Anda di halaman 1dari 5

Laporan Kasus Panduan Klinis dan Penanganan Ankyloglossia dengan Follow-up 1 Tahun: Laporan 3 kasus Lidah merupakan struktur

oral yang penting yang mempengaruhi pengucapan, posisi gigi, jaringan periodontal, nutrisi, menyusui, dan kegiatan sosial tertentu. Ankyloglossia (tongue tie) merupakan anomali kongenital dengan ciri-ciri frenulum yang secara abnormal pendek dan tebal yang mempengaruhi pergerakan lidah. Walaupun efek ankyloglossia secara umum tampak sebagai kondisi yang ringan, tapi terdapat perbedaan besar tentang panduan untuk tongue tie ini. Tidak terdapat kriteria praktis untuk penanganan kondisi ini, karena itu jurnal ini bertujuan memberi semua kumpulan pemeriksaan, diagnosis, perawatan, dan penanganan tongue tie untuk pendekatan klinis yang lebih baik. 1.Pendahuluan Lidah merupakan organ penting yang mempengaruhi pengucapan, posisi gigi, jaringan periodontal, nutrisi, dan penelanan. Banyak dari kita berpikir bahwa tongue tie merupakan keadaan dimana kita terlalu bersemangat untuk berbicara. Tongue tie merupakan istilah non medis untuk kondisi fisik yang cukup umum yang membatasi penggunaan lidah, yang sebenarnya dinamakan sebagai ankyloglossia. Sebelum kelahiran, sebuah tali jaringan yang kuat mengarahkan perkembangan frenulum oral yang berada di tengah-tengah mulut. Setelah kelahiran, frenulum lingual ini terus mengarahkan posisi gigi yang sementara erupsi. Sementara anak bertumbuh, frenulum mengecil dan menjadi tipis. Frenulum ini terlihat saat kita menggunakan cermin dan melihat di bawah lidah. Pada beberapa anak, frenulumnya kencang /rapat atau tidak mengecil dan dapat menyebabkan immobilitas lidah. Karena itu Ankyloglossia didefinisikan sebagai anomali perkembangan pada lidah yang ditandai dengan frenulum yang secara abnormal pendek dan tebal yang menyebabkan terbatasnya pergerakan lidah, atau secara sederhana tongue tie merupakan keadaan dimana frenulum lingual melekat dekat pada ujung lidah yang mengurangi pergerakan lidah. Beberapa penelitian yang menggunakan kriteria diagnostik yang berbeda menemukan bahwa prevalensi ankyglossia antara 4 dan 10% dan insidensi tongue tie bervariasi dari 0,2 sampai 5% tergantung pada populasi yang diperiksa. Tongue tie lebih sering terjadi pada laki-laki, dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 2,5:1,0. Ankyloglossia pada bayi memiliki angka insidensi dari 25-60% dan kemunculannya dapat menyebabkan kesulitan dalam menyusui, dari gagal berkembang, bahkan sampai tidak mau menyusu. Ankyloglossia dapat pula menjadi bagian dari sindrom langka tertentu seperti sindrom SmithLemli-Opitz, sindrom orofacial digital, sindrom Beckwith Weidman, sindrom SimpsonGalabi-Behmel, dan celah palatum yang berkaitan dengan kromosom X yang bersifat autosomal dominan atau resesif. Ankyloglossia pada anak menjadi tantangan diagnostik untuk dokter gigi. Tinjauan terbaru menunjukkan sangat sedikit informasi mengenai hal yang menyebabkan perlekatan

perlekatan lingual abnormal dan kriteria yang harus digunakan untuk membenarkan intervensi bedah. Karena itu tujuan laporan ini yaitu untuk memberi gambaran mengenai ankyloglossia, arti klinisnya dan panduan yang harus diikuti sebelum merencanakan intervensi bedah. 2.Laporan kasus Kasus pertama. Pasien perempuan berusia 12 tahun datang ke Departemen Pedodontik dan Kedokteran Gigi Pencegahan dengan keluhan utama rasa sakit pada regio kanan dan kiri rahang bawah. Pemeriksaan rongga mulut menunjukkan tidak hanya terdapat beberapa gigi yang rusak di rahang bawah, tapi juga terdapat ankyloglossia dengan frenulum yang tebal dan pendek, yang membatasi pergerakan lidah ke depan, serta tidak bisa mengangkat ujung lidah (Gambar 1). Kasus kedua. Pasien laki-laki berusia 8 tahun datang ke Departemen Pedodontik dan Kedokteran Gigi Pencegahan dengan keluhan utama rasa sakit di regio posterior atas kanan. Setelah pemeriksaan klinis, diamati adanya gigi yang rusak dan ankyloglossia dengan pergerakan lidah yang terbatas. Terlihat bifid (gambaran terbelah dua) atau bentuk hati pada ujung anterior lidah saat pasien mencoba menjulurkan lidah (Gambar 2). Kasus ketiga. Pasien laki-laki berusia 11 tahun datang ke Departemen Pedodontik dan Kedokteran Gigi Pencegahan dengan keluhan utama pengucapan yang tidak benar, dan orang tuanya juga menyebutkan bahwa pasien tidak dapat mengunyah makanan yang padat. Pemeriksaan klinis menunjukkan bahwa pasien memiliki ankyloglossia dengan frenulum tebal, terbatasnya pergerakan lidah seperti gerakan maju dan mengangkat ujung lidah, serta bifid atau bentuk hati pada ujung anterior lidah. Untuk menilai besar batasan pergerakan lidah, rongga mulut diperiksa dengan penerangan yang baik serta menggunakan tongue depressor (Gambar 3). 3. Penilaian Klinis Ketiga kasus dinilai secara klinis dengan kriteria Kotlow (Tabel 1) yang menilai jarak pergerakan normal lidah, alat penilaian Hazelbaker (Tabel 2) untuk mengamati pergerakan fungsional dan penampilan lidah, serta analisis pengucapan untuk mengenali dan meralat gangguan pengucapan. Ketika diagnosa ankyloglossia, orang tua pasien diberi informasi mengenai sifat lesi, implikasi fungsionalnya, dan pendekatan bedah yang beragam. Keluarga pasien dan riwayat medis pasien tidak berperan dalam penyakit ini. Tinggi dan berat badan pasien cocok dengan usianya. ENT dan pemeriksaan fisik umum tidak menemukan hal yang penting. Pemeriksaan darah pasien termasuk dalam nilai normal. Setelah memperoleh informed consent, prosedur di bawah ini dilakukan untuk memperbaiki frenulum lingual. 4.Penanganan Klinis Pada kasus pertama dan kedua, perlekatan frenulum diperbaiki dengan frenektomi konvensional. Anastesi topikal diaplikasi di bawah lidah setelah diberi anestesi blok. Setelah

mencapai gejala objektif, dijahit dengan suture melewati bagian tengah lidah untuk mengontrol pergerakannya, dan dua hemostat dgunakan untuk menjepit frenulum: satu di permukaan bawah lidah dan lainnya di dasar mulut sambil menghindari kelenjar ludah. Insisi dilakukan di bagian atas dan bawah hemostat untuk melepaskan frenulum. Untuk mencapai homeostasis, area tersebut dijahit. Pasien diberikan instruksi postoperatif dan dipulangkan. Pada kasus ketiga, frenulum dibedah dengan menggunakan laser diode. Anestesi topikal diaplikasi di bawah lidah. Lidah diangkat dengan ibu jari dan telunjuk, kemudian frenulum diperbaiki. Untuk mencapai homeostasis, pasien diberi instruksi postoperatif dan dipulangkan. Setelah seminggu, jahitan pada ketiga kasus ini dilepaskan, dan kasus ketiga dirujuk ke terapi bicara (Gambar 4,5,6). Setelah follow up selama 1 tahun, ketiga kasus dinilai kembali menggunakan kriteria yang sama. 5.Hasil Nilai preoperatif dan postoperatif dicatat menggunakan kriteria Kotlow dan penilaian Hazelbaker. Setelah follow up 1 tahun, tampak perkembangan signifikan prognosis gejala ankyloglossia (Gambar 7,8,dan 9). Pergerakan lidah dengan bebas meningkat masing-masing dari 7,9, dan 8mm menjadi 13,14,dan 15mm (Tabel 3), nilai fungsional masing-masing 9,10, dan 10, dan nilai penampilan dari 6,6,dan 7 berubah menjadi 14,13,12 dan 9,9, dan 10 (Tabel 4). Fungsi bicara pada kasus 3 juga meningkat secara signifikan (Tabel 5). 6.Diskusi Definisi anatomis ankyloglossia terdiri dari gambaran juga ukuran yang pasti. Gambarannya meliputi perlekatan frenulum pada lidah, perlekatan frenulum pada inferior alveolar ridge, elastisitas frenulum lingual, dan tampilan lidah saat diangkat. Ukuran pasti meliputi panjang frenulum lingual saat lidah diangkat, juga panjang lidah bebas. Menurut Wallace, definisi fungsional merupakan kondisi dimana ujung lidah tidak dapat digerakkan ke depan melewati gigi insisivus bawah karena frenulum yang pendek. Selain itu, pergerakan lidah lebih kompleks dari hanya gerakan ke depan, dan hasil kriteria penilaian fungsional termasuk gerakan ke lateral, mengangkat lidah, melebarkan lidah, melikukan/menutup lidah, dan melipat lidah ke belakang. Ankyloglossia dapat dibagi menjadi ankyloglossia parsial atau komplit. Academy of Breastfeeding Medicine Protocol mendefinisikan ankyloglossia parsial sebagai adanya frenulum sublingual yang mengubah tampilan dan/atau fungsi lidah bayi karena berkurangnya panjang, kurangnya elastisitas atau perlekatan terlalu ke arah distal di bawah lidah atau terlalu dekat pada ridge gingiva. Ankyloglossia komplit merupakan kondisi dimana terdapat penggabungan ekstensif lidah pada dasar mulut yang merupakan kejadian yang sangat langka. 7.Akibat Tidak Merawat Tongue Tie

Tampilan tongue tie dapat abnormal pada sebagian orang. Pengunyahan dan penelanan makanan yang tidak baik dapat meningkatkan kerusakan lambung dan perut kembung, serta mendengkur dan ngompol saat tidur yang biasa pada anak yang menderita tongue tie. Hal ini juga mempengaruhi anak yang ingin ikut serta dalam drama/lakon yang melibatkan gerakan lidah, bahasa tubuh, dan cara bicara. Karies gigi dapat terjadi karena sisa makanan yang tidak dikeluarkan dengan kerja lidah dalam menyapu gigi dan menyebarkan saliva. Maloklusi seperti open bite karena dorongan akibat tongue tie, yang menyebarkan periodontitis di insisivus bawah, dan mobilitas gigi karena tongue tie dalam jangka waktu yang lama. Tongue tie juga mempengaruhi harga diri karena dicatat seccara klinis bahwa kadang anak yang lebih tua atau dewasa akan sadar diri atau malu dengan tongue tie mereka karena mereka dapat disindir/diejek oleh teman sekelas mengenai kelainan tersebut. Pada bayi dapat mengalami masalah dalam menyusui karena bayi menahan pada puting susu yang dapat menekan puting pada gusi sehingga terasa sakit, dan karena itu, ibu sering mencoba mengganti dengan menggunakan botol. 8.Panduan Klinis untuk Penanganan Ankyloglossia Terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai arti klinis dan penanganan optimal ankyloglossia. Pada banyak anak, ankyloglossia tidak bergejala, dan kondisinya dapat berubah secara spontan, atau anak yang terkena dapat belajar mengimbangi pergerakan lidah mereka yang terbatas. Namun, pada beberapa anak memperoleh keuntungan dari intervensi bedah tongue tie mereka. Orang tua harus diedukasi mengenai efek jangka panjang yang mungkin terjadi akibat tongue tie, sehingga mereka dapat menentukan pilihan mengenai terapi yang mungkin dilakukan. Untuk penanganan yang efektif, wajib mengikuti panduan klinis yang tepat. Pada ankyloglossia, faktor yang paling penting untuk dipertimbangkan yaitu jarak normal pergerakan lidah yang ditentukan dengan menggunakan kriteria Kotlow yang dibagi dalam kelas I sampai kelas IV. Ujung lidah harus dapat dimajukan sampai ke luar mulut tanpa tampak terbelah dan dapat menyapu bibir atas dan bawah tanpa kesulitan. Saat lidah digerakkan ke belakang tidak membuat pucat jaringan yang berada lingual dari gigi anterior dan tidak memberi tekanan yang berlebihan pada gigi anterior rahang bawah. Frenulum lingual tidak boleh membuat diastema antara gigi insisivus sentral rahang bawah, dan frenulum tidak boleh menghalangi bayi untuk melekat pada puting susu ibunya saat menyusui. Pergerakan fungsional dan penampilan lidah dapat ditentukan dengan menggunakan Alat penilaian Hazelbaker. Dengan alat ini, nilai diberikan untuk tiap gerakan lidah dan penampilan lidah. Jika nilai fungsional dan penampilan dibawah 11 dan 8, maka dapat dipertimbangkan intervensi bedah. Pasien harus diminta untuk mengucapkan kata-kata tertentu yang dimulai dari I, th, s, d, dan t untuk menilai akurasi pengucapan. Jika ada gangguan bicara, setelah penyembuhan luka postoperatif, harus dirujuk ke terapi bicara untuk memperbaiki gangguan tersebut. Latihan oto lidah postoperatif seperti menjilat bibir atas, menyentuh palatum keras

dengan ujung lidah, dan gerakan ke samping harus dijelaskan pada pasien untuk meningkatkan pergerakan lidah. 9.Kesimpulan Tongue tie mengenai sejumlah besar bayi dan anak. Mungkin menarik bahwa kondisi sederhana ini dapat menyebabkan perdebatan dan perbedaan pendapat. Namun, penting untuk memberikan informasi dan panduan yang tepat pada orang tua mengenai indikasi dan keuntungan perbaikan tongue tie, serta ketentuan yang tepat untuk bayi dan anak yang membutuhkan perbaikan. Laporan kasus ini memberikan panduan yang dapat digunakan oleh dokter gigi dan dokter gigi anak untuk diagnosa dan perawatan lidah yang pergerakannya terbatas karena ankyloglossia.