Anda di halaman 1dari 3

Kasus Langka Odontoma Pada Wanita Usia 65 Tahun ABSTRAK Odontoma lebih dianggap sebagai hamartoma daripada tumor.

Itu termasuk tumor odontogenik dan dapat menyebabkan gangguan erupsi gigi yang terkena. Odontoma compound biasa terlihat pada dewasa muda, tapi jika muncul pada anak-anak biasanya berhubungan dengan pertumbuhan gigi permanen dan menghambat erupsi gigi yang terkena. Kami melaporkan kasus odontoma compound yang besar pada regio rahang bawah pada wanita berusia 65 tahun. Karena kesulitan pembuatan gigi tiruan dan rasa sakit saat mengunyah, dilakukan pembedahan untuk mengeluarkan lesi. Kata kunci: odontoma compound, odontoma, kasus langka PENDAHULUAN Istilah odontoma sebenarnya menunjuk pada tumor yang berasal dari gigi. Ini merupakan pertumbuhan dimana sel epitel dan ektomesenkim menunjukkan diferensiasi pembentukan gigi yang sempurna atau tidak sempurna. Dapat berupa jaringan lunak, terkalsifikasi, atau campuran keduanya yang tersusun dalam beberapa kombinasi dan pola yang berbeda. Odontoma merupakan hamartoma yang terdiri dari beragam jaringan gigi yaitu enamel, dentin, sementum, dan sering juga pulpa. Odontoma merupakan tumor jinak yang tumbuh lambat yang tidak menunjukkan tanda-tanda agresif. Ini dapat digolongkan sebagai kompleks, saat jaringan kalsifikasi muncul sebagai massa tidak beraturan yang tersusun paling banyak dari tubular dentin yang matang dan tergabung, jika terdapat anatomi superfisial yang memiliki kesamaan dengan bahkan gigi yang belum sempurna. Odontoma kompleks kurang sering terjadi daripada jenis odontoma compound, perbandingannya 1:2. Munculnya odontoma dalam rongga mulut sangat jarang. Kami melaporkan kasus odontoma compound yang rupanya muncul pada area rahang bawah kanan pasien yang tidak bergigi. LAPORAN KASUS Wanita berusia 65 tahun datang ke departemen kami dengan keluhan utama rasa sakit pada gigi bawah kanan belakang (premolar). Dia juga mengeluhkan rasa sakit saat mengunyah dan mengalami kesulitan dalam pembuatan gigi tiruan, karena terdapat struktur mirip gigi yang menghambat pembuatan gigi tiruan dengan adanya pergeseran dan menyebabkan rasa sakit. Dalam pemeriksaan, pembengkakan lunak yang menyebar ditemukan pada daerah rahang bawah kiri dengan struktur seperti gigi yang impaksi (Gambar 1), yang terasa sakit saat palpasi. Diamati adanya perluasan korteks bukal dan lingual dan daerah tersebut kaku dan tidak nyeri tekan. Pembukaan mulut masih dalam batasan normal. Foto panoramik (OPG) menunjukkan massa radioopak pada daerah premolar kanan bawah sebesar 10 x 15 mm yang berbatas jelas dan garis radiolusen di rahang bawah yang berkaitan dengan gigi impaksi. (Gambar 2). Lesi didiagnosa sementara sebagai odontoma. Direncanakan pembedahan dibawah anestesi lokal setelah dilakukan pemeriksaan darah. Dilakukan insisi crestal dan retraksi flap mukoperiosteal (Gambar 3), lesi terlihat (Gambar 4) dan diambil setelah pembelahan (Gambar 5). Luka ditutup dengan benang silk 3-0 setelah hemostasis dicapai.

Lesi yang dieksisi disusun kembali (Gambar 6), yang menunjukkan massa tulang dengan struktur seperti gigi. Didiagnosis sementara sebagai odontoma compound. Setelah operasi diresepkan antibiotik dan analgesik dan setelah itu tidak ada keluhan apapun yang terjadi. Pemeriksaan histopatologis massa yang dieksisi memastikan diagnosa odontoma compound. DISKUSI Istilah odontoma dibuat oleh Paul Broca pada tahun 1867. Dia mengartikan istilah itu sebagai tumor yang terbentuk oleh pertumbuhan berlebih sementara jaringan gigi yang sempurna. Odontoma merupakan tumor odontogenik yang paling sering pada rahang atas, dan peneliti melaporkan insidensinya 22-67% dari semua tumor odontogenik rahang atas. Secara klinis, odontoma dapat bebentuk kompleks atau compound, yang dapat digolongkan lebih lanjut sebagai berikut. Intraosseus: Odontoma ini terjadi di dalam tulang dan dapat muncul keluar (erupted odontoma) di rongga mulut. Sampai saat ini terdapat 12 kasus erupted odontoma yang beragam dijelaskan dalam literatur. Extraosseus atau peripheral: Odontoma ini muncul pada jaringan lunak di daerah yang terdapat gigi pada rahang. Kasus kami mirip dengan tipe intraosseus. Odontoma compound paling banyak ditemukan pada daerah rahang atas anterior, sedangkan odontoma kompleks paling banyak ditemukan pada daerah posterior rahang bawah. Bertambanya prevalensi tumor ini diamati pada anak-anak dan remaja, yang kurang signifikan dalam kaitannya dengan jenis kelamin pasien. Namun sebaliknya dalam kasus kami pasien merupakan wanita berusia 65 tahun yang tidak bergigi. Pada sebagian besar anak, tumor ini berhubungan dengan gangguan erupsi gigi seperti erupsi gigi sulung dan gigi permanen yang tertunda atau persistensi gigi sulung. Lesi ini normalnya didiagnosa dengan pemeriksaan radiologi pada dekade kedua dan ketiga kehidupan. Beberapa hipotesis mengemukakan faktor penyebab. Beberapa odontoma berkaitan dengan riwayat trauma saat pertumbuhan gigi sulung, inflamasi, dan proses infeksi, herediter (Gardners syndrome, Hermanns syndrome), hiperaktivitas odontoblas dan perubahan komponen genetik yang bertanggung jawab untuk mengendalikan perkembangan gigi. Umumnya, tanda-tanda radiologis menunjukkan bahwa odontoma tampak sebagai lesi radioopak tebal yang dikelilingi lingkaran radiolusen yang tipis sesuai dengan kapsul penghubungnya. Dalam kasus ini, kami menemukan massa radioopak berukuran kira-kira 1,5 x 1,5 cm, yang dikelilingi oleh lingkaran radiolusen tipis. Mekanisme erupsi odontoma tampak berbeda dari erupsi gigi karena kurangnya ligament periodontal pada odontoma. Sehingga, tekanan yang dibutuhkan untuk erupsi odontoma tidak berhubungan dengan kontraktilitas fibroblas, berbeda halnya dengan gigi. Walaupun tidak ada pembentukan akar pada odontoma, pembesarannya dapat menyebabkan pemisahan tulang

di atasnya, dan kemudian menyebabkan erupsi. Bertambahnya ukuran odontoma dari waktu ke waktu menghasilkan tekanan yang cukup untuk menyebabkan resorpsi tulang. Tiga tahap perkembangan dapat dikenali berdasarkan tanda-tanda radiografi dan derajat kalsifikasi lesi pada saat diagnosis. Tahap pertama memiliki ciri-ciri radio transparency (tidak tampak dalam foto radiografi) karena tidak adanya kalsifikasi jaringan. Tahap kedua atau tahap lanjut menunjukkan kalsifikasi sebagian, dan yang ketiga atau tahap radioopak menunjukkan kalsifikas signifikan yang dikelilingi oleh lingkaran radiolusen, Perawatan pilihannya yaitu bedah eksisi yang dilanjutkan dengan penelitian histopatologi untuk menentukan diagnosa odontoma. Secara histologis, odontoma compound sering tampak seperti memiliki enamel, dentin, dan sementum yang normal. Gambaran mikroskopik menunjukkan bahwa gigi kecil (denticle) pada odontoma compound terdiri dari core utama yang mirip dengan pulpa, yang dikelilingi oleh dentin primer dan ditutupi dengan enamel yang mengalami demineralisasi sebagian dan sementum primer. Dalam kasus ini, secara histopatologis kami mencatat adanya enamel yang tampak seragam dengan dentin di bawahnya dan sementum menutupi sebagian besar area. Enamel berwarna kuning kecoklatan dengan penonjolan garis inkremental Retzius. Di bawah Dentin-Enamel Junction (DEJ) terdapat dentin primer dan sekunder dengan bukti adanya ruang pulpa. Jaringan keras tersusun dalam pola seragam membentuk struktur seperti gigi. Idealnya, perawatan yang disarankan yaitu pengambilan lesi secara keseluruhan. Namun dalam kasus ini pasien berusia lanjut dan tidak bergigi, dengan pertimbangan besarnya lesi, kami mengeluarkannya dengan pemotongan. KESIMPULAN Odontoma merupakan tumor jinak yang sering terlihat pada rongga mulut, biasanya tidak ada gejala dan didiagnosa sebagai temuan yang kebetulan pada penelitian radiologis rutin. Odontoma biasanya menyebabkan erupasi yang terhambat. Jika tidak ada tanda atau gejala yang muncul, lesi tidak akan terdetaksi dan dapat tetap ada selama beberapa tahun tanpa manifestasi klinis. Idealnya, perawatan yang disarankan yaitu pengambilan lesi secara keseluruhan, namun dalam kasus ini pasien berusia lanjut dan tidak bergigi, dengan pertimbangan besarnya lesi, kami mengeluarkannya dengan pemotongan.

Anda mungkin juga menyukai