Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

PENGERTIAN
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang
merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga
diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan
segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan
menyeluruh dengan segala hubungan.

Ciri-ciri berfikir filosfi :

1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.

2. Berfikir secara sistematis.

3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan

4. Menyeluruh.

Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :

- Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh


Metafisika

- Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh


Epistemologi.

- Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.

Terdapat tiga persoalan umum yang disebut filsafat.

(1) Metafisika (Metaphysics)

- Istilah lebih generik adalah “ontology” yang berkenaan dengan hakikat


realitas (what is), sedangkan metafisika berkenaan dengan hakikat
eksistensi (what it means “to be”). Pada konteks ini keduanya dipakai

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 1


saling menggantikan (interchangeably).

- Metafisika bisa diartikan sebagai the theory of reality. Suatu upaya


filosofis untuk memahami karakteristik mendasar atau esensial dari alam
semesta dalam suatu simpul yang sederhana namun serba mencakup.

- Secara sederhana, metafisikawan berusaha menjelaskan rangkuman dan


intisari dari apa (of what is), apa yang ada (of what exists), dan apa yang
sejati ada (of what is ultimately real). Intisari atau substansi realitas ini
secara kualitatif maupun kuantitatif bisa jadi satu atau banyak. Mereka
yang beraliran kuantitatif (yakni hakikat sebagai rangkuman realitas atau
as the sum of reality) terbagi kedalam tiga posisi pandang: (1) monisme,
(2) dualisme, dan (3) pluralisme. Sedangkan yang beraliran kualitatif
(yakni hakikat sebagai intisari dari realitas atau as the substance of reality)
terbagi kedalam 4 posisi pandang: (1) idealisme, bahwa hakikat realitas
bersifat mental atau spiritual; (2) realisme, bahwa hakikat realitas bersifat
material atau fisis. Dua aliran tersebut termasuk kategori monisme. (3)
Thomisme yang mengkombinasikan dua corak aliran monisme
sebelumnya. (4) Pragmatisme, yang menolak untuk mengkuantifikasi atau
mengkualifikasikan realitas. Mereka lebih suka mengatakan bahwa realitas
senantiasa berada pada keadaan berubah dan mencipta secara konstan
sekalipun secara literal bisa dinyatakan ada ketidakterbatasan filosofis baik
jenis maupun jumlahnya.

(2) Aksiologi (Axiology)

- Secara historis, istilah yang lebih umum dipakai adalah etika (ethics) atau
moral (morals). Tetapi dewasa ini, istilah axios (nilai) dan logos (teori)
lebih akrab dipakai dalam dialog filosofis. Jadi, aksiologi bisa disebut
sebagai the theory of value atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang
menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah
(right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends).
Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku
etis. Ia bertanya seperti apa itu baik (what is good?). Tatkala yang baik
teridentifikasi, maka memungkinkan seseorang untuk berbicara tentang
moralitas, yakni memakai kata-kata atau konsep-konsep semacam
“seharusnya” atau “sepatutnya” (ought / should). Demikianlah aksiologi
terdiri dari analisis tentang kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep
moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai.

- Terdapat dua kategori dasar aksiologis; (1) objectivism dan (2)


subjectivism. Keduanya beranjak dari pertanyaan yang sama: apakah nilai
itu bersifat bergantung atau tidak bergantung pada manusia (dependent
upon or independent of mankind)? Dari sini muncul empat pendekatan
etika, dua yang pertama beraliran obyektivis, sedangkan dua berikutnya
beraliran subyektivis.

- Pertama, teori nilai intuitif (the initiative theory of value). Teori ini
berpandangan bahwa sukar jika tidak bisa dikatakan mustahil untuk
mendefinisikan suatu perangkat nilai yang bersifat ultim atau absolut.
Bagaimanapun juga suatu perangkat nilai yang ultim atau absolut itu eksis
dalam tatanan yang bersifat obyektif. Nilai ditemukan melalui intuisi
karena ada tata moral yang bersifat baku. Mereka menegaskan bahwa nilai
eksis sebagai piranti obyek atau menyatu dalam hubungan antarobyek, dan
validitas dari nilai obyektif ini tidak bergantung pada eksistensi atau
perilaku manusia. Sekali seseorang menemukan dan mengakui nilai
tersebut melalui proses intuitif, ia berkewajiban untuk mengatur perilaku
individual atau sosialnya selaras dengan preskripsi-preskripsi moralnya.

- Kedua, teori nilai rasional (the rational theory of value). Bagi mereka
janganlah percaya pada nilai yang bersifat obyektif dan murni independen
dari manusia. Nilai tersebut ditemukan sebagai hasil dari penalaran
manusia dan pewahyuan supranatural. Fakta bahwa seseorang melakukan
sesuatu yang benar ketika ia tahu dengan nalarnya bahwa itu benar,
sebagaimana fakta bahwa hanya orang jahat atau yang lalai yang
melakukan sesuatu berlawanan dengan kehendak atau wahyu Tuhan. Jadi
dengan nalar atau peran Tuhan, seseorang menemukan nilai ultim,

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 3


obyektif, absolut yang seharusnya mengarahkan perilakunya.

- Ketiga, teori nilai alamiah (the naturalistik theory of value). Nilai


menurutnya diciptakan manusia bersama dengan kebutuhan-kebutuhan
dan hasrat-hasrat yang dialaminya. Nilai adalah produk biososial, artefak
manusia, yang diciptakan, dipakai, diuji oleh individu dan masyarakat
untuk melayani tujuan membimbing perilaku manusia. Pendekatan
naturalis mencakup teori nilai instrumental dimana keputusan nilai tidak
absolut atau ma’sum (infallible) tetapi bersifat relatif dan kontingen. Nilai
secara umum hakikatnya bersifat subyektif, bergantung pada kondisi
(kebutuhan/keinginan) manusia.

- Keempat, teori nilai emotif (the emotive theory of value). Jika tiga aliran
sebelumnya menentukan konsep nilai dengan status kognitifnya, maka
teori ini memandang bahwa bahwa konsep moral dan etika bukanlah
keputusan faktual tetapi hanya merupakan ekspresi emosi-emosi atau
tingkah laku (attitude). Nilai tidak lebih dari suatu opini yang tidak bisa
diverifikasi, sekalipun diakui bahwa penilaian (valuing) menjadi bagian
penting dari tindakan manusia. Bagi mereka, drama kemanusiaan adalah
sebuah axiological tragicomedy.

(3) Epistemologi (Epistemology)

- Disebut the theory of knowledge atau teori pengetahuan. Ia berusaha


mengidentifikasi dasar dan hakikat kebenaran dan pengetahuan, dan
mungkin inilah bagian paling penting dari filsafat untuk para pendidik.
Pertanyaan khas epistemologi adalah bagaimana kamu mengetahui (how
do you know?). Pertanyaan ini tidak hanya menanyakan tentang apa
(what) yang kita tahu (the products) tetapi juga tentang bagaimana (how)
kita sampai mengetahuinya (the process). Para epistemolog adalah para
pencari yang sangat ulet. Mereka ingin mengetahui apa yang diketahui
(what is known), kapan itu diketahui (when is it known), siapa yang tahu
atau dapat mengetahuinya (who knows or can know), dan yang terpenting,
bagaimana kita tahu (how we know). Mereka adalah para pengawas dari
keluasan ranah kognitif manusia.

- Pertanyaan-pertanyaan tersebut didahului dengan pertanyaan dapatkah kita


mengetahui (can we know?). Di sini terdapat tiga posisi epistemologis:

- Pertama, dogmatism. Aliran ini menjawab: ya, tentu saja kita dapat dan
benar-benar mengetahui (we can and do know) – selanjutnya bahkan kita
yakin (we are certain). Untuk mengetahui sesuatu kita harus lebih dahulu
memiliki beberapa pengetahuan yang memenuhi dua kriteria: certain
(pasti) dan uninferred (tidak tergantung pada klaim pengetahuan
sebelumnya). Contoh untuk itu: a = a dan keseluruhan > bagian.

- Kedua, skepticism. Aliran ini menjawab: tidak, kita tidak benar-benar tahu
dan tidak juga dapat mengetahui. Mereka setuju dengan dogmatisme
bahwa untuk berpengetahuan seseorang terlebih dahulu harus mempunyai
beberapa premis-premis yang pasti dan bukannya inferensi. Tapi mereka
menolak klaim eksistensi premis-premis yang self-evident (terbukti
dengan sendirinya). Respon aliran ini seolah menenggelamkan manusia
kedalam lautan ketidakpastian dan opini.

- Ketiga, fallibilism. Aliran ini menjawab bahwa kita dapat mengetahui


sesuatu, tetapi kita tidak akan pernah mempunyai pengetahuan pasti
sebagaimana pandangan kaum dogmatis. Mereka ini hanya mengatakan
mungkin (possible), bukan pasti (certain). Manusia hanya akan puas
dengan pengetahuan yang reliable, tidak pernah 100% yakin. Tidak ada
yang dapat diverifikasi melampaui posibilitas-posibilitas dari keraguan
yang mencakup suatu pernyataan tertentu. Inilah yang dikenal dengan
istilah “doubting Thomas” yang yakin bahwa kita selalu berhubungan
dengan posibilitas-posibilitas dan probabilitas-probabilitas (pengetahuan)
dan tidak pernah dengan kepastian-kepastian. Filosofi fallibilistik ini
memandang sains senantiasa berada dalam gerak (posture) dan tidak diam.
Belajar pengetahuan selalu bersifat terbuka untuk berubah dan bukannya
final, bersifat relatif dan bukannya absolut, bersifat mungkin daripada
pasti. Moda kerja aliran ini mengkaji pergeseran-pergeseran, melakukan

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 5


cek dan re-cek, sekalipun hasil yang dicapai selalu saja akan bersifat
tentatif.

Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu
adalah:

1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya


adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya
kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu
materialisme dialektik dan materialisme humanistis.

2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide


yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme
subjektif dan idealisme objektif.

3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia


materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.

4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap


mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada
kemampuan minusia.

Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :

1. Sebagai dasar dalam bertindak.

2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.

3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.

4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.

2. FILSAFAT PENDIDIKAN

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta


didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu
menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan
adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi
dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan
hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam
studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan;

1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat


pragmatisme.

2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan


realisme; dan

3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman


menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah
sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai
berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu
dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk
:mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang
baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu
dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_11.html#top

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 7


BAB II
PENTINGNYA LANDASAN
FILSAFAT PENDIDIKAN

Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila ada
pertanyaan-pertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak dijawab oleh
ilmu atau cabang ilmu-ilmu. Misalnya: apakah yang dimaksud dengan pengetahuan,
dan/atau ilmu? Dapatkah kita bergerak ke kiri dan kanan di dalam ruang tetapi tidak
terikat oleh waktu? Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sekitar pendidikan
dan ilmu pendidikan. Kiranya kegiatan pendidikan bukanlah sekedar gejala sosial yang
bersifat rasional semata mengingat kita mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk
bangsa Indonesia, lebih-lebih untuk anak-anak kita masing-masing; ilmu pendidikan
secara umum tidak begitu maju ketimbang ilmu-ilmu sosial dan biologi tetapi tidak
berarti bahwa ilmu pendidikan itu sekedar ilmu atau suatu studi terapan berdasarkan
hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu sosial dan atau ilmu perilaku.
Pertanyaan yang timbul yaitu: apakah teori-teori pendidikan dapat atau telah
tumbuh sebagai ilmu ataukah hanya sebagian dari cabang filsafat dalam arti filsafat
sosial ataupun filsafat kemanusiaan?

A. Pendidikan Sebagai Kegiatan Ilmu dan Seni


Masalah pendidikan mikro yang menjadi focus disini khususnya ialah dasar dan
landasan pendidikan serta landasan ilmu pendidikan yaitu manusia atau sekelompok
kecil manusia dalam fenomena pendidikan.
1. Pendidikan dalam Praktek Memerlukan teori
Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena
pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti
seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-
tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan,
seketika dan aji mumpung. Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan
bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan
pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan
alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya
ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk
manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan
menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu.

2. Landasan Sosial dan Individual Pendidikan

Pendidikan sebagai gejala sosial dalm kehidupan mempunyai landasan


individual, sosial dan cultural. Pada skala mikro pendidikan bagi individu dan kelompok
kecil beralngsung dalam skala relatif tebatas seperti antara sesama sahabat, antara
seorang guru dengan satu atau sekelompok kecil siswanya, serta dalam keluarga antara
suami dan isteri, antara orang tua dan anak serta anak lainnya. Pendidikan dalam skala
mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam
arti perangkat pembawaanya yang baik dengan lengkap. Manusia berkembang sebagai
individu menjadi pribadi yang unik yang bukan duplikat pribadi lain. Tidak ada manusia
yang diharap mempunyai kepribadian yang sama sekalipun keterampilannya hampir
serupa. Dengan adanya individu dan kelompok yang berbeda-beda diharapkan akan
mendorong terjadinya perubahan masyarakat dengan kebudayaannya secara progresif.
Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan
interaksi manusia sebagai sesama (subyek) yang masing-masing bernilai setara. Tidak
ada perbedaan hakiki dalam nilai orang perorang karena interaksi antar pribadi
(interpersonal) itu merupakan perluasan dari interaksi internal dari seseorang dengan
dirinya sebagai orang lain, atau antara saya sebagai orang kesatu (yaitu aku) dan saya
sebagai orang kedua atau ketiga (yaitu daku atau-ku; harap bandingkan dengan
pandangan orang Inggris antara I dan me).
Pada skala makro pendidikan berlangsung dalam ruang lingkup yang besar
seperti dalam masyarakat antar desa, antar sekolah, antar kecamatan, antar kota,

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 9


masyarakat antar suku dan masyarakat antar bangsa. Dalam skala makro masyarakat
melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosial yaitu pelimpahan harta budaya dan
pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi muda dalam kehidupan
masyarakat. Diharapkan dengan adanya pendidikan dalam arti luas dan skala makro
maka perubahan sosial dan kestabilan masyarakat berangsung dengan baik dan bersama-
sama. Pada skala makro ini pendidikan sebagai gejala sosial sering terwujud dalam
bentuk komunikasi terutama komunikasi dua arah. Dilihat dari sisi makro, pendidikan
meliputi kesamaan arah dalam pikiran dan perasaan yang berakhir dengan tercapainya
kemandirian oleh peserta didik. Maka pendidikan dalam skala makro cenderung dinilai
bersifat konservatif dan tradisional karena sering terbatas pada penyampaian bahan ajar
kepada peserta didik dan bisa kehilangan ciri interaksi yang afektif.

B. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan


Uraian diatas mengisyaratkan terhadap dasar-dasar pendidikan bahwa
praktek pendidikan sebagai ilmu yang sekedar rangkaian fakta empiris dan
eksperimental akan tidak lengkap dan tidak memadai. Fakta pendidikan sebagai gejala
sosial tentu sebatas sosialisasi dan itu sering beraspirasi daya serap kognitif dibawah
100 % (bahkan 60 %). Sedangkan pendidikan nilai-nilai akan menuntut siswa menyerap
dan meresapi penghayatan 100 % melampaui tujuan-tujuan sosialisasi, mencapai
internaliasasi (mikro) dan hendaknya juga enkulturasi (makro). Itulah perbedaan
esensial antara pendidikan (yang menjalin aspek kognitif dengan aspek afektif) dan
kegiatan mengajar yang paling-paling menjalin aspek kognitif dan psikomotor. Dalam
praktek evaluasinya kegiatan pengajaran sering terbatas targetnya pada aspek kognitif.
Itu sebabnya diperlukan perbedaan ruang lingkup dalam teori antara pengajaran dengan
mengajar dan mendidik.
Adapun ketercapaian untuk daya serap internal mencapai 100 % diperlukn
tolong menolong antara sesama manusia. Dalam hal ini tidak ada orang yang selalu
sempurna melainkan bisa terjadi kemerosotan yang harus diimbangi dengan penyegaran
dan kontrol sosial. Itulh segi interdependensi manusia dalam fenomena pendidikan yang
memerlukan kontrol sosial apabila hendak mencegah penurunan pengamalan nlai dan
norma dibawah 100%.
1. Pedagogik sebagai ilmu murni menelaah fenomena pendidikan
Jelaslah bahwa telaah lengkap atas tindakan manusia dalam fenomena pendidikan
melampaui kawasan ilmiah dan memerlukan analisis yang mandiri atas data pedagogic
(pendidikan anak) dan data andragogi (Pendidikan orang dewasa). Adapun data itu
mencakup fakta (das sein) dan nilai (das sollen) serta jalinan antara keduanya. Data
factual tidak berasal dari ilmu lain tetapi dari objek yang dihadapi (fenomena) yang
ditelaah Ilmuwan itu (pedagogi dan andragogi) secara empiris. Begitu pula data nilai
(yang normative) tidak berasal dari filsafat tertentu melainkan dari pengalaman atas
manusia secara hakiki. Itu sebabnya pedagogi dan andragogi memerlukan jalinan antara
telaah ilmiah dan telaah filsafah. Tetapi tidak berarti bahwa filsafat menjadi ilmu dasar
karena ilmu pendidikan tidak menganut aliran atau suatu filsafat tertentu.
Sebaliknya ilmu pendidikan khususnya pedagogic (teoritis) adalah ilmu yang
menysusun teori dan konsep yang praktis serta positif sebab setiap pendidik tidak boleh
ragu-ragu atau menyerah kepada keragu-raguan prinsipil. Hal ini serupa dengan ilmu
praktis lainnya yang mikro dan makro. Seperti kedokteran, ekonomi, politik dan hukum.
Oleh karena itu pedagogic (dan telaah pendidikan mikro) serta pedagogic praktis dan
andragogi (dan telaah pendidikan makro) bukanlah filsafat pendidikan yang terbatas
menggunakan atau menerapkan telaah aliran filsafat normative yang bersumber dari
filsafat tertentu. Yang lebih diperlukan ialah penerapan metode filsafah yang radikal
dalam menelaah hakikat peserta didik sebagai manusia seutuhnya.
Implikasinya jelas bahwa batang tubuh (body of knowledge) ilmu pendidikan haruslah
sekurang-kurangnya secara mikro mencakup :
- Relasi sesama manusia sebagai pendidik dengan terdidik (person to person
relationship)
- Pentingnya ilmu pendidikan memepergunakan metode fenomenologi
secara kualitatif.
- Orang dewasa yang berpran sebagai pendidik (educator)
- Keberadaan anak manusia sebagai terdidik (learner, student)
- Tujaun pendidikan (educational aims and objectives)
- Tindakan dan proses pendidikan (educative process), dan
- Lingkungan dan lembaga pendidikan (educational institution)
Itulah lingkup pendidikan yang mikroskopis sebagai hasil telaah ilmu murni ilmu
pendidikan dalam arti pedagogic (teoritis dan sistematis). Mengingat pendidikan juga
dilakukan dalam arti luas dan makroskopis di berbagai lembaga pendidikan formal dan
non-formal, tentu petugas tenaga pendidik di lapangan memerlukan masukan yang
berlaku umum berupa rencana pelajaran atau konsep program kurikulum untuk lembaga

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 11


yang sejenis. Oleh karena itu selain pedagogic praktis yang menelaah ragam pendidikan
diberbagai lingkungan dan lembaga formal, informal dan non-formal (pendidikan luar
sekolah dalam arti terbatas, dengan begitu, batang tubuh diatas tadi diperlukn
lingkupnnya sehingga meliputi:
- Konteks sosial budaya (socio cultural contexs and education)
- Filsafat pendidikan (preskriptif) dan sejarah pendidikan (deskriptif)
- Teori, pengembangan dan pembinaan kurikulum, serta cabang ilmu
pendidikan lainnya yang bersifat preskriptif.
- Berbagai studi empirik tentang fenomena pendidikan
- Berbagai studi pendidikan aplikatif (terapan) khususnya mengenai
pengajaran termasuk pengembangan specific content pedagogy.
Sedangkan telaah lingkup yang makro dan meso dari pendidikan, merupakan bidang
telaah utama yang memperbedakan antara objek formal dari pedagogic dari ilmu
pendidikan lainnya. Karena pedagogic tidak langsung membicarakan perbedaan antara
pendidikan informal dalam keluarga dan dalam kelompok kecil lainnya., dengan
pendidikan formal (dan non formal) dalam masyarakt dan negara, maka hal itu menjadi
tugas dari andragogi dan cabang-cabang lain yang relevan dari ilmu pendidikan. Itu
sebabnya dalam pedagogic terdapat pembicaraan tentang factor pendidikan yang
meliputi : (a) tujuan hidup, (b) landasan falsafah dan yuridis pendidikan, (c) pengelolaan
pendidikan, (d) teori dan pengembangan kurikulum, (e) pengajaran dalam arti
pembelajaran (instruction) yaitu pelaksanaan kurikulum dalam arti luas di lembaga
formal dan non formal terkait.
Pedagogik
Andragogi
Metode

2. Telaah ilmiah dan kontribusi ilmu bantu


Bidang masalah yang ditelaah oleh teori pendidikan sebagai ilmu ialah
sekitarmanuasia dan sesamanya yang memiliki kesamaan dan keragaman di dalam
fenomena pendidikan. Yang menjadi inti ilmu pendidikan teoritis ialah Pedagogik
sebagai ilmu mendidik yaitu mengenai tealaah (atau studi) pendidikan anak oleh orang
dewasa. Pedagogik teoritis selalu bersifat sistematis karena harus lengkap problematic
dan pembahasannya. Tetapi pendidikan (atau pedagogi) diperlukan juga oleh semua
orang termasuk orang dewasa danb lanjut usia. Karena itu selain cabang pedagogic
teoritis sistematis juga terdapat cabvang-cabang pedagogic praktis, diantaranya
pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal dalam keluarga, andragogi
(pendidikan orang dewasa) dan gerogogi (pendidikan orang lansia), serta pendidikan
non-formal sebagai pelengkap pendidikan jenjang sekolah dan pendidikan orang
dewasa.
Di dalam menelaah manusia yang berinteraksi di dalam fenomena pendidikan,
ilmu pendidikan khususnya pedagogic merupan satu-satunya bidang ilmu yang
menelaah interaksi itu secara utuh yang bersifat antar dan inter-pribadi. Untunglah ada
ilmu lain yang melakukan telaah atas perilaku manusia sebagai individu. Begitu juga
halnya atas telaah interaksi sosial, telaah perilaku kelompok dalam masyarakat, telaah
nilai dan norma sebagai isi kebudayaaan, dan seterusnya. Ilmu-ilmu yang melakukan
telaah demikian dijadikan berfungsi sebagai ilmu bantu bagi ilmu pendidikan. Diantara
ilmu bantu yang penting bagi pedagogic dan androgogi ialah : biologi, psikologi,
sosiologi, antropologi budaya, sejarah dan fenomenologi (filsafah).
a. Pendekatan fenomenologi dalam menelaah gejala pendidikan
Pedagogik tidak menggunakan metode deduktif spekulatif dalam investigasinya
berdasrkan penjabaran pendirian dasar-dasar filosofis. Pedagogik adalah ilmu
pendidikan yang bersifat teoritis dan bukan pedagogic yang filosofis. Pedagogik
melakukan telaah fenomenologis aatas fenomen yang bersifat empiris sekalipun
bernuansa normative. Seperti dikatakan Langeveld (1955) Pedagogik mempergunakan
pendekatan fenomenologis secara kualitatif dalam metode penelitiannya :
Pedagogik bersifat filosofis dan empiris. Berfikir filosofis pada satu siti dan di
pihak lain pengalaman dan penyelidikan empiris berjalan bersama-sama. Hubungan-
hubungan dan gejala yang menunjukkan cirri-ciri pokok dari objeknya ada yang
memaksa menunjuk ke konsekunsi yang filosofis, adapula yang memaksakaan
konsekunsi yang empiris karena data yang factual. Pedagogik mewujudkan teori
tindakan yang didahului dan diikuti oleh berfikir filosofis. Dalam berfikir filosofis
tentang data normative pedagogic didahului dan diikuti oleh oleh pengalaman dan
penyelesaikan empiris atas fenomena pendidikan.
Itulah fenomena atau gejala pendidikan secraa mikro yang menurut Langevald
mengandung keenam komponen yng menjadi inti daari batang tubuh pedagogic.

b. Kontribusi ilmu-ilmu bantu terhadap pedagogic

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 13


Ilmu pendidikan khususnya pedagogic dan androgogi tidak menggunakn metoda
deskriptif-eksperimental karena manfaatnya terbtas pada pemahaman atas perubahan
perilaku siswa. Sedangkan prediksi dan kontrol yang eksperimental diterapakan dan
itupun manfaatnya terbatas sekali.
Seperti ditulis oleh Deese, 1963 :
“Prediction and control, then are excellent criteria of understnding aang they also
provide us with some of the uses of understanding. They are not always easy to apply,
however, and I think little is gained by pretending that they are. It is futile to issue
promissory notes about the future applications of the scientific study of education.”
Jadi kurang bermanfaat apabila ilmu pendidikan mempergunakan metode
deskriptif-eksperimental terhadap perubahan-perubahan didalam pendidikan
secarakuntitatif. Sebaliknya pedagogic dan androgogi harus menjadi ilmu otonom yang
menerapkan metode fenomenologi secara kualitatif. Maksudnya ialah agar dapat
memperoleh data yang tidak normative (data factual) dalam jumlah seperlunya dari ilmu
biologi, psikologi dan ilmu-ilmu sosial. Tetapi ilmu pendidikan harus sedapat mungkin
melakukan pengumpulan datanya sendiri langsung dari fenomena pendidikan, baik oleh
partisipan-pengamat (ilmuwan) ataupun oleh pendidik sendiri yang juga biasa
melakukan analisis apabila situasi itu memaksanya harus bertindak kreatif. Tentu saja
untuk itu diperlukan prasyarat penguasaan atas sekurang-kurangnya satu ilmu Bantu
dan/atau filsafat umum.

C . Dasar-dasar Filsafat Pendidikan


Baiklah sekarang kita lihat dasar-dasaar filsafah keilmuan terkait dalam arti
dasar ontologis, dasar epistemologis, dan aksiologis, dan dasar antropolgis ilmu
pendidikan.
1. Dasar ontologis ilmu pendidikan
Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu pendidikan.
Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan ilmu pendidikan melalui pengalaman
pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris. Objek materil ilmu
pendidikan ialah manusia seutuhnya, manusia yang lengkap aspek-aspek
kepribadiannya, yaitu manusia yang berakhlak mulia dalam situasi pendidikan atau
diharapokan melampaui manusia sebagai makhluk sosial mengingat sebagai warga
masyarakat ia mempunyai ciri warga yang baik (good citizenship atau kewarganegaraan
yang sebaik-baiknya).
Agar pendidikan dalam praktek terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal
ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi
pendidikan. Didalam situiasi sosial manusia itu sering berperilaku tidak utuh, hanya
menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau makhluk sosial yang berperilaku
kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat diterima terbatas pada ruang lingkup
pendidikan makro yang berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang
terstruktur oleh sistem nilai tertentu. Akan tetapipada latar mikro, sistem nilai harus
terwujud dalam hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio
sine qua non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan
yang berskala mikro. Hal itu terjadi mengingat pihak pendidik yang berkepribadiaan
sendiri secara utuh memperlakukan peserta didiknya secara terhormat sebagai pribai
pula, terlpas dari factor umum, jenis kelamin ataupun pembawaanya. Jika pendidik tidak
bersikap afektif utuh demikian makaa menurut Gordon (1975: Ch. I) akan terjadi mata
rantai yang hilang (the missing link) atas factor hubungan serta didik-pendidik atau
antara siswa-guru. Dengan egitu pendidikan hanya akan terjadi secar kuantitatif
sekalipun bersifat optimal, misalnya hasil THB summatif, NEM atau pemerataan
pendidikan yang kurang mengajarkan demokrasi jadi kurang berdemokrasi. Sedangkan
kualitas manusianya belum tentu utuh.
2. Dasar epistemologis pendidikan
Dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan
demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Sekalaipun
pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula
namuntelaah atas objek formil ilmu pendidikan memerlukaan pendekatan
fenomenologis yang akan menjalin stui empirik dengan studi kualitatif-fenomenologis.
Pendekaatan fenomenologis itu bersifat kualitaatif, artinya melibatkan pribadi dan diri
peneliti sabagai instrumen pengumpul data secara pasca positivisme. Karena itu
penelaaah dan pengumpulan data diarahkan oleh pendidik atau ilmuwan sebagaai pakar
yang jujur dan menyatu dengan objeknya. Karena penelitian tertuju tidak hnya
pemahaman dan pengertian (verstehen, Bodgan & Biklen, 1982) melainkan unuk
mencapai kearifan (kebijaksanaan atau wisdom) tentang fenomen pendidikan maka
vaaliditas internal harus dijaga betul dalm berbagai bentuk penlitian dan penyelidikan
seperti penelitian koasi eksperimental, penelitian tindakan, penelitian etnografis dan
penelitian ex post facto. Inti dasar epistemologis ini adalah agar dapat ditentukan
bahaawa dalam menjelaskaan objek formaalnya, telaah ilmu pendidikan tidaak hanya

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 15


mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju kepada telaah teori dan ilmu
pendidikan sebgaai ilmu otonom yang mempunyi objek formil sendiri atau problematika
sendiri sekalipun tidak dapat hnya menggunkaan pendekatan kuantitatif atau pun
eksperimental (Campbell & Stanley, 1963). Dengan demikian uji kebenaran
pengetahuan sangat diperlukan secara korespondensi, secara koheren dan sekaligus
secara praktis dan atau pragmatis (Randall &Buchler,1942).
3. Dasar aksiologis pendidikan
Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom
tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan
sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai ilmu
pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan
juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam
praktek mmelalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh
yang positif dalam pendidikan. Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai
mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan ilmu pendidikan dan
tugas pendidik sebagi pedagok. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan
pendidikan sebagai bidang yang sarat nilai seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu
sebabnya pendidikan memerlukan teknologi pula tetapi pendidikan bukanlah bagian dari
iptek. Namun harus diakui bahwa ilmu pendidikan belum jauh pertumbuhannya
dibandingkan dengan kebanyakan ilmu sosial dan ilmu prilaku. Lebih-lebih di
Indonesia.
Implikasinya ialah bahwa ilmupendidikan lebih dekat kepada ilmu prilaku
kepada ilmu-ilmu sosial, dan harus menolak pendirian lain bahwa di dalam kesatuan
ilmu-ilmu terdapat unifikasi satu-sayunyaa metode ilmiah (Kalr Perason,1990).
4. Dasar antropologi pendidikan
Pendidikan yang intinya mendidik dan mengajar ialah pertemuan antara
pendidik sebagai subjek dan peserta didik sebagai subjek pula dimana terjadi pemberian
bantuan kepada pihak yang belakangan dalaam upaayanya belajr mencapai kemandirian
dalam batas-batas yang diberikan oleh dunia disekitarnya. Atas dasar pandangan filsafah
yang bersifat dialogis ini maka 3 dasar antropologis berlaku universal tidak hanya (1)
sosialitas dan (2) individualitas, melainkan juga (3) moralitas. Kiranya khusus untuk
Indonesia apabila dunia pendidikan nasional didasarkan atas kebudayaan nasional yang
menjadi konteks dari sistem pengajaran nasional disekolah, tentu akan diperlukan juga
dasar antropologis pelengkap yaitu (4) religiusitas, yaaitu pendidik dalam situasi
pendidikan sekurangkurangnya secara mikro berhamba kepada kepentingan terdidik
sebagai bagian dari pengabdian lebih besar kepada Tuhan Yang Maha Esa.

D. Perangkat Asumsi Filosofis Pendidikan Guru

Program Pendidikan Guru Berdasarkan Kompetensi (PGBK) dikembangakan


bertolak dari perangkat kompetensi yang diperkirakan dipersyaratkan bagi pelaksanaan
tugas-tugas keguruan dan kependidikan yang telah ditetapkan dan bermuara pada
pendemonstrasian perangkat kompetensi tersebut oleh siswa calon guru setelah
mengikuti sejumlah pengalaman belajar.
Perangkat kompetensi yang dimaksud, termasuk proses pencapaiannya, dilandasi
oleh asumsi-asumsi filosofis, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang dianggap benar, baik
atas dasar bukti-bukti empirik, dugaan-dugaan maupun nilai-nilai masyarakat
berdasarkan Pancasila. Asumsi-asumsi tersebut merupakan batu ujian di dalam menilai
perancangan dan implementasi program dari penyimpangan-penyimpangan pragmatis
ataupun dari serangan-serangan konseptual.
Asumsi-asumsi yang dimaksud mencakup 7 bidang yaitu yang berkenaan dengan
hakekat-hakekat manusia, masyarakat, pendidikan, subjek didik, guru, belajar-mengajar
dan kelembagaan. Tentu saja hasil kerja tersebut diatas perlu dimantapkan dan
diverifikasi lebih jauh melalui forum-forum yang sesuai seperti Komisi Kurikulum,
Konsorsium Ilmu Kependidikan, LPTK bahkan kalangan yang lebih luas lagi. Hasil
rumusan tim pembaharuan pendidikan (1984) dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Hakekat Manusia
a. Manusia sebagai makhluk Tuhan mempunyai kebutuhan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
b. Manusia membutuhkan lingkungan hidup berkelompok untuk mengembangkan
dirinya.
c. Manusia mempunyai potensi-potensi yang dapat dikembangkan dan kebutuhan-
kebutuhan materi serta spiritual yangharus dipenuhi.
d. Manusia itu pada dasarnya dapat dan harus dididik serta dapat mendidik diri
sendiri.
2. Hakekat Masyarakat
a. Kehidupan masyarakat berlandaskan sistem nilai-nilai keagamaan, sosial dan
budaya yang dianut warga masyarakat ; sebagian daripada nilai-nilai tersebut

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 17


bersifat lestari dan sebagian lagi terus berubah sesuai dengan perkembangan ilmu
dan teknologi.
b. Masyarakat merupakan sumber nilai-nilai yang memberikan arah normative kepada
pendidikan.
c. Kehidupan bermasyarakat ditingkatkan kualitasnya oleh insane-insan yang berhasil
mengembangkan dirinya melalui pendidikan.
3. Hakekat Pendidikan
a. Pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan
antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
b. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan
yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
c. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupoan pribadi dan masyarakat.
d. Pendidikan berlangsung seumur hidup.
e. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu
pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.
4. Hakekat Subjek Didik
a. Subjek didik betanggungjawab atas pendidikannya sendiri sesuai dengan
wawasan pendidikan seumur hidup.
b. Subjek didik memiliki potensi, baik fisik maupun psikologis yang berbeda-
beda sehingga masing-masing subjek didik merupakan insane yang unik.
c. Subjek didik merupakan pembinaan individual serta perlakuan yang
manusiawi.
d. Subjek didik pada dasarnya merupakan insane yang aktif menghadapi
lingkungan hidupnya.
5. Hakekat Guru dan Tenaga Kependidikan
a. Guru dan tenaga kependidikan merupakan agen pembaharuan.
b. Guru dan tenaga kependidikan berperan sebagai pemimpin dan pendukung
nilai-nilai masyarakat.
c. Guru dan tenaga kependidikan sebagai fasilitator memungkinkan
terciptanya kondisi yang baik bagi subjek didik untuk belajar.
d. Guru dan tenga kependidikan bertanggungjawab atas tercapainya hasil
belajar subjek didik.
e. Guru dan tenaga kependidikan dituntut untuk menjadi conoh dalam
pengelolaan proses belajar-mengajar bagi calon guru yang menjadi subjek didiknya.
f. Guru dan tenaga kependidikan bertanggungjawab secara professional
untuk terus-menerus meningkatkatkan kemampuannya.
g. Guru dan tenaga kependidikan menjunjung tinggi kode etik profesional.
6. Hakekat Belajar Mengajar
a. Peristiwa belajar mengajar terjadi apabila subjek didik secara aktif berinteraksi
dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru.
b. Proses belajar mengajar yang efektif memerlukan strategi dan media/teknologi
pendidikan yang tepat.
c. Program belajar mengajar dirancang dan diimplikasikan sebagai suatu sistem.
d. Proses dan produk belajar perlu memperoleh perhatian seimbang didalam
pelaksanaan kegiata belajar-mengajar.
e. Pembentukan kompetensi profesional memerlukan pengintegrasian fungsional
antara teori dan praktek serta materi dan metodelogi penyampaian.
f. Pembentukan kompetensi professional memerlukan pengalaman lapangan
yang bertahap, mulai dari pengenalan medan, latihan keterampilan terbatas sampai
dengan pelaksanaan penghayatan tugas-tugas kependidikan secara lengkap aktual.
g. Kriteria keberhasilan yang utama dalam pendidikan profesional adalah
pendemonstrasian penguasaan kompetensi.
h. Materi pengajaran dan sistem penyampaiannya selalu berkembang.
7. Hakekat Kelembagaan
a. LPTK merupakan lembaga pendidikan profesional yang melaksanakan
pendidikan tenaga kependidikan dan pengembangan ilmu teknologi kependidikan
bagi peningkatan kualitas kehidupan.
b. LPTK menyelenggarakan program-program yang relevan dengan kebutuhan
masyarakat baik kualitatif maupun kuantitatif.
c. LPTK dikelola dalam suatu sistem pembinaan yang terpadu dalam rangka
pengadaan tenaga kependidikan.
d. LPTK memiliki mekanisme balikan yang efektif untuk meningkatkan kualitas
layanannya kepada masyarakat secara terus-menerus.
e. Pendidikan pra-jabatan guru merupakan tanggungjawab bersamaantara LPTK
dan sekolah-sekolah pemakai (calon) lulusan.
Catatan : Pendidikan berdasarkan kompetensi bagi tenaga kependidikan lainnya
memerlukan perangkat asumsi yang berbeda.

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 19


E. Implikasi Landasan Filsafat Pendidikan
1. Implikasi Bagi Guru
Apabila kita konsekuen terhadap upaya memprofesionalkan pekerjaan guru
maka filsafat pendidikan merupakan landasan berpijak yang mutlak. Artinya, sebagai
pekerja professional, tidaklah cukup bila seorang guru hanya menguasai apa yang harus
dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Kedua penguasaan ini baru tercermin
kompetensi seorang tukang.
Disamping penguasaan terhadap apa dan bagaimana tentang tugasnya, seorang
guru juga harus menguasai mengapa ia melakukan setiap bagian serta tahap tugasnya itu
dengan cara tertentu dan bukan dengan cara yang lain. Jawaban terhadap pertanyaan
mengapa itu menunjuk kepada setiap tindakan seorang guru didalam menunaikan
tugasnya, yang pada gilirannya harus dapat dipulangkan kepada tujuan-tujuan
pendidikan yang mau dicapai, baik tujuan-tujuan yang lebih operasional maupun tujuan-
tujuan yang lebih abstrak. Oleh karena itu maka semua keputusan serta perbuatan
instruksional serta non-instruksional dalam rangka penunaian tugas-tugas seorang guru
dan tenaga kependidikan harus selalu dapat dipertanggungjawabkan secara pendidikan
(tugas professional, pemanusiaan dan civic) yang dengan sendirinya melihatnya dalm
perspektif yang lebih luas dari pada sekedar pencapaian tujuan-tujuan instruksional
khusus, lebih-lebih yang dicekik dengan batasan-batasan behavioral secara berlebihan.
Dimuka juga telah dikemukakan bahwa pendidik dan subjek didik melakukan
pemanusiaan diri ketika mereka terlihat di dalam masyarakat profesional yang
dinamakan pendidikan itu; hanyalah tahap proses pemanusiaan itu yang berbeda, apabila
diantara keduanya, yaitu pendidik dan subjek didik, dilakukan perbandingan. Ini berarti
kelebihan pengalaman, keterampilan dan wawasan yang dimiliki guru semata-mata
bersifat kebetulan dan sementara, bukan hakiki. Oleh karena itu maka kedua belah pihak
terutama harus melihat transaksi personal itu sebagai kesempatan belajar dan khusus
untuk guru dan tenaga kependidikan, tertumpang juga tanggungjawab tambahan
menyediakan serta mengatur kondisi untuk membelajarkan subjek didik,
mengoptimalkan kesempatamn bagi subjek didik untuk menemukan dirinya sendiri,
untuk menjadi dirinya sendiri (Learning to Be, Faure dkk, 1982). Hanya individu-
individu yang demikianlah yang mampu membentuk masyarakat belajar, yaitu
masyarakat yang siap menghadapi perubahan-perubahan yang semakin lama semakin
laju tanpa kehilangan dirinya.
Apabila demikianlah keadaannya maka sekolah sebagai lembaga pendidikan
formal hanya akan mampu menunaikan fungsinya serta tidak kehilangan hak hidupnya
didalam masyarakat, kalau ia dapat menjadikan dirinya sebagai pusat pembudayaan,
yaitu sebagai tempat bagi manusia untuk meningkatkan martabatnya. Dengan perkataan
lain, sekolah harus menjadi pusat pendidikan. Menghasilkan tenaga kerja, melaksanakan
sosialisasi, membentuk penguasaan ilmu dan teknologi, mengasah otak dan
mengerjakan tugas-tugas persekolahan, tetapi yang paling hakiki adalah pembentukan
kemampuan dan kemauan untuk meningkatkan martabat kemanusiaan seperti telah
diutarakan di muka dengan menggunakan cipta, rasa, karsa dan karya yang
dikembangkan dan dibina.
Perlu digarisbawahi di sini adalah tidak dikacaukannya antara bentu dan
hakekat. Segala ketentuan prasarana dan sarana sekolah pada hakekatnya adalah bentuk
yang diharapkan mewadahi hakekat proses pembudayaan subjek didik. Oleh karena itu
maka gerakan ini hanya berhenti pada “penerbitan” prasarana dan sarana sedangkan
transaksi personal antara subjek didik dan pendidik, antara subjek didik yang satu
dengan subjek didik yang lain dan antara warga sekolah dengan masyarakat di luarnya
masih belum dilandasinya, maka tentu saja proses pembudayaan tidak terjadi. Seperti
telah diisyaratkan dimuka, pemberian bobot yang berlebihan kepada kedaulatan subjek
didikakan melahirkan anarki sedangkan pemberian bobot yang berlebihan kepada
otoritas pendidik akan melahirkan penjajahan dan penjinakan. Kedua orientasi yang
ekstrim itu tidak akan menghasilkan pembudayaan manusia.
2. Implikasi bagi Pendidikan Guru dan Tenaga Kependidikan
Tidaklah berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa di Indonesia kita belum punya
teori tentang pendidikan guru dan tenaga kependidikan. Hal ini tidak mengherankan
karena kita masih belum saja menyempatkan diri untuk menyusunnya. Bahkan salahsatu
prasaratnya yaitu teori tentang pendidikan sebagimaana diisyaratkan pada bagian-bagian
sebelumnya, kita masih belum berhasil memantapkannya. Kalau kita terlibat dalam
berbagi kegiatan pembaharuan pendidikan selama ini maka yang diperbaharui adalah
pearalatan luarnya bukan bangunan dasarnya.
Hal diatas itu dikemukakan tanpa samasekali didasari oleh anggapan bahwa
belum ada diantara kita yang memikirkan masalah pendidikan guru itu. Pikiran-pikiran
yang dimaksud memang ada diketengahkan orang tetapi praktis tanpa kecuali dapat
dinyatakan sebagi bersifat fragmentaris, tidak menyeluruh. Misalnya, ada yang
menyarankan masa belajar yang panjang (atau, lebih cepat, menolak program-program
pendidikan guru yang lebih pendek terutama yang diperkenalkan didalam beberapa

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 21


tahun terakhir ini) ; ada yang menyarankan perlunya ditingkatkan mekanisme seleksi
calon guru dan tenaga kependidikan; ada yang menyoroti pentingnya prasarana dan
sarana pendidikan guru; dan ada pula yang memusatkan perhatian kepada perbaikan
sistem imbalan bagi guru sehingga bisa bersaing dengan jabtan-jabatan lain
dimasyarakat. Tentu saja semua saran-saran tersebut diatas memiliki kesahihan,
sekurang-kurangnya secara partial, akan tetapi apabila di implementasikan, sebagian
atau seluruhnya, belum tentu dapat dihasilkan sistem pendidikan guru dan tenaga
kependidikan yang efektif.
Sebaiknya teori pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang produktif adalah
yang memberi rambu-rambu yang memadai didalam merancang serta
mengimplementasikan program pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang
lulusannya mampu melaksanakan tugas-tugas keguruan didalam konteks pendidikan
(tugas professional, kemanusiaan dan civic). Rambu-rambu yang dimaksud disusun
dengan mempergunakan bahan-bahan yang diperoleh dari tiga sumber yaitu: pendapat
ahli, termasuk yang disangga oleh hasil penelitian ilmiah, analisis tugas kelulusan serta
pilihan nilai yang dianut masyarakat. Rambu-rambu yang dimaksud yang
mencerminkan hasil telaahan interpretif, normative dan kritis itu, seperti telah
diutarakan didalam bagian uraian dimuka, dirumuskan kedalam perangkat asumsi
filosofis yaitu asumsi-asumsi yang memberi rambu-rambu bagi perancang serta
implementasi program yang dimaksud. Dengan demikian, perangkat rambu-rambu yang
dimaksud merupakan batu ujian didalam menilai perancang dan implementasi program,
maupun didalam “mempertahankan” program dari penyimpngan-penyimpangan
pelaksanaan ataupun dari serangan-serangan konseptual.
Dengan demikian maka landasan filsafat pendidikan harus tercermin didalam
semua, keputusan serta perbuatan pelaksanaan tugas- tugas keguruan, baik instruksional
maupun non-instruksional, atau dengan pendekatan lain, semua keputusan serta
perbuatan guru yang dimaksud harus bersifat pendidikan.
Akhirnya, sebagai pekerja professional guru dfan tenaga kependidikan harus
memperoleh persiapan pra-jabatan guru dfan tenaga kependidikan harus dilandasi oleh
seperangkat asumsi filosofis yang pada hakekatnya merupakan
DAFTAR REFERENSI
Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn
Bacon

Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research.
Chicago : Rand McNelly

Deese, J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. New York : Colombia
University-Teachers College Press

Gordon, Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub

Henderson, SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of


Chicago Press

Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada
Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997

Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan

Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press

Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur

Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila,


Jakarta:Depdikbud

Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ.

Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars

http://tumoutou.net/3_sem1_012/nunu_h.htm

BAB III
MAZHAB-MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN
Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka salam membahas
filsafat pendidikan akamn berangkat dari filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan
pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil
dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan,
dan nilai.

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 23


Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme,
idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan
merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya,
maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-
kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.
Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar,
yaitu filsafat pendidikan “progresif” dan filsafat pendidikan “ Konservatif”. Yang
pertama didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik
naturalisme dari Roousseau. Yang kedua didsari oleh filsafat idealisme, realisme
humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius.
Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme,
perenialisme, dan sebagainya.
Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:
1. Filsafat Pendidikan Idealisme
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi,
bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti
dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah,
seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak
berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato,
Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali
2. Filsafat Pendidikan Realisme
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme
berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani.
Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dn
mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar
manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia.
Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius,
Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John
Stuart Mill
3. Filsafat Pendidikan Materialisme
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani,
spiritual atau supernatural.
Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach
4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya
berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia
dapat mengetahui apa yang manusia alami.
Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam
James, John Dewey, Heracleitos.
5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum,
eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan
tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk
hakekat manusia atau realitas.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin
Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich
6. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri
sendiri, melainkan merupakan suatugerakan dan perkumpulan yang didirikan pada
tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini
mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak
bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest
Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff
7. Filsafat Pendidikan esensialisme
Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya
dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah.
Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar
intelektual dan moral di antara kaum muda.
Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick
Breed dan Isac L. Kandell.
8. Filsafat Pendidikan Perenialisme

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 25


Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh.
Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka
menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu
yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan,
ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual
dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan
ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau
prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan
teruji.
Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan
ortimer Adler
9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan
ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan
dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang.
Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun
1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil.
Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.
http://edu-articles.com/mazhab-mazhab-filsafat-pendidikan/

BAB IV
KESIMPULAN

Landasan filsafat pendidikan memberi perspektif filosofis yang


seyogyanya merupakan “kacamata” yang dikenakan dalam memandang
menyikapi serta melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu maka ia harus dibentuk
bukan hanya mempelajari tentang filsafat, sejarah dan teori pendidikan,
psikologi, sosiologi, antropologi atau disiplin ilmu lainnya, akan tetapi dengan
memadukan konsep-konsep, prinsip-prinsip serta pendekatan-pendekatannya
kepada kerangka konseptual kependidikan.
Dengan demikian maka landasan filsafat pendidikan harus tercermin
didalam semua, keputusan serta perbuatan pelaksanaan tugas- tugas keguruan,
baik instruksional maupun non-instruksional, atau dengan pendekatan lain.

BAB V
PENUTUP

Pembahasan di atas masih bersifat umum yang kami sajikan kepada


pembaca sekalian dan masih banyak lagi pengertian dan penjelasan tentang
filsafat pendidikan yang terdapat di internet., sedangkan yang lainnya belum kami
sentuh sehingga kami memerlukan kritik dan saran dari teman-teman untuk
kesempurnaan makalah yang ada di sini.
Dan kami juga mohon maaf jika dalam pembahasan ini tidak seperti yang

Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 27


diharapkan oleh bapak dosen dan teman-teman karena keterbatasan ilmu yang
kami miliki.

DAFTAR PUSTAKA

- http://edu-articles.com/mazhab-mazhab-filsafat-pendidikan/
- http://tumoutou.net/3_sem1_012/nunu_h.htm
- http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_11.ht
ml#top
- http://dedihendriana.wordpress.com/2007/07/20/filsafat-pendidikan/
- http://peziarah.wordpress.com/2007/02/05/beberapa-aliran-utama-filsafat-
pendidikan/
- http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/05/filsafat-pendidikan.html
- http://massofa.wordpress.com/2008/01/15/peranan-filsafat-pendidikan-
dalam-pengembangan-ilmu-pendidikan/
Filsafat Pendidikan di download dari Internet. Senin, 30 Maret 2009 | 29