Anda di halaman 1dari 5

FRAUD PRINCIPLES

DEFINISI : APAKAH FRAUD ITU? Definisi fraud dapat berbeda-beda tergantung dari siapa yang mendefinisikannya dan bagaimana keadaan orang yang mendefinisikanya. Seseorang dapat mengartikan fraud dalam bentuk dari kecurangan yang disengaja (termasuk berbohong dan berbuat curang) adalah kebalikan dari kebenaran, keadilan, kejujuran, dan equity. Fraud juga dapat diartikan sebagai cedera. Seseorangdapat mengakibatkan orang lain cedera karena kekuatan atau melalui fraud.Fraud merupakan satu kata yang memiliki banyak definisi, diantaranya adalah sebagai berikut : Fraud sebagai tindak kriminal. Fraud (penipuan) merupakan kata yang

menggambarkan segala perbuatan tidak jujur (curang) yang dirancang/dilakukan oleh seseorang untuk memperolehkeuntungan, baik dengan cara mendiamkan,

memperdaya, licik dan cara-cara tidak adil untuk mencurangi orang lain. Corporate Fraud adalah fraud yang dilakukan oleh, untuk, dan terhadap suatu korporasi bisinis. Management Fraud adalah kesalahan penyajian yang disengaja oleh perusahaan atau unit-unitkerja didalamnya yang dilakukan oleh karyawan dalam lingkungan manajemen perusahaan dengantujuan promosi, bonus atau keuntungan ekonomis lainnya serta simbol status. Definisi Fraud menurut ACFE dapat berupa fraud pada pekerjaan dan penyalahgunaannya (penipuan karyawan), yaitu seseorang yang menggunakan pekerjaannya untuk memperoleh keuntungan personal dengan cara penyalahgunaan atau mencuri sumber daya atau aset perusahaan; fraud atas laporan keuangan yaitu kesalahan penyajian yang disengaja dari keadaan keuangan perusahaan melalui kesalahan dan kelalaian dalam menyajikan jumlah atau pengungkapan dalamlaporan keuangan untuk mengelabui pengguna laporan keuangan. SINONIM : PENIPUAN, PENCURIAN, DAN PENGGELAPAN Penipuan, pencurian, penyalahgunaan wewenang, ketidakwajaran, kejahatan kerah putih dan penggelapan merupakan jenis kata-kata yang sering digunakan secara bergantian. Walaupun seluruhnya memiliki kesamaan, namun dari sisi hukum sama sekali tidak sama. Misalnya,

dalam hukum Inggris, pencurian diartikan sebagai mengambil dan membawa hak milik orang lain dengan maksud untuk memilikinya, dalam pencurian tersebut pencurinya memiliki barang yang secara hukum bukan miliknya. Sedangkan dalam penggelapan, pelaku secara sah merupakan pemilik barang/properti namun digunakan oleh orang lain RISET KLASIK TENTANG FRAUD Fraud secara substansial sangat merugikan baik bagi masyarakat maupun dari segi bisnis secara individual, namun hanya sedikit orang yang mengerti tentang fraud tersebut. Untuk mengerti falsafah fraud serta ruang lingkup dan bagaimana fraud tersebut, maka diperlukan literatur-literatur terkait dengan fraud. Fraud biasanya dipersamakan dengan kejahatan kerah putih, hal ini antara lain disampaikan oleh Edwin H. Sutherland dalam White Collar Crime; Donald R. Cressey dalam Other Peoples Money; Norman Jaspan dan Hillel Black dalam The Thief in The Whit Collar; dan Frank E.Hartung dalam Crime, Law, and Society. FRAUD TRIANGLE (SEGITIGA FRAUD) Ada 3 hal yang mendorong terjadinya sebuah upaya fraud, yaitu pressure (dorongan), opportunity (peluang), dan rationalization (rasionalisasi), sebagaimana tergambar berikut ini: 1. Pressure Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud, contohnya hutang atau tagihan yang menumpuk, gaya hidup mewah, ketergantungan narkoba, dll. Pada umumnya yang mendorong terjadinya fraud adalah kebutuhan atau masalah finansial. Tapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan. 2. Opportunity Opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya disebabkan karena internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan/atau penyalahgunaan wewenang. Di antara 3 elemen fraud triangle, opportunity merupakan elemen yang paling memungkinkan untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control dan upaya deteksi dini terhadap fraud. 3. Rationalization Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku mencari pembenaran atas tindakannya, misalnya: 1. Bahwasanya tindakannya untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

2. Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll.) 3. Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak mengapa jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut.

CIRI CIRI FRAUDSTERS


Aspek kunci dari pencegahan dan pendektesian fraud adalah dengan memahami ciri pelaku kecurangan (fraudsters) berdasarkan jenis fraud yang dilakukan. Pelaku biasanya adalah orang yang sama sekali tidak dicurigai, sehingga menyebabkan fraud semakin sulit untuk dicegah ataupun dideteksi. Menurut Gwynn Nettler (Lying, Cheating, and Stealing), pelaku kecurangan dan penipuan adalah sebagai berikut: a. Orang yang pernah mengalami kegagalan lebih mungkin untuk melakukan kecurangan b. Orang yang tidak disukai dan tidak menyukai dirinya sendiri lebih mungkin untuk menipu (licik) c. Orang yang impulsif, mudah digoda, dan tidak sabar dalam memperoleh sesuatu lebih mungkin terlibat didalam penipuan. d. Orang yang memiliki perasaan takut akan ditangkap dan dihukum, lebih tahan terhadap godaan untuk melakukan penipuan. e. Orang cerdas cenderung lebih jujur daripada orang tidak tahu. Orang kelas mengengah ke atas cenderung lebih jujur daripada orang kelas bawah f. Semakin mudah untuk melakukan kecurangan dan pencurian, semakin banyak orang yang akan melakukannya. g. Masing-masing orang memiliki tingkat kebutuhan berbeda yang akan mendorong untuk berbohong, berbuat curang, atau mencuri h. Kebohongan, Kecurangan, dan Pencurian meningkat ketika seseorang memiliki tekanan yang tinggi untuk mencapai suatu tujuan i. Perjuangan untuk bertahan dapat menyebabkan ketidakjujuran.

SIAPA YANG PALING SERING MENJADI KORBAN FRAUDSTER?


Pengendalian untuk melindungi dari fraud baik dari dalam maupun luar (vendor, supplier, atau kontraktor) haruslah memadai. Pengendalian tidak hanya dilakukan dari atas namun juga harus ada dukungan dari bawah. Pihak petinggi perusahaan harus dapat mempercayai bawahannya agar tercipta loyalitas dan kejujuran, karena rasa tidak percaya dari petinggi perusahaan kepada bawahannya biasanya menyebabkan terjadinya fraud. Namun,

kepercayaan penuh tanpa adanya akuntabilitas juga merupakan benih terjadinya fraud. Bukti empiris menunjukkan bahwa faktor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya fraud adalah karena kurangnya pemisahan tugas tanpa adanya pengendalian yang memadai biasanya terjadi pada perusahaan kecil. Sehingga biasanya perusahaan kecil memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya fraud.

PENGKLASIFIKASIAN FRAUD
Hampir seluruh survei tentang fraud memiliki sistem yang berbeda dalam pengklasifikasian fraud. Sementara beberapa memiliki kesamaan, beberapa yang lainnya menimbulkan masalah dalam kegiatan antifraud. Pengelompokan Secara Umum Atas Frauds a. Investor dan Konsumen Frauds. Fraud dapat terjadi pada penjual, kreditor, investor, pemasok, bankir, atau otoritas pemerintah. b. Fraud Pidana dan Perdata. Fraud Pidana membutuhkan bukti adanya keinginan untuk melakukan penipuan, sedangkan fraud perdata harus ada kerugian yang diderita korban. c. Fraud yang menguntungkan dan merugikan perusahaan. Fraud perusahaan dapat dikelompokan menjadi dua kategori, yaitu (1) fraud yang merugikan perusahaan, dan (2) fraud yang menguntungkan perusahaan. d. Fraud dari dalam dan dari luar perusahaan. Fraud yang dilakukan oleh perusahaan atau manajemen dikategorikan sebagai internal fraud, sedangkan fraud eksternal adalah yang dilakukan oleh vendor, pemasok, dan kontraktor. e. Manajemen dan Non-Manajemen Fraud. Fraud terjadi pada setiap level perusahaan, tidak hanya dilakukan oleh tingkat eksekutif (pemilik perusahaan), namun juga dilakukan oleh manajer perusahaan.

KATEGORI DAN SPESIFIKASI FRAUD


Fraud merupakan bentuk penipuan yang dilakukan dengan sengaja, umumnya berupa suatu kebohongan atau penipuan. Akan tetapi pencurian dengan tipu daya dan penggelapan terkadang juga dikategorikan sebagai suatu fraud. Unsur utama fraud ialah landasan sama yang mereka bagi. Adapun klasifikasi dari fraud antara lain sebagai berikut: Fraud yang dilakukan oleh orang dalam perusahaan, yaitu: Penyimpangan kas dan pencurian Pemalsuan pengesahan cek Manipulasi piutang seperli lapping dan manipulasi atas tagihan piutang, dll

Fraud yang dilakukan oleh pihak luar

Fraud yang dilakukan oleh vendor, penyalur dan kontraktor, seperti mengganti barang dengan mutu yang lebih rendah, penagihan ganda, penagihan tetapi pengiriman kepada tempat yang lain. Korupsi yang dilakukan oleh karyawan vendor, Penyalur, dan kontraktor serta pelanggan Frauds yang dilakukan oleh perusahaan Merekayasa keuntungan dengan cara memanipulasi penjualan, menilai terlalu rendah beban, losses dan kewajiban yang tidak dilaporkan, menunda pencatatatn pengembalian penjualan.

Anda mungkin juga menyukai