Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) KEHAMILAN EKTOPIK DAN TRANSFUSI DARAH

Di Ruang 9 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

PKRS RSU Dr.SAIFUL ANWAR MALANG 2014

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Judul Sasaran Tempat Hari/Tanggal Alokasi Waktu Media/Sarana Metode

: Kehamilan ektopik Terganggu : Pasien dan Keluarga : Ruang 9 RSSA Malang : Kamis,10 April 2014 : 30 menit : LCD dan Leaflet : Ceramah dan Tanya Jawab

A. Tujuan instruksional 1. Tujuan Umum Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit peserta mampu mengetahui dan memahami tentang kehamilan ektopik terganggu. 2. Tujuan Khusus Setelah diberikan penyuluhan, peserta dapat: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mengetahui pengertian Kehamilan Ektopik Terganggu Mengetahui penyebab Kehamilan Ektopik Terganggu Mengetahui patologis Kehamilan Ektopik Terganggu Mengetahui diagnosis Kehamilan Ektopik Terganggu Mengetahui tanda dan gejala Kehamilan Ektopik Terganggu Mengetahui penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu Mengetahui komplikasi Kehamilan Ektopik Terganggu

B. Sub Pokok Bahasan 1. Pengertian Kehamilan Ektopik Terganggu 2. Penyebab Kehamilan Ektopik Terganggu 3. Patologis Kehamilan Ektopik Terganggu 4. Diagnosis Kehamilan Ektopik Terganggu 5. Tanda dan gejala Kehamilan Ektopik Terganggu 6. Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu 7. Komplikasi Kehamilan Ektopik Terganggu

C. Kegiatan Penyuluhan Tahap Waktu Kegiatan Perawat 1. Memberi salam 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan penyuluhan materi dan yang Kegiatan Klien 1. Menjawab salam tujuan 2. Mendengarkan pokok akan dan memperhatikan 3. Menjawab pengetahuan pasien tentang pertanyaan Metode Ceramah dan Tanya Jawab Media -

Pendahuluan 5 menit

disampaikan 4. Menggali keluarga

perawatan masa nifas Penyajian 15 menit Menjelaskan materi: 1. Pengertian Kehamilan 1. Mendengarkan dan memperhatikan Ceramah dan Tanya Jawab LCD

Ektopik Terganggu 2. Penyebab Kehamilan

Ektopik Terganggu 3. Patologis Kehamilan

Ektopik Terganggu 4. Diagnosis Kehamilan

Ektopik Terganggu 5. Tanda Kehamilan Terganggu 6. Penanganan Kehamilan dan gejala Ektopik

Ektopik Terganggu 7. Komplikasi Kehamilan

Ektopik Terganggu Penutup 10 menit 1. Penegasan materi 2. Memberikan kepada bertanya 3. Meminta peserta untuk kembali kesempatan 1. Mengajukan pertanyaan Tanya Jawab

peserta

untuk 2. Menjawab pertanyaan yang diberikan

menjelaskan materi yang

oleh penyuluh

telah 3. Membalas dengan salam

disampaikan singkat

menggunakan

bahasa peserta sendiri 4. Memberikan kepada materi pertanyaan tentang telah

peserta yang

disampaikan 5. Menutup acara dan

mengucapkan salam

D. Evaluasi 1. Proses, diharapkan: Berjalan dengan baik dan tepat waktu sesuai dengan perencanaan Peserta memperhatikan selama kegiatan penyuluhan dilakukan 2. Hasil, diharapkan: Kriteria penilaian yang digunakan adalah, jumlah peserta yang aktif berpendapat atau yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat, dibagi dengan jumlah seluruh peserta yang hadir dalam penyuluhan, kemudian hasilnya dikalikan 100%. Sehingga kriteria hasil yang diharapkan: Pre : 80% dari keseluruhan jumlah peserta yang hadir mampu memberikan

pendapat mengenai Kehamilan Ektopik Terganggu, transfusi, faktor resiko sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta Post : 90% dari keseluruhan jumlah peserta yang hadir mampu memberikan jawaban yang tepat saat diberikan pertanyaan oleh perawat E. Media LCD dan leaflet F. Materi (terlampir)

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU A. Pengertian Menurut Buku Obstetri Patologi Universitas Pajadjaran Bandung Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri, kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut. Tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dengan servik. B. Penyebab Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan dan Ilmu Kandungan Penyebab kehamilan ektopik banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak di ketahui, tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba dan di dalam perjalanan ke uterus terus mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba. Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan Di antara sebab-sebab yang menghambat perjalanan ovum ke uterus sehingga mengadakan implantasi di tuba: a. Migratio Externa adalah perjalanan telur panjang. Terbentuk trofoblast sebelum telur ada di cavum uteri. b. Pada hipoplasia lumen, tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering di sertai gangguan fungsi silia endosalping. c. Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit d. Bekas radang pada tuba: disini radang menyebabkan perubahan pada endosalping sehingga walaupun fertilisasi masih dapat terjadi gerakan ovum ke uterus lambat. e. Infeksi alat genitalia intern khususnya tuba fallopi (infeksi STD, infeksi asenden akibat IUD, chlamydia trachomatis menyebabkan penyempitan tuba f. Desakan luar tuba (kista ovarium, mioma, endometriosis yang menimbulkan perlekatan dengan sekitarnya sehingga terjadi penyempitan lumen) g. Kelainan bawaan pada tuba, antara lain difertikulum, tuba sangat panjang dsb. h. Gangguan fisilogis tuba karna pengaruh hormonal, perlekatan perituba. Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tubuh. i. Abortus buatan.

Kehamilan Ektopik Terganggu dapat terjadi di beberapa tempat, antara lain : a. Tuba fallopi (ampulla tuba, isthmus tuba, interstisial tuba) b. Kehamilan ektopik servikal c. Kehamilan ovarial d. Kehamilan abdominal e. Kehamilan interstisial C. Patologi Menurut Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau inter kolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya di batasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian di reasorbsi. Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan, karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu. Kemungkinan yang dapat terjadi antara lain : 1. Hasil konsepsi mati dini dan direasorbsi Ovum mati dan kemudian direasorbsi, dalam hal ini sering kali adanya kehamilan tidak di ketahui, dan perdarahan dari uterus yang timbul sesudah meninggalnya ovum, di anggap sebagai haid yang datangnya agak terlambat. 2. Abortus ke dalam lumen tuba Trofoblast dan villus korialisnya menembus lapisan pseudokapsularis, dan menyebabkan timbulnya perdarahan dalam lumen tuba. Darah itu

menyebabkan pembesaran tuba (hematosalping) dan dapat pula mengalir terus ke rongga peritoneum, berkumpul di kavum Douglas dan menyebabkan hematokele retrouterina. 3. Ruptur dinding tuba Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada isthmus dan biasanya pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur ialah penembusan villi koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum.

Berdasarkan tempat Implantasinya dapat terjadi beberapa kemungkinan sbb :


6

TEMPAT IMPLANTASI

PATOFISIOLOGI

HASIL KONSEPSI

Interstisial tuba

Letak intramural Vaskularisasi mendukung dapat tumbuh

Bisa ruptur,perdarahan

terjadi banyak,

syokk irreversibel, kematian tertinggi

kembang janin (aterm) Ada kemungkinan ekspulsi ke cavum uteri sehingga aterm di uterus Isthmus tuba Lumennya terjadi Daya kecil,bisa kecil mudah destruksi

Kehamilan ektopik rekuren Paling sebabkan intraabdominal sering ruptur perdarahan

endosalping sejak UK 6 hari tampung lumen ruptur,

perdarahan intraabdominal Ampulla tuba 1. Spermatozoa dan ovum lama tinggal di Perdarahan

paling

ampula tuba karena lumen paling besar 2. Kesempatan konsepsi besar terjadi di

paling

ampula tuba yang terletak 1/3 bag distal tuba fallopi 3. tuba,perdarahan intraabdominal, hematokel) latum Ruptur ligamentum Implantasi hasil

konsepsi bisa mengalami : Gangguan implantasi

(absorbsi) Abortus

D. Diagnosis Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal Pemeriksaan untuk membantu diagnosis: 1. Tes kehamilan : Apa bila tes nya positip, itu dapat membantu diagnosis. 2. Pemeriksaan umum : Penderita tampak kesakitan dan pucat. Pada perdarahan dalam rongga perut tanda syok dapat di temukan. Pada jenis perdarahan tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan. 3. Anamnesis : Haid biasanya terlambat untuk beberapa waktu dan kadang terdapat gejala subyektif kehamilan muda nyeri perut bagian bawah. 4. Pemeriksaan ginekologi : Tanda kehamilan muda mungkin ditemukan, pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. 5. Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakan diagnosis kehamilan ektopik terganggu terutama ada tanda perdarahan dalam rongga perut. 6. Pemeriksaan kuldosentesis : Kuldosentesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah, cara ini amat berguna dalam membantu diagnosis kehamilan ektopik terganggu. 7. Pemeriksaan ultra sonografi : Pemeriksaan ini berguna dalam diagnosis kehamilan ektopik. Diagnosis pastinya ialah apa bila ditemukan kantong gestasi diluar uterus yang didalam nya tampak denyut jantung janin. 8. Pemeriksaan laparoskopi : Digunakan sebagai alat Bantu diagnostic terakhir untuk kehamilan ektopik. E. Gejala a. Nyeri perut: nyeri perut ini paling sering dijumpai biasanya nyeri datang setelah mengangkat benda yang berat. Buang air besar namun kadang-kadang bisa juga pada waktu sedang istirahat. b. Adanya amenorea: amenorea biasanya muncul beberapa waktu sebelum terjadi perdarahan. c. Perdarahan: perdarahan dapat berlangsung kontinu dan biasanya berwarna hitam. d. Shock karena hypovolemia. e. Nyeri Bahu dan Leher (iritasi diafragma) f. Nyeri pada palpasi : perut penderita biasanya tegang dan agak kembung.

g. Pembesaran uterus: pada kehamilan ektopik uterus membesar.

h. Gangguan kencing: kadang-kadang terdapat gejala besar kencing karena perangsangan peritonium oleh darah di dalam rongga perut. i. Perubahan darah: dapat di duga bahwa kadar haemoglobin turun pada kehamilan tuba yang terganggu karena perdarahan yang banyak dalam rongga perut.

H. Penatalaksanaan Atau Penanganan Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal 1. Diagnosis ditegakan, segera lakukan persiapan untuk tindakan operatif gawat darurat. 2. Ketersediaan darah pengganti bukan menjadi syarat untuk melakukan tindakan operatif karena sumber perdarahan harus dihentikan. 3. Upaya stabilisasi dilakukan dengan segera merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid NS atau RL (500 ml dalam lima menit pertama) atau 2l dalam dua jam pertama (termasuk selama tindakan berlangsung) 4. Bila darah pengganti belum tersedia, berikan autotransfusion berikut ini : Pastikan darah yang dihisap dari rongga obdomen telah melalui alat pengisap dan wadah penampung yang steril Saring darah yang tertampung dengan kain steril dan masukan kedalam kantung darah (blood bag) apabila kantung darah tidak tersedia masukan dalam botol bekas cairan infus (yang baru terpakai dan bersih) dengan diberikan larutan sodium sitrat 10ml untuk setiap 90ml darah. Transfusikan darah melalui selang transfusi yang mempunyai saringan pada bagian tabung tetesan. 5. Tindakan dapat berupa : Parsial salpingektomi yaitu melakukan eksisi bagian tuba yang mengandung hasil konsepsi. Salpingostomi (hanya dilakukan sebagai upaya konservasi dimana tuba tersebut merupakan salah satu yang masih ada) yaitu mengeluarkan hasil konsepsi pada satu segmen tuba kemudian diikuti dengan reparasi bagian tersebut. Resiko tindakan ini adalah kontrol perdarahan yang kurang sempurna atau rekurensi (hasil ektopik ulangan). 6. Mengingat kehamilan ektopik berkaitan dengan gangguan fungsi transportasi tuba yang di sebabkan oleh proses infeksi maka sebaiknya pasien di beri anti biotik kombinasi atau tunggal dengan spektrum yang luas.

F. Komplikasi Potensial Komplikasi-komplikasi kehamilan tuba yang biasa adalah ruptur tuba atau abortus tuba, aksierosif dari trofroblas dapat menyebabkan kekacauan dinding tuba secara mendadak: ruptur mungkin paling sering timbul bila kehamilan berimplatasi pada pars ismikus tuba yang sempit, abortus tuba dapat menimbulkan hematokel pelvis, reaksi peradangan lokal dan infeksi skunder dapat berkembang dalam jaringan yang berdekatan dengan bekuan darah yang berkumpul.

10

DAFTAR PUSTAKA

Wibowo B, Rachimhadhi T.2002. Kehamilan Ektopik. Dalam : Ilmu Kebidanan. Edisi III. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo Manuaba, IBG., 1999. Operasi Kebidanan, Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Dokter Umum. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta Marpaung, C., 2007. Karakteristik Ibu Penderita Kehamilan Ektopik Terganggu di RS St. Elisabeth Medan tahun 1999-2006. Satrawinata, S., 1984. Obstetri Patologi. Bagian Obstetri & Ginekologi FKUniversitas Padjajaran, Bandung.

11