Anda di halaman 1dari 17

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Panas pelarutan adalah perubahan 1 mol zat dilarutkan dalam n mol solvent pada tekanan dan suhu yang konstan, hal ini disebabkan adanya ikatan kimia baru dari atom-atom. Demikian juga pada peristiwa pelarutan, kadang-kadang terjadi perubahan energi, hal ini disebabkan adanya perbedaan gaya tarik-menarik antara molekul sejenis. Gaya ini jauh lebih kecil daripada gaya tarik pada ikatan kimia, sehingga panas pelarutan biasanya jauh lebih kecil daripada panas reaksi. Secara teoritis, panas pelarutan (Hs) untuk senyawa KCl sebesar -4.404 cal/mol sedangkan untuk MgCl2.6H2O sebesar 3.400 cal/mol. Tanda positif (+) pada data Hs menunjukkan bahwa reaksi bersifat eksotermis atau reaksi menghasilkan panas dari sistem ke lingkungan. Sedangkan tanda negatif (-) menunjukkan bahwa reaksi bersifat endotermis atau reaksi menyerap panas dari lingkungan ke sistem. Salah satu faktor yang mempengaruhi panas pelarutan adalah jenis solute. Solute itu sendiri dibedakan menjadi 2, yaitu solute standar dan solute variabel. Solute standar adalah solute yang telah diketahui panas pelarutannya, yang dijadikan dasar untuk mencari besarnya tetapan kalorimeter. Sedangkan solute variabel adalah solute yang akan dicari besar panas pelarutannya. Dengan mengetahui panas pelarutan suatu zat, karakteristik zat tersebut juga dapat diketahui, sehingga di dalam industri kimia kerusakan reaktor pada kondisi thermal dapat dihindari. Selain itu, dengan mengetahui panas pelarutan suatu zat, kita dapat memilih tungku sesuai panas pelarutan zat tersebut dan juga dalam pemilihan bahan bakar yang menimbulkan panas seefisien mungkin. Seorang sarjana teknik kimia yang pada umumnya bekerja di bidang industri harus mengetahui analisa panas pelarutan. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa banyak manfaat yang didapatkan dengan mengetahui panas pelarutan suatu zat. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa teknik kimia praktikum panas pelarutan ini menjadi sangat penting untuk dilakukan.

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU I.2 Tujuan Praktikum 1. Menentukan panas pelarutan dari suatu zat 2. Mencari hubungan antara panas pelarutan dengan molaritas dan suhu larutan 3. Mencari hubungan antara suhu dengan waktu terhadap panas pelarutan

I.3

Manfaat Praktikum 1. Praktikan mampu menentukan panas pelarutan dari suatu zat 2. Praktikan mengetahui hubungan antara panas pelarutan dengan molaritas dan suhu larutan 3. Praktikan mengetahui hubungan antara suhu dengan waktu terhadap panas pelarutan

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Panas pencampuran didefinisikan sebagai perubahan entalpi yang terjadi bila dua atau lebih zat murni dicampur membentuk suatu larutan pada temperatur konstan dan tekanan 1 atm. Panas pelarutan didefinisikan sebagai perubahan panas 1 mol zat dilarutkan dalam n mol solvent pada temperatur dan tekanan yang sama, hal ini disebabkan adanya ikatan kimia baru dari atom-atom. Demikian juga pada peristiwa pelarutan, kadang-kadang terjadi perubahan energi, hal ini disebabkan adanya perbedaan gaya tarik-menarik antara molekul sejenis. Gaya ini jauh lebih kecil daripada gaya tarik pada ikatan kimia, sehingga panas pelarutan biasanya jauh lebih kecil daripada panas reaksi.

Panas Pelarutan Integral dan Differensial Panas pelarutan integral adalah panas yang diserap atau dilepas bila satu mol zat solute dilarutkan dalam jumlah tertentu solvent, sehingga membentuk larutan dengan konsentrasi tertentu. Sedangkan panas pelarutan differensial adalah panas yang menyertai pada penambahan satu mol solute ke dalam sejumlah larutan dengan konsentrasi tertentu, sampai penambahan solute tersebut tidak mempengaruhi larutan. Jika penambahan mol solute terjadi pada sejumlah tertentu larutan menghasilkan efek panas pada temperatur dan tekanan konstan. Panas pelarutan differensial tidak dapat ditentukan secara langsung, tetapi secara tidak langsung dari panas pelarutan dapat ditulis:
( ) ( )

....................(1)

Dimana d(H) = Hs, adalah perubahan entalpi untuk larutan n2 mol dalam n mol solvent. Pada T, P, dan n konstan, perubahan n2 dianggap 0. Karena n berbanding lurus terhadap konentrasi m (molal), pada T dan P konstan penambahan mol solute dalam larutan dengan konsentrasi m molal menimbulkan entalpi sebesar d(m.Hs) dan panas pelarutan differensial dapat dinyatakan dengan persamaan 2 :
( ) ( )

......(2)

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU Penentuan Tetapan Kalorimeter Tetapan kalorimeter adalah banyak kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu kalorimeter beserta isinya 10C. Salah satu cara kalibrasi yang dapat dilakukan adalah dengan memasukan sejumlah solute tertentu yang telah diketahui panas pelarutan ke dalam kalorimeter yang telah diisi solvent lalu perubahan suhu yang terjadi dicatat berdasarkan Asas Black dan dapat dinyatakan sebagai persamaan 3 atau 4 m. H = C. T..(3) ................(4) Dimana ; C = tetapan kalorimeter

m = jumlah mol solute H = panas pelarutan T = perubahan suhu yang terjadi

Penentuan Kadar Pelarutan Zat yang Akan Diselidiki Dalam penentuan ini diusahakan agar volume solvent sama dengan volume solvent yang akan dikalibrasi. Berdasarkan Asas Black maka panas pelarutan suatu zat di rumuskan sebagai berikut :

Dimana : H = panas pelarutan W = berat solute M = berat molekul T = suhu konstan 1- suhu konstan 2 T1 = suhu solute sebelum dilarutkan T2 = suhu akhir kalorimeter Cp = panas jenis solute

Efek Panas pada Proses Pencampuran Efek panas yang timbul pada proses pencampuran atau proses pelarutan dapat dinyatakan dengan entalpi. Reaksi kimia kebanyakan dilaksanakan pada tekanan sistem tetap yang sama dengan tekanan luar, sehingga didapat :

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU E = dQ - P.dV E2 - E1 = Q - P1.(V2 V1) E2 - E1 = Q - P.V2 + P.V1 Karena P1 = P2 = P maka : E2 - E1 = Q - P2.V2 + P1.V1 (E2 + P2.V2) = (E1 + P1.V1) + Q Karena E, P, dan V adalah fungsi keadaan maka E + PV juga merupakan fungsi keadaan. Fungsi ini disebut entalpi (H), dimana H = E + PV sehingga persamaan diatas menjadi : H2 H1 = Q H = Q H = H2 H1 Pencampuran dapat dilakukan dalam konsep entalpi : E = Q W1 = Q P.(V2-V1) ; P = tekanan sistem

H = H2 H1 = Q.P Saat substrat dicampur membentuk suatu larutan biasanya disertai efek panas dalam proses pencampuran pada tekanan tetap. Efek panas sesuai dengan perubahan entalpi total. Begitu juga dengan reaksi steady state yaitu perubahan entalpi kinetik dan potensial dapat diabaikan karena hal ini sudah umum dalam proses pencampuran dapat disamakan dengan efek panas.

Kapasitas Panas dan Enthalpi Kapasitas panas adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu zat (benda) sebesar jumlah tertentu (missal 1oC) pada tekanan tetap. Panas jenis adalah kapasitas bahan tiap massa. n.I = m.C

I = M.C Dimana : C = panas jenis M = berat molekul

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU m = massa n = jumlah mol Entalpi didefinisikan sebagai : H = U + PV H = H2-H1 = Q.P Dimana : H = Entalpi U = Enegi dalam Q = Panas yang diserap pada P konstan Jadi perubahan entalpi adalah panas yang diserap pada tekanan konstan, jadi harganya tergantung pada M untuk mencapai kondisi akhir.

Kegunaan Panas Pelarutan dalam Industri 1. Dapat panas bahan bakar yang semaksimal mungkin, misal suatu zat diketahui kelarutannya 4000oC maka bahan bakar yang memberi panas 4000oC, sehingga keperluan bahan bakar dapat ditekan semaksimal mungkin. 2. Dalam pembuatan reaktor kimia, bila panas pelarutannya diketahui dengan demikian perancangan reaktor disesuaikan dengan panas pelarutan zat, hal ini untuk menghindari kerusakan pada reaktor karena kondisi thermal tertentu dengan kelarutan reaktor tersebut. Data Kapasitas Panas (Cp) dan Panas Pelarutan (Hs) dari Beberapa Senyawa Beberapa data senyawa dengan kapasitas panas dan panas pelarutannya dapat dilihat pada Tabel 2.1 Tabel 2.1 Kapasitas Panas (Cp) dan Panas Pelarutan (Hs) Senyawa KCl MgSO4.7H2O MgCl2. 6H2O CuSO4.5H2O BaCl2.2H2O Kapasitas Panas (cal/mol K) 10,3+0,00376T 89 77,1 67,2 37,3 Panas Pelarutan (cal/mol) -4.404 -3.180 3.400 -2.850 -4.500

Sumber : Perry,R.H..1984.Chemical Engineering Hand Book

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU Tanda positif (+) pada data Hs menunjukkan bahwa reaksi bersifat eksotermis atau reaksi menghasilkan panas dari sistem ke lingkungan. Sedangkan tanda negatif (-) menunjukkan bahwa reaksi bersifat endotermis atau reaksi menyerap panas dari lingkungan ke sistem.

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU BAB III METODA PRAKTIKUM

III.1

Bahan dan Alat yang Digunakan Bahan 1. Aquades 2. Solute standar 3. Solute variabel

Alat 1. Thermometer 2. Gelas ukur 3. Kalorimeter 4. Beaker glass 5. Pipet tetes 6. Pipet volume 7. Kompor listrik

III.2

Gambar Alat Utama b b a Keterangan : a = Kalorimeter b = Thermometer

III. 3

Variabel Operasi 1. Variabel Tetap a. Solute standar W gram b. Aquades 2. Variabel Bebas a. Solute variabel W gram b. t = t menit

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU III.4 Cara Kerja Penentuan Tetapan Kalorimeter 1. Panaskan x ml aquades pada T = ToC. 2. Masukan ke kalorimeter lalu catat suhu tiap t menit sampai 3 konstan. 3. Panaskan lagi x ml aquades pada T = ToC. 4. Timbang W gram solute standar yang telah diketahui panas pelarutannya. 5. Masukkan aquades yang sudah dipanaskan ke kalorimeter beserta solute standar yang telah ditimbang. 6. Mencatat suhunya tiap t menit sampai 3 konstan.

Penentuan Panas Pelarutan Solute Variabel 1. Panaskan x ml aquades T = ToC 2. Timbang W gram solute variabel. 3. Masukan aquades yang sudah dipanaskan ke kalorimeter beserta variabel berubahnya. 4. Mencatat suhunya tiap t menit sampai 3 konstan.

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU DAFTAR PUSTAKA

Badger,W.Z. and Bachero,J.F..Introduction to Chemial Engineering.International Student edition.Mc Graw Hill Book Co.Kogakusha.Tokyo. Daniel F.1962.Experimental Physical Chemistry.6th ed.International Student edition.Mc Graw Hill Book Co.Inc New York.Kogakusha Co.Ltd.Tokyo. Perry,R.H..1984.Chemical Engineering Hand Book.6th ed. Mc Graw Hill Book Co.Kogakusha Co.Ltd.Tokyo. R.A. Day Jr, A.L. Underwood.1983.Analisa Kimia Kuantitatif.edisi 4 diterjemahkan Drs. R.Gendon.Erlangga.Jakarta.

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Larutan jenuh adalah larutan yang kandungan solutenya sudah mencapai maksimal sehingga penambahan solute lebih lanjut tidak dapat larut lagi. Konsentrasi solute dalam larutan jenuh disebut kelarutan. Untuk solute padat maka larutan jenuhnya terjadi keseimbangan dimana molekul fase padat meninggalkan fasenya dan masuk ke fase cairan dengan kecepatan sama dengan molekul-molekul ion dari fase cair yang mengkristal menjadi fase padat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu suhu, jika suhu dinaikkan, kelarutan menjadi semakin besar. Besar partikel, semakin besar luas permukaan, partikel akan mudah larut. Pengadukan, dengan pengadukan, tumbukan antara molekul-molekul solvent makin cepat sehingga semakin cepat larut atau kelarutannya besar. Tekanan dan volume, jika tekanan diperbesar atau volume diperkecil, gerakan partikel semakin cepat, hal ini berpengaruh besar terhadap fase gas sedang pada zat cair hal ini tidak berpengaruh. Beberapa contoh kegunaan metode kelarutan sebagai fungsi suhu ini dalam industri antara lain, pada pembuatan reaktor kimia. Selain itu kegunaan lainnya adalah pada proses pemisahan dengan cara pengkristalan. Dan digunakan juga sebagai dasar proses pembuatan granal-granal pada industri baja. Sebagai seorang sarjana teknik kimia yang pada umumnya bekerja di bidang industri patutlah mengetahui dan memahami kelarutan sebagai fungsi suhu. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa banyak manfaat yang didapatkan dengan mengetahui kelarutan suatu zat. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa teknik kimia praktikum panas pelarutan ini menjadi sangat penting untuk dilakukan.

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU I.2 Tujuan Praktikum 1. Mengetahui kelarutan suatu zat 2. Mengetahui pengaruh suhu terhadap kecepatan kelarutan

I.3

Manfaat Praktikum 1. Praktikan mengetahui kelarutan dari suatu zat 2. Praktikan mengetahui suhu terhadap kecepatan kelarutan

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jika kelarutan suatu sistem kimia dalam keseimbangan dengan padatan, cairan atau gas yang lain pada suhu tertentu maka larutan disebut jenuh. Larutan jenuh adalah larutan yang kandungan solutenya sudah mencapai maksimal sehingga penambahan solute lebih lanjut tidak dapat larut lagi. Konsentrasi solute dalam larutan jenuh disebut kelarutan. Untuk solute padat maka larutan jenuhnya terjadi keseimbangan dimana molekul fase padat meninggalkan fasenya dan masuk ke fase cairan dengan kecepatan sama dengan molekul-molekul ion dari fase cair yang mengkristal menjadi fase padat.

Pembuktian Rumus Hubungan antara keseimbangan tetap dan temperature subsolute atau kelarutan dengan temperatur dirumuskan Vant Hoff :

Dimana : H = panas pelarutan zat per mol (kal/g mol) R T S = konstanta gas ideal (1,987 kal/g mol K) = suhu (K) = kelarutan per 1000 gr solute

Penurunan rumus Vant Hoff :

Dimana :

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU

Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan 1. Suhu

Pada reaksi endoterm H (+) maka

berharga (-) sehingga

. Dengan

demikian jika suhu dinaikkan, pangkat dari 10 menjadi kecil sehingga S menjadi semakin besar. Dan pada reaksi eksoterm H (-) maka suhu diperbesar maka S semakin besar dan sebaliknya. 2. Besar Partikel Semakin besar luas permukaan, partikel akan mudah larut. 3. Pengadukan Dengan pengadukan, tumbukan antara molekul-molekul solvent makin cepat sehingga semakin cepat larut (kelarutannya besar). 4. Tekanan dan Volume Jika tekanan diperbesar atau volume diperkecil, gerakan partikel semakin cepat.Hal ini berpengaruh besar terhadap fase gas sedang pada zat cair hal ini tidak berpengaruh. berharga (+). Juga apabila

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU BAB III METODA PRAKTIKUM

III.1

Bahan dan Alat yang Digunakan Bahan 1. Asam boraks 2. NaOH 3. Aquades

Alat 1. Tabung reaksi besar 2. Erlenmeyer 3. Thermometer 4. Buret, statif, klem 5. Beaker glass 6. Pipet tetes 7. Corong 8. Pengaduk 9. Toples kaca

III.2

Gambar Alat d c Keterangan: a a : Toples kaca b : Es batu b c : Tabung reaksi d : Thermometer

III.3

Variabel Operasi 1. Variabel Tetap Volume asam boraks untuk dititrasi = x ml

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU 2. Variabel Bebas T Asam boraks = T oC

III.4

Cara Kerja 1. Membuat larutan asam boraks jenuh ToC x ml 2. Larutan asam boraks jenuh dimasukkan ke dalam tabung reaksi besar. 3. Tabung reaksi dimasukkan dalam toples kaca berisi es batu dan garam lalu masukkan thermometer ke dalam tabung reaksi. 4. Larutan jenuh diambil x ml tiap penurunan suhu ToC. 5. Titrasi dengan NaOH n N, indikator PP 3 tetes. 6. Mencatat kebutuhan NaOH 7. Tabung reaksi dikeluarkan pada saat suhu terendah lalu diambil x ml lagi setiap kenaikan suhu ToC. 8. Titrasi dengan NaOH n N, indikator PP 3 tetes. 9. Mencatat kebutuhan NaOH 10. Membuat grafik log S vs 1/T 11. Membuat grafik V NaOH vs T yang terjadi karena kondisi suhu dan volume titran

PANAS PELARUTAN DAN KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI SUHU DAFTAR PUSTAKA DANIEL f . 1962. Experimental Phisycal Chemistry. 6thed .International Student Edition. Mc Graw Hill Book Co, Inc. New York. Kogakusha Co. Ltd. Tokyo. RA. Day Jr, AL Underwood. 1983. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi 4 diterjemahkan Drs. R. Soendon.Erlangga. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai