Anda di halaman 1dari 3

BAB 1 PENDAHULUAN Sindrom dekondisi adalah suatu kumpulan gejala yang merupakan akibat dari penurunan kemampuan dari

fungsifungsi tubuh disebabkan oleh imobilisasi. Imobilisasi adalah ketidakmampuan untuk bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau impairment (gangguan pada alat/ organ tubuh) yang bersifat fisik atau mental. Imobilisasi yang lama bisa terjadi pada semua orang tetapi kebanyakan terjadi pada orang orang lanjut usia, pasca operasi yang membutuhkan tirah baring lama. Dampak imobilisasi lama ataupun tirah baring lama bisa berdampak buruk terhadap sistem organ di dalam tubuh, seperti sistem kardiorespirasi, sistem muskuloskeletal, sistem integumen, sistem susunan saraf, sistem gastrointestinal, maupun sistem genitourinaria. Oleh karena itu, referat ini akan membahas mengenai dampak yang bisa ditimbulkan dari sindrom dekondisi pada pasien tirah baring atau pasien imobilisasi sehingga dapat dilakukan penanganan lebih lanjut. BAB 2 SINDROM DEKONDISI DEFINISI Sindrom Dekondisi adalah suatu kumpulan gejala yang merupakan akibat dari penurunan kapasitas fungsional atau penurunan kemampuan dari fungsi-fungsi tubuh disebabkan oleh imobilisasi atau degenerasi yang bersifat fisiologis. EPIDEMIOLOGI Efek dari sindrom dekondisi pada pasien dengan imobilisasi yang lama bisa terjadi pada semua orang tetapi kebanyakan terjadi pada orang orang lanjut usia, atau pasca operasi yang membutuhkan tirah baring lama. Dampak yang terutama muncul ialah dekubitus mencapai 11% dan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu, perawatan emboli paru berkisar 0,9%,dimana tiap 200.000 orang meninggal per tahunnya. ETIOLOGI Biasanya sindrom dekondisi terjadi akibat penyakit yang diderita oleh pasien pasien yang memerlukan tirah baring jangka lama, seperti pasien koma/tidak sadarkan diri, patah tulang belakang atau kaki. Sindrom ini dapat disebabkan oleh karena: 1. Kelainan atau lesi neuromuskular , seperti paralisis 2. Keperluan ortopedik 3. Sakit parah yang memerlukan bed rest 4. Berada di tempat dengan gravitasi kecil dalam waktu yang lama seperti di luar angkasa 5. Berada di tempat dengan gravitasi yang lebih rendah dalam waktu yang lama, seperti duduk atau berbaring dengan lama. Selain itu, berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi terutama pada usia lanjut. Berikut merupakan penyebab umum imobilisasi pada usia lanjut yang menimbulkan sindrom dekondisi: Arthritis Gangguan Muskuloskeletal Osteoprorosis Fraktur (femur) Stroke Penyakit Parkinson Gangguan neurologis Neuropati Disfungsi serebelar Gagal jantung kongesif Penyakit Kardiovaskular Penyakit jantung koroner (nyeri dada) PPOK Penyakit Paru Gangguan penglihatan Faktor Sensorik Malnutrisi Lain - lain Depresi

Perubahan pada sistem kardiovaskular yang terjadi pada imobilisasi disebabkan karena kurangnya stimulus gravitasi. Imobilisasi dapat menyebabkan penurunan total blood volume, volume plasma, dan hemoglobin yang disebabkan karena diuresis. Dengan demikian maka viskositas darahpun meningkat, hal ini menyebabkan darah menjadi kental dan ditambah dengan penurunan aliran vena pada akhirnya akan meningkatkan resiko terjadinya tromboemboli. Selain itu dapat juga terjadi manifestasi berupa: Peningkatan heart rate o Hal ini disebabkan oleh karena peningkatan aktivitas dari sistem saraf simpatis. Dengan meningkatnya heart rate, akan menyebabkan penurunan waktu pengisian diastolik dan penurunan waktu ejeksi sistolik Penurunan waktu pengisian diastolik o Disebabkan karena meurunan aliran koroner jantung dan penurunan oksigen yang tersedia untuk otot jantung Penurunan curah jantung Penurunan stroke volume Penurunan fungsi ventrikel kiri Hipotensi ortostatik o Dimulai setelah 3 minggu dalam masa imobilisasi dan ini disebabkan karena excessive pooling dari darah pada ekstremitas bawah dan penurunan sirkulasi darah 20 hari atau lebih dari bed rest dapat menyebabkan penurunan 25% dari stroke volume dan peningkatan 20% dari heart rate 2. Sistem Kardiopulmonal Pada system kardiopulmonal dapat terjadi penurunan FRC, volume residual dan FEV. Hal ini bisa menyebabkan penurunan transport oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Selain itu, imobilisasi yang disertai penurunan aktivitas dapat menyababkan sekresi lendir yang berasal dari paru-paru ikut terganggu sehingga dapat mempengaruhi distribusi udara di paru-paru. Di samping itu, dapat pula terjadi hal-hal seperti berikut: Penurunan volume tidal Penurunan kemampuan untuk mengontraksikan otot pernafasan untuk mencapai inspirasi penuh Penurunan kekuatan otot pernafasan Meningkatnya respiratory rate untuk mengompensasi penurunan kapasitas respirasi Penurunan venstilasi dan peningkatan perfusi yang menyebabkan AV shunting dan menurunkan oksigenasi Ketidakmampuan untuk membersihkan lendir, sehingga terjadi akumulasi yang mana dapat menutup jalan nafas dan menyebabkan atelektasis dan meningkatkan resiko terjadinya pneumonia 3. Integument Imobilisasi dikatakan sebagai faktor resiko utama pada munculnya luka dekubitus baik di rumah sakit maupun di komunitas. Kondisi ini dapat meningkatkan waktu penekanan pada jaringan kulit, menurunkan sirkulasi dan selanjutnya mengakibatkan luka dekubitus. Efek pada kulit yang timbul akibat sindrom ini adalah: Celular necrosis pada area tertentu Ulkus dekubitus dan komplikasinya seperti: infeksi, osteomyelitis, septicemia, anemia, kehilangan protein,, dan periostitis) Pencegahan dekubitus dapat dilakukan dengan membalikan pasien setiap 2 jam.

4.

EFEK IMOBILISASI JANGKA LAMA Imobilisasi adalah ketidakmampuan untuk bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau impairment (gangguan pada alat/ organ tubuh) yang bersifat fisik atau mental. Imobilisasi dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan tidak bergerak / tirah baring yang terus menerus selama 5 hari atau lebih akibat perubahan fungsi fisiologis. Di dalam praktek medis imobilisasi digunakan untuk menggambarkan suatu sindrom degenerasi fisiologis akibat dari menurunnya aktivitas dan ketidakberdayaan. Imobilisasi yang lama dan inaktivitas dapat mengurangi aktivitas metabolik. Dan hal ini menyebabkan terjadinya penurunan fungsi dari berbagai sistem tubuh dengan manifestasi klinis berbagai macam. Sistem organ tubuh yang dapat berdampak dari sindrom dekondisi ini adalah sistem kardiorespirasi, sistem muskuloskeletal, sistem susunan saraf, sistem gastrointestinal, sistem genitourinaria. 1. Sistem Kardiovaskular

Sistem Muskuloskeletal Kekuatan otot Total imobilisasi, dapat secara bertahap mengurangi sekitar 0,7 sampai 1,5 persen dari total kekuatan otot. Penurunan ini, biasanya terjadi setelah minggu pertama imobilisasi. Selain itu, tidak semua otot memunculkan penurunan yang sama. Penurunan kekuatan otot ini disebabkan oleh atrofi dari otot. Derajat keparahan dari atrofi otot ini tergantung dari kausa dan lamanya terjadi imobilisasi. Contohnya pada lesi pada lower motor neuron, terjadi penururnan muscle bulk sebesar 90-95 persen. Sedangkan lesi pada upper motor neuron hanya menurunkan muscle bulk sebesar 30-35 persen. Atrofi terjadi pada serat otot tipe 1 dan 2, tetapi tipe 1 lebih berperan dalam atrofi yang disebabkan oleh imobilisasi. Pada atrofi, jika proses pemulihan tidak terjadi maka serat otot akan digantikan oleh jaringan ikat. Proses ini dapat dimulai sejak 1 minggu dari imobilisasi, dan hal ini dapat menyebabkan terjadinya kontraktur. Posisi juga memegang peranan penting dalam proses ini. Otot yang di imobilisasi dalam posisi yang memendek juga akan menyebabkan terjadinya penurunan yang lebih cepat. Sendi Imobilisasi juga dapat memengaruhi sendi. Kartilago hialin pada sendi mendapat nutrisi dari pergerakan cairan synovial yang didapat pada pergerakan sendi. Selama terjadi imobilisasi, proses ini berhenti. Dan hal itu menyebabkan kekurangan nutrisi pada kartilago hialin, dan akhirnya terjadi penuruann ketebalan dari kartilago pada persendian sebanyak 9 persen setelah 11 minggu. Kontraktur menyebabkan kehilangan range of motion (ROM) dari sendi. Itu dapat disebabkan oleh ketegangan dari jaringan ikat, otot dan kapsul sendi atau bisa juga dari kelainan sendi. Namun, pada orang yang di imobilisasi, faktor mekanis merupakan faktor yang penting. Apabila otot dipertahankan dalam kondisi sedang memendek, serat otot dan jaringan ikat beradaptasi pada kondisi memendek tersebut dan akhirnya menyebabkan kontraktur. Selain hal di atas dapat juga terjadi:

5.

Penurunan massa tulang karena meningkatnya resorbsi tulang Kehilangan tulang trabekular yang lebih dari tulang kortikal Peningkatan resiko fraktur, dan nyeri punggung kronis Osteoporosis karena meningkatnya resorbsi tulang

Integument

Metabolic dan Endokrin Sistem Saraf Perubahan sistem saraf pada umunya disebabkan oleh karena inaktivitas dan penurunan stimulasi sensoris. Pada awalnya, gejalanya dapat berupa penurunan atau reaksi yang tidak semestinya terhadap rangasangan dari luar. Aktivitas pada kortikal dan sistem autonom juga berkurang. karena itu, stimulasi sensori, aktivitas, dan latihan dapat dilakukan untuk menghindari hal ini. Selain itu dapat juga terjadi: Gelisah Depresi Gangguan tidur Gangguan koordinasi dan keseimbangan Gangguan tingkah laku Neuropati kompresi 6. Sistem Gastrointestinal Pada sistem GIT dapat menimbulkan efek seperti: Anoreksia Malnutrisi Konstipasi Penurunan motilitas usus Refluks esophagus Aspirasi saluran napas Peningkatan risiko perdarahan gastrointestinal

Peningkatan resiko ulkus dekubitus dan maserasi kulit Keseimbangan nitrogen negative, hiperkalsiuria, natriuresis dan deplesi natrium, resistensi insulin (intoleransi glukosa), hiperlipidemia, serta penurunan absorpsi dan metabolisme vitamin dan mineral. Depresi dan psikosis, atrofi korteks motorik dan sensorik, gangguan kaseimbangan, penurunan fungsi kognitif. Inkontinensia urin, infeksi saluran kemih, pembentukan batu kalsium, distensi kandung kemih, impaksi feses, konstipasi, penurunan motilitas usus, refluks esofagus, aspirasi saluran nafas dan peningkatan resiko perdarahan gastrointestinal.

Neurologi dan Psikiatri

Gastrointestinal dan Urinarius

7.

Sistem Metabolik dan Endokrin Perubahan metabolik dan endokrin disebabkan oleh tidak adanya stimulasi gravitasi. Pada saat imobilisasi terjadi penurunan basal metabolic rate. Biasanya hormon tiroid akan meningkat sedangkan yang lainnya seperti, ACTH, norepinefrin, kortikosteroid, dan aldosteron biasanya akan menurun. Selain itu, karena adanya penurunan masa otot dan demineralisasi tulang. Maka kalsium, kreatinin, magnesium , dan fosfor akan diekskresikan dalam jumlah yang lebih banyak. Selain itu terjadi juga: Negative nitrogen balance Intoleransi glukosa Hiperkalsemia Penurunan hormon paratiroid Batu ginjal Gangguan circardian rythm Gangguan hormon pertumbuhan Peningkatan plasma rennin 8. Sistem Genitourinaria Pada sistem genitourinaria, efek dari imobilisasi yang lama akan menyebabkan: Penurunan miksi Meningkatnya resiko UTI Meningkatnya resiko pembentukan kalkulus Penurunan GFR

PENATALAKSANAAN Farmakologis berupa obat obatan diberikan sesuai dengan syitem organ tubuh yang terkena. Selain farmakologis, fisioterapi juga memegang peranan penting dalam penatalaksaan sindrom dekondisi ini. Tujuan dari rehabilitasi medik pada kasus ini adalah untuk mencegah perburukan sindrom dekondisi dan mengembalikan kemampuan fungsional secara optimal, sehingga bagi pasien yang karena penyakit yang dideritanya diharuskan tirah baring dalam jangka lama tidak mengalami gangguan gangguan padda berbagai macam sistem tubuh. Program Rehabilitasi Medik Program Terapi Fisik Progam ini berguna untuk mengembalikan flexibilitas sendi, mencegah kontraktur, dan persiapan sebelum dilakukan terapi latihan (remedial exercise), dapat diberikan Terapi panas Kering (dry heat) dengan lampu infra red, lampu biasa, botol air panas dan bantal pemanas listrik. Memberikan Terapi Latihan (remedial exercise) pasif, yang meliputi Latihan Lingkup Gerak Sendi (ROM exercise), Latihan Penguatan Otot (strengthening exercise) dan Latihan pernafasan (breathing exercise). Kalau keadaan pasien sudah memungkinkan, dapat diberikan terapi latihan aktif, yakni melatih mobilisasi bertahap dengan latihan miring kanan kiri (rolling), dilanjutkan dengan latihan duduk (sitting balance), dan latihan jalan (ambulasi) diberikan jiak sudah memungkinkan. Program Terapi Okupasi Mengadakan evaluasi, melatih dan mengembangkan kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari hari (AKS) dan aktivitas yang sederhana sampai aktivitas yang kompleks. Jika diperlukan, dapat diberikan edukasi menelan, miksi, dan defekasi. Program Psikologi Mengadakan evaluasi dan memperbaiki keadaan psikologis pasien yang berhubungan dengan penyakit atau keadaan yang diderita pasien, disesuaikan dengan kapasitas intelektual pasien. Evaluasi demensia, depresi, dan gangguan fungsi kognitif jikalau ada.

9.

Sistem Imunologi Mekanisme pasti bagaimana imobilisasi memengaruhi sistem imun masih belum diketahui. Namun dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa imobilisasi yang lama dapat menyebabkan terjadinya penurunan level antibodi sehingga lebih rentan terhadap infeksi. ORGAN Musculoskeletal EFEK Osteoporosis, penurunan massa tulang, hilangnya kekuatan otot, kontraktur, degenerasi sendi rawan, ankilosis, berkurangnya volum sendi Peningkatan denyut nadi istirahat, penurunan perfusi miokard, intoleren terhadap ortostatik, penurunan pengambilan oksigen maksimal (VO2 max), deconditioning jantung, penurunan volum plasma, atelektasis paru, pneumonia, peningkatan vena stasis, peningkatan agregasi trombosit, dan hiperkoagulasi.

BAB 3 PENUTUP Sindrom Dekondisi adalah suatu kumpulan gejala yang merupakan akibat dari penurunan kapasitas fungsional atau penurunan kemampuan dari fungsi-fungsi tubuh disebabkan oleh imobilisasi atau degenerasi yang bersifat fisiologis. Efek dari sindrom dekondisi pada pasien dengan imobilisasi yang lama bisa terjadi pada semua orang tetapi kebanyakan terjadi pada orang orang lanjut usia, atau pasca operasi yang membutuhkan tirah baring lama. Imobilisasi yang lama dan inaktivitas dapat menyebabkan terjadinya penurunan fungsi dari berbagai sistem tubuh dengan manifestasi klinis berbagai macam. Sistem organ tubuh yang dapat berdampak dari sindrom dekondisi ini adalah sistem kardiorespirasi, sistem muskuloskeletal, sistem susunan saraf, sistem gastrointestinal, sistem genitourinaria. Penanganan pada pasien dengan sindrom dekondisi ini dapat diberikan terapi farmakologis dan fisioterapi yang juga memegang peranan penting memperbaiki kondisi umum pasien. Tujuan dari program rehabilitasi medik adalah agar tercapainya suatu keadaan dimana pasien mampu melakukan aktivitas fungsional dan aktivitas sehari harinya secara optimal dan agar kecacatan yang terjadi akibat dari tirah baring jangka lama dapat ditekan seminimal mungkin.

Kardiopulmonal dan pembuluh darah

DAFTAR PUSTAKA 1. Journal of Neurologic Physical Therapy. 1993. Bedrest and Deconditioning. Bedrest and Deconditioning elizabeth dean. University of British Columbia. Garisson, Susan J. Handbook of physical medicine and rehabilitation: the basics Lippincot williams and wilkins. 2003. Kumalasari, Triastuti Diah. Imobilisasi. 2010. http://ackogtg.wordpress.com/2010/04/07/imobilisasi/ Teramihardja, Jonaidi. Sindroma Dekondisioning. 2009. http://issuu.com/ptkpost/docs/29042009 Ario Tejo, Bima. Immobilisasi Lama.2009. http://bimaariotejo.wordpress.com/2009/07/07/immobilisasi-lama/

2.

3.

4.

5.