Anda di halaman 1dari 9

Hasil dan Pembahasan

Senyawa Organik dalam Urin Uji Biuret terhadap Ureum. Hasil percobaan antara ureum, NaOH, dan CuSO4 dihasilkan perubahan warna larutan dari kuning bening menjadi ungu. Hal ini menunjukkan adanya ikatan peptida dalam ureum yaitu berupa ikatan antara Cu2+ dengan N yang berasal dari ureum menjadi CuN yang menyebabkan warna larutan berwarna ungu dan semakin gelap warna ungunya maka semakin banyak ikatan CuN yang terjadi. Ureum merupakan hasil akhir metabolisme protein yang berasal dari asam amino yang telah dipindah amoniaknya di dalam hati dan mencapai ginjal, sertadiekskresikan rata-rata 30gram setiap hari. Kadar ureum darah yang normal adalah 30mg tiap 100cc darah, namun hal ini juga tergantung dari jumlah normal protein yang dimakan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum (Evelyn, 1993). Uji Enzimatik Terhadap Ureum. Uji enzimatik terhadap ureum dilakukan pada dua tabung yang berbeda, yaitu urin pada tabung 1 dan air pada tabung 2. Hasil percobaan pada tabung 1 yang berisi urin menunjukkan terjadinya warna merah saat penambahan fenol merah dan Na2CO3 2%, kemudian setelah ditambahkan asam asetat 2% warna larutan tersebut berubah menjadi kuning kemerahan, lalu ditambah dengan tepung kedelai, warna larutan berubah menjadi merah dan terdapat endapan merah bata. Tabung 1 terjadi perubahan warna dari kuning kemerahan menjadi merah dan adanya endapan merah bata ketika ditambahkan tepung kedelai. Endapan merah bata pada tabung 1 menunjukkan bahwa di dalam urin terdapat ureum. Hal ini dikarenakan tepung kedelai yang mengandung enzim urease bereaksi dengan urea yang terdapat pada urin. Sehingga terjadi reaksi enzimatik, yaitu hidrolisis urea dalam urin oleh urease yang terdapat pada tepung kedelai (Poedjiadi,1994).

NH2 C =O NH2(H2O) (urea) (Poedjiadi,1994) Tabung 2 yang berisi air, warna larutan berubah menjadi warna merah muda ketika ditambahkan fenol merah dan Na 2CO3 2%, kemudian setelah ditambahkan asam asetat 2% warna larutan tersebut berubah menjadi kuning, kemudian saat larutan dipanaskan menggunakan penangas air pada suhu 60C warnanya tidak berubah (tetap berwarna kuning) begitu juga pada saat penambahan tepung kedelai warnanya juga tetap kuning. Hal tersebut terjadi karena di dalam air tidak terkandung urea sehingga tidak ada reaksi enzimatik antara urease pada tepung kedelai dengan air. Fungsi urin dalam uji enzimatik terhadap ureum adalah sebagai substrat. Menurut Poedjiadi (1994), suhu 60C merupakan suhu optimum dari kerja enzim urease. Uji Benedict Terhadap Garam Urat. Uji Benedict terhadap garam urat, mula-mula urin ditambah dengan larutan Benedict dan Na2CO3 padat, lalu dipanaskan, warna larutan berubah menjadi warna hijau dan di dalam tabung terdapat endapan merah bata. Hal ini menandakan bahwa uji Benedict positif. Urin mengandung garam urat. Benedict dapat digunakan untuk menguji kemampuan mereduksi garam urat karena Benedict mengandung CuSO4. Cu2+ dari CuSO4 direduksi menjadi Cu+, kemudian membentuk Cu2O dan mengendap. Endapan Cu2O berwarna merah bata (Poedjiadi,1994). Uji Murexida. Uji Murexida dilakukan dengan penambahan HNO3 pekat ke dalam asam urat padat, lalu dipanaskan dan larutan menjadi berwarna merah. Ditambahkan amoniak warnanya berubah menjadi warna ungu. Hal ini menandakan bahwa terdapat murexida di dalam asam urat. Asam urat dioksidasi oleh HNO3 pekat mengahsilkan asam dialurat dan urease 2NH2 + CO2 (NH4)2CO3

alloxan. Asam dialurat dan alloxan akan berkondensasi membentuk alloxantin. Alloxantin akan berubah menjadi amonium purparat (murexida) setelah ditambah dengan amoniak (Murray et al., 2003). Asam urat + HNO3 purparat (Murray et al., 2003). Uji Daya Mereduksi Asam Urat. Uji daya mereduksi asam urat dilakukan dengan melarutkan asam urat menggunakan larutan Na 2CO3 Setelah larutan tersebut diteteskan di atas kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan AgNO3, kertas saring menjadi berwarna hitam. Hal ini menunjukkan bahwa asam urat mampu mereduksi Ag+ dari AgNO3 menjadi Ag. Kadar normal asam urat dalam darah adalah 2-3mg tiap 100cc, sedangkan yang diekskresikan ke dalam urin adalah 1,5-2 mg (Ganong, 2003). Uji Pikrat. Pungujian ini dilakukan dengan membandingkan air dengan urin. Pada tabung 1 diisi dengan air dan tabung 2 diisi dengan urin, kemudian pada masing-masing tabung ditambah asam pikrat jenuh dab NaOH 10%. Hasil yang diperoleh dari percobaan yaitu pada tabung 1 terbenuk larutan berwarna kuning dan pada tabung 2 menunjukkan warna larutan jingga. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam air tidak mengandung kreatinin, sedangkan pada urin mengandung kreatinin. Warna merah jingga pada urin asam dialurat + alloxan alloxantin amonium

menunjukkan adanya kreatinin pikrat yang terjadi karena kreatinin berikatan dengan pikrat jenuh. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui adanya kreatinin dalam urin. Kreatin adalah hasil buangan kreatinin dalam otot. Produk metabolisme lain mencakup benda-benda purin, oxalat, fosfat, dan sulfat (Ganong, 2003). Uji Terhadap Garam Amonium. Pengujian terhadap garam amonium dilakukan untuk mengetahui adanya garam amonium dalam urin. Uji terhadap garam ammonium dilakukan dengan 2 ml urine ditambahkan indikator pp dan

Na2CO3 2% sehingga larutan berwarna merah. Warna merah tersebut disebabkan adanya fenoftalin dan Na2CO3 2%. Larutan diuapkan dan akan melepaskan amoniak, lalu membentuk NH4OH yang bersifat basa sehingga indikator fenoftalin menunjukkan warna merah pada kaca. Menurut Ganong (2003), Fenoftalin akan berwarna merah ketika berada pada suasana basa. Warna merah muda ini menunjukkan adanya garam amonium atau gas NH 3 yang mudah menguap (Ganong, 2003).

Zat-Zat Anorganik Dalam Urin Uji Khlorida. Uji khlorida dilakukan dengan HNO3 dicampur dengan AgNO3, Hasil yang diperoleh dari pencampuran tersebut adalah larutan menjadi berwarna putih keruh dan ada endapan putih (AgCl) di dasar tabung. Setelah larutan tersebut ditambah dengan NH4OH berlebihan, endapan putih larut dan warna larutan berubah warna menjadi warna abu-abu pekat. HNO3 pada percobaan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya perak fosfat Terbentuknya endapan AgCl (endapan putih) menunjukkan adanya ion Cl yang berasal dari urin diikat oleh Ag+ dari AgNO3. Penambahan amoniak akan mengurangi endapan AgCl (Ganong, 2003). AgCl + NH4OH AgOH + NH4Cl (Ganong, 2003)

Uji Fosfat dan Kalsium. Berdasarkan hasil percobaan, endapan yang telah ditambah dengan asam asetat hasilnya menunjukkan warna hijau dengan tidak ada endapan. Setelah larutan dibagi dua, pada tabung 1 ditambah amonium molibdat dan HNO3 pekat lalu dipanaskan maka warnanya menjadi kuning keruh. Warna yang keruh pada tabung menandakan adanya endapan. Endapan ini merupakan amonium fosfo molibdat. Sedangkan pada tabung 2 ditambah kalium oksalat. Warna larutan akan menjadi putih keruh. Warna yang keruh pada tabung menandakan adanya endapan kalsium oksalat. Terbentuk endapan pada tabung 1 disebabkan warna kuning dari urin dengan HNO3 pecah dan ada unsur fosfor

yang terikat oleh amonium molibdat menjadi amonium fosfo molibdat. Terbentuknya endapan pada tabung 2 karena urin pecah bertemu dengan kalium oksalat, oksalat mengikat kalsium yang ada pada urin sehingga menjadi kalsium oksalat (Ganong, 2003). Uji Sulfat. Uji sulfat dilakukan dengan mencampurkan urin, HCl encer, dan BaCl2. Hasil percobaan yang dilakukan yaitu terbentuknya sedikit endapan putih dan larutan berwarna putih bening. Endapan putih tersebut adalah endapan BaSO4. Hal ini menunjukkan adanya kandungan SO4- di dalam urin. Apabila urin direaksikan dengan HCl dan BaCl2 maka sulfat yang terdapat di dalam urine akan dilepas oleh HCl dan sulfat tersebut akan diikat oleh Ba sehingga membentuk endapan BaSO4 (Ganong, 2003). Keabnormalan Urin Uji Benedict Terhadap Urine Abnormal. Urin abnormal dicampurkan dengan larutan Benedict, kemudian larutan berubah warna menjadi biru kekuningan kemudian ketika dididihkan terbentuk endapan merah bata. Hal ini menandakan bahwa uji Benedict terhadap urin abnormal adalah positif. Menurut Murray (2003), hal tersebut terjadi karena adanya gugus reduksi dari urin yang terikat dengan Cu2+ dari Benedict akan membentuk endapan merah bata (Cu2O). Gugus reduksi mampu mengubah ion Cu2+ menjadi ion Cu+ berupa endapan Cu2O yang berwarna merah bata. Uji Heller. Uji Heller dilakukan degan mencampurkan urin abnormal dengan HNO3 pekat sehingga terbentuk cincin yang berwarna putih keruh. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam urin terkandung albumin (protein). Urin pecah kemudian mengalami denaturasi oleh HNO3. Protein albumin jika terkena asam pekat (HNO3) akan terjadi denaturasi protein di permukaan dan mengalami koagulasi, tetapi jika berlangsung lama, denaturasi akan berlangsung terus-menerus sampai cincin putih menghilang (Ganong, 2003). Uji Benzidin Terhadap Pigmen Darah. Uji Benzidin terhadap pigmen darah dilakukan dengan mencampurkan Benzidin dengan H 2O2. Ketika

larutan tesebut ditambahkan dengan urin normal terjadi sedikit perubahan warna biru sedangkan ketika larutan ditambah dengan urin abnormal warnanya berubah menjadi biru kehijauan. Larutan yang ditambahkan urin normal, warna larutan tidak berwarna biru karena pada urin normal tidak mengandung pigmen darah. Warna biru pada penambahan urin abnormal menandakan adanya pigmen darah. Urin akan terpecah oleh H2O2. Jika terdapat Hb maka O2 akan diikat membentuk HbO2 dan bereaksi dengan Benzidin sehingga akan membentuk warna biru (Murray et al., 2003). Uji Gmelin Terhadap Pigmen Empedu. Hasil yang diperoleh dari percobaan ini adalah terbentuknya cincin warna merah, jingga, hijau, biru dan ungu. Hal tersebut dapat terjadi karena HNO3 mengkondensasi pigmenpigmen empedu. Uji Hay untuk Garam Kholat. Uji Hay pada tabung 1 direaksikan urin dan serbuk belerang, kemudian serbuk belerang mengendap di dasar tabung. Hal ini menunjukkankan bahwa dalam urin mengandung garam kholat yang mampu menurunkan tegangan permukaan. Tabung 2 direaksikan air dan serbuk belerang. Hasil yang diperoleh adalah serbuk belerang mengapung di permukaan. Hal ini menunjukkan dalam air tidak terdapat garam kholat sehingga serbuk belerang berada di permukaan karena tegangan permukaan masih tinggi. Garam kholat berfungsi untuk

menurunkan tegangan permukaan pada larutan (Poedjiadi, 1994). Uji Obermeyer antara terhadap dengan Indikan. pereaksi Hasil percobaan dengan

mereaksikan

urine

obermeyer

ditambahkan

Kholroform diperoleh adanya dua lapisan, yaitu bening dan kuning. Percobaan ini tidak terdapat adanya indikan, karena bila terdapat indikan seharusnya warna yang terjadi adalah biru (Ganong, 2003). Lapisan bawah berwarna biru yang menunjukkan adanya indikan. Indikan yang larut dalam khloroform akan berubah menjadi indigo blue yang berwarna biru dengan penambahan Obermeyer (Murray et al., 2003).

Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa di dalam urin sapi PFH terdapat senyawa-senyawa organik seperti ikatan peptida, ureum, garam urat, asam urat, kreatinin dan ammonium. Urin sapi PFH juga mengandung zat-zat anorganik seperti fosfat, kalsium dan sulfat. Urin sapi PFH juga dilakukan pengujian keabnormalan urin dengan uji Benedict terhadap urin abnormal, uji Heller, uji Benzidin terhadap pigmen darah, uji Gmelin terhadap pigmen empedu, uji Hay untuk garam kholat, dan uji Obermeyer terhadap indikan. Uji Benedict hasilnya positif dengan ditemukannya endapan merah bata yang menunjukkan adanya gugus reduksi dalam urin abnormal. Uji Heller ditandai dengan terbentuknya cincin putih di permukaan larutan yang menandakan adanya albumin dalam urin abnormal. Uji Benzidin menunjukkan bahwa di dalam urin abnormal masih ditemukan pigmen darah. Uji Gmelin menunjukkan adanya pigmen empedu dalam urin abnormal. Uji Hay terbentuk endapan belerang yang menandakan adanya garam kholat yang dapat menurunkan tegangan permukaan. Uji Obermeyer menunjukkan hasil negatif yang menandakan bahwa tidak ditemukannya indikan di dalam urin abnormal.

Evelyn, C.P. 1993. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT Gramedia, Jakarta. Ganong. 2003. Fisiologi Kedokteran. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Murray, et al. Biokimia Harper. Edisi 25. Penerbit Buku Kedokteran Hewan EGC. Jakarta. Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.