Anda di halaman 1dari 7

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM (KALENG BEKAS)

Kamis, 27 Maret 2014

Disusun Oleh : Rizky Dayu Utami 1112016200070

Kelompok 4: Amelia Desiria Mawah Sofwah Rista Firdausa H Yasa Esa Yasinta

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014
Jurnal Praktikum Kimia Anorganik II, Pembuatan Tawas dari Aluminium | 1

I.

ABSTRACT Tawas memiliki manfaat yang begitu banyak dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya sebagai media penjernih air. Dengan bertambahnya kebutuhan air bersih, penjernih air seperti tawas juga semakin banyak dicari. Namun pembuatan tawas tersebut membutuhkan biaya yang tinggi karena harus mengolah bijih bauksit menjadi aluminium yang merupakan bahan baku pembuatan tawas. Aluminium adalah logam putih, yang liat dan dapat ditempa; bubuknya berwarna abu-abu. Bahan dasar yang paling mudah untuk membuat tawas yaitu aluminium. Hampir di setiap tempat dapat ditemui limbah yang menggunakan bahan dasar aluminium, contohnya kaleng minuman, bungkus snack, bungkus rokok. Padahal, jika berada bebas di lingkungan, dibutuhkan waktu 400 tahun untuk aluminium agar dapat terurai di tanah. Maka dari itu, selain penggunaan aluminium dari kaleng bekas untuk pembuatan tawas, dapat juga mengurangi limbah kaleng bekas di lingkungan sekitar kita.

Kata Kunci: Tawas, aluminium, air bersih, limbah.

II. INTRODUCTION Aluminium adalah logam putih, yang liat dan dapat ditempa; bubuknya berwarna abu-abu. Ia melebur pada 659 C. Bila terkena udara, objek-objek aluminium teroksidasi pada permukaannya, tetapi lapisan oksida ini melindungi objek dari oksida lebih lanjut. Asam klorida encer dengan mudah melarutkan logam ini, pelarutan lebih lambat dalam asam sulfat encer atau asam nitrat encer. Ion-ion aluminium (Al3+) membentuk garam-garam yang tak berwarna. Halida, nitrat, dan sulfatnya larut dalam air; larutan ini memperlihatkan reaksi hidrolisis. Aluminium sulfida dapat dibuat hanya dalam keadaan padat saja, dalam larutan air ia terhidrolisis dan terbentuk aluminium hidroksida, Al(OH)3. Aluminium sulfat membentuk garam-garam rangkap dengan sulfat dari kation-kation monovalen dengan bentuk-bentuk kristal yang menarik, yang disebut tawas (alum, aluin) (Vogel, 1990).

Jurnal Praktikum Kimia Anorganik II, Pembuatan Tawas dari Aluminium | 2

Alum atau tawas merupakan salah satu senyawa kimia yang dibuat dari dari molekul air dan dua jenis garam, salah satunya biasanya Al2(SO4)3. Alum kalium, juga sering dikenal dengan alum, mempunyai rumus formula yaitu K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O. Alum kalium merupakan jenis alum yang paling penting. Alum kalium merupakan senyawa yang tidak berwarna dan mempunyai bentuk kristal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat dan aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan didinginkan. Larutan alum kalium tersebut bersifat asam. Alum kalium sangat larut dalam air panas. Ketika kristalin alum kalium dipanaskan terjadi pemisahan secara kimia, dan sebagian garam yang terdehidrasi terlarut dalam air (Dian, dkk., 2013). Tawas atau alum adalah suatu senyawa aluminium sulfat dengan rumus kimia Al2(SO4).8H2O. Pembuatan tawas dapat dilakukan dengan melarutkan material yang mengandung Al2O3 dalam larutan asam sulfat. Salah satu sumber Al2O3 di alam terdapat dalam tanah kaolin. Kaolinit adalah salah satu jenis tanah liat atau lempung yang komponen dominannya adalah kaolin. Reaksi antara kaolin dengan asam sulfat akan menghasilkan larutan aluminium sulfat. Tawas padat diperoleh dari proses kritalisasi larutan jenuh aluminium sulfat (Jamaluddin, 2005).

III. MATERIALS AND METHODS Penelitian dilaksanakan pada Kamis, 27 Maret 2014 di Laboratorium Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan(FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah neraca Ohauss, spatula, labu erlenmeyer, pipet tetes, gelas kimia, corong, hot plate, dan gelas ukur. Bahan yang digunakan adalah H2SO4 6M, KOH 20%, tisu dan air tanah.

Pembuatan Tawas dengan KOH 20% dan H2SO4 6M Aluminium dari kaleng bekas yang trelah diamplas ditimbang sebanyak 2 gram. Masukkan 40 mL KOH 20% ke dalam labu erlenmeyer. Kemudian

Jurnal Praktikum Kimia Anorganik II, Pembuatan Tawas dari Aluminium | 3

masukkan aluminium ke dalam labu erlenmeyer dan amati perubahan yang terjadi. Setelah tidak ada perubahan yang terjadi panaskan dengan hot plate hingga bau yang timbul menghilang. Setelah itu saring dan diamkan hingga dingin, kemudian filtrat ditambahkan 30 mL H2SO4 6M. Dinginkan dengan batu es. Setelah itu diamkan selama 1 hari. Amati perubahan yang terjadi.

Pengujian tawas dalam penjernihan air Masukkan air tanah secukupnya ke dalam tabung reaksi. Kemudian masukkan tawas secukupnya ke dalam tabung reaksi tersebut. Diamkan selama 1jam dan amati perubahan yang terjadi.

IV. RESULT AND DISCUSSION Hasil Pengamatan Reaksi Hasil Pengamatan

2 gram Alumunium + 40 mL Terbentuk gas H2, berasap, berbau, panas, KOH 20% Filtrat + 30 mL H2SO4 6M dan larutan menjadi hitam. Terbentuk kristal berwarna putih dan larutan menjadi panas. Tawas + air tanah Terbentuk endapan tanah, dan air menjadi jernih.

Massa gelas kimia kosong Massa gelas kimia + tawas Massa tawas yang dihasilkan

92,1 gram 120,5 gram 28,4 gram

Persamaan Reaksi 2Al (s) + 2KOH (aq) + 2H2O (l) 2KAlO2 (aq) + 3H2 (g) 2KAlO2 (aq) +2H2O (l) + H2SO4(aq) K2SO4(aq) + Al(OH)3 (s) H2SO4(aq) + K2SO4(aq) + 2Al(OH)3 (s) 2KAl(SO4)2 (aq) + 6H2O 24 H2O + 2KAl(SO4)2 (aq) 2KAl(SO4)2.12H2O(s)

Jurnal Praktikum Kimia Anorganik II, Pembuatan Tawas dari Aluminium | 4

Perhitungan Massa tawas yang dihasilkan = (massa tawas + gelas kimia) massa gelas kimia kosong = 120,5 gram 92,1 gram = 28,4 gram Pembahasan Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan tawas dari aluminium yang berasal dari kaleng bekas. Tujuan praktikum kali ini yaitu mengetahui proses pembuatan tawas dari aluminium yang berasal dari kaleng bekas dan memanfaatkan limbah kaleng bekas yang ada untuk membuat tawas. Aluminium dari kaleng bekas sebelum digunakan diamplas terlebih dahulu, agar tidak ada warna dan lapisan plastiknya. Selanjutnya aluminium dipotong-potong kecil agar nanti dapat dimasukkan kedalam labu erlenmeyer dan ditimbang sebanyak 2gram. Kemudian 2gram potongan-potongan aluminium dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer yang berisi KOH 20% sebanyak 40 mL. Reaksi antara larutan KOH dengan aluminium berjalan cepat dan bersifat eksoterm karena menghasilkan panas(kalor). Dalam reaksi ini terbentuk gas H2 yang ditandai dengan munculnya gelembung- gelembung gas. Gelembung-gelembung gas menghilang setelah semua aluminium bereaksi. Setelah Al larut, dihasilkan larutan berwarna hitam. Persamaan reaksi antara Al dan KOH : 2Al (s) + 2KOH (aq) + 2H2O (l) 2KAlO2 (aq) + 3H2 (g) Setelah proses pelarutan aluminium dengan larutan KOH selesai, dilakukan proses penyaringan, proses penyaringan ini bertujuan untuk menyaring ion-ion pengganggu, yang tersisa hanya tinggal filtratnya dan sisa plastik dari pembungkus kalengnya. Filtrat yang dihasilkan tidak berwarna kemudian diambil, dan ditetesi dengan H2SO4 6M sebanyak 30 mL. Proses penambahan asam sulfat ini dilakukan secara perlahan sambil diaduk, hal ini bertujuan agar semua Al yang berada di dalamnya dapat bereaksi sempurna dengan pembentukan endapan yang sempurna secara teratur. Reaksi antara zat

Jurnal Praktikum Kimia Anorganik II, Pembuatan Tawas dari Aluminium | 5

yang dihasilkan dari reaksi antar Al dan KOH dengan H2SO4 menghasilkan kristal berwarna putih. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut: 2KAlO2 (aq) +2H2O (l) + H2SO4(aq) K2SO4(aq) + Al(OH)3 (s) Warna putih pada kristal yang terbentuk berasal dari senyawa Al(OH)3. Senyawa Al(OH)3 bersifat basa dicampurkan dengan H2SO4 hingga pHnya asam. Hal tersebut bertujuan untuk membentuk kation-kation (K+ dan Al3+) yang merupakan elemen elemen yang diperlukan untuk membentuk tawas. H2SO4(aq) + K2SO4(aq) + 2Al(OH)3 (s) 2KAl(SO4)2 (aq) + 6H2O Untuk mempercepat terbentuknya kristal didinginkan dengan batu es. Setelah itu didiamkan selama 1 hari dan dibiarkan diudara terbuka hingga dingin, pada saat ini endapan yang terbentuk adalah KAl(SO4)2.12H2O. Setelah itu, dilakukan penyaringan. Kristal (tawas) yang diperoleh dicuci dengan kemudian disaring dan dikeringkan. Persamaan reaksi pembentukan tawas: 24 H2O + 2KAl(SO4)2 (aq) 2KAl(SO4)2.12H2O(s) Selanjutnya berat tawas yang dihasilkan ditimbang. Berat tawas yang dihasilkan sebesar 28,4 gram. Kemudian dilakukan uji kejernihan air dengan menggunakan tawas yang dihasilkan. Dalam pengujian ini digunakan air tanah secukupnya dan tawas secukupnya, lalu didiamkan selama 1jam. Hasil pengamatan pengujian ini dihasilkan air jernih dan endapan tanah. Hal ini menunjukkan bahwa tawas yang dihasilkan dari aluminium kaleng bekas dapat digunakan untuk menjernihkan air.

V. CONCLUTION Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu: 1. Alumunium dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan tawas dalam penjernihan air. 2. Dari 2 gram aluminium yang digunakan dapat menghasilkan 28,4 gram kristal tawas.

Jurnal Praktikum Kimia Anorganik II, Pembuatan Tawas dari Aluminium | 6

VI. REFERENCE Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka. Dian, dkk. Kaleng Bekas sebagai Solusi Air Bersih. http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/31612856/PROGRAM_K REATIVITAS_MAHASISWA_2-libre.pdf .2013. Diakses pada 28 Maret 2014 pukul 09.22 WIB. Jamaluddin, Toni. Pemanfaatan Kaolin sebagai Bahan Baku Pembuatan Aluminium Sulfat dengan Metode Adsorbs. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15929/1/stinov2005%20(15).pdf .2005. Diakses pada 28 Maret 2014 pukul 10.46 WIB. Marunung, Manuntun dan Fitria, Irma. KANDUNGAN ALUMINIUM DALAM KALENG BEKAS DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBUATAN TAWAS. http://ojs.unud.ac.id/index.php/jchem/article/viewFile/2806/1995.pdf .2010. Diakses pada 28 Maret 2014 pukul 09.20 WIB.

Jurnal Praktikum Kimia Anorganik II, Pembuatan Tawas dari Aluminium | 7