Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN Dalam pendidikan, sarana dan prasarana sangat penting karena dibutuhkan.

Sarana dan prasarana pendidikan dapat berguna untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak landsung dalam suatu lembaga dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Prasarana dan sarana pendidikan adalah salah satu sumber daya yang menjadi tolok ukur mutu sekolah dan perlu peningkatan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih.1[1] Administrasi sarana prasarana pendidikan merupakan hal yang sangat menunjang atas tercapainya suatu tujuan dari pendidikan, sebagai seorang personal pendidikan kita dituntut untuk menguasai dan memahami administrasi sarana prasarana, untuk meningkatkan daya kerja yang efektif dan efisien serta mampu menghargai etika kerja sesama personal pendidikan, sehingga tercipta keserasian, kenyamanan yang dapat menimbulkan kebanggaan dan rasa memiliki baik dari warga sekolah maupun warga masyarakat sekitarnya.2[2] Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas lebih lanjut mengenai administrasi sarana dan prasarana sekolah.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Administrasi Sarana dan Prasarana Sekolah Kata administrasi berasal dari bahasa latin ad dan ministro, yang mempunyai arti kepada dan melayani. Administrasi dapat diartikan pelayanan atau pengabdian kepada subyek tertentu. Secara istilah administrasi yaitu upaya mencapai tujuan sacara efektif dan efisien dengan memanfaatkan orang-orang dalam suatu pola kerjasama.3[3] Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar seperti gedung, ruang kelas, meja-kursi, alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran seperti halaman, kebun, taman sekolah dan jalan menuju sekolah.4[4] Menurut Ibrahim Bafadal (2003: 2), sarana pendidikan adalah semua perangkatan peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Wahyuningrum (2004: 5), berpendapat bahwa sarana pendidikan adalah segala fasilitas yang diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat meliputi barang bergerak maupun barang tidak bergerak agar tujuan pendidikan tercapai. Sedangkan menurut Tim Penyusun Pedoman Media Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak, maupun tidak bergerak, agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien.5[5]

Jadi, administrasi sarana dan prasarana sekolah adalah seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan sungguh-sungguh serta pembinaan secara continue terhadap benda-benda pendidikan agar senantiasa siap pakai dalam proses belajar mengajar sehingga efektif dan efisien guna membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan didalam sekolah.

B. Prinsip-Prinsip pengelolaan Sarana dan Prasarana Untuk mendukung tercapainya tujuan administrasi sarana prasarana sekolah maka ada prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengelola sarana prasarana sekolah sebagai berikut. 1) Prinsip pencapaian tujuan Administrasi sarana prasara sekolah dikatakan berhasil apabila fasilitas sekolah selalu siap pakai. 2) Prinsip efisiensi Pemakaian semua fasilitas sekolah hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat mengurangi pemborosan. Untuk itu, perlengkapan sekolah hendaknya dilengkapi dengan petunjuk teknis penggunaan dan pemeliharaannya. 3) Prinsip administrative Semua pengelola perlengkapan pendidikan di sekolah itu hendaknya selalu

memperhatikan undang-undang, peraturan, intruksi dan pedoman yang telah diberlakukan oleh pemerintah. 4) Prinsip Kejelasan Tanggung Jawab Tugas dan tanggung jawab semua anggota organisasi terhadap pengelolaan sarana dan prasarana sekolah harus dideskripsikan dengan jelas. 5) Prinsip Kekohesifan Manajemen sarana prasarana sekolah hendaknya terealisasikan dalam bentuk proses kerja yang sangat kompak. Untuk itu, antara satu dengan lainnya dalam organisasi harus bekerja dengan baik.

C. Jenis dan tipe sekolah 1. Jenis sekolah

Ditinjau dari jenis sekolah dibedakan menjadi sekolah umum dan sekolah kejuruan. a. Sekolah Umum Adalah sekolah yang yang bertujuan memberikan pendidikan yang sifatnya masih umum agar lulusannya punya bekal pengetahuan untuk melanjutkan sekolahnya ketingkat pendidikan yang lebih tinggi. Pembedaan antara sekolah umum dengan sekolah kejuruan dimulai ditngkat sekolah menengah, mengingat: sekolah dasar memberikan pengetahuan yang sifatnya dasar dan penting. Pengetahuan yang diberikan di Sekolah Dasar merupakan pengetahuan minimal yang diperlukan untuk hidup sebagai individu, anggota masyarakat dan warga Negara. Pendidikan yang bersifat kejuruan dirasa terlalu dini karena anak-anak di Sekolah Dasar masih terlalu kecil untuk bekerja. b. Sekolah kejuruan Sekolah Kejuuruan adalah sekolah-sekolah yang memberikan progam khusus agar lulusannya mampu memasuki dunia kerja. Contoh SMKK, SMEA,SPMA, SPG, SGO, dan sebagainya. 2. Tipe sekolah 1) Lembaga Pendidikan Formal Bersifat permanen, dalam jangka lama, waktu belajar cukup banyak, mempunyai efek jenjang dalam lapangan pekerjaan. 2) Lembaga Pendidikan Non Formal Bersifat relative tidak permanen artinya diselenggarakan apabila diperlukan, jangka waktu belajar kurang terikat, tidak mempunyai efek jenjang lapangan pekerjaan.

D. Prinsip penataan ruang dan bangunan sekolah Sarana dana prasarana merupakan sumber utama yang memerlukan penataaan sehingga fungsional, aman dan atraktif untuk keperluan proses-proses belajar di sekolah. Dibawah ini dikemukakan beberapa petunjuk teknis berkenaan dengan bagaimana menata sarana dan prasarana pendidikan, yaitu: 1. Tata ruang dan bangunan sekolah

Hubungan antara ruang-ruang yang dibutuhkan dengan pengaturan letaknya pada kurikulum yang berlaku dan tentu saja ini akan memberikan pengaruh terhadap penyusunan jadwal pelajaran. Hal ini perlu diperhatikan antara lain: a. Ruang kegiatan belajar ditempatkan dibagian yang paling terang, tetapi tidak silau dan jauh dari gangguan atau sumber kebisingingan atau keributan. b. Ruang keterampilan/praktek yang dapat merupakan sumber kebisingan ditempatkan jauh dari ruang belajar. c. Ruang laboratorium ditempatkan terpisah namun mudah dan cepat terjangkau.

2. Penataan perabotan sekolah Tata perabot sekolah mencakup pengaturan barang-barang yang dipergunakan oleh sekolah, sehingga menimbulkan kesan dan kontribusi yang baik pada kegiatan pendidikan. Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain: a. Perbandingan antara luas lantai dan ukuran perabot yang akan dipakai dalam ruangan tersebut. b. c. d. e. f. g. Kelonggaran jarak dan dinding kiri-kanan Jarak antara satu perabot dengan perabot lainnya Jarak deret perabot (meja-kursi) terdepan dengan papan tulis Jarak deret perabot (meja-kursi) paling belakang dengan tembok batas Arah menghadapnya perabot Kesesuaian dan keseimbangan.

3. Penataan perlengkapan sekolah penataan perlengkapan sekolah mencakup pengaturan perlengkapan di ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, ruang kelas, ruang BP, ruang perpustakaan, dsb. Ruang-ruang tersebut perlengkapannya perlu ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan yang baik kepada penyelenggara pendidikan yang dilaksanakan disekolah dan menimbulkan perasaan senang dan betah pada guru yang mengajar dan siswa yang belajar. Pada ruang guru, selain perlengkapan guru juga dilengkapi dengan: jadwal pelajaran, kalender akademik, daftar pembagian tugas guru, dll. 6[9]

E. Prinsip-prinsip pengelolaan perlengkapan Menurut hunt pierce Ada beberapa prinsip dasar pengelolaan sarana dan prasarana sebagai berikut: a. Lahan bangunan, dan perlengkapan perabot sekolah harus menggambarkan cita dan citra masyarakat, seperti halnya yang dinyatakan dalam filsafat dan tujuan pendidikan. b. Perencanaan lahan bangunan dan perlengkapan-perlengkapan perabot sekolah hendaknya merupakan pancaran keinginan bersama dan dengan pertimbangan suatu tim ahli yang cukup cakap yang ada dimasyarakat itu. c. Lahan bangunan dan perlengkapan-perlengkapan perabot sekolah hendaknya di sesuaikan dan memadai bagi kepentingan anak-anak didik, demi terbentiknya karakter mereka dan dapat melayani serta menjamin mereka di waktu belajar, bekerja, bermain sesuai bakat msaing-masing. d. Lahan bangunan dan perlengkapan-perlengkapan perabot sekolah serta alat-alat hendaknya disesuaikan dengan kepentingan pendidikan yang bersumber dari kepentingan serta kegunaan bagi murid-murud dan guru-guru. e. Sebagai penanggung jawab harus dapat membentu program sekolah secara efektif, melatih para petugas serta memilih alatnya dan cara menggunakannya agar mereka dapat menyesuaikan diri serta melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsi dan profesinya. f. Seorang penanggung jawab sekolah harus mempunyai kecakapan untuk mengenal, baik kualitatif dan kuantitatif serta menggunakannnya dengan tepat fungsi bangunan dan perlengkapannya. g. Sebagai penanggung jawab harus mampu memelihara serta menggunakan bangunan dan tanah sekitarnya sehingga ia dapat membantu terwujudnya kesehatan, keamanan, klebahagiaan dan keindahan serta kemajuan dari sekolah dan masyarakat.

h.

Sebagai penanggung jawab sekolah bukan hanya mengetahui kekayaan sekolah yang di percayakan padanya, tetapi harus memperhatikan seluruh keperluan alat-alat pendidikan yang dibutuhkan oleh anak didiknya.7[7]

F. Pembuatan Laporan Perlengkapan Dalam perencanaan perlengkapan dan perabot sekolah. Depdiknas mengelompokannya menjadi barang-barang yang habis dipakai barang-barang yang tak habis dipakai. Untuk perencanaannya adalah sebagai berikut (Depdiknas,1980): 1) Barang yang habis dipakai, direncanakan dengan urutan sebagai berikut: a) Menyusun daftar perlengkapan yang disesuaikan dengan kebutuhan dari rencana kegiatan sekolah tiap bulan b) Menyusun perkiraan biaya yang diperlukan untuk pengadaan barang tersebut tiap bulan c) Menyusun rencana pengadaan barang tersebut menjadi rencana triwulan dan kemudian menjadi rencana tahunan. 2) Barang tak habis pakai, direncanakan dengan urutan sebagai berikut: a) Menganalisis dan menyusun keperluan perlengkapan sesuai dengan rencana kegiatan sekolah serta memperhatikan perlengkapan yang direncanakan dengan memperhatikan perlengkapan yang masih ada dan masih dapat dipakai. b) Memperkirakan biaya perlengkapan yang direncanakan dengan memperhatikan standar yang telah dilakuakan c) Menetapkan skala prioritas menurut dan yang tersedia, urgensi kebutuhan dan menyusun rencana pengadaan tahunan.

G. Pemeliharaan Pemeliharaan dilakukan secara continue terhadap semua barang-barang inventaris yang kadang-kadang dianggap sebagai suatu hal yang sepele, padahal pemeliharaan ini merupakan suatu tahap kerja yang tidak kalah pentingnya dengan tahap-tahap yang lain dalam administrasi

sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana yang sudah dibeli dengan harga mahal apabila tidak dipelihara maka tidak dapat dipergunakan. Pemeliharaan dimulai dari pemakai barang, yaitu dengan berhati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas profesional yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud. Adapun pelaksanaan pemeliharaan barang inventaris meliputi:8[8] a. Perawatan. b. Pencegahan kerusakan. c. Penggantian ringan.

H. Jadwal dan Kegiatan Laporan Tahun Rutin/proyek Penggunaan sarana prasarana inventaris sekolah harus dipertanggungjawabkan dengan jalan membuat laporan penggunaan barang-barang tersebut yang ditujuakn kepada instansi terkait. Laporan tersebut sering disebut dengan mutasi barang. Pelaporan dilakukan sekali dalam setiap triwulan, terkecuali bila di sekolah itu ada barang rutin dan barang proyek maka pelaporan pun seharusnya dibedakan.

I.

Rencana kebutuhan fisik sekolah 1) Perencanaan pengadaan tanah untuk gedung atau bangunan sekolah 2) Perencanaan pengadaan bangunan gedung sekolah 3) Perencanaan pembangunan banguna gedung sekolah 4) Perencanaan pengadaan perabot dan pelengkapan pendidikan 5) Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan 6) Inventasisasi sarana dan prasarana pendidikan 7) Pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan 8) Penggunaan sarana dan prasarana pendidikan 9) Penghapusan sarana dan prasarana pendidikan.

BAB III KESIMPULAN