Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tromboflebitis merupakan peradangan dan pembekuan dalam pembuluh darah. Tromboflebitis berarti bahwa gumpalan darah telah terbentuk dalam vena dekat dengan kulit. Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Bekuan darah dapat terjadi di permukaan atau di dalam vena. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan; dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan tromboflebitis? 2. Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya tromboflebitis? 3. Apa saja gejala dari tromboflebitis? 4. Bagaimanakah patofisiologi dari tromboflebitis? 5. Apa saja different diagnosa dari tromboflebitis? 6. Bagaimanakah cara mendiagnosa tromboflebitis? 7. Bagaimanakah penatalaksaan tromboflebitis?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui definisi dari tromboflebitis. 2. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan terjadinya tromboflebitis. 3. Untuk mengetahui gejala dari tromboflebitis. 4. Untuk mengetahui patofisiologi dari tromboflebitis. 5. Untuk mengetahui different diagnosa dari tromboflebitis. 6. Untuk mengetahui cara mendiagnosa tromboflebitis.
1

7. Untuk mengetahui penatalaksaan tromboflebitis.

1.4 1.4 Manfaat Menambah ilmu pengetahuan bagi pembaca tentang tromboflebitis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Tromboflebitis adalah invasi atau perluasan mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah disepanjang vena dan cabang-cabangnya. Tromboflebitis didahului dengan trombosis, dapat terjadi pada kehamilan tetapi lebih sering ditemukan pada masa nifas.

2.2 Etiologi Beberapa faktor yang penyebabkan terjadinya tromboflebitis : o Perubahan susunan darah. o Perubahan laju peredaran darah. o Perlukaan lapisan intema pembuluh darah.

Pada masa hamil dan khususnya persalinan saat terlepasnya plasenta kadar fibrinogen yang memegang peranan penting dalam pembekuan darah meningkat sehingga memudahkan timbulnya pembekuan.

Faktor predisposisi o Riwayat bedah o Usia lanjut o Multi paritas o Varices o Infeksi nifas

2.3 Gejala Gejala-gejala penyakit ini, antara lain: 1. Bengkak dan kemerahan 2. Nyeri saat disentuh dan sensasi hangat di daerah yang tersentuh. Ketika vena dekat permukaan kulit terpengaruh, dapat terlihat pembuluh merah, keras dan lembut tepat di bawah permukaan kulit. Ketika vena di kaki terkena, kaki dapat menjadi bengkak, lembut, dan nyeri, akan sangat terasa ketika berdiri atau berjalan. Gejala penyakit ini juga dapat disertai dengan demam. Namun, banyak orang dengan trombosis vena tidak memiliki gejala. Ketika terlihat pembuluh tampak keras, merah, bengkak atau nyeri urat, harus segera mencari perawatan medis. Terutama jika pekerjaan seseorang memungkinkan imobilitas atau jika ada riwayat keluarga trombophlebitis. Perawatan medis darurat harus diusahakan jika gejala yang parah dan disertai dengan sesak nafas atau demam tinggi, yang mungkin merupakan kondisi dari DVT, yang dapat meningkatkan risiko pembekuan darah terutama ke paru-paru.

2.4 Patofisiologi

Abnormalitas dinding pembuluh darah.

Perubahan komposisi darah (hyperkoagulabilitas).

1. Jenis cairan infus 2. Jenis obat yang dimasukan melalui infus. 3. Jenis kateter infus : kateter yang terbuat dari polivinil klorida atau polietilen.

1. Lokasi pemasangan infus. 2. Ukuran kanula.

1. Teknik pencucian tangan yang buruk. 2. Teknik aseptik tidak baik. 3. Teknik pemasangan kanula yang buruk. 4. Lama pemasangan kanula. Flebitis bakterial

Flebitis Kimia

Flebitis mekanis

kerusakan pada endotelium dinding pembuluh darah khususnya vena.

reaksi inflamasi akut penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen.

Terjadi bekuan darah (thrombus)

tromboflebitis

2.5 Different Diagnosa 2.5.1 ABSES PAYUDARA 2.5.1.a Definisi : Suatu kondisi medis yang ditandai dengan kumpulan nanah yang terbentuk di bawah kulit payudara sebagai akibat dari infeksi bakteri. Kondisi ini menyebabkan payudara membengkak, merah , dan nyeri bila disentuh. 2.5.1.b Etiologi : Penyebab dari Abses Payudara yaitu : Staphylococcus aureus, Diabetes mellitus dan Perokok. 2.5.1.c Maniefestasi Klinis : Gejala dari Abses Payudara adalah : nyeri pada payudara , payudara lebih mengkilap dan berwarna merah, benjolan terasa lunak karena berisi nanah., payudara yang terkena akan tampak membengkak., nyeri dan teraba masa yang fluktuatif, demam dan kedinginan menggigil, malaise dan timbul limfadenopati pectoralis, axiller, parasternalis dan subclavia.

2.5.2 MASTITIS 2.5.2.a Definisi : Peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang disebabkan oleh Staphylococcus Aureus melalui luka pada putting susu atau melalui peredaran darah. Klasifikasi mastitis berdasarkan lokasinya : 1. Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae 2. Mastitis di tengah tengah mammae yang menyebabkan abses 3. Mastitis pada jaringan di bawaah dorsal dari kelenjar kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan muskulus muskulus di bawahnya Klasifikasi mastitis berdasarkan kondisinya : 1. Mastitis periductal Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause, penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan mammary duct ectasia. 2. Matitis puerperalis / lactacional

Mastitis pueperalis banyak dialami oleh wanita hamil hamil atau menyusui. Penyebab utama mastitis puerperalis yaitu bakteri yang menginfeksi mammae yang ditransmisi ke putting ibu melalui kontak langsung. 3. Mastitis supurativa Mastitis supurativa banyak dijumpai, penyebabnya bisa dari kuman staphylococcus, jamur, TBC, sifillis. 2.5.2.b Etiologi : Penyebab dari Mastitis yaitu : organisme S. aureus, streptococci, dan H. parainfluenzae, stress dan keletihan, dan statis ASI. Faktor Predisposisi yaitu : umur ( wanita berumur 21 35 tahun lebih sering terkena mastitis), paritas (mastitis lebih sering diderita oleh primipara), serangan sebelumnya, trauma, gizi, faktor kekebalan dalam ASI. 2.5.2.c Maniefestasi klinis : Gejala dari Mastitis yaitu : nyeri payudara dan tegang atau bengkak, kemerahan dengan batas jelas, biasanya unilateral, terjadi antara 3-4 minggu pasca persalinan. Mastitis infeksiosa : lemah, mialgia, nyeri kepala seperti gejala flu dan atau juga disertai takikardia. Demam suhu > 38,5 0C, ada luka pada puting payudara, kulit payudara kemerahan atau mengkilat. Terasa keras dan tegang . Mastitis non infeksiosa : adany bercak panas atau nyeri tekan yang akut, bercak kecil keras yang nyeri tekan, tidak demam.

2.5.3 BREAST ENGORGEMENT 2.5.3.a Definisi Breast engorgement adalah kondisi di mana payudara ibu pasca melahirkan terasa sangat penuh oleh ASI, tegang dan nyeri. Penyebabnya adalah ketidakseimbangan antara suplai ASI dan kebutuhan bayi. Kondisi ini umum terjadi ketika ibu tiba-tiba berhenti memberikan ASInya sebelum waktunya. 2.5.3.b Etiologi Saat pertama kali susu mengalir dalam payudara, selama beberapa hari pertama setelah melahirkan.

Saat ibu secara normal dan rutin menyusui, tetapi tidak dapat memompa ASI-nya sesuai produksi ASI. Ketika ibu dan bayi secara tiba-tiba berhenti menyusui dan mengkonsumsi ASI. Saat bayi mulai mengurangi ASI, biasanya terjadi ketika bayi mulai mengkonsumsi makanan padat tambahan, atau saat bayi sakit yang ditandai dengan berkurangnya keinginan/nafsu menyusu.

2.5.3.c Gejala Engorgement payudara ini terjadi ketika ASI yang dikeluarkan saat menyusui atau memompa tidak sebanyak produksi yang terjadi sehingga payudara penuh oleh ASI. Ibu yang mengalami hal ini akan merasakan: Payudara terasa membesar, tegang dan sakit. Saat engorgement akut, maka payudara akan membengkak, keras, tampak mengkilap, hangat dan kenyal jika disentuh. Ibu akan merasakan putting menjadi rata, dan daerah sekitar puting akan tampak lebih gelap yang disebut areola dan sangat keras. Bayi akan kesulitan menemukan puting, dan saat menemukannya maka bayi akan bekerja keras untuk menghisap ASI sehingga puting dapat terluka akibat usaha bayi tersebut. Sedikit demam pada ibu (suhu tubuh sekitar 37,8 derajat celcius). Jika suhu tubuh terus meningkat segeralah ke dokter. Kelenjar getah bening ibu di sekitar ketiak membengkak dan sakit.

2.5.4 SALURAN ASI TERSUMBAT (OBSTRUCTIVE DUCT) 2.5.4.a Definisi Clogged atau plugged milk ducts adalah saluran asi yang tersumbat sehingga terjadi pembengkakan pada payudara. 2.5.4.b Etiologi Saluran asi dapat tersumbat ketika asi tidak dikeluarkan seluruhnya. Hal ini bisa disebabkan karena bra menyusui yang tidak sesuai ukurannya, tidak rutin menyusui atau ada jadwal menyusui yang terlewat, pompa asi yang kurang bagus, menderita sakit seperti flu, stres pekerjaan, atau muncul tiba-tiba begitu saja. Bila tidak segera ditangani,

penyumbatan saluran asi dapat berkembang menjadi infeksi payudara yang disebut mastitis. Oleh karena itu, jangan meremehkan gejala-gejala ini.

2.5.4.c Manifestasi Klinis Tanda pertama adanya penyumbatan saluran asi adalah munculnya benjolan kecil dan keras yang terasa sakit bila disentuh, atau ada bagian-bagian tertentu pada payudara yang sangat sensitif bila disentuh. Bisa juga muncul perubahan warna pada payudara menjadi kemerahan. Gejala lainnya Anda akan merasa sakit, lemas, dan demam, yang bisa merupakan tanda bahwa telah timbul infeksi akibat penyumbatan ini.

2.6 Diagnosis Pemeriksaan Penunjang : 1. Ultrasonograf Doppler Tehnik dopler memungkinkan penilaian kualitatif terhadap kemampuan katub pada vena profunda,vena penghubung dan vena yang mengalami pervorasi. 2. Pemeriksaan hematokrit Mengidentifikasi Hemokonsentrasi. 3. Pemeriksaan Koagulasi Menunjukkan hiperkoagulabilitas. 4. Biakan darah Pemeriksaan Baik aerob maupun anaerob dapat membantu. Organisme yangpenting untuk di antisipasi meliputi Streptokokus aerob dan anaerob.Staphilokokus aureus ,Eschercia coli dan Bakteriodes. 5. Pemindai ultrasuond dupleks

Dengan tehnik ini obstruksi vena dan refleks katub dapat dideteksi dandilokalisasi dan dapat dilihat diagram vena-vena penghubung yang tidak kompeten. 6. Venografi Bahan kontras disuntikkan kedalam sistem vena untuk memberikangambaran pada vena-vena di ekstrimitas bawah dan pelvis.

2.7 Penatalaksanaan Jika pembuluh darah yang terkena cukup dangkal atau superficial, perawatan seharusnya tidak berlangsung lebih dari 2 minggu, tanpa rawat inap. Pasien disarankan melakukan beberapa langkah perawatan diri, seperti mengangkat kaki, mengompres hangat atau menggunakan obat nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID). Thrombophlebitis termasuk trombosis dalam vena, dan mungkin memerlukan beberapa perawatan, antara lain: 1. Obat Obat yang biasa diberikan adalah obat antikoagulan, seperti dalam kasus suntikan heparin yang mencegah penggumpalan semakin membesar. Kemudian diikuti dengan pengobatan warfarin selama beberapa bulan yang memerlukan penentuan dosis secara hati-hati, karena merupakan obat kuat dan dapat mengarah pada efek samping serius jika terjadi kesalahan dosis. 2. Pembalutan daerah yang terkena Dalam beberapa kasus, selain dukungan resep obat yang dianjurkan, dapat dilakukan pembalutan karena mengurangi potensi risiko DVT dan mencegah kambuhnya pembengkakan. 3. Filter Dalam operasi bedah yang tidak perlu rawat inap di rumah sakit, filter dapat dimasukkan ke dalam pembuluh darah utama dari perut (vena kava) untuk mencegah bekuan yang dari venavena kaki yang menuju ke paru-paru. Prosedur ini dilakukan pada pasien yang tidak dapat mengambil antikoagulan.
10

4. Penghilangan varises Seorang dokter bedah dapat menghilangkan varises yang menyebabkan nyeri atau trombophlebitis kambuhan dalam prosedur yang disebut Varicose vein stripping. Prosedur ini, biasanya dilakukan secara rawat jalan, melibatkan penghilangan vena panjang melalui sayatan kecil. Biasanya, pasien akan dapat melanjutkan aktivitas normal dalam > 2 minggu. Menghilangkan vena tidak akan mempengaruhi sirkulasi darah pada kaki karena pembuluh darah yang lebih dalam pada kaki mampu meningkatkan volume darah. Prosedur ini juga biasa dilakukan untuk alasan kosmetik. 5. Penghilangan bekuan atau bypass: Operasi kadang diperlukan untuk menghilangkan bekuan yang memblokir vena dalam panggul atau perut. Vena terus-menerus diblokir dapat diatasi dengan operasi untuk memotong vena yang direkomendasikan dokter, atau prosedur nonbedah yang disebut angioplasti untuk membuka pembuluh darah. Setelah angioplasti, para dokter memasukkan tabung mesh kawat kecil (stent) untuk menjaga pembuluh darah tetap terbuka.

11

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Bekuan darah dapat terjadi di permukaan atau di dalam vena. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan; dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah.

3.2 Saran Untuk pembuatan makalah selanjutnya, diharapkan penulis dapat meluangkan waktu untuk menambah wawasan mengenai hal-hal beritkut: a. Macam-macam tromboflebitis. b. Tata cara penanganan tromboflebitis. etiologi dan faktor predisposisi yang dapat menimbulkan

12