Anda di halaman 1dari 9

Segala Sesuatu tentang Jerawat Oleh : Dito Anurogo

Artikel ini akan membahas segala sesuatu tentang jerawat yang meliputi delapan belas hal, yaitu:

1. Pendahuluan

2. Sinonim

3. Definisi

4. Patogenesis (Mengapa Timbul Jerawat?)

5. Epidemiologi

(meliputi:Frekuensi,Mortalitas/Morbiditas, Ras, Jenis Kelamin, dan Usia)

6. Manifestasi Klinis (meliputi:

Kronologis dan Pemeriksaan Fisik)

7. Penyebab (Etiologi)

8. Predileksi (Lokasi)

9. Diagnosis Banding

10. Pemeriksaan Laboratorium

11. Pemeriksaan Histopatologis

12. Penatalaksanaan dan Farmakoterapi

13. Komplikasi

14. Prognosis

15. Pencegahan

16. Kesimpulan

17. Tahukah Anda?

18. Bacaan Lebih Lanjut

Pendahuluan

Definisi

1. Akne adalah penyakit kulit yang

terjadi akibat peradangan menahun folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul, nodus, dan kista pada tempat predileksinya.

2. Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. Gambaran klinis akne vulgaris sering polimorfi; terdiri atas berbagai kelainan kulit berupa komedo, papul, pustul, nodul, dan jaringan parut, yang terjadi akibat kelainan aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipotrofik maupun yang hipertrofik.

3. Acne is an inflammatory disease

involving the sebaceous glands of the skin; characterized by papules or pustules or comedones.

4. Acne vulgaris is the most common

form of acne; usually affects people from puberty to young adulthood.

5. A comedone is a whitehead (closed

comedone) or a blackhead (open comedone) without any clinical signs of inflammation.

Acne vulgaris merupakan penyakit kulit yang umum terjadi (a common skin disease) dan memengaruhi 85-100% orang pada suatu saat selama hidupnya. Dicirikan dengan adanya papula folikuler noninflamasi (noninflammatory follicular papules) atau komedo (comedones) dan

Sebenarnya ada beberapa bentuk acne

Patogenesis (Mengapa Timbul Jerawat?) Patogenesis acne vulgaris multifaktorial. Ada empat faktor utama yang bertanggung jawab pada perkembangan lesi akne:

nodul, pustula, dan papula radang dalam

1. Hiperproliferasi epidermis

bentuk yang lebih berat. Acne vulgaris

folikuler dengan subsequent

memengaruhi daerah kulit yang memiliki

plugging

of

banyak folikel sebaceous (kelenjar

the follicle.

minyak), seperti wajah, dada bagian atas, dan punggung.

(jerawat), misalnya:

2. Kelebihan sebum (sekresi minyak dari kelenjar sebaceous; dengan keringat / perspiration, sebum membasahi atau melembabkan dan melindungi

1. Acne conglobata

kulit).

2. Acne fulminans

3. Acne Keloidalis Nuchae

4. Acneiform Eruptions

Sinonim Di dalam tulisan ini, istilah jerawat disebut sebagai akne, acne, acne vulgaris.

3. Keberadaan dan aktivitas dari Propionibacterium acnes.

4. Proses radang (inflammation).

Follicular epidermal hyperproliferation adalah peristiwa yang pertama kali

dikenal di dalam perkembangan akne. Penyebab yang mendasari (underlying cause) terjadinya hiperproliferasi ini belum diketahui. Sampai sekarang, ada

tiga hipotesis yang dipertimbangkan untuk menjelaskan mengapa epitel folikuler menjadi hyperproliferative pada orang yang berjerawat.

Pertama, hormon androgen terkait sebagai pemicu awal (initial trigger). Komedo, lesi klinis sebagai hasil dari follicular plugging, mulai muncul sekitar adrenarche pada orang yang berjerawat.

Derajat akne komedo pada wanita sebelum masa pubertas (prepubertal) berhubungan dengan kadar adrenal androgen dehydroepiandrosterone sulfate (DHEA-S) yang bersikulasi. Tambahan pula, reseptor hormon androgen ada di bagian atau komponen folikel dimana komedo terbentuk; seseorang dengan reseptor androgen yang tidak berfungsi (malfunctioning) tidak akan muncul jerawatnya.

Kedua, perubahan komposisi lemak juga berperan dalam perkembangan jerawat. Orang yang berjerawat seringkali memiliki produksi sebum yang berlebihan dan kulit yang berminyak. Sebum yang berlebihan ini dapat mendilusi (mengencerkan) lemak epidermis yang normal sehingga dapat mengubah konsentrasi relatif dari berbagai lemak. Kadar asam linoleat (linoleic acid) terbukti rendah pada orang yang berjerawat, dan, menariknya, kadar ini menjadi normal setelah pemberian isotretinoin yang sukses. Penurunan relatif asam linoleat ini dapat menginisiasi (memicu) pembentukan komedo.

Ketiga, proses radang (inflammation) merupakan salah satu faktor yang dipercaya terlibat di dalam pembentukan komedo. Interleukin (IL)–1–alpha merupakan proinflammatory cytokine, yang digunakan pada contoh jaringan (tissue model) untuk menginduksi (memicu) follicular epidermal hyperproliferation dan pembentukan komedo. Meskipun proses radang tidak nyata secara mikroskopis atau klinis pada lesi awal jerawat, namun tetap memegang peranan yang sangat penting di dalam perkembangan acne vulgaris dan komedo (comedones).

Kelebihan sebum merupakan faktor penting lainnya di dalam perkembangan acne vulgaris. Ekskresi (pengeluaran) dan produksi sebum diatur oleh sejumlah hormon dan mediator yang berbeda. Hormon androgen, dalam keadaan tertentu, menaikkan produksi dan pengeluaran/pelepasan sebum.

Sebagian besar pria dan wanita dengan jerawat memiliki hormon androgen yang bersirkulasi dalam tubuh dengan kadar normal. Suatu end-organ hyperresponsiveness terhadap hormon androgen telah dipercaya sebagai hipotesis (hypothesized). Hormon androgen bukanlah satu-satunya regulator dari kelenjar sebaceous manusia.

Banyak agen-agen lainnya, termasuk hormon pertumbuhan dan insulinlike growth factor, juga mengatur (regulate) kelenjar sebaceous dan juga berkontribusi pada perkembangan jerawat.

P. acnes merupakan suatu organisme microaerophilic yang terdapat di banyak lesi jerawat. Meskipun, belum terbukti keberadaannya di lesi jerawat yang paling awal terjadi, microcomedo, keberadaannya pada lesi-lesi kemudian hampir dapat dipastikan. Keberadaan P. acnes menaikkan (promote) proses radang melalui berbagai mekanisme. P.acnes menstimulasi (merangsang) terjadinya radang dengan memproduksi mediator-mediator proinflammatory yang menyebar melalui dinding folikel.

Riset terbaru menunjukkan bahwa P.acnes mengaktifkan toll-like receptor 2 pada monosit dan neutrofil. Aktivasi toll- like receptor 2 kemudian memacu produksi multiple proinflammatory cytokines, termasuk IL-12, IL-8, dan tumor necrosis factor. Hipersensitivitas terhadap P acnes dapat juga menjelaskan mengapa beberapa orang mengalami jerawat disertai peradangan (inflammatory acne vulgaris) sementara yang lainnya tidak.

Peradangan dapat merupakan suatu fenomena primer atau sekunder. Sebagian besar bukti hingga kini menyarankan suatu respon peradangan sekunder terhadap P.acnes sebagaimana telah disebutkan di atas. Bagaimanapun juga, ekspresi IL-1-alpha telah teridentifikasi pada microcomedone, dan dapat berperan pada perkembangan jerawat.

Epidemiologi

Frekuensi di Amerika Serikat Acne vulgaris memengaruhi 85-100% orang pada suatu saat dalam hidupnya.

Mortalitas/Morbiditas

* Acne dapat menyebabkan nyeri fisik dan penderitaan psikososial.

* Jerawat (acne) dapat menimbulkan

bekas luka/parut pada kulit (scarring).

* Varian inflammatory acne yang berat, acne fulminans, dapat berhubungan dengan demam, arthritis, dan gejala- gejala sistemik lainnya.

Ras

* Prevalensi jerawat pada penduduk

Amerika Utara keturunan Afrika dan kulit putih adalah sama.

Jenis Kelamin

* Acne vulgaris lebih sering terjadi pada pria daripada wanita di masa remaja (adolescence), namun lebih sering pada wanita daripada pria di masa dewasa (adulthood).

Usia

* Acne vulgaris dapat muncul pada

minggu-minggu dan bulan-bulan pertama kehidupan saat bayi baru lahir (newborn) masih dipengaruhi oleh hormon ibunya dan saat androgen- producing portion dari kelenjar adrenal tak sebanding kadarnya. Jerawat di masa bayi ini (neonatal acne) dapat menghilang secara spontan.

* Jerawat di masa remaja biasanya

muncul di masa pubertas, saat kelenjar adrenal mulai memproduksi dan melepaskan lebih banyak hormon androgen.

* Jerawat tidak terbatas hanya pada usia remaja. Dua belas persen wanita dan

lima persen pria pada usia 25 tahun memiliki problem jerawat. Setelah usia 45 tahun, sejumlah 5% baik pria maupun wanita masih memiliki problem jerawat.

* Menurut Wolff K., dkk (2007), akne

umumnya terjadi pada usia pubertas 10 hingga 17 tahun pada wanita, 14 hingga 19 tahun pada pria. Dapat juga muncul pertama kali pada usia > 25 tahun.

Manifestasi Klinis

Kronologis (History)

Gejala lokal termasuk nyeri (pain) atau nyeri jika disentuh (tenderness).

Biasanya tidak ada gejala sistemik pada acne vulgaris.

Akne yang berat (severe acne) disertai dengan tanda dan gejala sistemik disebut sebagai acne fulminans.

Acne dapat muncul pada pasien apapun sebagai dampak psikologis, tanpa melihat tingkat keparahan penyakitnya.

Pemeriksaan Fisik Acne vulgaris bercirikan adanya komedo, papula, pustula, dan nodul pada distribusi sebaceous.

Komedo dapat berupa whitehead (komedo tertutup) atau blackhead (komedo terbuka) tanpa disertai tanda- tanda klinis dari peradangan apapun.

Papula dan pustula terangkat membenjol (bumps) disertai dengan peradangan yang nyata.

Wajah dapat menjadi satu-satunya permukaan kulit yang terserang jerawat; namun dada, punggung, dan lengan atas juga sering terkena jerawat.

* Pada akne komedo (comedonal acne), tidak ada lesi peradangan. Lesi komedo (comedonal lesions) merupakan lesi akne yang paling awal, sedangkan komedo tertutup (closed comedones) merupakan lesi precursor dari lesi peradangan (inflammatory lesions)

* Akne peradangan yang ringan (mild

inflammatory acne) bercirikan adanya

komedo dan papula peradangan.

sedang

(moderate inflammatory acne) memiliki

peradangan, dan

pustula. Akne ini memiliki lebih banyak

lesi dibandingkan

peradangan yang lebih ringan.

dengan akne

komedo,

*

Akne

peradangan

papula

yang

* Acne nodulocystic bercirikan komedo,

lesi-lesi peradangan, dan nodul besar

yang berdiameter lenih dari 5 mm.

Seringkali tampak (scarring).

jaringan parut

Pemeriksaan Laboratorium Penegakan diagnosis acne vulgaris berdasarkan diagnosis klinis.

* Pada pasien wanita dengan nyeri haid (dysmenorrhea) atau hirsutisme, evaluasi hormonal sebaiknya dipertimbangkan. Pasien dengan virilization haruslah diukur kadar testosteron totalnya. Banyak ahli juga mengukur kadar free testosterone, DHEA-S, luteinizing hormone (LH), dan kadar follicle-stimulating hormone (FSH).

Penyebab (Etiologi) Penyebab eksternal acne vulgaris jarang

*

Kultur

lesi kulit

untuk me-rule out

teridentifikasi.

gram-negative

folliculitis

amat

*

Beberapa kosmetik dan minyak rambut

diperlukan

ketika

tidak

ada

respon

(hair pomades) dapat memperburuk

terhadap

terapi

atau

saat perbaikan

akne.

tidak tercapai.

* Obat-obatan pemicu timbulnya akne

antara lain: steroid, lithium, beberapa

antiepilepsi, dan iodides.

* Congenital adrenal hyperplasia, polycystic ovary syndrome, dan kelainan endokrin lainnya (dengan kadar androgen yang berlebihan) dapat memicu perkembangan acne vulgaris.

* Acne vulgaris dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik.

Predileksi (Lokasi) Jerawat biasa timbul di wajah/muka, leher, bahu, lengan atas, tubuh (trunk), dada, punggung, pantat/bokong.

Diagnosis Banding Beberapa penyakit yang menyerupai

jerawat (acne vulgaris) antara lain:

1. Acne conglobata

2. Acne fulminans

3. Akne venenata dan akne akibat

rangsangan fisik

4. Acne Keloidalis Nuchae

5. Acneiform Eruptions (erupsi yang

mirip akne)

6. Folliculitis

7. Perioral Dermatitis

8. Rosacea (dulu: akne rosasea)

9. Sebaceous Hyperplasia

10. Milia

11. Syringoma

12. Tuberous Sclerosis

13. Demodex folliculitis

14. Bacterial folliculitis

15. Papular sarcoidosis

Pemeriksaan Histopatologis Microcomedo dicirikan oleh adanya folikel berdilatasi dengan a plug of loosely arranged keratin. Seiring kemajuan (progression) penyakit, pembukaan folikular menjadi dilatasi dan menghasilkan suatu komedo terbuka (open comedo). Dinding follicular tipis dan dapat robek (rupture). Peradangan dan bakteri terlihat jelas, dengan atau tanpa follicular rupture. Follicular rupture disertai reaksi badan asing (a foreign body reaction). Peradangan padat (dense inflammation) menuju dan melalui dermis dapat berhubungan dengan fibrosis dan jaringan parut (scarring).

Penatalaksanaan Saat digunakan antibiotik sistemik atau topikal, sebaiknya digunakan bersama dengan benzoyl peroxide untuk mengurangi risiko terjadinya resistance.

1. Topical treatments Topical retinoids bersifat comedolytic dan anti-inflammatory. Topical retinoids yang paling banyak diresepkan termasuk adapalene, tazarotene, dan tretinoin.

Topical retinoids menipiskan stratum corneum, dan berkaitan erat dengan sun sensitivity. Nasihatilah pasien untuk berlindung dari sinar matahari (sun protection), misalnya dengan memakai topi, tabir surya, dll.

Antibiotik topikal yang yang umum diresepkan termasuk erythromycin dan clindamycin dosis tunggal atau dikombinasikan dengan benzoyl peroxide.

2. Systemic treatments

Antibiotik sistemik merupakan terapi

Pasien wanita haruslah memberikan informed consent secara tertulis (dan menandatanganinya), yang menyatakan bahwa mereka akan menggunakan kontrasepsi selama menjalani terapi dan untuk 30 hari paskaterapi.

mainstay untuk jerawat.

Dosis

Total

dosis

kumulatif

yang

Antibiotik kelompok tetracycline

direkomendasikan

sebesar

120-150

umumnya diresepkan untuk akne.

mg/kg berat badan, dosis awal (starting

Semakin antibiotik bersifat lebih lipofilik,

dose)

sebaiknya

<0.5

mg/kg

berat

seperti doxycycline dan minocycline,

badan/hari PO, kemudian dosis dapat

biasanya lebih efektif daripada

dinaikkan

hingga

1

mg/kg

berat

tetracycline.

badan/hari.

 

Antibiotik lainnya, seperti: trimethoprim, dosis tunggal atau dikombinasi dengan sulfamethoxazole, dan azithromycin, dilaporkan bermanfaat.

1.2. Tretinoin (Retin-A, Retin-A Micro, Avita) Mekanisme Kerja Menghambat pembentukan microcomedo.

Farmakoterapi Jerawat

 

Menormalkan diferensiasi epidermis folikuler dan menunjukkan (meng-

Tujuan

farmakoterapi

adalah

untuk

exhibit) anti-inflammatory properties.

mengurangi

morbiditas

dan

untuk

Tersedia dalam krem 0.025%, 0.05%,

mencegah komplikasi.

 

dan 0.1%. Juga tersedia dalam bentuk gels 0.01% dan 0.025%.

Secara umum ada dua golongan:

1. Retinoid, misalnya:

1.1. isotretinoin,

1.2. tretinoin,

1.3. adapalene,

1.4. tazarotene.

2. Antibiotik, misalnya:

2.1. minocycline,

2.2. doxycycline,

2.3. tetracycline,

2.4. trimethoprim/sulfamethoxazole.

Berikut ini sedikit uraian tentang farmakoterapi jerawat beserta nama dagangnya di Amerika:

1. Retinoid

1.1. Isotretinoin (Accutane)

Mekanisme Kerja Pengobatan (medication) secara oral yang paling efektif mengobati berbagai kondisi dermatologis yang serius.

Isotretinoin merupakan bentuk isomer 13-cis sintetis dari tretinoin yang terjadi secara alami (trans-retinoic acid). Struktur kedua agen tersebut berhubungan dengan vitamin A. Menurunkan ukuran kelenjar sebaseus dan produksi sebum. Juga menghambat diferensiasi kelenjar sebaseus dan keratinisasi abnormal.

Dosis Dimulai dengan formulasi tretinoin dosis terendah dan dapat ditingkatkan sesuai toleransi tubuh. Berikan hs (sebelum tidur) atau qod. Turunkan dosis bila terjadi iritasi.

1.3. Adapalene (Differin) Mekanisme Kerja Turunan (derivative) asam naptoat (naphthoic acid) yang mampu mengikat reseptor asam retinoat (retinoic acid). Menormalkan diferensiasi epidermis folikuler dan menunjukkan (meng- exhibit) anti-inflammatory properties. Tersedia dalam sediaan (formulation) krem, gel, solution, dan pledget.

Dosis Berikan sedikit pada kulit yang berjerawat, diberikan: qd.

1.4. Tazarotene (Tazorac, AVAGE) Mekanisme Kerja Prodrug retinoid yang memiliki active metabolite modulates differentiation dan proliferation of epithelial tissue; juga memiliki efek antiperadangan (anti- inflammatory) dan immunomodulatory properties. Tersedia preparat krem dan gel 0.05% dan 0.1%.

Dosis Berikan sedikit saja pada area yang berjerawat, diberikan: qd.

2. Antibiotik 2.1. Minocycline (Dynacin, Minocin) Mekanisme Kerja Mengobati infeksi yang disebabkan oleh organisme gram-negatif dan gram-positif. Juga infeksi yang disebabkan oleh organisme klamidia (chlamydial), riketsia (rickettsial), dan mikoplasma (mycoplasmal).

Tersedia dalam preparat 50mg, 75mg, dan 100mg.

Dosis dewasa 50-100 mg PO bid.

Dosis anak-anak <8 tahun: tidak direkomendasikan. >8 tahun: mula-mula 4 mg/kg berat badan PO, diikuti dengan 2 mg/kg berat badan q12h.

2.2. Doxycycline (Bio-Tab, Doryx, Vibramycin) Mekanisme Kerja Agen antibakteri yang efektif melawan organisme gram-positive dan gram- negative.

Tersedia dalam preparat 20mg, 50mg, dan 100mg.

Dosis dewasa 100 mg PO bid.

Dosis anak-anak

<8

>8 tahun: 2-5 mg/kg berat badan/hari

PO/IV

terbagi; sebaiknya tidak melebihi 200 mg/hari.

dosis

tahun:

tidak

direkomendasikan.

1-2

dalam

Dosis anak-anak <8 tahun: : tidak direkomendasikan. >8 tahun: 25-50 mg/kg/hari (10-20 mg/lb) PO dibagi qid

2.4. Trimethoprim/sulfamethoxazole

(Bactrim, Bactrim DS, Septra, Septra DS). Mekanisme Kerja Antibiotik dengan aktivitas melawan banyak organisme gram-positive dan

gram-negative.

pertumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis asam dihidrofolat (dihydrofolic acid). Tersedia dosis 80 mg trimethoprim dan 400 mg sulfamethoxazole atau 160 mg trimethoprim dan 800 mg sulfamethoxazole (kekuatan ganda).

Menghambat

Dosis dewasa 160 mg TMP/800 mg

SMZ

PO q12h.

Dosis anak-anak 8 mg/kg berat badan/hari TMP/40 mg/kg berat badan/hari SMZ PO/IV dibagi q12h.

Komplikasi

* Lesi akne dapat berlanjut menjadi permanent scarring.

Prognosis * Pada pria, akne biasanya menghilang pada usia dewasa muda. Lima persen pria masih memiliki akne pada usia 25 tahun.

* Pada wanita, 12% masih memiliki akne di usia 25 tahun, sedangkan 5% masih memiliki akne di usia 45 tahun.

* Rata-rata

akne adalah baik.

prognosis

Pencegahan

orang

dengan

2.3. Tetracycline (Sumycin)

1. Diet rendah lemak dan karbohidrat.

Mekanisme Kerja

2. Melakukan

perawatan

kulit

(tidak

Agen antibakteri yang efektif melawan

hanya

wajah)

secara

rutin

dan

organisme gram-positive dan gram-

teratur, misalnya teratur mencuci muka

negative.

setelah

pulang

dari

bepergian.

 

Dosis dewasa

3.

Hidup teratur dan seimbang, cukup

250-500

mg

PO

q6h

istirahat,

cukup

olahraga,

Untuk infeksi ringan sampai sedang: 500

hindari

stres.

mg PO bid atau 250 mg PO qid untuk 7-

4.

Penggunaan kosmetika secukupnya

14 hari.

dan

sewajarnya

(baik

jumlah/banyaknya

dan

lamanya).

5.

kendaraan

bermotor, dll.), rokok, minuman keras,

asap

(rokok,

Menghindari:

polusi,

debu,

pabrik,

c.2. Medikamentosa

Topikal:

semua

yang

bercitarasa

-

Kombinasi sulfur, resorchin, asam

pedas,

pemencetan

jerawat

yang

azaleat.

dilakukan

oleh

bukan

ahlinya.

- Eritromisin 2%.

6. Mengetahui dan memahami informasi

tentang berbagai literatur.

dari

jerawat

Kesimpulan Mutiara Diagnosis Akne Vulgaris menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI):

- Benzoil peroksida 2,5-10%.

- Tretinoin 0,025-0,1 %.

- Klindamisin 1-2 %.

Sistemik:

-Tetrasiklin 4x250 mg/hari.

- Doksisiklin 50-100 mg/hari.

- Eritromisin 2-4x250-500 mg/hari.

- Minosiklin 50-100 mg/hari.

a. Definisi: akne vulgaris yaitu

- Siprosteron asetat 2mg.

peradangan kronis pada folikel

- Isotretinoin 0,5-1 mg/Kg berat

pilosebaseus yang secara klinis ditandai

badan/hari.

adanya komedo, papul, pustul, nodul, dan kista, pada daerah predileksi yaitu di

Tindakan:

wajah, bahu, lengan atas, dada dan

1. Ekstraksi komedo.

punggung bagian atas, yang sering

2. Injeksi kortikosteroid intralesi.

dijumpai pada usia remaja.

3. Peeling kimiawi (asam glikolat, asam

b. Kriteria Diagnostik:

b.1. Klinis:

- Terutama menyerang usia remaja.

- Predileksi pada wajah, punggung, dada

atas, bahu, dan lengan atas.

- Kelainan kulit bersifat pleomorfik, yaitu berupa campuran komedo tertutup, papul, pustul, nodul, kista, sikatriks atrofik (depressed scar/ice prick) atau hipertrofik. Dapat juga berupa eritem dab hiperpigmentasi paska-inflamasi.

b.2. Dignosis Banding:

1. Folikulitis pada daerah janggut

2. Rosasea.

3. Dermatitis perioral

4. Erupsi akneiformis

5. Lupus miliaris desiminatus fasiei

6. Folikulitis negatif-Gram

7. Pioderma fasiale

8. Akne venenata

b.3. Pemeriksaan Penunjang: -

c. Penatalaksanaan

c.1. Nonmedikamentosa

- Hindari trauma.

- Kosmetik nonkomedogenik.

- Perawatan kulit wajah untuk kulit

berminyak.

trikloroasetat).

4. Dermabrasi.

5. Punch graft.

6. Colagen implant.

7. Photorejuvenation.

Tahukah Anda?

Beberapa

Adrenarche adalah peningkatan aktivitas

kelenjar adrenal sebelum masa puber (puberty).

istilah

di

artikel

ini:

Follicle (folikel):

1. Lubang kecil atau kantung di tubuh

(tiny hole or sac in the body).

2. Any small spherical group of cells

containing a cavity.

Kista: penonjolan di atas permukaan kulit berupa kantung yang berisi cairan serosa atau padat atau setengah padat.

Komedo (comedones): gejala patognomonik (khas) bagi akne berupa papul miliar yang ditengahnya mengandung sumbatan sebum. Ada dua jenis komedo:

a. Komedo hitam atau komedo terbuka

(black comedo, open comedo):

mengandung unsur melanin.

b. Komedo putih atau komedo tertutup

(white comedo, close comedo): letaknya

lebih dalam, tidak mengandung unsur

melanin.

Miliar: berukuran sebesar jarum pentul.

Nodula atau nodul: sama seperti papula namun diameternya lebih besar dari 1

cm.

Papula atau papul: penonjolan padat di atas permukaan kulit, berbatas tegas, berukuran kurang dari 1 cm.

Pustula: vesikel berisi nanah.

Vesikel atau vesikula: gelembung yang berisi cairan serosa dengan diameter kurang dari 1 cm.

Virilisasi (= virilization, masculinization):

perkembangan abnormal karakteristik seksual pria pada seorang wanita (biasanya sebagai hasil dari terapi hormon atau malfungsi adrenal).

Mengobati akne selama kehamilan merupakan tantangan tersendiri. Banyak dari obat yang diresepkan untuk akne tidak aman selama kehamilan. Pendekatan yang lebih aman adalah dengan menggabungkan erythromycin atau clindamycin topikal atau sistemik.

Tentang Penulis Dito Anurogo email: ditoanurogo@gmail.com

- A Student in School of Medicine, Sultan

Agung Islamic

(UNISSULA), Semarang, Central Java.

- A member of International Federation of

Medical Associations (IFMSA).

- A member of Center for Indonesian Medical

University

Students'

Students'

Activities

(CIMSA).

Bacaan Lebih Lanjut

1. Wolff K., Johnson RA., Suurmond D. Fitzpatrick's

Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology.

5th Edition. McGraw-Hill. USA. 2007.

2. Fitzpatrick JE., Morelli JG., Dermatology Secrets

In Color. Third Edition. Mosby Elsevier.Philadelphia,

USA.

2007.

3.

Zouboulis

CC.

Is

acne

vulgaris

a

genuine

inflammatory

disease?.

Dermatology.

2001;203(4):277-9.

 

4. Kim J, Ochoa MT, Krutzik SR, Takeuchi O,

Uematsu S, Legaspi AJ. Activation of toll-like receptor 2 in acne triggers inflammatory cytokine responses. J Immunol. Aug 1 2002;169(3):1535-

41.

5. Webster

hypersensitivity

Dermatology. 1998;196(1):80-1.

GF.

Inflammatory

to

acne

represents

acnes.

Propionibacterium

6. Ingham E, Eady EA, Goodwin CE, Cove JH,

Cunliffe WJ. Pro-inflammatory levels of interleukin- 1 alpha-like bioactivity are present in the majority of open comedones in acne vulgaris. J Invest Dermatol. Jun 1992;98(6):895-901.

7. Goulden V, McGeown CH, Cunliffe WJ. The

familial risk of adult acne: a comparison between first-degree relatives of affected and unaffected

individuals. Br J Dermatol. Aug 1999;141(2):297-

300.

8. Eady EA, Farmery MR, Ross JI, Cove JH, Cunliffe

WJ. Effects of benzoyl peroxide and erythromycin

alone and in combination against antibiotic- sensitive and -resistant skin bacteria from acne patients. Br J Dermatol. Sep 1994;131(3):331-6.

9. Cunliffe WJ, Holland KT. The effect of benzoyl

Acta Derm Venereol.

1981;61(3):267-9.

peroxide

on

acne.

10. Eady EA, Jones CE, Gardner KJ, Taylor JP, Cove

JH, Cunliffe WJ. Tetracycline-resistant

propionibacteria from acne patients are cross- resistant to doxycycline, but sensitive to minocycline. Br J Dermatol. May 1993;128(5):556-

60.

11.

Bottomley WW, Cunliffe WJ. Oral trimethoprim

as a third-line antibiotic in the management of acne vulgaris. Dermatology. 1993;187(3):193-6.

12. Fernandez-Obregon AC. Azithromycin for the

Jan

2000;39(1):45-50.

treatment

of

acne.

Int

J

Dermatol.

13. Koulianos GT. Treatment of acne with oral

contraceptives: criteria for pill selection. Cutis. Oct

2000;66(4):281-6.

14.

Redmond

GP.

Effectiveness

of

oral

contraceptives

in

the

treatment

of

acne.

Contraception.

Sep

1998;58(3 Suppl):29S-33S;

quiz 68S.

 

15. Strauss JS, Pochi PE. Effect of cyclic progestin-

estrogen therapy on sebum and acne in women. JAMA. Nov 30 1964;190:815-9.

16. Thorneycroft IH, Stanczyk FZ, Bradshaw KD,

Ballagh SA, Nichols M, Weber ME. Effect of low- dose oral contraceptives on androgenic markers

and acne. Contraception. Nov 1999;60(5):255-62.

17. Shaw JC. Low-dose adjunctive spironolactone

in the treatment of acne in women: a retrospective

analysis of 85 consecutively treated patients. J Am Acad Dermatol. Sep 2000;43(3):498-502.

18. Jacobs DG, Deutsch NL, Brewer M. Suicide,

depression, and isotretinoin: is there a causal link?.

J Am Acad Dermatol. Nov 2001;45(5):S168-75.

19. Jick SS, Kremers HM, Vasilakis-Scaramozza C.

Isotretinoin use and risk of depression, psychotic symptoms, suicide, and attempted suicide. Arch Dermatol. Oct 2000;136(10):1231-6.

20. Cunliffe WJ, Goulden V. Phototherapy and acne

vulgaris. Br J Dermatol. May 2000;142(5):855-6.

21. Papageorgiou P, Katsambas A, Chu A. Phototherapy with blue (415 nm) and red (660 nm) light in the treatment of acne vulgaris. Br J Dermatol. May 2000;142(5):973-8.

22. Knowles SR, Shapiro L, Shear NH. Serious

adverse reactions induced by minocycline. Report of 13 patients and review of the literature. Arch Dermatol. Aug 1996;132(8):934-9.

23. Cunliffe WJ, Holland DB, Clark SM, Stables GI.

Comedogenesis: some new aetiological, clinical and therapeutic strategies. Br J Dermatol. Jun

2000;142(6):1084-91.

24. Eady

Cunliffe WJ. Modulation of comedonal levels of

EA,

Ingham E,

Walters CE, Cove JH,

Psychosocial impact of acne vulgaris. evaluation of the relation between a change in clinical acne severity and psychosocial state. Dermatology.

2001;203(2):124-30.

36. Norris JF, Cunliffe WJ. A histological and

immunocytochemical study of early acne lesions.

Br J Dermatol. May 1988;118(5):651-9.

37. Pochi PE, Strauss JS. Sebaceous gland activity

in black skin. Dermatol Clin. Jul 1988;6(3):349-51.

38. Ross JI, Snelling AM, Eady EA, Cove JH,

Cunliffe WJ, Leyden JJ, et al. Phenotypic and genotypic characterization of antibiotic-resistant Propionibacterium acnes isolated from acne patients attending dermatology clinics in Europe, the U.S.A., Japan and Australia. Br J Dermatol. Feb

2001;144(2):339-46.

interleukin-1

in

acne

patients

treated

with

39.

Shaw JC, White LE. Persistent acne in adult

tetracyclines.

J

Invest

Dermatol.

Jul

women. Arch Dermatol. Sep 2001;137(9):1252-3.

1993;101(1):86-91.

25. Fulton JE, Black E. Dr. Fulton's Step-by-Step

Program for Clearing Acne. New York, NY: Harper & Row; 1983.

B,

Finlay A, Leyden JJ, et al. Management of acne: a

26. Gollnick

H, Cunliffe W, Berson

D, Dreno

report from a Global Alliance to Improve Outcomes

in Acne. J Am Acad

Suppl):S1-37.

Dermatol. Jul 2003;49(1

40. Thiboutot D, Gilliland K, Light J, Lookingbill D.

Androgen metabolism in sebaceous glands from subjects with and without acne. Arch Dermatol. Sep 1999;135(9):1041-5.

41. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit

Kulit. Edisi 2. EGC. Jakarta. 2005.

42. Djuanda A., Hamzah M., Aisah S., (ed.). Ilmu

Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Keempat. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

27.

Gollnick H, Schramm M. Topical drug treatment

2005.

in

acne.

Dermatology.

1998;196(1):119-25.

 

43.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan

28.

Goulden V, Stables GI, Cunliffe WJ. Prevalence

Kelamin Indonesia (PERDOSKI). Standar Pelayanan

of facial acne in adults. J Am Acad Dermatol. Oct

Medik Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Jakarta.

1999;41(4):577-80.

 

2004.

29. Holland DB, Cunliffe WJ, Norris JF. Differential

response of sebaceous glands to exogenous

testosterone. Br J Dermatol. Jul 1998;139(1):102-

44. Harahap M (Ed.). Ilmu Penyakit Kulit. Penerbit

Hipokrates. Jakarta. 2000.

3.

45.

FK UNAIR-RSUD Dr.Soetomo Surabaya.

30.

Kellett SC, Gawkrodger DJ. The psychological

Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/UPF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Surabaya. 1994.

and emotional impact of acne and the effect of treatment with isotretinoin. Br J Dermatol. Feb

1999;140(2):273-82.

31. Kligman AM. Postadolescent acne in women.

Cutis. Jul 1991;48(1):75-7.

32. Lucky AW, Biro FM, Simbartl LA, Morrison JA,

Sorg NW. Predictors of severity of acne vulgaris in young adolescent girls: results of a five-year longitudinal study. J Pediatr. Jan 1997;130(1):30-9.

33. Mallon E, Newton JN, Klassen A, Stewart-Brown

SL, Ryan TJ, Finlay AY. The quality of life in acne: a comparison with general medical conditions using generic questionnaires. Br J Dermatol. Apr

1999;140(4):672-6.

34. Mango D, Ricci S, Manna P, Miggiano GA, Serra

GB. Clinical and hormonal effects of ethinylestradiol combined with gestodene and desogestrel in young women with acne vulgaris. Contraception. Mar

1996;53(3):163-70.

35. Mulder MM, Sigurdsson V, van Zuuren EJ,

al.

Klaassen

EJ,

Faber

JA,

de

Wit

JB,

et