Anda di halaman 1dari 14

Hemofilia merupakan suatu penyakit gangguan mekanisme pembekuan darah yang diturunkan secara genetic melalui kromosom seks.

Meskipun hemofilia merupakan penyakit kelainan pembekuan darah tetapi manifestasi klinisnya terbanyak pada system muskuloskeletal. Penyakit ini sudah ada sejak 200 M melalui tulisan Talmudic. Manifestasi klinis bisa ditemukan pada usia bayi pada jenis yang berat, tetapi umumnya gejala klinis dimulai pada usia kanak kanak dimana bila tidak diobati secara teratur maka pada periode maturitas skeletal akan ditemukan kerusakan sendi yang berat. Proses dari pengobatan hemofilia mengalami kemajuan yang pesat setelah perang dunia ke II sejalan dengan kemajuan dalam pemberian darah dan plasma dimana teknik dari pemisahan fraksi plasma dan presesvasi dari zat zat tersebut memungkinkan kita untuk memberikan pengobatan yang terbaik bagi penderita. Jenis Hemofilia Hemofilia dapat di bagi atas - Hemofilia A (Clasic Hemophilia) yang merupakan kelainan congenital defisiensi faktor VIII (anti hemophiliacfactor / anti hemophiliacglobilin. Tipe A ini 80% dari seluruh kasus hemofilia. - Hemofilia B (Chritsmas disease) merupakan kelainan congenital defisien faktor IX (plasma thrombhoplastin component).

PROBLEM DALAM SISTEM MUSKULOSKELETAL Perdarahan yang tak terkontrol dan berulang merupakan suatu gejala klinis dari hemofilia. Perdarahan dapat terjadi dimana saja tetapi yang paling sering adalah pada sendi dan jaringan lunak atau otot. Berat dan ringan gejala klinis sangat tergantung dari presentase kadar faktor pembekuan dalam darah. Biggs & Mac Farlane membuat korelasi antara presentasi faktor pembekuan dengan gejala klinis sebagai berikut : Level kadar dalam darah (faktor VIII) 25 50% 5 25% 1 5% 0 1% Klinis Tendensi perdarahan berlebihan setelah trauma yang hebat. Perdarahan hebat setelah cedera ringan atau saat pembedahan Perdarahan yang luas setelah cedera atau hemarthrosis dan perdarahan spontan Hemofilia berat, hemarthrosis dan kaku sendi, perdarahan dalam jaringan lunak

I. ARTRHOPATI HEMOPHILIA Sendi untuk bertumpu adalah sendi yang paling sering terkena, dengan urutan kekerapan sebagai berikut : - Sendi lutut - Sendi siku - Sendi bahu - Sendi pergelangan kaki - Sendi pergelangan tangan - Sendi panggul Sedangkan vertebra (tulang belakang) sangat jarang terkena. Hemorthrosis serta perdarahan yang berulang, kemudian akan menimbulkan reaksi pada sendi yang dikenal dengan synovitis. Bila synovitis menjadi kronis akan menimbulkan degenerasi pada tulang rawan dan beakhir dengan kerusakan sendi.

Patofisiologis : Pada saat cedera terjadi robekan pada pembuluh darah synivium dan darah akan terakumulasi dalam sendi. Perdarahan akan terus berlangsung sampai tekanan hidrostatik intra artikuler melebihi tekanan arteri dan kapiler dalam sinovium sendi. Sebagai akibat efek tampnade ini akan menyebabkan iskhemi pada synovium dan tulang sub khondral. Dengan perdarahan berulang terjadi hiperplasi dan fibrosis dari jaringan synovial. Proliverasi jaringan synovial akan membentuk Pannus dan Pannus ini akan mengikis tulang rawan sendi daerah perifer dan menutupi serta menekan permukaan tulang rawan di daerah tengah. Tulang rawan sendi juga akan rusak akibat enzim proteolitik yang dihasilkan jaringan synovial yang mengalami inflamasi diatas akan merusakkan tulang rawan sendi disamping itu juga akan terjadi pembatasan ruang lingkup sendi dan kontaktur sendi akibat fibrosis kapsul dan synovial sendi. Iskhemi lokal juga akan menyebabkan terbentuknya kista sub khindral tulang. Reaksi inflamasi juga menyebabkan peningkatan sirkulasi darah sehingga memacu pertumbuhan panjang tulang. Stimulasi pada pertumbuhan tulang ini bisa menimbulkan : - Pertumbuhan yang asimetri sehingga menghasilkan deformitas varus atau valgus - Penutupan dini pertumbuhan tulang sehingga menghasilkan perpendekan tungkai

Gejala Klinis Tergantung dari berat ringannya perdarahan dan saat terjadinya (akut, sub akut dan khronis) Pada yang akut biasanya dijumpai nyeri dan bengkak disertai distensi dari kapsul sendi. Kulit diatas sendi nampak terenggang dan lebih berkilat. Pada perabaan umumnya hangat dan nyeri serta keterbatasan dari ruang lingkup sendi. Sub akut haemorthrosis timbul setelah beberapa kali episode perdarahan dalam sendi, nyeri minimal dan jaringan synovium sudah menebal serta terdapat kekakuan sendi. Haemorthrosis khronik terbentuk setelah 6 bulan terjadinya perdarahan sendi yang berulang ulang. Persendian menjadi sangat kaku, fibrosis dan sendi mengalami kehancuran.

Gambaran Radiologis Gambaran radiologis dari sendi hemofilia dapat ditemukan bermacam macam kelainan, mulai dari pembengkakan jaringan lunak, osteoporosis pada tulang, pemebesaran epifisis, kista subkhondral, penyempitan selah sendi dan pembentukan oteofit. Arnold dan Hilgartner membagi kelainan arthropati hemofilia atas 5 tingkatan : Tingkat / Stage I II III Gambaran Xray Pembengkakan jaringan lunak tulang & sendi masih normal Overgrowth & osteoporosis dari epifisis, sendi masih baik Celah sendi mulai menyempit, kista sub khondral Patella berbentuk segi empat Pelebaran intercondiler notch dari lutut dan trochlea notch dari siku Celah sendi sangat sempit dengan kerusakan rawan sendi Celah sendi hilang, rawan sendi sangat tidak rata, epifisis irreguler dan overgrowth

IV V

Pengobatan Medikal - Profilaksis faktor replacement - NSAID - Steroid - Oral - Intraartikuler - Aspirasi - Immobilisasi - Physiotherapi Pembedahan - Synovectomy - Artroskopi Synovectomy - Synoviorthesis synovectomy (kimiawi atau radioaktif) - Open synovectomy - Penggantian sendi (Total Joint Replacement)

Profilaksis Pemberian faktor pembekuan (VIII ata IX) sebagai terapi replacement sangat dibutuhkan penderita hemofilia untuk mempertahankan level yang aman dari perdarahan yang tidak terkontrol. Pemberian profilaksis jangka panjang akan memberikan hasil akhir yang baik dalam mempertahankan fungsi persendian. Tujuan profilaksis jangka panjang adalah : - Mengkontrol / mencegah haemorthrosis berulang - Mempertahankan fungsi ruang lingkup sendi

- Mencegah atrof otot Synovitis hemofilia yang dini harus diobati secara agresif dengan faktor pembekuan dan aktif fisioterapi. Bila synovis menjadi khronis akan terjadi kontaktur fleksi dari sendi dan berakhir dengan arthropaty haemophilia.

II. PERDARAHAN PADA JARINGAN LUNAK Perdarahan pada jaringan lunak dapat terjadi superficial yaitu pada jaringan subkutis atau perdarahan dalam yaitu perdarahan pada otot (intramuskular) atau diantara oto (intermuskular). Pada ekstremitas atas perdarahan dalam sering terjadi di otot deltoitm, pergelangan tangan dan lengan bawah; sedangkan pada ekstremitas bawah perdarahan sering terjadi pada M. Quadriceps, Triceps Surae dan kompartemen anterior tungkai. Gejala yang sering ditemukan adalah kekakuan atau kelemahan pada oto tersebut disertai terbatasnya pergerakkan sendi didekatnya. Pada perdarahan di otot iliopsoas kadang kadang menimbulkan gejala yang mirip dengan appendicitis akura atau kolik ginjal. Sebagai akibat dari perdarahan oto ini akan menyebabkan iskhemi dan fibrosis dari otot dan akan mengakibatkan kontaktur dari oto yang bersangkutan.

Pengobatan - Pemberian faktor pengganti (faktor VIII atau IX) - Splinting daerah yang terkena pada posisi yang netral. Bila nyeri & bengkak berkurang segera dimulai latihan aktif menggerakkan persendian. Pseudo Tumor Hemofilia Pseudotumor hemofilia merupakan kista yang terbentuk secara cepat pada system muskuloskeletal akibat perdarahan yang tak terkontrol; biasanya terjadi pada hemofilia yang berat dengan angka angka kejadian 1-2% dari kasus tersebut. Valderamma & Mathews (1965) membagi kista ini atas 3 jenis. Jenis yang pertama merupakan kista yang sederhana yang terbentuk pada pembungkus fasia otot, jenis kdua kista yang terdapat didalam oto dan melekat ke periosteum tulang dan mengakibatkan menipisnya tulang. Pada jenis yang ketiga pseudotumor terbentuk akibat perdarahan subperiosteal dan menimbulkan kerusakkan pada tulang sehingga timbul fraktur patologis dalam waktu yang singkat.

PENUTUP Penderita hemofilia dapat hidup normal layaknya manusia yang lain dan problem orthopaedic dapat diminimalkan dengan pemberian faktor replacement secara berkesinambungan. Tentunya diperlukan kerjasama yang baik antara Spesialis Orthopaedi, haemotologis dan ahli

Rehabilitasi medik untuk mencapai hasil yang maksimal. Daftar Pustaka Tachdjian MO. Pediatric Orthopaedics; 2nd ed.Philadelphia WB Saunders, 1990; 1494 1. 1507 Niemann KMW. Diseases Related to The Hemotopoietic System. In : Lovell WW, 2. Winter RB, Eds. Pediatric Orthopaedics; 2nd ed. Philadelphia : J.B. Lippincott, 1986; 195 211 Rodriguez Merchan EC : Effect of Hemophilia on Articulations of Children and Adults. 3. Clin. Orthop. 328 : 7 13; 1996 Rodriguez Merchan EC : Pathogenesis, Early Diagnosis and Prophylaxis for Chronic 4. Hemophilic Synovitis. Clin. Orthop. 343 : 6 11; 1997 Ribbans WJ, Giangrande P, Beeton K : conservative Treatment of Hemarthrosis for 5. Prevention of Hemophilic Synovitis. Clin. Orthop. 343 : 12 18; 199 Hemofilia Thursday, 29 September 2011 05:43 Admin Istrator Hemofilia adalah penyakit genetik/turunan, merupakan suatu bentuk kelainan perdarahan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya dimana protein yang diperlukan untuk pembekuan darah tidak ada atau jumlahnya sangat sedikit. Penyakit ini ditandai dengan sulitnya darah untuk membeku secara normal. Apabila penyakit ini tidak ditanggulangi dengan baik maka akan menyebabkan kelumpuhan, kerusakan pada persendian hingga cacat dan kematian dini akibat perdarahan yang berlebihan. Penyakit ini ditandai dengan perdarahan spontan yang berat dan kelainan sendi yang nyeri dan menahun. Hemofilia termasuk penyakit yang tidak populer dan tidak mudah didiagnosis. Karena itulah para penderita hemofilia diharapkan mengenakan gelang atau kalung penanda hemofilia dan selalu membawa keterangan medis dirinya. Hal ini terkait dengan penanganan medis, jika penderita hemofilia terpaksa harus menjalani perawatan di rumah sakit atau mengalami kecelakaan. Yang paling penting, penderita hemofilia tidak boleh mendapat suntikan kedalam otot karena bisa menimbulkan luka atau pendarahan, Hemofilia memiliki dua tipe, yakni tipe A dan B. Hemofilia A terjadi akibat kekurangan faktor antihemofilia atau faktor VIII. Sedangkan hemofilia B muncul karena kekurangan faktor IX. Penyakit ini diturunkan orang tua kepada seorang anak melalui kromosom X yang tidak muncul. Saat wanita membawa gen hemofilia, mereka tidak terkena penyakit itu. Jika ayah menderita hemofilia tetapi sang ibu tidak punya gen itu, maka anak laki-laki mereka tidak akan menderita hemofilia, tetapi anak perempuan akan memiliki gen itu. Jika seorang ibu adalah pembawa dan sang ayah tidak, maka anak laki-laki akan berisiko terkena hemofilia sebesar 50 persen, dan anak perempuan berpeluang jadi pembawa gen sebesar 50 persen. Gejala dan Pengobatan Hemofilia Gejala yang mudah dikenali adalah bila terjadi luka yang menyebabkan sobeknya kulit permukaan tubuh, maka darah akan terus mengalir dan memerlukan waktu berhari-hari untuk membeku. Bila luka terjadi di bawah kulit karena terbentur, maka akan timbul memar/ lebam kebiruan disertai rasa nyeri yang hebat pada bagian tersebut. Perdarahan yang berulang-ulang pada persendian akan menyebabkan kerusakan pada sendi sehingga pergerakan jadi terbatas (kaku), selain itu terjadi pula kelemahan pada otot di sekitar sendi tersebut.

Gejala akut yang dialami penderita Hemofilia adalah sulit menghentikan perdarahan, kaku sendi, tubuh membengkak, muncul rasa panas dan nyeri pascaperdarahan, Sedangkan pada gejala kronis, penderita mengalami kerusakan jaringan persendian permanen akibat peradangan parah, perubahan bentuk sendi dan pergeseran sendi, penyusutan otot sekitar sendi hingga penurunan kemampuan motorik penderita dan gejala lainnya. Hemofilia dapat membahayakan jiwa penderitanya jika perdarahan terjadi pada bagian organ tubuh yang vital seperti perdarahan pada otak. * Apabila terjadi benturan pada tubuh akan mengakibatkan kebiru-biruan (pendarahan dibawah kulit) * Apabila terjadi pendarahan di kulit luar maka pendarahan tidak dapat berhenti. * Pendarahan dalam kulit sering terjadi pada persendian seperti siku tangan, lutut kaki sehingga mengakibatkan rasa nyeri yang hebat. Bagi mereka yang memiliki gejala-gejala tersebut, disarankan segera melakukan tes darah untuk mendapat kepastian penyakit dan pengobatannya. Pemberian transfusi rutin berupa kriopresipitat-AHF atau Recombinant Factor VIII untuk penderita Hemofilia A dan plasma beku segar untuk penderita hemofilia B. Terapi lainnya adalah pemberian obat melalui injeksi. Baik obat maupun transfusi harus diberikan pada penderita secara rutin setiap 7-10 hari. Tanpa pengobatan yang baik, hanya sedikit penderita yang mampu bertahan hingga usia dewasa. Karena itulah kebanyakan penderita hemofilia meninggal dunia pada usia dini. Bila terjadi pendarahan/ luka pada penderita Hemofilia pengobatan definitif yang bisa dilakukan adalah dengan metode RICE, singkatan dari Rest, Ice, Compression, dan Elevation. - Rest. Penderita harus senantiasa beristirahat, jangan banyak melakukan kegiatan yang sifatnya kontak fisik. - Ice. Jika terjadi luka segera perdarahan itu dibekukan dengan mengkompresnya dengan es. - Compression. Dalam hal ini, luka itu juga harus dibebat atau dibalut dengan perban. - Elevation. Berbaring dan meninggikan luka tersebut lebih tinggi dari posisi jantung. Ada dua cara pengobatan hemofilia : Pertama: terapi on demand yaitu terapi saat terjadi perdarahan menggunakan infus produk untuk menggantikan faktor pembekuan. Kedua : profilaksis adalah infus faktor ke delapan secara rutin untuk mempertahankan kadar minimum faktor VIII/IX dengan kadar konsentrasi untuk mencegah sebagian besar perdarahan Perawatan bagi penderita Hemofilia Penderita hemofilia juga harus rajin melakukan perawatan dan pemeriksaan kesehatan gigi dan gusi secara rutin. Untuk pemeriksaan gigi dan gusi, dilakukan minimal 6 bulan sekali, karena kalau giginya bermasalah misal harus dicabut, tentunya dapat menimbulkan perdarahan. Selain itu penderita Hemofilia sedapat mungkin menghindari penggunaan aspirin

karena dapat meningkatkan perdarahan dan jangan sembarang mengonsumsi obat-obatan. Untuk pelaksanaan operasi ringan hingga berat bagi penderita hemofila harus melalui konsultasi dokter. Mengonsumsi makanan atau minuman yang sehat dan menjaga berat tubuh agar tidak berlebihan. Karena berat badan berlebih dapat mengakibatkan perdarahan pada sendi-sendi di bagian kaki (terutama pada kasus hemofilia berat). Olahraga secara teratur untuk menjaga otot dan sendi tetap kuat dan untuk kesehatan tubuh. Kondisi fisik yang baik dapat mengurangi jumlah masa perdarahan.

Skrining Pasien Dengan Kemungkinan Risiko Perdarahan Pada Pencabutan Gigi (Screening of The Patient With Risk of Bleeding After Extraction) Aries Chandra T *, Edy Machmud ** * Bagian Ilmu Bedah Mulut ** Bagian Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia

Abstrak Skrining atau identifikasi pasien sebagai pegangan untuk mendeteksi adanya kemungkinan latar belakang terjadinya perdarahan berkepanjangan adalah : riwayat kesehatan, adanya gejala setelah prosedur bedah. Apabila klinikus cukup waspada dan melakukan pemeriksaan dengan teliti, maka akan terdeteksi adanya kemungkinan penyakit sistemik yang melatarbelakangi perdarahan berkepanjangan tersebut dan dapat dicegah terjadinya resiko fatal/kedaruratan. Kata kunci : skrining, resiko perdarahan, pencabutan gigi.

Pendahuluan Perdarahan abnormal setelah pencabutan gigi, walaupun biasanya disebabkan oleh faktor lokal, namum apabila perdarahan berkepanjangan biasanya berkaitan dengan penyakit lain dan merupakan salah satu tanda yang paling sering dijumpai sebagai manifestasi penyakit sistemik, kelainan iatrogenik maupun pemakaian antikoagulan.(1) Perdarahan merupakan komplikasi yang paling ditakuti oleh pasien maupun dokter gigi sebab dianggap mengancam kehidupan. Komplikasi perdarahan dapat terjadi selama operasi atau segera setelah operasi.(1) Diagnosis kelainan perdarahan memang bukan wewenang dokter gigi, tetapi berbagai prosedur tindakan di bidang kedokteran gigi dapat mengakibatkan kemungkinan terjadinya perdarahan. Apalagi bila pasien mengidap penyakit sistemik tertentu atau menggunakan obat antikoagulan karena mengalami infark miokardial, cerebrovascular accident, atau penyakit lainnya, kemungkinan perdarahan yang berbahaya dapat terjadi. Oleh karenanya dokter gigi dituntut untuk lebih banyak tahu tentang bagaimana pasien-pasien

yang mungkin mempunyai resiko untuk terjadinya perdarahan pada waktu maupun pasca perawatan/tindakan. Pada beberapa kasus terdeteksinya pasien dengan resiko perdarahan, merupakan suatu langkah yang sangat berarti untuk mengurangi masalah timbulnya perdarahan yang fatal pada perawatan gigi mulut.(1) Sebagai pegangan untuk mendeteksi adanya kemungkinan latar belakang terjadinya perdarahan berkepanjangan adalah : riwayat kesehatan, adanya gejala yang ditemukan pada pemeriksaan fisik, tes laboratorik, dan observasi perdarahan yang berlebihan setelah prosedur bedah. Apabila klinikus cukup waspada dan melakukan pemeriksaan dengan teliti, maka akan terdeteksi adanya kemungkinan penyakit sistemik yang melatarbelakangi perdarahan berkepanjangan tersebut dan dapat dicegah terjadinya resiko fatal/kedaruratan.(1)

Tinjauan Pustaka Perdarahan di rongga mulut, khususnya perdarahan gusi yang abnormal dapat disebabkan karena faktor lokal, namun apabila perdarahan tersebut berkepanjangan perlu diwaspadai kemungkinan kaitannya dengan penyakit-penyakit lain atau merupakan manifestasi penyakit sitemik.(1) Penyebab perdarahan dapat dipengaruhi oleh faktor lokal, faktor sistemik, dan faktor kelainan bekuan darah.(2) Perdarahan gusi yang berhubungan dengan faktor lokal biasanya terjadi oleh karena infeksi/peradangan gusi yang bersifat akut atau kronik. Perdarahan terutama terjadi oleh karena peradangan kronis rekuren misalnya karena trauma mekanik : sikat gigi, tusuk gigi, makanan yang keras atau kebiasaan bruxism. Sedangkan perdarahan akut dapat terjadi pada luka trauma atau terjadi perdarahan spontan pada penyakit gingivitis akut misalnya Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG).(1) Perdarahan yang timbul setelah trauma dikendalikan oleh tiga faktor yang saling berkaitan yaitu :(3) 1. Reaksi pembuluh darah terhadap jejas 2. Pembentukan trombosit pada tempat jejas 3. Pembekuan darah Perdarahan gusi yang terjadi bukan karena faktor lokal, biasanya berkaitan dengan perubahan dinding pembuluh darah (scurvy, infeksi, alergi, kimiawi), reduksi platelet yang bermakna (trombositopenik, purpura primer/sekunder), gangguan fungsi platelet (kelainan genetik, obat-obatan, alergi, autoimun, uremia, penyakit von Willebrands), definisi satu atau lebih pada faktor koagulan (leukimia, hemofilia), pemberian obat-obat antikoagulan, gangguan pelepasan platelet atau tidak dirusaknya plasmin bebas dapat mengakibatkan perdarahan abnormal yang bermakna di dalam klinik.(1) Pasien dengan keadaan tersebut biasanya dapat diketahui jika dilakukan anamnesa dan tes yang tepat. Mereka harus ditangani dengan menyerahkan pada ahli hematologi dan ahli bedah mulut dimana mereka dapat bekerja sama dalam melakukan perawatan.(1) Scully mengklasifikasikan penyakit perdarahan sesuai dengan kausa yang paling sering misalnya kelainan pada platelet dan defek koagulasi, kausa yang agak jarang menyababkan perdarahan abnormal dengan pengelompokan sebagai berikut : (1) 1. Kelainan platlet Trombositopenia (HIV, leukemia), von Willebrand's disease, obat-obatan (aspirin, betalaktam antibiotik), trombastenia, dll.

2. Defek koagulasi Heofilia, antikoagulan, penyakit hepar, von Willebrand's, dll. 3. Penyakit-penyakit yang agak jarang menyebabkan perdarahan Aplastik anemia, penyakit gagal ginjal kronis, disproteinemis, LE, defisiensi faktor XII dan XIII atau faktor lainnya. Berdasarkan pengelompokan tersebut diatas dapat disimpulkan beberapa penyakit yang cenderung menimbulkan terjadinya perdarahan abnormal/berkepanjangan dan pasien-pasien tersebut dapat digolongkan sebagai kelompok bleeder.

Pembahasan Untuk mendeteksi penyakit atau kelainan yang berhubungan dengan terjadinya perdarahan, perlu diperhatikan pelaksanaan prosedur pemeriksaan yang komprehensip melalui atau tahapan sebagai berikut : (5) Anamnesis dan pencatatan riwayat kesehatan maupun penyakit dengan sebaik-baiknya, pemeriksaan fisik, tes laboratorium klinik, observasi perdarahan yang berlebihan setelah prosedur bedah. Pasien dengan penyakit darah biasanya dapat diketahui jika dilakukan anamnesis yang tepat dan dengan tes yang tepat. Pasien yang memiliki kelainan darah harus ditangani dengan menyerahkan pada dokter ahli hematologi dan ahli bedah mulut dapat bekerja sama dalam melakukan perawatan.(6) 1. Anamnesis/riwayat penyakit Setiap dugaan yang mengarah pada kemungkinan perdarahan harus dilayani secara serius. Meskipun demikian, pasien dapat mengira bahwa pertanyaan yang diajukan dianggap bercanda dan merupakan informasi pelengkap. Tetapi pada kasus lain pasien menanggapi cukup serius dan menduga pertanyaan tersebut menunjukkan keadaan dirinya abnormal. Pertanyaan tentang pengalaman pencabutan gigi sebelumnya merupakan suatu pengarahan yang bermanfaat, tetapi perpanjangan waktu perdarahan biasanya sebagai akibat faktor lokal, khususnya trauma yang berlebihan. Sebaliknya meskipun pasien mengetahui bahwa dirinya mempunyai kecenderungan perdarahan serius, pasien dapat menyimpan atau tidak menjelaskan apabila tidak khusus ditanyakan. Maka dari itu sebagai dokter gigi harus pandai-pandai mengetahui riwayat kesehatan ataupun kelainan pasien agar didapat informasi yang benar dan bermanfaat. Apabila dokter gigi terampil dalam melakukan anamnesis, maka suatu wawancara yang baik merupakan satusatunya prosedur skrining yang bermanfaat untuk mengidentifikasi pasien dengan kemungkinan kelainan perdarahan. Untuk mengetahui riwayat penyakit perlu ditanyakan beberapa faktor sebagai berikut : (7) 1. Pernah terjadi masalah perdarahan pada pasien atau anggota keluarga. 2. Perdarahan berlebihan sesudah operasi. 3. Perdarahan berlebihan oleh karena trauma. 4. Pemakaian obat-obatan untuk mencegah terjadinya koagulasi atau rasa sakit menahun/kronik. 5. Riwayat penyakit yang lalu maupun sekarang. 6. Terjadinya perdarahan spontan di dalam mulut atau bagian tubuh lainnya. 2. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan adanya gejala dan tanda-tanda yang mengarah

pada dugaan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kemungkinan perdarahan antara lain adalah kepucatan, jaundice, ekimosis, petekie, ulkus oral, jaringan gingiva hiperplastik. Gejala dan tanda-tanda tersebut merupakan cermin adanya kemungkinan penyakit-penyakit seperti penyakit hepar, leukemia, anemia, trombositopenia, hemofilia atau penyakit koagulasi, penyakit radang kronik dan malabsorbsi. Tanda adanya purpura pada kulit atau mukosa seperti perdarahan gusi, petekie atau ekimosis biasanya terjadi karena kelainan platelet. Purpura oral juga dapat ditemukan pada pasien dengan keukemia dan AIDS. Tandatanda yang menyertai penyakit leukemia seperti anemia dan limfadenopati juga perlu diperhatikan. (4) 3. Tes laboratorium klinik Tes laboratorium klinik yang dapat dimanfaatkan oleh dokter gigi untuk menyaring kemungkinan adanya penyakit perdarahan adalah hitung platelet, waktu perdarahan (BT), partial thromboplastin time (PTT), waktu protrombin (PT). (4) Dengan melaksanakan prosedur pemeriksaan tersebut diatas secara komprehensif, maka akan terdeteksi adanya pasien-pasien yang berstatus bleeder. Pada pasien-pasien tersebut tes laboratorium klinik sangat mutlak diperlukan sebelum tindakan pencabutan gigi untuk menghindari terjadinya resiko yang fatal/kedaruratan. 4. Observasi perdarahan yang berlebihan setelah prosedur bedah Observasi perdarahan yang berlebihan setelah prosedur bedah dilakukan untuk menghindari terjadinya keadaan yang fatal/kedaruratan. Apabila terjadi perdarahan yang berlebihan maka segera dilakukan tindakan untuk mengontrol perdarahan seperti dengan pemberian obatobatan hemostatik (gelfoam, surgicel, avitene, helistat), tekanan lokal dengan pack gauze, klem hemostat, elektrokauterisasi, suturing, dan obat kumur (tranexamide acid).(7) Kesimpulan 1. Perdarahan di dalam mulut dapat disebabkan oleh beberapa faktor namun pada umumnya dibagi atas : a. Faktor lokal, dapat disebabkan oleh infeksi, trauma, iritasi ringan pada gusi b. Faktor sistemik, disebabkan karena adanya riwayat penyakit hepar, leukimia, hipertensi, hemofilia, dan penyakit darah lainnya seperti trombositopenia, purpura, nontrombositopenia purpura dan gangguan koagulan. 2. Untuk dapat mendeteksi penyakit atau kelainan dengan resiko perdarahan maka perlu dilakukan prosedur skrining yang komprehensip melalui empat tahap : Anamnese, pemeriksaan fisik, tes laboratorium klinik, observasi perdarahan yang berlebihan setelah prosedur bedah. 3. Dokter gigi sangat penting dalam menemukan adanya kemungkinan resiko perdarahan, karena berbagai tindakan di bidang kedokteran gigi dapat menyebabkan perdarahan abnormal. Dokter gigi dituntut lebih memahami masalah-masalah penyakit perdarahan dan tanggap akan tanda-tanda serta gejala penyakit sistemik yang terkait. Daftar Pustaka 1. Little JW, Falace DA. Dental management of the medically compromised patient. 4th ed. St.Louis: Mosby; 1993.p.413-38. 2. Cawson RA. essential of dental surgery and pathologi. 4th ed. Edinburgh: Churchill; 1987.p.149-50.

3. Bayley Tj, Leinster SJ. Ilmu penyakit dalam untuk profesi kedokteran gigi, Alih Bahasa : Darmawan I. Jakarta : EGC; 1997.hal.199-200. 4. Scully C, Cawson RA. Medical problem in dentistry. 3rd ed. Oxford: Wright; 1994.p.82107. medically compromised patient Posted by belindch in dentistry and tagged with oral medicine 10 Maret 2011 1. Definisi Medik Kompromais Pasien dengan kondisi medik kompromais adalah seseorang dengan kondisi medis ataupun perawatan medis yang rentan terhadap infeksi maupun komplikasi serius (Marsh & Martin, 1999). Pasien medis kompromais adalah seseorang yang mengidap satu ataupun lebih penyakit dan sedang menjalani satu atau lebih medikasi sebagai perawatan penyakitnya tersebut (Ganda, 2008). Aspek khusus yang perlu diperhatikan adalah efek obat anestesi terhadap kondisi tersebut, potesi interaksi obat, serta kegawatdaruratan medis (Coulthard, et al., 2003). 2. Berbagai kondisi yang termasuk dalam status medikal kompromais Dhanuthai, et al (2009) mengklasifikasikan kondisi medis kompromais dalam 8 kategori yaitu: alergi, endocrine disorders, cardiovascular diseases, respiratory diseases, hematological disorders, liver diseases, renal diseases, dan penyakit lainnya. Disorder: Contoh > Komplikasi Oral Endokrin: Diabetes melitus > Infeksi fungal Kardiovaskuler: Disfungsi mitral valve > Infeksi endokarditis Respirasi: Asma > Rentan terhadap infeksi fungal Neurologi: Epilepsi > Hiperplasi gingiva dan penyakit periodontal Bleeding disorder: Hemofili > Prolonged bleeding Penyakit neoplasma: Ca Oral > Karies dan mukositis Infeksi kronis: Tuberkulosis > Oral tubercullosis Kelainan imunologi: AIDS > Infeksi fungal (Marsh & Martin, 1999) 3. Tanda, gejala, patofisiologi, patogenesis (Bricker et al., 1994) a. Sistem Respirasi Kerusakan pada sistem respirasi meningkatkan resiko kematian seorang pasien dalam praktek kedokteran gigi karena kemampuan pulmonari menurun, medikasi yang mereka gunakan, interaksi obat, dan resiko transmisi penyakit. Pasien dengan respiratory disorder dapat diidentifikasi melalui riwayat kesehatannya yaitu mengalami kesulitan bernapas, sering terjadi infeksi saluran napas atas, kebiasaan merokok, dan tinggal di lingkungan yang iritan terhadap sistem respirasi. Gejala: batuk, kesulitan bernapas (dypsnea), sputum, batuk darah, napas berbunyi, dan nyeri dada. Patogenitas dan patofisiologi: - Penyakit saluran napas atas: infeksi dan sinusitis - Penyakit saluran napas bawah: asma - Penyakit pulmonar kronis obstruktif (COPD): bronkitis kronis, emfisema - Penyakit paru-paru gramnulomatosa: tuberkulosis, sarkoidosis - Penyakit lainnya: pneumokoniosis

b. Sistem kardiovaskular Pasien dengan penyakit kardiovaskuler biasanya menjalani medikasi multipel dan memiliki penyakit serius lainnya seperti asma, osteoartritis, dan diabetes melitus. Tanda dan gejala: bunyi detak jantung abnormal, dypsnea, orthopnea (dypsnea pada posisi berbaring), jantung berdebar, detak jantung tidak teratur, sakit dada, nail-bed clubbing, distensi vena jugularis, dan tekanan darah tinggi. Patofisiologi: - Endokarditis infektif dan kondisi-kondisi yang berhubungan: demam reumatik, rheumatic heart disease, infeksi endokarditis - Valvular heart disease - Kelainan jantung bawaan - Hipertensi - Penyakit jantung iskemik: arterosklerosis koroner, angina pectoris, infark myokardial - Cardiac Arrhythmias: bradikardi (denyut jantung lambat), takikardi (denyut jantung cepat) - Gagal jantung (Gagal jantung kongestif): transplantasi jantung c. Sistem gastrointestinal Penyakit-penyakit gastrointestinal merupakan hal yang menarik dalam praktek kedokteran gigi karena kemiripan struktur antara mulut dan saluran gastrointestinal serta kemiripan antara penyakit mukosa oral dan penyakit oral yang merupakan manifestasi penyakit gastrointestinal. Tanda dan gejala: anoreksia, disfagia, nyeri abdominal, diare, konstipasi, melena, steatorea, malaise, demam, jaundice, distensi abdominal, palmar erythema, kontraktur Dupuytren, leukonisia, jari bengkak, pembengkakan nl. supraklavikular. Patogenitas dan patofisiologi: xerostomia, sialorrhea, penyakit GI atas, esophageal disorder, hipersekresi kelenjar ludah, hiposekresi kelenjar ludah, penyakit GI bawah, malabsorbsi, inflammatory bowel disease, poliposis intestinal, penyakit pankreas (pankreasitis, fibrisis kistik), dan penyakit liver (hepatitis, sirosis hati). d. Sistem renal Penyakit ginjal yang menurunkan fungsi normal ginjal secara reversibel maupun ireversibel dapat berkembang menjadi berbagai manifestasi klinis seperti retensi sisa produk metabolisme, akumulasi toksik dari obat-obatan, terganggunya keseimbangan asam-basa, retensi cairan, dan abnormalitas tekanan darah. Disfungsi ginjal yang persisten seringkali mengakibatkan perlunya dilakukan dialisis darah ataupun transplantasi ginjal. Tanda dan gejala: anoreksia, nausea, vomiting, penurunan intelektual, letargi, somnolen, bau mulut, neuropati, edema, hipertensi, penurunan berat badan, nyeri tulang, fraktur, pruritus, hematuria, masalah pada buang air kecil, renal osteodystrophy rahang. Patogenitas dan patfisiologi: sindrom nefritis, sindrom nefrotik, gagal ginjal akut/kronis. e. Sistem neural Terlihat adanya kelainan pada kognitif, motorik dan psikososial. Kelainan ini seringnya tidak terdiagnosis hingga beberapa bulan atau tahun. Setelah didiagnosis, masalah neurologi ini biasanya dirawat secara farmakologis. Dokter gigi harus memahami penyakit-penyakit neurologik dan hubungannya dengan perawatan dental karena pasien biasanya mengalami cognitive impaired, kurangnya kemampuan motoris, dan mengalami kesulitan untuk mengerti rencana perawatan gigi yang kompleks. Patogenitas dan patofisiologi: demensia (penyakit Alzheimer, retardasi mental), serebral palsi, epilepsi, penyakit demyelinasi (multipel sklerosis), kelainan neurotransmiter (parkinson/paralisis agitan), kelainan hubungan myoneural (myastenia gravis), penyakit

neuron motorik (sklerosis amyotrofi lateral), penyakit serebrovaskular, neuropati (bells palsy/facial palsy, trigeminal neuralgia, neuralgia glosofaringeal, neuralgia sfenopalatina, neuralgia postherpetik). Tanda dan gejala: penurunan intelektual, kehilangan memori, neuropati, sakit kepala, pening, TIA, iritabilitas mental, konvulsi, gigi menyerpih atau luka pada bibir atau lidah, tremor, muscle fatigue dan kelemahan, kehilangan fungsi motorik, dan nyeri. f. Sistem hematologi Penampakan oral dari penderita kelainan hematologi (seperti pembengkakan dan pendarahan gingiva) sangat penting untuk diketahui oleh seorang dokter gigi karena manifestasinya dapat merupakan indikasi awal dari sebuah malignasi penyakit hematologik. Patogenitas dan patofisiologi: kelainan sel darah merah ( anemia, polisitemia vera), kelainan sel darah putih (neutropenia, leukemia, limfoma, multipel myeloma), kelainan pendarahan (kelainan platelet, kelainan koagulasi bawaan, kelainan koagulasi dapatan). Tanda dan gejala: takikardi, lemah, kelelahan, sakit kepala, glositis, angular cheilitis, kedinginan, kesemutan, pembengkakan jari, goyah saat berjalan, nyeri abdominal, jaundice, demam, limfadenotapi, berkeringat, nyeri pada tulang dan persendian, infeksi kambuhan, pembengkakan gingiva, pendarahan spontan, menstruasi berat, perpanjangan waktu pendarahan (setelah trauma ringan, operasi minor, maupun pencabutan gigi), adanya petekia atau hematoma, kecenderungan memar. g. Sistem endokrin Patogenitas dan patifisiologi: hipersekresi glandula pituitari (gigantisme dan akromegali), hiposekresi glandula pituitari (dwarfisme), hipertiroidisme (tirotoksikosis), hipotiroidisme, hiperparatiroidisme (hipersekresi), hiposekresi glandula paratiroid, hiperadrenokortisme (hipersekresi gland adrenal menyebabkan Cushings syndrome), hipoadrenalkortisme (hiposekresi gland adrenal menyebabkan penyakit Addison), hipersekresi medula adrenal (pheochromocytoma), kelainan pankreas (diabetes melitus), kehamilan, dan neoplasia. Tanda dan gejala: pembengkakan jaringan, nausea, vomiting, kelelahan, dullnes, letargi, somnolen, iritabilitas, neuropati, pruritus, polidipsi, poliuri, hipertensi, penurunan berat badan, kenaikan berat badan, nyeri tulang, fraktur. h. Penyakit muskuloskeletal dan jaringan ikat Pasien dengan penyakit muskuloskeletal dan jaringan ikat biasanya menjalani medikasi tertentu bagi penyakitnya. Untuk memberikan perawatan gigi, seorang dokter gigi harus mengenali keterbatasan fisik pasien, komplikasi dari penyakit tersebut, efek samping yang tidak diinginkan dari obat-obatan yang digunakan dalam terapi serta manifestasi oral yang mungkin muncul. Patogenitas dan patofisiologi: osteogenesis imperfekta (brittle bone disease, tulang mudah patah), osteoporosis, osteomalasia, osteoartritis, rheumatoid arthritis, seronegative spondyloarthropathies (spondilitis ankilosis, artritis psoriasis, sindrom Reiter), gout, Paget disease, kelainan jaringan ikat (lupue erythematosis, sklerodema, Sjorgens syndrome, poliarteritis nodosa, polimyositis dan dermotomyositis, sindrom Marfan, sindrom EhlerDanlos), penyakit otot (distrofi muskular, distrofi myotonik). Tanda dan gejala: nyeri otot, lemah, parestesia, nyeri sendi, hipermobilitas sendi, kaku sendi, deformitas sendi, nyeri tulang, pembengkakan tulang, fraktur, kiposis, skoliosis, nodus Heberden, nodus Bouchard, elastisitas abnormal kulit, kulit pecah-pecah, nodula pada kulit, mulut kering, dan terbatasnya pembukaan rahang.

4. Identifikasi Kavitas oral pasien dengan kondisi medis kompromais ditandai dengan adanya perubahan pada mukosa oral, aliran saliva, ataupun pada kandungan salivanya. Infeksi yang paling banyak terjadi pada pasien ini terjadi secara oportunistik atau dalam kasus herpes, kambuh. Banyak infeksi pada pasien medik kompromais meningkat sebagai akibat dari perawatan medisnya (Marsh & Martin, 1999). Daftar Pustaka Marsh P,MV Martin. 1999. Oral Microbiology, 4th edition. London: Wright. Coulthard P, K Horner, P Sloan, and E Theaker. 2003. Master Dentistry, Vol 1. Edinburgh: Churchill Livingstone Ganda KM. 2008. Dentists Guide to Medical Conditions and Complications. Ames: WileyBlackwell Dhanuthai K, K Sappayatosok, P Bijaphala, S Kulvit, T Sereerat. Prevalence of medically compr