Anda di halaman 1dari 8

Pemeriksaan radiologi Thorax

Pemeriksaan thorax adalah salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan oleh setiap orang, dalam hal ini sangat berfungsi untuk menilai kesehatan paru dari seseorang, pemeriksaan thorax juga sebagai salah satu item untuk check UP seseorang. Indikasi pemeriksaan thorax sangat banyak antara lain: 1. Bronchopneumonia 2. TB paru 3. Bronkhitis 4. Atelektasis 5. Trauma 6. Tumor/massa. dan masih banyak yang lainya, prosedure pemeriksaan thorax biasanya dilakukan pemeriksaan dengan aba2 tarik nafas yang dalam kemudian untuk ditahan, sedangkan posisi yang dibutuhkan yang paling dibutuhkan untuk kondisi pasien secara umum posisi PA (Posterior anterior).

Hasil Pemeriksaan radiologi thorax


Pemeriksaan radiologi thorax merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan oleh setiap orang, yang berfungsi untuk menilai kesehatan paru paru, apalagi buat seorang perokok pemeriksaan radiologi thorax sangat dibutuhkan, dimana dengan foto ronsen thorax kedua paru kita akan terlihat jelas apabila ada kelainan. seringkali orang orang bertanya bagaimana hasil pemeriksaan radiologi thorax kita, disini akan dicontohkan hasil radiologi thorax yang normal (Sehat) sebagai berikut.

Hasil Expertise : Apex pulmo bilateral bersih Corakan brocnhovasculer normal Fissura minnor menebal Sinus costophrenicus lancip Diafragma licin CTR < 0,5 Kesan : Pulmo tak tampak kelainan

Pemeriksaan radiologi dengan CT-scan Pada kasus trauma kepala


PERANAN CT SCAN KEPALA PADA KASUS TRAUMA INTRAKRANIAL Kasus trauma terbanyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, disamping kecelakaan industri, kecelakaan olahraga, jatuh dari ketinggian maupun akibat kekerasan. Trauma kepala didefinisikan sebagai trauma non degeneratif non konginetal yang terjadi akibat ruda paksa mekanis eksteral yang menyebabkan kepala mengalami gangguan kognitif, fisik dan psikososial baik sementara atau permanen. Trauma kepala dapat menyebabkan kematian / kelumpuhan pada usia dini (Anne G Osborn, 2003). Pasien dengan trauma kepala memerlukan penegakkan diagnosa sedini mungkin agar tindakan terapi dapat segera dilakukan untuk menghasilkan prognosa yang tepat, akurat dan sistematis. ( Geijertstam, 2004). Dalam suatu penelitian menunjukkan bahwa tindakan operasi pada trauma kepala berat dalam rentang waktu 4 jam pertama setelah kejadian, dapat menyelamatkan + 60 70 %. Bila lebih 4 jam tingkat kematian melebihi sekitar 90 %.( Tony Knigts, 2003 ). Hal ini dapat dapat dilakukan setelah adanya penegakan diagnosa trauma kepala dengan pemeriksaan klinis awal yang ditunjang dengan diagnosa imajing ( khususnya CT SCAN Kepala ). Pemeriksaan CT SCAN sangat mutlak pada kasus trauma kepala untuk menentukan adanya kelainan intracranial terutama pada cedera kepala berat ( Severe, glasgow coma score 8 ( Normal 15 ). Bebera indikasi perlunya tindakan pemeriksaan CT SCAN pada kasus trauma adalah : a. Menurut New Orland : * Sakit kepala. * Muntah. * Umur lebih 60 tahun. * Adanya intoksikasi alcohol. * Amnesia retrograde. * Kejang. * Adanya cedera di area clavicula ke superior. b. Menurut The Cranadian CT Head : * GCS ( Glasgow Coma Score ) < 15 setelah 2 jam kejadian. * Adanya dugaan open / depressed fracture. * Muntah muntah ( > 2 kali ). * Umur > 65 tahun. * Bukti fisik adanya fraktur di basal skull. Tujuan utama dari pemeriksaan imajing pada kasus trauma kepala adalah unutuk menentukan adanya cedera intracranial yang membahayakan keselamatan jiwa pasien bila tidak segera dilakukan tindakan secepatnya(Cyto). Pada saat sekarang CT SCAN telah menjadi modalitas utama dalam menunjang diagnosa trauma kepala terutama pada kasus cyto yang sebelumnya sulit terdeteksi pada foto Foto Town atau Occipitomental ( plain foto skull ). Pada kasus trauma kepala pada umumnya

pasiennya merupakan pasien yang tidak sadar atau tidak koorperatif, dengan kondisi yang demikian sulit untuk mendapatkan posisi scaning ideal yang kita inginkan, sedangkan bila dilakukan tindakan anestesi sering dihadapkan pada resiko yang harus dihadapi. Dengan demikian Radiografer dipaksa untuk melakukan berbagai cara untuk mengatasinya dalam melakukan pemeriksaan CT SCAN mulai dari persiapan pasien, prosedur, posisi, protokol, post prosesing dan pencetakan film. Prosedur pemeriksaan CT SCAN Kepala pada trauma kepala Pada pemeriksaan CT Scan kepala tidak persiapan khusus. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh radiografer adalah : * Pastikan di ruangan ada emergency kit. * Identitas pasien secara lengkap. * Universal precaution ( minimal unsteril glove pada saat memindahkan dan mengatur posisi pasien pada kasus trauma dengan luka terbuka ). * Pastikan tidak ada benda-benda yang menyebabkan artefact pada gambar. * Jangan pernah melepas alat fiksasi leher collar bila telah terpasang. * Bila pasien anak-anak sebaiknya ada anggota keluarga yang mendampingi dengan memperhatikan proteksi radiasi ( Berikan apron ). * Lakukan fiksasi kepala pasien dan organ lainnya secara maximal. Protokol CT SCAN Kepala Orientasi pasien : Head first, supine Orbita Meatal pararel terhadap scan plane Topogram : lateral dari base skull ke vertex Axial base line diambil dari garis inferoorbital floor ke EAM. Angle disesuaikan. Alternatif pilihan irisan (2/10 mm,3/10 mm, 5/10 mm, 5/5 mm, 7/7 mm ). (Post Fossa : 2-5mm Ax - // OML) kV: 140-390 mAs ( Brain : 10mm Ax - // OML kV: 120-360 mAs Lakukan scan ulang pada slice tertentu bila diperlukan ( irisan dapat dirubah ). Gambaran CT SCAN Kepala Tanda-tanda vital yang diperhatikan oleh radiografer dalam post prosesing adalah : Focal hyper / hypodens. ( Ukurlah area tersebut dengan automatic volume dapat dihitung secara kasar dengan mengukur Panjang x Lebar x tebal ( slice awal akhir tampaknya lesi ) dibagi 2. Mid line shift, tanda adanya mass effect. ( Bila dijumpai ukurlah dengan membuat garis membagi 2 hemispher cerebrum dan garis shift pada ujung anterior septum pellucidum). Atur WW dan WL (Bone : W = + 1500 , L = + 200 , Brain : W = + 80, L = + 35, Subdural / intermediate : W = + 200, L = + 50 ). Udara di calvarium ( menunjukkan kemungkinan adanya fraktur ). Oedem ( batas sulci / gyri cortical tidak jelas ). Pergerakan pada pasien ( bila diperlukan sebaiknya harus di scan ulang pada slice tertentu ). Print dengan scout / refrensi image ( 15 20 ) dalam 1 lembar, sebaiknya disertakan dengan kondisi tulang terutama bila jelas jelas ada fraktur. KESIMPULAN:

Peranan CT SCAN sebagai salah satu modalitas imajing pada kasus trauma kepala sangat diperlukan karena memiliki kelebihan a.l : * Pemeriksaan yang singkat dan mudah. * Tidak merupakan invasif. * Lebih informatif dalam mengidentifikasi / melokalisir adanya fraktur fragmentnya pada tulang- tulang kepala. * Dapat mengetahui adanya perdarahan extrakranial dan menghitung volumenya. * Dapat mengetahui adanya kelaianan intrakranial/ perdarahan intracranial (Subdural,Epidural,Sub arachnoid hemmorage) * Infark akut, oedema cerebri, cerebral contusion. CT SCAN juga sangat bermanfaat untuk memantau perkembangan pasien mulai dari awal trauma, post trauma, akan operasi , post operasi serta perawatan pasca operasi sehingga perkembangan pasien senantiasa dapat dipantau.

TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOLOGI CT-SCAN PADA KASUS AKUT ABDOMEN


TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOLOGI CT-SCAN PADA KASUS AKUT ABDOMEN Dalam menagani suatu tindakan abdomen akut salah satunya adalah dilakukannya pemeriksaan CT-scan abdomen akut.Dalam penaganan abdomen akut biasanya hanya dilakukan pada CT-Scan abdomen polos. Dengan abdomen polos dirasa sangat cukup dalam membantu menegakan diagnosa.

Disini ada teknik pemeriksaan CT-Scan abdomen yang akan dijabarkan sebagai berikut: PENDAHULUAN Pendahuluan Pemeriksaan CT Whole Abdomen mencakup abdomen atas , abdomen bawah dan abdomen pelvis. CT Whole Abdomen secara garis besarnya terdiri dari pemeriksaan CT Abdomen rutin/ reguler / terprogram dan pemeriksaan CT Abdomen secara emergency khususnya pada kasus akut abdomen ( trauma abdomen ), yang penatalaksaanaannya dapat dilakukan dengan injector dan non injector. Pemeriksaan CT Whole Abdomen secara reguler harus dilakukan dengan persiapan secara maximal untuk mendapatkan infomasi yang akurat, sedangkan pada kasus emergency pada umumnya dapat dilakukan tanpa persiapan. Sebelum dilakukan pemeriksaan CT Whole Abdomen baik yang rutin / reguler khususnya emergency sebaiknya dilakukan pemeriksaan radiologi konvensional yaitu : a. Plain foto abdomen. b. Abdomen 3 posisi. c. USG Abdomen. Bila dari pemeriksaan tersebut ada indikasi guna menunjang menegakkan diagnosa lebih

lanjut dapat dilakukan pemeriksaan CT Whole Abdomen. Persiapan alat/ bahan : 1. Pastikan pesawat CT SCAN telah di warming up dan atau kalibration untuk meningkatkan kualitas image yang lebih baik. 2. Siapkan bahan kontras dengan perbandingan ( 1 : 40 ) sebanyak 120 cc. 3. Peralatan / alkes yang harus disiapkan : * Bahan kontras sebanyak 100 cc. * Syringe injector dan conecting injector/spuit 20 cc 4 buah. * Surflo 20 W/Flash / Wing nedle 21. * Folley Cath 20/24. * Spuit 200 cc. * Adrenalin 1ml * Kalmetason 1ml Persiapan pasien : 1. Surat persetujuan tindakan medis(inform consent ). Sebelum pasien / keluarga pasien ( suami, anak, saudara ) harus diberikan informasi yang akurat tentang pemeriksaan yang akan dilakukan serta resiko-resiko yang timbul akibat pemeriksaan tersebut, khususnya akibat pemakaian bahan kontras. Pada surat persetujuan tindakan medis tersebut diupayakan agar pasien atau suami / istri atau anak / orang tua / saudara yang terdekat dapat membubuhkan tanda-tangannya sebagai bukti persetujuan dilakukannya pemeriksaan CT Whole Abdomen. 2. Pasien sebaiknya puasa minimal 6 8 jam sebelum pemeriksaan. Hal ini bertujuan agar pasien pada saat pemeriksaan tidak mual sebagai akibat penyuntikan bahan kontras secara intra vena. 3. Periksa ureum dan creatinin sebelum pemeriksaan.Ureum dan creatinin yang masih dapat ditoleransi untuk dilakukan pemeriksaan CT Whole Abdomen maximal 30 hari sebelum pemeriksaan dilakukan, yang berguna untuk mengetahui fungsi ginjalnya sebelum pemeriksaan dilakukan. Persiapan Pemeriksaan: 1. Pasien minum kontras 300 cc 2 jam sebelum pemeriksaan. 2. Satu jam sebelum pemeriksaan pasien minum 200 cc yang kedua 3. Ketika akan dilakukan pemeriksaan pasien minum bahan kontras ke tiga sebanyak 200 cc, dimasukkan bahan kontras per anal sebanyak 500 cc. 4. Pastikan pasien bebas dari benda-benda yang menyebabkan artefact, dengan mengunakan baju ganti pasien. Tehnik Pemeriksaan : I. CT WHOLE ABDOMEN INJECTOR 1. Isi data pasien pada komputer. 2. Posisi pasien: Supine pada meja pemeriksaan dengan feet first, kedua tangan diletakkan diatas kepala. 3. Posisi objek : Atur agar batas atas bahu pasien jangan melewati batas atas pada meja pemeriksaan yang telah disetting. Atur CP pada pertengahan Sternum dan batas bawah pada pertengahan tebal pasien. Tekan tombol ( ! ) pada gantry maka akan menunjukkkan angka 190. 4. Pilih protokol whole Abdomen 4. Protokol scout dengan parameter : > kV: 120, 140 > mA : 20, 40, 60, 80 > Scout plane: 0 > Auto Voice No 5. Setelah Confirm, START muncul tampilan scout/ topogram dengan batas atas pada diafragma dan batas bawah pada simpisis pubis harus tercakup. 6. Klik next series maka akan muncul tampilan series description : Pre contras, atur localizer pada batas atas pada diafragma dan batas bawah pada simpisis pubis, dengan

parameter : > Rotation time : 1 > Rotation Length : Full > Thickness : 10 > Gantry : 0 > SFOV : Large > kV : 120 > mA : 130 7. Klik Confirm, START, maka akan muncul tampilan gambaran axial Pre Contras. 8. Klik next series, perhatikan tampilan series description pilih menu Contrast ( scanning yang akan dilakukan adalah scanning untuk kontras intra vena). 9. Atur protokol menu terlebih dahulu sebelum penyuntikan media kontras dilakukan dengan start location dan End location agar slice nya sama seperti scanning Pre Contrast. 10. 11.Parameter yang digunakkan : > Rotation time : 1 > Rotation Length : Full > Thickness : 10 ( terkadang diubah menjadi 3/5/7 mm) > Gantry : 0 > SFOV : Large > kV : 120 > mA : 130 > Timing : 0 > 5,9 > Breath Hold : 20 s > Breath time : 8,5 > Auto Voice : 5 11. Siapkan contrast pada injektor dengan parameter : 2,5 3 ml/second, 80 - 100 ml. 12. Meja pemeriksaan boleh dikeluarkan tetapi tidak boleh diturunkan, beritahu pasien bahwa akan dilakukan penyuntikan bahan kontras melalui vena. 13. Klik confirm, tekan START dan tombol injektor secara bersamaan sehingga kontras masuk pada saat pengambilan slice dimulai. 14. Scanning telah selesai dilakukan, jarum suntik dicabut, observasi keadaan pasien. II CT WHOLE ABDOMEN NON INJEKTOR 1. Isi data pasien pada komputer. 2. Posisi pasien: Supine pada meja pemeriksaan dengan feet first, kedua tangan diletakkan diatas kepala. 3. Posisi objek : - Atur agar batas atas bahu pasien jangan melewati batas atas pada meja pemeriksaan yang telah disetting. - Atur CP pada pertengahan Sternum dan batas bawah pada pertengahan tebal pasien. - Tekan tombol ( ! ) pada gantry maka akan menunjukkkan angka 190. 4. Pilih protokol whole Abdomen 5. Protokol scout dengan parameter : > kV : 120, 140 > mA : 20, 40, 60, 80 > Scout plane : 0 > Auto Voice 5. Setelah Confirm, START muncul tampilan scout/ topogram dengan batas atas pada diafragma dan batas bawah pada simpisis pubis harus tercakup. 6. Klik next series maka akan muncul tampilan series description : Pre contras, atur localizer pada batas atas pada diafragma dan batas bawah pada simpisis pubis, dengan parameter : > Rotation time : 1 > Rotation Length : Full > Thickness : 10 > Gantry : 0 > SFOV : Large > kV : 120 > mA : 130 7. Klik Confirm, START, maka akan muncul tampilan gambaran axial Pre Contras. 8. Klik next series, perhatikan tampilan series description pilih menu Contrast ( scanning yang akan dilakukan adalah scanning untuk kontras intra vena). 9. Atur protokol menu terlebih dahulu sebelum penyuntikan media kontras dilakukan dengan start location dan End location agar slice nya sama seperti scanning Pre Contrast.11. Setelah Confirm, START muncul tampilan scout/ topogram dengan batas atas pada diafragma dan batas bawah pada simpisis pubis harus tercakup. 10. Klik next series maka akan muncul tampilan series description : Pre contras, atur localizer pada batas atas pada diafragma dan batas bawah pada simpisis pubis, dengan parameter : > Rotation time : 1 > Rotation Length : Full > Thickness : 10 > Gantry : 0 > SFOV : Large > kV : 120 > mA : 130

11. Klik Confirm, START, maka akan muncul tampilan gambaran axial Pre Contras. 12. Klik next series, perhatikan tampilan series description pilih menu Contrast ( scanning yang akan dilakukan adalah scanning untuk kontras intra vena). 13. Atur protokol menu terlebih dahulu sebelum penyuntikan media kontras dilakukan dengan start location dan End location agar slice nya sama seperti scanning Pre Contrast.11.Parameter yang digunakkan : > Rotation time : 1 > Rotation Length : Full > Thickness : 10 ( terkadang diubah menjadi 3/5/7 mm) > Gantry : 0 > SFOV : Large > kV : 120 > mA : 130 > Timing : 0 > 5,9 > Breath Hold : 20 s > Breath time : 8,5 > Auto Voice 14. Siapkan contrast sebanyak 100cc dengan spuit 20cc sebanyak 4 buah, wing needle 21.13.Meja pemeriksaan boleh dikeluarkan tetapi tidak boleh diturunkan, beritahu pasien bahwa akan dilakukan penyuntikan bahan kontras melalui vena, kemudian lakukan penyuntka. Ketika contrast tinggal 20 cc, maka radiografer masuk ke ruang console kemudan klik confirm. 15. Tekan START ketika penyuntikan selesai. Setelah radiografer masuk ke ruang console. 16. Scanning telah selesai dilakukan, jarum suntik dicabut, observasi keadaan pasien. Kesimpulan : Tehnik pemeriksaan CT WHOLE ABDOMEN yang dilakukan : CT WHOLE ABDOMEN DENGAN INJECTOR. CT WHOLE ABDOMEN NON INJECTOR

CT WHOLE ABDOMEN INJECTOR

KELEBIHAN : 1. Pada umumnya pada kasus reguler / rutin. 2. Waktu lebih singkat dan praktis. 3. Dapat melihat fase arteri dan vena. 4. SDM yang dibutuhkan lebih sedikit. KEKURANGAN : 1. Biaya lebih mahal. 2. Komplikasi lebih tinggi.

CT WHOLE ABDOMEN NON INJECTOR

KELEBIHAN : 1. Pada umumnnya dilakukan pada akut abdomen 2. Biaya lebih murah. KEKURANGAN : 1. Waktu lebih lama. 2. Gambaran kontras tidak sedetail INJECTOR. 3. Membutuhkan SDM yang lebih banyak. 4. Tidak bisa melihat fase arteri karena langsung fase vena. Pada jabaran diatas semoga bermanfaat bagi semua radiographer, apalagi fresh graduet.. sehingga dengan membaca ini semoga yang baru lulus akan cepet bisa menguasai CT Scan he3x tanks for u coment

http://radiologynet.blogspot.com/2011/05/teknik-pemeriksaan-radiologi-ct-scan.html