Anda di halaman 1dari 3

AUDIT PERSEDIAAN

Dalam PSAK 14, disebutkan definisi persediaan sebagai : aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi atau dalam perjalanan atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan yang digunakan dalam proses atau pemberian jasa. Dalam menilai persediaan, entitas dapat memilih menggunakan metode FIFO ataupun average dengan nilai yang disajikan menggunakan metode LCNRV. Dalam perlakuan atas barang-barang yang mengalami keusangan, kerusakan serta perlakuan yang lambat, perusahaan juga harus menyusun penyisihan atas ini.

TUJUAN AUDIT PERSEDIAAN a. Memeriksa pengendalian intern perusahaan. Pemeriksaan internal control ini dapat mempengaruhi luasnya substantive test yang dapat dilakukan. Pengendalian internal yang baik dapat terlihat dari : Adanya pembagian tugas, Prenumbered documents Pembelian jumlah besar melalui tender Menggunaka anggaran, EOQ yang terotorisasi Menggunakan sistem prepertual dan kartu persediaan

Pemeriksaan pengendalian intern dapat menggunakan internal control questionaire dengan melaksanakan compliance test dengan material requisition (bahan baku), purchase order (pembelian), faktur penjualan (penjualan) sebagai sampel. Setelah melaksanakan pemeriksaan atas pengendalian intern, auditor dapat melaksakan substantive test. Substantive test ini merupakan prosedur untuk memenuhi tujuan audit berupa : b. Memeriksa apakah persediaan yang disajikan benar-benar milik perusahaan Dalam memenuhi tujuan ini, perusahaan perlu memperhatikan terutama dalam hal barang konsinyasi. Yang perlu digarisbawahi adalah barang consigment-out. Supaya efisien, perusahaan cukup mengirim konfirmasi karena jumlah barang konsinyasi pada umumnya berjumlah sedikit di suatu perusahaan. Pemeriksaan ini dilakukan untk menghindari peresediaan fiktif. Untuk pemeriksaan bahan mentah auditor dapat memeriksa faktur pembelian, sedangkan untuk barang-barang impor, auditor juga harus memeriksa bukti-bukti impor yang ada, seperti : bill of lading, L/C, dll. Auditor juga harus memberikan perhatian khusus pada subsequent event.

c. Memeriksa metode penilaian persediaan yang digunakan sesuai dengan SAK Pemeriksaan ini diperlukan apakah pengukuran dan penyajian sesuai dengan PSAK. Auditor harus memprtimbangkan juga bagaimana perputaran persediaan yang digunakan sebagai bahan pertimbangan penyisihan. Selain itu, tingkat inflasi dan ukuran ekonomi lain juga harus dipertimbangkan untuk memastikan apakah nilai yang disajikan wajar. Auditor juga harus memastikan bahwa metode LIFO tidak digunakan perusahaan. d. Memeriksa sistem persediaan yang digunakan sesuai dengan SAK. Sistem perpetual dan periodik merupakan sistem yang diakui SAK. Dalam metode perpetual, auditor harus melakukan stock opname untuk mengetahui apabila ada perbedaan dengan nilai yang disajikan dengan sistem perpetual. selain itu, dalam stock opname auditor juga harus memperhitungkan jumlah persediaan dengan mempertimbangkan subsequent event Auditor juga bisa menggunakan perhitungan retail inventory method untuk memperkirakan jumlah persediaan yang ada pada tanggal tertentu. Sistem akuntansi biaya dalam menghitung BDP dan BJ juga harus diapahami serta memahami pengaruhnya ke laporan laba-rugi (HPP) e. Untuk mengetahui apakah ada barang-barang yang rusak, pergerakan lamban dan ketinggalan mode sudah dibuatkan penyisihan yang cukup. Pemeriksaan atas penyisihan ini harus dikaitkan dengan kebijakan manajemen tentang penyisihan agar nilai penyisihan tidak terlalu kecil ataupun besar. Auditor juga harus memeriksa stock card untuk mengetahui status barang f. Memeriksa cut off penjualan dan pembelian Pemeriksaan ini bertujuan untuk meyakinkan jangan sampai ada pergeseran waktu dalam pencatatan penjualan dan pembelian. Untuk itu harus dicatat tanggal dan nomor terakhir dari faktur penjualan, delivery order, faktur pembelian dan receiving report. Auditor juga harus memperhatikan syarat pengiriman barang, FOB shipping point atau destination point. g. Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang menjadi jaminan kredit Untuk mengethaui hal tersebut, pemeriksaan dapat diarahkan ke pemeriksaan konfirmasi bank, loan agreement dan notulensi rapat. Adanya persediaan yang menjadi jaminan harus diungkapkan dalam CALK. h. Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang diasuransikan Asuransi dibutuhkan untuk mencegah kerugian perusahaan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Nilai asuransi haruslah cukup dan juga auditor harus mewaspadai apakah kejadian yang tidak diinginkan sengaja dilakukan untuk mendapatkan ganti rugi.

i.

Untuk

mengetahui

apakah

ada

perjanjian

pembelian/penjualan

persediaan

yang

mempengaruhi laporan keuangan Auditor harus memeriksa kontrak-kontrak penjualan/pembelian yang bersifat material serta realisasi atas perjanjian tersebut. j. Untuk memeriksa penyajian sesuai SAK. Persediaan harus disajikan dalam neraca dalam pos asset. Dalam CALK, perusahaan harus mengungkapkan kebijakan akuntansi untuk persediaan serta rincian nilai persediaan.

PROSEDUR PELAKSANAAN AUDIT PERSEDIAAN Auditor dapat melakukan pemeriksaan persediaan apabila persediaan sudah tertata rapi. Apabila belum, auditor harus meminta perusahaan merapikan dan menyusun sesuai jenis persediaan. Kemudian dalam stock opname, auditor bertugas sebagai pemimpin tim. Auditor ikut menghitung bersama klien dan mencatatnya dalam inventory count sheet. Harus diingat bahwa petugas klien yang paling mengetahui jenis barang dan cara menghitung. Yang perlu dilakukan auditor adalah memeriksa mathematical accuracy, mencocokkan jumlah kolom value dengan saldo menurut buku besar, mencocokkan dengan stock card serta membenadingkan dengan qunatity per count dengan jumlah menurut count sheet auditor. Setelah melaksanakan stock opname auditor dapat mengirim konfirmasi barang konsinyasi. Lalu memeriksa harga per unit semua jenis persediaan. Selanjutnya auditor dapat melakukan rekonsiliasi apabila audit dilaksanakan tidak pada tanggal neraca dan memeriksa subsequent event, allowance, cut off, adanya persediaan yang dijaminkan dan barang dalam perjalanan. Pemeriksaan barang dalam perjalanan dapat dilakukan dengan mengecek rincian, perhitungannya dan subsequent clearance. Setelah semua prosedur tersebut, dengan top schedule, auditor dapat menuliskan kesimpulan yang menjadi dasar pemberian opini tentang persediaan dan rekomendasi serta usulan audit adjustment.