Anda di halaman 1dari 4

Septyan Eka Prastya (13917159)

Pemanfaatan Barang Bukti Forensik Untuk Mengungkap Kasus Kriminal


Dalam satu dekade terakhir, jumlah kejahatan komputer telah meningkat pesat, hal ini mengakibatkan bertambahnya perusahaan dan produk yang berusaha membantu penegak hukum dalam menggunakan bukti berbasis komputer untuk menentukan siapa, apa, dimana, kapan, dan bagaimana dalam sebuah kejahatan. Akibatnya komputer forensik telah berkembang untuk memastikan presentasi yang tepat bagi data kejahatan komputer di pengadilan. Bukti digital adalah informasi yang didapat dalam bentuk/format digital, beberapa contoh bukti digital antara lain: E-mail, alamat e-mail Filewordprocessor/spreadsheet Source code perangkat lunak File berbentuk image (.jpeg, .tip, dan lain sebagainya) Web browser bookmarks, cookie Kalender, to-do list

Bukti digital tidak dapat langsung dijadikan barang bukti pada proses peradilan, karena menurut sifat alamiahnya bukti digital sangat tidak konsisten. Untuk menjamin bahwa bukti digital dapat dijadikan barang bukti dalam proses peradilan maka diperlukan sebuah standar data digital yang dapat dijadikan barang bukti dan metode standar dalam pemrosesan barang bukti sehingga bukti digital dapat dijamin keasliannya dan dapat dipertanggung jawabkan. Berikut ini adalah aturan standar agar dapat bukti dapat di terima dalam proses peradilan: Dapat diterima, artinya data harus mampu diterima dan digunakan demi hukum, mulai dari kepentingan penyelidikan sampai dengan kepentingan pengadilan. Asli, artinya bukti tersebut harus berhubungan dengan kejadian/kasus yang terjadi dan bukan rekayasa. Lengkap, artinya bukti bisa dikatakan bagus dan lengkap jika didalamnya terdapat banyak petunjuk yang dapat membantu investigasi.

Septyan Eka Prastya (13917159)

Dapat dipercaya, artinya bukti dapat mengatakan hal yang terjadi dibelakangnya. Jika bukti tersebut dapat dipercaya, maka proses investigasi akan lebih mudah.

Secara garis besar, kejahatan yang berkaitan dengan teknologi informasi dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, kejahatan yang bertujuan merusak atau menyerang sistem atau jaringan komputer. Dan kedua, kejahatan yang menggunakan komputer atau internet sebagai alat bantudalam melancarkan kejahatan. Yang masuk dalam kategori kejahatan umum yang difasilitasi teknologi informasi antara lain penipuan kartu kredit, penipuan bursa efek, penipuan perbankan, pornografi anak, perdagangan narkoba, serta terorisme. Sedangkan kejahatan yang menjadikan sistem dan fasilitas TI (teknologi informasi) sebagai sasaran diantaranya adalah denial of service attack (DOS), defacing, craking ataupun phreaking. Ada berbagai tahapan pada proses implementasi digital forensik. Namun menurut kemmish, secara garis besar dapat diklasifikasikan kepada empat tahapan, yaitu: 1. Identifikasi bukti digital 2. Penyimpanan bukti digital 3. Analisa bukti digital 4. Presentasi Metode yang digunakan dalam mengidentifikasi kejahatan dalam teknologi informasi dibagi menjadi dua, yaitu search & seizure dan pencarian informasi. Dalam search & seizure, investigator harus terjun langsung ke dalam kasus yang dihadapi, dalam hal ini kasus teknologi informasi. Diharapkan investigator mampu mengidentifikasi, menganalisa, dan memproses bukti yang berupa fisik. Investigator juga berwenang untuk melakukan penyitaan terhadap barang bukti yang dapat membantu proses penyelidikan, tentunya dibawah koridor hukum yang berlaku. Sedangkan dalam metode pencarian informasi, tahapan yang dilakukan adalah: 1. Menentukan lokasi tempat kejadian perkara 2. Investigator menggali informasi dan aktivitas yang tercatat dalam log di komputer 3. Penyitaan media penyimpanan data (data storage) yang di anggap dapat membantu proses penyelidikan Adapun contoh nyata yang berhubungan dengan IT forensik antara lain:

Septyan Eka Prastya (13917159)

Contoh bagaimana melakukan aksi kejahatan di ATM (pembobolan ATM) Kasus kejahatan foto pornografi Penyelidikan dalam kasus Nurdin M top (penyelidikan laptop Nurdin M Top) Pembobolan E-banking paypal, Ccards

Guna mengungkap kejahatan tersebut dibutuhkan digital forensik sebagai metode mengungkap kejahatan tersebut dan beberapa alasan mengapa menggunakan digital forensik, antara lain: Dalam kasus hukum, teknik digital forensik digunakan untuk meneliti sistem komputer milik terdakwa (dalam perkara pidana) atau tergugat (dalam perkara perdata) Memulihkan data dalam hal suatu hardware atau software mengalami kegagalan/kerusakan (failure) Meneliti suatu sistem komputer setelah suatu pembongkaran/pembobolan, sebagai contoh untuk menentukan bagaimana penyerang memperoleh akses dan serangan apa yang dilakukan Mengumpulkan bukti menindak seorang karyawan yang ingin diberhentikan oleh suatu organisasi Memperoleh informasi tentang bagaimana sistem komputer bekerja untuk tujuan debugging, optimasi kinerja, atau membalikkan rancang-bangun

Septyan Eka Prastya (13917159)

SUMBER Asrizal. (2010). Apa dan Bagaimana. Digital Forensik, 1-2. habibie, i. (2010). etika dan profesionalisme TSI. IT Forensik, 10. Putra, A. V., Wahyudi, B. E., Rahman, F., & Femilia, N. (2006). Computer Forensic. Kriptografi, 6-7. Syafa'at, A. (2007). Tutorial interaktif instalasi komputer forensik menggunakan aplikasi open source. Departemen Komunikasi Dan Informatika. Wahyudi, J. (2012, may 2). Dokumen elektronik sebagai alat bukti pada pembuktian di pengadilan. perspektif, hal. 123-124.