Anda di halaman 1dari 16

ACARA II PENGENALAN DAN PENGAMATAN GEJALA SERANGAN HAMA TANAMAN HORTIKULTURA (TANAMAN CABAI)

Oleh Nama : Setiawan Dwi Sulistio NIM : A1L111021 Rombongan : A paralel

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

14

I. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Pangan sebagai kebutuhan dasar manusia saat ini terpenuhi dari produk tanaman dan hewan. Salah satunya adalah pada tanaman hortikulturan yang dimana jenis tanaman ini merupakan suatu komoditas tanaman yang mampu menghasilkan sumber produksi bagi manusia. Pada dasarnya tanaman hortikultura digolongan menjadi 4 golongan yaitu tanaman sayuran, buahbuahan, tanaman hias, dan tanaman obat. Sebagian besar tanaman hortikultura merupakan suatu tanaman yang mampu menghasilkan sumber vitamin dan mineral, selain itu tanaman hortikultura juga mampu memberikan sumber pendapatan bagi negara. Pada budidaya tanaman hortikultura salah satu cirinya adalah pemeliharan tanaman yang lebih intensif dibandingkan dengan budidaya jenis tanaman lainnya. Hal ini di sebabkan karena bannyaknya permasalahan hama dan penyakit yang menyerang tanaman hortikultura pada saat melakukan pembudidayaan oleh karena itu banyak petani yang mengendalikan penyakit maupun hama dengan cara menggunakan pestisida kimia, hal ini tentu akan memberikan dampak yang buruk pada lingkungan karena petani hanya mengutamakan keuntungan saja. Oleh karena itu perlu pengguanaan pestisida kimia dengan bijaksana agar lingkunga tidak tercemar dan hasil yang diperoleh dapat maksimal.

15

B.

Tujuan

1. Untuk mengenal jenis hama utama pada tanaman hortikultura, 2. Untuk mengenal gejala serangan hama utama pada tanaman hortikultura 3. Untuk membuat analisis agroekosistem berdasarkan hasil pengamatan

16

II. TINJAUAN PUSTAKA

Hortikultura berasal dari kata hortus (= garden atau kebun) dan colere (= to cultivate atau budidaya). Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias, sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari budidaya buah-buahan, sayuran dan tanaman hias. Cabai merupakan salah satu komoditas penting pertanian di Indonesia, tanaman ini memiliki tingkat permintaan dan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Luas lahan produksi cabai di Indonesia mencapai 237 520 ha, dengan tingkat produksi cabai sebesar 1 332 356 ton (Deptan 2010). Budidaya cabai dapat dilakukan di dataran rendah maupun tinggi, tantangan terbesar dalam budidaya cabai adalah keberadaan hama dan penyakit. Keberadaan hama dan penyakit tanaman menurunkan tingkat kualitas dan kuantitas produksi cabai. Beberapa hama dan penyakit penting yang menyerang tanaman cabai adalah thrips, kutu daun, antraknosa dan bercak daun (Pracaya 1999). Sebagian besar petani cabai di Indonesia masih menggunakan pestisida kimia dalam menggendalikan keberadaan hama dan penyakit. Survei yang dilakukan oleh Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB di Tegal, Garut, Pengalengan, Magelang, Nganjuk dan Blitar, menunjukkan bahwa petani masih menggunakan pestisida kimia secara rutin dalam mengendalikan keberadaan hama dan penyakit. Aplikasi pestisida kimia dilakukan setiap seminggu sekali atau kurang lebih sekitar 20 kali selama satu

17

musim tanam. Pemilihan jenis dan aplikasi pestisida kimia yang digunakan dilakukan dengan kurang bijaksana dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Petani masih menggunakan pestisida berkategori sangat berbahaya dan prior infrom concern (PIC), kategori PIC merupakan pestisida yang tingkat persistensi di alam yang tinggi, berdasarkan konvensi Stockholm (2004) pestisida jenis ini secara internasional dilarang atau dibatasi penggunaannya. Pestisida kimia memang terbukti efektif dan efisien dalam mengendalikan hama dan penyakit, namun aplikasi pestisida kimia yang dilakukan mampu menimbulkan dampak negatif yang besar bagi tanaman, lingkungan dan manusia (Igbedioh 1991). Penggunaan pestisida kimia menimbulkan kematian pada musuh alami, resistensi dan menyebabkan munculnya hama dan penyakit baru. Aplikasi pestisida kimia juga menyebabkan kematian pada organisme selain hama dan penyakit, kondisi ini menyebabkan hilangnya kemampunan alami lingkungan dalam menekan serangan hama dan penyakit tanaman (natural control). Selain itu, residu pestisida yang tersisa pada buah cabai membahayakan kesehatan konsumen.

18

Mengingat besarnya dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida kimia maka perlu adanya alternatif lain dalam mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman cabai. Pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan strategi budidaya tanaman yang mampu meminimalisir penggunaan bahan-bahan kimia dalam meningkatkan produktifitas tanaman. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan menggabungkan pengendalian secara biologi dan kimia, pengendalian kimia dilakukan sesuai dengan nilai ambang ekonomi (Gray et al. 2009). Minimnya penggunaan pestisida kimia dalam budidaya cabai memungkinkan perkembangan mikroorganisme yang berguna bagi tanaman cabai, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai menjadi optimal.

19

III. METODE PRAKTIKUM

A.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan meliputi: pertanaman hortikultura cabai. Alat yang digunakan yaitu kantong plastik, gunting tanaman, kertas label, ATK.

B.

Prosedur Kerja

1. Disiapkan alat dan bahan, 2. Pertanaman hortikultura cabai di datangi dan disurvei gejala serangan hama, 3. Diprediksikan intensitas gejala serangannya, 4. Diambil bagian tanaman yang terkena serangan hama (diambil sebagai sampel), 5. Ditulis hasil analisis agroekosistem pada kertas plano yang meliputi: gambar keadaan umum agroekosistem, 6. Dipresentasikan hasil pengamatan.

20

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Pengamatan

Hari, tanggal Lokasi Luas Waktu pengamatan Metode sampling Komponen A. Biotik - Tanaman pokok - Tanaman lain - Hama - Musuh alami - Serangga netral B. Abiotik - Tanah - Cuaca - Air - Kelembapan C. Sistem pertanaman D. Kondisi Lahan -Keadaan Naungan

: Kamis, 14 November 2013 : Desa Sikapat, Kec. Sumbang, Kab. Banyumas. : 300 m2 : Rabu, 6 November 2013 : Keberadaan / Keterangan

Cabai Jagung, Kelapa, Petai cina Ulat Grayak dan Hama thrips Burung Lebah dan semut

Tanah sawah yang gembur subur tidak terlalu liat dan cukup air. Cerah, sedikit mendung Air hujan Tidak terlau tinggi Monokultur

Tidak ternaungi

21

Gambar hama

B.

Pembahasan

Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terung-terungan (Solanaceae). Famili tumbuhan ini diduga memiliki sekitar 90 genus dan sekitar 2000 spesies yang terdiri atas tumbuhan herba, semak, dan tumbuhan kerdil lainnya. Genus cabai (Capsicum) mencakup sekitar 20 spesies yang sebagian besarnya tumbuh di tempat asalnya, yaitu Amerika. Beberapa spesies yang sudah umum antara lain

22

cabai besar (C. annuum), cabai rawit (C. frustescens), C. baccatum, C. pubescens, dan C. chinense (Siemonsma & Piluek 1994). Ciri-ciri umum cabai adalah memiliki batang yang tegak dengan batang berkayu dan jumlah cabang banyak. Daun cabai umumnya berwarna hijau muda sampai hijau gelap bergantung pada varietasnya. Bentuk daun cabai umumnya bulat telur, lonjong, dan oval dengan ujung meruncing, tergantung jenis dan varietasnya. Bunga cabai berbentuk seperti terompet, terdiri atas kelopak bunga, mahkota bunga, benang sari, dan putik. Posisi bunga menggantung dengan warna mahkota putih. Bunga cabai merupakan bunga berkelamin dua karena benang sari dan putik terdapat dalam satu tangkai. Buah cabai memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda tergantung jenis dan varietasnya (Wiryanta 2002). Tanaman cabai berasal dari Amerika Tengah dan dapat tumbuh di dataran rendah atau tinggi serta dapat ditanam pada musim kemarau ataupun musim penghujan. Waktu tanam yang tepat disesuaikan dengan jenis lahan. Menurut Sumarni (1996), pemilihan waktu tanam yang paling tepat penting dilakukan terkait dengan ketersediaan air dan curah hujan. Tanaman cabai dikenal sebagai tanaman yang tidak terlalu tahan terhadap curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang tinggi pada saat tanaman cabai sedang berbunga dapat mengakibatkan bunga rontok sehingga jumlah buah juga berkurang (Widodo 2002). Untuk lahan kering atau tegalan dengan drainase yang baik, waktu tanam yang tepat adalah awal musim penghujan, sedangkan untuk lahan sawah adalah akhir musim penghujan. Tanah yang cocok untuk tanaman cabai agar tumbuh dengan subur adalah tanah yang gembur dengan pH 5,5-6,8, kandungan unsur hara seimbang, dan kaya

23

bahan organik (Widodo 2002). Suhu rata-rata yang baik untuk pertumbuhan cabai adalah 18-28 C. Meskipun demikian suhu yang benar-benar optimum adalah 2128 C. Khusus cabai besar, suhu rata-rata yang optimum adalah 21-25 C, untuk fase pembungaan dibutuhkan suhu udara antara 18,3 dan 26,7 C. Suhu rata-rata yang terlalu tinggi dapat menurunkan jumlah buah. Suhu rata-rata di atas 32 C dapat mengakibatkan tepung sari menjadi tidak berfungsi. Suhu rata-rata yang tinggi pada malam hari juga dapat berpengaruh kurang baik terhadap produksi cabai (Widodo 2002). Buah cabai pada umumnya digunakan sebagai bahan makanan yang digunakan sebagai bumbu masak. Akan tetapi buah cabai juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain, seperti untuk terapi kesehatan dan bahan ramuan tradisional. Berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa buah cabai dapat membantu menyembuhkan kejang otot, rematik, sakit tenggorokan, dan alergi. Cabai juga dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dalam jantung. Selain itu, cabai dapat digunakan sebagai obat oles kulit untuk meringankan rasa pegal dan dingin akibat rematik dan encok karena bersifat analgesik (Wiryanta 2002). Berbagai khasiat cabai tersebut disebabkan oleh senyawa kapsaisin (C18H27NO3). Buah cabai mengandung lima senyawa kapsaisinoid, yaitu nordihidrokapsaisin, kapsaisin, dihidrokapsaisin, homokapsaisin, dan homodihidrokapsaisin (Wiryanta et al. 2010). Senyawa-senyawa tersebut bisa dijadikan obat untuk pengobatan sirkulasi darah yang tidak lancar di kaki, tangan, dan jantung. Cabai juga mengandung kapsikidin yang terdapat dalam biji, berguna untuk memperlancar sekresi asam lambung dan mencegah infeksi sistem pencernaan.

24

Senyawa lain yang terdapat dalam buah cabai adalah kapsikol yang berfungsi sebagai pengganti minyak kayu putih untuk mengurangi pegal-pegal, rematik, sakit gigi, sesak napas, dan gatal-gatal (Wiryanta 2002). Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu jenis hama terpenting yang menyerang tanaman palawija dan sayuran di Indonesia. Hama ini sering mengakibatkan penurunan produktivitas bahkan kegagalan panen karena menyebabkan daun dan buah sayuran menjadi sobek, terpotong-potong dan berlubang. Bila tidak segera diatasi maka daun atau buah tanaman di areal pertanian akan habis (Samsudin, 2008). Serangan hama pengganggu tanaman yang tidak terkendali akan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi para petani.. Pengendalian terhadap ulat grayak pada tingkat petani pada umumnya masih menggunakan insektisida yang berasal dari senyawa kimia sintesis yang dapat merusak organisme non target, resistensi hama, resurgensi hama dan menimbulkan efek residu pada tanaman dan lingkungan. Untuk meminimalkan penggunaan insektisida perlu dicari pengendalian pengganti yang efektif dan aman terhadap lingkungan (Laoh, 2003). Larva menyebar dengan menggunakan benang sutera dari mulutnya. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar. Warna dan perilaku ulat instar terakhir mirip ulat tanah, perbedaannya hanya pada tanda bulan sabit, berwarna hijau gelap

25

dengan garis punggung warna gelap memanjang. Umur 2 minggu panjang ulat sekitar 5 cm. Thrips (Megalurothrips usitatus Bagnall) merupakan salah satu hama utama tanaman cabai. Suhu dan curah hujan merupakan faktor iklim yang sangat mempengaruhi populasi thrips (Lewis 1973). Nimfa dan serangga dewasa mengisap cairan permukaan daun dengan mulut pengisapnya, sehingga permukaan atas daun berbintik-bintik keputihan dan permukaan bawah daun menjadi nekrotik. Gejala muncul sejak tanaman masih muda yang dicirikan dengan daun-daun yang mengerut, tanaman menjadi kerdil, pembentukan bunga terlambat atau bunga rontok. Dengan rontoknya bunga, hasil menjadi rendah. Di samping dapat menimbulkan gejala langsung, beberapa spesies thrips dapat bertindak sebagai vektor virus. Thrips palmi dan T. tabaci misalnya dapat menyebarkan virus pucuk yang menyebabkan kematian tanaman secara luas (Kranz et al. 1978). Pada saat pengamatan, petani hanya melakukan pengendalian terhadap ulat grayak. Pengendalian ulat grayak yang dilakukan oleh petani adalah dengan penyemprotan insektisida kimia. Sebaliknya, tidak dilakukan pengendalian terhadap hama thrips dikarenakan kurangnya pemahaman petani terhadap hama thrips dan hama ini tidak terlalu mempengaruhi hasil produksi dari pertanaman cabai.

26

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan

1. Setelah dilakukan pengamatan di pertanaman cabai, didapatkan hama ulat grayak dan hama thrips. Kedua hama ini adalah hama utama dari tanaman cabai. 2. Gejala dari serangan hama ulat grayak adalah terdapat gigitan dari hama ulat grayak pada daun karena hama ini memakan daun. 3. Gejala serangan hama thrips yakni permukaan daun atas berbintik-bintik keputihan atau keperakan dan permukaan daun menjadi nekrotik dikarenakan hama ini menghisap cairan permukaan daun. 4. Pada saat pengamatan, petani hanya melakukan pengendalian terhadap ulat grayak. Pengendalian ulat grayak yang dilakukan oleh petani adalah dengan penyemprotan insektisida kimia. Sebaliknya, tidak dilakukan pengendalian terhadap hama thrips dikarenakan kurangnya pemahaman petani terhadap hama thrips dan hama ini tidak terlalu mempengaruhi hasil produksi dari pertanaman cabai. B. Saran

Pada saat pengamatan hama pada tanaman cabai sebaiknya dilakukan pagipagi sekali sehingga didapatkan hama pada tanaman cabai karena kebanyakan hama tanaman cabai akan bersembunyi menghindari sinar matahari sehingga sulit untuk dicari.

27

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2006. Produksi cabe menurut provinsi. Departemen Pertanian [internet]. [diunduh 25 November 2013]. Tersedia pada:

http://www.deptan.go.id/tampil.php?page=inf_basisdata. [Deptan] Departemen Pertanian. 2008. Pestisida Pertanian dan Kehutanan. Pusat Perizinan dan Investasi, Sekretariat Jenderal, Departemen Pertanian.Jakarta. Gray EM, Ratcliffe ST, Rice ME. 2009. The IPM paradigm: concepts, strategies and tactics. Di dalam: Radcliffe EB, Hutchinson WD, Cancelado RE. Integrated Pest Management. Cambridge University Press.New York. Igbedioh SO. 1991. Effects of agricultural pesticides on humans, animals, and higher plants in developing countries. Academic One File [Internet]. [diunduh 2013 November 25]. Tersedia pada: http://find.galegroup. com/gtx/infomark.do?&contentSet=IAC Documents&type= retrieve&tabID =T002&prodId=AONE&docId=A11119862&source=gale&srcprod=AONE &userGroupName=idipb&version=1.0. Kranz, J., H. Schmutterer, and W. Koch. 1978.Diseases, Pests, and Weeds in TropicalCrops. John Wiley & Sons. Chichester, Brisbane and

Toronto.NewYork,. p. 280283. Laoh, J. H., Fifi Puspita, Hendra. 2003. Kerentanan Larva Spodoptera litura F. Terhadap Virus Nuklear Polyhedrosis. Jurnal Natur Indonesia 5(2): 145151

28

Lewis, T. 1973. Thrips: Their biology, ecology,and economic importance. Academic Press,London. 349 pp. Pracaya. 1999. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya.Jakarta. Samsudin. 2008. Virus Patogen Serangga: Bio-insektisida Ramah Lingkungan. http://www.pertaniansehat.or.id.html diakses pada 25 November 2013 Siemonsma JS, Piluek K. 1994. Capsicum L. Plant Resources of South East Asia 8 (Vegetables). PROSEA.Bogor. Sumarni. 1996. Budidaya tanaman cabai merah. Di dalam: Duriat AS, Hadisoeganda AWW, Soetirso TA, Prabaningrum L, editor. Teknologi Produksi Cabai Merah. Lembang-Bandung: Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Widodo WD. 2002. Memperpanjang Umur Produktif Cabai (60 kali petik). Penebar Swadaya.Jakarta. Wiryanta BT, Nugrohodjati P, Firmansyah N. 2010. Panduan Lengkap Budi Daya dan Bisnis Cabai.Agro Media Pustaka.Jakarta. Wiryanta, BT. 2002. Bertanam Cabai pada Musim Hujan. Agro Media Pustaka.Tangerang.

29