Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN KASUS Penggunaan concentrated platelet-rich plasma dalam revaskularisasi saluran akar: 2 laporan kasus Abstrak Tujuan untuk

menampilkan dua laporan kasus yang menunjukkan perawatan gigi immature dengan pulpa nekrotik menggunakan concentrated platelet-rich plasma (cPRP) dalam 12 bulan follow up klinis dan radiografi. Simpulan Revaskularisasi saluran akar dilakukan pada gigi permanen immature yang didiagnosa secara klinis dan radiografi membutuhkan perawatan saluran akar. Desinfeksi daerah saluran dengan 3 lapis pasta antibiotik (1:1:1: ciprofloxacin, metronidazol, dan cefaclor), scaffold jaringan dibuat dengan cPRP yang disiapkan dengan menggunakan 2 tahap sentrifugasi. Restorasi akhir diselesaikan dengan mineral trioxide aggregate putih dan resin komposit. Pasien dipanggil kembali untuk evaluasi klinis dan radiografi setiap 3 bulan. Pada follow up bulan ke-12, tampak penutupan apikal dengan menyempitnya foramen apikal dan penutupan dinding apikal pada gigi yang dirawat. Kunci pokok pembelajaran Concentrated platelet-rich plasma (cPRP) berhasil sebagai scaffold dalam perawatan revaskularisasi 2 tahap sentrifugasi merupakan teknik yang sederhana dan berguna untuk menyiapkan PRP

Kata kunci: concentrated platelet-rich plasma, gigi immature, revaskularisasi.

Pendahuluan Endodontik regeneratif menunjuk pada perawatan berbasis biologis yang dibuat untuk mengganti kerusakan struktur dan sel dalam kompleks dentin-pulpa dengan jaringan yang dapat terus hidup, sehingga mengembalikan fungsi fisiologis normal. Prosedur ini dapat memiliki nilai khusus dalam perawatan gigi permanen immature dengan pulpa nekrotik dalam hal menyediakan berlanjutnya perkembangan akar dan penguatan dinding dentin. Endodontik regeneratif meliputi dua jenis prosedur, yaitu revaskularisasi saluran akar melalui pembekuan darah dan terapi stem-sel seperti terapi stem-sel post natal, implan pulpa, implan scaffold, pemberian scaffold dengan injeksi, pencetakan sel tiga dimensi dan pemindahan gen. Revaskularisasi saluran akar melalui pembekuan darah bertujuan merawat gigi immature dengan pulpa nekrotik dengan cara desinfeksi saluran akar dan selanjutnya menggunakan instrumentasi berlebihan untuk mengunci perdarahan ke dalam daerah saluran akar untuk menyediakan scaffold untuk pertumbuhan ke dalam jaringan. Beberapa laporan kasus yang

telah diterbitkan menunjukkan keberhasilan secara klinis dan radiografi prosedur ini, termasuk penebalan dinding dentin diikuti dengan penutupan apikal gigi immature. Namun, karena rekayasa jaringan diperoleh dengan pemberian konsentrasi dan komposisi sel yang efektif untuk mengembalikan fungsi, maka konsentrasi dan komposisi sel dalam bekuan darah yang tak dapat diprediksi merupakan keterbatasan teknik ini. Pada beberapa kasus, perdarahan dalam saluran akar tidak dapat dihasilkan. Pada kasus ini, diajukan penggunaan plasma kaya platelet (PRP) yang diambil dari darah pasien sebagai scaffold. Kasus yang dilaporkan oleh Torabinejad & Turman dan penelitian pendahuluan oleh Jadhav dkk (2012) melaporkan keberhasilan penyembuhan pada gigi immature dengan hasil ini, dan penulis menyarankan bahan tersebut sebagai scaffold ideal untuk prosedur revaskularisasi. Terdapat bukti bahwa platelet mengandung beberapa faktor pertumbuhan yang meningkatkan penyembuhan luka dan membantu memicu regenerasi jaringan. PRP konsentrat platelet merupakan produk yang berasal dari darah, dimana platelet terpusat dalam volume terbatas plasma, PRP dapat diperoleh melalui teknik kompleks yang membutuhkan separator sel darah atau teknik sederhana yang menggunakan peralatan yang siap digunakan yang tersedia di pasaran atau 2 tahap sentrifugasi untuk memusatkan platelet, dengan konsentrasi yang lebih tinggi diperoleh dengan cara sentrifugasi ganda. Hasil yang diperoleh dari proses ini dinamakan concentrated platelet-rich plasma (cPRP) Laporan di bawah ini menunjukkan 2 kasus gigi immature dengan pulpa nekrotik yang dirawat dengan cPRP serta follow up klinis dan radiografi sampai 12 bulan. Laporan kasus Laporan kasus 1 Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dirujuk ke departemen kedokteran gigi anak untuk pemeriksaan gigi. Tidak ada riwayat medis yang berarti. Pemeriksaan intraoral menunjukkan lesi karies dalam pada gigi premolar 2 kiri atas (FDI 25) (Gambar 1a). Gigi tersebut tidak berespon terhadap tes elektrik atau sensitivitas dingin, walaupun bereaksi terhadap perkusi, palpasi dan kedalaman probing berada dalam batas normal jika dibandingkan dengan gigi tetangga dan gigi berlawanan. Pemeiksaan radiografi menunjukkan gigi immature dan akar terbuka (Gambar 1b), walaupun tidak ada radiolusen periapikal. Ditemukan resorpsi akar internal/eksternal. Gigi didiagnosa nekrosis pulpa. Orang tua pasien diinformasikan mengenai metode perawatan yang beragam, dan diambil keputusan untuk melakukan revaskularisasi saluran akar menggunakan PRP. Perawatan dimulai setelah memperoleh informed consent tertulis dari orang tua pasien. Protokol American Association of Endodontist untuk endodontik regeneratif yaitu seperti di bawah ini. Anestesi lokal diberikan (lidokain 2% dengan adrenalin 1 : 100000). Gigi diisolasi dengan rubber dam, ruang pulpa dibuka, dan pulpa dipastikan sudah nekrosis (gambar 1c). Saluran akar tidak diinstrumentasi. Namun, saluran akar diirigasi sebanyak-banyaknya dengan NaOCl 2,5% (20 mL), saline steril (20 mL) dan chlorhexidine 0,12% kemudian dikeringkan dengan paper point steril. Untuk meminimalisir resiko pencemaran, ruang pulpa

ditutup dengan bahan bonding dentin. Perbandingan yang setara metronidazol (Flagyl, Eczacibasi Inc. Co, Istanbul, Turki), ciprofloxacin (Cipro, Biofarma Inc. Co, Istanbul, Turki) dan cefaclor (Sanocet, Sanovel Inc. Co. Istanbul, Turki) ditumbuk ke dalam bubuk dan dicampur dengan air suling sehingga menjadi pasta seperti krim yang dimasukkan ke dalam saluran di bawah cemento-enamel junction menggunakan jarum lentulo pada handpiece low speed. Saluran akar ditutup dengan cotton pellet dan diperkuat dengan semen zinc oxideeugenol (IRM, Dentsply, Milford, DE, USA). Pasien tidak ada gejala saat dia kembali untuk perawatan lanjutan 3 minggu kemudian. Persiapan cPRP dilakukan berdasarkan Dohan, dkk (2006). Darah vena (20 mL) dimasukkan ke dalam tabung yang mengandung antikoagulan untuk menghindari aktivasi platelet dan degranulasi, kemudian tabung disentrifugasi pada 1000 g (putaran ringan) selama 10 menit. Sentrifugasi awal menghasilkan 3 lapisan besar, yang dinamakan lapisan sel darah merah di dasar, lapisan plasma aselular atau platelet-poor plasma (PPP) di paling atas, dan lapisan tengah, buffy coat, dengan ciri-ciri peningkatan konsentrasi platelet. Sebagian besar lapisan atas dari tiap tabung dibuang menggunakan syringe steril, dan isi yang tersisa (PPP, buffy coat, dan beberapa sel darah merah) dipindahkan ke dalam tabung kosong dan disentrifugasi selama 15 menit pada 2200 g (putaran cepat). Prosedur ini menghasilkan kembali 3 lapisan besar. cPRP diperoleh dengan membuang sebagian besar PPP yang tersisa menggunakan syringe dan menggoyang tabung dengan hati-hati. Koagulasi diperoleh dengan menggabungkan cPRP dengan jumlah yang sama larutan saline steril yang mengandung 10 % kalsium klorida dan trombin sapi steril (100 U/mL) dalam plat steril. Setelah irigasi saluran dengan larutan 5% EDTA (20 mL) dan saline steril (20 mL) untuk menghilangkan pasta antibiotik, campuran cPRP diinjeksi ke dalam daerah saluran akar sampai batas CEJ dan dibiarkan membeku selama 10 menit (Gambar 2a), restorasi akhir dilakukan dengan agregat mineral trioxide putih (White MTA-Angelus, Londrina, Brazil) yang disiapkan berdasarkan aturan pabrik (Gambar 2b), reinforced glass ionomer cement (KetacTM Molar Easymix, 3M ESPE, Seefeld, Germany) dan resin komposit (3M ESPE FiltekTM Supreme XT, St Paul, USA) (Gambar 2c,d) pada kunjungan yang sama. Pasien dipanggil kembali untuk evaluasi klinis dan radiografi setiap 3 bulan, dan diamati penutupan apikal pada bulan ke-12 (Gambar 3a-d). Walaupun secara klinis tidak bergejala, gigi tidak menunjukkan respon terhadap tes pulpa elektrik maupun rangsangan dingin. Pasien dijadwalkan untuk follow up lanjutan. Laporan Kasus 2 Pasien berusia 12 tahun dirujuk dengan keluhan utama rasa sakit pada gigi premolar 2 kiri bawah (FDI 35) saat mengunyah. Pemeriksaan intraoral menunjukkan adanya tumpatan resin komposit pada gigi dan saluran sinus pada mukosa bukal di sekitarnya. Gigi sakit terhadap perkusi dan palpasi. Probing periodontal berada dalam batas normal untuk semua gigi regio kiri bawah. Pemeriksaan radiografi menunjukkan lesi periapikal besar, gigi immature dan akar terbuka (Gambar 4a) Diagnosisnya yaitu nekrosis pulpa dan abses apikal kronik. Diberikan informed consent pada orang tuanya, setelah itu revaskularisasi dilakukan seperti pada kasus 1 di atas, secara radiografi, tampak penyembuhan sempurna radiolusen periapikal.

Pemeriksaan klinis dan radiografi pada bulan ke-12 setelah perawatan menunjukkan hilangnya lesi periapikal dan penutupan apikal akar. Selain itu, gigi tak bergejala tanpa rasa sakit pada perkusi atau palpasi (Gambar 4b-f). Pemeriksaan follow up berlanjut. Diskusi Regenerasi jaringan menggunakan revaskularisasi untuk memicu apeksogenesis daripada penggantian menggunakan pengganti buatan merupakan suatu cara perawatan baru untuk gigi immature yang terinfeksi dan pulpa nekrotik. Beberapa laporan kasus menunjukkan revaskularisasi melalui pembekuan darah telah berhasil merawat kasus tersebut. Teknik ini sederhana dan sapat dilakukan menggunakan alat dan medikamen yang tersedia. Namun, pada kasus yang tidak berhasil, dibutuhkan prosedur apeksifikasi konvensional. Laporan kasus oleh Torabinejad & Turman (2011) dan penelitian pendahuluan klinis oleh Jadhav dkk (2012) menunjukkan pengendapan jaringan keras, pemanjangan akar, dan penutupan akar pada gigi immature dengan pulpa nekrotik setelah perawatan revaskularisasi dengan PRP; namun, laporan kasus tambahan dan percobaan klinis prospektif dibutuhkan untuk memastikan kapasitas PRP untuk memperoleh keberhasilan revaskularisasi. Pada kasus yang dilaporkan ini, PRP dikumpulkan dengan menggunakan 2 tahap sentrifugasi, yang memiliki keuntungan berupa harga lebih murah dibandingkan dengan peralatan yang dijual di pasaran, juga lebih banyak konsentrasi platelet yang diperoleh. Penyembuhan yang baik diperoleh, dengan penutupan akar dan penyembuhan lesi periapikal pada bulan ke-12. Penyembuhan yang baik dapat dihubungkan dengan konsentrasi tinggi platelet, yang merupakan faktor kunci penyembuhan luka, pelepasan faktor pertumbuhan yang beragam yang memicu dan mendukung penyembuhan luka. Pada penelitian Jadhav,dkk (2012), PRP dipersiapkan dengan 2 tahap sentrifugasi sama dengan laporan kasus ini; namun, pembawa kolagen sponge digunakan untuk membawa bahan ke saluran akar yang telah dilakukan revaskularisasi dengan pembekuan darah sebelumnya; Penulis melaporkan bahwa hasil perawatan lebih baik pada kelompok revaskularisasi + PRP dibandingkan dengan kelompok yang dirawat dengan revaskularisasi saja. Penulis juga menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi platelet meningkatkan keberhasilan pada kelompok PRP. Beberapa penelitian melaporkan perawatan endodontik regeneratif gigi immature nekrosis memberikan hasil yang kurang bagus, meliputi tidak meningkatnya ketebalan dinding akar, panjang akar, dan penutupan akar. Nosrat,dkk (2011) melaporkan adanya kemungkinan hubungan antara lamanya pulpa nekrosis dan hasil perawatan, menyatakan bahwa infeksi yang bertahan lama dapat menghancurkan sel yang berperan dalam regenerasi pulpa. PRP menunjukkan keuntungan platelet yang dapat memicu dan menarik stem cell yang ada di lesi apikal dan jaringan akar. Pada kasus 2, meskipun terdapat lesi periapikal besar yang menunjukkan nekrosis pulpa yang terjadi dalam waktu yang lama, hasil perawatannya baik dan terdapat penebalan dinding akar dan panjang akar, serta penutupan akar. Hasil ini dapat dihubungkan dengan aplikasi cPRP. Desinfeksi sistem saluran akar merupakan faktor kunci keberhasilan proses revaskularisasi. Kombinasi beragam antibiotik mampu mendesinfeksi saluran akar; salah satu contoh yaitu

campuran ciprofloxacin, metronidazole, dan minocycline, yang sudah secara luas digunakan dalam prosedur revaskularisasi dilaporkan adanya diskolorasi gigi setelah perawatan endodontik regeneratif yang sangat berkaitan dengan penggunaan minocycline dalam pasta tiga lapis antibiotik. Thibodeau & Trope (2007) dan penelitian terbaru Dabbagh,dkk (2012) mengusulkan penggantian minocycline dengan cefaclor dan dilaporkan keberhasilan perawatan regeneratif dengan teknik ini. Karena itu, pada 2 kasus yang dilaporkan disini bukan hanya penggantian minocylcline dengan cefaclor, agen bonding dentin digunakan untuk menutup dinding dentin kavitas sebagai tindakan pencegahan terhadap diskolorasi, yang tidak dilihat dalam kedua kasus. Petrino,dkk (2010) menyarankan penggunaan matriks kolagen untuk mencapai penempatan optimal MTA. Namun, pada kasus ini, matriks yang cukup keras untuk menyediakan penempatan yang tepat MTA di bawah CEJ diperoleh tanpa penggunaan kolagen. Ini dapat dihubungkan denga penggunaan trombin sapi dan calcium chloride sebagai koagulan cPRP pada kasus ini, yang menghasilkan pembekuan darah yang baik dalam aplikasi selama 10 menit. Literatur mencakup laporan gabungan mengenai respon jaringan terhadap tes setelah perawatan revaskularisasi, dengan laporan dari beberapa penulis menunjukkan respon positif uji sensitivitas dan penulis lainnya melaporkan respon negatif. Pada kasus ini tidak menunjukkan adanya respon positif terhadap tes pulpa elektrik maupun sensitivitas dingin; namun gigi yang dirawat menunjukkan penyembuhan yang baik, tanpa abnormalitas setelah 12 bulan. Seperti dinyatakan oleh Johns & Vidyanath (2011), respon negatif uji sensitivitas pada kasus ini mungkin berkaitan dengan lapisan tebal MTA (3-4 mm), dan reinforced GIC (2 mm) yang dilanjutkan dengan resin komposit sebagai restorasi permanen. Kesimpulan Concentrated platelet-rich plasma (cPRP) bermanfaat dalam pembuatan scaffold untuk revaskularisasi perawatan lesi periapikal dengan akar terbuka. Walaupun penggunaan PRP memiliki beberapa kerugian, seperti membutuhkan peralatan dan obat khusus, mengambil darah dari pasien muda, dan harga perawatan yang mahal, pada dasar pengamatan klinis dan radiografi selama 12 bulan, cPRP dapat disarankan untuk kasus revaskularisasi melalui pembekuan darah yang tidak berhasil. Namun, dibutuhkan penelitian prospektif jangka panjang untuk memastikan penemuan ini.

Anda mungkin juga menyukai