Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR ILMU TANAH ACARA III DERAJAT KERUT TANAH

Disusun Oleh :

Nama NIM

: Rifqi Ramadhani : A1C013057

Rombongan : E2

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWUKERTO 2014

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Tanah merupakan medium alam untuk pertumbuhan tanaman. Tanah menyediakan unsur-unsur hara untuk makanan tanaman untuk pertumbuhannya. Selanjutnya unsur hara diserap oleh akar tanaman, dan melalui daun dirubah menjadi persenyawaan organik seperti karbohidrat, protein, lemak dan lain-lain yang sangat berguna bagi kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Definisi tanah menurut Foth adalah bahan mineral yang tidak pepat (unconsolidated) pada permukaan tanah yang dipengaruhi oleh faktorfaktor genetic dan lingkungan, yaitu: iklim, organisme serta topografi yang semuanya berlangsung pada suatu periode. Sedangkan seorang ahli menganggap bahwa tanah adalah bagian permukaan bumi yang lembek sehingga perlu dipasang batu-batu di permukaannya agar menjadi kuat. Dalam kehidupan seharihari tanah diartikan sebagai wilayah darat dimana di atasnya dapat digunakan untuk berbagai usaha, misalnya pertanin, peternakan, mendirikan bangunan dan lain-lain. Jenis tanah ada bermacam-macam, berbeda-beda menurut keadaan alamnya yang bertujuan untuk melengkapi pengetahuan, sehingga sifat-sifat dan hubungan hal-hal tersebut di atas mungkin lebih mudah diingat dan dimengerti untuk tujuan tertentu. Tujuan akhir klasifikasi adalah kepuasan maksimum dari keinginan manusia yang tergantung pada penggunaan tanah. Di dalam tanah juga mengandung air yang kadarnya berbeda antara jenis satu dengan jenis yang lainnya. Kadar air tanah dapat ditentukan dengan pengambilan sample dan dapat diketahui kadar air tanah kering angin, kadar air tanah kapasitas lapang, dan kadar air tanah maksimum. Dan penentuan kadar air tersebut dapat ditentukan dengan teknik pengambilan sample yang berbeda. Air dalam tanah berasal dari air hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak meresap ke tempat lain. Disamping percampuran bahan mineral dengan bahan organik, maka dalam proses pembetukan tanah terbentuk pola lapisanlapisan tanah atau horizon-horison. Oleh karena itu tanah merupakan kumpulan

dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman. Secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan anorganik, bahan organik, udara dan air. Masing - masing fraksi mempunyai ukuran dan sifat yang berbeda beda. Bahan anorganik secara garis besar dibagi atas golongan fraksi tanah yaitu : 1. Pasir (0,05 mm 2,00 mm) yaitu tidak plastis dan tidak liat, daya menahan air rendah, ukuran yang besar menyebabkan ruang pori makro lebih banyak, perkolasi cepat, sehingga aerasi dan drainase tanah pasir relative baik. Partikel pasir ini berbentuk bulat dan tidak lekat satu sama lain. 2. Debu (0,002 mm 0,005 mm) yaitu merupakn pasir mikro. Tanah keringnya menggumpal tetapi mudah pecah jika basah, empuk dan menepung. Fraksi debu mempunyai sedikit sifat plastis dan kohesi yang cukup baik. 3. Liat (<0,002 mm) yaitu berbentuk lempeng, punya sifat lekat yang tinggi sehingga bila dibasahi amat lengket dan sangat plastis, sifat mengmbang dan mengkerut yang besar. Tanah mempunyai sifat yang mudah dipengaruhi oleh iklim, serta jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam jangka waktu tertentu. Tanah dalam pertanian mempunyai peranan sebagai media tumbuh tanaman dalam hal tempat akar memenuhi cadangan makanan, cadangan nutrisi (hara) baik yang berupa ion-ion organik maupun anorganik. Secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan anorganik, bahan organik, udara dan air. Bahan anorganik secara garis besar terdiri dari golongan fraksi tanah yaitu pasir, debu dan liat. Tanah yang mengandung pasir sifatnya sukar diolah sedangkan semakin berat tanahnya (liat tinggi) semakin besar derajat kerutnya. Mengetahui derajat kerut suatu jenis tanah akan mempermudah untuk mengetahui kandungan bahan organik dalam tanah tersebut. Sifat fisik tanah mempunyai banyak kemungkinan untuk dapat digunakan sesuai dengan kemampuan yang dibebankan kepadanya kemampuan untuk menjadi

keras dan penyangga, kapasitas drainase dan menyimpan air, plastisitas, kemudahan untuk ditembus akar, aerasi dan kemampuan menahan retensi unsurunsur hara tanaman, semuanya erat hubungannya dengan kondisi fisik tanah. Kondisi meliputi warna tanah, tekstur tanah, konsistensi dan struktur tanah. Selain itu tanah juga mempunyai tiga dimensi ruang yaitu panjang, lebar dan kedalaman. Setiap tanah mempunyai sifat-sifat yang khas yang merupakan hasil karya faktorfaktor pembentuk tanah ini, maka setiap jenis tanah akan menampakkan profil yang berbeda.

B. Tujuan Mengetahui besarnya derajat kerut tanah dari beberapa jenis tanah dan membandingkan besarnya derajat kerut antar jenis tanah yang diamati.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Tanah merupakan suatu sitem mekanik yang kompleks terdiri dari tiga fase yakni bahan-bahan padat, cair dan gas. Fase padat yang hampir menempati 50% volume tanah sebagian besar terdiri dari bahan mineral dan sebagian lainnya bahan organic. Yang terkhir ini dijumpai dalam jumlah yang besar pada tanah organik (organosol). Sisa volume selebihnya merupakan ruang pori yang ditempati sebagian oleh fase cair dan gas yang perbandingannya selalu bervariasi menurut musim dan pengolahan tanah (Henry, 1988). Sifat-sifat fisis tanah diketahui sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman.Kondisi fisik tanah menentukan penetrasi akar di dalam tanah,retensi air, drainase, aerasi, dan nutrisi tanaman.Sifat fisika tanah juga mempengaruhi siaft-sifat kimia dan biologi tanah (Foth, Henry D. 1998). Sifat-sifat fisis tanah tergantung pada jumlah, ukuran, bentuk, susunan dan komposisi mineral dari partikel-partikel tanah, macam dan jumlah bahan organik, volume dan bentuk pori-porinya serta perbandingan air dan udara menempati pori-pori pada waktu tertentu. Beberapa sifat fisika tanah yang terpenting adalah tekstur, struktur, kerapatan (density) porositas, (Hakim, Nurjati, dkk. 1986). Secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan anorganik, bahan organik, udara dan air. Bahan anorganik secara garis besar terdiri atas golongan fraksi tanah yaitu pasir, debu dan liat. Masing-masing fraksi mempunyai ukuran dan sifat yang berbeda-beda ( Hardjowigeno, Sarwono.1987) 1. Pasir (0,005 mm 2,00 mm) Bersifat tidak plastis dan tidak liat, daya menahan air rendah, ukurannya yang besar menyebabkan ruang pori makro lebih banyak, perkolasi cepat, sehingga aerasi dan drainase tanah pasiran relatif baik. Partikel pasir ini berbentuk bulat dan tidak lekat satu sama lain. konsistensi, warna dan suhu

2. Debu (0,002 mm 0,05 mm) Merupakn pasir mikro. Tanah keringnya menggumpal tetapi mudah pecah jika basah, empuk dan menepung. Fraksi debu mempunyai sedikit sifat plastis dan kohesi yang cukup baik. 3. Liat (< 0,002 mm) Berbentuk mika/ lempeng, bila dibashi amat lengket dan sangat plastis, sifat menimbang dan menkerut yang besar. Bila kering menciut dan banyak menyerap energi panas, bila dibasahi terjadi pengembangan volume dan terjadi pelepasan panas yang disebut sebagai panas pembasahan (heat of wetting). Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah untuk diolah, mudah merembeskan air dan disebut sebagai tanah ringan (Sutedjo, M. Mulyani., dan A. G. Kartasapoetra. 1987). Terdapat perbedaan penting lainnya antara pasir dan liat pada beberapa tanah yang dihubungkan dengan kemampuan tanah tertentu untuk menyediakan elemen-elemen tanaman yang esensial (kesuburan tanah). Bahan-bahan induk tanah dari tanah-tanah daratan yang luas,cenderung berisi sejumlah kuarsa. Partikel kuarsa sangat resisten terhadap pelapukan dan menjadi komponenkomponen terbesar pasir dari beberapa bahan induk dan tanah. Mineral-mineral seperti Feldspar dan mika mengandung elemen-elemen tanaman yang esensial dan dapat tersedia sebagai pasir. Pada umunya unsur hara yang lebih besar berisi partikel-partikel debu, area permukaannya per gram lebih besar, dan tingkat pelapukannya lebih cepat daripada pasir yang menyebabkan tanah berdebu lebih subur dari pada tanah berpasir (Hardjowiegeno,1987).

BAB III METODE PRAKTIKUM


A. Alat dan Bahan Bahan-bahan yang digunakan antara lain: contoh tanah halus <0,5 mm (Inseptisol, Andisol, Ultisol, Fertisol, Entisol) dan air. Alat-alat yang digunakan meliputi: botol semprot, cawan porselin, jangka sorong, cawan dakhil, kertas label, spidol, serbet/ lap pembersih dan colet.

B. Prosedur Kerja a. Tanah halus diambil secukupnya, dimasukkan ke dalam cawan porselin, ditambah air dengan menggunakan botol semprot, lalu diaduk secara merata dengan colet sampai pasta tanah menjadi homogen. b. Pasta tanah yang sudah homogen tadi dimasukkan kedalam cawan dakhil yang telah diketahui diameternya dengan menggunakan jangka sorong (diameter awal). c. Cawan dakhil yang telah berisi pasta tanah tersebut dijemur di bawah terik matahari, kemudian dilakukan pengukuran besarnya pengkerutan setiap 2 jam sekali sampai diameternya konstan (diameter akhir).

Perhitungan : Derajat Kerut = diameter awal diameter akhir x 100 % diameter awal

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan No Jenis Tanah 1 1 Entisol 2 X 1 2 Ultisol 2 X 1 3 Inseptisol 2 X 1 4 Andisol 2 X 1 5 Vertisol 2 X 1 3,3 3,3 3,3 3,56 3,53 3,543 3,67 3,53 3,60 3,18 3,16 3,17 3,55 3,58 3,565 2 3,2 3,2 3,2 3,19 3,15 3,17 3,57 3,48 3,52 3,12 3,14 3,13 2,90 3,00 2,45 Pengamatan Tanah 3 3,1 3,1 3,1 2,96 2,81 2,93 3,23 3,29 3,26 3,07 3,09 3,08 2,65 2,75 2,70 4 3,1 3,1 3,1 2,96 2,81 2,93 3,21 3,28 3,26 3,06 3,08 3,07 2,45 2,55 2,50 2,44 2,52 2,40 5 6 7

B. Perhitungan derajat keruh

1.Entisol = 6,06 %

2.Ultisol = 17,4 %

3.Inseptisol = 9,444 %

4.Andisol = 3,25 %

5.Vertisol = 30,434 %

C. Pembahasan

Secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan anorganik, bahan organik, udar dan air. Bahan anorganik secarta garis besar terdiri atas golongan fraksi tanah yaitu pasir, debu, dan liat. Masing-masing fraksi mempunyai ukuran dan sifat yang berbeda-beda. Tabel Sifat-sifat masing-masing fraksi. Fraksi Sifat-sifat 1. Tidak plastis dan tidak liat 2. Daya menahan air rendah Pasir 3. Ruang pori makro lebih banyak 4. Perkolasi cepat 5. Aerasi dan drainase tanah relatif baik Debu 1. Sedikit sifat plastis 2. Kohesi cukup baik Liat 1. Bentuk mika lempeng 2. Bila dibasahi amat lengket dan palstis, sifatnya mengembang dan mengkerut yang

besar 3. Kering menciut 4. Basah mengembang 5. Banyak menyerap energi panas bisa kering

Derajat kerut sangat berpengaruh oleh tinggi rendahnya kandungan lait, semakin besar kandungan liat semakin besar derajat kerut tanah. Butir-butir liat seperti mika, jika mengandung cukup air menjadi sangat plastis. Daya adsorpsi liat terhadap air, gas dan garam larut sangatlah besar. Derajat kerut tanah juga dipengaruhi oleh komposisi mineral dan kimianya. Kuarsa biasanya banyak terdapat pada pasir dan debu. Mineral lain yang biasa ada juga antara lain felspat dan mika. Beberapa butir liat kasar terdiri-dari mineral-mineral antara lain kuarsa, hematis, dan felspart, tetapi golongan yang paling penting ialah silikat alumino. Keberadaan mineral silikat alumina menjadikan liat dibagi menjadi beberapa tipe, selain silikat alumino, mineral liat juga terdiri dari oksida besi dan Al (Hakim,1986). Beberapa tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering).Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka menjadi pecah-pecah.Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi.Besarnya pengembangan dan pengkerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Coefificient of Linier Extensibilty). Apabila terdapat jumlah pasir terbanyak , tanah itu bertekstur kasar sebagai tanah pasiran / ringan karena tanah demikian ini mudah diolah.Sebaiknya tanah bertekstur halus terdiri sebagian besar atas debu dan lempung, sifat liat dan lekatnya menentukan tanah sukar diolah atau tanah berat. Ringan dan beratnya merupakan tanah yang mempunyai sifat mudah dan tidaknya tanah diolah tetapi tidak mempunyai sifat mudah dan tidaknya tanah diolah tetapi tidak dipengaruhi oleh berat tanah (Sutedjo dan Kartasapoetra,1987). Berat satu kaki kubik pasir kering lebih berat daripada satu kaki kubik lempung. Pasir merupakan jenis yang kasar karena besarnya berperanan sebagai

butir-butir yang terpisah.Besar batu dan kerikil berkisar dari 2 mm ke atas dan bentuknya agak membulat, bersudut tidak teratur, butir-butir pasir dapat juga membulat atau sangat tidak teratur tergantung pada abrasi yang didiami, kalau tidak dilapisi oleh lempung dan debu, butir-butir itu praktis tidak memperlihatkan sifat licin.Dan lekat karena tidak banyak dipengaruhi oleh perubahan kandungan air.Tanah-tanah yang dikuasai pasir sifatnya terbuka,drainase dan aerasi berjalan baik sebab biasanya dalam keadaan lepas dan gembur. Bentuk butir-butir lempung biasanya seperti mika dan bila mengandung cukup air menjadi sangat liat.Apabila air yang dikandungnya cukup banyak, lempung itu akan mengembang dan menjadi lekat.Kalau mongering ia akan berkerut dan mengabsorpsi (menyerap) banyak sekali energi.Jika menjadi basah kembali terjadi pengembangan dengan melepaskan panas.Berlainan dengan lempung yang berbentuk gepeng,butir-butir debu cenderung membulat dan tidak teratur bentuknya dengan permukaan halus atau rata.Jenis debu memiliki sekedar sifat liat kohesi dan daya adsorpsi karena lapisan lempung, akan tetapi jauh lebih kecil dibandingkan dengan jenis lempung sendiri.Terdapatnya debu dan lempung dalam tanah menentukan kehalusan terksturnya serta lembutnya gerak air dan udara.Tanah semacam ini sangat liat, menjadi lekat kalau terlalu basah, keras dan menggumpal jika kering.Penggembungan dan pengerutan dalam keadaan basah dan kering biasanya besar.Daya menahan air pada tanah lempung dan debu umumnya besar.Tanah semacam itu dikatakan tanah berat sebab sukar atau berat diolah sebaliknya dengan tanah ringan yaitu tanah yang mudah diolah , permukaannya berpasir dan berkerikil (Soegiman,1982). Dalam percobaan ini dihasilkan bahwa persentase derajat kerut yang paling besar terdapat pada tanah vertisol karena kandungan liatnya lebih banyak sehingga lebih lekat dan mengalami penguapan sehingga dapat mengkerut, sedangkan andisol tanah inseptisol, ultisol, entisol dan vertisol.Hal ini disebabkan bahan penyusunan tanah tersebut yang berbeda dan kandungan fraksi-fraksi penyusunannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kerut antara lain : 1. Besar ringannya tanah. Semakin tinggi kandungan liat semakin besar derajat kerut tanah.

2. Bahan organic Semakin tinggi bahan organic tanah maka derajat kerut tanah makin kecil.

PERTANYAAN

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tanah ringan dan tanah berat ? 2. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kerut tanah ?

JAWABAN

1. Tanah ringan adalah tanah yang banyak mengandung pasir dan mempunyai tekstur yang kasar, mudah untuk diolah dan mudah merembes oleh air. Tanah berat adalah tanah yang banyak mengandung liat yang sulit dalam meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sulit dalam pengolahannya. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kerut antara lain : a. Besar ringannya tanah. b. Semakin tinggi kandungan liat semakin besar derajat kerut tanah. c. Bahan organik d. Semakin tinggi bahan organic tanah maka derajat kerut tanah makin kecil.

BAB V KESIMPULAN
a) Tanah ultisol mempunyai rata-rata derajat kerut tanah sebesar 23,03 %. b) Tanah Inseptisol mempunyai rata-rata derajat kerut tanah sebesar 8,49 %. c) Tanah Entisol mempunyai rata-rata derajat kerut tanah sebesar 7,175 %. d) Tanah Andisol mempunyai rata-rata derajat kerut tanah sebesar 7,37 %. e) Tanah Vertisol mempunyai rata-rata derajat kerut tanah sebesar 15,575 % f) Tanah dapat mengalami pengembangan dan pengerutan apabila kering.

g) Jenis-jenis tanah seperti inseptisol, entisol, andisol,vertisol, dan ultisol mempunyai derajat kerut yang berbeda-beda. h) Jenis tanah vertisol mempunyai derajat kerut yang paling besar. i) Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kerut antara lain besar ringannya tanah dan bahan organic.

DAFTAR PUSTAKA

Foth, Henry d. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta. Henry, D. Foth. 1988. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. Hakim, Nurjati, dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Lampung: Universitas Lampung. Hardjowiegeno, Sarwono. 1987. Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa : Jakarta. Sutedjo, M. Mulyani., dan A. G. Kartasapoetra. 1987. Pengantar Ilmu Tanah. PT Bina Aksara : Jakarta. Soegiman. 1982. Ilmu Tanah. Penerbit Bhatara Aksara : Jakarta.