Anda di halaman 1dari 5

Pembuatan Tawas Dari Alumunium Foil

Jumat, 28 Maret 2014 Raisa Soraya, Naryanto, Melinda Indana Nasution, Septiwi Tri Pusparini Jurusan Pendidikan Imu Pengetahuan Alam Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT Dewasa ini, lingkungan kita sudah banyak terkena dampak pencemaran yaitu pencemaran air, udara, dan tanah. Pencemaran ini disebabkan karena kurangnya kesadaran dalam menjaga lingkungan. Pada percobaan pembuatan tawas dari alumunium foil diharapkan dapat mengurangi dampak dari pencemaran air. Pencemaran air dapat disebabkan karena pembuangan limbah pabrik, buang sampah tidak pada tempatnya dsb. Alumunium memiliki sifat tahan korosi, ringan dan mudah didapat. Kandungan alumunium memberi peluang untuk pembuatan tawas. Dalam proses penjernihan air dengan menggunakan tawas dinyatakan sebagai proses koagulasi. Kata kunci: Alumunium, tawas, koagulasi INTRODUCTION Lingkungan hidup adalah semua benda yang hidup (biotik) dan yang tidak hidup (abiotik) serta kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati. Antara manusia dan lingkungan terdapat hubungan timbal balik, manusia mempengaruhi lingkungannya begitu juga sebaliknya. Jika lingkungan tercemar maka manusia akan merasakan dampaknya. Persoalan lingkungan yang ada hampir selalu ditimbulkan oleh ulah manusia dan kegiatan produksi yang dilakukannya. Kedua aktivitas ini merupakan sumber pencemaran lingkungan. Kegiatan produksi selain menghasilkan produk yang mempunyai nilai ekonomi juga menghasilkan limbah, berupa limbah padat, cair maupun gas. Limbah limbah tersebut akan menyebabkan pencemaran lingkungan meliputi pencemaran air, pencemaran udara, dan pencemaran tanah, (Manuntung Manurung, 2010).

Beberapa cara menangani pencemaran air adalah dengan menambahkan zat tertentu untuk membunuh kuman-kuman penyakit yang terdapat dalam air, yaitu dengan menambahkan kaporit. Disamping itu, perlu juga ditambahkan tawas [kalium aluminium sulfat dodekahidrat (Kal(SO4)2.12H2O)] untuk mengatasi kekeruhan air. Tawas, di laboratorium atau dalam skala besar di pabrik, dapat dibuat dengan bahan dasar logam aluminium. Tawas mempunyai banyak manfaat diantaranya untuk penjernihan air, penyamak kulit, baking powder, dan alat pemadam api. Aluminium merupakan logam yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada kaleng minuman ringan, kaleng susu, peralatan memasak, kabel-kabel listrik tertentu, dan lain-lain, (Wiwik Susanah Rita, 2012). Alumunium adalah tervalen dengan senyawa-senyawanya. Ion-ion alumunium (Al3+) membentuk garam-garam yang tidak berwarna. Halida,nitrat dan sulfatnya, larut dalam air; larutan ini memperlihatkan reaksi asam karena hidrolisis. Alumunium ulfide dapat dibuat

hanya dalam keadaan padat saja, dalam larutan air ia terhidrolisis dan terbentuk alumunium hidroksida, (AlOH)3. Alumunium sulfat membentuk garam-garam rangkap dengan sulfat dari kation-kation monovalen dengan bentuk-bentuk kristal yang menarik, yang disebut tawas (alum, aluin), (vogel, 1998) Alumunium Sulfat [Al2(SO4)3] atau yang lebih dikenal dengan tawas merupakan salah satu bahan kimia yang sangat diperlukan dalam industri pengolahan air. Alumunium mempunyai sifat tahan korosi, ringan dan mudah di dapat. Kandungan alumunium juga memberi peluang untuk diolah menjadi bahan koagulan penjernih air (tawas) atau bahan dalam deodorant, (Manuntung Manurung, 2010).

MATERIAL AND METHOD 2. Alat dan Bahan Labu erlenmeyer Neraca Ohaus Spatula Gelas ukur Gelas kimia Hot plate Ice bath Corong Pipet tetes

Cawan petri Kertas saring KOH 20% Alumunium foil H2SO4 6M

2. Prosedur percobaan 1) Timbang alumunium foil sebanyak 2 gram 2) Masukkan alumunium foil ke dalam labu erlenmeyer 3) Masukkan 30 ml KOH 20% ke dalam labu erlenmeyer 4) Panaskan menggunakan hot plate sampai baunya hilang 5) Saring lalu diamkan sampai dingin 6) Tambahkan H2SO4 6M sebanyak 30 ml 7) Dinginkan di ice bath 8) Diamkan selama 1 hari

RESULT AND DISCUSSION

Pada percobaan ini dilakukan pembuatan tawas dari alumunium foil. Alumunium foil memiliki sifat tahan korosi, ringan dan mudah didapat. Kandungan alumunium memberi peluang untuk pembuatan tawas. Pada penambahan KOH 20% reaksi berjalan cepat dan bersifat eksoterm karena menghasilkan kalor. Reaksi yang terjadi adalah : 2Al + 2KOH + 6H2O 2K[Al(OH)4] + 3H2 (1)

Dalam reaksi ini terbentuk gas H2 yang ditandai dengan munculnya gelembung-gelembung gas. Gelembung-gelembung gas hilang setelah semua aluminium bereaksi. Untuk menghindari terbentuknya Al(OH)3 maka KOH 20% ditambahkan berlebih. Pada tahap ini, dilakukan pemanasan untuk mempercepat reaksi. Filtrat yang diperoleh ditambah H2SO4 6 M kemudian disaring untuk menghilangkan pengotor-pengotornya. Reaksi yang terjadi adalah : 2K[Al(OH)4]+H2SO4 2Al(OH)3+K2SO4+2H2O (2)

Penambahan larutan H2SO4 dilakukan agar seluruh senyawa K[Al(OH)4] dapat bereaksi sempurna. Al(OH)3 yang terbentuk langsung bereaksi dengan H2SO4 dengan persamaan reaksi sebagai berikut :

2Al(OH)3+ 3 H2SO4 Al2(SO4)3 + 6H2O

(3)

Pada reaksi sebelumnya, penambahan H2SO4 membentuk Al(OH)3 bersama-sama dengan K[Al(OH)4], namun setelah berlebih H2SO4 melarutkan Al(OH)3 menjadi Al2(SO4)3 berupa larutan bening tak berwarna. Senyawa Al2(SO4)3 yang terbentuk pada reaksi (3) di atas bereaksi kembali dengan K2SO4 hasil reaksi (2) membentuk kristal yang diperkirakan adalah Kal(SO4)2.12H2O berwarna putih (Manuntung Manurung, 2010). Banyak atau sedikitnya kristal yang didapat menandakan alumunium foil yang bereaksi dengan penambahan KOH dan H2SO4 sangat sedikit yang bereaksi. Reaksinya adalah : K2SO4+ Al2(SO4)3+12H2O 2Kal(SO4)2.12H2O

Untuk menjernihkan air, tawas dimasukkan ke dalam air kotor, contoh air tanah. Tawas melarut dan ion alumuniumnya membentuk koloid Al(OH)3 yang bermuatan. Air tanah yang berwarna cokelat adalah koloid yang juga bermuatan. Ketika kedua koloid itu bertemu, akan saling mengadsorpsi; itulah sifat mereka. Karena kedua koloid itu berlawanan muatan, maka terjadilah gaya tarik menarik antara kedua muatan yang berbeda itu. Muatan yang berbeda akan segera menyatu dan terjadilah netralisasi muatan. Proses penetralan muatan ini akan berakibat terjadinya perlucutan muatan pada masing-masing koloid dan kehilangan muatannya. Partikel-partikel yang tadinya membentuk gerombolan dengan diameter tertentu, akan menyatu, baik dari koloid aluminium maupun koloid sungai. Karena awalnya terjadi tarik menarik antar kedua muatan yang berbeda, maka partikel-partikel dari kedua koloid itu bercampur dan menggumpal bersama sebagai lumpur maka terjadi koagulasi. Lumpur akan makin berat dan terpisah dari air, jatuh ke dasar wadah. Air yang menjadi jernih berada di atas lumpur sehingga dengan mudah dapat dipisahkan dari lumpur. Tawas yang kami uji coba didiamkan slama 4 hari dikarenakan waktu praktikum yang tidak sesuai. Uji coba tawas dilakukan pada air tanah. Hasil yang didapatkan tawas dapat menjernihkan air tanah. Peristiwa penjernihan air ini dinyatakan sebagai proses koagulasi. kedua koloid

REFERENCE LIST

Vogel, G.Svehla. 1979. Buku Teks Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimakro. PT. Kalman Persada: Jakarta

Manuntun,M., Irma, F.A, 2010, Kandungan Alumuinum Dalam Kaleng Bekas Dan Pemanfaatannya Dalam Pembuatan Tawas, Jurnal Kimia 4 vol. 2, 180-181, diakses pada tanggal 29 Maret 2014 pukul 14:30 WIB

Wiwik Sunasah, R., dkk, 2012, Pemanfaatan Kaleng Alumunium Bekas Dalam Menangani Pencemaran Air, www.portalgaruda.org, diakses pada tanggal 29 Maret 2014 pukul 20:05 WIB