Anda di halaman 1dari 12

PPN & PPNBM

1. PKP A menjual barang dagangan kepada : a. PKP B dengan harga jual Rp 1.000.000 b. Bendaharawan A Rp 1.000.000 c. Bendaharawan B Rp 3.000.000 PKP A Membeli barang dagangan PKP C seharga Rp 4.000.000. Hitung berapa pajak masukan dan keluaran nya. Jawab : PAJAK KELUARAN PKP B Harga Jual : Rp 1.000.000 PPN : 10% x Rp 1.000.000 : Rp100.000 Bendaharawan A Harga Jual : Rp 1.000.000 PPN : 10% x Rp 1.000.000 : Rp 100.000 Bendaharawan B Harga Jual : Rp 3.000.000 PPN : 10% x Rp 3.000.000 : Rp 300.000 Jumlah pajak keluaran adalah Rp 100.000 + Rp 100.000 + Rp 300.000 = Rp 500.000 Pajak keluaran yang sudah dipungut = Rp 400.000 Pajak keluaran yang harus disetor = Rp 100.000 Pajak masukan Harga Beli PPN : PKP C : Rp 4.000.000 : 10% x Rp 4.000.000 : Rp 400.000

Apabila dalam suatu masa pajak, pajak keluaran lebih besar dari pada pajak masukan. Maka selisih nya merupakan Pajak Permbahan Nilai yang harus dibayar oleh PKP. Pajak keluaran 100.000 Pajak masukan 400.000 Lebih bayar 300.000 Jadi selisih antara pajak keluaran dan pajak masukan ada lebih bayar Rp 300.000

2. PT. Amrico (memiliki NPWP) pada november 2009 membeli alat alat kantor untuk keperluan operasional sebagai berikut : a. 5 November 2009 membeli 10 unit pesawat telex dari toko Elektronik, (memiliki NPWP)dengan harga Rp 9.100.000 / unit ( harga ini termasuk PPN 10%, Discoun 20% ) b. 15 November 2009 membeli 5 set AC dari toko AC (memiliki NPWP) dengan harga Rp 4.800.000 / unit ( harga tersebut termasuk PPN 10% dan PPnBM 10% ) c. 29 November 2009 membeli 1000 box kabel dengan harga per box Rp 500.000 dari PT. Kabelindo Persada, (memiliki NPWP) ( harga tersebut tidak termasuk PPN ) tetapi ditambah ongkos angkut 10% yang ditanggung oleh pembeli. Dari data tersebut diatas hitung besar PPN dan PPnBM dan Berapa jumlah yang harus dibayar oleh pembeli barang Jawab : 1. 10 unit pesawat telex @Rp 9.100.000 Disc 20% x Rp 91.000.000 Rp 91.000.000 Rp 18.200.000 Rp 72.800.000 Rp 66.181.818 Rp 6.618.181 Rp 24.000.000 Rp 20.000.000 Rp 2.000.000 Rp 2.000.000 Rp 24.000.000 Rp 500.000.000 Rp 50.000.000 Rp 550.000.000 Rp 50.000.000 Rp 600.000.000

DPP 100 x Rp 72.800.000 110 PPN 10% x Rp 66.181.818 2. 5 set AC @Rp 4.800.000 DPP 100 x Rp 24.000.000 120 PPN 10% x Rp20.000.000 PPnBM 10% x Rp 20.000.000

3.

1000 box kabel @Rp 500.000 PPN 10 % x Rp 500.000.000 Total harga barang Ongkos 10% x Rp 500.000.000 Total yang harus dibayar

+ +

3. Haryono seorang pengusaha kena pajak membeli barang kena pajak Rp 600.000.000,- kemudian barang tersebut dijual kedalam negeri seharga Rp 300.000.000,- dan di ekspor Rp 900.000.000,persediaan awal dan akhir di anggap tidak ada.Hitunglah : - Pajak Masukan - Pajak Keluaran - PPN Lebih Bayar/Kurang Bayar Jawab : a. Pajak Masukan = 10% X Rp 600.000.000,b. Pajak Keluaran atas penjualan didalam negeri = 10% X Rp 300.000.000,Atas Ekspor = 0 % X Rp 900.000.000,Jumlah Pajak Keluaran = Rp 60.000.000,= Rp 30.000.000,= Rp 0 + Rp 30.000.000,-

c.

PPN keluaran PPN Masukan

= Rp 30.000.000,= Rp 60.000.000,- -

PPN Lebih bayar

Rp 30.000.000,

4. PT. Cahaya membeli BKP Barang Mewah Langsung dari pabrik seharga Rp 500.000.000 tarif barang Mewah 20% kemudian barang tersebut dijual lagi seharga Rp 750.000.000 di dalam negeri. hitunglah : - PPN dan PPN BM - Jumlah yang dibayar PT Cahaya - Jumlah Yang dibayar pembeli Jawab : -PPN 10% X Rp 500.000.000 PPN BM 20% X Rp 500.000.000 -PPN dan PPN BM yang harus dibayar Rp 50.000.000 Rp 100.000.000 + Rp 150.000.000

5. Pengusaha Kena Pajak D mengimpor Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah dengan Nilai Impor sebesar Rp5.000.000,00 Barang Kena Pajak yang tergolong mewah tersebut selain dikenai PPN juga dikenai PPnBM misalnya dengan tarif 20%. Penghitungan PPN dan PPnBM yang terutang atas impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah tersebut adalah: Jawab : a. Dasar Pengenaan Pajak b. PPN = Rp 5.000.000,00 = 10% x Rp5.000.000,00 = Rp500.000,00 c. PPn BM = 20% x Rp5.000.000,00 = Rp1.000.000,00

BEA MATERAI
Soal 1
Pak Usman membeli sebuah Genset Rp 150.000.000 pembayaran uang muka sebesar 20% sisanya diangsur selama empat kali berturut-turut yaitu sebesar 25%. Hitunglah bea materai jika Seluruh dokumen yang digunakan adalah kuitansi Jawab : Jumlah uang yang telah dikelurkan Pak Usman adalah : Uang muka 20% x Rp 150.000.000 = Rp 30.000.000 Angsuran 1 25% x Rp 150.000.000 = Rp 37.500.000 Angsuran 2 25% x Rp 150.000.000 = Rp 37.500.000 Angsuran 3 25% x Rp 150.000.000 = Rp 37.500.000 Angsuran 4 25% x Rp 150.000.000 = Rp 7.500.000

No 1 2 3 4 5

Nominal Rp 30.000.000 Rp 37.500.000 Rp 37.500.000 Rp 37.500.000 Rp 7.500.000 Jumlah Bea Materai

Kuitansi Rp 6.000 Rp 6.000 Rp 6.000 Rp 6.000 Rp 6.000 Rp 30.0000

Soal 2
Berdasarkan soal No. 1, Hitunglah bea materai jika Seluruh dokumen yang digunakan adalah cek Jawab : No 1 2 3 4 5 Nominal Rp 30.000.000 Rp 37.500.000 Rp 37.500.000 Rp 37.500.000 Rp 7.500.000 Jumlah Bea Materai Cek Rp 3.000 Rp 3.000 Rp 3.000 Rp 3.000 Rp 3.000 Rp 15.000

Soal 3
Dokumen yang menurut ketentuan dikenakan bea materai Rp 6.000,00 tetapi temyata tidak diberi meterai. Besarnya pemeteraian kemudian yang harus dilakukan terhadap dokumen tersebut adalah Jawab : Bea Meterai yang tidak dibayar Denda Administrasi 200 % Jumlah = Rp. 6.000,00 = Rp. 12.000,00 + = Rp. 18.000,00

Soal 4
Jika dokumen pada soal sebelumnya diatas hanya diberi meterai Rp. 3.000,00 maka besarnya pemeteraian kemudian adalah Jawab : o Bea Meterai yang kurang dibayar o Denda Administrasi 200 % o Jumlah = Rp. 3.000,00 = Rp. 6.000,00 + = Rp. 9.000,00

Soal 5
Berdasarkan ketentuan mengenai pemeteraian dengan cara lain diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133b/KMK.04/2000 tanggal 28 April 2000, Pemeteraian dengan cara lain dilakukan dengan beberapa cara, yaitu Jawab : Pemeteraian dengan cara lain dilakukan dengan 3 cara, yaitu : a. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan mesin teraan meterai; b. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan teknologi percetakan; atau c. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan sistem komputerisasi

PBB
1. Diketahui Pak Suryo memiliki rumah dengan: Luas tanah 1.000 m2 dengan nilai jual Rp802.000,00 per m2 Luas rumah 850 m2 dengan nilai jual Rp968.000,00 per m2 NJOP tidak kena pajak Rp12.000.000,00 Maka PBB yang harus dibayar Pak Suryo adalah.. Jawab : Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)

Tanah (1.000 m2 x Rp802.000) Bangunan (850 m2 x Rp968.000)

Rp802.000.000,00 Rp822.800.000,00+ Rp1.624.800.000,00

Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) NJOP-NJOPTKP

Rp12.000.000,00Rp.1.612.800.000,00

Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) (40% x Rp1.612.800.000,00 ) ** PBB Terutang (0.5% x Rp645.120.000,00)

Rp645.120.000,00 Rp3.225.600,00

Catatan: ** NJKP 40%( NJOP-NJOPTKP) karena NJOP 1 milyar lebih

2. Pak Harry mempunyai 2 rumah yang terletak di Jakarta dan Sukabumi. Rumah di Jakarta terletak di atas tanah yang luasnya 200 m2 dengan luas bangunan rumah 120 m2. Di Jakarta nilai jual tanah Rp464.000 per m2 dan nilai jual bangunan Rp505.000 per m2. Sedangkan rumah di Sukabumi terletak di atas tanah yang luasnya 300 m2 dengan luas bangunan 180 m2 dengan nilai jual tanah Rp285.000 per m2 dan nilai jual bangunan Rp310.000 per m2. Jika bangunan tidak kena pajak ditetapkan Rp12.000.000, pajak bumi dan bangunan yang dibayar Pak Harry adalah. Jawab :

Objek PBB di Jakarta Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)


Tanah (200 m2 x Rp464.000,00) Bangunan (120 m2 x Rp505.000,00)

Rp92.800.000,00 Rp60.600.000,00+ Rp153.400.000,00

Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) NJOP-NJOPTKP

Rp12.000.000,00Rp141.400.000,00

Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) (20% x Rp141.400.000,00) PBB Terutang (0.5% x Rp28.280.000,00)

Rp28.280.000,00 Rp141.400,00

Objek PBB di Sukabumi Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)


Tanah (300 m2 x Rp285.000,00) Bangunan (180 m2 x Rp310.000,00)

Rp85.500.000,00 Rp55.800.000,00+ Rp141.300.000,00

Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)***) NJOP-NJOPTKP

Rp0,00-

Rp141.300.000,00

Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) (20% x Rp141.300.000,00) PBB Terutang (0.5% x Rp28.280.000,00)

Rp28.280.000,00 Rp141.300,00

Jadi PBB terutang Pak Harry adalah:


Objek PBB di Jakarta Objek PBB di Sukabumi JUMLAH PBB TERUTANG

Rp141.400,00 Rp141.300,00 + Rp282.700,00

Catatan: ***) NJOPTKP = Rp 0,00 karena apabila seorang wajib pajak memiliki beberapa objek pajak, maka yang diberikan NJOPTKP hanya salah satu objek pajak yang mempunyai nilai jual paling besar.

3. Perum Perumnas mendirikan Rumah Susun dengan data sebagai data sebagai berikut: a. Luas Tanah 7.000 M2, NJOP = Rp 394.000/ M2 (Kelas A22) b. Luas Bangunan Hunian: tipe 21 (200 unit) Luas Bangunan Hunian = 10.200 M2 NJOP Bangunan Hunian = Rp 365.000/ M2 (Kelas A8) c. Bangunan Bersama Tangga, Kaki Lima seluas 1.800 M2, Kelas A8 d. Bangunan Sarana Jalan, Tempat Parkir, dll = 2.000 M2, Kelas A8 Hitunglah PBB untuk tipe hunian tersebut ?

Jawab: NJOP Tanah 7.000 X 394.000 NJOP Bangunan - Hunian 10.200 X 365.000 - Bersama 1.800 X 365.000 - Sarana 2.000 X 365.000 Jumlah NJOP Bangunan PBB Tipe 21 NJOP Tanah 21/ 10.200 x 2.758.000.000 NJOP Bangunan 21/ 10.200 x 5.110.000.000 NJOP Dasar Pengenaan PBB = 5.678.235 = 10.520.588 + = 16.198.823 = 3.723.000.000 = 657.000.000 = 730.000.000 + = 5.110.000.000 = 2.758.000.000

NJOPTKP NJOP untuk Penghitungan PBB NJKP 20% X 4.198.82 PBB terutang 0,50% X 839.765

= 12.000.000 = 4.198.823 = 839.765 = 4.199

4. Berdasarkan soal No. 3, hitung PBB nya jika tipe huniannya adalah tipe 36 (100 unit)

Jawab : NJOP Tanah 7.000 X 394.000 NJOP Bangunan - Hunian 10.200 X 365.000 - Bersama 1.800 X 365.000 - Sarana 2.000 X 365.000 Jumlah NJOP Bangunan PBB Tipe 36 NJOP Tanah 36/ 10.200 x 2.758.000.000 NJOP Bangunan 36/ 10.200 x 5.110.000.000 NJOP Dasar Pengenaan PBB NJOPTKP NJOP untuk Penghitungan PBB NJKP 20% X 15.769.412 PBB terutang 0,50% X 3.153.882 = 9.734.118 = 18.035.294 + = 27.769.412 = 12.000.000 = 15.769.412 = 3.153.882 = 15.769 = 3.723.000.000 = 657.000.000 = 730.000.000 + = 5.110.000.000 = 2.758.000.000

5. Tuan Poneng adalah seorang pengusaha terkenal memiliki 2 buah rumah yang terletak di Blitar. Objek pertama terletak di jalan semeru dan objek kedua terletak di jalan raya rinjani. Diketahui objek pertama NJOP bumi sebesar Rp. 1.000.000.000,- (1 M) dan NJOP bangunan Rp. 3.500.000.000,- (3,5 M) sedangkan untuk yang kedua diketahui NJOP bumi sebesar Rp. 1.000.000.000,- (1 M) dan NJOP Bangunan sebesar Rp. 4.500.000.000,- (4,5 M) Jawab :

NJOP Desa Blitar Jalan Semeru NJOP Bumi : 1.000.000.000 NJOP Bangunan : 3.500.000.000 4.500.000.000 NJOP Desa Blitar Jalan Rinjani NJOP Bumi : 1.000.000.000 NJOP Bangunan : 4.500.000.000 5.500.000.000

NJOPKP: JL. SEMERU JL. RINJANI TOTAL NJOPKP

5.500.000.000 12.000.000 =

5.488.000.000 4.500.000.000 9.988.000.000

PBB Terhutang = Tarif x NJKP = 0.5% x 40% x 9.988.000.000 = 19.970.000 Jadi, PBB yang harus di bayar oleh Pak Poneng sebesar Rp 19.970.000

BPHTB
SOAL 1
Pada tanggal 1 Maret 2008, Bapak Gideon membeli sebuah rumah seluas 200 m2 yang berada diatas sebidang tanah hak milik seluas 500 m2 di Kota Bogor dengan harga perolehan sebesar Rp 500.000.000,-. Berdasarkan data SPPT PBB atas objek tersebut ternyata NJOPnya sebesar Rp 600.000.000,- (tanah dan bangunan). Bila NPOPTKP ditentukan sebesar Rp 50.000.000,- maka berapa BPHTB yang harus dipenuhi oleh Bapak Gideon? Jawab : NPOP NPOPTKP NPOPKP

= Rp 600.000.000,= Rp 50.000.000,- = Rp 550.000.000,-

Tarif 5% BPHTB (Rp 550.000.000 x 5%) = Rp 27.500.000,-

SOAL 2
Bapak Krosbin Simatupang membeli sebidang tanah di Surabaya pada tanggal 5 Januari 2003 dengan harga perolehan menurut PPAT sebesar Rp 300.000.000,- dan BPHTB nya telah dibayar lunas pada tanggal tersebut. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan PBB Surabaya Satu pada tanggal 7 Pebruari 2003, ternyata NJOP PBB atas tanah tersebut adalah sebesar Rp.350.000.000,- Pada tanggal 1 Maret 2003 diperoleh data baru (novum), ternyata transaksi yang benar atas tanah tersebut adalah sebesar Rp 400.000.000,-. Atas temuan-temuan tersebut diatas Kepala Kantor Pelayanan PBB Surabaya Satu telah menerbitkan SKBKB pada tanggal 7 Pebruari 2003 dan SKBKBT pada tanggal 1 Maret 2003. Berapa BPHTB yang harus dibayar SKBKB dan SKBKBT yang diterbitkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB tersebut bila NPOPTKP ditentukan sebesar Rp 50.000.000,- ? Jawab : BPHTB yang telah dibayar pada tanggal 5 Januari 2003 adalah : = 5% x (300.000.000 50.000.000) = Rp 12.500.000, BPHTB yang seharusnya terutang pada tanggal 7 Pebruari 2003 : = 5% x (350.000.000 50.000.000) = Rp 15.000.000,BPHTB terutang BPHTB yang telah dibayar BPHTB kurang bayar Denda : 2 x 2% x Rp 2.500.000,SKBKB = Rp 15.000.000,= Rp 12.500.000,- = Rp 2.500.000,= Rp 100.000,- + = Rp 2.600.000,-

BPHTB yang seharusnya terutang pada tanggal 1 Maret 2003 : = 5% x (400.000.000 50.000.000) = Rp17.500.000,BPHB terutang = Rp 17.500.000,BPHTB yang telah dibayar = Rp 15.000.000,- BPHTB kurang bayar = Rp 2.500.000,Sanksi administrasi ( 100% ) = Rp 2.500.000,- + SKBKBT = Rp 5.000.000,-

SOAL 3
Suatu Yayasan Panti Asuhan Anak yatim memperoleh hibah wasiat sebidang Tanah dan Bangunan dengan nilai pasar Rp. 1.000.000.000,00. SPPT dengan NJOP Rp. 900.000.000. Apabila NPOP TKP Rp. 300.000.000, maka BPHTB adalah : Jawab : NPOP NPOPTKP NPOPKP BPHTB terhutang = Rp. 1.000.000.000,= Rp. 300.000.000,- = Rp. 700.000.000,= 5% x Rp. 700.000.000,- = Rp. 35.000.000,-

SOAL 4
Seseorang membeli sebuah rumah di Jakarta dengan luas tanah 200 m dan luas bangunan 100 m. Berdasarkan NJOP, harga tanah Rp700.000 per m dan nilai bangunan Rp600.000 per m. Berapa besaran BPHTB yang harus dikeluarkan oleh pembeli rumah tersebut? Jawab : * Harga Tanah: 200 m x Rp700.000 * Harga Bangunan: 100 m x Rp600.000 * Jumlah Harga Pembelian Rumah: * Nilai Tidak Kena Pajak *) * Nilai untuk penghitungan BPHTB * BPHTB yang harus dibayar 5% : 5% x Rp140.000.000

= Rp 140.000.000 = Rp 60.000.000 -------------------- + = Rp 200.000.000 = Rp 60.000.000 -------------------- = Rp 140.000.000 = Rp 7.000.000

SOAL 5
Pada tanggal 6 Januari 2006, Tuan S membeli tanah yang terletak di Kabupaten XX dengan harga Rp.50.000.000,00. NJOP PBB tahun 2006 Rp. 40.000.000,00. Jawab :

Mengingat NJOP lebih kecil dari harga transaksi, maka NPOP-nya sebesar Rp. 50.000.000,NPOP NPOPTKP NPOPKP BPHTB terhutang = Rp. 50.000.000,= Rp. 60.000.000,- = Rp. 0,= 5% x Rp. 0,- = Rp. 0,-