Anda di halaman 1dari 27

ANALISA YURIDIS MENGENAI KASUS-KASUS

TRANSAKSI DERIVATIF

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini, seiring dengan perkembangan jaman, jenis-
jenis kegiatan bisnis yang ada semakin bervariatif. Dengan
adanya hal tersebut, maka risiko yang tersembunyi di baliknya
pun makin bermacam-macam pula. Salah satu penyebab
adanya risiko di dalam pelaksanaan transaksi kegiatan bisnis
tersebut adalah adanya nilai fluktuatif yang dijadikan dasar dari
kegiatan tersebut, misalnya gejolak mata uang yang tidak
menentu.
Risiko yang mengintai inilah yang sedapat mungkin ingin
dihindari oleh para pelaku dari kegiatan bisnis tersebut. Karena
selain dunia bisnis sekarang ini lebih cenderung ke arah
kegiatan yang bersifat spekulatif, ada hal yang perlu dilindungi
demi meminimalkan kerugian yang akan diderita oleh para
pihak.
Pengalaman krisis ekonomi tiga tahun terakhir menjadi
bukti tak terbantah bahwa fluktuasi nilai mata uang menggigit
dan merontokkan kegiatan impor ekspor, bahkan juga sektor
produksi yang tidak banyak terkait dengan transaksi dengan
valuta asing.
Upaya untuk melindungi atau mengamankan risiko yang
mungkin akan timbul di dalam suatu transaksi biasa disebut
2

dengan hedging. Di dalam transaksi derivatif, Instrumen lindung


nilai atas fluktuasi harga mata uang, sedikit banyak memang
sudah tersedia di pasar dalam bentuk transaksi forward dan
fasilitas swap (dimana kedua cara tersebut adalah yang kerap
kali digunakan oleh para pelaku usaha).
Instrumen derivatif sering dicap memainkan fungsi
sekunder (secondary rule) dalam ekonomi. Sebagai contoh
adalah kehadiran opsi atas saham (stock options) dan kontrak
berjangka atas indeks harga saham (stock index futures)
memang tak berurusan langsung dengan pengerahan dana
masyarakat. Perdagangan kontrak berjangka valuta asing
(currency futures) memang tak serta merta meningkatkan
aktivitas impor ekspor ataupun transaksi keuangan perusahaan
sektor riil. Perdagangan kontrak berjangka komoditi (commodity
futures) belum tentu memiliki efek dalam peningkatan produksi
komoditas terkait.
Hal yang kerap menjadi masalah adalah digunakannya
fasilitas tersebut dengan tujuan untuk mengeruk keuntungan
pribadi, padahal adanya transaksi derivatif ini adalah bertujuan
untuk melindungi para pihak dari kerugian.
Di dalam tulisan ini, penulis ingin menguraikan mengenai
transaksi derivatif yang terjadi di dalam praktek disertai dengan
analisa yuridisnya.

B. Identifikasi Masalah
- Sampai sejauh mana transaksi derivatif ini
diperbolehkan untuk diterapkan?
3

BAB II
TRANSAKSI DERIVATIF

A. Definisi Transaksi Derivatif


Perkembangan instrumen keuangan telah dimulai sejak
dua abad yang lalu, dan mengalami evolusi secara cepat
sebagai respon kebutuhan pasar. Pada awal 70-an, para
rockets scientists mengembangkan instrumen keuangan baru,
yang dikenal dengan instrumen derivatif. Meski sebenarnya
pasar derivatif telah ada dalam berbagai bentuk sejak abad
yang lalu, tetapi baru mengalami peningkatan percepat selama
30 tahun terakhir. Investor kini memiliki alternatif yang lebih luas
untuk berinvestasi baik di aset riil, aset keuangan, maupun di
instrumen derivatif.1
Instrumen derivatif kini digunakan secara luas oleh
investor yang profesional maupun yang individu. Manfaatnya
sangat besar, dan memiliki peranan yang sangat penting meski
tidak jarang dipahami secara keliru di dunia investasi.
Pengertian transaksi derivatif menurut SK Dir BI No.
28/119/KEP/DIR, tanggal 29 Desember 1995 tentang transaksi
derivatif:
“suatu kontrak atau perjanjian pembayaran yang nilainya
merupakan turunan dari nilai dari instrumen yang mendasari
seperti suku bunga, nilai tukar, komoditi, equity dan indeks, baik
yang diikuti dengan pergerakan atau tanpa pergerakan
dana/instrumen”.

1
R. Agus Sartono, Manfaat dan Resiko Transaksi Derivatif, dimuat dalam
www.bappebti.go.id
4

Dari literatur, transaksi derivatif umumnya dikatakan


sebagai transaksi yang struktur dan nilainya
didasarkan/bergantung pada, dan (karenanya) eksistensi atau
keberadaannya merujuk pada, aset lain atau nilai aset lain
tersebut. Penyelesaian (settlement) dari transaksi tersebut
hampir keseluruhannya dilakukan dengan pembayaran tunai
atas selisih nilai (cash settlement) dan tidak dengan penyerahan
secara fisik (no physical delivery), dari aset yang mendasari
transaksi tersebut (underlying asset). 2
Pengaturan mengenai transaksi derivatif diatur dalam SK
Dir BI No. 28/119/KEP/DIR tentang transaksi derivatif tanggal 28
September 1995. Menurut ketentuan Pasal 2 ayat (1) dari SK
tersebut, bank dapat melakukan transaksi derivatif baik untuk
kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah.
Bentuk transaksi derivatif sangatlah terbatas yaitu hanya
transaksi yang berkaitan dengan valuta asing dan suku bunga,
serta transaksi yang berkaitan dengan saham apabila telah
mendapatkan ijin Bank Indonesia secara kasus per kasus3.
Transaksi derivatif dalam valuta asing sudah merupakan
bagian dari kegiatan usahanya karena produk pasar finansial
tersebut sudah merupakan suatu kegiatan perbankan yang tidak
bisa dihindarkan lagi dalam era pasar bebas dan era globalisasi
perekonomian dunia.
Transaksi jual beli valuta asing yang tidak diikuti atau
tanpa adanya pergerakan dana dan yang harus diperhitungkan
adalah selisih bersih antara harga beli atau jual suatu jenis
valuta asing pada saat transaksi dengan harga jual atau beli
valuta asing yang bersangkutan pada akhir masa transaksi. Hal
2
P.D.D. Dermawan, “Transaksi Swap dan Derivatif Bentuk Perjanjian dan
Keabsahannya” yang dimuat dalam Varia Peradilan Tahun XIV No. 167 bulan
Agustus 1999, halaman 104.
3
Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia, Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti, 2000, hal 346.
5

tersebut lebih dikenal dengan istilah margin trading. Transaksi


tersebut sangat mengandung resiko yang tinggi sehingga
pelaksanaannya harus memperhatikan prinsip kehati-hatian
bank (prudential banking).
Macam-macam dari produk derivatif berdasarkan
Undang-undang No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan
Berjangka Komoditi:
1. Kontrak Forward: Transaksi antara pembeli dan penjual
yang bersepakat untuk menyerahkan komoditi atau aset
dalam jumlah dan mutu tertentu pada tanggal yang
ditetapkan di masa datang.
2. Kontrak opsi: Hak, bukan kewajiban untuk membeli (call)
dan menjual (put) komoditi/aset tertentu pada tingkat harga
yang ditetapkan (strike/exercise price) dalam jangka waktu
tertentu (sampai tanggal berakhir).
3. Kontrak swap: Perjanjian untuk membeli dan menjual
secara bersamaan komoditi/aset yang sama dalam jangka
panjang (satu sampai tujuh tahun).

Transaksi derivatif yang sering dilakukan diantaranya


adalah opsi (option), yaitu hak untuk membeli (call option) atau
menjual (put option) suatu valuta asing (misalnya US Dollar)
dengan penyerahan untuk jangka waktu di depan. Mekanisme
dari bentuk ini adalah sebagai berikut: investor dapat saja
memperoleh hak membeli atau menjual kontrak dimasa datang
dengan harga tertentu contoh: investor A memperoleh hak untuk
membeli US Dollar untuk bulan X tahun 1994 dari harga US$1=
Rp. 2100,- dengan membayar premi sebesar yang disepakati
bersama. Jika pada bulan X tahun 1994 harga US Dollar diatas
Rp. 2100,- maka A akan memperoleh keuntungan. Namun
6

sebaiknya apabila harga US dollar berada di bawah Rp. 2100,-


maka A hanya memperoleh premi saja.4
Kewajiban bagi bank yang melakukan transaksi derivatif
antara lain:
a. Memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk melakukan
transaksi derivatif, dan kemampuan untuk
mengidentifikasi dan nmenghitung potensi resiko yang
mungkin terjadi dari transaksi derivatif (Pasal 4 ayat (1)
SK Dir BI No. 28/119/KEP/DIR tentang transaksi derivatif)
b. Melaporkan mengenai kesiapannya dalam melakukan
transaksi derivatif (Pasal 4 ayat (2) SK Dir BI No.
28/119/KEP/DIR tentang transaksi derivatif)
c. Memberikan penjelasan secara lengkap kepada nasabah
yang akan melakukan transaksi derivatif terutama
mengenai resiko yang timbul dari transaksi tersebut
(Pasal 5 ayat (1) SK Dir BI No. 28/119/KEP/DIR tentang
transaksi derivatif).
d. Memberikan laporan kepada nasabah secara mingguan
mengenai posisi transaksi derivatif nasabah dan laporan
khusus pada saat posisi nasabah dianggap cukup
membahayakan (Pasal 9 ayat (2) SK Dir BI No.
28/119/KEP/DIR tentang transaksi derivatif).
e. Memberikan laporan kepada Bank Indonesia secara
mingguan mengenai transaksi derivatif yang mencakup
kerugian atau keuntungan baik secara riil maupun yang
potensial, dan posisi transaksi derivatif baik untuk
kepentingan bank sendiri maupun untuk kepentingan
nasabah (Pasal 10 ayat (1) SK Dir BI No.
28/119/KEP/DIR tentang transaksi derivatif).

4
Ibid, halaman 348
7

f. Melaksanakan dokumentasi transaksi derivatif sesuai


dengan perjanjian yang ditetapkan.
Semua kewajiban di atas harus diperhatikan menyangkut
pelaksanaan prinsip kehati-hatian perbankan.

Maka jelaslah bahwa transaksi derivatif adalah


berdasarkan kausa yang halal, karena dalam praktek hukum di
Indonesia sekarang banyak kasus transaksi derivatif menjadi
sengketa di pengadilan, sehingga memunculkan pandangan
negatif terhadap transaksi derivatif tersebut. Hal demikian terjadi
karena adanya kesimpangsiuran dalam memahami ketentuan
sehubungan dengan transaksi derivatif.
Fungsi daripada transaksi derivatif yaitu5:
1. Sebagai model investasi
Dalam hal ini transaksi derivatif dapat berfungsi sebagai
salah satu model berinvestasi, tetapi umumnya investasi
jangka pendek (yield enhancement).
2. Sebagai cara lindung nilai
Dalam hal ini transaksi derivatif dapat berfungsi sebagai
salah satu cara untuk menghilangkan risiko dengan jalan
lindung nilai (hedging), yakni yang disebut dengan risk
management.
3. Informasi harga
Dalam hal ini transaksi derivatif dapat berfungsi untuk
sekedar mencari/memberikan informasi tentang harga
barang komoditi tertentu di kemudian hari (price discovery).
Misalnya, harga emas 6 bulan mendatang dapat tercermin
dari harga emas di pasar berjangka tersebut.
4. Fungsi spekulatif

5
Munir Fuady, Hukum Perbankan Modern (Tingkat Advance), Bandung: PT, Citra
Aditya Bakti, 2001, halaman 4-5.
8

Perdagangan derivatif dapat dan sering juga digunakan


sebagai salah satu cara berspekulasi bagi mereka yang
senang dengan hal-hal yang bersifat untung-untungan atau
spekulasi
5. Membuat fungsi manajemen produksi berjalan dengan
baik dan efisien.
Transaksi derivatif, khususnya atas barang komoditi dapat
membuat berjalannya dengan baik dan efisien terhadap
fungsi manajemen produksi. Sebab, dengan adanya
transaksi berjangka (atas barang-barang komoditi) fungsi
manajemen produksi dari suatu produsen akan mendapat
gambaran permintaan dan kebutuhan pasar di masa yang
akan datang terhadap produk yang dihasilkannya itu, dengan
cerminan gambaran harga di pasar. Dengan demikian,
kapasitas produksi dan penyimpanan barang dapat
disesuaikan dengan kebutuhan tersebut.
6. Untuk mencegah gejolak harga pasar yang ekstrim
terhadap underlying asset
Dengan adanya perdagangan berjangka, maka pasar akan
bereaksi yang positif terhadap permintaan dan penawaran.
Sebab, dalam bisnis seperti ini, indikator harga dihitung
secara cermat sehingga jika ada harga underlying asset
yang terlalu rendah misalnya, maka demand akan tinggi
sehingga dengan demikian tingkat harga akan segera naik
lagi, demikian juga sebaliknya. Dengan demikian, fluktuasi
harga dari underlying asset menjadi tidak terlalu tinggi dan
selalu terjaga pada batas-batas harga normal.

Bisnis transaksi derivatif merupakan bisnis beresiko


tinggi. Karena itu pihak bank sebagai pihak yang berperan
sangat penting perlu menyikapi secara hati-hati terhadap setiap
9

hal yang berkaitan dengan transaksi derivatif ini sesuai dengan


prinsip-prinsip “safe and sound” dalam dunia perbankan.6
Dalam beberapa kasus, pihak yang mengalami kerugian
dari transaksi derivatif tidak mau menanggung kerugian, dalam
arti tidak mau membayar kewajibannya kepada pihak lawan,
seperti bank dengan dalih mereka ikut dalam transaksi karena
dibujuk rayu sehingga tidak memenuhi Pasal 1320 KUH Pedata.
Sayangnya hal tersebut seringkali dimenangkan oleh
pengadilan, namun akhirnya ketidak jelasan mengenai transaksi
derivatif secara hukum terjawab melalui putusan Peninjauan
Kembali (PK) dalam kasus Dharmala Agrifood No: 2/PK/N/1999
tanggal 6 April 1999. Mahkamah Agung (MA) di dalam
putusannya menyatakan bahwa transaksi derivatif merupakan
transaksi yang sah dan tepat.
Transaksi derivatif adalah transaksi yang sangat lazim
dilakukan dalam praktek secara nasional dan internasional.
Karena itu tidak ada alasan yang kuat dan tidak perlu sama
sekali melarang prkatek transaksi derivatif ini. Namun demikian,
bagaimana sebenarnya struktur hukum dari transaksi derivatif ini
dan bagaimana pengaturan hukumnya, khususnya hukum
perdata perlu suatu analisis yang komprehensif dan hati-hati.
Memang secara administratif, transaksi derivatif telah diatur
dengan peraturan-peraturan administratif yakni oleh peraturan-
peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku bank
sentral. Peraturan-peraturan dari Bank Indonesia ini umumnya
bersifat pengawasan dan preventif terhadap kemungkinan
kerugian yang dialami para pihak secara tidak wajar. Dalam hal
ini tentunya tidak menjadi masalah jika ada pihak yang dirugikan
secara “wajar”, mengingat bisnis derivatif ini memang

6
Ibid, halaman 5.
10

merupakan bisnis yang beresiko tinggi (high risk) dan


merupakan bisnis kalah menang (zero sum business). 7
Apabila dilihat dari segi hukum perdata transaksi derivatif
adalah transaksi yang berdasarkan atas suatu kontrak atau
perjanjian antara para pihak yang terlibat di dalam transaksi
tersebut. Konsekuensi yuridisnya adalah pemberlakuan
ketentuan buku III KUH Perdata termasuk mengenai syarat
sahnya perjanjian dan prinsip kebebasan berkontrak.

B. Prudential Banking
Guncangan besar yang terjadi di dunia perbankan sejak
akhir tahun 1997 masih terasa hingga saat ini. Restrukturisasi
yang dicoba untuk dibangkitkan guna memulihkan kembali
fungsi bank sebagai lembaga intermediasi masih diliputi
suasana yang serba pincang. Mekanisme kebijakan yang sarat
diwarnai oleh proses tarik ulur, lemahnya penegakan hukum
serta rontoknya keterlibatan hukum, telah memberikan
sumbangan yang besar terhadap komplikasi persoalan di
lingkungan perbankan. Padahal, goyahnya lembaga perbankan
tak hanya disebabkan oleh memburuknya posisi devisa netto
dan meroketnya rekening administratif dalam valuta asing. Akan
tetapi, itu juga berkaitan dengan rontoknya likuiditas, rentabilitas
dan solvabilitas bank, seperti yang terlihat melalui besaran non
performing loan dan merosotnya return on assets. Akar dari
ukuran teknis perbankan itu ternyata bermuara pada dua
persoalan pokok. Yaitu lemahnya institusi pengawasan dan
pudarnya prinsip prudential banking.
Bahwa pada Pasal 2 UU No. 10 Tahun 1998 tentang
Perbankan disebutkan:

7
Ibid, halaman 39.
11

“Perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya


berasaskan demokrasi ekonomu dengan menggunakan prinsip
kehati-hatian”.
Untuk mengelola sebuah bank secara baik berdasarkan
prinsip-prinsip perbankan yang sehat dan dinamis (prudential
banking), ada beberapa langkah yang harus diperhatikan secara
seksama. Langkah-langkah itu terdiri dari:
1. Perumusan kebijaksanaan bank
Langkah pertama yang dilakukan oleh top manajemen bank
yaitu para anggota direksi (bersama-sama dengan para
komisaris) adalah menyusun suatu ramalan bisnis dengan
melihat kondisi internal dan eksternal.
Kondisi internal yang perlu dilihat dalam pola dasar
manajemen bank guna perumusan kebijaksanaan adalah
fasilitas yang tersedia distribusi aktiva pendapatan dan
biaya. Sedangkan kondisi eksternal yang perlu ditelaah
adalah peraturan-peraturan yang berlaku, situasi moneter
lokal dan nasional, kondisi perdagangan dan situasi moneter.
Secara ringkas ada 2 macam kebijaksanaan bank yang perlu
diperhatikan dengan sungguh-sungguh, yaitu:
- kebijaksanaan yang dirumuskan sesudah pertimbangan-
pertimbangan yang matang terhadap konsekuensi dari
semua pilihan yang tersedia.
- Kebijaksanaan yang timbul dari tindakan tunggal atau
berulang-ulang.
Dalam prudential banking, dewan komisaris mempunyai
kedudukan yang penting. Mereka bertugas tidak hanya
melakukan pengawasan umum atau mengawasi
kebijaksanaan tetapi juga melakukan analisis atas berbagai
masalah bank dan memberikan masukan-masukan penting
bagi direksi dan staf-staf profesional.
12

2. Penyusunan rencana pengembangan organisasi


Suatu langkah utama untuk mencapai tujuan organisasi dan
untuk menunaikan kewajiban dan tanggung jawab adalah
merencanakan organisasi dan mengembangkannya. Pada
dasarnya perencanaan organisasi atau mengevaluasi
organisasi yang ada adalah pembagian kerja (division of
work) yang logis, penetapan garis wewenang yang jelas,
pengukuran pelaksanaan dan prestasi.
Melalui perencanaan yang demikian akan dapat dibuat
struktur organisasi yang sehat dan efektif. Bagi bank-bank
yang telah berjalan, dapat pula dilakukan reorganisasi guna
penyesuaian organisasi pada kebutuhan bisnis masa kini.

3. Staffing dan Pengembangan manajerial skill


Top manajemen bertanggung jawab terhadap lancarnya
rancana organisasi dengan membuat program yang
dirancang dan dilaksanakan untuk menjamin staffing yang
sesuai dengan struktur organisasi, sekurang-kurangnya
untuk jabatan senior dan pengawas. Perlu ditekankan bahwa
pada umumnya perencanaan manajemen bukanlah
melaksanakan sendiri pemecahan masalah-masalah tertentu
yang dihadapi, melainkan mengawasi bahwa tindakan-
tindakan yang semestinya telah dilaksanakan oleh orang-
orang lain dengan cara yang teratur, efektif dan kontinu.

4. Pengawasan internal
Kelancaran operasi bank adalah kepentingan paling utama
dari direksi (top manajemen) melalui pengawasan, para
manajer dapat menentukan tercapai tidaknya harapan
13

mereka. Di samping itu, pengawasan ini dapat membantu


manajer mengambil keputusan yang lebih baik.

5. Penetapan sistem manajemen


Sistem manajemen yang kita maksudkan dalam
pembahasan ini adalah berhubungan dengan tata cara bank
mengatur pola operasional dari berbagai aktifitas bank. Pola
ini erat pula dengan sistem sentralisasi maupun
desentralisasi.

6. Sound banking business sebagai suatu sistem


universal yang harus diikuti oleh manajemen bank.
Pengelolaan bisnis harus berdasarkan norma perbankan
yang sehat dengan memadukan unsur agent of development
dan financial intermediary, sehingga peranan bank dalam
ekonomi akan benar-benar terasa manfaatnya. Sebagai
agent of development, bank tidak semata-mata mengejar
profit, tetapi juga memperhatikan prioritas-prioritas
pembiayaan pembangunan nasional sesuai dengan tahap-
tahap yang ditetapkan.

Dengan demikian, bank sebagai lembaga keuangan yang


berfungsi sebagai financial intermediary atau perantara
keuangan dari dua pihak, yakni pihak yang kelebihan dana dan
pihak yang kekurangan dana hendaklah memperhatikan prinsip-
prinsip tersebut di atas dalam rangka melindungi pihak-pihak
yang berkaitan dengannya.
.
14

BAB III
ANALISA KASUS

i. Kasus Panin Bank vs. PT. Matahari


Pusakatama
Pada tanggal 23 September 1996, PT. Matahari
Pusakatama menerima fasilitas pinjaman jangka panjang (PJP)
dari Bank Panin sebesar Rp. 41,5 milyar dengan jangka waktu
kredit 5 tahun disertai jaminan Hak Tanggungan peringkat
pertama atas tiga bidang tanah berikut gedung Matahari Plaza
senilai Rp. 41.499.999.911,-. Mengingat pendapatan sewa yang
diperoleh dari Matahari Department Store adalah dalam mata
uang US Dollar, PT. Matahari Pusakatama melihat peluang
untuk meminimalkan beban bunga pinjaman rupiahnya melalui
transaksi cross currency swap (swap). Tindakan tersebut lebih
dikenal dengan istilah hedging, yaitu suatu upaya untuk
melindungi risiko yang mungkin timbul di dalam suatu transaksi.
Cross currency swap adalah kombinansi dari interest rate
swap dan currency swap karena transaksi ini berkenaan dengan
suku bunga dan nilai tukar.
Interest rate swap adalah suatu perjanjian dimana suatu
pihak (A) menyetujui dan mengikatkan dirinya untuk melakukan
pembayaran secara berkala kepada pihak lain (B), dimana
pembayaran ditentukan dengan merujuk pada suatu jumlah
pokok tertentu yang disepakati para pihak untuk keperluan
kalkulasi tersebut saja (notional amount/calculation amount) dan
suku bunga tetap (fixed interest rate) atau mengambang
(floating interest rate) dan sebaliknya B menyetujui dan
mengikatkan diri untuk melakukan pembayaran secara berkala
kepada pihak A, pembayaran mana ditentukan dengan merujuk
pada jumlah pokok kalkulasi (notional amount/calculation
15

amount) yang sama dan suku bunga mengambang (floating


interest rate) atau tetap (fixed interest rate).
Currency swap adalah suatu perjanjian dimana suatu
pihak (A) menyetujui dan mengikatkan diri untuk melakukan
pembayaran secara berkala kepada pihak lain (B), dimana
pembayaran ditentukan dengan merujuk pada suatu jumlah
pokok tertentu yang disepakati para pihak untuk keperluan
kalkulasi tersebut saja (notional amount/calculation amount)
dalam mata uang tertentu dan suku bunga mengambang
(floating interest rate) atau tetap (fixed interest rate), dan
sebaliknya B menyetujui dan mengikatkan diri untuk melakukan
pembayaran secara berkala kepada A, dimana pembayaran
ditentukan dengan merujuk pada suatu jumlah pokok tertentu
yang disepakati para pihak untuk keperluan kalkulasi tersebut
saja (notional amount/calculation amount) dalam mata uang
tertentu dan suku bunga mengambang (floating interest rate)
atau tetap (fixed interest rate).
Pada tanggal 30 September 1996, PT. Matahari
Pusakatama melakukan transaksi cross currency swap (tukar
menukar valuta) dengan Bank Panin, dengan jumlah fasilitas
sebesar US$ 17,9 juta dimana pembayaran dilakukan setiap 3
bulan sebesar Rp. 1 milyar ditambah bunga dengan
pembayaran pokok pinjaman terakhir sebesar Rp. 22,5 milyar
dan jatuh waktu fasilitas tersebut pada tanggal 30 September
2001. Transaksi cross currency swap ini merupakan salah satu
bentuk dari transaksi derivatif, dimana transaksi cross currency
swap ini berfungsi sebagai perlindungan terhadap adanya
gejolak nilai tukar dan bunga antar dua mata uang yang
berbeda. Cross currency swap yang dilakukan antara PT.
Matahari Pusakatama dengan Bank Panin adalah sebagai
berikut:
16

- PT. Matahari Pusakatama berkewajiban untuk


menyerahkan uang sejumlah total US$. 17,9 juta kepada
Bank Panin yang dibayar secara cicilan setiap 3 bulan
sebesar US$ 431,406.38 ditambah bunga tetap sebesar
10,65% p.a, dengan pembayaran cicilan terakhir sebesar
US$. 9,706,643.66
- Bank Panin berkewajiban untuk menyerahkan uang
sejumlah total Rp 41,5 miliyar kepada PT. Matahari
Pusakatama yang dibayar secara cicilan setiap 3 bulan
sebesar Rp. 1 Miliyar ditambah bunga tetap sebesar
19,75 % p.a. dengan pembayaran cicilan terakhir sebesar
22,5 miliyar.

Sejak terjadinya krisis pada pertengahan 1997, PT.


Matahari Pusakatama mulai kesulitan untuk memenuhi
kewajiban swapnya karena pendapatan sewa dari Matahari
Department Store tidak berdasarkan nilai tukar pasar, namun
hanya menggunakan nilai tukar sebesar Rp. 4.000,- /US$. Di
sisi lain PT. Matahari Pusakatama memiliki kewajiban
pembayaran dalam mata uang US Dollar kepada Bank Panin.
Hal ini mengakibatkan cash flow mismatch pada PT. Matahari
Pusakatama yang pada akhirnya mengakibatkan PT. Matahari
Pusakatama tidak mampu lagi memenuhi kewajibannya pada
Bank Panin, baik kewajiban atas PJP maupun kewajiban atas
cross currency swap.
Untuk menyelesaikan seluruh pinjamannya kepada Bank
Panin, PT. Matahari Pusakatama minta agar dilakukan
restrukturisasi seluruh kewajiban. Proses restrukturisasi telah
mulai sejak akhir tahun 2000, dimana PT. Matahari Pusakatama
mengajukan unwind terhadap transaksi swap. Perincian atas
transaksi unwind yang dilakukan oleh PT. Matahari Pusakatama
17

dilakukan berdasarkan surat-surat konfirmasi transaksi unwind


yang telah disetujui oleh PT. Matahari Pusakatama. Dengan
dilakukannya transaksi unwind tersebut, maka kewajiban
semula PT. Matahari Pusakatama untuk melakukan
pembayaran US Dollar berdasarkan transaksi swap telah
berubah menjadi kewajiban pembayaran dalam rupiah.
Pada akhir bulan Juni 2001 telah dicapai kesepakatan
restrukturisasi seluruh kewajiban PT. Matahari Pusakatama.
Kesepakatan ini dicapai dalam suatu pertemuan dengan PT.
Matahari Pusakatama di Bank Panin. Adapun garis besar
kesepakatan restrukturisasi adalah sebagai berikut:
1. Selambatnya pada tanggal 29 Juni 2002 Bank Panin
telah menerima dana initial payment sebesar 20% dari
total kewajiban PT. Matahari Pusakatama pada posisi
tanggal 29 Juni 2001;
2. Bank Panin akan memberikan diskon sebesar jumlah
initial payment yang dilakukan oleh PT. Matahari
Pusakatama.
3. Denda atas tunggakan PJP akan dihapuskan, sementara
tunggakan bunga akan ditambahkan pada jumlah
kewajiban setelah initial payment dan diskon;
4. Selanjutnya atas sisa kewajiban akan direstrukturisasi.

Bahwa karena PT. Matahari Pusakatama tidak dapat


memenuhi kewajiban-kewajibannya maka Bank Panin
mengajukan permohonan eksekusi Hak Tanggungan. Atas
permohonan PT. Matahari Pusakatama mengajukan bantahan.
Menurut keterangan saksi ahli Hariyadi Ramelan,
dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan cross currency swap
adalah bentuk transaksi derivatif yang dibuat untuk menjadi
sarana memprediksi nilai tukar rupiah atau tingkat suku bunga
18

dari perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi pada nilai


tukar antar mata uang atau tingkat suku bunga.
Bahwa Para pihak yang terlibat dalam permasalahan ini
terikat secara hukum untuk memenuhi prestasinya baik itu
prestasi yang tercemin dari perjanjian kredit dan perjanjian
jaminan, perjanjian cross currency swap maupun perubahan
dan penegasan kembali terhadap perjanjian kredit dan
perjanjian jaminan yang memuat dua jenis fasilitas yaitu fasilitas
pinjaman uang dan fasilitas tukar menukar valuta (cross
currency swap), dimana dalam perjanjian-perjanjian tersebut
telah ditentukan secara pasti mengenai:
a. jangka waktu pembayaran
b. jangka waktu pembayaran tukar menukar valuta
c. bunga
d. denda keterlambatan

Bahwa selanjutnya mengenai perjanjian cross currency


swap yang ditanda tangani oleh kedua belah pihak, didalamnya
telah membuktikan adanya jadwal pembayaran yang harus
dilakukan oleh PT. Matahari Pusakatama, mengingat di dalam
perjanjian tersebut dimuat klausula mengenai pembayaran oleh
PT. Matahari Pusakatama kepada Bank Panin yang dilakukan
dalam US Dollar dan dari Bank Panin kepada PT. Matahari
Pusakatama dalam bentuk rupiah.
Bahwa transaksi derivatif yang berupa cross currency
swap dalam perkara ini merupakan perjanjian yang dibuat
berdasarkan hukum Indonesia
Asas kebebasan berkontrak menurut hukum perjanjian
Indonesia meliputi ruang lingkup sebagai berikut:
1. Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat
perjanjian.
19

2. Kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin


membuat perjanjian.
3. Kebebasan untuk menentukan atau memilih causa dari
perjanjian yang akan dibuatnya.
4. Kebeban untuk menentukan obyek perjanjian.
5. Kebebasan untuk menentukan bentuk suatu perjanjian.
6. Kebebasan untuk menerima atau menyimpangi ketentuan
undang-undang yang bersifat opsional (aanvullend,
optional).8

Berdasarkan ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata


bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku
sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, oleh
karena itu para pihak sudah selayaknya PT. Matahari
Pusakatama dan Bank Panin selaku pihak-pihak di dalam PJP
dan cross currency swap terikat dengan klausula yang ada di
dalam perjanjian tersebut.
Di dalam Pasal 3 UU No. 4 Tahun 1996 disebutkan
mengenai 3 jenis hutang yang dapat dijamin pelunasannya
dengan hak tanggungan berdasarkan 2 jenis perjanjian yaitu
perjanjian utang piutang dan perjanjian lain, dimana hutang-
hutang tersebut adalah:
1. Hutang yang telah ada;
2. Hutang yang baru akan ada, tetapi telah diperjanjikan
sebelumnya dengan jumlah tertentu;
3. Hutang yang baru akan ada tetapi telah diperjanjikan
sebelumnya dengan jumlah yang pada saat permohonan
eksekusi hak tanggungan diajukan ditentukan
berdasarkan perjanjian hutang piutang atau perjanjian

8
Hasanuddin Rahman, Legal Drafting, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000,
halaman 11-12
20

lain yang menimbulkan hubungan hutang piutang yang


bersangkutan

Berdasarkan ketentuan pasal tersebut di atas terbuktilah


bahwa hutang dari cross currency swap juga dapat diikat
dengan jaminan pembebanan Hak Tanggungan.
Maka dari itu, PT. Matahari Pusakatama memang telah
melakukan suatu tindakan wanprestasi dengan tidak
melaksanakan kewajiban yang telah diatur di dalam perjanjian
yang telah mereka sepakati bersama, sehingga Bank Panin
memiliki hak untuk mengajukan eksekusi atas apa yang menjadi
hak tanggungannya.

B. Kasus PT Mayora Indah vs Bankers Trust


International Plc, cs.
Gugatan PT Mayora Indah terhadap Bankers Trust
International dan pihak-pihak yang terkait dengannya
didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal
30 Oktober 1998. Hal tersebut dipicu dengan adanya transaksi
derivatif currency and interest rate swap berupa penjualan US$
51,313,629 pada kurs Rp 2.436/US$ per 14 Juli 2004. Atas
transaksi tersebut, disepakati PT Mayora Indah akan membayar
suku bunga mengambang dan menerima suku bunga tetap.
Bankers Trust dianggap memberikan nasehat yang
menyesatkan PT Mayora Indah sehingga terlibat dalam
transaksi yang merugikan. Dalam nasehatnya Bankers Trust
mengemukakan bahwa PT Mayora Indah akan memperoleh
keuntungan berupa penghematan pajak, cash flow dan
penghematan biaya. Ternyata di dalam perjalanannya tidak ada
diantara yang dijanjikan tersebut tercapai, malah yang terjadi
sebaliknya. Per 31 Desember 1997 PT Mayora Indah
21

membukukan kerugian bersih dari transaksi derivatif sebesar


Rp. 113,31 milyar.
Bahwa Bankers Trust memberikan nasehat kepada PT
Mayora Indah untuk melakukan transaksi derivatif swap dalam
bidang spekulasi bunga untuk penghematan biaya. Bankers
Trust juga memberi nasehat bahwa tingkat suku bunga rupiah
sebesar 15 % sama nilainya dengan tingkat suku bunga US
Dollar di pasar antar bank ditamabah 1,4% - 1,45 % atas uang
pokok senilai Rp. 100 miliyar. Atau bunga rupiah per tahun US$
LIBOR + 1,4 % - 1,45 % . Uang pokok Rp. 100 Miliar tersebut
hanya nilai fiktif (Bankerst Trust memakai istilah “a notional
amount” atau suku bunga dihitung dari uang pokok (principal)
yang tidak pernah ada atau fiktif. Bankers Trust juga
memberikan jaminan bahwa mereka sangat ahli dalam transaksi
derivatif dan full service dari mereka akan bermanfaat bagi PT
Mayora Indah.
Selain itu Bankers Trust juga meyakinkan PT Mayora
Indah bahwa transaksi derivatif akan memberikan keuntungan
baginya berupa arus kas yang positif dari perbedaan tingkat
suku bunga rupiah dan suku bunga US Dollar.
Bahwa perikatan diantara PT Mayora dengan Bankers
Trust didasarkan atas paksaan, kekhilafan atau penipuan
sehingga menerbitkan suatu tuntutan untuk membatalkannya
(Pasal 1449 KUHPerdata) maka dari itu unsur kesepatan
sebagaiman dianut oleh Pasal 1320 KUHPerdata tidak
terpenuhi.
Tindakan dari Bankers Trust juga bertentangan dengan
SK Dir BI No. 28/119/KEP/DIR dimana Bankers Trust tidak
pernah melaksanakan ketentuan Pasal 5 (1) SK Dir BI tersebut,
Bankers Trust tidak pernah memberikan penjelasan apapun
terhadap PT Mayora Indah mengenai resiko yang akan timbul
22

dari transaksi tersebut dan PT mayora tidak pernah


menandatangani Risk Disclosure Statement
Bahwa mengingat sifat dari transaksi derivatif/cross
currency swap transaction adalah spekulasi dan pengetahuan
dan keahlian memprediksi mata uang sangat sedikit bagi
nasabah dibandingkan dengan Bank, maka untuk melindungi
masyarakat Bank Indonesia menerbitkan SK Dir BI No.
28/119/KEP/DIR yang membatasi transaksi derivatif secara
terbatas dengan persyaratan yang sangat berat.
Dengan demikian Bankers Trust dinilai sengaja
menjerumuskan PT. Mayora Indah karena tidak memberikan
semua fakta yang berkaitan dengan melemahnya mata uang
rupiah terhadap US Dollar.
Penulis berpendapat, dalam kasus PT. Mayora Indah ini
transaksi derivatif yang dilakukan bukan merupakan tindakan
hedging yang memenuhi unsur-unsur dari prudential banking,
karena master agreement dari transaksi tersebut juga
merupakan hal yang fiktif, sehingga tidak memenuhi keabsahan
dari transaksi derivatif.
23

BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik oleh penulis sehubungan


dengan identifikasi masalah yang diambil adalah:
Transaksi derivatif ini banyak sekali menawarkan
keuntungan-keuntungan bagi para pelakunya, misalnya dengan
adanya keuntungan yang berlipat ganda sehubungan dengan
gejolak mata uang dan suku bunga. Di samping itu hal ini juga
merupakan suatu cara untuk melindungi nilai berkaitan dengan
valuta asing dan suku bunga yang bersifat fluktuatif (hedging).
Akan tetapi mengingat bahwa transaksi derivatif ini
merupakan bisnis yang beresiko tinggi, maka bank merupakan
pihak yang harus memiliki peran di dalam menyikapi prinsip
kehati-hatian terhadap setiap hal yang berkaitan dengannya
(dalam hal ini adalah prudential banking).
Yang tidak layak untuk dilaksanakan adalah apabila
transaksi derivatif ini dilaksanakan semata-mata hanya untuk
spekulatif saja dengan maksud mengeruk keuntungan semata
yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerugian yang besar
bagi pihak-pihak lainnya.
Melihat kepada dua kasus di atas, memang transaksi
derivatif merupakan perikatan yang sah menurut pandangan
hukum apabila dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-udangan yang berlaku, baik dari segi ketentuan
perdata maupun SK Dir BI No. 28/119/KEP/DIR.
Maka sejauh kontrak mengenai transaksi derivatif
tersebut adalah sah di muka hukum, maka terhadap
wanprestasi dari salah satu pihaknya, maka pihak tersebut
haruslah bertanggung jawab.
24

Sedangkan apabila kontrak tersebut didasari dengan


itikad buruk dan tidak sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku di Indonesia, maka transaksi tersebut
dianggap tidak sah.
25

DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Hasanuddin Rahman, Legal Drafting, Bandung: PT Citra Aditya
Bakti, 2000.

Imam Sjahputra Tunggal; Arief Djohan Tunggal; dan Amin


Widjaja Tunggal, Peraturan Perundang-undangan
Perbankan Di Indonesia, Jakarta: Harvarindo, 1997.

Mariam Darus Badrulzaman, KUH Perdata Buku III Hukum


Perikatan dengan Penjelasan, Bandung: Alumni, 1983.

Munir Fuady, Hukum Perbankan Modern, Bandung: PT Citra


Aditya Bakti, 2001

Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia,


Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000

Muchdarsyah Sinungan, Strategi Manajemen Bank Menghadapi


Tahun 2000, Jakarta: Rineka Cipta, 1994

R. Subekti, Aneka Perjanjian, Bandung: PT Citra Aditya Bakti,


1995.
26

Peraturan Perundang-undangan
Kitab Undang Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek).
Diterjemahkan oleh R. Subekti dan R. Tjitrosudibio. cet.
23. Jakarta: Pradnya Paramita, 1990.

Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia tentang Transaksi


Derivatif. SK Dir BI No. 28/119/KEP/DIR, 1995.

Majalah Hukum:
P.D.D. Dermawan, “Transaksi Swap dan Derivatif Bentuk
Perjanjian dan Keabsahannya.” yang dimuat dalam Varia
Peradilan (Agustus 1999), Jakarta: IKAHI

“Transaksi Derivatif dan Kepailitan Putusan Peninjauan


Kembali MA-RI” yang dimuat dalam Varia Peradilan
(Desember 1999), Jakarta: IKAHI

Internet
“Produk Derivatif Pemanis Bursa,”
(http://www.suaramerdeka.com/harian/0206/17/eko2.htm)
, 17 Juni 2002

“Undang Investor dengan LQ45,”


(http://www.suaramerdeka.com/harian0111/27/eko2.htm),
27 Nopember 2001

R Agus Sartono, “Manfaat dan Resiko Transaksi Derivatif”


(http://www.bappebti.go.id/publikasi/b0301007.asp).
27

John MacDougall (apakabar@access.digex.net), “Gatra-Agar


Bank Tidak Terperosok,”
(http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1996/01/04/
0033.html), 4 Januari 1996.

Pradjoto, “Empat Pilar Hukum Ekonomi Masa Depan”,


(http://www.kontan-online.com/03/15/refleksi/ref1.htm), 4
Januari 1999.