Anda di halaman 1dari 18

1

Model Demokrasi

Pendahuluan Demokrasi, tak dapat disangkal telah menjadi issu sentral pada abad ini. Banyak yang telah terjadi mengenai kecenderungan global perkembangan demokrasi (Diamond, 2003) satu diantaranya adalah adanya stabilitas demokrasi sebagai sebagai sistem pemerintahan di seluruh dunia. Bagi orang orang di seluruh dunia, demokrasi semakin menjadi pusat dan tumpuan harapan akan masa depan yang lebih cerah dan dan cita cita menuju suatu kehidupan yang penuh kebebasan dan bermartabat. !agasan tentang demokrasi ini telah memberikan pengaruh yang kuat di "#rika, "sia, $ropa %engah dan %imur, serta "merika &atin, di mana banyak negara di ka'asan ka'asan tersebut sedang berupaya keras menja'ab tantangan tantangan sulit yang ada dalam proses belajar menumbuhkembangkan iklim kebebasan. (ecara literal makna kata demokrasi berasal dari dua kata yaitu, demos (rakyat) dan kratos (pemerintahan), Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana rakya berkuasa istlah ini muncul di "thena )bentuk bentuk re*im yang kekuasaannya dibedakan berdasarkan satu orang (monarki), beberapa orang (aristokrasi), dan banyak orang (demokrasi). +amun demikian, konsensus yang semakin berkembang dalam rangka menerima demokrasi bersandar pada banyak pertanyaan yang belum terja'ab. ,ang paling utama menyangkut hakikat atau arti arti yang sesungguhnya, yang harus kita lekatkan pada istilah demokrasi itu sendiri. -ersoalan lain yang berkaitan dengan ini

adalah masalah dapat diterapkannya konsep demokrasi pada situasi situasi sosio ekonomis dan cultural yang begitu luas dan yang ada di dunia masa kini (Baechler, 200.). Dari sudut kepraktisannya, bamyak ketidakpastian tentang pendekatan mana yang terbaik, yang harus dipakai untuk menanamkan atau memperbarui tradisi dan praktek demokrasi.

Pendekatan Klasik Zaman kuno dan Demokrasi /onsep paling a'al tentang demokrasi biasanya diasosiasikan ke bangsa ,unani kuno. (ejumlah #aktor member kontribusi pada perkembangan demokrasi di "thena. -olis, atau +egara kota bertindak sebagai unit dasar operasi ,unani kuno dan dibangun berdasarkan nilai nilai egalitarian. +ilai nilai ini didukung oleh tiga #aktor. -ertama, koneksi 'arga kelas rendah dengan militer memungkinkan mereka untuk mendapatkan status sosioekonomi yang lebih baik, dan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan komunal. /edua, setelah polis "thena bergerak menjadi )kekuatan dunia0 yang baru, institusi tata pemerintahan lama dan distribusi kekuasaan lama menjadi dipertanyakan. 1ni menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang bertugas di polis dan )apa peran yang harus dimainkan rakyat dalam keputusan yang berpengaruh langsung atas keamanan dan masa depan mereka0 (Boedeker 2 3aa#laub dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). /etiga, kerajaan yang mendapatkan banyak kekayaan, yang dikumpulkan dan memungkinkan untuk pengeluaran ekstra untuk program domestik ketimbang hanya pada militer. /arena memiliki sumber pendapatan yang stabil untuk mendukung pengeluaran itu, maka bangsa )"thena0 memutuskan untuk menggaji para juri dan akhirnya menggaji pula pejabat politik lainnya (Boedeker 2 3aa#lub dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). dan ini adalah perkembangan yang tak terduga. +amun, demokrasi ,unani terbatas pada 'arga pria yang bukan budak dan memiliki kekayaan (%hiele,dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3).

(arjana klasik seperti -lato dan "ristoteles memperdebatkan kegunaan dan )kebaikan0 demokrasi murni. %erkadang demokrasi itu dianggap sebagai bentuk kon4ensional dan )terkadang sebagai bentuk kekuasaan popular yang korup dalam5 klasi#ikasi yang juga mencakup tirani sebagai bentuk monarki yang korup, oligarki sebagai bentuk aristokrasi yang korup, dan oklokrasi sebagai bentuk pemerintahan oleh rakyat yang korup0 (Miller,dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). -lato dipandang sebagai oponen (la'an) demokrasi, meski dia adalah penganut pemikiran politik (ocrates, yang yakin dirinya adalah )sahabat demokrasi dan pejuang masyarakat yang terbuka0 (6ber,dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). "lasan untuk gagasan ini ada dalam ide -lato bah'a demokrasi menaikkan pencarian kebebasan setinggi mungkin, yang pada akhirnya menimbulkan banyak kerusakan dalam tatanan masyarakat. 7adi, dia memilih kekuasaan monarki yang dipimpin oleh raja #ilsu# (%hiele,dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). "ristoteles, muridnya -lato, sepakat dengan -lato bah'a monarki, yang dipimpin para raja #ilsu#, adalah re*im yang terbaik. +amun dia menyadari bah'a re*im seperti itu sulit dipertahankan. Menurut "ristoteles, politik demokratis adalah soal menguasai dan dikuasai pada saat yang sama. "ristoteles menyebut tiga tipe re*im )ideal08 monarki,, aristokrasi, dan polity. 9ersi korup dari re*im )ideal0 itu adalah, secara berurutan, tirani, oligarki, dan demokrasi. "ristoteles memandang monarki sebagai re*im yang tidak stabil yang akan lekas berubah menjadi tirani, dan karena itu, meski merupakan tipe yang sangat diinginkan, ia tidak praktis. "rristokrasi adalah kekuasaan oleh orang elite, dan ia akan mudah menjadi oligarki jika tidak dijaga dengan benar. -olity adalah re*im yang paling baik dari segi

praktis, dan merupakan perpaduan dari prinsip aristokrasi dan demokrasi (%hiele,dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). Demokrasi Partisipatoris (Demokrasi Langsung) dan Republik (Demokrasi Representatif) "dalah ,unani dan 3oma'i sekitar tahun :00 sebelu Masehi, pertama tama diciptakan suatu sistem pemerintahan yang memberi tempat bagi partisipasi rakyat melalui sejumlah besar 'arga +egara. 1de demokrasi partisipatoris dan demokrasi langsung berakar di "thena, ,unani kuno (;<0 (M). -emerintahan "thena itu pada intinya adalah sebuah majelis di mana seluruh 'arga negara berhak ikut serta (Dahl, 200.). Majelis itu memilih beberapa orang pejabat utama. Melalui 'arga dapat secara langsung menentukan dan mem4oting )kebijakan publik yang (akan) mengatur perilaku mereka (Me*ey dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, $d.,20.3). =ara utama dalam memilih 'arga +egara untuk jabatan publik yang lain adalah dengan mengadakan undian di mana 'arga negara yang memenuhi syarat memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih.(Dahl, 200.). Menurut beberapa perkiraan, seorang 'arga +egara biasa memiliki kesempatan yang cukup besar untuk memenangkan undiansekali seumur hidup guna memegang jabatan tinggi yang paling penting dalam pemerintahan. +amun demikian sistem "thena dalam memilih 'arga negara untuk jabatan publik melalui undian tidak pernah menjadi alternati4e yang dapat diterima sebagai suatu cara untuk memilih 'akil 'akil. Beberapa pihak berpendapat bah'a meskipun demokrasi partisipatoris atau demokrasi langsung memungkinkan 'arga untuk mengatur dirinya sendiri, model ini

mungkin rumit dan memperlambat proses pembuatan keputusan (Me*ey dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). Banyak pengkritik juga menunjukkan bah'a dalam demokrasi langsung, 'arga tidak bisa mendapatkan semua in#ormasi tentang semua isu sehingga tidak bisa mengimplementasikan berbagai macam kebijakan dengan tepat. /arenanya mereka mungkin lebih mempertimbangkan kepentingan diri sendiri dalam membuat keputusan keputusan (Me*ey dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). Diantara banyak bentuk demokrasi yang telah berkembang sejak peradaban ,unani kuno dan 3oma'i kuno, demokrasi partisipatoris atau demokrasi langsung dipandang sebagai tipe yang paling dekat dengan bentuk demokrasi ideal yang memberi kesempatan pada 'arga untuk berpartisipasi langsung secara penuh dalam proses pengambilan keputusan dari pemerintah mereka (Me*ey dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). Bentuk demokrasi lainnya yaitu republik atau demokrasi repsentati# (per'akilan), juga berakar pada karya bangsa kuno. Dimulai pada abad ke : (M, bangsa 3oma'i kuno yang diilhami oleh sistem pemerrintahan ,unani, mengengbangkan bentuk pemerintahan baru yang disebut republikanisme (juga disebut demokrasi per'akilan) untuk mengakomodasi penduduknya yang terus bertambah (>oot, dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). -erbedaan antara bentuk demokrasi 3oma'i dan ,unani terletak pada pemilihan per'akilan. (ecara spesi#ik, dalam bentuk demokrasi 3oma'i,keputusan pemerintah dibuat oleh kelompokper'akilan yang dipilih (Me*ey dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). ?akil 'akil yang dipilih ini )membahas alternati# kebijakan, dan memutuskan berdasarkan pemungutan suara0 antarmereka sendiri sesuai dengan pandangan konstituennya (Me*ey dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). Denan kata lain, dalam bentuk pemerintahan

ini, (a) kebijakan publik dibuat oleh 'akil rakyat dan bukan oleh rakyat itu sendiri@ (b) per'akilan itu dipilih oleh 'arga dari kelompok yang disebut konstituen@ (c) 'arga de'asa bisa memberikan suara,, setiap orang punya satu suara@ dan (d) per'kilan )mempertanggungja'abkan tindakannya kepada orang orang yang memilihnya dan dapat diganti pada pemilu berikutnya0 (Me*ey dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). 7adi, 'arga secara tak langsung memengaruhi keputusan politik dengan )memilih dan memengaruhi perilaku 'akilnya yang membuat kebijakan politik dan menga'asi implementasinya0 (Me*ey dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). 7ames Madison, salah satu pendiri "merika (erikat, dan #ilsu# seperti 7ohn &ocke dan "leAis de %ocBue4ille, lebih memilih bentuk pemerintahan repsentati# ini, di mana keputusan tidak dibuat langsung oleh 'arga melainkan oleh per'akilan yang lebih berpengetahuan dan dipilih rakyat. -ara #ilsu# ini yakin bah'a sistem per'akilan ini akan mencegah 'arga menggunakan kepentingan diri selama proses pembuatan keputusan (,arbrough, dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). "dalah penting untuk menyebutkan bah'a Madison mempertemukan 3epublikanisme dengan representasi (,arbrough, dalam 1shiyama dan Breuning,20.3). Madison mende#inisikan pemerintahan republik sebagai pemerintahan yang harus demokratis tetapi tidak sampai pada poin bah'a persoalan publik harus )dilakukan oleh 'arga sendiri0 (,arbrough, dalam 1shiyama dan Marijke Breuning, 20.3). (ecara umum, )per'akilan yang dipilih itu akan melidungi hak rakyat secara lebih baik ketimbang jika rakyat melakukannya sendiri0 (,arbrough, dalam 1shiyama dan Breuning, 20.3). (istem pemerintahan "merika (erikat sekarang mirip dengan bentuk demokrasi ini. Belakangan

+egara negara seperti 1nggris, 7erman, /anada, Belanda dan Belgia juga menggunakan bentuk demokrasi ini sebagai sistem tata pemerintahannya. Model demokrasi kontemporer Poliarki 1de poliarki diasosiasikan dengan ilmu'an politik "merika, 3obert Dahl, yang berusaha mencari cara empiris untuk mengukur konsep ini. Dahl mende#inisikan poliarki sebagai )sistem kekuasaan minoritas yang terbuka, kompetiti# dan pluralistis (dikutip dalam /rouse, dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). Dahl berpendapat bah'a poliarki adalah )kondisi yang diperlukan dan dasar dari demokrasi0. Dalam bukunya, After Revolution Authoritative Good Society, Dahl membahas tujuan dan #ungsi poliarki sebagai metode pengambilan keputusan. (ecara spesi#ik, dia menekankan bah'a poliarki memberikan kesetaraan politik lebih besar dan kedaulatan popular dan sebagai model demokratis terbaik dalam mere#leksikan partisipasi di era modern atau masyarakat pluralistis. -oliarki mirip dengan republikanisme, atau bentuk demokrasi per'akilan. (atu ciri penting dari poliarki adalah ia mempromosikan kompetisi dan toleransi. (ecara spesi#ik poliarki menerima dan menoleransi berbagai macam pendapat dan member kesempatan kepada 'arga untuk mengekspresikan penentangan. -artai oposisi dan asosiasi dari segala jenis adalah )baik dan natural0 dalam poliarki (Bailey 2 Braybrooke, dalam 1shiyama dan Breuning, 20.3). 6leh sebab itu, poliarki mengakui dan mendorong kebebasan berserikat dan kemampuan kelompok kepentingan untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan pemerintah.

Demokrasi Mayoritas, atau Westminster Demokrasi mayoritas atau ?estminster adalah bentuk demokrasi modern. 1stilah ?estminster digunakan oleh ilmu'an politik "rent &ijphart untuk merujuk istana ?estminster di &ondon, di mana parlemen 1nggris bertemu. &ijphart menyebut Cnited /ingdom sebagai contoh terbaik dari model ini. &ijphart memberikan .0 ciri khas dari bentuk demokrasi modern ini8 .. . /onsentrasi kekuasaan eksekuti# ada di satu partai dan mayoritas@ kabinet penguasa terdiri dari satu partai mayoritas dan tidak memasukkan partai minoritas. 2. Dominasi kabinet@ kabinet, yang terdiri dari pemimpin partai mayoritas yang kohesi#, dapat dengan percaya diri mengesahkan legislasi. 3. (istem dua partai@ -emerintah didominasi oleh dua partai besar. ;. (istem pemilih disproporsional dan mayoritarian8 sistem pemilu ber#ungsi sesuai dengan pluralitas distrik anggota, atau #irst past the post sistem. :. -luralitas kelompok kepentingan8 -ersaingan dan kon#lik menjadi cirri sistem kelompok kepentingan. <. .-emerintahan uniter dan tersentralisasi@ -emerintah lokal adalah bagian dari pemerintah pusat, kekuasaan mereka tidak dijamin secara konstitusional, dan mereka secara #inansial bergantung pada pemerintah pusat. D. /onsentrasi kekuasaan legislati4e ada di badan legislati# satu kamar (unikameral).

10

E. >leksibilitas konstitusi8 Misalnya, di Cnited /ingdom, tidak ada konstitusi tertulis, dan parlemen dapat dengan bebas mengubah kebijakan atau undang undang melalui mayoritas reguler dan bukan melalui super mayoritas. F. %idak ada judicial re4ie'8 karena tidak ada konstitusi tertulis, tidak ada dokumen tertulis yang dengannya pengadilan dapat memutuskan konstitusional legislasi. .0. Bank sentral dikendalikan oleh eksekuti#8 dalam model ini, bank dikontrol oleh kabinet dan tidak independen. +egara negara dengan model pemerintahan ini cenderung memiliki masyarakat yang homogen. Bentuk pemerintahan ini dapat dilihat di +egara seperti /anada, "ustralia, (elandia Baru, dan kebanyakan bekas jajahan 1nggris di "sia, "#rika, dan /aribia pasca kemerdekaan mereka. Demokrasi Konsensual Demokrasi konsensual dipandang sebagai demokrasi yang lebih baik di dalam masyarakat yang secara kultural heterogen (atau yang disebut oleh &ijphart, sebagai )masyarakat plural). &ijphart memberikan .0 ciri khas dari bentuk demokrasi modern ini8 .. /ekuasaan eksekuti# dibagi dalam kabinet koalisi yang luas. Dalam model ini, semua atau sebagian besar partai penting berbagi kekuasaan eksekuti# dalam koalisii besar. 2. -enyeimbangan kekuasaan legislati# terhadap eksekuti#8 ada pemisahan kekuasaan antara eksekuti# dengan legislati#, memungkinkan interdependensi lebih besar antara

11

kedua cabang pemerintahan tersebut. (elain itu, badan legislati4e bisa melakukan pemungutan suara dengan tegas. 3. (istem multipartai8 Dalam masyarakat pluralis, seperti di ('iss, partai partai terbagi dalam beberapa garis tujuan. ;. 3epresentasi proporsional8 sistem elektoral ini membagi kursi parlemen diantara partai partai sesuai proporsi suara yang mereka terima. :. /orporatisme kelompok kepentingan. <. -emerintahan #ederal dan terdesentralisasi D. Bikameralisme yang kuat. E. /ekakuan konstitusional8 "da konstitusi tertulis dan dapat diubah hanya oleh mayoritas legislati# khusus. F. 7udicial re4ie'. .0. Bank sentral8 "da independensi sampai batas tertentu untuk bank dalam hal membuat keputusan kebijakan moneter.

Demokrasi Konsosiasional Demokrasi konsosiasional (consociational) adalah bentuk spesi#ik dari demokrasi konsensual yang dikemukakan oleh &ijphart dalam bukunya, The Politics of Accommodation, sebagai solusi untuk masyarakat yang sangat terpecah

12

berdasarkan garis etnis, agama, atau kultural. (ecara spesi#ik, dia mengatakan bah'a solusi untuk masyarakat yang sangat terpecah seperti di Belanda adalah sistem pemerintahan di mana kelompok berbagi kekuasaan di dalam institusi. !agasan representasi kelompok adalah kunci dalam pandangan &ijphart tentang cara mencapai demokrasi, dan model demokrasi konsosiasional akan memberikan lebih banyak ruang partisipasi kelompok dan suara untuk minoritas. +egara seperti Belanda dan ('iss adalah contoh terbaik dari tipe demokrasi ini. Demokrasi Delegatif 1de demokrasi delegati# diperkenalkan oleh !ullermo 6GDonnel pada .FF0 an, yang dideskripsikannya sebagai berikut8 (Demokrasi delegati#) didasarkan pada premis bah'a siapa pun yang memenangkan pemilu presiden akan berhak untuk memerintah berdasarkan apa yang dianggapnya cocok, dan dia dibatasi oleh #akta adanya relasi kekuasaan dan oleh masa jabatan yang ditetapkan oleh konstitusi. -residen adalah per'ujudan dari bangsa dan penjaga utama +egara dan pihak yang mende#inisikan kepentingan bangsa. /ebijakan dari demokrasi ini mungkin tidak mere#leksikan janji janji yang dibuat selama kampanye kandidat, karena kandidat, setelah terpilih, adalah orang yang akan menentukan apa yang tepat bagi suatu +egara. Demokrasi delegati# dijalankan di bekas negara otoriter ("rgentina, Bra*il, -eru, $kuador, dan lain lain) dan +egara negara post komunis. Mereka memnuhi persyaratan dasar sebagai masyarakat demokratis namun tidak seliberal demokrasi

13

per'akilan. +egara negara ini tidak terkonsolidasi atau diinstitusionalisasikan, namun mereka menolak kembali ke otoritarianisme. Demokrasi Deliberatif Demokrasi deliberati# adalah ide bah'a hokum yang sah berasal dari pertimbangan publik dari 'arga negara. Demokrasi deliberati# menghadirkan )cita cita otonomi politik berdasarkan penalaran praktis 'arga negaranya0 (Bohman 2 3ehg, dalam 1 shiyama 2 Breuning, 20.3). Demokrasi deliberati4e sering dipandang sebagai tandingan teori liberalism dan pilihan rasional. Banyak tindakan politik )dibuat dari berbagai kon#lik moral0 yang )tidak bisa diselesaikan dengan tepat hanya melalui ta'ar mena'ar kelompok kepentingan0(Macedo, dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). 1su isu tertentu, seperti aksi a##irmati#, perlindungan lingkungan, atau bunuh diri dengan bantuan, tidak dapat dipecahkan melalui argument pilihan rasional. Demokrasi deliberati# mempromosikan legitimasi keputusan kolekti#. -enciptaan pengakuan legitimasi dan niat baik demokrasi, bersama dengan proses yang jujur, akan menciptakan stabilitas dalam jangka panjang. /arakteristik positi# Demokrasi ini memungkinkan publik mempertimbangkan dan memikirkan tentang kebaikan bersama. tonomi Demokratis Model otonomi demokratis berkaitan dengan pertanyaan penting yakni apa yang dimaksud dengan demokratis, demokrasi sebagai ide mena'arkan suatu kerangka yang mengklaim bah'a ) ada cara yang #air dan adil dalam

14

menegosiasikan nilai nilai dan memperdebatkan nilai nilai (Held, dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). 1ni adalah satu satunya narasi besar yang dapat secara sah )membentuk kerangka dan membatasi narasi narasi yang saling berkompetisi di era kontemporer0 (Held, dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). /onsep otonomi mengimplikasikan kemampuan manusia untuk bernalar )secara sadar, sel# re#lecti4e, dan menentukan diri sendiri0 seiring dengan perkembangan masyarakat, konsep otonomi mulai makin popular. Masyarakat liberal modern mengaitkan )tujuan kebebasan dan kesetaraan ke doktrin etika, ekonomi, dan politik indi4idualis0. /oneksi ini mengharuskan +egara untuk memberikan kondisi yang dibutuhkan agar 'arga bisa mengejar kepentingannya sendiri. 6pini ini sebagian besar dipengaruhi oleh &ocke, yang percaya bah'a +egara eksis untuk melindungi hak dan kebebasan indi4idu dan sekaligus beban yang harus ditanggung indi4idu untuk mengamankan dirinya sendiri. 6tonomi demokratis,karena itu, mengharuskan orang untuk menunaikan hak dan ke'ajiban )di dalam spesi#ikasi kerangka politik, yang menciptakan dan membatasi kesempatan yang tersedia bagi mereka. 6rang harus bebas dan setara dalam menentukan kondisi hidupnya masing masing selama mereka tidak melanggar hak orang lain. Dalam sistem ini, prinsip otonomi diringkas dalam konstitusi dan undang undang hak asasi manusia. 6tonomi demokrasi mengharuskan ketersediaan in#ormasi yang terbuka, untuk menjamin keputusan tentang publik terus diin#ormasikan kepada khalayak. 6tonomi demokratis memperkenalkan mekanisme baru untuk menjamin )partisipasi yang mencerahkan, seperti umpan balik 4oter dan juri 'arga +egara, peningkatan akuntabilitas dalam

15

kehidupan publik dan pri4at5dan kerangka institusional yang resepti# terhadap eksperimen bentuk bentuk organisasi (Held, dalam 1shiyama 2 Breuning, 20.3). Dalam otonomi demokratis, 'arga +egara harus menerima keputusan yang demokratis dalam berbagai situasi kecuali situasi itu melanggar hak asasi mereka.

Kesimpulan Banyak model demokrasi muncul dalam literatur ilmu politik kontemporer. Banyak dari model ini, seperti poliarki dan demokrasi delegati#, cenderung merupakan model deskripti# atas realitas, sedangkan model lainnya seperti demokrasi deliberati4e dan konsosiasionalisme cenderung merupakan rumusan solusi untuk mempromosikan demokrasi dalam kondisi sosial tertentu. Meskipun

16

masing masing dari model itu mengasumsikan cirri ciri dasar demokrasi (seperti le4el partisipasi yang tinggi, persaingan, dan hak hak sipil dan politik), mereka mengilustrasikan berbagai macam cara untuk mengekspresikan demokrasi. Demokrasi dan konseptualisasinya akan tetap menjadi isu penting dalam ilmu politik abad ke 2. ini.

D!"#!R $!%!!!&

Dahl, 3obert, ". (200.). -erihal Demokrasi@ Menjelajahi %eori dan -raktek Demokrasi (ecara (ingkat. ,ayasan 6bor 1ndonesia. 7akarta . Diamond, &arry. (2003). De4eloping Democracy@ %o'ard =onsolidation. 13$ -ress ,ogyakarta. 1shiyama, 7ohn, %. dan Marijke Breuning, $d. (20.3). 1lmu -olitik Dalam -aradigma "bad ke 2.@ (ebuah 3e#erensi -anduan %ematis. /encana -renada Media group, 7akarta.

17

(ubstansi substansi Demokrasi

18