Anda di halaman 1dari 2

Ade Swandana 135120401111005

PERSPEKTIF DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL Perspektif adalah cara seseorang memandang atau menghadapi suatu dal atau masalah, perspektif dalam hubungan internasional dapat diartikan sebagai suatu cara atau strategi untuk memahami fenoena-fenomena yang terjadi di dunia internasional. Menurut Kenneth Waltz dan diperkuat oleeh David Singer, Perspektif dalam hubungan internasional memiliki tiga tingkatan dalam pengelompokanya (The Level of Analysis).Antara lain, Individual Level, State level dan International level. Jika individu level adalah fokusnya, maka personality, persepsi, pilihan dan aktivitas dari pengambil keputusan menjadi penyedia pembahasanya. Jika State level atau domestic factors menjadi focus, maka penjelasan dapat berasal dari karakteristik dari Negara itu, tipe system ekonomi, kelompok kepentingan dalam negeri, bahkan kepentingan nasional suatu Negara dan jika sistem internasional adalah focusnya maka penjelasanya terletak pada karakteristik anarkis dari system tersebut atau dengan organisasi internasional dan regional termasuk kelemahan dan kekuatan mereka. Di studi Hubungan Internasional,terdapat perspektif yang dibagi menjadi tiga katrgori umum. Liberalisme (dan Neoliberalisme), Realisme (dan Neorealisme) dan Radikalisme. Juga teori perspektif baru, yaitu konstruktivisme. Liberalisme adalah teori perspektif dalam hubungan internasional yang menganggap bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik dan bawan kebaikan itu bias membuat kemajuan masyarakat terjadi. Apabila ada perilaku manusia yang memyimpang seperti perang merupakan dampak dari ketidakmampuan institusi yang mengatur individu itu , atau kesalah pahaman antar para pemimpin. Tokoh-tokoh dalam paham Liberalisme antara lain Baron de La Brede et de Montesquieu , Immanuel Kant, Woodrow Wilson ,dll. Realisme adalah sebuah perspektif hubungan internasional yang beranggapan bahwa manusia adalah individu yang egois yang selalu mengejar kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan. Aktor utama dalam teori realisme adalah sistem internasional dan negara. Karena individu diatur negara,dan negara menjadi satu kesatuan dalam upaya mencapai tujuan dari negara tersebut. Sementara itu, neorealisme, pada dasarnya memiliki pemahaman sama dengan realisme klasik, inti dari realisme adalah keseimbangan kekuasaan. Namun yang membedakan neorealisme dengan realisme adalah neoralisme mementingkan kerapian struktur dari sistem dalam mengontrol keseimbangan kekuasaan. Tokohtokoh realisme adalah Thucydides, St. Augustine , Niccolo Machiavelli, Thomas

Hobbes , Morgenthau , Waltz dan Gilpin. Ketiga, perspektif radikal, dalam perspektif ini kekuasaan, produktivitas dan hubungan antar manusia terhubung menjadi satu dalam tingkatan sosial. Baik secara ekonomi maupun secara kasta. Radikalisme membantu untuk memahami peran penting ekonomi dalam sebuah negara beserta keberlangsungan negara tersebut. Tokoh-tokoh paham ini seperti Hobson, Karl Marx, Imanuel Wallerstein dan Lenin. Seperti realisme dan neoliberalisme , constructivism melihat kekuasaan sebagai sesuatu yang penting. Namun bedanya , jika dua paham sebelumnya menganggap bahwa kekuasaan hanya mengenai kemiliteran, ekonomi dan politik , pada paham constructivism melihat hal-hal seperti ide , kebudayaan dan bahasa juga merupakan sebuah kekuatan yang dapat digunakan untuk meraih tujuannya.

Menganalisa perang teluk dengan menggunakan beberapa teori diatas bisa kita gunakan untuk membandingkan dan membedakan teori-teori tersebut. Liberalisme focus untuk menjelaskan kenapa perang terjadi akan dipusatkan pada analisis individual level dan state level. Sedangkan Realisme menekankan pada sisem anarki internasionalnya. Interpretasi radikal, seperti realism, akan cenderung focus pada struktur system internasionalnya. Dan constructivism menjelaskan perang teluk sebagai sebuak konflik diantara dua identitas dan dua lembaga yang longgar. Bagaimana kita melihat hubungan internasional tergantung dari kaca mata teori yang kita gunakan, apakah kita melihat kejadian melalui pandangan realis, apakah kita cenderung kearah interpretasi liberal, atau apakah kita menganut pandangan radikal atau konstruktivitas. Pandangan pandangan tersebut dibedakan tidak hanya pada bagaimana mengidentifikasi actor utama, tapi pada pandangan tentang individual, Negara dan system internasisonalnya (the three levels of analysis). Dengan kata lain perspektif perspektif tersebut memegang pandangan berbeda tentang kemungkinan dan keinginan perubahan pada system internasional. Fungsi memahami teori-teori perspektif dalam hubungan internasional adalah dapat meningkatkan ketajaman analisis kita akan hal-hal yang terjadi di sekitar dunia internasional.. Berfikir tentang teori apa yang bisa diambil untuk menjadi landasan pengambilan keputusan, atau bagaimana cara bertindak atas kebijakan yang telah diputuskan.

Anda mungkin juga menyukai