatan (ASKEP) INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) 1. PENGERTIAN ISPA

ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Saluran pernapasan meliputi organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan bersifat ringan, misalnya batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Namun demikian jangan dianggap enteng, bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat menyebabkan anak menderita pneumoni yang dapat berujung pada kematian. Menurut Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA, penyakit ISPA dibagi menjadi dua golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibedakan atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas

lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotic. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Kelainan pada sistem pernapasan terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, asma dan ibro kistik, menempati bagian yang cukup besar pada area pediatri. Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.

2. JENIS JENIS ISPA Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:

Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing). Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia

Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun. Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :

Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.

Untuk golongan umur 2 bu~an sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :

Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tldak menangis atau meronta).

Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih. ukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.

3. TANDA TANDA BAHAYA ISPA Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan. Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris. Tanda-tanda klinis ISPA Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing. Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest. Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma. Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.

Tanda-tanda laboratoris ISPA hypoxemia, hypercapnia dan acydosis (metabolik dan atau respiratorik) Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing

4. PENATALAKSANAAN KASUS ISPA Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) . Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA. Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut : A. Upaya pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan : Menjaga keadaan gizi agar tetap baik. Immunisasi. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA. B. Pengobatan dan perawatan Prinsip perawatan ISPA antara lain : Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari Meningkatkan makanan bergizi Bila demam beri kompres dan banyak minum Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat. Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek Pengobatan antara lain : Mengatasi panas (demam) dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es). Mengatasi batuk

Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

DAFTAR PUSTAKA DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 1992. Lokakarya Dan Rakernas Pemberantasan Penyakit Infeksi saluran pernapasan akut. 1992 Doenges, Marlyn E . Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien Alih bahasa I Made Kariasa. Ed 3. Jakarta: EGC.1999

PENGKAJIAN : I. IDENTITAS PASIEN Nama : Umur : Jenis kelamin : Agama : Suku : Pekerjaan : Status perkawinan : Tanggal MRS : Pengkajian : Penanggung jawab : Regester : Diagnosa masuk : Alamat :

II. RIWAYAT KESEHATAN 1. Keluhan Utama Klien mengeluh demam, batuk , pilek, sakit tenggorokan 2. Riwayat penyakit sekarang

Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot dan Dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan. 3. Riwayat penyakit dahulu Kilen sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang 4. Riwayat penyakit keluarga Menurut pengakuan klien,anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut 5. Riwayat sosial Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat penduduknya

III. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik di fokuskan pada pengkajian sistem pernapasan : 1. Pengkajian tanda tanda vital dan kesadaran klien 2. Inspeksi : Membran mucosa hidung faring tampak kemerahan Tonsil tanpak kemerahan dan edema Tampak batuk tidak produktif Tidak ada jaringna parut pada leher Tidak tampak penggunaan otot- otot pernapasan tambahan,pernapasan cuping hidung, tachypnea, dan hiperventilasi

3. Palpasi Adanya demam Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher / nyeri tekan pada nodus limfe servikalis Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid 4. Perkusi Suara paru normal (resonance) 5. Auskultasi Suara napas vesikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

IV. PEMERIKSAASN PENUNJANG

Tanggal : HB : LED : Hematokrit : Trombosit : MCV : MCH : MCHC : Diff Count : Urien PH : Ureum : Kreatinin : SGOT : SGPT : Na : Kalium : Cl : AGD : PCO2 : Radiologi : ECG :

DIAGNOSA KEPERAWATAN : I. Peningkatan suhu tubuh bd proses inspeksi Tujuan : Suhu tubuh normal berkisar antara 36 37, 5 C INTERVENSI 1.Observasi tanda tanda vital 2.Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan kompres dingin ( air biasa) pada kepala / axial.

3.Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun. 4.Atur sirkulasi udara.

5.Anjurkan klien untuk minum banyak 2000 2500 ml/hr. 6.Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit. 7.Kolaborasi dengan dokter : Dalm pemberian therapy, obat antimicrobial antipiretika RASIONALISASI 1.Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya. 2.Degan menberikan kompres maka aakan terjadi proses konduksi / perpindahan panas dengan bahan perantara . 3.Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap keringat. 4.Penyedian udara bersih. 5.Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat. 6.Tirah baring untuk mengurangi metabolism dan panas.

7.Untuk mengontrol infeksi pernapasan Menurunkan panas

II. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b. d anoreksia Tujuan : * klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal. * klien dapat mentoleransi diet yang dianjurkan. * Tidak menunujukan tanda malnutrisi.

INTERVENSI 1.Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari 2.Berikan makan pporsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat 3.Beriakan oral sering, buang secret berikan wadah husus untuk sekali pakai dan tisu dan ciptakan lingkungan beersih dan menyenamgkan.

4.Tingkatkan tirai baring. 5.Kolaborasi Konsul ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien

RASIONALI 1.Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. 2.Untuk menjamin nutrisi adekuat/ meningkatkan kalori total 3.Nafsu makan dapt dirangsang pada situasi rilek, bersih dan menyenangkan. 4.Untuk mengurangi kebutuhahan metabolic 5.Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.

III. Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil. Tujuan : Nyeri berkurang / terkontrol

INTERVENSI 1.Teliti keluhan nyeri ,catat intensitasnya (dengan skala 0 10), factor memperburuk atau meredakan lokasimya, lamanya, dan karakteristiknya. 2.Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap debu, bahan kimia, asap,rokok. Dan mengistirahatkan/meminimalkan berbicara bila suara serak. 3.Anjurkan untuk melakukan kumur air garam hangat 4.Kolaborasi Berikan obat sesuai indikasi Steroid oral, iv, & inhalasi analgesik

RASIONAL 1.Identifikasi karakteristik nyeri & factor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok & untuk mengevaluasi ke efektifan dari terapi yang diberikan. 2.Mengurangi bertambah beratnya penyakit. 3.Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan. 4.Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi / menghambat pengeluaran histamine dalam inflamadi pernapasan. 5. Analgesic untuk mengurangi rasa nyeri

IV. Resiko tinggi tinggi penularan infeksi b.d tudak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun) Tujuan : * tidak terjadi penularan * tidak terjadi komplikasi

INTERVENSI 1.Batasi pengunjung sesuai indikasi 2.Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktifitas 3.Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin, jika ditutup dengan tisu buang segera ketempat sampah 4.Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak usia dibawah 2 tahun, lansia dan penderita penyakit kronis. Dan konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh menurun / asupan makanan berkurang 5.Kolaborasi Pemberian obat sesuai hasil kultur

RASIONAL

1.Menurunkan potensial terpalan pada penyakit infeksius. 2.Menurunkan konsumsi /kebutuhan keseimbangan O2 dan memperbaiki pertahanan klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan. 3.Mencegah penyebaran pathogen melalui cairan 4.Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi 5.Dapat diberikan untuk organiasme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas / atau di berikan secara profilatik karena resiko tinggi

Apa itu Pneumonia? Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Patut diwaspadai apabila sang buah hati batuk pilek kemudian disertai dengan sesak nafas. Terlebih lagi apabila terlihat terdapat tarikan kedalam pada dinding dada bagian bawah. Maka jika ditemui ciri-ciri ini pada buah hati anda, segera rujuk ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. ISPA yang berlanjut menjadi Pneumonia ini umumnya terjadi pada anak kecil, terutama apabila terdapat gizi kurang ditambah dengan keadaan lingkungan yang tidak sehat, seperti contohnya terdapat asap rokok di dalam rumah, atau terhadap polusi. Risiko terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya (ketahanan tubuh, Red) terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik. Dan dalam pelaksanaan pemberantasan penyakit ISPA semua bentuk Pneumonia umumnya para tenaga kesehatan menyebutnya Pneumonia saja. Klasifikasi Penyakit ISPA Dalam hal penentuan kriteria ISPA ini, penggunaan pola tatalaksana penderita ISPA adalah Balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas. Pola tatalaksana penderita ini sendiri terdiri atas 4 bagian yakni pemeriksaan, penentuan ada tidaknya tanda bahaya, penentuan klasifikasi penyakit, dan pengobatan juga tindakan. Dalam penentuan klasifikasi, penyakit dibedakan atas dua kelompok, yakni kelompok untuk umur 2 bulan hingga kurang dari 5 tahun dan kelompok umur kurang dari dua bulan. a. Untuk kelompok umur 2 bulan - <5 tahun klasifikasi dibagi atas : 1. Pneumonia berat 2. Pneumonia

3. Bukan Pneumonia.

b. Untuk kelompok umur < 2 bulan klasifikasi dibagi atas: 1. Pneumonia berat 2. Bukan Pneumonia

Sedangkan masing-masing gejala untuk klasifikasi di atas adalah sebagai berikut: Klasifikasi Pneumonia Berat didasarkan apabila terdapat gejala batuk atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing) pada anak usia 2 bulan - <5 tahun. Sedangkan untuk anak berumur kurang dari 2 bulan diagnosis Pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat (fast breathing), yaitu frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam (severe chest indrawing). Klasifikasi Pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai adanya napas sesuai umur. Batas napas cepat (fast breathing) pada anak usia 2 bulan - <1 tahun adalah 50 kali per menit dan 40 kali per menit untuk anak usia 1 - < 5 tahun. Klasifikasi Bukan Pneumonia mencakup kelompok penderita Balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam. Dengan demikian klasifikasi Bukan Pneumonia mencakup penyakit ISPA selain Pneumonia. Contohnya batuk pilek biasa (common cold), pharyngitis, tonsilitis, dan otitis. Etiologi ISPA dan Pneumonia Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan richetsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella dan Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus dan lain-lain. Etiologi Pneumonia pada Balita sukar untuk ditetapkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. Penetapan etiologi Pneumonia di Indonesia masih didasarkan pada hasil penelitian di luar Indonesia. Menurut publikasi WHO, penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa di negara berkembang streptococcus pneumonia dan haemophylus influenza merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada dua per tiga dari hasil isolasi, yakni 73, 9% aspirat paru dan 69, 1% hasil isolasi dari spesimen darah. Sedangkan di negara maju, dewasa ini Pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus. Faktor Pendukung Penyebab ISPA

1. Kondisi Ekonomi Keadaan ekonomi yang belum pulih dari krisis ekonomi yang berkepanjangan berdampak peningkatan penduduk miskin disertai dengan kemampuannya menyediakan lingkungan pemukiman yang sehat mendorong peningkatan jumlah Balita yang rentan terhadap serangan berbagai penyakit menular termasuk ISPA. Pada akhirnya akan mendorong meningkatnya penyakit ISPA dan Pneumonia pada Balita. 2. Kependudukan Jumlah penduduk yang besar mendorong peningkatan jumlah populasi Balita yang besar pula. Ditambah lagi dengan status kesehatan masyarakat yang masih rendah, akan menambah berat beban kegiatan pemberantasan penyakit ISPA. 3. Geografi Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki potensi daerah endemis beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Pengaruh geografis dapat mendorong terjadinya peningkatan kaus maupun kemaian penderita akibat ISPA. Dengan demikian pendekatan dalam pemberantasan ISPA perlu dilakukan dengan mengatasi semua faktor risiko dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. 4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) PHBS merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA. Perilaku bersih dan sehat tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya dan tingkat pendidikan penduduk. Dengan makin meningkatnya tingkat pendidikan di masyarakat diperkirakan akan berpengaruh positif terhadap pemahaman masyarakat dalam menjaga kesehatan Balita agar tidak terkena penyakit ISPA yaitu melalui upaya memperhatikan rumah sehat dan lingkungan sehat. 5. Lingkungan dan Iklim Global Pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan, gas buang sarana transportasi dan polusi udara dalam rumah merupakan ancaman kesehatan terutama penyakit ISPA. Demikian pula perubahan iklim gobal terutama suhu, kelembapan, curah hujan, merupakan beban ganda dalam pemberantasan penyakit ISPA. ISPA dan Pneumonia sangat rentan terjadi pada bayi dan Balita. Daya tahan tubuh dan juga polusi menjadi faktor pendukung terjadinya ISPA, seperti contohnya ISPA bagian atas seperti Batuk dan Pilek yang umumnya terjadi karena ketahanan tubuh kurang. dr. Ina Aniati menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga ketahanan tubuhnya melalui konsumsi makanan bergizi dan melindungi diri dari bahaya polusi, dan bagi para orang tua yang memiliki Balita agar menghindarkan Balitanya dari asap rokok atau pun polusi berlebih.(Fie)