Anda di halaman 1dari 40

Elemen Lentur (Balok)

Ari Wibowo, ST., MT.


Introduksi
Tegangan Lentur
Besar tegangan di sebarang titik di
ketinggian y terhadap garis
netral adalah :
M .y
fb =
Ix
Dimana :
• M = momen lentur penampang
• y = jarak tegak lurus garis
netral ke titik/serat yang ditinjau.
• Ix = momen inersia terhadap
arah momen yang berlaku.
Tegangan maksimum terletak di serat paling luar, yang didapat
dari : M ×c M M
f max = = Ix =
Ix c
Sx
dimana :
• c = jarak dari garis netral ke serat terluar
• Sx = modulus penampang elastis terhadap sumbu putar
momen yang berlaku.
(misal untuk penampang persegi = 1/6.b.h2)

Tegangan maksimum fmax tidak boleh melebihi fyield, sehingga


momen maksimum Mmax tidak boleh melebihi :
My = fy . Sx
Tahapan Pembebanan dan Kondisi Kekuatan Nominal
Penampang Balok di bawah Beban Lentur

Tahap :
• (a) – (b) = elastis
• (b) – (d) = inelastis
• (d) = plastis
MOMEN PLASTIS
Garis netral plastis membagi penampang menjadi dua area
yang sama. Untuk bentuk penampang yang simetris
terhadap garis netral lentur, garis netral elastis dan plastis
adalah sama. Momen plastis Mp adalah kopel penahan
yang dibentuk oleh dua gaya yang sama besar dan
berlawanan arah :
 A
M p = Fy ( Ac ) a = Fy ( At ) a = Fy  a = Fy Z
2

dimana :
• A = luas penampang
• a = jarak antara titik pusat dua setengah area
• Z =  A a = modulus penampang plastis
2
Contoh 1
Hitung momen plastis untuk W10 x 60 dengan mutu A36
Dari tabel properti dan dimensi : A = 17.6 in 2
A 17.6
= = 8.8 in 2
2 2
• Titik pusat dari setengah penampang didapat dari tabel
bentuk WT, dimana dipotong dari bentuk-W. Bentuk yang
relevan disini adalah WT5×30, dan jarak dari serat terluar
sayap ke titik pusat adalah 0,884 inci
a = d − 2(0.884) = 10.22 − 2(0.844) = 8.452 in
A
Z =  a = 8.8(8.452) = 74.38 in 3
2
Hal ini cocok dengan harga 74.6 dari tabel dimensi dan properti
(perbedaan harga adalah akibat kesalahan pembulatan).
Mp = fy Z = 36(74.38)
=2678 in-kips = 223 ft-kips
Kontrol Penampang
KONTROL PENAMPANG
Momen nominal untuk ketahanan desain di dapat berdasar SNI
03-1729-2002.
Balok dapat runtuh bila mencapai Mp atau mengalami kegagalan
tekuk dari salah satu yang berikut :
• Tekuk Lokal Sayap (Flange Local Buckling)
• Tekuk Lokal Badan (Web Local Buckling)
• Tekuk Torsi Lateral (Lateral Torsional Buckling – LTB)
Momen nominal diambil yang paling kecil, sesuai kondisi paling
kritis yang terjadi.
Ingat : gambar tekuk pd balok
Klasifikasi Bentuk
AISC mengklasifikasikan bentuk penampang sebagai
kompak, non-kompak, dan langsing tergantung rasio harga
lebar-tebal.

Element λ λp λr
bf 65 141
Sayap 2t f Fy Fy − 10

h 640 970
Badan tw Fy Fy

• Jika λ ≤ λp, penampang adalah kompak


• Jika λp < λ ≤ λr , penampang adalah nonkompak ; dan
• Jika λ > λr , penampang adalah langsing
Kategori didasarkan pada rasio lebar-tebal terburuk dari
penampang. Misal jika badan adalah kompak, dan sayap
tidak kompak, maka penampang diklasifikasikan sebagai
non-kompak.
Kontrol Tekuk Balok
Mn = fy.Z Mn = fy.Z
 λ − λp 
(  )
Mn = M p − M p − M r  λ r − λ p

  λ − λp 
  Mn = M p − (M p − M r ) 

Mp Mp λ
 r − λ p

Mn = S(20,000)/λ2
Mr Mr
Tidak Tidak Tdk aplikabel
Kompak Kompak Langsing Kompak Kompak Plate girder
λp λr λp λr
Plastis Inelastis Elastis
Plastis Inelastis

Flange Local Buckling Web Local Buckling


Mn = fy.Z   L − L p 
Mn = (
Cb M p − M p − M r ) L  ≤ M p

  r − L p 

Mp π  πE 
2

Mn =C b L EI y GJ +  L  I y I w

Mr

Lp Lr
Plastis,
Tidak ada Inelastis Elastis
instabilitas LTB LTB
Lateral Torsional Buckling
Flange Local Buckling (Tekuk Lokal Sayap)

Mn = fy.Z
 λ − λp 
(
Mn = M p − M p − M r  ) λ− λ


 r p 
Mp

Mn = S(20,000)/λ2
Mr

Kompak Tidak Kompak Langsing

Lp Lr

Plastis Inelastis Elastis

Kelangsingan dari sayap untuk penampang I adalah :


b bf
λ= =
tf 2t f
Terlihat pada gambar diatas, terdapat 3 zona dengan 3 tipe
penampang yang terkait) : plastis (penampang kompak),
inelastis (penampang tidak kompak) dan elastis (penampang
langsing).
Untuk penampang I,batas antara kompak dan nonkompak adalah:
170
λp = fy
⇒ fy = Mpa (SNI 03-1729-2002 tabel 7.5-1)
65
λp = fy
⇒ fy = ksi
dan batas antara non kompak dan balok langsing adalah :
370
λr = fy − fr
⇒ fy = Mpa (SNI 03-1729-2002 tabel 7.5-1)
141
λr = fy − fr ⇒ fy = ksi
dimana : fr = tegangan tekan residual rata-rata pada pelat sayap
= 70 Mpa ( 10 ksi) untuk penampang di rol
= 115 Mpa (16.5 ksi) untuk penampang di las
Untuk memberikan kontrol tambahan pada penampang
nonkompak di daerah gempa, direkomendasikan untuk λp
52
direduksi menjadi λp =
fy
• Didalam zona plastis, momen nominal adalah :
Mn = Mp = fy Z
• Di batas antara zona nonkompak dan lansing, momen adalah
Mr = S (fy – fr)
Web Local Buckling (Tekuk Lokal Badan )

Mn = fy.Z

 λ − λp 
(
Mn = M p − M p − M r  ) λ 

 r − λp 
Mp

Mr
Tdk aplikabel
Kompak Tidak Kompak Plate girder

Lp Lr

Plastis Inelastis

• Jika pelat badan profil adalah langsing dan berperilaku elastis,


maka elemen batang didesain sesuai aturan plate girder.
Untuk penampang I,batas dari plastis (penampang kompak) :
1680
λp = fy ⇒ fy = Mpa (SNI 03-1729-2002 tabel 7.5-1)

640
λp = fy
⇒ fy = ksi
dan batas untuk daerah inelastis (penampang non kompak) :
2550
λr = fy ⇒ fy = Mpa (SNI 03-1729-2002 tabel 7.5-1)

970
λr = fy
⇒ fy = ksi
Di batas antara inelastis dan perilaku elastis, momen nominal
adalah :
Mn = Mr = S.fy
Baik untuk tekuk sayap maupun tekuk badan, hubungan antara λ
dan Mn dalam daerah inelastis adalah linear, sehingga Mn
dapat secara mudah dikalkulasi sebagai berikut :
λp < λ ≤ λ r
 λ − λp 
Mn = M p − (M p − M r ) 

 λr − λ p 
Lateral Torsional Buckling
(Tekuk Torsi Lateral )

Mn = fy.Z
  L − L p 
(
Mn = C b  M p − M p − M r  ) L  ≤ M p

  r − L p 
Mp
2
π  πE 
Mn = C b EI y GJ +   I yIw
Mr
L  L 

Lp Lr
Plastis,
Tidak ada Inelastis Elastis
instabilitas LTB LTB
Balok pendek kompak tertopang lateral : L < Lp
• Saat panjang tak tersupport (unbraced length) L dari sayap
terkompresi adalah kurang dari Lp maka momen nominal
diambil sebesar Mp dan analisis plastis diperbolehkan.
Mn = Mp (SNI 03-1729-2002 pers. 8.3-2a)
dimana :
Z
Mp = fy Z ≤ 1.5 My ⇒ fy Z ≤ 1.5 fy S atau ≤ 1. 5
S
Daerah plastis dibatasi dari kondisi balok dengan pengaku penuh
terhadap tekuk lateral torsi , L = 0, sampai dengan pengaku
yang didefinisikan dengan Lp.

Balok bentang menengah : Lp ≤ L ≤ Lr


• Pada masa inelastis ini, hubungan antara kekuatan nominal
Mn dengan panjang tak berpengaku (unbraced length) L
adalah linier seperti pada gambar.
 (L − L ) 
M n = C b  M r + (M p − M r ) r ≤Mp
 (L r − L )
p 

(SNI 03-1729-2002 pers. 8.3-2b)
Balok bentang panjang : Lr ≤ L
• Dalam kondisi ini (Lr ≤ L ) perilaku yang terjadi adalah elastis.
• Jika momen adalah lebih besar dari titik leleh pertama (M > My
⇒ Lp ≤ L ≤ Lr), maka kekuatan adalah berdasar perilaku
inelastis. Momen pada titik leleh pertama, Mr adalah :
Mr = (fyf – fr ) Sx
fyf = tegangan leleh pda sayap
fr = tegangan residu
• Dalam kasus profil nonhibrid, maka tegangan leleh pada
sayap sama dengan tegangan leleh pada badan ,
fyf = fyw = fy , sehingga : Mr = (fy – fr ) Sx
• Kekuatan nominal desain Mn pada fase elastis ini adalah :
M n = M cr ≤ M p (SNI 03-1729-2002 pers. 8.3-2c)
Momen kritis untuk tekuk lateral :
2
π  πE 
• Mcr = Cb EI y GJ +   I yIw ⇒ profil I dan kanal ganda
L  L 

• Mcr = Cb E JA ⇒ profil kotak pejal / berongga


L / ry
Besar koefisien Cb , Lp , Lr dan Mcr dapat dilihat pada pasal 8.3
SNI 03-1729-2002
Bentang untuk pengekangan lateral untuk profil I :
• Panjang tak berpengaku batas antara plastis dan inelastis

L p = 1,76ry
E ; E dan fy dalam Mpa (SNI 03-1729-2002 pers. 8.3-2b)
fy

L p = 300ry
E ; E dan fy dalam ksi (AISC)
fy
Iy
dimana ry = = jari-jari girasi terhadap sumbu lemah.
A
• Panjang tak berpengaku batas antara inelastis dan elastis
X 
Lr = ry  1  1 + 1 + X 2 f L2
 fL 
dengan : fL = fy – fr
π EGJA
X1 =
S 2
2
X2 =  S  Iw
4 
 GJ  I y
• Panjang bentang L (dalam referensi lain diberi notasi Lb
untuk membedakan dengan panjang sesungguhnya
bentang L) yang dibandingkan dengan Lp dan Lr , haruslah
panjang elemen yang tidak diberi pengaku (unbraced
length).
12.5M max
Faktor distribusi momen : C b =
2.5M max + 3M A + 4 M B + 3M C
dimana :
• Mmax = nilai absolut dari momen
maksimum sepanjang bentang
(unbraced length) termasuk titik
ujung.
• Ma = nilai absolut dari momen
di ¼ bentang (unbraced length)
• Mb = nilai absolut dari momen
di ½ bentang (unbraced length)
• Mc = nilai absolut dari momen
di ¾ bentang (unbraced length)

Jika momen lentur adalah seragam, maka harga Cb adalah


12.5M
Cb = = 1.0
2.5 M + 3M + 4 M + 3M
Gambar disamping
menunjukkan harga Cb
untuk beberapa kasus
umum dan penumpu
lateral.

Untuk balok kantilever tak terkekang, AISC mengatur harga Cb sebesar


1.0. Harga 1.0 selalu konservatif , terlepas dari konfigurasi beban pada
balok, tapi dalam beberapa kasus bisa menjadi terlalu konservatif.
Contoh Kasus Lentur
Contoh Soal
Sebuah balok yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini adalah baja
A36 W16X31. Balok tersebut mendukung suatu pelat lantai beton
bertulang yang mendukung beban lateral pada sayap profil yang
tertekan. Beban mati, yang mencakup berat sendiri balok, adalah 500
lb/ft. beban hidup adalah 550 lb/ft. Hitunglah momen yang cukup
untuk menahan beban pada balok tersebut.

Jawab :

Untuk gelagar sederhana, dengan beban merata, momen maksimum


yang terjadi adalah :
1
M maks = wL 2

8
dimana w adalah beban merata setiap satuan panjang, dan L adalah
panjang bentang.
Sehingga :
1 1
M D = w D L = (0 . 500
2
) 30 2 = 56 . 25 ft − kips
8 8
1 1
M L = w l L2 = (0 . 550 ) 30 2
= 61 . 88 ft − kips
8 8

karena beban mati lebih kecil dari 8 kali beban hidup, maka control
kombinasi beban A4-2 :

M u = 1 .2 M L + 1 .6 M D = 1 .2 (56 .25 ) + 1 .6 (61 .88 ) = 166 ft − kips

kemungkinannya beban dapat difaktorkan sebagai berikut :

wu = 1 .2 w L + 1 .6 w D = 1 .2 (0 .500 ) + 1 .6 (0 .550 ) = 166 ft − kips


1 1
M u = wu L = 1 .480 (30 ) = 166 ft − kips
2 2

8 8
cek :

bf
= 6 .3
2t f
65 65
= = 10 . 8 > 6 . 3 ……batang tersebut dapat digunakan
Fy 36

h 640
<
tw Fy

W16 x 31 adalah yang sesuai dari mutu baja A36

Karena balok mampu menahan beban lateral,maka :

M n = M p = Fy Z x = 36(54.0) = 1944 in − kips = 162.0 ft − kips


Cek Mp < 1.5My :

Z x 54.0
= = 1.14 < 1.5
S x 47.2

φb M n = 0.90(162.0) = 146 ft − kips < 166 ft − kips

Karena nilai momen lebih kecil daripada momen terfaktor, maka


. profil W16 x 31 tidak dapat digunakan
Kontrol Geser
Tegangan Geser

Syarat gaya geser pada balok, dapat dinyatakan sebagai berikut :


Vu < φv. . Vn
Dimana :
Vu = gaya geser max. akibat pembebanan terfaktor
φv = faktor resistensi geser = 0.90
Vn = gaya geser nominal

Berdasarkan ilmu kekuatan bahan, tegangan geser pada


balok dapat ditentukan dari rumus :
V .Q
fv =
dimana : I .t
fv = tegangan geser (ksi)
V = gaya geser (kips)
Q = statis momen (in3)
I = momen inersia (in4)
t = jarak (in)
Gambar 4.5

Vn
Jika : fv = = 0.60 Fy
Aw

Maka : Vn = 0.60 Fy Aw Dengan : Aw = luas badan


Vn
Jika : fv = = 0.60 Fy
Aw
Maka : Vn = 0.60 . Fy . Aw Dengan : Aw = luas badan

523 h
Jika : < ≤ 260
Fy tw
132000 Aw
Maka : Vn = 2
Elastic web buckling
 h 
 
t
 w 
Daerah Geser

Untuk menganalisa keruntuhan akibat adanya daerah geser,


AISC memberikan formula sebagai berikut:
φ . Rn = φ [ 0,6 . Fy . Agv + Fu . Ant ]
φ . Rn = φ [ 0,6 . Fu . Anv + Fy . Agt ]
dimana :
φ = 0,75
Agv = luas kotor penampang geser (panjang AB)
Anv = luas bersih penampang geser
Agt = luas kotor penampang tarik
Ant = luas bersih penampang tarik
Lendutan (Defleksi)
Apabila suatu beban menyebabkan timbulnya lentur, maka balok pasti
akan mengalami defleksi atau lendutan seperti pada gambar 4.7
berikut.

Defleksi vertikal max yang terjadi

4
5 WL
∆ =
384 EI

Pembatasan defleksi didasarkan atas peraturan maupun spesifikasi


yang dinyatakan secara garis besar.
Kriteria defleksi didasarkan atas limit max tertentu yang tidak boleh
dilampaui. Ini biasanya dinyatakan dalam fraksi dari panjang bentang
balok.

L
untuk balok yang memikul plafon plesteran
360

L
untuk lantai yang memikul plafon plesteran
240

L
untuk atap yang tidak memikul plafon plesteran
180