Anda di halaman 1dari 45

Pendekatan Perencaan Transportasi

Pendekatan Perencaan Transportasi Mata Kuliah: Perencanaan Transportasi Fakultas Teknik - Universitas Sebelas Maret Surakarta - Indonesia

Mata Kuliah: Perencanaan Transportasi

Fakultas Teknik - Universitas Sebelas Maret Surakarta - Indonesia

Pendekatan Perencaan Transportasi Mata Kuliah: Perencanaan Transportasi Fakultas Teknik - Universitas Sebelas Maret Surakarta - Indonesia

Tujuan Dasar Perencanaan transportasi :

Untuk memperkirakan jumlah dan lokasi kebutuhan akan transportasi pada masa yang akan datang (tahun rencana), untuk

Tujuan Dasar Perencanaan transportasi : Untuk memperkirakan jumlah dan lokasi kebutuhan akan transportasi pada masa yang

kepentingan kebijaksanaan investasi perencanaan transportasi.

Umur Perencanaan

o

Jangka pendek

  • maksimum 5 tahun; biasanya berupa kajian manajemen

transportasi yang lebih menekankan dampak manajemen lalu

o

lintas terhadap perubahan rute suatu moda transportasi Jangka menengah

  • 10 s/d 20 tahun (kajian kuliah ini); biasanya digunakan untuk

meramalkan arus lalulintas yang nantinya menjadi dasar

perencanaan investasi untuk suatu fasilitas transportasi yang baru.

o

Jangka panjang

  • lebih dari 20 tahun; digunakan untuk perencanaan strategi pembangunan kota jangka panjang.

PENDEKATAN SISTEM UNTUK PERENCANAAN TRANSPORTASI

PENDEKATAN SISTEM UNTUK PERENCANAAN TRANSPORTASI Pendekatan sistem adalah suatu pendekatan yang dilakukan secara komprehensif atau menyeluruh

Pendekatan sistem adalah suatu pendekatan yang dilakukan secara komprehensif atau menyeluruh dengan menganalisis seluruh faktor yang berhubungan atau berkaitan dengan permasalahan yang ada.

Definisi Sistem

SISTEM adalah gabungan dari beberapa komponen atau objek

yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Beberapa komponen

penting saling berhubungan dalam proses perencanaan transportasi; proses perencanaan ini merupakan proses berdaur (cyclic) dan tidak pernah berhenti; sehingga perubahan pada

suatu komponen mempengaruhi komponen lainnya.

Gbr. Proses Perencanaan

Sistem Transportasi Makro

Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan
Sistem Kegiatan
Sistem Jaringan
Sistem Pergerakan
 
 
Sistem Transportasi Makro Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan Sistem Kelembagaan Gbr. Sistem Transportasi Makro
Sistem Transportasi Makro Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan Sistem Kelembagaan Gbr. Sistem Transportasi Makro
Sistem Transportasi Makro Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan Sistem Kelembagaan Gbr. Sistem Transportasi Makro
Sistem Transportasi Makro Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan Sistem Kelembagaan Gbr. Sistem Transportasi Makro
Sistem Transportasi Makro Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan Sistem Kelembagaan Gbr. Sistem Transportasi Makro
Sistem Transportasi Makro Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan Sistem Kelembagaan Gbr. Sistem Transportasi Makro
Sistem Transportasi Makro Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan Sistem Kelembagaan Gbr. Sistem Transportasi Makro
Sistem Transportasi Makro Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan Sistem Kelembagaan Gbr. Sistem Transportasi Makro
Sistem Transportasi Makro Sistem Kegiatan Sistem Jaringan Sistem Pergerakan Sistem Kelembagaan Gbr. Sistem Transportasi Makro

Sistem Kelembagaan

Sistem Tata guna lahan - transportasi

Pergerakan arus manusia, kendaraan, dan barang mengakibatkan bergagai macam interkasi. Hampir semua interkasi memerlukan perjalanan, dan menghasilkan pergerakan arus lalu lintas. Sasaran umum perencanaan

transportasi adalah membuat interaksi tersebut menjadi semudah dan seefisien

mungkin dengan menetapkan kebijakan tentang hal berikut:

Sistem kegiatan

Rencana tataguna lahan yang baik (lokasi sekolah, kantor, perumahan, dll)

dapat mengurangi kebutuhan akan pergerakan perjalanan yang panjang

sehingga membuat interaksi menjadi lebih mudah.

Sistem jaringan

Dapat dilakukan dengan meningatkan kapasitas pelayanan prasarana yang

ada: pelebaran jalan, menambah jaringan jalan baru. Sistem pergerakan.

Dapat dilakukan dengan mengatur teknik dan manajemen lalu lintas (jangka pendek), fasilitas angkutan umum yang lebih baik (jangkan pendek

dan menengah), atau pembangunan jalan baru (jangka panjang).

AKSESIBILITAS DAN MOBILITAS

o

AKSESIBILTAS

  • adalah konsep yang menggabungkan pengaturan tata guna lahan secara geografis dengan sistem jaringan transportasi yang menghubungkannya.

  • dengan perkataan lain aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan, bagaimana lokasi tataguna lahan berintekasi satu dengan yang lain dan bagaimana mudah dan susahnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi.

   

Aksesibilitas

Aksesibilitas

JARAK

JAUH

Rendah

Menengah

 

Aksesibilitas

Aksesibilitas

DEKAT

Menengah

Tinggi

KONDISI PRASARANA

SANGAT JELEK

SANGAT BAIK

Gbr. Klasifikasi Tingkat Aksesibilitas

o Mobilitas

  • adalah suatu ukuran kemampuan seseorang untuk bergerak yang biasanya dinyatakan dengan kemampuannya membayar biaya transportasi

  • Jika aksesibilitas ke suatu tempat tinggi, maka mobilitas orang ke tempat tersebut juga tinggi selama biaya aksesibilitas ke tempat tersebut mampu dipenuhi.

o Aksesibiktas dalam model perkotaan

  • Model yang banyak dikenal dalam penentuan lokasi tataguna lahan di daerah perkotaan diantaranya adalah MODEL LOWRY. Asumsi dasar model ini adalah lokasi industri utama di daerah perkotaan harus ditentukan terlebih dahulu. Setelah itu, jumlah keluarga dan lokasinya diperkirakan berdasarkan aksesibilitas lokasi industri tersebut.

Pengukuran Aksesibiltas di daerah perkotaan

Black dan Conroy (1977) membuat ringkasan cara mengukur aksesibilitas di dalam daerah perkotaan.

  • Daerah perkotaan dibagi menjadi N zona dan semua aktivitas terjadi di pusat zona.

  • Aktivitas diberi notasi A.

  • Aksesibiltas suatu zona adalah ukuran intensitas di lokasi tataguna lahan (misal: jumlah lapangan kerja) pada setiap zona di dalam kota tersebut dan kemudahan untuk mencapai zona tersebut melalui sistem jaringan transportasi.

Ukuran grafis aksesibilitas

Dibuat sebaran frekuensi yang menggambarkan jumlah kesempatan yang tersedia dalam jarak, waktu dan biaya tertentu dari zona i.

o Ukuran fisik aksesibilitas

Hansen (1959) ”How Accebility Shapes Land Use”

K i

A j

t ij

o Ukuran fisik aksesibilitas Hansen (1959) ”How Accebility Shapes Land Use” K A t = aksesibilitas

= aksesibilitas zona i ke zona lainnya (j) = ukuran aktivitas pada setiap zona j = ukuran waktu atau biaya dari zona asal i ke zona tujuan j.

KONSEP PERENCANAAN TRANSPORTASI

Konsep perencanaan transportasi yang paling populer adalah : Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap (Four Stages Transport Model), yang terdiri dari:

o

Bangkitan dan tarikan pergerakan (Trip Generation)

o

Distribusi pergerakan lalu lintas (Trip Distribution)

o

Pemilihan moda (Modal choice/modal split)

o

Pembebanan lalu lintas (Trip assignment)

Gbr. Model Perencanaan Empat Tahap

Gbr. Model Perencanaan Empat Tahap

Bangkitan dan tarikan pergerakan (Trip Generation)

Bangkitan dan tarikan pergerakan (Trip Generation) Adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari

Adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tataguna lahan dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu zona atau tataguna lahan.

Bangkitan lalu lintas ini mencakup:

Lalu lintas yang meninggalkan suatu lokasi (trip production) Lalu lintas yang menuju ke suatu lokasi (trip attraction)

i
i
j
j

Bangkitan Pergerakan (Trip Production)

Tarikan Pergerakan (Trip Attraction)

Bangkitan lalu lintas tergantung dari 2 aspek tataguna lahan:

o

Tipe tataguna lahan

Tipe tataguna lahan yang berbeda (pemukiman, pendidikan, dll) mempunyai karakteristik bangkitan yang berbeda:

  • jumlah arus lalu lintas

  • jenis lalu lintas (pejalan kaki, truk, mobil)

  • waktu yang berbeda (contoh: kantor menghasilkan lalu lintas pada pagi dan sore).

o

Jumlah aktivitas (dan intensitas) pada tataguna lahan tersebut

Semakin tinggi tingkat penggunaan sebidang tanah, semakin tinggi lalu lintas yang dihasilkan. Salah satu ukuran intensitas aktivitas sebidang tanah adalah kepadatannya.

Distribusi pergerakan lalu lintas (Trip Distribution)

Adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan sebaran pergerakan yang meninggalkan suatu zona atau yang menuju suatu zona.

T ij i j
T ij
i
j

Gbr. Trip Distribution

(untuk setiap pasang zona (ij), berapa arus dari zona i ke zona j)

Distribusi pergerakan dapat direpresentasikan dalam bentuk garis keinginan (desire line) atau dalam bentuk Matriks Asal Tujuan, MAT (origin-destination matrix/O-D matrix).

Gb. Garis Keinginan Ketebalan garis= Arus (flow) Pola distribusi lalu lintas antara zona asal dan tujuan

Gb. Garis Keinginan

Gb. Garis Keinginan Ketebalan garis= Arus (flow) Pola distribusi lalu lintas antara zona asal dan tujuan

Ketebalan garis= Arus (flow)

Pola distribusi lalu lintas antara zona asal dan tujuan adalah hasil dari

dua hal yang terjadi secara bersamaan yaitu:

o

Lokasi dan intensitas tataguna lahan yang akan menghasilkan lalu lintas

o

Pemisahan ruang (Spatial separation), interaksi antara 2 buah tataguna lahan akan menghasilkan pergerakan.

Postulat tentang tataguna lahan

o

Intensitas tataguna lahan

Makin tinggi tingkat aktivitas suatu tataguna tanah, makin tinggi kemampuannya menarik lalu lintas.

Contoh: Supermarket menarik lalu lintas lebih banyak dibandingkan rumah

sakit (untuk luas yang sama).

o

Spatial separation

Jarak antara dua buah tataguna lahan merupakan batasan dari adanya pergerakan. Jarak yang jauh atau biaya yang besar membuat pergerakan antar dua buah zona menjadi lebih sulit.

o

Spatial separation dan intensitas tataguna lahan

Daya tarik suatu tataguna lahan berkurang dengan meningkatnya jarak (efek spatial separation). Tataguna tanah cenderung menarik lalu lintas dari tempat yang lebih dekat dibandingkan dengan tempat yang jauh.

  • Kesimpulan :

Jumlah lalu lintas antara dua buah tataguna lahan tergantung dari intensitas kedua tataguna lahan dan spatial separation (jarak, waktu, dan biaya).

JARAK JAUH Interaksi dapat diabaikan Interaksi rendah Interaksi Menengah DEKAT Interaksi rendah Interaksi menengah Interaksi Sangat

JARAK

JAUH

Interaksi dapat diabaikan

Interaksi rendah

Interaksi Menengah

DEKAT

Interaksi rendah

Interaksi menengah

Interaksi Sangat Tinggi

Intensitas Tataguna lahan antar zona

Kecil-Kecil

Kecil-Besar

Besar-Besar

Gb. Interaksi Antar Dua Tataguna Lahan

Pemilihan moda (Modal choice/modal split)

o

Jika terjadi interaksi antara dua tataguna lahan, seseorang akan memutuskan bagaimana interaksi tersebut dapat dilakukan.

o

Biasanya interaksi tersebut mengharuskan terjadinya perjalanan,

dengan menggunakan moda transportasi

o

Dalam kasus ini keputusan harus diambil dalam hal pemilihan moda, yakni:

  • Pilihan pertama biasanya antara jalan kaki atau menggunakan kendaraan.

  • Jika menggunakan kendaraan, apakah kendaraan pribadi atau angkutan umum

  • Jika menggunakan kendaraan pribadi , apakah menggunakan : sepeda, sepeda motor, atau mobil,

  • Jika menggunakan angkutan umum, jenis apa yang akan digunakan (angkot, bus, kereta api, pesawat, dll).

Proses pemilihan moda

Proses pemilihan moda Pilihan terhadap Moda Transportasi sangat tergantung pada : o Tingkat ekonomi ( income

Pilihan terhadap Moda Transportasi sangat tergantung pada :

o Tingkat ekonomi (income) o Biaya transport

i j
i
j
Proses pemilihan moda Pilihan terhadap Moda Transportasi sangat tergantung pada : o Tingkat ekonomi ( income

Pembebanan lalu lintas (Trip assignment)

i j
i
j

Kondisi Pemilihan Rute :

o Kendaraan pribadi :

bebas memilih rute (choice)

o Kendaraan umum

:

rute sudah tertentu (captive)

Pemilihan Rute tergantung pada :

  • Alternatif jarak terpendek

  • Waktu tercepat

  • Biaya termurah

Diasumsikan bahwa :

setiap pemakai jalan mempunyai informasi yg cukup tentang kemacetan, kondisi jalan, jarak dll, sehingga mereka dapat menentukan rute terbaik

Arus Lalu Lintas Dinamis

o

Arus lalu lintas berinteraksi dengan sistem jaringan transportasi, jika arus lalu lintas meningkat, waktu tempuh pasti akan bertambah karena kecepatan menurun.

o

Arus maksimum yang dapat melewati suatu ruas jalan biasa disebut

kapasitas ruas jalan tersebut.

o

Arus maksimum yang dapat melewati suatu titik (biasanya pada persimpangan dengan lampu lalu lintas biasa) disebut arus jenuh.

o

Highway Capacity Manual mendefinisikan kapasitas jalan sebagai

“jumlah kendaraan maksimum yang dapat bergerak dalam periode

waktu tertentu.

o

Kapasitas ruas jalan biasanya dinyatakan dengan kendaraan (atau dalam Satuan Mobil Penumpang/SMP per jam).

o

Hubungan antara arus dan waktu tempuh tidaklah linear. (lihat gambar).

Waktu Tempuh
Waktu Tempuh

Volume per kapasitas

Gb. Hubungan antara arus dan waktu tempuh

PEMODELAN SISTEM (SYSTEM MODELING)

Apakah model itu? Model Representasi realita

Jenis-Jenis Model :

o Model Fisik

:

miniatur bangunan sipil, wayang, dll

o Model Matematis

:

model fisika, model ekonomi, model transport

o Model Peta dan Diagram

Bagaimana sifat model yg baik? o Mudah dipahami o Informatif o Sederhana

Contoh Model :

Contoh Model : Asumsi contoh model : 1. Gaya tarik-menarik antara 2 buah benda berbanding lurus

Asumsi contoh model :

Contoh Model : Asumsi contoh model : 1. Gaya tarik-menarik antara 2 buah benda berbanding lurus
  • 1. Gaya tarik-menarik antara 2 buah benda berbanding lurus dengan massa benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak

  • 2. Gaya merupakan fungsi massa dan jarak

  • 3. Pengaruh yang lain diabaikan

Dalam kenyataannya :

pada saat membuat model, dilakukan suatu asumsi, pendekatan,

penyederhanaan, dll., agar mudah dalam pembuatan, sehingga sebenarnya model tidak mungkin bisa menggambarkan realita sebenarnya (100%), tetapi hanya berupa pendekatan terhadap suatu realita.

REPRESENTASI JARINGAN & TATA GUNA TANAH

Dalam Pemodelan transportasi dipakai cara :

o

Model Grafis

Model ini penting karena masalah pergerakan menyangkut ruang 2 atau 3 dimensi sehingga perlu dituangkan dalam gambar.

o

Model Matematis/kuantitatif

Model ini dipakai karena ada kebutuhan untuk menerangkan cara kerja sistem dan hubungan antar sistem secara terukur, sehingga dengan persamaan matematis atau statistik, besaran yang dicari (misalnya arus) dapat diketahui.

Secara Grafis Sistem Kegiatan sering digambarkan sbb :

Secara Grafis Sistem Kegiatan sering digambarkan sbb : o Zona Adalah satu kesatuan yang memiliki keseragaman

o

Zona

Adalah satu kesatuan yang memiliki keseragaman tata guna lahan

o Cordon Line

Adalah batas daerah tempat studi dikonsentrasikan, sehingga daerah di luar batas ini dianggap hanya mempunyai konstribusi yang kecil terhadap pergerakan di daerah studi

o Pusat Zona/Centroid Adalah pusat kegiatan dari tata guna lahan yang direpresentasikan sebagai

suatu titik dimana dianggap pergerakan dimulai dan diakhiri.

Pembagian Zona

o Zona internal, yakni zona yg terletak pada daerah studi o Zona eksternal, yakni zona yg terletak diluar daerah studi

Cara membagi zona

o

Batas zona dapat berupa batas alami seperti sungai atau batas wilayah

administrasi (agar mudah), seperti kelurahan atau kecamatan

o

Tipe tata guna lahan untuk masing-masing zona harus dibuat sehomogin mungkin (misal Perumahan, industri dll), namun demikian hal seperti ini sangat sulit dilakukan

Mix Land Use

Pada suatu daerah dengan kondisi yg sangat heterogen, cara terbaik untuk mendefinisikan land use adalah :

o

membuat zona-zona yg lebih kecil

o

mengambil Tataguna lahan yang paling dominan

  • Semakin ke arah pusat kota, mix land use semakin tinggi sehingga semakin ke pusat kota, zona dibuat semakin kecil

SISTEM JARINGAN TRANSPORTASI

Secara grafis, sistem jaringan transportasi dapat digambarkan sebagai ruas dan noda(simpul):

SISTEM JARINGAN TRANSPORTASI Secara grafis, sistem jaringan transportasi dapat digambarkan sebagai ruas dan noda(simpul): o Ruas

o

Ruas bisa berupa potongan jalan raya, kereta api dll

o

Noda/Simpul dapat berupa persimpangan, stasiun, terminal dll

o

Setiap ruas dan noda diberi nomor

Tipe pergerakan : Gb. Sistem Jaringan Transportasi o Intra zona o Zona internal ke Zona internal

Tipe pergerakan :

Gb. Sistem Jaringan Transportasi

o Intra zona o Zona internal ke Zona internal o Zona internal ke Zona eksternal o Zona eksternal ke Zona eksternal

MODEL INTERAKSI TATA GUNA LAHAN DAN SISTEM TRANSPORTASI

(Simple Land Use Model of Transport System)

Tujuan pembentukan model

o

Untuk mengetahui bagaimana cara kerja sistem transportasi

o

Untuk memprediksi perubahan arus lalu lintas yang akan terjadi

yang disebabkan oleh perubahan Tataguna Lahan atau Sistem Transportasi

Sistem notasi persamaan model

Variabel pokok yg dipakai :

o

L

: Tata Guna Lahan/Land Use

o

T

: Sistem transportasi (jaringan & karakteristik operasinya)

o

Q

: Lalu lintas/ Traffic

  • Peubah bebas

:

Tata guna lahan, Sistem prasarana transportasi

  • Peubah tak bebas

:

Arus Lalu lintas

Secara konvensional, setiap zoana asal disebut zona i dan dan setiap zona tujuan disebut zona j

Notasi-notasi persamaan model

o L oi o L dj o Q pi o Q aj

o Q ij o Q k

: tataguna lahan di zona asal (origin) i : tataguna lahan di zona tujuan (destination) j : bangkitan (production) lalu lintas dari zona asal i : tarikan (attraction) lalul intas menuju zona tujuan j : arus lalu lintas dari zona asal i ke zona tujuan j : arus lalu lintas pada rute k

Komponen Model o Aksesibilitas

Aksesibilitas (Notasi A) satu zona i terhadap zona j, berbanding lurus

dengan tata guna lahan zona j dan berbanding terbalik dengan friction/biaya transportasi (jarak, waktu) dari zona i ke zona j, atau jika ditulis dalam bentuk rumus :

Secara konvensional, setiap zoana asal disebut zona i dan dan setiap zona tujuan disebut zona j

o

Bangkitan pergerakan (Traffic Generation)

Bangkitan pergerakan adalah fungsi tata guna lahan. Jumlah bangkitan pergerakan berbanding lurus dengan tipe dan intensitas tataguna lahan di zona tersebut.

Pergerakan yang berasal dari zona i adalah:

Pergerakan yang tertarik ke zona j adalah:

o Bangkitan pergerakan ( Traffic Generation ) Bangkitan pergerakan adalah fungsi tata guna lahan. Jumlah bangkitan
o Bangkitan pergerakan ( Traffic Generation ) Bangkitan pergerakan adalah fungsi tata guna lahan. Jumlah bangkitan

o

Distribusi Pergerakan

Traffic Distribution

Distribusi lalu lintas antara 2 buah zona tergantung dari tata guna lahan pada setiap zona dan berbanding terbalik dengan biaya transportasi/ friction antara keduanya

o Bangkitan pergerakan ( Traffic Generation ) Bangkitan pergerakan adalah fungsi tata guna lahan. Jumlah bangkitan
o Bangkitan pergerakan ( Traffic Generation ) Bangkitan pergerakan adalah fungsi tata guna lahan. Jumlah bangkitan

o Pemilihan moda

Pemilihan moda adalah fungsi dari biaya transportasi tersebut (dengan perbandingan dari moda lainnya).Oleh sebab itu:

o Pemilihan moda Pemilihan moda adalah fungsi dari biaya transportasi tersebut (dengan perbandingan dari moda lainnya).Oleh

m : menujukkan moda tertentu Moda angkutan 1 akan lebih dipilih daripada moda 2, jika :

T ij(m1) < T ij(m2)

o Pemilihan Rute

Pada pemilihan rute, situasinya akan sama dengan pemilihan moda, yakni pemilihan rute adalah fungsi dari friction/biaya transportasi dari rute tersebut :

o Pemilihan moda Pemilihan moda adalah fungsi dari biaya transportasi tersebut (dengan perbandingan dari moda lainnya).Oleh

r : menunjukkan rute tertentu

Jika ada tiga rute (1,2 dan 3), rute 2 akan dipilih jika:

o Pemilihan moda Pemilihan moda adalah fungsi dari biaya transportasi tersebut (dengan perbandingan dari moda lainnya).Oleh

dan

o Pemilihan moda Pemilihan moda adalah fungsi dari biaya transportasi tersebut (dengan perbandingan dari moda lainnya).Oleh

PRINSIP PERTAMA WARDROP

Pada tahap pemilihan rute, diasumsikan bahwa :

o

Lalu lintas yang bergerak antar zona dalam suatu daerah studi akan mengatur/membagi sendiri lalu lintas ke seluruh rute dalam jaringan jalan yang ada

o

Dengan demikian mala waktu tempuh pada seluruh rute sama,

sehingga tidak ada satu orangpun dapat mencari rute yang lebih cepat.

o

Konsep ini dikenal dengan PRINSIP PERTAMA WARDROP; jika kondisi tersebut tercapai dikatakan relah mencapai kondisi keseimbangan (equilibrium).

Lalulintas pada jaringan jalan

Misal digunakan persamaan Davidson:

Lalulintas pada jaringan jalan Misal digunakan persamaan Davidson: dimana: o T o T o Q o

dimana:

o T Q o T 0 o Q o C o a

: waktu tempuh pada saat arus Q

: waktu tempuh pada saat arus bebas (nol) : arus lalu lintas (kendaraan/jam)

:

Kapasitas jaringan jalan

: parameter tingkat pelayanan

Contoh soal:

Interaksi tataguna lahan Transportasi (landuse transport interaction).

Dua buah zona yakni zona 1 dan zona 2, zona 1 adalah perumahan dengan populasi 30.000 orang dan zona 2 adalah zona perkantoran dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia sebesar 10.000 orang. Terdapat dua jalan (rute Adan rute B) yang menghubungi kedua zona ini. Karakteristik dari rute A dan rute B adalah sebagai berikut:

Karakteriktik rute

 

Rute

A

B

Panjang (km)

16

19

T 0 (menit)

24

38

Tingkat pelayanan (a)

0,3

1,0

Kapasitas (kend/jam)

3000

2000

o

Persamaan Davidson yang digunakan

o Persamaan Davidson yang digunakan o Asumsi :  Dianggap tercapai kondisi equilibrium  Model Trip

o

Asumsi:

  • Dianggap tercapai kondisi equilibrium

  • Model Trip generation; dan

  • Model distribusi pergerakan

  • 1 kendaraan = 1 orang

o

Ditanyakan:

  • Hitung dan juga gambarkan dengan jelas

  • waktu tempuh dan total arus lalulintas diantara kedua zona tersebut

  • Besar arus lalu lintas pada masing-masing rute

SOLUSI:

  • Dapat diselesaikan dengan dua cara: grafis dan matematis

    • a. cara grafis Q 1 = 0,4 . L 1 = 0,4 x 30.000 = 12.000 kend/jam Q 2 = 1,0 . L 2 = 1,0 x 10.000 = 10.000 kend/jam

SOLUSI :  Dapat diselesaikan dengan dua cara: grafis dan matematis a. cara grafis Q =
SOLUSI :  Dapat diselesaikan dengan dua cara: grafis dan matematis a. cara grafis Q =
SOLUSI :  Dapat diselesaikan dengan dua cara: grafis dan matematis a. cara grafis Q =
Q (Kend/Jam) Waktu Tempuh (menit)
Q (Kend/Jam)
Waktu Tempuh
(menit)

Dari grafik diatas diperoleh:

  • : 2610 kend/jam;

Q 12

  • : 2260 kend/jam;

Q

A

Q B

: 350 kend/jam;

  • Waktu tempu : 46 menit

  • b. Cara Matematis Untuk penyederhanaan satuan dinyatakan dalam ribuan, sehingga:

b. Cara Matematis Untuk penyederhanaan satuan dinyatakan dalam ribuan, sehingga: Atau
b. Cara Matematis Untuk penyederhanaan satuan dinyatakan dalam ribuan, sehingga: Atau
b. Cara Matematis Untuk penyederhanaan satuan dinyatakan dalam ribuan, sehingga: Atau
b. Cara Matematis Untuk penyederhanaan satuan dinyatakan dalam ribuan, sehingga: Atau

Atau

b. Cara Matematis Untuk penyederhanaan satuan dinyatakan dalam ribuan, sehingga: Atau

Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi:

Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Atau Karena Maka : Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Q =
Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Atau Karena Maka : Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Q =
Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Atau Karena Maka : Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Q =
Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Atau Karena Maka : Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Q =

Atau

Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Atau Karena Maka : Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Q =

Karena

Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Atau Karena Maka : Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Q =

Maka :

Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Atau Karena Maka : Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Q =

Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi:

Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Atau Karena Maka : Persamaan diatas dapat diselesaikan menjadi: Q =

Q A = 2,261 (solusi yg mungkin) Q A = 11,69 (solusi yg tidak mungkin)

Karena Q A diketahui, maka Q B dapat diketahui

Karena Q diketahui, maka Q dapat diketahui Dengan Q dan Q diketahui; maka T dan T

Dengan Q A dan Q B diketahui; maka T Q(A) dan T Q(B) dapat dicari.

Karena Q diketahui, maka Q dapat diketahui Dengan Q dan Q diketahui; maka T dan T
Karena Q diketahui, maka Q dapat diketahui Dengan Q dan Q diketahui; maka T dan T
Karena Q diketahui, maka Q dapat diketahui Dengan Q dan Q diketahui; maka T dan T
Karena Q diketahui, maka Q dapat diketahui Dengan Q dan Q diketahui; maka T dan T

Kesimpulan:

Q A

= 2261 kend/jam

Q 12 = Q A + Q B

= 2608 kend/jam

Q B

= 347 kend/jam

Waktu tempuh = 46 menit

Kasus: Bila ada perubahan tataguna lahan transport planning

  • Jika pada perencanaan mendatang diasumsikan :

o

Terjadi pertumbuhan pada kedua zona, sedangkan karakteristik

o

jaringan transportasi tetap. Zona 1 diharapkan dapat mengakomodir 40.000 penduduk

o

sedangkan zona 2 diharapkan mampu memberikan lapangan

pekerjaan sebanyak 12.000;

tentukan arus pada masing-masing rute dan waktu tempuh dari

zona 1 ke zona 2.

SOLUSI:

Q 1 = 0,4 . L 1 = 0,4 x 40.000 = 16.000 kend/jam

Q 2 = 1,0 . L 2 = 1,0 x 12.000 = 12.000 kend/jam

Kasus: Bila ada perubahan tataguna lahan  transport planning  Jika pada perencanaan mendatang diasumsikan :

Dengan cara grafis diperoleh:

o

o

o

o

Q

A

Q

B

= 2500 kend/jam = 725 kend/jam

Q 12 = Q A + Q B

= 3225 kend/jam

Waktu tempuh = 60 menit

Jika pada kondisi di atas dibuat rute baru (rute C), dengan karakteristik sebagai berikut:

o Kapasitas

:

4.000 kend/jam

o Tingkat pelayanan

:

0,05

o zero-flow travel time

:

18 menit

o panjang

:

24 km

Tentukan : Q A , Q B, Q C , dan T 12

Q (Kend/Jam) Waktu Tempuh (menit)
Q (Kend/Jam)
Waktu Tempuh
(menit)

o Q

A

o Q

B

o Q

C

= 1780 kend/jam = 0 kend/jam

= 3790 kend/jam

o

Q 12 = Q A + Q B

= 5570 kend/jam

o Waktu tempuh = 34,5 menit