Anda di halaman 1dari 20

RENCANA KERJA DAN SYARAT

6.1 Pendahuluan pada pelaksanaaannya, pembangunan jembatan ini diperlukan rencana kerja dan syarat agar spesifikasi serta rencana yang diinginkan tercapai, rencana kerja dan syarat ini juga menjadi pedoman bagi para pelaksana proyek dalam masa konstruksi, adapun rencana kerja dan syarat adalah: Mengambil segala ketentuan teknik tentang pekerjaan yang harus dilaksanaan sesuai dengan perjanjian dalam dokumen kontrak Mengandung perintah dan larangan serta ketentuan teknik lainnya yang harus dilakukan, dilaksanakan dan dipenuhi oleh pelaku jasa konstruksi Bila tidak dicermati dan dilaksanakan sesuai dengan perintah maka akan berdampak kesalahan dalam pelaksanaan atau kerugian pada saat menyusun Analisa harga satuan. Menentukan kebutuhan jumlah dan komposisi peralatan Perhitungan volume pekerjaan yang salah Jadi, spesifikasi teknik dalam bidang pekerjaan struktur jembatan adalah dengan maksud: Persyaratan teknis yang disusun oleh perencana untuk mencapai mutu bangunan sesuai dengan yang diinginkan oleh Pemilik Bagian dari perjanjian kerja antara Pemilik dan Pelaksana Acuan pelaksana untuk menyusun strategi dalam penyusunan harga penawaran pada proses tender Acuan prosedur kerja untuk mewujudkan rencana perencana, pelaksana dan pengawas untuk mencapai mutu, waktu pelaksanaan dan dana yang telah disepakati bersama dalam perjanjian kontrak. Acuan pokok pelaksana, memberikan batas-batas bagi usahanya yang kreatif untuk melakukan penghematan sumber daya, pengehematan waktu pelaksanaan dan meningkatkan keuntungan bagi pelaksana. Sebagai seorang pelaksana, yaitu penyedia jasa dapat dikatakan wajib memahami spesifikasi sebagi dokumen resmi kesepakatan bersama, mengerti bagianbagian yang harus dicapai dan diamati, selalu mengusahakan cara-cara dan alternatif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan tanpa melanggar ketentuan

yang tertera di dalam spesifikasi. Menyusun usulan kesepakatan baru (change order) yang akan mendukung pekerjaan secara efektif dan efisien. Pelaksana harus dapat melakukan pekerjaan dengan pedoman spesifikasi atau dengan cara lain yang lebih baik dan disepakati bersama. Pelaksana juga harus memiliki visi mewujudkan bangunan sesuai persyaratan minimal yang diminta oleh spesifikasi, namun selalu berusaha untuk bekerja lebih cepat, efektif dan efisien, mampu menghemat sumber daya dan berusaha meningkatkan keuntungan dengan cara-cara yang sehat, dan selalu merancang dengan mutu yang terbaik. Definisi mutu adalah sebagai berikut: Kesesuaian dengan persyaratan / tuntutan Kecocokan dengan pemakaian Bebas dari kerusakan / cacat Pemenuhan kebutuhan pelanggan sejak awal dan setiap saat

6.2 Sistematika Spesifikasi Spesifikasi secara umum memiliki suatu sistematika penulisan yang digunakan untuk semua divisi. Sistematika penulisan spesifikasi adalah sebagai berikut: Umum Persyaratan Pelakasanaan Pengendalian mutu Pengukuran dan Pembayaran

6.2.1 Umum Pada bagian ini menjelaskan tentang ruang lingkup yang tercakup dan akan ada hubungannya dengan analisa harga satuan yang harus dipahami pengguna jasa dalam melakukan penawaran. Karena tanpa hal ini penawaran akan menjadi salah dan kemungkinan besar penyedia jasa dapat mengalami kerugian yang cukup besar.

6.2.2 Persyaratan Pada bagian ini menjelaskan tentang standar referensi yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan, serta toleransi-toleransi yang diizinkan atau yang menjadi acuan dalam hasil pelaksanaan untuk pengukuran dan penerimaan hasil

kerja. Demikian juga dengan bahan yang harus digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan serta persyaratan-persyaratan kerja sebelum pelaksanaan pekerjaan tersebut dimulai.

6.2.3 Pelaksanaan Pada bagian pelaksanaan menjelaskan tentang tata cara pelaksanaan pekerjaan yang mengacu pada pedoman pelaksanaan atau standar-standar yang ada. Pada bagian ini juga dijelaskan tahapan pelaksanaan pekerjaan yang mencakup penggunaan bahan sampai dengan persyaratan pernggunaan peralatan atau manajemen peralatan yang harus digunakan dan tata cara pelaksanaannya. Jadi bagi seorang penyedia jasa wajib memahami permasalahan pelaksanaan ini agar produk yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan mutu sesuai dengan spesifikasi atau persyaratan pengguna jasa.

6.2.4 Pengendalian mutu Di dalam pasal pengendalian mutu tercakup hal-hal persyaratan penerimaan hasil pekerjaan dan tata cara pengendalian mutunya, dalam pelaksanaan pekerjaan. Pasal pengendalian mutu ini sangat penting, bagi penyedia jasa yang ingin maju dan sukses dalam produk yang dihasilkan serta memuaskan pelanggan. Pengendalian mutu ini mencakup masalah penerimaan bahan, jaminan mutu, perbaikan dan pemeliharaan selama pekerjaan berlangsung.

6.2.5 Pengukuran dan pembayaran Pengukuran dan pembayaran merupakan bagian yang terakhir atau tahap terakhir setelah hasil pekerjaan selesai dilaksanakan dan kemudian dilakukan pengukuran hasil kerja, tetapi perlu diingat bahwa pengukuran ini baru dapat dilaksanakan setelah hasil pekerjaan diterima. Permasalahan pengukuran juga merupakan bagian yang penting bagi penyedia jasa, karena tanpa mengetahui cara pengukuran, maka penyedia jasa tidak mudah atau tidak dapat membuat analisa harga satuan atau penawaran yang akan diajukan pada saat lelang. Pembayaran sangat berhubungan erat dengan pengukuran. Dalam

pembayaran dijelaskan tentang dasar pembayaran yang akan dilaksanakan sesuai dengan seksi yang bersangkutan. Jadi hal inipun sangat penting untuk dipahami oleh

penyedia jasa dalam pelaksanaan tugasnya. Spesifikasi jembatan terdiri atas beberapa seksi sebagai berikut: Beton Beton prategang Baja tulangan Tiang pancang Landasan jembatan

6.3 Beton 6.3.1 Umum Cakupan pekerjaan ini adalah pelaksanaan untuk seluruh pekerjaan beton sebagai berikut: struktur beton bertulang, Beton tanpa tulangan, beton prategang, struktur beton pracetak, beton untuk struktur komposit Pekerjaan beton ini meliputi penyiapan tempat kerja untuk pengecoran beton, pemeliharaan pondasi, pengadaan penutup beton, lantai kerja, pemompaan dan lain sebagainya.

6.3.2 Mutu Beton Mutu beton yang digunakan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh perencana, dengan mutu beton 25-50 Mpa. 6.3.3 Standar a. Perencanaan Struktur Atas Jembatan - Bridge Design Code, Volume 1 and Volume 2, Bridge Management System 1992, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum. - Perencanaan Struktur Beton Untuk Jembatan (SNI T-12-2004) - Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan (SNI 2833:2008). - Pembebanan Untuk Jembatan (RSNI T-02-2005) - AASHTO LFRD Bridge Design Specification, 3rd Edition. - Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung 2002 (SNI 03-2847-2002)

- Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung (RSNI 03-1726-2010) - SNI Gempa 2002 - Peta Zonasi Gempa Indonesia 2010

b.

Perencanaan Struktur Bawah Jembatan - FHWA-IF-99-025, Drilled Shafts: Contuctions Procedures and Design Methods, 1999. - FHWA-NHI-00-03, Mechanically Stabilized Earth Walls and Reinforced Soil Slopes, Design and Construction Guidelines, 2001. - Eurocode British Standard EN 1997-1:2004 Eurocode 7. Geotechnical design. General rules.

c.

Perencanaan Bangunan Pelengkap Jalan - Departemen Pekerjaan Umum, Penempatan Marka Jalan Pd T-12-2004-B - Departemen Pekerjaan Umum, Perencanaan Median Jalan, PD T-17-2004-B

d.

Perencanaan Geometrik dan Perkerasan Jalan - Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan (Maret 1992). - Tata cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota edisi No.038/T/BM/1997 September 1997.

e.

Perhitungan atau analisa harga satuan pekerjaan - Jurnal Harga satuan Bahan Bangunan dan upah pekerja pemerintah provinsi riau, edisi XXXII tahun XIX 2013 - Pedoman Standar Minimal INKINDO untuk menentukan billing rate tenaga ahli dan tenaga pendukung tabel 2-11 untuk biaya langsung personil untuk tenaga ahli - Pedoman Standar Minimal INKINDO untuk menentukan billing rate tenaga ahli dan tenaga pendukung tabel 3-11 untuk biaya langsung personil untuk tenaga sub professional - Pedoman Standar Minimal INKINDO untuk menentukan billing rate tenaga ahli dan tenaga pendukung tabel 4-11 untuk biaya langsung personil untuk tenaga pendukung

- SNI DT-91-0006-2007 Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Tanah - SNI DT-91-0007-2007 Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Tanah Pondasi - Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) No. 028/T/Bm/1995 Pekerjaan seksi lain yang terkait 6.3.4 Persyaratan Bahan

Semen : jenis semen portland sesuai SNI Air : bersih, bebas dari bahan organik Agregat : gradasi sesuai ketentuan, sifat agregat harus bersih, kuat, keras Aditif : jumlah tidak lebih dari 5% dari berat semen atau sesuai spesifikasi produk

6.3.5 Pengajuan Kesiapan Kerja a) Kontraktor harus mengirimkan contoh semua bahan yang akan digunakan dan dilengkapi dengan data pengujian seluruh sifat bahan b) Kontraktor harus mengirimkan rancangan campuran untuk masingmasing mutu beton 30 hari sebelum dilaksanakan untuk kemudian dilakukan pembuatan trial mix dalam langkah membuat job mix. c) Kontraktor menyerahkan secara tertulis hasil pengujian pengendalian mutu. d) Untuk pengujian kuat tekan beton dengan umur 3 hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari setelah tanggal pencampuran, yang kemudian

dibandingkan dengan hasil trial mix agar didapat jobmix yang sesuai dengan desain mix. e) Kontraktor mengirim detail gambar dan perhitungan rinci untuk perancah yang digunakan. f) Kontraktor harus memberitahu Direksi Pekerjaan minimal 24 jam sebelum dilakukan pencampuran, pengecoran setiap jenis beton disertai metode pelaksanaannya, kapasitas alat yang digunakan, personil, jadwal pelaksanaan untuk mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan .

6.3.6 Bahan dan Tempat kerja Penyimpanan dan perlindungan bahan Untuk penyimpanan semen, kontraktor harus menyediakan tempat yang terlindung, lantai kayu yang lebih tinggi 30 cm dari permukaan tanah dan ditutup dengan plastik dan tidak lebih dari 3 bulan sejak tanggal penyimpanan di lokasi pekerjaan. Agregat harus terlindung dan tidak langsung terkena matahari dan hujan sepanjang waktu pengecoran.
Kondisi tempat kerja

Untuk pengecoran bangunan atas jembatan harus terlindung dari sinar matahari langsung. Pengecoran tidak dapat dilaksanakan apabila tingkat penguapan melampaui 1,0 kg/m2/jam dan selama turun hujan, udara penuh debu atau tercemar. Dengan menggunakan grafik di bawah ini pelaksana akan dapat mengantisipasi permasalahan yang akan terjadi di lapangan dan dapat mempersiapkan kondisi material yang memenuhi syarat.

Persyaratan Kerja Pencampuran dan penakaran Rancangan campuran Proporsi bahan dan berat sesuai SNI 03-2834-2000 Pedoman awal rencana campuran sesuai tabel

Campuran percobaan Penyedia jasa harus membuat dan menguji campuran percobaan sesuai SNI 03-2834-2000 Disaksikan oleh Direksi pekerjaan Menggunakan jenis instalasi dan peralatan sesuai lapangan

Tabel.6.1. Pedoman Awal Untuk Perkiraan Proporsi Takaran Campuran


Jenis Beton Mutu Tinggi 50 K600 19 37 Mutu Beton fc ' (MPa) Ukuran (Mm) Rasio Air / Harga Semen s bk'(kg/cm2) Agregat Maks. Semen Maks. (Terhadap berat) 0,35 0,40 Minimum. (Kg / m 3dari campuran) 450 395

45

K500

25 19 37

0,40 0,40 0,425 0,425 0,425 0,45 0,45 0,45 0,475 0,475 0,475 0,50 0,50 0,50 0,55 0,55 0,55 0,60 0,60 0,60 0,70 0,70 0,70

430 455 370 405 430 350 385 405 335 365 385 315 345 365 290 315 335 265 290 305 225 245 260

38

K450

25 19 37

35 Mutu Sedang 30

K400

25 19 37

K350

25 19 37

25

K300

25 19 37

20 Mutu Rendah 15

K250

25 19 37

K175

25 19 37

10

K125

25 19

6.3.7 Pelaksanaan Beton Secara umum pelaksanaan beton mencakup pekerjaan: Penakaran material Pencampuran Transportasi Pengecoran Pemadatan Pengerjaan akhir (finishing) Perawatan (Curing)

6.3.7.1 Penakaran Material Semua bahan beton (air, semen, agregat kasar dan agregat halus) harus ditakar atau diukur dengan cara penimbangan terutama untuk beton dengan mutu> fc ' 20 Mpa. Perbandingan takaran atau komposisi bahan beton sangat penting dalam menentukan mutu beton yang akan diproduksi.

6.3.7.2 Pelaksanaan pencampuran Agregat yang telah ditakar sebelumnya harus dalam kondisi SSD pada saat penakaran. Peralatan yang digunakan harus dikalibrasi sebelum digunakan. 6.3.7.3Pencampuran Alat dilengkapi dengan tanki air dan alat ukur yang akurat. Cara pencampuran dengan masukkan sebagian air + agregat kasar + agregat halus sampai mencapai kondisi cukup basah sampai merata + semen - campur dan terakhir masukkan sisa air untuk menyempurnakan campuran. Waktu pencampuran dimulai sejak sisa air dimasukkan. Untuk kapasitas < m3 sekira 1,5 menit dan untuk mesin lebih besar ditingkatkan 15 detik untuk setiap penambahan 0,5 m3 6.3.7.4 Acuan Cetakan tanah, harus dipastikan bahwa semua tebing dalam kondisi stabil dan tidak ada tanah yang lepas Cetakan kayu, baja pastikan semua sambungan tidak bocor dan kaku sehingga posisinya tetap selama pengecoran, pemadatan dan perawatan Cetakan kayu yang permukaannya tidak diserut dapat digunakan untuk bagian yang tidak ekspos Harus dapat dibongkar tanpa merusak permukaan struktur, perlu diberi oil form Seluruh sudut acuan harus dibulatkan atau tidak ada sudut cetakan yang tajam Cetakan dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dibongkar tanpa merusak beton 6.3.7.5 Pengecoran

Penyedia jasa kepada Direksi pekerjaan minimal 24 jam sebelum pekerjaan dimulai dan meliputi lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton dan tanggal serta waktu pencampuran dimulai atau adanya penundaan pengecoran> 6 jam

Penyedia jasa tidak dapat memulai pekerjaannya sebelum ada persetujuan dari Direksi Pekerjaan secara tertulis

Pengecoran tidak dapat dilaksanakan apabila, Direksi pekerjaan atau wakilnya tidak melihat, walau sudah ada persetujuan pengecoran

Cetakan harus diolesi minyak atau oilform sebelum pekerjaan pengecoran dimulai

Beton yang dicorkan tidak dapat berumur lebih dari 1 jam setelah pencampuran, dan berdasarkan waktu pengerasan semen, apabila terjadi maka campuran beton harus ditambah retarder

Pengecoran pelaksanaan

harus

berkesinambungan

sampai

lokasi

sambungan

Pengecoran harus sedemikian sehingga tidak menimbulkan segregasi kecepatan pengecoran harus sedemikian rupa sehingga beton masih dalam kondisi plastis

Beton lama yang akan disambung dengan beton baru harus dikasarkan, dibersihkan dan dilapisi dengan bonding agent

Perawatan beton dimulai segera setelah terjadinya pengikatan akhir (final setting)

Bila digunakan ready mix, perhatikan kapasitas, daya pemompaan, kelecakan beton

6.3.7.6 Pemadatan Harus menggunakan alat penggetar mekanis Vibrator tidak dapat digunakan untuk memindahkan campuran beton daari satu titik ke titik yang lain Pemadatan pada daerah antar tulangan harus hati-hati sehingga tulangan tidak bergeser Jarak antar alat pengetar 45 cm dan waktu dithering maksimum 15 detik atau sampai permukaan beton mengkilap

Vibrator harus vertikal hingga bisa penetrasi sampai 10 cm dari dasar beton

Pemadatan harus selesai sebelum terjadi pengikatan awal (initial setting)

6.3.7.7 Koneksi Pelaksanaan Lokasi sambungan pelaksanaan harus ditampilkan dalam gambar rencana, dan tidak ditempatkan pada pertemuan elemen struktur Tidak bisa ada sambungan konstruksi pada tembok sayap Sambungan konstruksi harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan diletakkan pada gaya geser minimum Pada sambungan vertikal, baja tulangan harus menerus melewati sambungan agar struktur tetap monolit

6.3.8 Pengerjaan Akhir 6.3.8.1 Pembongkaran Acuan Pembongkaran acuan minimal dilaksanakan 30 jam setelah pengecoran Acuan yang ditopang dengan perancah (pelat, balok, struktur lain) baru bisa dibongkar ketika kekuatan beton sudah mencapai 85% terhadap kekuatan rencana Untuk beton ekspos dengan hiasan (tiang sandaran, parapet) maka beton dapat dibongkar setelah 9 jam dan tidak lebih dari 30 jam

6.3.8.2 Permukaan (Pengerjaan Akhir Biasa) Permukaan akhir harus dirapihkan setelah pembongkaran acuan. Semua kawat atau logam yang digunakan untuk memegang acuan harus dipotong paling tidak 2,5 cm di bawah permukaan Tidak ada tonjolan akibat sambungan acuan Penambalan hanya dapat dilaksanakan pada bagian struktur minor Akibat adanya keropos pada beton, maka harus dilakukan perbaikan sesuai dengan pedoman perbaikan beton dengan bahan polymer semen yang tidak menyusut

6.3.8.3 Permukaan (Pengerjaan Akhir Khusus)

Untuk bagian atas pelat, trotoir yang horizontal harus digaruk untuk memberikan bentuk dan ketinggian sesuai perencanaan segera setelah terjadinya final set. Permukaan horizontal harus dikasarkan sebelum selimut beton mengeras 6.3.9 Perawatan Tujuan perawatan Memperbaiki kualitas beton dan membuat beton lebih awet terhadap agresi kimia Membuat beton lebih tahan terhadap aus karena lau lintas dan lebih kedap air Reaksi kimia pada beton terjadi pada pengikatan dan pengerasan beton tergantung pada pengadaan airnya, sehingga perlu adanya jaminan bahwa air masih tertahan atau jenuh untuk memungkinkan kelanjutan reaksi kimia Penguapan menyebabkan beton kehilangan air sehingga terhenti proses hidrasi dengan konsekuensi berkurangnya peningkatan kekuatan Penguapan menyebabkan penyusutan kering yang terlalu dini dan cepat, sehingga berakibat timbulnya tegangan tarik yang dapat menyebabkan retak.

6.3.10 Pengendalian Mutu Penerimaan Bahan: Sebelum digunakan dilakukan pemeriksaan sesuai dengan ketentuan dengan bukti-bukti tertulis. Perencanaan campuran: Perencanaan campuran sesuai dengan

pelaksanaan campuran, pengujian campuran, dan perbaikan jika pekerjaan beton tidak memenuhi ketentuan.

6.3.11 Pengujian di lapangan Pengujian untuk Kelecakan (workability) Dengan menggunakan nilai slump untuk setiap pencampuran beton

Pengujian kuat tekan Setiap 10 m3 beton yang dipasok pada setiap hari harus ada 1 set (3 buah) pengujian kuat tekan untuk setiap jenis mutu beton pada 28 hari Rata-rata nilai hasil uji kuat tekan dari benda uji> ( fc ' + KSR) di mana S = nilai deviasi dan tidak ada satupun benda uji memiliki nilai <0,85 fc ', k = 1,64 dan r = faktor koreksi untuk jumlah benda uji <30 buah. Pengambilan benda uji yang mewakili

6.4 Beton Prategang 6.4.1 Umum fabrikasi struktur beton pratekan pracetak, bagian beton pratekan pracetak dari struktur komposit dan tiang pancang pracetak mencakup pembuatan, pengangkutan dan penyimpanan balok, tiang pancang, pelat dan elemen struktur dari beton pracetak, yang dibuat dengan cara pre-tension maupun post-tension. 6.4.2 Persyaratan Standar referensi SNI, aashto, ASTM Pekerjaan seksi lain yang terkait Beton, baja tulangan Toleransi Persyaratan bahan Persyaratan kerja

6.4.3 Persyaratan Bahan a. Acuan Harus cukup kuat, tidak melendut, kedap air Pada sambungan harus dipasang seal agar tidak bocor Ujung acuan ditumpulkan Pembentukan rongga harus sedemikian untuk mencegah masuknya adukan pasta semen Acuan dipasang setelah tulangan terpasang Toleransi sesuai dengan ketentuan Cetakan harus bersih sebelum pengecoran beton

b.

Grouting Rasio air semen maksimum 0,45 Bisa menggunakan bahan tambah untuk peningkatan kinerja Sebelum grouting baja prategang harus tersisa 3 cm dari tepi luar baji, angkur Casing harus bersih dan kering campuran grouting dicorkan secara menerus sampai penuh Bekas acuan angkur, setelah selesai grouting harus ditutup dengan adukan Setelah pelaksanaan grouting, tidak dapat terjadi deformasi tambahan pada struktur selama 3 hari dari selesainya pekerjaan grouting berakhir

c.

Baja prategang Metode Konstruksi post-tensioning Strand terdiri dari 7 wire dengan kuat leleh minimum 0,85 fpu dan kekuatan batas minimum 190 kg/mm2 Wire tidak dapat terhubung Kuat tarik tinggi harus bebas tegangan yang membentang secara dingin sebesar 1860 Mpa Sifat fisik setelah peregangan dingin: Modulus elastisitas minimal 195 x 103 Mpa Elongation minimum rata2 terhadap 20 batang 4% Diameter Kawat adalah 7,9 15,2 mm Kualitas baja adalah grade 270

d.

Pemberian tanda Disimpan dalam kelompok menurut ukuran dan panjangnya, diikat, diberi label Label berisi informasi spesifikasi teknis, no. sertifikat sesuai hasil pengujian

e.

Penyimpanan Disimpan di bawah atap dan tidak langsung terkena tanah Stress bar diberi ganjal Identitas pada wire, strand dan stress bar harus tetap ada selama penyimpanan

f.

Pengangkuran Kekuatan angkur minimal 95% kuat tarik minimum baja prategang

Dapat memberikan penyebaran tegangan yang merata Alat pengangkuran sesuai dengan cara pengencangan Angkur dilengkapi dengan selongsong atau penghubung lain yang cocok dalam pelaksanaan grouting

g.

Casing Untuk sistem post tension, digunakan casing bergelombang Ujung casing harus sedemikian rupa sehingga bagian ujung kabel bebas bergerak Casing bebas dari retak, belah Memiliki lubang udara Kuat menahan tekanan sebesar 4 bar Untuk sistem eksternal stressing kabel dilindungi dengan HDPT, tahan korosi dan stabil

6.4.4 Persyaratan Kerja Sistem Prategang Sesuai dengan rencana yang dipilih oleh penyedia jasa (hasil detail design) Pasca tarik atau pra tarik Gaya prategang efektif sesuai dengan hasil rancangan

Kesiapan kerja Rincian sistim, peralatan dan bahan. Meliputi metode dan urutan pengencangan, rincian lengkap untuk baja prategang, alat penjangkaran, jenis selongsong dan setiap data relatif lainnya untuk operasi pra-tegang. Rincian tersebut harus menunjukkan setiap susunan dari baja tulangan yang bukan pra-tegang seperti yang ditunjukkan dalam Gambar. Rincian sistim, peralatan dan bahan. Meliputi metode dan urutan pengencangan, rincian lengkap untuk baja prategang, alat penjangkaran, jenis selongsong dan setiap data relatif lainnya untuk operasi pra-tegang. Rincian tersebut harus menunjukkan setiap susunan dari baja tulangan yang bukan pra-tegang seperti yang ditunjukkan dalam Gambar. 6.4.5 Pelaksanaan Pelaksanaan beton prategang mencakup: Unit Beton prategang

Pelaksanaan unit prategang sistem pratarik Pelaksanaan unit prategang sistem pasca tarik Penanganan, transportasi dan penyimpanan unit beton pracetak Pelaksanaan unit beton pracetak segmental Pemasangan unit beton beton prategang

6.4.5.1 Unit beton Prategang Secara umum hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan adalah: Tempat pencetakan Acuan Perlengkapan prategang Perakitan kabel prategang Selimut beton Pengecoran beton perawatan Pengencangan kabel Pengencangan kabel Keselamatan kerja Peralatan Data yang harus dicatat Kabel untuk sistem pra tarik Kabel untuk sistem pasca tarik

6.4.5.2 Pelaksanaan unit prategang sistem pratarik Pelaksanaan unit beton prategang sistem pratarik memiliki kekhususan, dan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan adalah: Landasan gaya prategang Penempatan kabel Dongkrak hidrolis Alat potong baja prategang Bripak Besarnya gaya pengencangan yang diinginkan Prosedur pengencangan Transfer daya prategang Persetujuan

Ketentuan kekuatan beton Prosedur Masuknya kabel yang diijinkan

6.4.5.3 Pelaksanaan unit prategang sistem pasca tarik Persetujuan Landasan unit prategang Penempatan angkur Penempatan kabel Kekuatan beton yang diperlukan Besarnyagayaprategang yang diperlukan Prosedur penarikan kabel Umum Penarikan kabel dengan 2 dongkrak Pengencangan dengan 1 dongkrak Lubang grouting Grouting dan solusi akhir setelah pemberian gaya prategang

6.4.5.4 Penanganan, transportasi dan penyimpanan unit beton pracetak Pemberian tanda unit-unit beton pracetak Untuk identifikasi unit Pada tiang pancang diberi tanda dimensi dan panjang Penanganan dan transportasi Transportasi dalam posisi tegak Unit yang rusak akibat penanganan harus diganti Cara transportasi dan penanganan harus disetujui Direksi Penyimpanan Dipasang penyangga dengan jarak maksimum 20% ukuran panjang unit Baja prategang

6.4.5.5 Pemasangan unit beton prategang Fokus untuk unit yang diletakkan di atas bantalan karet Harus berada pada posisi sebagai bantalan karet

Hubungan antara bantalan karet dengan unit beton prategang terletak penuh Pengaturan posisi unit Menjamin stabilitas gelagar pada waktu berdiri sendiri dan pada waktu pengaturan dan dilakukan perkuatan

6.4.6 Pengendalian Mutu Dalam pengendalian mutu data pengujian harus lengkap, serta data penerimaan bahan sesuai dengan persyaratan yang dibuktikan secara tertulis dan ditandatangani oleh yang menyerahkan dan yang menerima. Pengawasan dalam pengendalian mutu ini sangat penting, sehingga diperlukan ahli dalam bidang sistem pengencangan kabel prategang, dan dilengkapi dengan benda uji, rakitan angkur, penerimaan unit-unit sebelumnya dengan lengkap

6.5 Pondasi 6.5.1 Pondasi Tiang Pancang 6.5.1.1 Umum Mencakup tiang pancang yang disediakan dan dipancangkan Jenis tiang pancang: Tiang kayu - crucuk Tiang baja profil Tiang pipa baja Tiang beton bertulang pracetak Tiang beton prategang pracetak Tiang bor beton cor langsung di tempat

Pengajuan Kesiapan Kerja Pastikan sudah ada gambar kerja Buat program pemancangan Buat perhitungan rencana, Rumus pemancangan Alat pancang Buat metoda penyambungan tiang

Usulan pengujian tiang Misalnya, data tiang pancang yang akan digunakan

6.5.1.2 Pelaksanaan Tiang pancang beton pracetak a. Umum b. d. Konektivitas, metode penyambungan harus disetujui Direksi Pekerjaan

Perpanjangan tiang pancang Baja tulangannya dengan overlap 40 x diameter Baja spiral 2 x lingkaran penuh Mutu beton minimum fc ' 35 Mpa

c. Sepatu tiang pancang Disesuaikan dengan kondisi tanah

Pembuatan dan perawatan sesuai dengan spesifikasi bahan beton dan baja tulangan Dalam proses pengangkatan tiang harus ditahan pada panjangnya Tiang diberi tanda waktu pengecoran, panjang pada daerah dekat kepala tiang

6.5.2 Pondasi Tiang Bor a. Persiapan a. Lokasi titik bor Hasil penelitian tanah Jenis alat bor dan diameternya Metode pengeboran Pembuatan tulangan sesuai dengan gambar rencana

Pelaksanaan Pengeboran sampai kedalaman yang disyaratkan, tetapi harus ada kepastian sudah mencapai tanah keras Pemasangan tulangan, dan dipasang dalam kondisi bersih Pembuatan beton dengan mutu sesuai persyaratan Pengecoran beton (tinggi jatuh atau langsung dengan pemompaan - W / C ratio) Waktu pengecoran dan kondisi pendukung lainnya