Anda di halaman 1dari 12

Gangguan Mental pada Lansia 1.

Skizofrenia Gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang dapat dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena menyangkut perubahan pada segi fisik, psikologis dan sosial-budaya (Depkes, 1992 dalam Zainuddin Sri Kuntjoro, 2002). Gangguan skizofrenia pada lanjut usia (lansia) ditandai oleh gangguan pada alam pikiran sehingga penderita memiliki pikiran yang kacau. Hal tersebut juga menyebabkan gangguan emosi sehingga emosi menjadi labil misalnya cemas, bingung, mudah marah, mudah salah faham dan sebagainya. Terjadi juga gangguan perilaku, yang disertai halusinasi, waham dan gangguan kemampuan dalam menilai realita, sehingga penderita menjadi tak tahu waktu, tempat maupun orang.

Ganguan skizofrenia berawal dengan keluhan halusinasi seperti mendengar pikirannya sendiri diucapkan dengan nada keras, atau mendengar dua orang atau lebih

memperbincangkan diri si penderita sehingga ia merasa menjadi orang ketiga. Dalam kasus ini sangat perlu dilakukan pemeriksaan tinggkat kesadaran pasien (penderita), melalui pemeriksaan psikiatrik maupun pemeriksaan lain yang diperlukan. Karena banyaknya gangguan paranoid pada lanjut usia (lansia) maka banyak ahli beranggapan bahwa kondisi tersebut termasuk dalam kondisi psikosis fungsional dan sering juga digolongkan menjadi senile psikosis.

Gangguan skizofrenia sebenarnya dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu : Skizofrenia paranoid (curiga, bermusuhan, garang dsb) Skizofrenia katatonik (seperti patung, tidak mau makan, tidak mau minum, dsb) Skizofrenia hebefrenik (seperti anak kecil, merengek-rengek, minta-minta, dsb) Skizofrenia simplek (seperti gelandangan, jalan terus, kluyuran) Skizofrenia Latent (autustik, seperti gembel)

Pada umumya, gangguan skizofrenia yang terjadi pada lansia adalah skizofrenia paranoid, simplek dan latent. Sulitnya dalam pelayanan keluarga, para lansia dengan gangguan kejiwaan tersebut menjadi kurang terurus karena perangainya dan tingkahlakunya yang tidak

menyenangkan orang lain, seperti curiga berlebihan, galak, bersikap bermusuhan, dan kadang-kadang baik pria maupun wanita perilaku seksualnya sangat menonjol walaupun dalam bentuk perkataan yang konotasinya jorok dan porno (walaupun tidak selalu).

2.

Parafrenia Parafrenia merupkan gangguan jiwa yang gawat yang pertama kali timbul pada lanjut usia (lansia), (misalnya pada waktu menopause pada wanita). Gangguan ini sering dianggap sebagai kondisi diantara Skizofrenia paranoid di satu pihak dan gangguan depresif di pihak lain. Lebih sering terjadi pada wanita dengan kepribadian pramorbidnya (keadaan sebelum sakit) dengan ciri-ciri paranoid (curiga, bermusuhan) dan skizoid (aneh, bizar). Mereka biasanya tidak menikah atau hidup perkawinan dan sexual yang kurang bahagia, jika punya sedikit itupun sulit mengasuhnya sehingga anaknyapun tak bahagia dan biasanya secara khronik terdapat gangguan pendengaran. Umumnya banyak terjadi pada wanita dari kelas sosial rendah atau lebih rendah.

3.

Gangguan Jiwa Afektif Zainuddin Sri Kuntjoro (2002) menyatakan bahwa Gangguan jiwa afektif adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gangguan emosi (afektif) sehingga segala perilaku diwarnai oleh ketergangguan keadan emosi. Gangguan afektif ini antara lain:

Gangguan Afektif tipe Depresif Gangguan ini terjadi relatif cepat dalam beberapa bulan. Faktor penyebabnya dapat disebabkan oleh kehilangan atau kematian pasangan hidup atau seseorang yang sangat dekat atau oleh sebab penyakit fisik yang berat atau lama mengalami penderitaan.

Gejala gangguan afektif tipe depresif adalah sedih, sukar tidur, sulit berkonsentrasi, merasa dirinya tak berharga, bosan hidup dan kadang-kadang ingin bunuh diri. Beberapa pandangan menganggap bahwa terdapat 2 jenis depresi yaitu Depresi tipe Neurotik dan Psikotik. Pada tipe neurotik kesadaran pasien tetap baik, namun memiliki dorongan yang kuat untuk sedih dan tersisih. Pada depresi psikotik, kesadarannya terganggu sehingga kemampuan uji realitas (reality testing ability) ikut terganggu dan berakibat bahwa kadang-kadang pasien tidak dapat

mengenali orang, tempat, maupun waktu atau menjadi seseorang yang tak tahu malu, tak ada rasa takut, dsb.

Gangguan Afektif tipe Manik Gangguan ini sering timbul secara bergantian pada pasien yang mengalami gangguan afektif tipe depresi sehingga terjadi suatu siklus yang disebut gangguan afektif tipe Manik Depresif. Dalam keadaan Manik, pasien menunjukkan keadaan gembira yang tinggi, cenderung berlebihan sehingga mendorong pasien berbuat sesuatu yang melampaui batas

kemampuannya, pembicaraan menjadi tidak sopan dan membuat orang lain menjadi tidak enak. Kondisi ini lebih jarang terjadi dari pada tipe depresi. Kondisi semacam ini kadangkadang silih berganti, suatu ketika pasien menjadi eforia, aktif, riang gembira, pidato berapiapi, marah-marah, namun tak lama kemudia menjadi sedih, murung, menangis tersedu-sedu yang sulit dimengerti.

4.

Neurosis Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lanjut usia (lansia). Sering sukar untuk mengenali gangguan ini pada lanjut usia (lansia) karena disangka sebagai gejala ketuaan. Hampir separuhnya merupakan gangguan yang ada sejak masa mudanya, sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan yang didapatkannya pada masa memasuki lanjut usia (lansia). Gangguan neurosis pada lanjut usia (lansia) berhubungan erat dengan masalah psikososial dalam memasuki tahap lanjut usia (lansia). Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai gejala utama dengan daya tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya yang baik. Kepribadiannya tetap utuh, secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik, namun secara kuantitas perilakunya menjadi irrasional. Sebagai contoh : mandi adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang normal sehari 2 kali, namun bagi orang neurosis obsesive untuk mandi, ia akan mandi berkali-kali dalam satu hari dengan alasan tidak puas-puas untuk mandi

5.

Gangguan Somatoform Pasien dengan keadaan ini sering mengeluh bahwa dirinya sakit, serta tidak dapat diobati. Keluhannya sering menyangkut alat tubuh seperti alat pencernaan, jantung dan pembuluh

darah, alat kemih/kelamin, dan lainnya. Pada lansia yang menderita hipokondriasis penyakit yang menjadi keluhannya sering berganti-ganti, bila satu keluhannya diobati yang mungkin segera hilang, ia mengeluh sakit yang lain. Kondisi ini jika dituruti terus maka ia akan terusmenerus minta diperiksa dokter; belum habis obat untuk penyakit yang satu sudah minta diperiksa dokter untuk penyakit yang lain.

DEPRESI DAN PENUAAN Meskipun resiko depresi mayor juga menurun seiring usia, depresi merupakan masalah umum yang dihdapi oleh orang usia lanjut. Pada sejumlah kasus, depresi merupakan kelanjutan dari pola yang berlangsung seumur hidup. Pada kasus lain depresi pertama kali muncul pada usi lanjut,. Antara 8% dan 20% orang usialanjut mengalami beberapa simtom depresi, dengan sekitar 3% dari mereka mengalami gangguan depresi mayor. Tingkat depresi tetap lebih tinggi. Meskipun lebih sedikit orang usia lanjut yang menderita depress mayor dibandngkan orang dewasa muda, bunuh diri lebih sering terjadi pada orang lanjut usia, terutama laki-laki tua. Depresi pada masa tua juga dihubungkan dengan tingkat penurunan fisik yang lebih cepat dan tingkat moralitas yang lebih tinggi. Depresi mungkin dikaitkan dengan tingkat moralitas yang tinggi karena kondisi medis yang menyertai atau mungkin Karena hilangnya kepatuhan untuk engkonsumsi obat-obatan yang dibutuhkan. Gangguan depresi pada umumnya menyerang pada orang-oranag yang memiliki gangguan otak. Beberapa diantaranya seperti gangguan Alzheimer dan strok secara tidak seimbang mempengaruhi orang lanjut usia.Parapeneliti memperkirakan bahwa gangguan depresi menyerang setengah dari orang-orang yang menderita penyakit stroke dan sepertiga hingga setengah dari orang-orang yang menderita penyakit Alzheimer atau penyakit Parkinson. Pada kasus Parkinson depresi bukan sekedar reaksi dalam menghadapi penyakit, tetapi juga merupakan akibat perubahan neurbiologis di otak yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Ketersdiaan dukungan sosial tampaknya menjadi tameng dai dampak stress, duka cita, dan penyakit sehingga mengurangi resiko depresi. Dukungan sosial adalah penting terutama bagi orang tua yang mmiliki gangguan fisik. Namun, mengahdapi pasangan yang depresi dapat memkana korban, karena dapat menyebabkan resiko depresi pada orang yang merawatnya. Di lain pihak, partisipasidalam organisasi sukarela dan intuisi keagamaan dihubungkan dengan resiko depresi yang lebih rendah pada orang tua. Bentuk-bentuk partisipasi sosial ini mungkin memberikan bukan hanya perasaan bermakna dan tujuan tetapi juga penyaluran sosial yang dibutukan. Orang lanjut usia mungkin sangat rentan terhadap depresi yang disebabkan oleh stress dalam menghadapi perubahan-perubahan kehidupan yang berhubungan dengan apa yang dahulu disebut sebagai tahun emas-pensiun, penyakit atau ketidakmampuan fisik, penempatan dalam rumah-rumah jompo, kematian pasangan, saudara kandung, teman lama dan kenalan-kenalan

atau kebutuhan untuk merawat pasangan yang kessehatnya menurun. Pensiun, baik sukarela maupun terpaksa, mungkin melemahkan perasaan bermakna dalam hidup dan menyebabkan hilangnya identitas peran. Kehilangan keluarga dan teman-teman meninggalkan duka cita dan mengingatkan orang yang berusia lanjut akan usia mereka yang semakin bertambah serta semakin berkurangnya keersediaan dukungan sosial. Orang lanjut usia mungkin merasa tidka mampu untuk membentuk pertemanan yang baru atau menemukan tujuan baru dalam hidup. Bukti menunjukan bahwa ketegangan kronis dalam menghadapi anggota keluarga yang mengalami demensia dapat menyebabkan depresi pada orang yang merawat, bila sebelumnya tidak ada kerentanan pada depresi. Hampir setengah dari orang yang merawat pasien Alzheimer mengalami depresi. Terlepas dari pravealensi depresi pada orang tua, dokter seringkali gagal mengenali atau memberikan obat yang sesuai. Pada sebuah penelitian terhadap lebih dari 500 orang usia lanjut usia tua di Ontario yang melakukan bunuh diri, hampir dari 9 dari 10 orang ditemukan meninggal tanpa penanganan. Penyediaan layana kesehatan mungkin cenderung kurang dapat mengenali depresi pada orang yang lebih tua dibandingkan orang pada usia peretengahan tau orang muda karena cenderung lebih berfokus pada keluhan-keluhan fisik orang yang lebih tua atau karena depresi pada orang yang lebih tua seringkali tertutup oleh keluhan-keluhan fisik atau gangguan tidur. Kebanyakan orang lanjut usia yang mengalami penuruna ingatan tidan menderita penyakit Alzheimer. Mereka cnderung mengalami kehilangan memori akibat depresi atau faktor-faktor lain sebagai penggunaan alcohol yang kronis atau dampak dari stroke kecil. Berita baiknya adalah periode hendaya ingatan yang menyertai depresi pada orang lanjut usia seringkali hilang apabila depresi yang mendasarinya disembuhkan. Bukti menunjuka bahwa perawatan untuk orang yang depresi yang efektif untuk orang yang lebih muda sepert pengobatan antidepresan, terapi kognitif behavioral, dan piskoterapi interpersonal, demikian pula ECT juga efektif dalam menangani depresi geriartik. Bahkan, orang lanjut usia juga memperoleh keuntungan, meskkipun mungkin lebih perlahan, dari intervensi farmakologis dan psikologis. Seperti halnya orang pada usia pertengahan atau orang dewasa muda. Penemuan-penemuan ini seharusnya membantu menghilangkan keyakinan bahwa psikoterapi tidak sesuai untukorang lanjut usia Dimensia tipe Alzheimer ( AD ) Dimensia merupakan penyakit otak degenaratif yang menyebabkan bentuk dimensia yang progresif dan tidak dapat diperbaiki, ditandai dengan hilangnya ingatan dan fungsi kognitif lainya. Meskipun berhubungan dengan penuaan AD ( Alzheimer Disease ) merupakan penyakit dan bukan merupakan konsekuensi dari penuaan yang normal. Perempuan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami penyakit ini dibandingkan laki-laki meskipun hal ini merupakan konsekuensi dari perempuan yang cenderung hidup lebih lama.

Demensia yang dikaitkan dengan AD meliputi suatu deteriorasi progresif dari kemampuan mental yang meliputi ingatan, bahasa dan pemecahan masalah. Kehilangan ingatan sementara atau menjadi pelupa pada usia pertengahan ( misalnya lupa dimana meletakkan kacamatanya ) merupakan konsekuensi normal dari proses penuaan dan bukan merupakan suatu tanda dari tahapan awal penyakit alzheimer. Orang-orang berusia lanjut mengeluh tidak dapat mengingat nama-nama seperti dahulu, atau lupa nama-nama sebelumnya mereka kenal dengan baik. Meskkipun lupa yang ringan mungkin mengkhawatirkan orang-orang, hal ini tidak mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan mereka. Dugaan tentang AD diajukan apabila hendaya kognitif yang dialami lebih parah dan pervasive, mempengaruhi kemampuan individu untuk emmnuhi tanggung jawabnya yang biasa dalam pekerjaan sehari-hari dan peran-peran sosial. Seiring berjalanya penyakit, orang yang mengalami AD dapat tersesat di tempat parker atau took atau bahkan di rumah mereka. Istri dari seorang pasien AD menggambarkan bagaimana AD mempengaruhi suaminya, Tanpa pengobatan, Alzheimer merampok jati diri seseorang. Agitasi, perilaku berkeliling, depresi dan perilaku agresif menjadi umum ketika penyakit semkain parah. Orang yang menderita AD mungkin mengalami kbingungan atau waham dalam pemikiran mereka dan mungkin merasakan bahwa kemampuan mental mereka menghilang tetapi tidak dapat memahami mengapa hal itu terjadi. Kebingungan dan ketakutan mungkin membawa pada waham paranoid atau keyakinan bahwa orang yang mereka cintai menghianati mereka, merampok mereka atau tidak peduli pada mereka. Mereka mungkin lupa nama-nama orang yang mereka cintai atau mungkin mereka tidak mengingatnya lagi dan bahkan mereka lupa dengan namanya sendiri. Karakteristik psikotik seperti waham dan halusinasi ditemukan pada satu atau tiga orang yang menderita AD. Tampilan simtom-simtom psikotik tampaknya berhubungan dengan hendaya kognitif yang semakin besar dan deteriosasi yang lebih cepat. Orang-orang yang mengalami Alzheimer cenderung mengalami gangguan bunuh diri dan depresi, tetapi dokter-dokter mereka melewatkan gejala-gejalanya atau bahkan mungkin mengabaikanya. DIAGNOSIS Tidak ada tes yang jelas untuk diagnosis AD. Diagnosis AD biasanya didasarkan pada proses pengecualian ( exclusion ) dan hanya diberikan ketika kemungkinan penyebab dari lain demensia dapat dihilangkan. Kondisi medis dan psikologis lain yang mungkin mirip dengan AD, sepereti depresiyang parah yang berakibat hilangnya ngatan dan hendaya fungsi kognitif. Akibatnya kesalahan diagnosis dapat terjadi terurama pada tahap-tahap awal dari penyakit. Diagnosis untuk mengkonfirmasi AD dapat dibuat hanya berdassar pemeriksaan terhadap jaringan otak melalui biopsy atau autopsy. Namum biopsy jarang dilakukan karena danya resiko hemoragi atau infeksi, dan autopsy tentunya terjadi saat sudah terlalu loambat untuk dapat membantu pasien. Pengertian alzhaimer

AlzheimerMenurut Whitbourne (2003), Alzheimer dikenal sebagai salah satu penyakit yang paling sering ditemui sebagai penyebab demensia. Demensia adalah suatu penyakit

penurunan fungsi kognitif/gangguan intelektual/daya ingat yanng umumnya semakin lama semakin memburuk (progresif) dan tidak dapat diubah (irreversible). Gejala gangguan perilaku lain yang sering dialami penderita penyakit ini adalah mereka jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur, dan sebagainya. Alzheimer banyak dialami oleh orang lanjut usia, terutama usia 65 tahun ke atas, tetapi dalam perkembangannya kelompok usia sebelum usia diatas pun cenderung rentan terkena penyaki ini, yang disebabkan oleh berbagai factor, misalnya penerapan pola hidup dan gaya hidup yang tidak sehat dan atau semakin tingginya tuntutan hidup dan tekanan hidup karena pekerjaan terutama di kota-kota besar (megapolitan). Menurut dr. Samino, Sp.S (K), spesialis syaraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, penegakan definisi Alzheimer dapat diketahui dari gejala-gejala yaitu lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berbahasa, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, sering salah menaruh barang-barang, tidak dapat membuat keputusan, serta kesulitan dalam hitung-menghitung sederhana. Ditambahkan oleh dr Suryo, selain penurunan daya ingat, penderita demensia Alzheimer stadium awal juga kerap mengalami gangguan psikologi dan perilaku. Karena ada ingatan yang kosong, penderita demensia sering mengarang cerita yang diyakininya benar, hal ini menimbulkan pertentangan dengan orang di sekitarnya yang mengetahui bahwa cerita tersebut tidak benar, akibatnya penderita jadi bersikap paranoid, jelasnya. Gejala gangguan perilaku lain yang sering dialami penderita penyakit ini adalah mereka jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur.dan sebagainya. Jadi dari penjelasan yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa Alzhaimer adalah salah satu penyakit yang paling sering ditemui sebagai penyebab demensia yang ditandai dengan penurunan daya ingat, lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berbahasa, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, sering salah menaruh barang-barang, tidak dapat membuat keputusan, serta kesulitan dalam hitung-menghitung sederhana. Selain itu gejala gangguan terkait dengan perilaku yaitu penderita jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur Gejala-gejala Alzheimer Gejala AlzheimerBerdasarkan National Alzheimers Association (2003), gejala Alzheimer dibagi menjadi 3 tahap, yaitu: Gejala ringan Lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru dipelajari Disorientasi: tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya dengan baik Bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin Mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian

Gejala menengah Kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari, seperti makan dan mandi Cemas, curiga, dan agitasi Mengalami gangguan tidur Keluyuran Kesulitan mengenali keluarga dan teman. Pertama-tama yang akan sulit untuk dikenali adalah orang-orang yang paling jarang ditemuinya, mulai dari nama, hingga tidak mengenali wajah sama sekali. Kemudian bertahap kepada orang-orang yang cukup jarang ditemui. Gejala akut Sulit / kehilangan kemampuan berbicara Kehilangan nafsu makan, menurunnya berat badan Tidak mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar Sangat tergantung pada caregiver/pengasuh. Tahap Alzheimer : taraf tingkat keparahan penyakit ini terbagi dalam tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap sederhana, dan tahap serius. Setiap tahap memiliki perilaku yang teridentifikasi.

Tahap awal Menurunya Pertuturan Menurunya daya ingatan ( tidak dapat mengingatkan benda yang biasa dalam kehidupannya ataupun ahli keluarga yang tersayang ) Menurunya kemampuan pertimbangan tidak rasional, Perubahan tingkah laku Perubahan personaliti.

Tahap sederhana Tidak dapat mengingati pekara yang baru berlaku. Mempunyai masalah dalam tugasan harian seperti mencuci pinggan-mangkuk. Mengambil masa yang lama dalam pemilihan pakaian untuk majlis-majlis atau bersesuaian dengan cuaca. Lupa untuk mandi dan merapikan diri. Selalu bertengkar mulut. Berangan-angan,kerap berlaku pada waktu malam. ( perubahan corak tidur ) mendengar suara atau bisikan halus dan mengadu ternampak bayangan menakutkan. Gelisah dan stress selalu.mereka memerlukan perhatian yang sepenuhnya.

Tahap serius Mempunyai masalah dalam makan ( gangguan makan ) . Tidak dapat bertutur. Tidak mengenali diri sendiri dan ahli keluarga. Tidak mengawal kencing dan berak. Mempunyai masalah dalam pergerakan.

Ciri-ciri Alzheimer Tahap awal dari penyakit ditandai oleh masalah-masalah keterbatasan ingatan dan perubahan kepribadian yang tidak kentara . Penderita pada awalnya mungkin mengalami masalah dalam

mengatur keuangannya,mengingat peristiwa-peristiwa yang baru terjadi atau informasi dasar seperti nomor telepon,kode area,kode pos dan nama cucu-cucu mereka serta dalam melakukan hitungan numerik. Tahap keparahan sedang ditandai dengan mulai tidak dapat memilih pakaian untuk musim atau acara tertentu,tidak mampu mengingat alamat rumah ,atau melakukan kesalahankesalahan pada saat mengemudi. Sejumlah orang yang menderita AD tidak menyadari kekurangan mereka.Awalnya mereka mungkin menghubungkan masalah mereka dengan sebab-sebab lain ,seperti stress atau kelelahan. Penderita tingkat lanjut mungkin mulai bicara dengan diri mereka sendiri atau mengalami halusinasi visual dan bahkan waham paranoid.Mereka meyakini bahwa seseorang berusaha menyakiti mereka atau mencuri apa saja yang mereka miliki,atau merasa pasangan mereka tidak setia Pada tingkat yang paling parah,fungsi kognitif menurun hingga derajat dimana orang tersebut menjadi tidak berdaya.Mereka mungkin kehilangan kemampuan untuk berbicara atau mengendalikan pergerakan tubuh.Mereka juga tidak mapu mengendalikan kadung kemih,tidak mapu untuk berkomunikasi,berjalan atau bahkan duduk,serta membutuhkan bantuan dalam aktivitas di toilet dan maka. Pada tahap akhir,penderita akan mengalami kejang,koma,dan kematian terjadi. Orang yang berisiko Pengidap hipertensi yang mencapai usia 40 tahun ke atas Pengidap kencing manis Kurang berolahraga Tingkat kolesterol yang tinggi Faktor keturunan mempunyai keluarga yang mengidap penyakit ini pada usia 50an. DELIRIUM Delerium berasal dari bahasa latin,de berarti dari dan lira berarti garis atau alur. Hal ini berarti pergeseran dari garis atau norma,,dalam persepsi,kognisi dan perilaku.Delerium mencakup keadaan kebingungan mental yang ekstreem dimana orang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan berbicara jelas serta masuk akal. Orang yang terkena delerium mungkin mengalami kesulitan untuk mengabaikan stimulus yang tidak sesuai atau mengalihkan perhatian mereka pada tugas yang baru. Orang-orang dalam kondisi delerium mungkin mengalami halusinasi yang menakutkan ,terutama halusinasi visual . Gangguan dalam persepsi juga sering terjadi .

Delirium adalah satu gangguan yang berkaitan dengan penurunan daya konsentrasi/masalah pemusatan perhatian adalah delirium. Apa itu delirium?. Delirium adalah keadaan dimana

penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih. Gangguan delirium ini biasanya bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak. Delirium bisa timbul pada segala umur, tetapi sering pada usia lanjut. Sedikitnya 10% dari pasien lanjut usia yang dirawat inap menderita delirium; 15-50% mengalami delirium sesaat pada masa perawatan rumah sakit. Delirium juga sering dijumpai pada panti asuhan. Bila delirium terjadi pada orang muda biasanya karena penggunaan obat atau penyakit yang berbahaya mengancam jiwanya. Delirium merupakan suatu keadaan mental yang abnormal dan bukan merupakan suatu penyakit. Gangguan ini dapat terlihat dengan ditemukannya sejumlah gejala yang menunjukkan penurunan fungsi mental. Mengapa delirium bisa terjadi dan apa penyebabnya ?.Berbagai keadaan atau penyakit (mulai dari dehidrasi ringan sampai keracunan obat atau infeksi yang bisa berakibat fatal), bisa menyebabkan delirium. Gangguan delirium ini sendiri paling sering terjadi pada usia lanjut dan penderita yang otaknya telah mengalami gangguan, termasuk di sini adalah orang yang sakit berat, orang yang mengkonsumsi obat yang menyebabkan perubahan pikiran atau perilaku dan orang yang mengalami demensia. Melihat dari pengertian di atas, mungkin dapat dikatakan bahwa perbedaan antara delirium dengan beberapa penyakit/gangguan yang berkaitan dengan masalah penurunan konsentrasi adalah bahwa delirium ini bersifat sementara dan bukan merupakan suatu penyakit. Harapannya delirium ini akan hilang dengan sendiri manakala penyakit berat, ataupun efek dari obat-obatan yang menjadi sebab dari timbulnya delirium ini sudah hilang. Meskipun delirium ini paling sering terjadi pada orang dewasa (terutama yang berusia lanjut), tentu bukan berarti bahwa orang yang berusia muda akan luput dari gangguan ini. Untuk itu berhati-hatilah dalam mengkonsumsi suatu makanan/minuman/obat-obatan. Jika anda merasa menemukan gejala-gejala seperti di atas, alangkah baiknya untuk segera mengkonsultasikannya kepada ahlinya. Tentunya anda tidak maukan, jika di tengah kerumunan orang tiba-tiba anda seperti orang linglung?

Perbedaan klinis delirium dan Demensia Gambaran Delerium Demensia Riwayat Penyakit akut Penyakit kronik Awal Cepat Lambat laun Terdapat penyakit lain (infeksi, Biasanya penyakit otak kronik (spt Sebab dehidrasi, guna/putus obat Alzheimer, demensia vaskular) Lamanya Ber-hari/-minggu Ber-bulan/-tahun Perjalanan sakit Naik turun Kronik progresif Taraf kesadaran Naik turun Normal Orientasi Terganggu, periodik Intak pada awalnya Afek Cemas dan iritabel Labil tapi tak cemas

Alam pikiran Bahasa Daya ingat Persepsi Psikomotor Tidur Atensi & kesadaran Reversibilitas Penanganan

Sering terganggu Lamban, inkoheren, inadekuat Jangka pendek terganggu nyata Halusinasi (visual) Retardasi, agitasi, campuran Terganggu siklusnya Amat terganggu Sering reversibel Segera

Turun jumlahnya Sulit menemukan istilah tepat Jangka pendek & panjang terganggu Halusinasi jarang kecuali sundowning Normal Sedikit terganggu siklus tidurnya Sedikit terganggu Umumnya tak reversibel Perlu tapi tak segera

1. Tanda dan gejala Delirium ditandai oleh kesulitan dalam: * Konsentrasi dan memfokus * Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian * Kesadaran naik-turun * Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang * Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain * Bingung menghadapi tugas se-hari-hari * Perubahan kepribadian dan afek * Pikiran menjadi kacau * Bicara ngawur * Disartria dan bicara cepat * Neologisma * Inkoheren Gejala termasuk: * Perilaku yang inadekuat * Rasa takut * Curiga * Mudah tersinggung * Agitatif * Hiperaktif * Siaga tinggi (Hyperalert) Penderita Delerium bisa menjadi: * Pendiam * Menarik diri * Mengantuk * Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah * Pola tidur dan makan terganggu * Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu