Anda di halaman 1dari 34

Retorika (dari bahasa Yunani ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik

pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter


pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam
sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul 'Grullos' atau Plato menulis dalam
Gorgias, secara umum ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat
transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan
pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam
merumuskan nilai, keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth
Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis,
bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai
bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan
definisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktek kontemporer dari retorika yang
termasuk analisa atas teks tertulis dan visual.

Dalam doktrin retorika Aristoteles [1] terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu
deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa
yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika
forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada
masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran.
Retorika demonstartif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan
dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun
gagasan.

Prolog

Dalam pergaulan Orang tidak dilihat Pangkat, gelar, jabatan dan kedudukannnya
melainkan apa yang orang tersebut lakukan sahabat, Baikkah perbuataannya?, burukkah
perbuataannya? atau terhinakah perbuataannya?.Jangan dikira dengan menjadi sarjana
diriku bangga, bukan sahabat , justru dengan menjadi doktor di bidangku sejuta tanggung
jawab menanti di pundakku , sejuta godaan juga di hadapannku .Seandainya aku boleh
memilih dahulu aku akan menjadi manusia biasa dengan title biasa dari pada menjadi
sarjana . Manusia akan merasa kurang dan kurang ketika sebuah harapan telah di capai.
Harapan itulah yang membuat ambisi menjadi sebuah Kristal yang menggumpal ,
harapan pulalah yang menjadikan manusia lebih Tendesius untuk kepastian . Dalam hal
ini saya pribadi sangat respek dengan anda di usia masih muda bisa menggungkapkan
sebuah konsep, yang benar-benar menuntut saya untuk mengimbangi kecepatan anda
dalam bertindak. Akurasi anda dalam menganalisa. Marilah kita bedah Konsep Retorika
Pendidikan Indonesia untuk kita terapkan dalam dunia kecil kita Negeri Dongeng
nantinya dunia yang dimana jauh dari rasa iri dengki, kesombongan yang menerpa
manusia ketika menerima sebuah

jabatan. Konsep ini tidak membutuhkan manusia yang pintar, sombong, dengki, iri, dan
seluruh ketamakaan manusia lainnya, melainkan konsep untuk tetap rendah, mawas dan
memahami serta mengalirkan hidup menuju Ketuhanan. Saduran dari pendapat Dr.James
Foo ,MM, MBA ,ph.D

A. Karakter Manusia BANGSA INDONESIA


SIAPA bilang bangsa kita tidak beragam. Dominasi program lawak di televisi
menunjukkan,bangsa kita gemar membanyol. Ketika dunia berlomba mengejar inventor
hi-tech yang naik pesat, tingkat partisipasi korupsi kita-menurut koran-sudah sampai
kelurahan. Bahkan sudah pula merambah dunia pendidikan di Indonesia . yang lebih
membanyolkan diri dengan entengnya prof – prof di Indonesia mengatakan itu hal yang
biasa terjadi di masa tranformasi dari masa reformasi . kalau hal itu biasa lantas yang
mana akan menjadi luar biasa ? sulit bukan menjawab pertanyaan tersebut. tapi tidak
perlu bingung, karena itulah karakter bangsa kita.

Seperti yang kita ketahui, sudah sekian puluh tahun kita rajin memelihara wabah demam
berdarah, misalnya. Kocaknya, keluarga korban demam berdarah yang tak tertolong
masih ada yang tidak gusar. Padahal, bagi seorang rakyat Belanda yang knalpot mobilnya
rusak gara-gara pemerintah membiarkan jalan jeglok saja mencak- mencak menuntut
GANTI RUGI . Konyol bukan ? Makanya jangan heran kalo kejadian ini terjadi di
Indonesia, yaa pasti dibiarkan saja oleh pemerintah, tidak ada kerjaan lain kecuali
KORUPSI, dan memperkaya diri.

Mungkin di situ enaknya (maaf) menggembala rakyat Indonesia. Selain rasa humornya
tinggi,mereka susah marah, pandai tersenyum, mudah trenyuh, dan gampang menangis
bahkan dibohongi.

Namun satu hal harus diakui, bangsa kita mudah curiga, sangkaan yang kuat, dan lekas
tersinggung. Kata seorang sosiolog, boleh jadi karena wujud kekocakan karakter biar
miskin asal sombong . Kocaknya,BENCI kepada orangnya, tetapi mau MENERIMA
sumbangannya.

Pernah pula menyaksikan sekian banyak penumpang bus luar kota yang sudi duduk di
lantai bus padahal membayar ongkos penuh. Atau mereka tak marah diturunkan
seenaknya di tengah jalan sebelum tiba ke tujuan dan mereka masih tertawa. Aneh
ngga? ?? Kita mafhum, boleh jadi karena sejak bayi bangsa kita selain rajin diajak
tersenyum, juga belajar pandai tertawa ,ironis sekali , bukan ? katanya banyak Orang
yang merasa sudah berpendidikan tinggi, dengan titel berjubel, tetapi kenapa begitu naïf
membiarkan orang bergelantungan di atas bus tanpa AC ? lantas bagaimana layanan
publik Kita? Sudah begitu parahkah hingga Dunia Perguruan Tinggi /Universitas tidak
mampu melakukan riset mengenai bagaimana mengatasai kemacetan lalu lintas yang di
buat sendiri sehingga orang bergelantungan di atas bus umum tanpa layanan yang
memadai ? Cobalah Berpikir wahai…???

MELIHAT gejala seperti itu seorang psikolog bilang, “Mungkin itu sebabnya mengapa
bangsa kita tergolong tahan banting. Dari muda mereka terbiasa hidup berdampingan
secara damai dengan tekanan, krisis, konflik, dan frustrasi. Daya tahan stresnya menjadi
kokoh. Oleh karena itu, boleh jadi dalam menghadapi tiap kematian; sia-sia, atau mati
konyol anggota keluarga sekalipun, mereka terlihat masih tegar”

Sejelek-jelek layanan publik yang pernah dialami masyarakat , masih ada pihak yang
mereka sanjung. Penderitaan dan kesusahan jelas-jelas mereka alami karena human error,
masih disangka God’s decision.Tengok mereka yang bergelantungan di bus kota tiap
hari, tanpa berpendingin merayap dijalan macet, dan macetnya akibat buatan manusia dan
ulah penguasa yang sibuk menjadi Tokoh yang aneh . Atau, beratnya menempuh
buruknya jalan desa, tetapi mereka TABAH menerima. Padahal, setelah lebih dari
setengah abad merdeka, sudah selayaknya semua kesusahan itu tak mereka alami. Namun
kocaknya,bagi mereka, semua itu bukan masalah.

Tampaknya, dalam urusan badan, mereka boleh lelah dan letih, juga boleh nyeri, asal hati
tetap ayem, mereka tak mudah menjadi berang. Asalkan tidak sengaja menusuk hati,
bangsa kita enak diajak bergaul. Turis asing senang datang ke negeri kita bisa jadi salah
satunya karena dalam serba KEKURANGAN BANGSA kita masih bertegur sapa dan
tulus tersenyum. Sutradara film mungkin melihatnya sebagai sebuah puisi. Masih ada
senyuman tulus di balik kegetiran hidup. Bagi setiap filsuf, potret itu juga sebuah
kekocakan hidup.Di negeri orang lain, warga terantuk batu saja sudah berteriak keras.
Kocaknya bangsa kita,meski sudah lama terinjak, mungkin diinjak, masih saja ada
senyum yang tidak dibuat-buat ala Mr Bean.

Bangsa lain mungkin sudah menjerit, bangsa kita MENAHAN rasa perih pedih
kehidupan tanpa mengaduh. Perhatian kecil dari penguasa membuat rakyat sumringah-
nya luar biasa. Apalagi jika sampai bisa membuat mereka kecukupan makan tiap hari.
Kocaknya pula, bangsa kita masih sering takut kepada polisi kendati tidak bersalah.
Masih tetap menaruh hormat kepada pamong, kendati proyek jalan desa dikorupsi dan
sawah dibiarkan puso , yang lebih konyolnya lagi masih menggantungkan harapan besar
untuk bisa menjadi Mahasiswa PTN padahal NEGARA tempat Kita bernaung tidak
memberikan jaminan kepastian apakah anak kita bisa bekerja atau malah jadi
penggangguran intelektual ketika lulus Perguruan Tingi ?

Kita ingin menyetir gejala orang-orang di negara sosialis, yang saking beratnya hidup,
tanpa boleh berontak dan mengaduh sehingga yang muncul ungkapan satir dan gereget
humor sebagai katarsis. Dari situ ada tangkai-tangkai humanisme yang mungkin terpetik.
Kalau di sana, misalnya, tumbuh fenomena sosial Mati Ketawa Cara Rusia , rasanya
bukannya dibuat buat bila di sini ada pula spesies hidup berbangsa dengan kekocakan
karakter Mati Ketawa Cara Indonesia apakah anda mau coba ?

B. Mengurai Benang Kusut Pendidikan

JIKA pelaku Pemogokkan buruh dan mengorganisir rakyat kecil melawan kapitalis
belanda itu lulusan sekolah khusus samin , maka lembaga pendidikan mereka berhasil
menjalankan visi dan misinya:mendidik orang menjadi Seorang Samin yang handal, setia
pada tujuan. Saya tidak berbicara baik- buruk, benar-salah, atau mulia-jahatnya tindakan
tersebut dan cara yang dipilih untuk mencapai tujuan. Saya menilik bagaimana visi-misi
pendidikan diimplementasikan sehingga peserta didik menghidupi dan menjalankannya
secara total dan all out.Yang jelas, proses pendidikan di sekolah Samin telah
menumbuhkan keberanian dan kemauan bertindak lulusannya, yang konyol di mata kita,
tetapi merupakan indikator sukses guru-gurunya. Pembaiatan menjadi semacam wisuda
untuk mengukuhkan keberanian dan kemauan itu. Lembaga-lembaga pendidikan formal
kita, dan lembaga pendidikan umum di mana pun, jelas tidak dimaksudkan untuk
mendidik orang samin . Lembaga-lembaga pendidikan kita memiliki tujuan filsafati
luhur. Saking luhurnya lupa bahwa yang didik adalah masyarakat yang masih perlu di
sadarkan lebih jauh.

Ada proses dan pengukuran. Ada pengukuhan janji dalam wisuda. Namun, tidak sedikit
lulusan dunia pendidikan kita yang tidak menunjukkan keberanian dan kemauan
bertindak menurut tujuan dan nilai-nilai di mana mereka pernah dididik. Dalam arti
terbatas ini, sebenarnya lembaga-lembaga pendidikan formal telah gagal menjalankan
visi-misinya. Ironisnya, justru kegagalan inilah membedakannya dari pendidikan ala
Samin .Kita telah mematri pendidikan mengemban misi penyadaran (conscientitation)
atau istilahistilah serupa lain, seperti pemerdekaan dan pemanusiaan. Ini misi dasar
mulia. Pendidikan harus membuat orang kian sadar akan jati diri dan asal-usul, dunia dan
lingkungan alam-sosial, serta tanggung jawabnya. Pendek kata, pendidikan dimaksudkan
membawa orang pada kesadaran insani.Sejauh ini tujuan pendidikan kita ada karena
tuntutan normatif sosial. Ia tidak tumbuh bersemai dalam diri insan peserta didik, menjadi
bagian tujuan hidupnya. Proses pendidikan kita tidak membuat peserta didik memahami
ideal di balik tujuan pendidikan.

Tujuan dicapai demi tujuan itu sendiri, sehingga kesediaan berkorban dalam perjuangan
mendekati ideal amatlah kecil, karena jiwa mereka yang terdidik tidak disatukan dengan
tujuan pendidikan itu. Di sinilah letak pentingnya ideologisasi tujuan pendidikan. Tujuan
pendidikan menjadi target sekaligus semangat praksis pendidikan. Pencapaiannya bersifat
imperatif dan dilakukan dengan semacam drilling tujuan, sebagai semangat ideologis
yang harus diwujudkan. Ini perkara metodologi, agar praksis pendidikan tidak
dipisahkan-tidak dialienasikan-dari tujuan pendidikan sendiri.

C. Hak belajar , atau Wajib Belajar ?

Jika diamati dengan saksama, gagasan wajib belajar merupakan suatu absurditas atau
kontradiksi. Pertama, proses belajar tidak mungkin pernah berjalan efektif jika ada suatu
pemaksaan pada diri pembelajar. Gagasan student centeredness atau pendidikan yang
berpusat pada siswa senantiasa mengedepankan dan mengharuskan pembelajar
menyadari serta bertanggung jawab atas proses belajar yang dijalaninya. Ini didasarkan
pada prinsip bahwa dorongan atau keinginan belajar dari diri sendiri merupakan unsur
utama dalam proses belajar. Kecuali itu, proses belajar yang dipaksakan tidak akan
pernah sustained atau bertahan.

Kedua, wajib belajar tampaknya telah rancu dengan wajib bersekolah. Wajib bersekolah
memang mudah sekali mengamatinya. Seorang siswa atau siswi yang tak pergi ke
sekolah pada saat jam sekolah jelas menyalahi wajib bersekolah. Sangat jelas dan mudah
menentukan seseorang melanggar wajib bersekolah atau tidak. Namun, bagaimana
dengan wajib belajar? Pada sisi yang lain, kita perlu mencatat bahwa seseorang yang
bersekolah belum dapat diartikan sedang belajar.
Jika belajar merupakan suatu kewajiban, indikator apa yang menentukan seseorang lalai
belajar atau tidak? Bagaimana pula operasi pelaksanaan pengamatannya nanti? Betapa
sulitnya mengukur apakah seseorang sedang belajar? Seorang anak yang bermain di
pematang sawah atau tepi pantai mencari ikan apakah sedang tidak belajar? Seorang anak
yang membantu ibunya berjualan di pasar apakah sedang tidak belajar? Seseorang anak
berumur 10 tahun yang sedang melamun di bawah pohon pada pinggiran sungai pada
pukul 08.00, misalnya, apakah sedang melanggar kewajiban belajarnya? Memang,
kewajiban bersekolah mungkin dilanggarnya, tetapi kewajiban belajar? Kalau dia
ditanya, dia mungkin menjawab bahwa dia sedang belajar berpikir. Nah, lalu, bagaimana
pula kita dapat menyangkalnya? Nah . Serba bingung serba rancu serba berebut menjadi
dicision maker di dunia pendidikan .

Atau nanti jangan-jangan ketika menteri pendidikan di resuffle oleh persidennya ganti
pula kebijaksanaan dan kurikulumnya dengan dalil menyempurnakaan Kebijaksanaan .
Ironis rakyat lagi yang kena harus beli buku , beli seragam , beli perlengkapan untuk
kurikulum yang baru.

Apa itu yang namanya Sibuk membingungkan diri sendiri?

Oleh karena itu, jelas sekali bahwa wajib belajar merupakan suatu gagasan yang
kontradiktif sekaligus sangat tidak operasional.

JIKA kita ingin menerapkan gagasan student centeredness, kita harus memberikan
tanggung jawab belajar pada siswa. Tentunya ini tidak berarti bahwa kita boleh
membiarkan anak atau murid kita tidak belajar. Justru sebaliknya, kita-guru dan
orangtua-perlu menyadarkan atau mencerahkan anak-anak akan pentingnya belajar bagi
kehidupan mereka. Kita perlu terusmenerus menyadarkan anak-anak atas hak belajarnya.
Keluarga perlu senantiasa berupaya menyuburkan bertumbuh kembangnya motivasi
belajar anak-anak. Kendati demikian, yang paling utama menentukan terjadi atau
tidaknya proses belajar adalah siswa sendiri. Kita, orangtua maupun guru, bukan pelaku
utama dalam proses belajar anakanak kita.

Jika kita sudah sering berwacana gagasan siswa sebagai subyek dalam proses pendidikan,
maka mengembalikan tanggung jawab belajar pada siswa merupakan suatu aktualisasi
dan penerapan gagasan tersebut. Ini juga merupakan realisasi pemberdayaan siswa
melalui proses belajar.Cara pandang di atas sangat sejalan dengan makna belajar sebagai
hak setiap insan untuk mengembangkan dirinya. Jadi, akan lebih tepat jika pemerintah
pusat beserta pemerintah daerah wajib menyediakan program sekolah sembilan tahun
yang terjangkau atau, jika mungkin, gratis bagi warganya. Artinya, pemerintah wajib
untuk menyediakan pendidikan sekolah bagi warganya. Adalah hak warga negara untuk
memanfaatkan penyediaan program pendidikan tersebut. Adalah hak warga negara untuk
belajar dalam program yang disediakan pemerintah. Jangan sampai terjadi kebalikannya,
yakni rakyat berkewajiban belajar sembilan tahun dan negara berhak menyediakan
pendidikan bagi rakyatnya. Kalaulah hal itu terjadi maka Bisa di katakan seperti Bagong
yang jadi raja Vs mbilung yang keblinger . Konyol dan sangat tidak habis di pikir
jadinya.
Belajar merupakan kegiatan yang dapat berjalan efektif melalui institusi formal seperti
sekolah maupun tak formal. Seorang anak belajar tidak hanya di dalam kelas sewaktu
berinteraksi dengan gurunya, melainkan terjadi pula pada saat dia bermain dengan
temannya atau pada saat bekerja membantu orangtuanya menjahit, misalnya. Prinsip
bahwa belajar tidak perlu melalui institusi formal juga harus diyakini pembuat kebijakan
pendidikan nasional. Namun, jika kita melihat kegiatan warga negara melalui kacamata
kekuasaan, yakni dari arah atas ke bawah, maka memang gagasan wajib belajar cocok
dengan nuansa instruksi atau perintah. Belajar perlu diperintah. Mungkin dianggapnya
warga negara tidak mau belajar jika tidak diwajibkan atau rakyat masih tidak tahu bahwa
belajar itu perlu maka perlu di perintah Namun, jika kita ingin memosisikan setiap warga
negara sebagai pelaku utama dalam proses belajar bangsa, maka hak belajar akan jauh
lebih cerdas dan efektif daripada wajib belajar karena rakyatlah yang akhirnya akan
memilih sejauh mana kebijaksanaan yang tepat bagi mereka , bukan pemerintah.

D. Kenapa kita bersekolah ?

Pertanyaan saya diatas adalah sangat mendasar kenapa Kita Bersekolah? Hal diatas
tentunya Lebih Mengacu pada mengapa kita bersekolah dalam artian dan Konteks untuk
bisa baca tulis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa atau bersekolah untuk
sebagai gengsi belaka bahwa di sebut kaum Intelektual ? yang notabene Pendidikan dasar
sampai perguruan tinggi .

Ada beberapa hal yang membuat saya trenyuh dan prihatin dengan Kondisi yang di
hadapi Kita semua sebagai bagian kecil bangsa Indonesia . Hal tersebut yang menggugah
saya untuk sadar tidak hanya mementingkan Bisnis semata.

1. Sekolah menciptakan Orang Pandai atau Orang yang bijaksana ?


Jika pertanyaan itu di lemparkan ke saya maka jawaban yang akan saya keluarkan adalah
Bagaimana Seorang yang bersekolah mengenal karekteristik dirinya sendiri. Tidak bisa di
pungkiri bahwa yang namanya sebuah pendidikan sangat komunal , akan tetapi komunal
yang bagaimana untuk bisa mencapai tahapan yang di inginkan ? Masih ingat di kepalaku
bagaimana seorang Murid SLTA yang memiliki rangking 1 justru tidak diterima dalam
ujian Pegawai Negeri Sipil, padahal sekolah itu telah menciptakan orang pandai seperti
anak tersebut hingga mendapatkan rangking 1 hingga semua institusi sekolah
menggangapnya sebagai tolak ukur sebagai siswa yang pandai. Tapi ketika berebut
mendaftar sebagai CPNS justru tidak ada prioritas sama sekali untuk mendapatkan
sebuah dispensasi untuk diterima , justru Anak yang tidak bisa apa-apa dalam artian tidak
memiliki Rangking mendapatkan tempat yang sangat layak di pemerintahaan karena
(Kekrabatan} di lingkungannya . Sekali lagi Bangsa ini sudah sangat tidak mengenal
Bahasa symbol sehingga para pemegang kebijaksanaan negeri ini sibuk dengan tokoh
Mbilungnya mereka yang bersikap Samin terhadap rakyatnya sendiri

Dengan kejadian diatas bahwa anak yang pandai tidak mendapatkan tempat di
pemerintahaan atau pegawai negeri atau pegawai instasi lainnya menandakan bahwa anak
yang Pandai sekalipun tidak akan mendapatkan jaminan sebuah pekerjaan yang layak
sesuai dengan prestasinya. Lantas bagaimana dengan pertanyaan saya tadi Sekolah
menciptakan Orang pandai atau orang yang bijaksana ? Lantas buat apa kita sekolah
kalau sekolah tidak ada Sebuah pengharapan yang di kejar , dalam artian percuma wajib
belajar karena ketika belajar dengan seksama dengan sungguh sungguh menjadikan kita
mendapatkan rangking terus tidak mendapatkan sebuah penghargaan terhadap prestasi
yang kita buat ? Konyol bukan ?

Kalau kita menilik lebih jauh sebenarnya yang namanya Sekolah dasar sampai dengan
Sekolah Menengah Umum kan milik pemerintah (Daerah) kenapa harus susah-susah
mencari pegawai negeri sipil dengan membuka pendaftaran di CPNS , kenapa tidak
mensyaratkan YANG BISA MENDAFTAR JADI CPNS ADALAH ANAK YANG
MEMILIKI RANGKING 1-15 Di SETIAP SEKOLAHNYA . Coba kita bayangkan jika
itu disyaratkan maka dengan susah payah pasti anak akan belajar dengan tekun dengan
giat dan rajin untuk mengejar bagaimana mendapatkan rangking sehingga mendapatkan
seterang harapan setelah lulus nantinya.

Ketika penerimaan dan tes pegawai jika ada anak yang tidak diterima itu menjadikan
Warning bagi sekolah yang bersangkutan untuk memacu pendidikannya lebih kencang
lagi untuk mengejar ketertinggalannya. Ironis memang masyarakat masih menganggap
PNS adalah tujuan hidup untuk mengubah nasib, karena keterjaminan masa tua,
keterjaminan pekerjaan keterjaminan Harkat dan martabat disebut priyayi . padahal
rebutan jadi PNS adalah peninggalan Kolonial belanda dalam menciptakan Stagnasi
perbedaan di masyarakat pada jaman itu dimana orang /kaum terpelajar dijadikan
pegawai pemerintahaan kerajaan belanda dan di sejajarkan dengan mereka.

Lantas dengan demikian dogma pemikiran masyarakat berbelok arah untuk menjadi
pegawai negeri sipil. Apa mereka enggak melihat dengan seksama bagaimana Beban
berat pemerintah untuk membiayai aparatur negara yang mulai Terbebani aparaturnya ,
dengan kinerja rendah tetapi masih menggaji , itu menandakan Cost yang berlebihan. Dan
apa mereka juga tidak berfikir sekarang ini untuk biaya pegawainya daerah dituntut
mandiri , sehingga dengan demikian jika tidak ada anggaran untuk itu akan menjadikan
Beban Hutang ? Konyol , gila dan tidak masuk akal. Lantas buat apa sekolah jika negara
saja tidak memberikan sebuah penghargaan atas prestasi anak-anak yang pandai.

Belum lagi bangunan sekolah yang rusak berat lantaran salah dalam
penerapan pembangunan ,setingkat sekolah dasar Inpres saja sudah
hancur dindingnya , lantas bagaimana dulu perencanaan
pembangunannya ? serius untuk membangun atau jangan-jangan
Kontraktor pelaksananya Justru berusahaa Mentogogkan Diri atas
semua kondisi yang di lakukan dahulu , dengan demikian apa tidak
semakin parah yah.

2. Kenapa mahal bersekolah di Indonesia ?


Di negara-negara maju pendidikan sudah dipahami sebagai industri jasa yang sangat
prospektif. Sebab itu, investor pun mulai banyak yang secara terbuka berhasrat
menanamkan modalnya untuk bisnis pendidikan. Bahkan, di Australia pendidikan sudah
merupakan sumber devisa nomor tiga dan diharapkan meningkat menjadi nomor dua
beberapa tahun mendatang. Di Indonesia , jangankan pendidikan mau ke wc saja
mahalnya minta ampun , dengan alasan BBM naik lah , biaya kehidupan bertambah lah
dll , sehingga menjadikan Semuanya serba uang . Mahalnya biaya pendidikan di
Indonesia di picu dan dikarenakan pemerintah yang menganggap enteng dunia
pendidikan dengan mengalokasikan anggaran pendapatan negara nya hanya 2 %,
meskipun sudah di paksakan 20 % untuk tahun ini tetap terlambat, anak anak tetap di
tarik biaya untuk sekolah dengan berbagai alasanlah. Imbas dari hal itu Buku-buku cetak
yang seharusnya setiap pak menteri berkuasa hendaknya di sempurnakan, bukan ganti
pak menteri ganti pula Kebijaksanaan yang menjadi motor penggeraknya lantas
bagaimana Kondisi tersebut akan terata dengan baik jika setiap 5 tahun Orang yang
merasa Pintar di Pusdik Diknas merasa perlu mengganti kebijaksanaan terkait dengan
politisasi?.

Di sini pendidikan belum terarah dengan baik , masih jalan di tempat , mereka masih jadi
slogan Asal Lulus , Asal dapat gelar , Asal sudah sekolah. Lantas buat apa ? menambah
angkatan pengangguran Intelektual lagi ujung ujungnya pemerintah juga yang pusing
menciptakan lapangan kerja. Bagaimana mau menciptakan lapangan kerja kalau
pemerintahaannya masih berebut Hegemoni I’m the hero, saya yanag terbaik, saya yang
berkuasa. Konyol bukan ? Lebih konyol lagi investor pada lari dari bumi Indonesia
karena hegemoni tersebut , contoh singatnya Kenapa Sony Corpporation lebih senang
memindahkan Core bisnisnya ke Vietnam ? Karena di sana Biaya serba murah termasuk
tenaga kerja yang masih murah , di Indonesia ? Mahal pekerjanya masih suka demo dan
bertingkah . lulusan sarjananya belum mengerti dunia kerja 100 % karena memang tidak
di persiapkan dengan matang. Sangat konyol sekali apa yang dilakukan penguasa dan
aparaturnya , lebih lebih pendidikan nasionalnya .

Di eropa pendidikan adalah Sebuah jendela bathin seseorang untuk melihat kemana arah
tujuan hidupnnya ? Mereka berkreasi dengan arahan dari Pusat litbang setempat untuk
menemukan , meneliti , dan menggali masalah dengan baik. 10 tahun kedepan jika hal di
atas tidak di atasi akan menjadikan Ambruk pondasi negara kita sebenarnya mahalnya
pendidikan Indonesia bisa di atasi jika Pengusahaa besar yang bergabung dalam
konglomerasi menyisihkan 20 % pendapatannya untuk mengabdikan di jalur pendidikan ,
namun itu pun tidak di lakukan sehingga masih mengantungkan harapan besar ke
pemerintah Indonesia sebagai pelaksana.

3. Ramai-ramai Kuliah, Ramai-ramai Cari Kerja


Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan
ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru nyaris memenuhi halaman-
halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi PT untuk menjaring calon
mahasiswa sama gencarnya dengan peningkatan pengangguran lulusan.

Beberapa PT memberikan keringanan biaya, tetapi PT-PT dengan nama


besar memasang biaya masuk puluhan juta rupiah, yang justru dimaknai
tanda kebesaran dan mutu PT bersangkutan.
Maka, para calon mahasiswa ramai-ramai mendaftar kuliah, PT-PT menerima mereka
dengan sukacita, tetapi para pelaku pasar kerja bersiap-siap menolaknya setelah lulus
karena para sarjana tersebut dinilai tidak memiliki cukup kualifikasi yang dibutuhkan
dunia kerja. Dalam pandangan saya, pengangguran lulusan dan tidak nyambung-nya PT
dengan dunia kerja dimulai dari seleksi penerimaan mahasiswa baru. Akibatnya, seleksi
masuk ke sebuah PT semakin lebih ditentukan oleh kemampuan calon mahasiswa
membeli daripada kemampuan intelektualnya. Karena itu, sistem seleksi penerimaan
mahasiswa baru perlu dibenahi.

Sistem passing grade yang mengandalkan skor rerata ujian masuk sama tidak
memadainya dengan sistem kuota, yang bergantung pada jumlah kursi yang tersedia di
suatu prodi PT. Gabungan sistem passing grade dan sistem kuota mungkin baik, namun
tetap belum menjamin mutu mahasiswa yang diterima.

Di Jerman dan Belanda proses seleksi ke PT telah dimulai dengan penjenjangan di


tingkat sekolah menengah. Saat pendaftaran ke PT, penerimaan mahasiswa baru
dilakukan dengan model gabungan sistem passing grade, kuota dan tes kompetensi dasar
logika bahasa dan logika matematika.

Untuk program tertentu, seperti kedokteran, berlaku seleksi numerus klausus yang sangat
ketat. Hanya 10 persen terpandai lulusan SLTA di tingkat nasional boleh mendaftar. Jika
setelah tes jumlah 10 persen itu masih melebihi kuota, maka diberlakukan lotre. Karena
ketatnya numerus klausus, maka pernah terjadi seorang dokter Indonesia dengan 12 tahun
pengalaman berpraktik di Papua diharuskan menempuh program persamaan selama dua
tahun sebelum diterima dalam program spesialisasi di Belanda.

Mengingat sekolah menengah di Indonesia hanya dua macam, proses seleksi calon
mahasiswa ke PT di Indonesia belum dapat dilakukan mulai jenjang pendidikan
menengah. Karena itu perlu model seleksi lain.Ujian menulis/mengarang dan wawancara
kiranya dapat diterapkan untuk meningkatkan daya seleksi gabungan sistem passing
grade dan kuota. Dari ujian menulis/mengarang dapat diketahui otentisitas, kemampuan
mengembangkan dan mengorganisasikan ide serta penguasaan bahasa yang merupakan
dasar sikap kritis dan daya analitis.Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi
apakah sebenarnya yang isyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan PT? Ini tidak
mudah dijawab. Studi-studi di Inggris dan Skotlandia dalam dekade 1960-1970 (Hunter,
1981), berbagai seminar di Belanda dalam dekade 1980 (Weert, 1989) dan sebuah studi
kasus di Australia di tahun 1990-an (Hart, Bowder, and Watters, 1999) ditujukan untuk
mencari jawaban dari para pencari tenaga kerja atas pertanyaan tersebut.Jawaban yang
diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi
akademik.

Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa vokasional
atau spesialistik mereka mengharapkan suatu prodi di PT. Kualifikasi seperti memiliki
kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para
pengelola PT daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja.Dalam sebuah
survei tahun 2001, mengajukan pertanyaan yang sama kepada para pencari tenaga kerja
pada sektor pendidikan, medis, hukum, perbankan, dan pertambangan di Yogyakarta,
Jakarta, dan Palembang. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari
tenaga kerja di ketiga kota di Indonesia itu dalam hal kualifikasi lulusan PT yang mereka
syaratkan.Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama
penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dan dalam praktik, kualifikasi yang
dinyatakan sebagai paling dicari oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi
kualifikasi yang paling menentukan diterima/tidaknya seorang lulusan PT dalam suatu
pekerjaan.

Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung
jawab,dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling
menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja
sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan.Namun, meskipun
sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK)
sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling
penting,paling dicari, ataupun paling menentukan.

Di sisi lain, reputasi institusi PT yang antara lain diukur dengan status akreditasi prodi
sama sekali tidak masuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari,
ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan PT oleh para pencari tenaga kerja.
Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja mengabaikan bidang studi lulusan PT.
Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank menegaskan, kesesuaian
kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan
diterima/tidaknya seorang lulusan PT. Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia
kerja tersebut penting diperhatikan pengelola PT untuk mengatasi tidak nyambung-nya
PT dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi
mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya,
perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses
pengolahan kompetensi dasar tersebut.

Untuk itu semua, kerjasama PT dan dunia kerja adalah perlu.Yang lebih
konyol dari itu semua adalah parody perguruan tinggi yang berlomba lomba
menjaring lulusan Sekolah menengah umum / Atas untuk masuk ke
perguruan tingginya. Yang membuat saya trenyuh dan sangat tidak habis
pikir adalah sudah tahu perguruan Tinggi tidak layak secara operasional
karena fasilitas kurang memenuhi masih menerima lulusan SLTA/U
selayaknya sebuah bisnis yang penting Untung. Atau jangan jangan ini kah bisnis PT
untuk mendapatkan keuntungan dengan mengkesampingkan misi mulia sebagai institusi
pendidikan ?

Lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan di Indonesia _+ 250.000-350.000 orang


pertahun. Dari jumlah itu, sekitar 90.000 yang terserap ke sektor formal dan sisanya
menganggur atau bekerja di sektor informal.Hal itu, jelas, menandakan bahwa semakin
banyak sarjana justru tidak mengindikasikan negara semakin makmur.
Justru sebaliknya, semakin banyak sarjana, semakin tinggi pula tingkat pengangguran.
Para sarjana itu bekerja di sektor informal bukan karena keinginan mereka, namun karena
keadaan yang memaksa dan keterbatasan lapangan kerja. Kualitas perguruan tinggi di
Indonesia juga semakin menurun dibandingkan dengan negara-negara Asia lain. Ini dapat
dilihat dari peringkat perguruan tinggi Indonesia yang semakin anjlok setiap tahun. dari
50 perguruan tinggi di Asia, Institut Teknologi Bandung (ITB) menempati peringkat 21,
tahun 2004. Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Gadjah
Mada termasuk di urutan belakang. Institut Pertanian Bogor malah tidak masuk
peringkat. Ini ironis. Padahal, agrobisnis merupakan bidang yang paling banyak
menyangkut hajat hidup penduduk kita lulusan perguruan tinggi di Indonesia bukan
merupakan tenaga siap pakai, tetapi siap tahu. Kondisi ini membuat sarjana harus
mendapat pelatihan lagi, idealnya tiga bulan, sebelum masuk ke dunia kerja.

Ironis bukan ? sangat menyedihkan bagiamana Anak anak bangsa kita harus menelan pil
pahit yang tidak seharusnya di telan mereka saat ini , tetapi apa boleh buat pemerintah
telah menggiring Nuansanya ke arah jurang yang salah , ibarat Lokomotif maka
Masinisnya telah menjatuhkan kereta beserta gerbongnya jatuh tersungkur ke dalam
jurang yang lebih dalam.

APAKAH DENGAN BEGITU MASIHKAH BANGGAKAH MENYANDANG


GELAR SARJANA ?

Baik S-1 – Doktor ? bahkan professor ? sedangkan lulusan yang diciptakan tidak siap
pakai tidak siap kerja tidak tahu apa yang harus dilakukan dan terpaksa karena Kuliah ,
karena di terimanya di sana yah harus di sana.Lantas dengan sarjana yang didapatkan apa
sudah bisa membahagiakan anda ? sebuah pertanyaan dasar yang harus di jawab setiap
Insan yang ada di dunia Pendidikan apakah itu yang di cari Gelar tanpa pekerjaan yang
layak ?

Coba kalau semuanya berlaku seperti orang SAMIN , tidak ada rasa malu untuk
mengakui kesalahaanya , kekurangannya dan kejujurannya Tidak ada Arogansi ,
idealisme untuk menjadi yang terdepan karena Lulusan Perguruan Tinggi ternama di
Indonesia. Dalam kamus bisnis saya Lulusan tinggi manapun tidak akan siap pakai,
bahkan jika di bandingkan dengan anak lulusan SD otodidak yang bersifat samin
Mungkin saya akan membayar Jutaan dolar untuk gajinya karena sudah pasti tidak
ambivalen dalam memimpin.

Asumsi orang di Indonesia masih beranggapan bahwa yang namanya Sarjana sudah ahli
di bidangnya , Justru saya katakan Keblinger karena belum tentu yang di kuasai adalah
hal yang benar benar Cumlade di bidangnya. Gelar dan Lulusan tidak ada dalam kamus
perusahaan saya, karena Perusahaan saya mencetak Sarjana tanpa Title dan gelar. Biar
tidak di akui yang jelas kenyataan memang mengatakan dia layak mengapa tidak di sebut
Sarjana? sekali lagi Kembali ke Idiealisme Manusia yang duduk di pendidikan tidak bisa
bersikap samin untuk mengatakan baiknya. Masih bangga dengan Gelar yang di
sandangnya padahal Kesarjanaan yang di sandang belum tentu bisa mendapatkan sebuah
jawaban Kenapa Kita bersekolah sampai Perguruan tinggi jika di perguruan tinggi
ternyata mencetak pengangguran Intelektual?.

UNIVERSITAS

Seharusnya yang namanya Universitas adalah sebuah lembaga dimana didalamnya


terdapat lembaga institusi gelar dan sertifikasi sarjana dan tempat mencetak sarjana harus
mampu menyerap pasar dan keinginan pasar untuk bersaing. Kelemahan Universitas di
Indonesia adalah :

1. Masih rancunya Lembaga Riset yang dimiliki BBPT , LIPI dan Lembaga Riset
Departement dengan Lembaga Riset Universitas . Menurut saya pribadi Harusnya BBPT
atau LIPI di hilangkan dalam artian tenaga Tenaga Risetnya di ganti dari Dosen / tenaga
pengajar dari Universitas sehingga hasil riset tersebut tidak hanya untuk di Tumpuk
dalam perpustakaan saja tetapi sangat Implikatif dengan pengajaran dimana Studi
pengajaran mahasiswa berkembang dengan sendirinya dari riset tersebut , bukannya
Dosen di suruh Kompetensi cari Dana Riset . Sehingga dengan demikian tidak ada lagi
cerita Dosen Mengacu pada satu Buku mata kuliah saja dimana referensi tahun tahun
lama melainkan referensi berdasarkan riset yang dilakukan oleh Dosen tersebut. hal itu
memungkinkan Lulusan Universitas dan perguruan tinggi Kompetitif sekali.

2.Dengan Hilangnya BPPT/LIPI di ganti menjadi Dewan Riset nasional dengan tenaga
riset seluruh Dosen dari universitas dan perguruan tinggi sehingga yang namanya
Kurikulum Perguruan tinggi tidak Statis tetapi berdasarkan Metode pengembangan riset
tersebut.

3.Masih di perbolehkannya PTN/PTS yang tidak berkualitas secara operasional dan


masih rancunya kurikulum di universitas yang Tumpang tindih sehingga menjadikan
Dunia pendidikan jauh dari dunia kerja.

Tidak ada yang tidak mungkin untuk di lakukan jika kita bisa, Pendidikan adalah cara
mudah dalam regenerasi sebuah kaum , maka untuk melanjutkan komunitas konsep
pendidikan ini di butuhkan pendidikan ala orang samin yang lugu ,polos dan membaca
kenyataan apa adanya.

Terus apakah harus terus menerus demikian??? cobalah berpikir….

Teknik Public Speaking: Retorika


Dakwah0 comments
By romeltea
Posted on 14 May 2009 at 12:30pm
Retorika (rethoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara. Kini
lebih dikenal dengan nama Public Speaking. Dewasa ini retorika cenderung dipahami
sebagai “omong kosong” atau “permainan kata-kata” (“words games”), juga bermakna
propaganda (memengaruhi atau mengendalikan pemikiran-perilaku orang lain).

Teknik propaganda “Words Games” terdiri dari Name Calling (pemberian julukan buruk,
labelling theory), Glittering Generalities (kebalikan dari name calling, yakni penjulukan
dengan label asosiatif bercitra baik), dan Eufemism (penghalusan kata untuk menghindari
kesan buruk atau menyembunyikan fakta sesungguhnya).

Gaya Bahasa Retorika


1. Metafora (menerangkan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal dengan
mengidentifikasikannya dengan sesuatu yang dapat disadari secara langsung, jelas dan
dikenal, tamsil);
2. Monopoli Semantik (penafsir tunggal yang memaksakan kehendak atas teks yang
multi-interpretatif);
3. Fantasy Themes (tema-tema yang dimunculkan oleh penggunaan kata/istilah bisa
memukau khalayak);
4. Labelling (penjulukan, audiens diarahkan untuk menyalahkan orang lain),
5. Kreasi Citra (mencitrakan positif pada satu pihak, biasanya si subjek yang berbicara);
6. Kata Topeng (kosakata untuk mengaburkan makna harfiahnya/realitas sesungguhnya);
7. Kategorisasi (menyudutkan pihak lain atau skenario menghadapi musuh yang terlalu
kuat, dengan memecah-belah kelompok lawan);
8. Gobbledygook (menggunakan kata berbelit-belit, abstrak dan tidak secara langsung
menunjuk kepada tema, jawaban normatif-diplomatis);
9. Apostrof (pengalihan amanat dengan menggunakan proses/kondisi/pihak lain yang
tidak hadir sebagai kambing hitam yang bertanggung jawab kepada suatu masalah).

Retorika Dakwah
Retorika Dakwah dapat dimaknai sebagai pidato atau ceramah yang berisikan pesan
dakwah, yakni ajakan ke jalan Tuhan (sabili rabbi) mengacu pada pengertian dakwah
dalam QS. An-Nahl:125:

“Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang
baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…”

Ayat tersebut juga merupakan acuan bagi pelaksanaan retorika dakwah. Menurut Syaikh
Muhammad Abduh, ayat tersebut menunjukkan, dalam garis besarnya, umat yang
dihadapi seorang da’i (objek dakwah) dapat dibagi atas tiga golongan, yang masing-
masingnya dihadapi dengan cara yang berbeda-beda sesuai hadits: “Berbicaralah kepada
manusia sesuai dengan kadar (takaran kemampuan) akal mereka”.

a. Ada golongan cerdik-cendekiawan yang cinta kebenaran, berpikir kritis, dan cepat
tanggap. Mereka ini harus dihadapi dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan, dalil dan
hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akan mereka.
b. Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berpikir kritis dan
mendalam, belum dapat menangkap pengertian tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil
dengan mau’idzatul hasanah, dengan ajaran dan didikan, yang baik-baik, dengan ajaran-
ajaran yang mudah dipahami.

c. Ada golongan yang tingkat kecerdasannya diantara kedua golongan tersebut. Mereka
ini dipanggil dengan mujadalah billati hiya ahsan, yakni dengan bertukar pikiran, guna
mendorong supaya berpikir secara sehat.

Retorika Islam
Retorika dakwah sendiri berarti berbicara soal ajaran Islam. Dalam hal ini, Dr. Yusuf Al-
Qaradhawi dalam bukunya, Retorika Islam (Khalifa, 2004), menyebutkan prinsip-prinsip
retorika Islam sebagai berikut:
1. Dakwah Islam adalah kewajiban setiap Muslim.
2. Dakwah Rabbaniyah ke Jalan Allah.
3. Mengajak manusia dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.
4. Cara hikmah a.l. berbicara kepada seseorang sesuai dengan bahasanya, ramah,
memperhatikan tingkatan pekerjaan dan kedudukan, serta gerakan bertahap.

Secara ideal, masih menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, karakteristik retorika Islam a.l.
1. Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan material.
2. Memikat dengan Idealisme dan Mempedulikan Realita.
3. Mengajak pada keseriusan dan konsistensi, dan tidak melupakan istirahat dan berhibur.
4. Berorientasi futuristik dan tidak memungkiri masa lalu.
5. Memudahkan dalam berfatwa dan menggembirakan dalam berdakwah.
6. Menolak aksi teror yang terlarang dan mendukung jihad yang disyariatkan.
(www.romeltea.com).*

Referensi : dari berbagai sumber. Bahasan lengkap versi saya tentang Public Speaking
tertuang dalam buku “Lincah Menulis Pandai Bicara”, terbitan Nuansa Bandung, e-mail:
ynuansa@telkom.net.*

ttp://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=47548
Memahami Retorika dalam Dialektika Komunikasi
Oleh : Muhammad Khairil*

PEPATAH klasik mengingatkan bahwa “berbicaralah, supaya saya dapat melihat dan mengenal
anda”. Pepatah tersebut dipertegas oleh Martin Luther bahwa “siapa yang pandai bicara maka
dialah manusia. Sebab berbicara adalah kebijaksanaan dan kebijaksanaan adalah berbicara”.
Bicara menunjukkan bangsa, bicara juga mengungkapkan apakah anda orang terpelajar atau
kurang ajar. Quintillianus mengatakan bahwa “tidak ada anugerah yang lebih indah, yang
diberikan oleh para dewa selain keluhuran berbicara”.

“Ilmu bicara” dikenal sebagai retorika. Retorika berarti seni untuk berbicara baik (Kunst, gut zu
reden atau Art bene dicendi), yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan
teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik dan dipergunakan
dalam proses komunikasi antarmanusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya dituntut berbicara
lancer, namun lebih pada kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, padat, jelas
dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang
tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat.

Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan
kesanggupan berbicara. Itu berarti orang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas
supaya mudah dimengerti, singkat untuk menghemat waktu dan efektif karena apa gunanya
berbicara kalau tidak membawa efek. Dalam konteks ini sebuah pepatah mengungkapkan bahwa
“Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara seperti halnya
orang yang menebak banyak belum tentu penebak yang baik dan benar”.

Dalam pemaknaannya, retorika diambil dari bahasa Inggris rhetoric bersumber dari perkataan
latin rhetorica yang berarti ilmu bicara. Sedangkan Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren
dalam bukunya Modern Rhetoric mendefenisikan retorika sebagai the art of using language
effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif. Hampir senada dengan hal tersebut
Aristoteles mengartikan retorika sebagai The art of persuasion.

Perspektif retorika tentang komunikasi antarpersonal menyatakan bahwa konsep dan prinsip
tradisonal retorika untuk mempengaruhi masyarakat, sama baiknya diterapkan pada komunikasi
yang akrab dan antarpersonal. Substansi retorika bertujuan fungsional. Menurut Harold Barrett
(1996) bahwa pemakai retorika berusaha “agar efektif, untuk mendapatkan jawaban, menjadi
orang, dikenali, didengarkan, dishahihkan, dimengerti dan diterima”. Tujuan interaksi retoris
merupakan dasar bersama tempat menjalin hubungan secara sukses. Orang-orang dalam
komunikasi antarpersonal, (masih menurut Barret) harus berusaha keras supaya efektif dan etis,
setiap saat menunjukkan penghargaan terhadap keberadaan orang lain, penghargaan terhadap
nilai intrinsic mereka sebagai manusia.

Secara substansial terdapat beberapa faktor situasional yang mempengaruhi proses komunikasi
dan persepsi seseorang dalam interaksi antarpersonalnya yaitu pertama, deskripsi verbal adalah
penggambaran secara langsung tentang seseorang. Ketika seseorang menceritakan bahwa
“wanita itu tinggi, putih, cerdas, rajin, lincah dan kritis” maka sudah terbayang bahwa wanita itu
cantik, bahagia, humoris dan pandai bergaul (pada saat membayangkan maka deskripsi verbal
telah berlangsung).

Kedua, Proksemik yaitu studi tentang penggunaan jarak dalam penyampaian pesan. “ Ketika
Saudara menghadap seorang pejabat lalu Ia mempersilakan saudara duduk pada kursi yang
tersedia sementara Ia duduk jauh dari saudara bahkan dihalangi oleh meja lebar maka saudara
mempersepsikan bahwa pejabat tersebut sebagai orang yang tidak begitu terbuka sehingga
saudara lebih berhati-hati berbicara dengannnya. Ketiga, Kinesik adalah ekspresi sikap dan
gerak tubuh seseorang. Untuk memperjelas tentang kinesik, maka silakan pembaca jawab
pertanyaan, bagaimana pendapat dan penilaian saudara ketika seseorang berbicara terpatah-
patah, kedua telapak tangannya saling meremas dan diletakkan di atas kedua paha yang
dirapatkan? (Jawaban pembaca merupakan persepsi yang didasarkan atas kinesik).

Keempat, Paralinguistik yaitu cara bagaimana seseorang mengucapkan lambang-lambang


verbal, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara dan proses bagaimana menyampaikan
pesan. Tempo bicara yang lambat, ragu-ragu, dan tersendat-sendat akan dipahami sebagai
ungkapan rendah diri atau “kebodohan”. Kelima, artifaktual yaitu meliputi segala macam
penampilan mulai dari potongan rambut, kosmetik yang dipakai, baju, tas, kendaraan dan atribut-
atribut lainnya. Persepsi bahwa seseorang kaya karena Ia mengendari mobil mewah, potongan
rambut yang rapi, menggunakan jas dan berbagai atribut parlente lainnya (padahal tahukah
saudara bahwa ia hanya seorang supir!).

Semua orang merindukan bisa menjelaskan sesuatu dengan baik, namun tidak semua bisa
melakukannya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan ilmu yang dipelajari, keterbatasan
kesungguhan untuk melatih diri, dan keterbatasan dari kegigihan serta semangat. Itulah hal yang
terkadang membuat kualitas dalam penyampaian sesuatu tidak meningkat.

Kemampuan menyampaikan ide hampir sama pentingnya dengan ide itu sendiri. Artinya sebuah
ide yang baik, menarik dan penting ternyata akan kurang bermakna jika disampaikan oleh
seseorang yang kemampuan komunikasinya terbatas. Sebaliknya, ide yang sederhana bahkan
kurang penting akan terkesan luar biasa jika disampaikan dengan teknik komunikasi yang baik.

Peningkatan penyajian informasi dalam dialektika retoris-etis antarpersonal dapat dilakukan


melalui pemaparan fakta yaitu pernyataan yang menunjukkan bahwa sesuatu itu benar. Ada tiga
kriteria yang dijadikan tolak ukur yaitu pertama relevancy adalah fakta yang diungkapkan
bermanfat atau relevan dengan kepentingan pembicara dan pendengar. Kedua, Sufficiency yaitu
fakta dapat mendukung gagasan utama dalam pembicaraan. Ketiga atau yang terakhir adalah
Plausibility yaitu sumber-sumber fakta harus dapat dipercaya nilai kebenarannya.

Sebagai refleksi akhir dalam tulisan ini mengingat kembali tentang seorang kopral kecil, veteran
Perang Dunia II berhasil naik menjadi kaisar Jerman. Dalam bukunya Main Kampf dengan tegas
Hitler mengatakan bahwa keberhasilannya disebabkan oleh kemampuannya berbicara. Ich
Konnte reden, ungkapnya. Lebih lanjut Ia mengungkapkan bahwa Jede Grosse Bewegung Auf
Dieser Erde Verdankt ihr Wachsen den grosseren rednern und nicht den grossen schreibern
(setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan oleh jago-jago
tulisan).

* Muhammad Khairil, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fisip Untad dan Saat ini Sedang
Menempuh Program Pascasarjana (Doktoral/S3) Ilmu Komunikasi di Universitas Padjdjaran
Bandung.

edwi.dosen.upnyk.ac.id/KULIAH%202%20RETORIKA.doc
Berbicara yang akan dapat meningkatkan kualitas eksistensi (keberadaan) di
tengah-tengah orang lain, bukanlah sekadar berbicara, tetapi berbicara yang menarik
(atraktif), bernilai informasi (informatif), menghibur (rekreatif), dan berpengaruh
(persuasif). Dengan kata lain, manusia mesti berbicara berdasarkan seni berbicara yang
dikenal dengan istilah retorika. Retorika adalah seni berkomunikasi secara lisan yang
dilakukan oleh seseorang kepada sejumlah orang secara langsung bertatap muka. Oleh
karena itu, istilah retorika seringkali disamakan dengan istilah pidato. Pada kesempatan
ini, kita akan sama-sama membicarakan dan berlatih bagaimana kita harus
mempersiapkan dan melakukan pidato, agar pidato kita itu memiliki daya tarik,
informatif, rekreatif, dan persuasif.
PENGERTIAN PIDATO
Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada
orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari
besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain
sebagainya.
Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang
mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan
publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.

Tujuan Pidato
Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :
1. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela.
2. Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
3. Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain
senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.

JENIS-JENIS PIDATO
Berdasarkan pada ada tidaknya persiapan, sesuai dengan cara yang dilakukan
waktu persiapan, kita dapat membagi jenis pidato kedalam empat macam, yaitu:
impromtu, manuskrip, memoriter, dan ekstempore.

Pidato impromtu adalah pidato yang dilakukan secara tiba-tiba, spontan, tanpa
persiapan sebelumnya. Apabila Anda menghadiri sebuah acara pertemuan, tiba-tiba Anda
dipanggil untuk menampaikan pidato, maka pidato yang Anda lakukan disebut impromtu.
Bagi juru pidato yang berpengalaman, impromtu memiliki beberapa keuntungan: (1)
Impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, karena
pembicara tidak memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikannya, (2) Gagasan dan
pendapatnya dating secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup, dan (3) Impromtu
memungkinkan Anda terus berpikir. Tetapi bagi juru pidato yang masih “hijau”, belum
berpengalaman, keuntungan-keuntungan di atas tidak akan tampak, bahkan dapat
mendatangkan kerugian sebagai berikut: (1) Impromtu dapat menimbulkan kesimpulan
yang mentah, karena dasar pengetahuan yang tidak memadai, (2) Impromtu
mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat dan tidak lancar, (3) gagasan yang
disampaikan bisa “acak-acakan” dan ngawur, dan (4) Karena tiadanya persiapan,
kemungkinan “demam panggung” besar sekali. Jadi, bagi yang belum berpengalaman,
impromtu sebaiknya dihindari daripada Anda tampak “bodoh” di hadapan orang lain.

Pidato Manuskrip adalah pidato dengan naskah. Juru pidato membacakan naskah pidato
dari awal sampai akhir. Di sini lebih tepat jika kita menyebutnya”membacakan pidato”
dan bukan “menyampaikan pidato”. Pidato manuskrip perlu dilakukan jika isi yang
disampaikan tidak boleh ada kesalahan. Misalnya, ketika Anda diminta untuk melaporkan
keadaan keuangan DKM, berapa pemasukan, dari mana saja sumbernya, dan berapa
pengeluaran serta untuk apa uang dikeluarkan, Anda perlu menuliskannya dalam bentuk
naskah dan baru kemudian membacakannya.
Pidato manuskrip tentu saja bukan jenis pidato yang baik walaupun memiliki
keuntungan-keuntungan sebagai berikut: (1) Kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya
sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang, (2)
Pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun kembali, (3) Kefasihan bicara
dapat dicapai karena kata-kata sudah disiapkan, (4) Hal-hal yang ngawur atau
menyimpang dapat dihindari, dan (5) Manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.
Namun demikian, ditinjau dari proses komunikasi, pidato manuskrip kerugiannya
cukup berat: (1) Komunikasi pendengar akan akan berkurang karena pembicara tidak
berbicara langsung kepada mereka, (2) Pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan
baik karena ia lebih berkonsentrasi pada teks pidato, sehingga akan kehilangan gerak dan
bersifat kaku, (3) Umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek
atau memperpanjang pesan, dan (4) Pembuatannya lebih lama.
Pidato Memoriter adalah pidato yang ditulis dalam bentuk naskah kemudian dihapalkan
kata demi kata, seperti seorang siswa madrasah menyampaikan nasihat pada acara
imtihan. Pada pidato jenis ini, yang penting Anda memiliki kemampuan menghapalkan
teks pidato dan mengingat kata-kata yang ada di dalamnya dengan baik. Keuntungannya
(jika hapal), pidato Anda akan lancar, tetapi kerugiannya Anda akan berpidato secara
datar dan monoton, sehingga tidak akan mampu menarik perhatian hadirin.

Pidato Ekstempore adalah pidato yang paling baik dan paling sering digunakan oleh
juru pidato yang berpengalaman dan mahir. Dalam menyampaikan pidato jenis ini, juru
pidato hanya menyiapkan garis-garis besar (out-line) dan pokok-pokok bahasan
penunjang (supporting points) saja. Tetapi, pembicara tidak berusaha mengingat atau
menghapalkannya kata demi kata. Out-line hanya merupakan pedoman untuk mengatur
gagasan yang ada dalam pikiran kita. Keuntungan pidato ekstempore ialah komunikasi
pendengar dan pembicara lebih baik karena pembicara berbicara langsung kepada
pendengar atau khalayaknya, pesan dapat fleksibel untuk diubah sesuai dengan
kebutuhan dan penyajiannya lebih spontan. Pidato jenis ini memerlukan latihan yang
intensif bagi pelakunya.

Jenis-jenis pidato juga dapat diidentifikasi berdasarkan tujuan pokok pidato yang
disampaikan. Berdasarkan tujuannya, kita mengenal jenis-jenis pidato: pidato
informatif, pidato persuasif, dan pidato rekreatif. Pidato informatif adalah pidato
yang tujuan utamanya untuk menyampaikan informasi agar orang menjadi tahu tentang
sesuatu. Pidato pesuasif adalah pidato yang tujuan utamanya membujuk atau
mempengaruhi orang lain agar mau menerima ajakan kita secara sukarela bukan sukar
rela. Pidato rekreatif adalah pidato yang tujuan utamanya adalah menyenangkan atau
menghibur orang lain. Namun demikian, perlu disadari bahwa dalam kenyataannya ketiga
jenis pidato ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi satu sama lain.
Perbedaan di antara ketiganya semata-mata hanya terletak pada titik berat (emphasis)
tujuan pokok pidato.

Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi :
1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau
mc.
2. Pidato pengarahan adalah pdato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.
3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan
atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang
terbatas secara bergantian.
4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk
meresmikan sesuatu.
5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.
6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan
pertanggungjawaban.

TAHAP PERSIAPAN PIDATO


Sebelum berpidato, berdakwah, atau berceramah, kita harus mengetahui lebih
dulu apa yang akan kita sampaikan dan tingkah laku apa yang diharapkan dari khalayak
kita; bagaimana kita akan mengembangkan topik bahasan. Dengan demikian, dalam
tahap persiapan pidato, ada dua hal yang harus kita lakukan, yaitu: (1) Memilih Topik
dan Tujuan Pidato dan (2) Mengembangkan Topik Bahasan.

1. Memilih Topik dan Tujuan Pidato


Seringkali kita menjadi bingung ketika harus mencari topik yang baik, seakan-
akan dunia ini kekeringan bahan pembicaraan, seakan-akan kita tidak memiliki keahlian
apa-apa. Jangan bingung, karena sebenarnya setiap orang memiliki keahlian masing-
masing, hanya kita seringkali tidak menyadarinya. Mang Endang mungkin tidak dapat
berbicara tentang hukum waris dengan baik, tetapi Mang Endang dapat dengan lancar
berbicara tentang cara memperbaiki mobil yang rusak. Pak Haji Holis mungkin akan
sangat lancar berbicara tentang hukum waris, tetapi hampir pasti beliau akan gagap jika
diminta menjelaskan bagaimana caranya memperbaiki mobil yang mogok. Inilah yang
disebut keahlian spesifik. Setiap orang punya potensi untuk ahli di bidangnya masing-
masing. Hal yang akan menjadi masalah bagi seseorang ketika harus berpidato adalah
jika orang itu memaksakan diri berbicara tentang persoalan yang tidak dikuasainya, hal
yang tidak dipahaminya (Numawi kitu, ulah maksakeun anjeun nyarios anu urang
nyalira henteu ngartos kana naon anu dicarioskeun!).
Untuk membantu Anda menemukan topik bahasan dalam pidato, Profesor Wayne N.
Thompson menyusun sitematika sumber topik sebagai berikut:
o Pengalaman Pribadi:
o Perjalanan
o Tempat yang pernah dikunjungi
o Wawancara dengan tokoh
o Kejadian luar biasa
o Peristiwa lucu
o Kelakukan atau adat yang aneh
o Hobby dan Keterampilan: Cara melakukan sesuatu, Cara bekerja sesuatu
o Peraturan dan tata cara
o Pengalaman Pekerjaan dan Profesi
o Pekerjaan tambahan
o Profesi Keluarga
o Masalah Abadi
o Agama
o Pendidikan
o Masalah kemasyarakatan
o Persoalan pribadi
o Kejadian Khusus: Perayaan atau peringatan khusus (Misalnya, Maulud
Nabi)
o Peristiwa yang erat kaitannya dengan peringatan
o Minat Khalayak: Pekerjaan, Rumah tangga, Kesehatan dan penampilan
o Tambahan ilmu

Kriteria Topik yang Baik


Untuk menentukan topik yang baik, kita dapat menggunakan ukuran-ukuran sebagai
berikut:
Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan Anda
Topik yang paling baik adalah topik yang memberikan kemungkinan Anda lebih
tahu daripada khalayak, Anda lebih ahli dibandingkan dengan kebanyakan
pendengar. Jika Anda merupakan orang yang paling tahu tentang tata cara sholat
yang baik dibandingkan dengan orang lain, maka berpidatolah dengan tema atau
topik itu; sebaliknya jika Anda tidak begitu paham tentang tata cara sholat yang
baik, jangan pernah Anda memaksakan diri untuk berbicara tentang masalah itu.
Topik harus menarik minat Anda
Topik yang enak dibicarakan tentu saja adalah topik yang paling Anda senangi
atau topik yang paling menyentuh emosi Anda. Anda akan dapat berbicara lancar
tentang kaitan berpuasa dengan ketentraman hati, sebab Anda pernah merasa
tidak tenang ketika pernah tidak berpuasa secara sengaja di bulan ramadhan.
Topik harus menarik minat pendengar
Dalam berdakwah atau berpidato, kita berbicara untuk orang lain, bukan untuk
diri kita sendiri. Jika tidak ingin ditinggalkan pendengar atau diacuhkan oleh
hadirin, Anda harus berbicara tentang sesuatu yang diminati mereka. Walaupun
hal-hal yang menarik perhatian itu sangat tergantung pada situasi dan latar
belakang khalayak/hadirin, namun hal-hal yang bersifat baru dan indah, hal-hal
yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan, konflik, ketegangan,
ketidakpastian, hal yang berkaitan dengan keluarga, humor, rahasia, atau hal-hal
yang memiliki manfaat nyata bagi hadirin adalah topik-topik yang akan menarik
perhatian.
Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar
Betapapun baiknya topik, jika tidak dapat dicerna oleh khalayak, topik itu bukan
saja tidak menarik tetapi bahkan akan membingungkan mereka. Oleh karena itu,
sebelum Anda menentukan topik dakwah, ketahuilah terlebih dahulu bagaimana
rata-rata tingkat pengetahuan pendengar yang menjadi khalayak sasaran pidato
Anda. Gunakanlah bahasa, gaya bahasa, dan istilah-istilah yang dimengerti oleh
hadirin, bukan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh Anda (meskipun istilah itu
keren sekali).
Topik harus jelas ruang lingkup dan pembatasannya
Topik yang baik tidak boleh terlalu luas, sehingga setiap bagian hanya
memperoleh ulasan sekilas saja, atau “ngawur”. Misalnya, Anda memilih topik
Agama, tetapi kita tahu agama itu luas sekali. Agama bisa menyangkut moralitas,
sistem kepercayaan, cara beribadat, dan lain-lain. Agar topik kita jelas, ambilah
misalnya tentang cara beribadat, lebih jelas lagi ambilah topik tentang sholat yang
khusu’, dan seterusnya.
Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi
Maksudnya, kita harus memilih topik pidato atau topik dakwah yang sesuai
dengan waktu yang tersedia dan situasi yang terjadi. Jika Anda diberikan waktu
untuk berbicara selama 10 menit, janganlah Anda memilih topik yang terlalu luas
yang tidak mungkin dijelaskan dalam waktu 10 menit. Jika Anda harus berbicara
di hadapan para santri yang rata-rata usianya belum akil baligh, janganlah Anda
memilih topik dakwah tentang tata cara hubungan suami-istri, bicaralah tentang
kebersihan sekolah, misalnya.
Topik harus dapat ditunjang dengan bahan yang lain
Jika Anda memilih topik tentang Hadits Shahih dan Dhoif, lengkapi bahan
pembicaraan Anda dengan sumber-sumber rujukan (bisa berupa: kitab, buku, atau
perkataan ulama) yang sesuai.

Merumuskan Judul Pidato


Hal yang erat kaitannya dengan topik adalah judul. Bila topik adalah pokok
bahasan yang akan diulas, maka judul adalah nama yang diberikan untuk pokok bahasan
itu. Seringkali judul telah dikemukakan lebih dahulu kepada khalayak, karena itu judul
perlu dirumuskan terlebih dahulu. Judul yang baik harus memenuhi tiga syarat, yaitu:
relevan, propokatif, dan singkat. Relevan artinya ada hubungannya dengan pokok-
pokok bahasan; Propokatif artinya dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusiasme
pendengar; Singkat berarti mudah ditangkap maksudnya, pendek kalimatnya, dan mudah
diingat.

Menentukan Tujuan Pidato


Ada dua macam tujuan pidato, yakni: tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan
umum pidato biasanya dirumuskan dalam tiga hal: memberitahukan (informatif),
mempengaruhi (persuasif), dan menghibur (rekreatif). Tujuan khusus ialah tujuan yang
dapat dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus bersifat kongkret dan sebaiknya dapat
diukur tingkat pencapaiannya atau dapat dibuktikan segera.
Hubungan antara topik judul, tujuan umum, dan tujuan khusus dapat dilihat pada contoh-
contoh di bawah ini:
Topik : Faedah memiliki sifat pemaaf
Judul : Pemaaf Sumber Kebahagiaan
Tujuan Umum : Informatif (memberi tahu)
Tujuan Khusus: Pendengar mengetahui bahwa:
Sifat dendam menimbulkan gangguan jasmani dan rohani
Sifat pemaaf menimbulkan ketentraman jiwa dan kesehatan

2. Teknik Mengembangkan Pokok Bahasan


Bila topik yang baik sudah ditemukan, kita memerlukan keterangan untuk menunjang
topik tersebut. Keterangan penunjang (supporting points) dipergunakan untuk
memperjelas uraian, memperkuat kesan, menambah daya tarik, dan mempermudah
pengertian.
Ada enam macam teknik pengembangan bahasan dalam berpidato:
Penjelasan. Penjelasan adalah memberikan keterangan terhadap istilah atau kata-kata
yang disampaikan. Memberikan penjelasan dapat dilakukan dengan cara memberikan
pengertian atau definisi. Misalnya, istilah Iman kepada Allah Anda jelaskan dengan
kalimat: “Iman adalah rasa percaya dan yakin akan kebenaran adanya Allah di
dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan melaksanakan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya.”
Contoh. Contoh adalah upaya untuk mengkongkretkan gagasan, sehingga lebih
mudah untuk dipahami. Contoh dalam pidato dapat berupa cerita yang rinci yang
disebut ilustrasi. Untuk memberikan contoh tetantang kesabaran, misalnya Anda
menggunakan cerita tentang kesabaran Nabi Ayub dalam menghadapi cobaan Allah
melalui penyakit kulit yang dideritanya.
Analogi. Analogi adalah perbandingan antara dua hal atau lebih untuk menunjukkan
persamaan atau perbedaannya. Ada dua macam analogi: analogi harfiyah dan
analogi kiasan. Analogi harfiyah (literal analogy) adalah perbandingan di antara
objek-objek dari kelompok yang sama, karena adanya persamaan dalam beberapa
aspek tertentu. Misalnya, membandingkan manusia dengan monyet secara biologis.
Analogi kiasan adalah perbandingan di antara objek-objek di antara kelompok yang
tidak sama.
Testimoni. Testimoni ialah pernyataan ahli yang kita kutip untuk menunjang
pembicaraan kita. Pendapat ahli itu dapat kita ambil dari pidato seorang ahli, tulisan
di surat kabar, acara televisi, dan lain-lain, termasuk kutipan dari kitab suci, hadits,
dan sejenisnya.
Statistik. Statistik adalah angka-angka yang dipergunakan untuk menunjukkan
perbandingan kasus dalam jenis tertentu. Statistik diambil untuk menimbulkan kesan
yang kuat, memperjelas, dan meyakinkan. Misalnya, untuk melukiskan betapa
bokbroknya akhlak generasi muda di Indonesia, Anda menggunakan kalimat, “Wahai
saudara-saudara, menurut hasil penelitian, saat ini lebih dari 65 persen remaja di
Indonesia telah melakukan hubungan seks sebelum nikah…”
Perulangan. Perulangan adalah menyebutkan kembali gagasan yang sama dengan
kata-kata yang berbeda. Perulangan berfungsi untuk menegaskan dan mengingatkan
kembali.

Teknik Menyusun Pesan Pidato


H.A. Overstreet, seorang ahli ilmu jiwa untuk mempengaruhi manusia, berkata,
“let your speech march”. Suruh pidato Anda berbaris tertib seperti barisan tentara dalam
suatu pawai. Pidato yang tersusun tertib (well-organized) akan menciptakan suasana yang
favorable, membangkitkan minat, memperlihatkan pembagian pesan yang jelas, sehingga
memudahkan pengertian, mempertegas gagasan pokok, dan menunjukkan perkembangan
pokok-pokok pikiran secara logis. Pengorganisasian pesan dapat dilihat menurut isi pesan
itu sendiri atau dengan mengikuti proses berpikir manusia. Yang pertama kita sebut
organisasi pesan (messages organization) dan yang kedua disebut pengaturan pesan
(message arrangement).

Organisasi Pesan
Organisasi pesan dapat mengikuti enam macam urutan (sequence), yaitu:
deduktif, induktif, kronologis, logis, spasial, dan topikal. Urutan deduktif dimulai
dengan menyatakan dulu gagasan utama, kemudian memperjelasnya dengan keterangan
penunjang, penyimpulan, dan bukti. Sebaliknya, dalam urutan induktif kita
mengemukakan perincian-perincian dan kemudian menarik kesimpulan. Jika Anda
menyatakan dulu mengapa perlu menghentikan kebiasaan merokok, lalau menguraikan
alasan-alasannya, Anda menggunakan urutan deduktif. Tetapi bila Anda menceritakan
sekian banyak contoh dan pernyataan dokter tentang akibat buruk merokok dan kemudian
Anda menyimpulkan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, maka Anda menggunakan
urutan induktif.
Dalam urutan kronologis, pesan disusun berdasarkan urutan waktu terjadinya peristiwa.
Dalam urutan logis, pesan disusun berdasarkan sebab ke akibat atau dari akibat ke sebab.
Bila Anda menjelaskan proses kekufuran dari sebab-sebabnya lalu ke gejala-gekalnya,
maka Anda mengikuti urutan logis dari sebab ke akibat..
Dalam urutan spasial, pesan disusun berdasarkan tempat. Cara ini dipergunakan jika
pesan berhubungan dengan subjek geografis atau keadaan fisik lokasi..
Dalam urutan topikal, pesan disusun berdasarkan topik pembicaraan: klasifikasinya, dari
yang penting ke yang kurang penting, dari yang mudah ke yang sukar, dari yang dikenal
ke yang asing.

Pengaturan Pesan
Bila pesan sudah terorganisasi dengan baik, kita masih perlu menyesuaikan
organisasi pesan ini dengan cara berpikir khalayak pendengar. Urutan pesan yang sejalan
dengan proses berpikir manusia disebut oleh Alan H. Monroe sebagai motivated
sequence (urutan bermotif). Menurut Monroe, ada lima tahap urutan bermotif: perhatian
(attention), kebutuhan (needs), pemuasan (satisfaction), visualisasi (visualization),
dan tindakan (action).
Dengan demikian, pidato yang baik dan efektif adalah pidato yang sejak awal mampu
membangkitkan perhatian khalayak pendengar, mampu membuat pendengar merasakan
adanya kebutuhan tertentu, memberikan petunjuk bagaimana cara memuaskan kebutuhan
tersebut, dapat menggambarkan dalam pikirannya penerapan usul yang dianjurkan
kepadanya, dan akhirnya mampu menggerakkan khalayak untuk bertindak sesuai anjuran
kita.
Misalnya, kita akan mengajak seseorang untuk memotong rambutnya yang gondrong.
Anda memuali pembicaraan dengan melontarkan perkataan: “Lihat rambutmu!!! Kutu-
kutu bergelantungan dengan bebasnya…” Anda sedang memasuki tahap perhatian. Lalu
Anda berkata lagi, “Kutu-kutu itu tentu membuat kepalamu gatal dan kamu pasti tidak
bisa tidur nyenyak…” Anda tengah berada pada tahap membangkitkan kebutuhan.
“Memotong rambut itu mudah dan murah, cukup dengan uang Rp 3.000 atau bahkan
gratis…” Anda masuk pada tahap pemuasan. “Jika kamu tetap membiarkan rambutmu
jabrig begitu dan membebaskan kutu-kutu menyedot darahmu, kamu tampak seperti
orang kurang waras dan mustahil gadis-gadis di desa ini akan tertarik kepadamu…, tapi
jika kamu cepat memotong dan merapihkan rambutmu, kutu-kutu itu akan segera
mengucapkan selamat tinggal pada kepalamu dan gadis-gadis cantik akan mengucapkan
selamat datang arjunaku…” Anda sudah masuk pada tahap visualisai. “Ayo, cukurlah
rambutmu sekarang…!!!” Anda melakukan tahap tindakan.

Membuat Garis-garis Besar Pidato


Garis-garia besar (out-line) pidato merupakan pelengkap yang amat berharga bagi
pembicara yang berpengalaman dan merupakan keharusan bagi pembicara yang belum
berpengalaman. Garis besar pidato ibarat peta bumi bagi komunikator yang akan
memasuki daerah kegiatan retorika. Peta ini memberikan petunjuk dan arah yang akan
dituju. Garis besar yang salah akan mengacaukan “perjalanan” pembicaraan, dan garis
besar yang teratur akan menertibkan “jalannya” pidato.
Garis-garis besar pidato yang baik terdiri dari tiga bagian: pengantar, isi, dan
penutup. Dengan menggunakan urutan bermotif dari Alan H. Monroe, kita dapat
membaginya menjadi lima bagian: perhatian, kebutuhan, pemuasan, visualisasi, dan
tindakan. Perhatian ditempatkan pada pengantar; kebutuhan, pemuasan, dan visualisasi
kita tempatkan pada isi; dan tindakan kita tempatkan pada penutup pidato

contoh pidato sederhana

Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu Guru, serta teman-teman yang saya

cintai.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

atas segala rahmat-Nya pada hari ini kita dapat berkumpul bersama guna mengadakan acara

perpisahan sekolah.

Para hadirin yang saya hormati, ijinkan saya mewakili teman-teman untuk menyampaikan

sepatah dua patah kata dalam rangka perpisahan ini.

Selama bersekolah, kami sebagai siswa sangat bangga dan berterima kasih dengan semua

guru yang telah mengajar di sekolah ini, yang dengan sangat baik, tidak pernah pilih kasih

dalam mendidik, sangat sabar dan tidak kenal lelah dalam membimbing kami. Berkat jerih

payah semua guru, kami pun dapat lulus dari SMP ini.

Mudah-mudahan semua guru yang bertugas mengajar di sekolah ini dapat diberikan

kesehatan yang baik dan diberi kebahagiaan selalu.

Juga untuk teman2 semua. Sungguh berat rasanya berpisah dengan kalian semua, karena kita

sudah bersama2 selama 3 tahun ini. Tapi tetap saya juga mendoakan teman2 semua dapat

melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, baik ke SMA, ke SMK, ke STM maupun institusi

pendidikan lainnya untuk dapat mencapai cita2 yang selama ini diangan2kan.

Akhir kata, saya mau mengucapkan sukses selalu buat teman2, doa saya menyertai teman2

semua...

SEJARAH RETORIKA
Objek studi retorika setua kehidupan manusia. Kefasihan bicara mungkin
pertama kali dipertunjukkan dalam upacara adat: kelahiran, kematian, lamaran,
perkawinan, dan sebagainya. Pidato disampaikan oleh orang yang mempunyai status
tinggi. Dalam perkembangan peradaban pidato melingkupi bidang yang lebih luas.
"Sejarah manusia", kata Lewis Copeland dalam kata pengantar bukunya tentang
pidato tokoh-tokoh besar dalam sejarah, "terutama sekali adalah catatan peristiwa
penting yang dramatis, yang seringkali disebabkan oleh pidato-pidato besar. Sejak
Yunani dan Roma sampai zaman kita sekarang, kepandaian pidato dan
kenegarawanan selalu berkaitan. Banyak jago pedang juga terkenal dengan
kefasihan bicaranya yang menawan".
Uraian sistematis retorika yang pertama diletakkan oleh orang Syracuse,
sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Bertahun-tahun koloni itu diperintah para tiran.
Tiran, di mana pun dan pada zaman apa pun, senang menggusur tanah rakyat. Kira-
kira tahun 465 SM, rakyat melancarkan revolusi. Diktator ditumbangkan dan
demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi tanah rakyat kepada
pemiliknya yang sah. Di sinilah kemusykilan terjadi. Untuk mengambil haknya,
pemilik tanah harus sanggup meyakinkan dewan juri di pengadilan. Waktu itu, tidak
ada pengacara dan tidak ada sertifikat tanah. Setiap orang harus meyakinkan
mahkamah dengan pembicaraan saja. Sering orang tidak berhasil memperoleh
kembali tanahnya, hanya karena ia tidak pandai bicara.
Untuk membantu orang memenangkan haknya di pengadilan, Corax menulis
makalah retorika, yang diberi nama Techne Logon (Seni Kata-kata). Walaupun
makalah ini sudah tidak ada, dari para penulis sezaman, kita mengetahui bahwa
dalam makalah itu ia berbicara tentang "teknik kemungkinan". Bila kita tidak dapat
memastikan sesuatu, mulailah dari kemungkinan umum. Seorang kaya mencuri dan
dituntut di pengadilan untuk pertama kalinya. Dengan teknik kemungkinan, kita
bertanya, "Mungkinkah seorang yang berkecukupan mengorbankan kehormatannya
dengan mencuri? Bukankah, sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diajukan ke
pengadilan karena mencuri". Sekarang, seorang miskin mencuri dan diajukan ke
pengadilan untuk kedua kalinya. Kita bertanya, "la pernah mencuri dan pernah
dihukum. Mana mungkin ia berani melakukan lagi pekerjaan yang sama". Akhirnya,
retorika memang mirip "ilmu silat lidah".
Di samping teknik kemungkinan, Corax meletakkan dasar-dasar organisasi
pesan. Ia membagi pidato pada lima bagian: pembukaan, uraian, argumen,
penjelasan tambahan, dan kesimpuln. Dari sini, para ahli retorika kelak
mengembangkan organisasi pidato. Walaupun demokrasi gaya Syracuse tidak
bertahan lama, ajaran Corax tetap berpengaruh. Konon, Gelon, penguasa yang
menggulingkan demokrasi dan menegakkan kembali tirani, menderita halitosis (bau
mulut). Karena ia tiran yang kejam, tak seorang pun berani memberitahukan hal itu
kepadanya. Sampai di negeri yang asing, seorang perempuan asing berani
menyebutkannya. Ia terkejut. Ia memarahi istrinya, yang bertahun-tahun begitu
dekat dengannya, tetapi tidak memberitahukannya. Istrinya menjawab bahwa karena
ia tidak pernah dekat dengan laki-laki lain, ia mengira semua laki-laki sama. Gelon
tidak jadi menghukum istrinya. Tampaknya, sang istri sudah belajar retorika dari
Corax.
Masih di Pulau Sicilia, tetapi di Agrigenturn, hidup Empedocles (490-430 SM),
filosof, mistikus, politisi, dan sekaligus orator. Ia cerdas dan menguasai banyak
pengetahuan. Sebagai filosof, ia pernah berguru kepada Pythagoras dan menulis The
Nature of Things. Sebagai mistikus, ia percaya bahwa setiap orang bisa bersatu
dengan Tuhan bila ia menjauhi perbuatan yang tercela. Sebagai politisi, ia memimpin
pemberontakan untuk menggulingkan aristokrasi dan kekuasaan diktator. Sebagai
orator, menurut Aristoteles, "ia mengajarkan prinsip-prinsip retorika, yang kelak
dijual Gorgias kepada penduduk Athena".
Tahun 427 SM Gorgias dikirim sebagai duta ke Athena. Negeri itu sedang
tumbuh sebagai negara yang kaya. Kelas pedagang kosmopolitan selain memiliki
waktu luang lebih banyak, juga terbuka pada gagasan-gagasan baru. Di Dewan
Perwakilan Rakyat, di pengadilan, orang memerlukan kemampuan berpikir yang
jernih dan logis serta berbicara yang jelas dan persuasif. Gorgias memenuhi
kebutuhan "pasar" ini dengan mendirikan sekolah retorika. Gorgias menekankan
dimensi bahasa yang puitis dan teknik berbicara impromtu (kita bahas pada Bab II).
Ia meminta bayaran yang mahal; sekitar sepuluh ribu drachma ($ 10.000) untuk
seorang murid saja. Bersama Protagoras dan kawan-kawan, Gorgias berpindah dari
satu kota ke kota yang lain. Mereka adalah "dosen-dosen terbang".
Protagoras menyebut kelompoknya sophistai, "guru kebijaksanaan" Sejarahwan
menyebut mereka kelompok Sophis. Mereka berjasa mengembangkan retorika dan
mempopulerkannya. Retorika, bagi mereka bukan hanya ilmu pidato, tetapi meliputi
pengetahuan sastra, gramatika, dan logika. Mereka tahu bahwa rasio tidak cukup
untuk meyakinkan orang. Mereka mengajarkan teknik-teknik memanipulasi emosi
dan menggunakan prasangka untuk menyentuh hati pendengar. Berkat kaum Sophis,
abad keempat sebelum Masehi adalah abad retorika. Jago-jago pidato muncul di
pesta Olimpiade, di gedung perwakilan dan pengadilan. Bila mereka bertanding,
orang-orang Athena berdatangan dari tempat-tempat jauh; dan menikmati "adu
pidato" seperti menikmati pertandingan tinju. Kita hanya akan menyebutkan dua
tokoh saja sebagai contoh: Demosthenes dan Isocrates.
Berbeda dengan Gorgias, Demosthenes mengembangkan gaya bicara yang
tidak berbunga-bunga, tetapi jelas dan keras. Dengan cerdik, ia menggabungkan
narasi dan argumentasi. Ia juga amat memperhatikan cara penyampaian (delivery).
Menurut Will Durant, "ia meletakkan rahasia pidato pada akting (hypocrisis).
Berdasarkan keyakinan ini, ia berlatih pidato dengan sabar. Ia mengulang-ulangnya
di depan cermin. Ia membuat gua, dan berbulan-bulan tinggal di sana, berlatih
dengan diam-diam. Pada masa-masa ini, ia mencukur rambutnya sebelah, supaya ia
tidak berani keluar dari persembunyiannya. Di mimbar, ia melengkungkan tubuhnya,
bergerak berputar, meletakkan tangan di atas dahinya seperti berpikir, dan seringkali
mengeraskan suaranya seperti menjerit.
Demosthenes pernah diusulkan untuk diberi mahkota atas jasa-jasanya kepada
negara dan atas kenegarawanannya. Aeschines, orator lainnya, menentang
pemberian mahkota dan memandangnya tidak konstitusional. Di depan Mahkamah
yang terdiri dari ratusan anggota juri, ia melancarkan kecamannya kepada
Demosthenes. Pada gilirannya, Demosthenes menyerang Aeschines dalam pidatonya
yang terkenal Perihal Mahkota. Dewan juri memihak Demosthenes dan menuntut
Aeschines untuk membayar denda. Aeschines lari ke Rhodes dan hidup dari kursus
retorika yang tidak begitu laku. Konon, Demosthenes mengirimkan uang kepadanya
untuk membebaskannya dari kemiskinan. Persaudaraan karena profesi!
Duel antara dua orator itu telah dikaji sepanjang sejarah. Inilah buah
pendidikan yang dirintis oleh kaum Sophis. Tetapi ini juga yang membentuk citra
negatif tentang kaum Sophis. Seorang tokoh yang berusaha mengembangkan
retorika dengan menyingkirkan Sophisme negatif adalah Isocrates. Isocrates percaya
bahwa retorika dapat meningkatkan kualitas masyarakat; bahwa retorika tidak boleh
dipisahkan dari politik dan sastra. Tetapi ia menganggap tidak semua orang boleh
diberi pelajaran ini. Retorika menjadi sebuah pelajaran elit, hanya untuk mereka
yang berbakat.
Ia mendirikan sekolah retorika yang paling berhasil tahun 391 SM. Ia mendidik
muridnya menggunakan kata-kata dalam susunan yang jernih tetapi tidak berlebih-
lebihan, dalam rentetan anak kalimat yang seimbang dengan pergeseran suara dan
gagasan yang lancar. Karena ia tidak mempunyai suara yang baik dan keberanian
untuk tampil, ia hanya menuliskan pidatonya. Ia menulis risalah-risalah pendek dan
menyebarkannya. Sampai sekarang risalah-risalah ini dianggap warisan prosa Yunani
yang menakjubkan. Gaya bahasa Isocrates telah mengilhami tokoh-tokoh retorika
sepanjang zaman: Cicero, Milton, Massillon, Jeremy Taylor, dan Edmund Burke.
Salah satu risalah yang ditulisnya mengkritik kaum Sophis. Risalah ini ikut
membantu berkembangnya kebencian kepada kaum Sophis. Di samping itu, kaum
Sophis kebanyakan para pendatang asing di Athena. Orang selalu mencurigai yang
dibawa orang asing. Apalagi mereka mengaku mengajarkan kebijaksanaan dengan
menuntut bayaran. Yang tidak sanggup membayar tentu saja melepaskan
kekecewaannya dengan mengecam mereka.
Socrates, misalnya, hanya sanggup membayar satu drachma untuk kursus
yang diberikan Prodicus. Karena itu, ia hanya memperoleh dasar-dasar bahasa yang
sangat rendah saja. Socrates mengkritik kaum Sophis sebagai para prostitut. Orang
yang menjual kecantikan untuk memperoleh uang, kata Socrates, adalah prostitut.
Begitu juga, orang yang menjual kebijaksanaan. Murid Socrates yang menerima
pendapat gurunya tentang Sophisme adalah Plato.
Plato menjadikan Gorgias dan Socrates sebagai contoh retorika yang palsu dan
retorika yang benar, atau retorika yang berdasarkan pada Sophisme dan retorika
yang berdasarkan pada filsafat. Sophisme mengajarkan kebenaran yang relatif.
Filsafat membawa orang kepada pengetahuan yang sejati. Ketika merumuskan
retorika yang benar - yang membawa orang kepada hakikat - Plato membahas
organisasi, gaya, dan penyampaian pesan. Dalam karyanya, Dialog, Plato meng-
anjurkan para pembicara untuk mengenal "jiwa" pendengarnya. Dengan demikian,
Plato meletakkan dasar-dasar retorika ilmiah dan psikologi khalayak. Ia telah
mengubah retorika sebagai sekumpulan teknik (Sophisme) menjadi sebuah wacana
ilmiah.
Aristoteles, murid Plato yang paling cerdas melanjutkan kajian retorika ilmiah.
Ia menulis tiga jilid buku yang berjudul De Arte Rhetorica. Dari Aristoteles dan ahli
retorika klasik, kita memperoleh lima tahap penyusunan pidato: terkenal sebagai
Lima Hukum Retorika (The Five Canons of Rhetoric). Inventio (penemuan). Pada
tahap ini, pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui
metode persuasi yang paling tepat. Bagi Aristoteles, retorika tidak lain daripada
"kemampuan untuk menentukan, dalam kejadian tertentu dan situasi tertentu,
metode persuasi yang ada". Dalam tahap ini juga, pembicara merumuskan tujuan
dan mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan khalayak.
Aristoteles menyebut tiga cara untuk mempengaruhi manusia. Pertama, Anda
harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa Anda memiliki pengetahuan
yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Kedua,
Anda harus Menyentuh hati khalayak perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih
sayang mereka (pathos). Kelak, para ahli retorika modern menyebutnya imbauan
emotional (emotional appeals). Ketiga, Anda Meyakinkan khalayak dengan
mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini Anda mendekati
khalayak lewat otaknya (logos).
Di samping ethos, pathos, dan logos, Aristoteles menyebutkan dua cara lagi
yang efektif untuk mempengaruhi pendengar: entimem dan contoh. Entimem
(Bahasa Yunani: "en" di dalam dan "thymos" pikiran) adalah sejenis silogisme yang
tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk
menimbulkan keyakinan. Disebut tidak lengkap, karena sebagian premis dihilangkan.
Sebagaimana Anda ketahui, silogisme terdiri atas tiga premis: mayor, minor,
dan kesimpulan. Semua manusia mempunyai perasaan iba kepada orang yang
menderita (mayor). Anda manusia (minor). Tentu Anda pun mempunyai perasaan
yang sama (kesimpulan). Ketika saya ingin mempengaruhi Anda untuk mengasihi
orang-orang yang menderita, saya berkata, "Kasihanilah mereka. Sebagai manusia,
Anda pasti mempunyai perasaan iba kepada orang yang menderita ". Ucapan yang
ditulis miring menunjukkan silogisme, yang premis mayornya dihilangkan.
Di samping entimem, contoh adalah cara lainnya. Dengan mengemukakan
beberapa contoh, secara induktif Anda membuat kesimpulan umum. Sembilan dari
sepuluh bintang film menggunakan sabun Lnx. Jadi, sabun Lux adalah sabun para
bintang fihn.
Dispositio (penyusunan). Pada tahap ini, pembicara menyusun pidato atau
mengorganisasikan pesan. Aristoteles menyebutnya taxis, yang berarti pembagian.
Pesan harus dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan
berikut ini mengikuti kebiasaan berpikir manusia: pengantar, pernyataan, argumen,
dan epilog. Menurut Aristoteles, pengantar berfungsi menarik perhatian,
menumbuhkan kredibilitas (ethos), dan menjelaskan tujuan.
Elocutio (gaya). Pada tahap ini, pembicara memilih kata-kata dan
menggunakan bahasa yang tepat untuk "mengemas" pesannya. Aristoteles
memberikan nasihat ini: gunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima; pilih
kata-kata yang jelas dan langsung; sampaikan kalimat yang indah, mulia, dan hidup;
dan sesuaikan bahasa dengan pesan, khalayak, dan pembicara.
Memoria (memori). Pada tahap ini, pembicara harus mengingat apa yang ingin
disampaikannya, dengan mengatur bahan-bahan pembicaraannya. Aristoteles
menyarankan "jembatan keledai" untuk memudahkan ingatan. Di antara semua
peninggalan retorika klasik, memori adalah yang paling kurang mendapat perhatian
para ahli retorika modern.
Pronuntiatio (penyampaian). Pada tahap ini, pembicara menyampaikan
pesannya secara lisan. Di sini, akting sangat berperan. Demosthenes menyebutnya
hypocrisis (boleh jadi dari sini muncul kata hipokrit). Pembicara harus
memperhatikan olah suara (vocis) dan gerakangerakan,anggota badan (gestus
moderatio cum venustate).
RETORIKA ZAMAN ROMAWI
Teori retorika Aristoteles sangat sistematis dan komprehensif. Pada satu sisi,
retorika telah memperoleh dasar teoretis yang kokoh. Namun, pada sisi lain,
uraiannya yang lengkap dan persuasif telah membungkam para ahli retorika yang
datang sesudahnya. Orang-orang Romawi selama dua ratus tahun setelah De Arte
Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang berarti bagi perkembangan retorika.
Buku Ad Herrenium, yang ditulis dalam bahasa Latin kira-kira 100 SM, hanya
mensistematisasikan dengan cara Romawi warisan retorika gaya Yunani. Orang-
orang Romawi bahkan hanya mengambil segi-segi praktisnya saja. Walaupun begitu,
kekaisaran Romawi bukan saja subur dengan sekolah-sekolah retorika; tetapi juga
kaya dengan orator-orator ulung: Antonius, Crassus, Rufus, Hortensius. Yang disebut
terakhir terkenal begitu piawai dalam berpidato sehingga para artis berusaha
mempelajari gerakan dan cara penyampaiannya.
Kemampuan Hortensius disempurnakan oleh Cicero. Karena dibesarkan dalam
keluarga kaya dan menikah dengan istri yang memberinya kehormatan dan uang,
Cicero muncul sebagai negarawan dan cendekiawan. Pernah hanya dalam dua tahun
(45-44 SM), ia menulis banyak buku filsafat dan lima buah buku retorika. Dalam teori,
ia tidak banyak menampilkan penemuan baru. Ia banyak mengambil gagasan dari
Isocrates. Ia percaya bahwa efek pidato akan baik, bila yang berpidato adalah orang
baik juga. The good man speaks well. Dalam praktek, Cicero betul-betul orator yang
sangat berpengaruh.
Caesar, penguasa Romawi yang ditakuti, memuji Cicero, "Anda telah
menemukan semua khazanah retorika, dan Andalah orang pertama yang
menggunakan semuanya. Anda telah memperoleh kemenangan yang lebih disukai
dari kemenangan para jenderal. Karena sesungguhnya lebih agung memperluas
batas-batas kecerdasan manusia daripada memperluas batas-batas kerajaan
Romawi".
Kira-kira 57 buah pidatonya sampai kepada kita sekarang ini. Will Durant
menyimpulkan kepada kita gaya pidatonya:
Pidatonya mempunyai kelebihan dalam menyajikan secara bergelora
satu sisi masalah atau karakter; dalam menghibur khalayak dengan
humor dan anekdot; dalam menyentuh kebanggaan, prasangka,
perasaan, patriotisme dan kesalehan; dalam mengungkapkan secara
keras kelemahan lawan - yang sebenarnya atau yang diberitakan, yang
tersembunyi atau yang terbuka; dalam mengalihkan perhatian secara
terampil dari pokok-pokok pembicaraan yang kurang menguntungkan;
dalam memberondong pertanyaan retoris yang sulit dijawab; dalam
menghimpun serangan-serangan, dengan kalimat-kalimat periodik yang
anak-anaknya seperti cambukan dan yang badainya membahana....

Dari tulisan-tulisannya yang sampai sekarang bisa dibaca, kita mengetahui bahwa
Cicero sangat terampil dalam menyederhanakan pembicaraan yang sulit. Bahasa
Latinnya mudah dibaca. Melalui penanya, bahasa mengalir dengan deras tetapi
indah. Puluhan tahun sepeninggal Cicero, Quintillianus mendirikan sekolah retorika.
Ia sangat mengagumi Cicero dan berusaha merumuskan teori-teori retorika dari
pidato dan tulisannya. Apa yang dapat kita pelajari dari Quintillianus? Banyak. Secara
singkat, Will Durant menceritakan kuliah retorika Quantillianus, yang dituliskannya
dalam buku Institutio Oratoria:
Ia mendefinisikan retorika sebagai ilmu berbicara yang baik. Pendidikan
orator harus dimulai sebelum dia lahir: Ia sebaiknya berasal dari
keluarga terdidik, sehingga ia bisa menerima ajaran yang benar dan
akhlak yang baik sejak napas yang ia hirup pertama kalinya. Tidak
mungkin menjadi terpelajar dan terhormat hanya dalam satu generasi.
Calon orator harus mempelajari musik supaya ia mempunyai telinga
yang dapat mendengarkan harmoni; tarian, supaya ia memiliki
keanggunan dan ritma; drama, untuk menghidupkan kefasihannya
dengan gerakan dan tindakan; gimnastik, untuk memberinya kesehatan
dan kekuatan; sastra, untuk membenhik gaya dan melatih memorinya,
dan memperlengkapinya dengan pemikiran-pemikiran besar; sains,
untuk memperkenalkan dia dengan pemahaman mengenai alam; dan
filsafat, untuk membentuk karakternya berdasarkan petunjuk akal dan
bimbingan orang bijak. Karena semua persiapan tidak ada manfaatnya
jika integritas akhlak dan kemuliaan rohani tidak melahirkan ketulusan
bicara yang tak dapat ditolak. Kemudian, pelajar retorika harus menulis
sebanyak dan secermat mungkin.
Sebuah saran yang berlebihan. Tetapi kita diingatkan lagi pada Cicero. The
good man speaks well.
RETORIKA ABAD PERTENGAHAN
Sejak zaman Yunani sampai zaman Romawi, retorika selalu berkaitan dengan
kenegarawanan. Para orator umumnya terlibat dalam kegiatan politik. Ada dua cara
untuk memperoleh kemenangan politik: talk it out ('membicarakan sampai tuntas)
atau shoot it out (menembak sampai habis). Retorika subur pada cara pertama, cara
demokrasi. Ketika demokrasi Romawi mengalami kemunduran, dan kaisar demi
kaisar memegang pemerintahan, "membicarakan" diganti dengan "menembak".
Retorika tersingkir ke belakang panggung. Para kaisar tidak senang mendengar
orang yang pandai berbicara.
Abad pertengahan sering disebut abad kegelapan, juga buat retorika. Ketika
agama Kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Banyak orang
Kristen waktu itu melarang mempelajari retorika yang dirumuskan oleh orang-orang
Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. Bila orang memeluk agama Kristen,
secara otomatis ia akan memiliki kemampuan untuk nmnyampaikan kebenaran. St.
Agustinus, yang telah mempelajari retorika sebelum masuk Kristen tahun 386,
adalah kekecualian pada zaman itu.
Dalam On Christian Doctrine (426), ia menjelaskan bahwa para pengkhotbah
harus sanggup mengajar, menggembirakan, dan menggerakkan - yang oleh Cicero
disebut sebagai kewajiban orator. Untuk mencapai tujuan Kristen, yakni
mengungkapkan kebenaran, kita harus mempelajari teknik penyampaian pesan. Satu
abad kemudian, di Timur muncul peradaban baru. Seorang Nabi menyampaikan
firman Tuhan, "Berilah mereka nasihat dan berbicaralah kepada mereka dengan
pembicaraan yang menyentuh jiwa mereka" (Alquran 4:63). Muhammad saw.
bersabda, memperteguh firman Tuhan ini, "Sesungguhnya dalam kemampuan
berbicara yang baik itu ada sihirnya".
Ia sendiri seorang pembicara yang fasih - dengan kata-kata singkat yang
mengandung makna padat. Para sahabatnya bercerita bahwa ucapannya sering
menyebabkan pendengar berguncang hatinya dan berlinang air matanya. Tetapi ia
tidak hanya menyentuh hati, ia juga mengimbau akal para pendengarnya. Ia sangat
memperhatikan orang-orang yang dihadapinya, dan menyesuaikan pesannya dengan
keadaan mereka. Ada ulama yang mengumpulkan khusus pidatonya dan me-
namainya Madinat al-Balaghah (Kota Balaghah). Salah seorang sahabat yang paling
dikasihinya, Ali bin Abi Thalib, mewarisi ilmunya dalam berbicara. Seperti dilukiskan
Thomas Carlyle, "every antagonist in the combats of tongue or of sword was
subdited by his eloquence and valor". Pada Ali bin Abi Thalib, kefasihan dan
kenegarawanan bergabung kembali. Khotbah-khotbahnya dikumpulkan dengan
cermat oleh para pengikutnya dan diberi judul Nahj al-Balaghah (Jalan Balaghah).
Balaghah menjadi disiplin ilmu yang menduduki status yang mulia dalam
peradaban Islam. Kaum Muslim menggunakan balaghah sebagai pengganti retorika.
Tetapi, warisan retorika Yunani, yang dicampakkan di Eropa Abad Pertengahan, dikaji
dengan tekun oleh para ahli balaghah. Sayang, sangat kurang sekali studi berkenaan
dengan kontribusi Balaghah pada retorika modern. Balaghah, beserta ma'ani dan
bayan, masih tersembunyi di pesantren-pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan
Islam tradisional.
RETORIKA MODERN
Retorika modern diartikan sebagai seni berbicara atau kemampuan untuk
berbicara dan berkhotbah (Hendrikus, 1991); sehingga efektivitas penyampaian
pesan dalam retorika sangat dipengaruhi oleh teknik atau keterampilan berbicara
komunikator.
Abad Pertengahan berlangsung selama seribu tahun (400-1400). Di Eropa,
selama periode panjang itu, warisan peradaban Yunani diabaikan. Pertemuan orang
Eropa dengan Islam - yang menyimpan dan mengembangkan khazanah Yunani -
dalam Perang Salib menimbulkan Renaissance. Salah seorang pemikir Renaissance
yang menarik kembali minat orang pada retorika adalah Peter Ramus. Ia membagi
retorika pada dua bagian. Inventio dan dispositio dimasukkannya sebagai bagian
logika. Sedangkan retorika hanyalah berkenaan dengan elocutio dan pronuntiatio
saja. Taksonomi Ramus berlangsung selama beberapa generasi.
Renaissance mengantarkan kita kepada retorika modern. Yang membangun
jembatan, menghubungkan Renaissance dengan retorika modern adalah Roger
Bacon (1214-1219). Ia bukan saja memperkenalkan metode eksperimental, tetapi
juga pentingnya pengetahuan tentang proses psikologis dalam studi retorika. Ia
menyatakan, "... kewajiban retorika ialah menggunakan rasio dan imajinasi untuk
menggerakkan kemauan secara lebih baik". Rasio, imajinasi, kemauan adalah
fakultas-fakultas psikologis yang kelak menjadi kajian utama ahli retorika modern.
Aliran pertama retorika dalam masa modern, yang menekankan proses
psikologis, dikenal sebagai aliran epistemologis. Epistemologi membahas "teori
pengetahuan"; asal-usul, sifat, metode, dan batas-batas pengetahuan manusia. Para
pemikir epistemologis berusaha mengkaji retorika klasik dalam sorotan
perkembangan psikologi kognitif (yakni, yang membahas proses mental).
George Campbell (1719-1796), dalam bukunya The Philosophy of Rhetoric,
menelaah tulisan Aristoteles, Cicero, dan Quintillianus dengan pendekatan psikologi
fakultas (bukan fakultas psikologi). Psikologi fakultas berusaha menjelaskan sebab-
musabab perilaku manusia pada empat fakultas - atau kemampuan jiwa manusia:
pemahaman, memori, imajinasi, perasaan, dan kemauan. Retorika, menurut definisi
Campbell, haruslah diarahkan kepada upaya "mencerahkan pemahaman,
menyenangkan imajinasi, menggerakkan perasaan, dan mempengaruhi kemauan".
Richard Whately mengembangkan retorika yang dirintis Campbell. Ia
mendasarkan teori retorikanya juga pada psikologi fakultas. Hanya saja ia
menekankan argumentasi sebagai fokus retorika. Retorika harus mengajarkan
bagaimana mencari argumentasi yang tepat dan mengorganisasikannya secara baik.
Baik Whately maupun Campbell menekankan pentingnya menelaah proses berpikir
khalayak. Karena itu, retorika yang berorientasi pada khalayak (audience-centered)
berutang budi pada kaum epistemologis - aliran pertama retorika modern.
Aliran retorika modern kedua dikenal sebagai gerakan belles lettres (Bahasa
Prancis: tulisan yang indah). Retorika belletris sangat mengutamakan keindahan
bahasa, segi-segi estetis pesan, kadang-kadang dengan mengabaikan segi
informatifnya. Hugh Blair (1718-1800) menulis Lectures on Rhetoric and Belles
Lettres. Di sini ia menjelaskan hubungan antara retorika, sastra, dan kritik. Ia
memperkenalkan fakultas citarasa (taste), yaitu kemampuan untuk memperoleh
kenikmatan dari pertemuan dengan apa pun yang indah. Karena memiliki fakultas
citarasa, Anda senang mendengarkan musik yang indah, membaca tulisan yang
indah, melihat pemandangan yang indah, atau mencamkan pidato yang indah.
Citarasa, kata Blair, mencapai kesempurnaan ketika kenikmatan inderawi dipadukan
dengan rasio - ketika rasio dapat menjelaskan sumber-sumber kenikmatan.
Aliran pertama (epistemologi) dan kedua (belles lettres) terutama memusatkan
perhatian mereka pada persiapan pidato - pada penyusunan pesan dan penggunaan
bahasa. Aliran ketiga - disebut gerakan elokusionis - justru menekankan teknik
penyampaian pidato. Gilbert Austin, misalnya memberikan petunjuk praktis
penyampaian pidato, "Pembicara tidak boleh melihat melantur. Ia harus
mengarahkan matanya langsung kepada pendengar, dan menjaga ketenangannya.
Ia tidak boleh segera melepaskan seluruh suaranya, tetapi mulailah dengan nada
yang paling rendah, dan mengeluarkan suaranya sedikit saja; jika ia ingin
mendiamkan gumaman orang dan mencengkeram perhatian mereka". James Burgh,
misal yang lain, menjelaskan 71 emosi dan cara mengungkapkannya.
Dalam perkembangan, gerakan elokusionis dikritik karena perhatian - dan
kesetiaan - yang berlebihan pada teknik. Ketika mengikuti kaum elokusionis,
pembicara tidak lagi berbicara dan bergerak secara spontan. Gerakannya menjadi
artifisial. Walaupun begitu, kaum elokusionis telah berjaya dalam melakukan
penelitian empiris sebelum merumuskan "resep-resep" penyampaian pidato. Retorika
kini tidak lagi ilmu berdasarkan semata-mata "otak-atik otak" atau hasil perenungan
rasional saja. Retorika, seperti disiplin yang lain, dirumuskan dari hasil penelitian
empiris.
Pada abad kedua puluh, retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu
pengetahuan modern - khususnya ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi.
Istilah retorika pun mulai digeser oleh speech, speech communication, atau oral
communication, atau public speaking. Di bawah ini diperkenalkan sebagian dari
tokoh-tokoh retorika mutakhir:
1. James A Winans
Ia adalah perintis penggunaan psikologi modern dalam pidatonya. Bukunya,
Public Speaking, terbit tahun 1917 mempergunakan teori psikologi dari William
James dan E.B. Tichener. Sesuai dengan teori James bahwa tindakan ditentukan oleh
perhatian, Winans, mendefinisikan persuasi sebagai "proses menumbuhkan
perhatian yang memadai baik dan tidak terbagi terhadap proposisi-proposisi". Ia
menerangkan pentingnya membangkitkan emosi melalui motif-motif psikologis
seperti kepentingan pribadi, kewajiban sosial dan kewajiban agama. Cara berpidato
yang bersifat percakapan (conversation) dan teknik-teknik penyampaian pidato
merupakan pembahasan yang amat berharga. Winans adalah pendiri Speech
Communication Association of America (1950).
2. Charles Henry Woolbert
Ia pun termasuk pendiri the Speech Communication Association of America. Kali
ini psikologi yang amat mempengaruhinya adalah behaviorisme dari John B. Watson.
Tidak heran kalau Woolbert memandang "Speech Communication" sebagai ilmu
tingkah laku. Baginya, proses penyusunan pidato adalah kegiatan seluruh organisme.
Pidato merupakan ungkapan kepribadian. Logika adalah dasar utama persuasi.
Dalam penyusunan persiapan pidato, menurut Woolbert harus diperhatikan hal-hal
berikut: (1) teliti tujuannya, (2) ketahui khalayak dan situasinya, (3) tentukan
proposisi yang cocok dengan khalayak dan situasi tersebut, (4) pilih kalimat-kalimat
yang dipertalikan secara logis. Bukunya yang terkenal adalah The Fundamental of
Speech.
3. William Noorwood Brigance
Berbeda dengan Woolbert yang menitikberatkan logika, Brigance menekankan
faktor keinginan (desire) sebagai dasar persuasi. "Keyakinan", ujar Brigance, "jarang
merupakan hasil pemikiran. Kita cenderung mempercayai apa yang membangkitkan
keinginan kita, ketakutan kita dan emosi kita". Persuasi meliputi empat unsur: (1)
rebut perhatian pendengar, (2) usahakan pendengar untuk mempercayai
kemampuan dan karakter Anda, (3) dasarkanlah pemikiran pada keinginan, dan (4)
kembangkan setiap gagasan sesuai dengan sikap pendengar.
4. Alan H. Monroe
Bukunya, Principles and Types of Speech, banyak kita pergunakan dalam buku
ini. Dimulai pada pertengahan tahun 20-an Monroe beserta stafnya meneliti proses
motivasi (motivating process). Jasa, Monroe yang terbesar adalah cara organisasi
pesan. Menurut Monroe, pesan harus disusun berdasarkan proses berpikir manusia
yang disebutnya motivated sequence.
Beberapa sarjana retorika modern lainnya yang patut kita sebut antara lain A.E.
Philips (Effective Speaking, 1908), Brembeck dan Howell (Persuasion: A Means of
Social Control, 1952), R.T. Oliver (Psychology of Persuasive Speech, 1942). Di Jerman,
selain tokoh "notorious" Hitler, dengan bukunya Mein Kampf, maka Naumann (Die
Kunst der Rede, 1941), Dessoir (Die Rede als Kunst, 1984) dan Damachke
(Volkstumliche Redekunst, 1918) adalah pelopor retorika modern juga.
Dewasa ini retorika sebagai public speaking, oral communication, atau speech
communication -diajarkan dan diteliti secara ilmiah di lingkungan akademis. Pada
waktu mendatang, ilmu ini tampaknya akan diberikan juga pada mahasiswa-
mahasiswa di luar ilmu sosial. Dr. Charles Hurst mengadakan penelitian tentang
pengaruh speech courses terhadap prestasi akademis mahasiswa. Hasilnya
membuktikan bahwa pengaruh itu cukup berarti. Mahasiswa yang memperoleh
pelajaran speech (speech group) mendapat skor yang lebih tinggi dalam tes belajar
dan berpikir, lebih terampil dalam studi dan lebih baik dalam hasil akademisnya
dibanding dengan mahasiswa yang tidak memperoleh ajaran itu. Hurst
menyimpulkan:
Data penelitian ini menunjukkan dengan jelas bahwa kuliah speech
tingkat dasar adalah agen synthesa, yang memberikan dasar skematis
bagi mahasiswa untuk berpikir lebih teratur dan memperoleh
penguasaan yang lebih baik terhadap aneka fenomena yang membentuk
kepribadian.
Penelitian ini menjadi penting bagi kita, bukan karena dilengkapi dengan data
statistik yang meyakinkan atau karena berhasil memberikan gelar doktor bagi Hurst,
tetapi karena erat kaitannya dengan prospek retorika di masa depan.
Pengertian
Retorika adalah kecakapan berpidato di depan umum (study retorika di
Sirikkusa ibu kota Sislia Yunani abab ke 5 SM). Retorika (dari bahasa Yunani ῥήτωρ,
rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi
untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau
argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The
Rhetoric dengan judul 'Grullos' atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah
seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional dengan
menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui
pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai,
keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969)
sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis,
bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik
sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik
(dengan definisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktek kontemporer dari
retorika yang termasuk analisa atas teks tertulis dan visual.
Retorika adalah memberikan suatu kasus lewat bertutur (menurut kaum sofis
yang terdiri dari Gorgias, Lysias, Phidias, Protagoras dan Socrates akhir abad ke 5
SM). Retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang tentang keterampilan, tentang
menemukan sarana persuasif yang objectif dari suatu kasus (Aristoteles) Study yang
mempelajari kesalahpahaman serta penemuan saran dan pengobatannya (Richard
awal abad ke 20-an) Retorika adalah yang mengajarkan tindak dan usaha yang
efektif dalam persiapan, penetaan dan penampilan tutur untuk membina saling
pengertian dan kerjasama serta kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Tujuan retorika adalah persuasi, yang di maksudkan dalam persuasi dalam hubungan
ini adalah yakinnya penanggap penutur (pendengar) akan kebenaran gagasan topic
tutur (hal yang di bicarakan) si penutur (pembicara). Artinya bahwa tujuan retorika
adalah membina saling pengertian yang mengembangkan kerjasama dalam
menumbuhkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat lewat kegiatan bertutur
Beberapa dimensi ideologi retorika
1. Dimensi filosofis kemanusiaan, dari dimensi ini, kita mengedepankan pemahaman
dari sudut identitas (ciri pembeda) antara eksistensi. Identitas pembedanya:
• antara makhluk manusia dengan selain manusia
• antara manusia yang berbudaya
• antara yang mempunyai pengetahuan, keterampilan, pandangan hidup
2. Dimensi teknis, berbicara adalah sebuah teknik penggunaan symbol dalam proses
interaksi informasi.
3. Dimensi proses penampakan diri atau aktualisasi diri. Berbicara itu adalah salah
satu keperluan yang tidak bisa ditinggalkan
4. Dimensi teologis, menyampaikan ajaran agama sesuatu yang wajib (dakwah)
Bicara juga ada seninya. Pernahkah anda mengamati seorang penjual obat di
pasar, ketika sedang menawarkan dagangannya? Atau, pernahkah anda ikut
demonstrasi di kampus anda? Kalau pernah coba amati gaya bicara sang korlap!
Retorika bukan cuma menekankan pada output verbal seseorang ketika
berbicara, namun juga output non verbalnya. Percaya atau tidak, gerakan bola mata
kita atau arah pandangan mata kita, bahkan benda apa yang kita pegang saat
berbicara, berpengaruh pada dipercaya tidaknya ucapan kita oleh orang lain. Seni
berbicara memang erat kaitannya dengan seni mempengaruhi orang lain. Salah satu
kuncinya adalah kenali audiens anda. Dengan mengenali siapa yang anda ajak
bicara, anda bisa memprediksi apa dan bagaimana anda harus bicara, agar ucapan
anda bisa dipercaya.
LATAR BELAKANG YANG BERBEDA
Proses komunikasi pada intinya adalah proses yang berusaha mencari mutual
understanding di antara dua pihak yang berkomunikasi itu. Proses itu bisa gampang,
bisa jadi sulit. Mutual understanding bisa tercipta jika ada kemiripan antara frame of
reference dan field of experience kedua belah pihak.
Dua pihak yang berkomunikasi membawa latar belakang pemahaman yang
berbeda pula. Di benak setiap orang yang berkomunikasi, umumnya telah tercipta
image, persepsi dan gambaran tentang lawan komunikasinya. Dalam banyak kasus,
image bahkan dapat tercipta sebelum bertemu muka dengan si-obyek image.
Image sendiri bukanlah suatu fenomena yang buruk. Image yang tepat, dapat
membantu kita dalam proses komunikasi, namun demikian, kita harus menyadari
bahwa Image dapat dimanipulasi atau dikondisikan, secara sadar maupun tidak
sadar, oleh diri kita sendiri, atau obyek lain diluar diri kita.
Komunikato Pesan Komunikan
r Saluran

frame of frame of
reference dan reference dan
field of Feedback field of jika
Suatu proses komunikasi akan menghasilkan mutual understanding
ada
experience experience
kedekatan antara frame of reference dan field of experience dari para peserta
proses komunikasi.
Untuk menjadi komunikator yang efektif, anda sedapat-dapatnya harus
mengenali karakteristik audiens anda, untuk menentukan tehnik komunikasi apa
yang harus anda gunakan untuk menyampaikan pesan anda.

PENTINGNYA RETORIKA
Persepsi adalah proses yang terintegrasi dalam individu, yang terjadi sebagai
reaksi atas stimulus yang diterimanya (bersifat individual). Sebuah konsensus
(kesamaan persepsi kolektif pada satu isu tertentu) yang tercapai melalui diskusi
sosial akan menimbulkan opini publik. Sedangkan pada diri individu sendiri, opini
bisa bersifat laten atau manifes. Opini yang bersifat laten disebut sikap. Sikap adalah
suatu predisposisi terhadap sesuatu obyek, yang didalamnya termasuk sistem
kepercayaan, perasaan, dan kecenderungan perilaku terhadap obyek tersebut.
Sikap bisa dipelajari, bersifat stabil, melibatkan aspek kognisi dan afeksi, dan
menunjukkan kecenderungan perilaku.