Anda di halaman 1dari 2

Orthodontic Elastic Separator Pemicu Abses Periodontal: Laporan Kasus Tujuan.

Band elastis ortodontik dianggap sebagai sumber abses gingiva yang dapat dengan cepat menyebabkan kehilangan tulang dan tanggalnya gigi. Kami melaporkan tentang seorang remaja yang memiliki status periodontal sehat. Beberapa saat setelah menjalani persiapan untuk perawatan ortodontik meliputi separator ortodontik, tampak abses periodontal tanpa adanya penyebab yang terlihat. X-ray non-orthoradial tidak meyakinkan, namun foto yang tepat menunjukkan separator ortodontik subgingiva sebagai penyebab abses. Pengeluaran separator dan scaling menyeluruh menghasilkan penyembuhan abses, tapi sudah ada kerusakan ringan yang tersisa pada tulang alveolar. Simpulan. Kegagalan penggunaan foto rontgen yang benar untuk menunjukkan penyebab abses gingiva dapat menunda perawatan dan penghentian kehilangan tulang ireversibel. Proses peradangan yang terbatas pada gingiva dan tahan terhadap perawatan konvensional seharusnya meningkatkan kemungkinan penyebab adanya benda asing. 1. Pendahuluan Faktor lokal anatomi dan iatrogenik dapat meningkatkan retensi plak dan proliferasi mikroorganisme dalam poket periodontal, yang menyebabkan perubahan inflamasi progresif. Proses inflamasi yang terbatas pada gingiva dan tahan terhadap perawatan konvensional seharusnya meningkatkan penyebab adanya benda asing. Beberapa peneliti melaporkan kasus kehilangan tulang dan tanggalnya gigi yang dihubungkan dengan band elastis ortodontik, khususnya saat digunakan untuk menutup diastema midline antara insisivus atas. Namun, hanya ada sedikit kasus kerusakan periodontal karena penempatan separator ortodontik yang salah. Perawatan yang biasanya dilakukan yaitu kombinasi perawatan laser, antibiotik, splinting, dan ortodontik. Untuk mencegah komplikasi, disarankan untuk menggunakan band elastis yang berwarna terang dan melepaskannya setelah 2 minggu. Laporan kasus ini menunjukkan kasus abses periodontal yang berhubungan dengan penempatan separator ortodontik yang salah dan menekankan pentingnya x-ray yang tepat untuk diagnosa yang akurat. 2. Laporan Kasus Pasien berusia 19 tahun dirujuk untuk eveluasi pembengkakan yang sakit pada gingiva daerah bukal molar satu kiri bawah. Dilaporkan bahwa pasien menyadari pembengkakan tersebut kira-kira dua hari sebelum datang ke klinik. Pembengkakan disertai dengan ulser putih dengan ukuran pinhead (kepala peniti) (Gambar 1). Riwayat medisnya tidak ada dan bebas gejala sistemik (limfadenitis, malaise, demam, atau lesi kulit). Pasien baru saja menjalani persiapan awal perencanaan perawatan ortodontik untuk gigi berjejal. X-ray pertama tidak orthoradial dan menunjukkan daerah radioopak kecil pada daerah mesial alveolar crest interproksimal (Gambar 2 (a)). X-ray tambahan dari sudut orthoradial menunjukkan dengan jelas massa radioopak berbentuk kotak pada daerah interproksimal seperti kalkulus subgingiva. (Gambar 2(b)). Rubber band elastis dikeluarkan dengan kuretase gingiva. Gambaran klinis pada follow up 1 bulan menunjukkan penyembuhan sempurna

jaringan lunak (Gambar 3), tapi gambaran radiografi menunjukkan sisa kerusakan tulang alveolar. 3. Diskusi Laporan ini menekankan penggunaan foto rontgen yang tepat untuk mendiagnosa kondisi patologis periodonsium. Ini juga menekankan pada kemungkinan resiko periodonsium yang disebabkan oleh penggunaan band elastis ortodontik. Periodontitis lokalisata dan abses periodontal dapat dihubungkan dengan beragam dental material, seperti bahan cetak silikon, rubber dam, dan bahkan luka pada gingiva akibat kebiasaan menggigit kuku. Pertumbuhan berlebih reaktif gingiva yang terlokalisir dapat termasuk dalam diagnosa banding granuloma piogenik, granuloma giant cell perifer, dan abses periodontal. Ini dapat diakibatkan oleh infeksi bakteri piogenik melalui epitel poket, kedua dari mikrotrauma atau tersumbatnya aliran eksudat radang dari dalam poket periodontal. Terjebaknya benda asing dapat menjadi pemicu kejadian ini. Beberapa millimeter perlekatan periodontal dan tulang alveolar dapat hilang dalam beberapa hari saja. Hal ini dapat terjadi tiba-tiba, dan diikuti dengan respon inflamasi akut (purulen) di jaringan yang mengalami nekrosis. Pembengkakan yang sakit pada gingiva dapat muncul di bagian manapun gigi yang terkena. Pembengkakan dapat melibatkan vestibula atau pipi, karena pus termasuk kurang resisten. Pasien dapat mengalami limfadenitis regional, malaise, atau deman, tergantung keparahan infeksi. Keadaan seperti ini dapat menggambarkan situasi darurat yang sebenarnya. Material benda asing dapat menyebabkan dan memperparah lesi gingiva. Benda asing dapat memicu perubahan inflamasi dan non-inflamasi yang tampak secara klinis adanya pembengkakan dan/atau diskolorasi. Koppang,dkk menemukan bahwa daerah posterior rahang bawah dan atas paling banyak terkena lesi gingiva akibat benda asing (masing-masing 34% dan 29%). Diikuti daerah anterior rahang atas (26%). Mereka mengatakan bahwa penemuan ini mungkin berhubungan dengan prosedur dental yang sering dilakukan pada daerah ini. Band elastis seharusnya tidak digunakan pada mahkota gigi tanpa adanya stabilisasi. Rubber band yang masuk di bawah gingiva tanpa disadari dapat bergerak mengikuti akar, yang menyebabkan kehilangan tulang alveolar yang signifikan. Reaksi yang dipicu benda asing harus dimasukkan dalam diagnosa banding pembesaran gingiva. Abnormalitas periodontal yang terjadi saat menggunakan separator elastis ortodontik harus meningkatkan kemungkinan tersangkutnya band ke dalam biological width. Foto rontgen yang tepat penting untuk diagnosa akurat , khususnya saat alat tersebut terlihat radioopak.

P.S: biological width: jarak antara sulkus gingiva dan puncak tulang alveolar

Anda mungkin juga menyukai