Anda di halaman 1dari 4

Kelompok 2 ILMU KEPERAWATAN DASAR 1

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Wulida Litaqia Windy Safitri Nur Uswatun Khasanah Weni Lestari Yeni Fitri Utami P Weni Karunia Veny Apriami Citra Meilina Kusuma SR132070124 SR132070126 SR132070128 SR132070127 SR132070125 SR132070129 SR132070123 SR132070122

Kasus Dilema Etik Ny. A usia 50 tahun menderita penyakit kanker stadium 4. Ia mengatakan kepada perawat untuk menghentikan semua tindakan yang dilakukan padanya. Ia juga meminta perawat untuk menghentikan pemberian obat, melepaskan infus, dan melepaskan oksigennya. Ia mengatakan percuma dilakukan perawatan karena sudah tidak ada harapan sembuh untuknya dan ia juga mengatakan tidak mempunyai biaya untuk pengobatannya. Saat dilakukan diskusi antara perawat dan dokter jika dihentikan semua tindakan dan pengobatan untuk Ny. A maka akan membahayakan nyawanya tetapi jika dilakukan bertentangan dengan hak autonomi pasien. Pemecahan Kasus Dilema Etik pada Ny. A . 1. Mengembangkan Data Dasar a. Orang yang Terlibat b. Tindakan yang diusulkan : Klien (Ny.A), Keluarga Klien, Dokter, Perawat : Tidak menuruti keinginan klien untuk Menghentikan pemberian obat, melepaskan infus, dan melepaskan oksigen serta menganjurkan klien untuk membuat Askeskin/Jamkesmas c. Maksud dari tindakan d. Konsekuensi tindakan : Agar tidak membahayakan diri klien. : Bila tidak menghentikan pemberian obat, melepaskan infus, dan melepaskan oksigen, klien dapat menyalahkan dokter dan perawat

karena melanggar hak autonominya selain itu klien dapat merasa malu atau minder menggunakan Jamkesmas karena pasien akan dianggap rendah dan kurang mampu dimata sosial masyarakat sekitarnya. 2. Mengidentifikasi konflik Ny A sebagai penderita kanker payudara stadium 4, merasa sudah tidak ada harapannya untuk sembuh dan sudah tidak memiliki biaya untuk pengobatan . Sehingga Ny A meminta kepada perawat untuk menghentikan pengobatan. Konflik yang terjadi : a. Penghentian pengobatan dapat membahayakan nyawa Ny.A (mempercepat kematian klien). b. Tidak memenuhi keinginan klien terkait dengan pelanggaran hak autonomi pasien.

3. Tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan konsekuensi tindakan tersebut. a. Tidak menuruti keinginan pasien untuk menghentikan pengobatan. Konsekuensi : 1. Tidak mempercepat kematian klien. 2. Pelanggaran terhadap hak pasien untuk menentukan nasibnya sendiri (hak autonomi). b. Memenuhi permintaan klien untuk menghentikan pengobatan Konsekuensi : 1. Kondisi klien semakin memburuk dan membahayakan nyawanya. c. Tidak menuruti keinginan klien, dan perawat membantu memberi motivasi terhadap pasien. Konsekuensi : 1. Tidak mempercepat kematian pasien. 2. Klien dibawa pada kondisi yang nyaman (tidak stres) dengan memberi motivasi dan dukungan, bahwa pasien bisa sembuh dari penyakitnya. 3. Mampu mencari alternatif yang baik untuk pasien.

4. Keinginan klien untuk menentukan nasibnya sendiri tidak terpenuhi.

4 . Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat Dalam kasus diatas, pengambil keputusan yang tepat adalah dokter dan keluarga pasien. Pada kasus di atas dokter adalah salah satu pihak yang membuat keputusan, karena dokterlah yang secara legal dapat memberikan ijin pada setiap tindakan pengobatan, baik dalam pemberian obat, pemasangan infus dan oksigen. Namun hal ini perlu didiskusikan dengan klien, mengenai efek samping yang dapat ditimbulkan dari pengehentian pengobatan. Perawat membantu klien dalam membuat keputusan bagi dirinya. Perawat selalu mendampingi pasien dan terlibat langsung dalam asuhan keperawatan. Selain itu, keluarga pasien juga termasuk pihak yang membuat keputusan atas tindakan-tindakan yang akan dilakukan oleh pihak medis karena keluarga merupakan pihak yang berwenang atas pasien dan merupakan pengambil keputusan secara sepihak. 5. Mendefenisikan Kewajiban Perawat. a. Memfasilitasi klien dalam memberikan pengertian tentang bahaya penghentian tindakan medis. b. Membantu proses adaptasi klien terhadap penyakit yang dideritanya. c. Mengoptimalkan sistem dukungan atau memberikan motivasi dan semangat kepada pasien. d. Membantu klien untuk menemukan mekanisme lain atau alternatif lain yang adaptif terhadap masalah yang sedang dihadapi. e. Membantu klien untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinannya.

6. Membuat Keputusan Dalam kasus di atas terdapat dua tindakan yang memiliki risiko dan konsekuensi masing-masing terhadap klien. Perawat dan dokter perlu mempertimbangkan pendekatan yang paling menguntungkan dan paling tepat untuk klien. Namun upaya alternatif tindakan lain perlu dilakukan terlebih dahulu misalnya relaksasi, pengalihan perhatian, meditasi, mengurangi tingkat stress dan kemudian dievaluasi efektifitasnya. Apabila terbukti efektif diteruskan namun apabila alternatif tindakan tidak efektif maka keputusan yang sudah ditetapkan antara petugas kesehatan dan klien akan dilaksanakan.