Anda di halaman 1dari 5

ENTERETOMY DAN ENTERECTOMY Irwan Ismail, Wahyu Andry Lesmana, Reski Olivia Duri, Suci Amalia Arlansyah, Aulia

Al Hasanati, Wahyuni Kelompok 7 Asisten : Aldi Derinto Amir Paktikum Ilmu Bedah Khusus Veteriner Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin. Penulis ; Irwan Ismail (O11111262) Abstrak Enterotomy adalah suatu tindakan penyayatan pada usus baik usus halus maupun usus besar yang mengalami gangguan (penyumbatan) atau karena adanya benda asing, sedangkan Enterectomy adalah tindakan operatif memotong usus yang rusak akibat intususepsi, volvulus, strangulasi, tumor atau tersumbat oleh benda asing. Enterotomy dilakukan untuk mengeluarkan benda asing (corpus alineum) bila keadaan usus masih baik, tetapi enterctomi dilakukan bila ada gangreng pada usus akibat tumor, volvulus, dan stangulasi. Tenik operasi enterotomy, corpora aliena dijepit dengan menggunakan Doyen intestinal clamps yang tidak merusak usus dan dibuat incise longitudinal dan kemudian corpora aliena dikeluarkan. Daerah Incise kemudian dijahit menggunakan catgut chromic 3/0 dengan pola jahitan Connell, cushing atau lambert, sedangkan teknik operasi enterectomy, cabang cabang arteri mesenterica yang menuju daerah yang gangrenous diikat dua kali dengan catgut chromic 3/0. Pembuluh darah disepanjang tepi mesenterium juga diikat dengan catgut chromic 3/0 atau 4/0. Bagian yang akan direseksi dijepit dengan carmalt forceps (traumatic) sedangkan diluarnya dijepit dengan Pearlman intestinal bulldog clamps (non traumatic) atau dijepit dengan jari tangan. Bagian usus dipotong di antara 2 clamps tersebut. Perwatan pascaoperasi, pada hewab yang hypothermic dilakukan penghangatan. Hewan harus berpuasa selama 24 jam setelah operasi. Cairan diberikan secara parenteral. Setelah 24 jam boleh diberikan pakan halus sedikit demi sedikit. Setelah 3 hari boleh diberikan pakan padat dalam jumlah yang kecil (sedikit) dan air diberikan adlibitum. Jahitan dibuka setelah 10 14 hari. Kata kunci ; Enterotomy, Enterectomy, corpus alineum, intususepsi.

Pendahuluan Enterotomy adalah suatu tindakan penyayatan pada usus baik usus halus maupun usus besar yang mengalami gangguan (penyumbatan) atau karena adanya benda asing (tulang yang keras, kaca, kawat, besi, seng dan rambut) atau kemungkinan adanya gangren pada usus (Yusuf, 1995). Terdapatnya benda asing (corpus alineum) di dalam usus dapat mengakibatkan usus robek (jika benda tersebut terlalu besar), mengganggu proses penyerapan pada usus dan Intussusception. Terdapatnya corpus alineum di dalam usus menjadi salah satu indikasi dilakukannya enterotomy.

Pada usus halus terjadi penyerapan yang terjadi karena adanya kontraksi dari otot polos pada dinding usus dan dari mucosa muscularis. Ingesta di dorong dan dicampur dengan cairan pencernaan oleh gerakan reflek usus halus yang akan membuat sirkulasi darah limfe. Gerakan peristaltik yang dipermudah dengan gerakan ritmik dari usus halus akan mendorong ingesta ke arah anus, ketika feces terdorong ke arah rectum timbul reflek untuk defekasi (Yulianto, 2000). Fungsi utama usus halus yaitu untuk penyerapan sari-sari makanan yang diperelukan oleh tubuh dan membantu proses pencernaan. Fungsi usus besar adalah sebagai organ

penyerap air, penampung dan pengeluaran bahan-bahan feces (Aiache, 1983). Enterectomy adalah tindakan operatif memotong usus yang rusak akibat intususepsi, volvulus, strangulasi, tumor atau tersumbat oleh benda asing. Pelaksanaan enterektomi sendiri merupakan suatu keputusan yang berat bagi seorang dokter karena memiliki resiko kematian yang sama antara tidak dilaksanakan operasi atau melakukan operasi dengan metoda yang tidak benar. Intussusception adalah masuknya salah satu bagian ke bagian yang lain atau invaginatio dari salah satu bagian usus kedalam lumen dan bergabung dengan bagian tersebut. Biasanya bagian proksimal masuk ke distal, jarang terjadi sebaliknya. Bagian usus yang masuk (menginvaginasi) disebut intussusceptum dan bagian yang menerima intussusceptum (diinvaginasi) disebut intussuscipiens. Persiapan Pra Operasi a. Pasien Pasien adalah anjing lokal (canis domesticus), jenis kelamin jantan bernama Haidy berumur 5 bulan dengan berat badan 7 kg. Sebelum operasi dilaksanakan, pasien dipuasakan selama 12 jam dengan tujuan untuk menghindari dampak pemberian anastesi dan untuk membersihkan saluran pencernaan. Hewan dimandikan dan dicukur bulunya disekitar daerah yang akan dioperasi. b. Alat dan Bahan Peralatan bedah disterilkan dan disediakan obat-obat yang diperlukan. Alat yang digunakan adalah: meja bedah, spuit 2.5 cc, scalpel, arteri klem, needle holder, gunting tumpul dan runcing, pinset anatomis dan serurgis, alis forcep, drapping, pemegang tampon, tampon, kain kasa, sarung tangan dan stetoskop. Bahan yang digunakan adalah alkohol 70%, iodium tincture 3%, NaCL fisiologis, antibiotik (penicillin oil, procain penicillin G, Penstrep 1%) vitamin B kompleks, obat premedikasi (Atropin sulfat), obat anastesi (ketamin dan Xylazin), benang catgut kromik dan benang nilon.

Premedikasi dan Anastesi Premedikasi yang digunakan pada operasi ini adalah Atropine Sulfat dengan dosis 0,02 0,04 mg/kg berat badan secara intra muskulus. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya muntah, hipersalivasi dan sebagai sedatif. Setelah sepuluh menit dilanjutkan dengan pemberian anastesi umum, diberikan Ketamin 10 40 mg/kg berat badan, Xylazin 1 3 mg/kg berat badan yang dikombinasikan dalam satu spuit secra intra muskulus. Kombinasi obat anastesi dilakukan untuk mendapatkan anastesi yang sempurna, dimana kedua obat ini mempunyai efek kerja yang antagonis atau berlawanan, sehingga efek buruk yang ditimbulkan berkurang. Ketamin mempunyai sifat analgesik, analgesik dan kataleptik dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik, tetapi lemah untuk sistem viseral. Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan kadang-kadang tonusnya meninggi. Ketamin mimilik kekurangan yaitu sangat lemah sifat analgesik pada visceral karena itu tidak dapat diberikan secara tunggal untuk prosedur operasi (Fossum, 2002). Sedangkan xylazin mempunyai efek sedasi, analgesi,anastesi dan pelemas otot pada dosis tertentu. Xylazin mempunyai efek terhadap sistem sirkulasi, penafasan dan penurunan suhu tubuh. Selain itu dapat menyebabkan bradiaritmia, serta diikuti oleh hipotensi yang berlangsung lama (Artmeier, 1972). Setelah hewan benar-benar teranastesi baru dilakukan penyayatan pada daerah abdomen dengan posisi dorso recumbency dari mulai kulit sampai menembus lapisan peritonium. Pada saat penyayatan lapisan peritonium hendaknya dibantu dengan jari tangan untuk menghindari tersayat atau tergunting organ visceral. Selama berlangsung stadium anastesi, cardiolog memonitor frekuensi denyut jantung dan pernafasan setiap 5 menit sekali. Teknik Operasi Setelah pasien teranastesi, pasien diletakkan di atas meja operasi pada posisi dorsal

recumbency dan keempat kaki diikat pada sisi kiri dan kanan meja operasi, kemudian daerah yang akan diincisi didesinfeksi dengan alkohol 70% dan Iodium tincture 3%, pasang dook steril pada daerah abdomen.

Gambar Temuan Benda Asing Untuk memastikan ada tidaknya kebocoran dilakukan uji kebocoran usus. Setelah dipastikan tidak bocor, intestinum dimasukkan kembali ke rongga abdomen, kemudian peritoneum dijahit dengan menggunakan benang nilon simple interrupted, musculus dan fascia dijahit dengan benang cat gut pola simple continous dan kulit dijahit dengan nilon pola simple interrupted (Anonymous, 2004).

Gambar Penyayatan Usus Incisi kulit melalui linea median, dari umbilicus ke caudal sepanjang kurang lebih 5-6 cm, kulit dan jaringan subcutan diincisi dengan menggunakan scalpel, preparasi tumpul dilakukan untuk mendapatkan linea alba, kemudian bagian kiri dan kanan linea alba dijepit dengan allis forceps, kemudian dengan ujung gunting atau scalpel dibuat irisan kecil pada linea alba. Irisan diperpanjang dengan menggunakan gunting lurus (sebagai pemandu, jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri di letakkan di bawah linea alba agar organ dalam tidak tergunting). enterotomy, disebelah menyebelah corpora aliena dijepit dengan menggunakan Doyen intestinal clamps yang tidak merusak usus dan dibuat incise longitudinal dan kemudian corpora aliena dikeluarkan. Daerah Incise kemudian dijahit menggunakan catgut chromic 3/0 dengan pola jahitan Connell, cushing atau lambert.

Gambar Proses Penjahitan Perawatan Pasca Operasi Setelah operasi selesai, daerah incise dibersihkan dan diolesi dengan iodium tincture 3%, ke dalam daerah bekas operasi disemprotkan penisilin oil. Pasien dimasukkan ke dalam kandang yang bersih, kering dan terang. Selama masa perawatan diberikan makanan yang mudah dicerna, luka operasi dijaga kebersihannya, jahitan dibuka setelah luka operasi kering dan pada bekas operasi dioles Iodium tincture 3%.

Enterektomi adalah tindakan operatif memotong usus yang rusak akibat intususepsi, volvulus, strangulasi, tumor atau tersumbat oleh benda asing. Pelaksanaan enterektomi sendiri merupakan suatu keputusan yang berat bagi seorang dokter karena memiliki resiko kematian yang sama antara tidak dilaksanakan operasi atau melakukan operasi dengan metoda yang tidak benar. Intussusception adalah masuknya salah satu bagian ke bagian yang lain atau invaginatio dari salah satu bagian usus kedalam lumen dan bergabung dengan bagian tersebut. Biasanya bagian proksimal masuk ke distal, jarang terjadi sebaliknya. Bagian usus yang masuk (menginvaginasi) disebut intussusceptum dan bagian yang menerima intussusceptum (diinvaginasi) disebut intussuscipiens. Intussusception merupakan salah satu penyebab spesifik dari obstruksi usus. Obstruksi usus disebabkan oleh adanya objek dalam lumen. Penyebab yang spesifik yang lain antara lain : benda asing, volvulus. torsio usus, terkurungnya usus besar karena hernia (termasuk semua tipe hernia abdominal, hernia diafragmatika), adhesi (post trauma atau post operasi), abses, granuloma atau hematoma, malformasi congenital (stenosis atau atresia) dan neoplasia usus. Operasi Pada enterectomy, cabang cabang arteri mesenterica yang menuju daerah yang gangrenous diikat dua kali dengan catgut chromic 3/0. Pembuluh darah disepanjang tepi mesenterium juga diikat dengan catgut chromic 3/0 atau 4/0. Bagian yang akan direseksi dijepit dengan carmalt forceps (traumatic) sedangkan diluarnya dijepit dengan Pearlman intestinal bulldog clamps (non traumatic) atau dijepit dengan jari tangan. Bagian usus dipotong di antara 2 clamps tersebut. Lemak mesenterium yang berada di dekat incise dihilangkan. Kedua bagian usus dianastomosis dengan catgut chromic 3/0 dengan pola jahitan simple interrupted. Pada bagian dimana mukosa yang menonjol keluar bisa ditambah dengan jahitan Lambert. Mesenterium ditutup dengan cat gut chromic no. 4/0 dengan pola jahitan simple

interrupted. Daerah anastomosis diirigasi dan laparotomy pack diambil, usus direposisi ke rongga abdominal. Bila ada kontaminasi diirigasi dengan 250 ml larutan yang mengandung kanamycin 100 mg/kg. Kemudian cairan disedot kembali. Kemudian dinding abdomen ditutup dengan jahitan simple interrupted menggunakan benang catgut chromic 2/0. Jaringan subkutan dijahit continous menggunakan catgut chromic 2/0. Kulit dijahit simple interrupted menggunakan benang non absorbable. Perawatan postoperasi dan komplikasi Menjaga keseimbangan cairan intravena dan suplemen elektrolit sejak hewan mulai minum air. Memberikan makanan dan minuman selama 12-24 jam setelah diet regular. Berikan antibiotik 2-4 jam postoperasi untuk menghindari terjadinya peritonitis. Pada kasus ini terapi berlanjut, sebagai dasar untuk pemiliha antibiotik bakterial yang diberikan setelah operasi. Monitor gejala klinis diantaranya depresi, demam yang tinggi, kesakitan abdominal, muntah dan ileus dimana hal ini mengindikasikan seperti terjadinya peritonitis. Jika diperlukan, diagnostik yang tepat seperti abdominocentosis dan tindakan therapeutic. Prognosa Prognosa pasien tergantung pada penyebab, lokasi, kompleksnya dan lamanya intussusception. Hewan yang mengalami intussusception usus mati dalam waktu 3-4 hari atau dapat bertahan hidup untuk beberapa minggu. Hewan tidak dapat bertahan (mati) akut biasanya karena obstruksi yang tinggi atau enterotoxemia, hypovolemia dan tidak seimbangnya asam basa. Hewan dengan intussusception dapat bertahan hidup dalam beberapa minggu jika obstruksinya partial atau distal, vascular aktif dan pemasukan cairan terjaga. Prognosa dengan operasi bagus jika kejadian tidak berulang adalah dengan cara mencegah dan menghindari reseksi extensif. Kesimpulan

Enterotomy adalah suatu tindakan penyayatan pada usus baik usus halus maupun usus besar yang mengalami gangguan (penyumbatan) atau karena adanya benda asing (tulang yang keras, kaca, kawat, besi, seng dan rambut) atau kemungkinan adanya gangren pada usus (Yusuf, 1995). Terdapatnya benda asing (corpus alineum) di dalam usus dapat mengakibatkan usus robek (jika benda tersebut terlalu besar), mengganggu proses penyerapan pada usus dan Intussusception. Terdapatnya corpus alineum di dalam usus menjadi salah satu indikasi dilakukannya enterotomy. Enterectomy adalah tindakan operatif memotong usus yang rusak akibat intususepsi, volvulus, strangulasi, tumor atau tersumbat oleh benda asing. Pelaksanaan enterektomi sendiri merupakan suatu keputusan yang berat bagi seorang dokter karena memiliki resiko kematian yang sama antara tidak dilaksanakan operasi atau melakukan operasi dengan metoda yang tidak benar. Perawatan post operasi, daerah incise dibersihkan dan diolesi dengan iodium tincture 3%, ke dalam daerah bekas operasi disemprotkan penisilin oil. Pasien dimasukkan ke dalam kandang yang bersih, kering dan terang. Selama masa perawatan diberikan makanan yang mudah dicerna, luka operasi dijaga kebersihannya, jahitan dibuka setelah luka operasi kering dan pada bekas operasi dioles Iodium tincture 3%. Selain itu, perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan cairan intravena dan suplemen elektrolit sejak hewan mulai minum air. Memberikan makanan dan minuman selama 12-24 jam setelah diet. Pustaka Acuan Adji, Dhirgo. 2012. Analisis Leukosit Total, CReactive Protein dan Fibrinogen Untuk Evaluasi Kebocoran Hasil Operasi Enterktomi. Bagian Bedah dan Radiologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada ; Yogyakarta. Eldredge, Debra M. Carlson, Liisa D. Carlson, Delbert G. Giffin, James M. 2007. Dog Owners Home Veterinary Handbook. 4th

Edition. Wiley Publishing : United Stutes Of America. Setiawan, Boedi. Sudarminto. Hartiningsih. 2010. Perbandingan Kadar Elektrolit Serum Pascaenterktomi Ekstensi 75% pada Anjing yang Diterapi dengan Laktoferin. Departemen Klinik Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ; Surabaya. Vol. 11 No. 2 ; 7480. Triakoso, Nusdianto. 2006. Bahan Ajar Ilmu Penyakit Dalam Veteriner II Penyakit Sistem Digesti. Bagian Klinik Veteriner FKH Unair : Surabaya.