Anda di halaman 1dari 24

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam keseharian hampir semua kegiatan kita berhubungan dengan peralatan elektronik. Peralatan elektronik menggunakan listrik sebagai sumber energi utamanya. Sehingga kita dapat dengan mudah berkontak dengan listrik. Listrik merupakan suatu bentuk energi yang pada keadaan tertentu dapat melukai tubuh bahkan dapat menyebabkan kematian. Tubuh manusia adalah penghantar listrik yang baik. Arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh manusia akan menghasilkan panas yang dapat membakar dan menghancurkan jaringan tubuh. Meskipun luka bakar listrik tampak ringan, tetapi mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada jantung, otot atau otak1. Kematian jaringan yang ditimbulkan seakan-akan progresif dan banyak kerusakan jaringan baru terjadi kemudian. Ekstremitas yang semula tampak vital, mungkin setelah beberapa hari menunjukkan nekrosis otot iskemik2. Insidensi kasus di Amerika, 1000 orang meninggal dunia akibat sengatan listrik setiap tahunnya. Kasus sengatan listrik menempati peringkat ke-5 sebagai kejadian fatal dalam kecelakaan kerja di Amerika, 1% kasus kematian dalam kecelakaan di rumah tangga disebabkan oleh sengatan listrik dan 60% dilaporkan peristiwa tersebut terjadi pada paparan arus listrik dengan tegangan 110-220 V dan terbanyak pada kesalahan penggunaan peralatan rumah tangga atau penggunaan peralatan elektronik yang dekat dengan sumber air. William Dokov, melakukan autopsi terhadap 485 korban kematian akibat sengatan listrik di Bulgaria dari tahun 1980-2006. Secara gender, laki-laki lebih sering terpapar trauma listrik dibandingkan perempuan dengan persentase perbandingan 85%:15%. Berdasarkan tempat kejadian 61% terjadi di dalam rumah tangga, 24% tempat kerja, dan 15% lainnya. Sedangkan berdasarkan besar paparan, arus listrik
1

dengan tegangan rendah lebih sering menyebabkan trauma hingga kematian dengan frekuensi 42,06%, tegangan tinggi 30,72%, dan yang tidak diketahui 27,22% 3,4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Kulit

Kulit yang merupakan pelindung tubuh, beragam luas dan tebalnya. Luas kulit orang dewasa adalah satu setengah sampai dua meter persegi. Tebalnya antara 1,5-5 mm, bergantung pada letak kulit, umur, jenis kelamin, suhu dan keadaan gizi. Kulit paling tipis di kelopak mata, penis, labium minor, dan bagian medial lengan atas; sedangkan kulit tebal terdapat di telapak tangan dan kaki, punggung, bahu dan bokong2. Selain sebagai pelindung terhadap cedera fisik, kekeringan, zat kimia, kuman penyakit, dan radiasi, kulit juga berfungsi sebagai pengindra, pengatur suhu tubuh, dan ikut mengatur peredaran darah. Faal perasa dan peraba dijalankan oleh ujung saraf sensoris Vaterpacini, Meissner, Krause, dan Ruffini yang terdapat di dermis2.

Gambar 2.1. Anatomi kulit


Sumber: Jacob & Heller, 2010

2.2 Luka Bakar (Combustio) A. Definisi Luka yang terjadi akibat panas, arus listrik atau bahan kimia yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan lebih dalam5.

B. Luas Luka Bakar Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. pada orang dewasa digunakan Rule of Nine atau Rule of Wallace yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, perut, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1% adalah daerah genitalia. Rumus ini membantu untuk memperkirakan luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa 2. Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal rumus 10 untuk bayi dan rumus 10-15-20 untuk anak 2.

Gambar 2.2. Luas Luka Bakar


Sumber: Sjamsuhidajat & De Jong, 2007

C. Berat Luka Bakar Beratnya luka bakar bergantung pada dalam, luas, dan letak luka. Umur dan keadaan penderita sebelumnya akan sangat memengaruhi prognosis. Daerah perineum, ketiak, leher, dan tangan sulit perawatannya, antara lain karena mudah mengalami kontraktur. Karena bayi dan orang usia lanjut daya kompensasinya lebih rendah maka bila terbakar, digolongkan dalam golongan berat 2.

D. Derajat Luka Bakar Luka yang terjadi akibat panas, arus listrik atau bahan kimia yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan lebih dalam 2. 1. Luka bakar derajat I Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (surperficial), kulit hipermis berupa eritema, tidak dijumpai bula, terasa nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Penyembuhan terjadi secara spontan tanpa pengobatan khusus.

Gambar 2.3. Luka Bakar Derajat I


Sumber: Jacob & Heller, 2010

2. Luka bakar derajat II Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi
5

disertai proses eksudasi. Terdapat bula, nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Dibedakan atas 2 (dua) bagian: a. Derajat II dangkal/superficial (IIA) Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari dermis. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebasea masih banyak. Semua ini merupakan benih-benih epitel. Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa terbentuk sikatrik. b. Derajat II dalam/deep (IIB) Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa-sisa jaringan epitel tinggal sedikit. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea tinggal sedikit. Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut hipertrofi. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

Gambar 2.4. Luka Bakar Derajat II


Sumber: Jacob & Heller, 2010

3. Luka bakar derajat III Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan yang lebih dalam sampai mencapai jaringan subkutan, otot dan tulang. Organ kulit mengalami kerusakan, tidak ada lagi sisa elemen epitel. Tidak dijumpai bula, kulit yang
6

terbakar berwarna abu-abu dan lebih pucat sampai berwarna hitam kering. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai esker. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi karena ujung-ujung sensorik rusak. Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi epitelisasi spontan.

Gambar 2.5. Luka Bakar Derajat III


Sumber: Jacob & Heller, 2010

E. PEMBAGIAN LUKA BAKAR 1. Luka bakar berat (major burn) a. Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun b. Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama c. Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki, dan perineum d. Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka bakar e. Luka bakar listrik tegangan tinggi f. Disertai trauma lainnya g. Pasien-pasien dengan resiko tinggi 2. Luka bakar sedang (moderate burn)
7

a. Luka bakar dengan luas 15 25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 % b. Luka bakar dengan luas 10 20 % pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 % c. Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum 3. Luka bakar ringan a. Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa b. Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut c. Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum)

F. Patofisiologi Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan.Pembuluh kapiler yang terkena suhu tinggi rusak dan peremeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula yang mengandung banyak elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intra vaskuler. Tubuh kehilangan cairan antara % - 1 %, Blood Volume setiap 1 % luka bakar. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebih (insensible water loss meningkat), masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat dua, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat tiga 2. Bila luka bakar lebih dari 20 % akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat dingin berkeringat, nadi kecil, dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urin menurun (kegagalan fungsi ginjal). Pembengkakan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam 2.

Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau luka pada daerah muka dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap atau uap panas yang terisap. Udem laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak nafas, takipnea, stridor, suara serak dan berdahak berwarna gelap karena jelaga 2. Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lain. CO akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga tak mampu mengikat oksigen lagi. Tanda keracunan yang ringan adalah lemas, binggung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan berat terjadi koma. Bila lebih 60 % hemoglobin terikat CO, penderita akan meninggal 2. Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis 2. Pada luka bakar yang berat terjadi ileus paralitik. Stres dan beban faali yang terjadi pada luka bakar berat dapat menyebabkan tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama degan gejala tukak peptik. Kelainan ini dikenal dengan tukak Curling yang dikhawatirkan pada tukak pendarahan yang timbul sebagai hematesis melena .
2

ini adalah

G. Terapi Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh. pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya lima belas menit. Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas
2

Pada luka bakar ringan, prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisasisa sel epitel untuk berproliferasi, dan menutup permukaan luka. Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan, apabila perlu, dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas, diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Apabila terjadi udem laring, dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi. Bila ada kecurigaan keracunan CO, diberikan oksigen murni
2

. Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik dan

membiarkannnya terbuka untuk perawatan terbuka dan menutupnya dengan pembalut streil untuk perawatan tertutup. Apabila perlu, penderita dimandikan dahulu. Selanjutnya, diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan atau toksoid. Analgetik diberikan bila penderita kesakitan 2. 1. Pemberian cairan intravena Sebelum infus diberikan, luas dan dalamnya luka bakar harus ditentukan secara teliti. Kemudian, jumlah cairan infus yang akan diberikan dihitung. Ada bebapa cara untuk menghitung kebutuhan cairan ini. a. Cara Evans Cara Evans adalah sebagai berikut: 1) Luas luka dalam persen x berat badan dalam kg menjadi ml NaCl per 24 jam. 2) Luas luka dalam persen x berat badan dalam kg menjadi ml plasma per 24 jam. Keduanya merupakan pengganti cairan yang hilang akibat udem. Plasma diperlukan untuk mengganti plasma yang keluar dari pembuluh darah dan meninggikan tekanan osmosis hingga

10

mengurangi perembesan keluar dan menarik kembali cairan yang telah keluar. 3) Sebagai pengganti cairan yang hilang akibat penguapan, diberikan 2.000 cc glukosa 5% per 24 jam. Separuh dari jumlah 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua. Penderita mula-mula dipuasakan karena peristaltis usus terhambat pada keadaan prasyok, dan mulai diberikan minum segera setelah fungsi usus normal kembali. Apabila diuresis pada hari ketiga memuaskan dan penderita dapat minum tanpa kesulitan, infus dapat dikurangi, bahkan dihentikan.

b. Rumus Baxter % TBSA x BB x 4 cc Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam. Hari pertama terutama diberikan elektrolit, yaitu larutan ringer laktat karena terjadi defisit ion Na. Hari kedua diberikan setengah cairan hari pertama.

2. Obat-obatan Antibiotik sistemik spektrum luas diberikan untuk mencegah infeksi. Yang banyak dipakai adalah golongan aminoglikosida yang efektif terhadap pseudomonas. Antasida diberikan untuk pencegahan tukak beban (tukak stres) dan antipiretik diberikan bila suhu tinggi. 3. Pengobatan lokal

11

Luka bakar derajat satu dan dua yang menyisakan elemen epitel berupa kelenjar sebasea, kelenjar keringat, atau pangkal rambut, dapat diharapkan sembuh sendiri, asal dijaga supaya elemen epitel tersebut tidak hancur atau rusak karena infeksi. Pada luka lebih dalam perlu diusahakan secepat mungkin membuang jaringan kulit yang mati dan memberi obat topikal yang daya tembusnya tinggi sampai mencapai dasar jaringan mati. Obat topikal yang dipakai dapat berbentuk larutan, salep atau krim. Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk sediaan kasa (tulle). Antiseptik yang dipakai adalah yodium povidon atau nitras-argenti 0,5%. Kompres nitrasargenti yang selalu dibasahi tiap 2 jam efektif sebagai bakteriostatik untuk semua kuman. Obat lain yang banyak dipakai adalah silver sulfadiazin, dalam bentuk krim 1%. Krim ini sangat berguna karena bersifat bakteriostatik, mempunyai daya tembus yang cukup, efektif terhadap semua kuman, tidak menimbulkan resistensi dan aman. Pada luka bakar derajat dua sebaiknya keropeng dibiarkan menjadi kering. Keropeng ini akan terlepas sendiri seperti kulit ular setelah 7-12 hari. Pada waktu itu, kulit di bawahnya sudah sembuh. Pada luka bakar derajat tiga sebaiknya keropeng dibiarkan menjadi kering selama 10-18 hari. Kemudian, keropeng dapat dilepaskan dan dilakukan cangkok kulit.

2.3 Luka Sengatan Listrik (Electric Combustio)

A. Definisi Luka akibat listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya fungsi suatu organ dalam 1.

12

Arus listrik bisa menyebabkan terjadinya cedera melalui 3 cara: 1. Henti jantung (cardiac arrest) akibat efek listrik terhadap jantung. 2. Perusakan otot, saraf dan jaringan oleh arus listrik yang melewati tubuh. 3. Luka bakar termal akibat kontak dengan sumber listrik1 Kecelakaan akibat arus listrik dapat terjadi karena arus listrik mengaliri tubuh, karena ada loncatan arus, atau karena ledakan tegangan tinggi, antara lain akibat petir 2.

B. Penyebab Cedera listrik bisa terjadi akibat tersambar petir atau menyentuh kabel maupun sesuatu yang menghantarkan listrik dari kabel yang terpasang. Cedera bisa berupa luka bakar ringan sampai kematian, tergantung kepada8: 1. Jenis aliran listrik Kejadian kecelakaan karena tersengat arus listrik pada manusia lebih sering dikarenakan arus bolak-balik (AC) dibandingkan arus searah (DC). Manusia lebih sensitif terhadap arus AC dibandingkan arus DC (sekitar 4-6 kali). Arus DC menyebabkan satu kontraksi otot. Sedangkan arus AC menyebabkan kontraksi yang kontinyu (tetani) dapat mencapai 40-110 kali/detik, sehingga menyebabkan luka yang lebih parah. Pada tegangan rendah, arus searah tidak berbahaya dibanding arus bolak-balik dengan ampere yang sama. Sebaliknya, pada tegangan tinggi, arus searah lebih berbahaya. Efek AC pada tubuh manusia sangat tergantung kepada kecepatan berubahnya arus (frekuensi), yang diukur dalam satuan siklus/detik (hertz). Arus frekuensi rendah (50-60 hertz) lebih berbahaya dari arus frekuensi tinggi dan 3-5 kali lebih berbahaya dari DC pada tegangan dan kekuatan yang sama. AC sebesar 60 hertz menyebabkan otot terpaku pada posisinya, sehingga korban tidak dapat melepaskan genggamannya dari sumber listrik. Akibatnya korban terkena sengatan listrik lebih lama sehingga terjadi luka bakar yang berat. Arus DC
13

dipakai dalam industri yang menggunakan proses elektrolisa, misalnya pada pemurnian dan pelapisan atau penyepuhan logam. Juga digunakan pada telepon (30-50 volt) dan kereta listrik (600-1500 volt). Arus AC digunakan di rumah-rumah dan pabrik, biasanya menggunakan tegangan 110 volt atau 220 volt. 2. Tegangan (Voltage) Dikenal ada 2 macam tegangan : a. Tegangan rendah (low voltage) b. Tegangan tinggi (high voltage) Batasnya ditetapkan pada 1000 volt. Tegangan tinggi dapat menyebabkan kematian mendadak akibat dari henti jantung (cardiac arrest), tetapi untuk tagangan rendah (110380 V, arus searah 50-60 Hz) kematian biasanya akibat dari fibrilasi ventrikel. 3. Kuat arus (Intensitas) Kekuatan arus listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere (mA) sama dengan 1/1,000 ampere. Kuat arus dapat dihitung dari tegangan (volt) dibagi dengan tahanan (Ohm). 10 mA dapat menimbulkan rasa tidak enak (unpleasant sensation). 1060 mA dapat menghilangkan kontrol otot-otot dan dapat menyebabkan asfiksia. Kuat arus lebih dari 60 mA dan berlangsung lebih dari 1 detik dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Arus 60-80 mA atau 200-250 mA pada DC adalah berbahaya bagi manusia. Jika arus langsung mengalir ke jantung, misalnya melalui sebuah pacemaker, maka bisa terjadi gangguan irama jantung meskipun arus listriknya jauh lebih rendah (kurang dari 1 mA). Lobl O mengatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas atas ketahanan seseorang, pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran. Kematian akan terjadi pada kuat arus sebesar 100 mA atau lebih. 4. Ketahanan tubuh terhadap arus listrik (Resistensi) Resistensi adalah kemampuan tubuh untuk menghentikan atau

memperlambat aliran arus listrik (satuan: Ohm). Tahanan tubuh manusia terhadap arus listrik tergantung dari banyaknya kandungan air pada jaringan tersebut. Urutan
14

tahanan jaringan dimulai dari yang paling rendah adalah saraf, pembuluh darah, otot, kulit, tendo, dan tulang. Tahanan kulit + 500-10.000 Ohm. Kulit yang kering mempuyai tahanan antara 2000-3000 Ohm, sedangkan kulit yang basah mempunyai tahanan sekitar 500 Ohm. Resistensi kulit yang tertusuk atau tergores atau resistensi selaput lendir yang lembab (misalnya mulut, rektum atau vagina), hanya separuh dari resistensi kulit utuh yang lembab. Resistensi dari kulit telapak tangan atau telapak kaki yang tebal adalah 100 kali lebih besar dari kulit yang lebih tipis. Arus listrik banyak yang melewati kulit, karena itu energinya banyak yang dilepaskan di permukaan. Jika resistensi kulit tinggi, maka permukaan luka bakar yang luas dapat terjadi pada titik masuk dan keluarnya arus, disertai dengan hangusnya jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya arus listrik. Tergantung kepada resistensinya, jaringan dalam juga bisa mengalami luka bakar. 5. Aliran arus listrik (path of current) Aliran arus listrik adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak masuk sampai meninggalkan tubuh. Letak titik masuk arus listrik (point of entry) dapat pada setiap titik dari tubuh korban, tetapi karena adanya titik keluar yangg juga dapat berbeda-beda, maka efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari yang ringan sampai berat. Jaffe (1928) mengatakan bahwa apabila arus listrik masuk dari sebelah kiri bagian tubuh lebih berbahaya daripada apabila masuk dari sebelah kanan. Schridde (1936) mendapatkan 88% kematian setelah adanya kontak antara konduktor dengan tangan kiri. Bahaya terbesar bisa timbul apabila jantung atau otak berada dalam posisi aliran dari arus listrik tersebut . Arus listrik paling sering masuk melalui tangan, kemudian kepala dan paling sering keluar dari kaki. Arus yang melewati kepala bisa menyebabkan: a. Kejang. b. Pendarahan otak. c. Kelumpuhan pernapasan.
15

d. Perubahan psikis (misalnya gangguan ingatan jangka pendek, perubahan kepribadian, mudah tersinggung dan gangguan tidur) e. Irama jantung yang tidak beraturan. f. Kerusakan pada mata bisa menyebabkan katarak. Duff dan McCaffrey (2001) menyebutkan bahwa jalur yang sering dilewati arus listrik adalah melalui tangan ke tangan, tangan ke kaki, dan kepala ke kaki. Tedeschi et.al. menggambarkan beberapa variasi aliran arus listrik yg masuk kedalam tubuh korban. 6. Lamanya terkena arus listrik Semakin lama terkena listrik maka semakin banyak jumlah jaringan yang mengalami kerusakan. Seseorang yang terkena arus listrik bisa mengalami luka bakar yang berat. Pada tegangan yang rendah, arus listrik dapat menimbulkan spasme otot-otot dan menyebabkan korban menggenggam konduktor, sehingga arus listrik akan mengalir dalam beberapa saat. Pada keadaan ini dapat menjadikan korban berada dalam keadaan syok yang mematikan. Sedangkan tegangan tinggi, seseorang mungkin dapat segera terlempar/melepaskan konduktor atau sumber listrik yang tersentuh, oleh karena arus listrik dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot, termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut.

C. Gejala Gejalanya tergantung kepada interaksi yang rumit dari semua sifat arus listrik. Suatu kejutan dari sebuah arus listrik bisa mengejutkan korbannya sehingga dia terjatuh atau menyebabkan terjadinya kontraksi otot yang kuat. Kedua hal tersebut bisa mengakibatkan dislokasi, patah tulang dan cedera tumpul. Luka bakar listrik bisa terlihat dengan jelas di kulit dan bisa meluas ke jaringan yang lebih dalam 2. Arus listrik bertegangan tinggi bisa merusak jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya, sehingga terjadi luka bakar pada daerah otot yang luas. Akibatnya, sejumlah besar cairan dan garam (elektrolit) akan hilang dan kadang
16

menyebabkan tekanan darah yang sangat rendah. Serat-serat otot yang rusak akan melepaskan mioglobin, yang bisa melukai ginjal dan menyebabkan terjadinya gagal ginjal. Kematian oleh sengatan listrik disebabkan karena aritmia jantung terutama fibrilasi ventrikel. Ini dikarenakan arus yang melewati miokardium terutama pada lapisan epikardial dan melewati endokardium. Arus listrik mempunyai efek terhadap sinsitium otot jantung dan menyebabkan gangguan pacemaker dan konduksi jantung. Selain itu, kematian akibat sengatan listrik juga disebabkan oleh berhentinya fungsi sistem pernapasan. Hal ini disebabkan oleh aliran listrik yang melewati rongga dada menyebabkan spasme atau paralisis otototot interkostalis dan otot diafragma. 2,9-11. D. Diagnosa 1. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

2. Untuk memantau denyut jantung korban dilakukan pemeriksaan EKG (elektrokardiogram). Jika diperkirakan jantung telah menerima kejutan listrik, pemantauan EKG dilakukan selama 12-24 jam. 3. Jika korban tidak sadar atau telah mengalami cedera kepala, dilakukanCT scan untuk memeriksa adanya kerusakan pada otak.

E. Pengobatan Terlebih dahulu, sebelum penderita ditangani, arus listrik harus diputus. Kemudian, kalau perlu, dilakukan resusitasi jantung dengan masase jantung dan napas buatan mulut ke mulut. Cairan parenteral harus diberikan. Kadang luka bakar di kulit luar tampak ringan, tetapi kerusakan jaringan yang lebih dalam luas dan berat. Kalau banyak terjadi kerusakan otot, urin akan berwarna gelap oleh mioglobin; penderita ini perlu diberi manitol dengan dosis awal 25 gr, disusul dosis rumat 12,5 gr/jam. Bila ada udem otak, dapat diberikan diuretik dan kortikosteroid 2.

17

Pada luka bakar yang dalam dan berat, perlu pembersihan jaringan mati secara bertahap karena tidak semua jaringan mati jelas tampak pada hari pertama. Bila luka pada ekstremitas, mungkin perlu fasiotomi pada hari pertama untuk mencegah sindrom kompartemen. Selanjutnya dilakukan cangkok kulit untuk rekonstruksi 2. Penanganan cedera sengatan listrik 2: 1. Putuskan arus listrik 2. Resusitasi pernapasan dan peredaran darah 3. Diagnosis cedera lain (neurologik, patah tulang vertebra) 4. Pemberian cairan intravena 5. Diagnosis luasnya nekrosis 6. Eksisi nekrosis bertahap 7. Dekompresi melalui fasiotomi untuk mencegah sindrom kompartemen 8. Penanggulangan mioglobinuria

F. Komplikasi Terdapat beberapa sekuele yang dapat muncul akibat luka bakar listrik diantaranya defisit neurologi yang meliputi saraf perifer dan sentral. Defisit neurologi ini dapat berkembang beberapa minggu sampai bulan. Selain itu juga dapat terjadi katarak. Sejumlah komplikasi juga dapat meningkat pada ekstremitas, diantaranya osifikasi heterotopik, neuroma dan nyeri.

2.4 Tersambar Petir

A. Definisi Petir yang diketahui secara umum adalah pelepasam energi potensial atmosfir di antara awan dan awan. Sedangkan sambaran petir (lightening stroke) adalah pelepasan energi potensial antara awan dan benda di bumi 12.
18

B. Patogenesis Petir terjadi di saat guntur pada waktu terdapat awan yang bermuatan listrik tegangan tinggi. Petir bertegangan 20-100 juta volt dan arus dapat mencapai 20.000 ampere dengan suhu inti sampai 30.000 kelvin, yaitu jauh lebih tinggi daripada permukaan matahari. Petir jarang menyebabkan luka bakar di titik masuk dan titik keluarnya, serta jarang menyebabkan kerusakan otot ataupun pelepasan mioglobin ke dalam air kemih. Pada awalnya bisa terjadi penurunan kesadaran yang kadang diikuti dengan koma atau kebingungan yang sifatnya sementara, yang biasanya akan menghilang dalam beberapa jam atau beberapa hari. Penyebab utama dari kematian akibat petir adalah kelumpuhan jantung dan paru-paru (henti jantung dan paru-paru) 2. Kecelakaan tersambar petir dapat terjadi dengan empat cara. Cara pertama terjadi bila seseorang secara terbuka berada di lapangan luas sehingga orang itulah yang dicapai oleh muatan listrik dari awan sebelum mencapai bumi; kecelakaan ini disebut tersambar langsung. Cara kedua terjadi bila seseorang berada di dalam daerah paling jauh dua meter sekitar batang pohon yang tersambar petir karena terjadi loncatan arus listrik dari batang pohon, ini disebut tersambar samping. Cara ketiga terjadi bila korban bersandar pada pohon yang tersambar petir yang disebut tersambar kontak. Pada cara keempat, kecelakaan tersambar petir terjadi bila melangkah, berdiri, atau jongkok dekat tanah yang tersambar petir; kejadian ini disebut tersambar langkah2. Biasanya pada kejadian tersambar langsung atau tersambar samping, arus listrik masuk di kepala melalui lobang kepala, yaitu telinga, mata atau mulut. Dan mencapai bumi melalui leher, tubuh dan kaki. Pada jalan arus listrik terdapat pada sebagian otak, pusat pernapasan, dan jantung sehingga korban dapat pingsan, henti napas, maupun henti jantung2. Pada kejadian ketiga, aliran listrik masuk tubuh pada tempat kontak; tempat ini yang menentukan gambaran klinis. Pada kejadian terakhir, yaitu tersambar
19

langkah, arus listrik masuk pada kaki yang paling dekat tempat petir di tanah dan keluar tubuh lagi pada kaki yang lain. Hal ini dapat terjadi bila jarak antara korban dan letak tegangan tinggi di tanah tidak melebihi 30 meter. Pada keadaan ini tidak terjadi pingsan, henti napas, atau henti jantung 2.

C. Resusitasi Biasanya orang akan sadar kembali dalam waktu tertentu, sedangkan kelumpuhan pusat napas juga akan berlalu setelah lima sampai sepuluh menit. Biasanya asistolik juga akan pulih bila napas buatan mulut ke mulut dilakukan secara memadai. Hal ini dapat menyelamatkan sampai 70% korban. Defibrilasi jantung tidak perlu karena henti jantung pada korban ini merupakan asistol tanpa fibrilasi 2.

D. Penyulit Penyulit dini pada kecelakaan tersambar petir langsung dan tersambar petir samping merupakan perforasi membran timpani dan konjungtivitis, dan katarak lensa sebagai penyulit lama. Biasanya luka bakar meliputi 1-2% luas permukaan kulit dan dalamnya tingkat dua sampai tiga. Kadang terdapat luka bakar superfisial berupa gambar kembang atau daun (gambar Lichtenberg) 2. Arus listrik di ekstremitas, terutama di tungkai dapat menyebabkan vasokonstriksi hebat sampai terjadi iskemia yang bertanda tungkai dan kaki pucat dan sianosis, sedangkan nadi hilang. Umumnya keadaan ini akan pulih sendiri dan jarang memerlukan fasiotomi 2. Selain vasokonstriksi di ekstremitas, dapat ditemukan paralisis.

Keraunoparalisis ini berupa gangguan motorik maupun sensorik dan mungkin berlangsung lama dan tidak pulih sempurna. Sering terjadi amnesia retrograde, dan kadang didapat penyulit berupa perubahan tingkah laku, dan keluhan lelah kronik 2.
20

E. Pencegahan Sewaktu datang Guntur, dapat dicari perlindungan di rumah, gedung atau mobil. Di lapangan luas sebaiknya berjongkok supaya cedera menjadi sekecil mungkin; kedua kaki harus saling berdekatan untuk mencegah terjadinya tersambar petir2.

21

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan Luka bakar akibat listrik terkadang tampak ringan, tetapi mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada jantung, otot atau otak. Disamping menentukan diagnosis luka bakar akibat listrik perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan diagnosis cedera lain yang mungkin terjadi. Untuk mencegah kerusakan yang lebih dalam diperlukan penanganan yang cepat dan adekuat.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Fish RM. (2004) Electrical injuries. In: Tintinalli JE, Kelen GD, Stapczynski JS, Ma OJ, Cline DM, eds. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide. 6th ed. New York, NY: McGraw-Hill: chap 201. 2. Sjamsuhidajat, R & De Jong, Wim. eds. (2007) Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. Hal 73-83. 3. Docov W. Characteristics of lethal electrical injuries incentral and northeastern Bulgaria for a 27-Year Period (1980-2006). Eplasty (serial on the internet). 2008 (cited 2014 Apr 5); 8(2): 101-105. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16078070 4. Goldman RD., Einarson A., Koren G. Electrical shock during pregnancy. Canfan physician (serial on internet). 2003 (cited 2014 Apr5); 49(2): 297-298. Available from: http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=2214198 5. Noer, Sjaifudin. (2006) Penanganan Luka Bakar. Surabaya: Airlangga University Press. 6. Mahan L.K., Stump Escott S. (2004) Krauses Food, Nutrition & Diet Therapy. 11 th edition. 7. Matarese L. E., Gottschich M. M. (2003) Contemporary Nutrition Support Practice: A Clinical Guide 2nd edition. 8. Cushing, Tracy A. (2010) Electrical Injuries. Diakses dari

http://emedicine.medscape.com/article/770179-overview 9. Maertinez, J. A., Nguyen T. (2000) Electical Injuries. Southern Medical Journal; 93: 1165. Available from: URL:

http:/www.medscape.com/viewarticle/410681 10. Christian S., Trohman R. G. (2006) Electrocution and Life-Threatening


23

Electrical Injuries. Ann Intern Med; 145: 531-537. Available from: URL: htpp://www.annals.org/cgi/reprint/145/7/531.pdf 11. Jensen P. J et al. (1987) Electrical Injury Causing Ventricular Arrhythmias. Br Heart J; 57: 279-83. Available from:

URL:http://heart.bmj.com/cgi/reprint/57/3/279 12. Hoediyanto. (2008) Trauma Listrik. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Universitas Airlangga 13. Duff K., McCaffrey RJ. (2001) Electrical Injury and lightning injury: a review of their mechanisms and neuropsychological, psychiatric, and neurological sequel. Neuropsychology Review; 11: 101-16 14. Jacob L. Heller, MD. (2010) Anatomy of Skin. Available from http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/8600.htm 15. Jacob L. Heller, MD. (2010) First Degree Burn. Available from http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/8601.htm

16. Jacob L. Heller, MD. (2010) Second Degree Burn. Available from http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/8602.htm

17. Jacob L. Heller, MD. (2010) Third Degree Burn. Available from http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/8603.htm

1.

24