Anda di halaman 1dari 5

COMMENTARY PAPER KELOMPOK ETIKA BISNIS DAN PROFESI ANGGOTA: Esti Laras Aruming Tyas (2013220785) Fitriana Rakhma

ma D (2013220817)

PENDEKATAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS (Analisis Biaya Manfaat dan Analisis Etis untuk Pemecahan Masalah) A. Pengambilan Keputusan Etis Praktis Dalam pengambilan keputusan etis, maka terdapat persyaratan tradisional terkait dengan profitabilitas dan legalitas. Selain itu, terdapat pula persyaratan yang dapat ditampilkan filosofis yang dituntut oleh pemangku kepentingan. Hal ini dirancang untuk meningkatkan pertimbangan etis dengan menyediakan pengetahuan dalam identifikasi dan menganalisis isu-isu penting yang harus dipertimbangkan dan pertanyaan atau tantangan yang harus diungkap dan pendekatan untuk menggabungkan dan menerapkan keputusan-faktor yang relevan ke dalam tindakan praktis. Kerangka kerja pengambilan keputusan etis (EDM) menilai kadar keetisan keputusan yang dibuat dengan melihat: konsekuensi atau diciptakan offness baik dalam hal manfaat atau biaya; hak dan kewajiban yang terkena dampak; keadilan yang terlibat; motivasi atau kebajikan yang diharapkan. Pendekatan filosofis memberikan dasar bagi pendekatan keputusan praktis meskipun sebagian besar dari pihak eksekutif dan akuntan profesioanl tidak menyadari bagaimana dan mengapa demikian. Sniff Test adalah alat uji untuk pengambilan keputusan etis yang dilakukan dengan acuan beberapa pertanyaan, yaitu: Akankah saya merasa nyaman jika tindakan atau keputusan ini? Akankah saya bangga dengan keputusan ini? Akankah ibu saya bangga dengan keputusan ini? Apakah tindakan atau keputusan ini sesuai dengan misi dan kode etik perusahaan? Apakah hal ini terasa benar bagi saya? Penilaian Dampak yang Tidak Dapat Dikuantifikasi 1. Keadilan di antara pemangku kepentingan Kepedulian atas perlakuan yang adil telah menjadi perhatian masyarakat baru-baru ini mengenai isu-isu seperti diskriminasi terhadap perempuan dan hal lainnya yang menyangkut perekrutan, promosi dan pembayaran. Akibatnya, keputusan akan dianggap tidak etis kecuali jika dipandang wajar oleh semua pemanku kepentingan. Keadilan bukan merupakan konsep mutlak. Hal ini dibuktikan dengan distribusi yang relatif atas manfaat dan beban yang dihasilkan dari sebuah keputusan. Oleh karena itu kewajaran dan perspektif diperlukan untuk menilai kesetaraan secara akurat. 2. Hak Pemangku Kepentingan Sebuah keputusan hanya akan dianggap etis jika dampaknya tidak mengganggu hak para pemangku kepentingan dan hak si pembuat keputusan. Hak pemangku kepentingan antara lain: kehidupan, kesehatan dan keselamatan, perlakuan adil, penggunaan hati nurani, harga diri dan privat serta kebebasan bicara. Beberapa hak ini telah dilindungi undangundang dan peraturan hukum, sedangkan yang lain ditegakkan melalui hukum umum atau melalui sanksi publik bagi yang melanggar.

3. Pendekatan Standar Moral Tradisional Standar Moral Pertanyaan dari Keputusan yang diusulkan Apakah tindakan tersebut memaksimalkan manfaat sosial dan meminimalkan luka sosial? Apakah tindakan tersebut konsisten dengan hak setiap orang? Apakah tindakan tersebut membawa kita pada sebuah distribusi yang adil dari manfaat dan beban? Dari tabel di atas terlihat bahwa kepuasan prinsip utilitarian dinilai melalui pertanyaan yang berfokus pada analisis biaya manfaat atau analisis risiko-manfaat, bukan hanya dilihat dari keuntungan. Selain itu, pemeriksaan tentang bagaimana keputusan yang diusulkan dapat menghormati hak-hak individu terlihat dari dampaknya terhadap keputusan mengenai hak-hak setiap pemangku kepentingan. Pendekatan standar moral tradisional tidak secara khusus memberikan kajian yang mendalam tentang motivasi bagi keputusan yang terlibat, kebijakan atau karakter yang diharapkan. 4. Pendekatan Pastin Tradisional Aspek Kunci Tujuan Pemeriksaan Etika aturan dasar Menjelaskan sebuah organisasi atau aturan dan nilai-nilai individu Etika titik akhir Menentukan manfaat bersih yang paling baik untuk semua pihak Etika peraturan Menetukan batasan-batasan yang harus dipertimbangkan seseorang atau organisasi sesuai dengan prinsip-prinsip etis Etika kontrak Menentukan cara bagaimana memindahkan batasan-batasan demi sosial menghapuskan kekhawatiran atau konflik Etika aturan dasar yang digunakan untuk menangkap gagasan bahwa individu dan organisasi memiliki aturan-aturan dasar atau nilai-nilai fundamental yang mengatur perilaku mereka atau perilaku yang diharapkan. Pastin mengusulkan agar dilakukan pemeriksaan terhadap keputusan atau tindakan masa lalu. Pendekatan ini disebut rekayasa balik sebuah keputusan untuk melihat bagaimana dan mengapa keputusan tersebut dibuat. Etika titik akhir menampilkan konsep utilitarianisme dan menggambarkan kesulitan fokus analisis jangka pendek.Aturan etika digunakan untuk menunujukkan nilai aturan yang muncul akibat penggunaan prinsip-prinsip etis yang valid terhadap dilema etika. Dalam etika kontrak sosial yang disatukan dengan konsep kejujuran, Pastin menunjukkan bahwa perumusan keputusan yang diusulkan kedalam kontrak imajiner akan sangat membantu karena memungkinkan para pengambil keputusan untuk bertukar tempat dengan pemangku kepentingan yang akan terkena dampak. Dengan tindakan ini dapat dilihat apakah dampaknya cukup wajar untuk dimasukkan kedalam kontrak. 5. Penilaian Etis Motivasi dan Perilaku Proses penilaian dampak pemangku kepentingan menawarkan kesempatan untuk menilai motivasi yang mendasari keputusan atau tindakan yang diusulkan. Apakah motivasi pengambil keputusan cenderung etis atau tidak. Tabel di bawah ini adalah beberapa pertimbangan dalam pendekatan komprehensif pada EDM. Pendekatan Komprehensif untuk EDM Pertimbangan Uraian Konsekuensialisme Keputusan yang diusulkan akan menghasilkan keuntungan lebih besar dari biaya Hak-hak, tugas atau deontologi Keputusan yang diusulkan tidak menyinggung hak para pemangku kepentingan, termasuk pengambil keputusan Utilitarian: Memaksimalkan keuntungan bersih bagi masyarakat Hak-hak Individu: Dihormati dan dilindungi Keadilan: Distribusi manfaat dan beban yang adil

Kejujuran/kesetaraan atau Keadilan Disribusi manfaat dan beban harus adil Harapan kebajikan atau Etika Motivasi untuk keputusan harus mencerminkan kebijakan ekspektasi kebajikan Keempat pertimbangan harus dipenuhi agar sebuah keputusan dianggap etis. Kesimpulannya, dalam rangka untuk memastikan analisis EDM yang komprehensif, penilaian motivasi, kebajikan dan sifat karakter yang diharapkan harus ditambahkan pada pendekatan tradisional sehingga menghasilkan 5 pertanyaan modifikasi atau pendekatan lainnya yang dimodifikasi. B. Analisis Biaya Manfaat Saat ini, peningkatan kesadaran pihak manajemen terkait dengan keputusan bisnis sering kali memiliki dampak yang tidak dapat diukur dengan mudah jika tetap menggunakan analisis akuntansi tradisional. Pemerintah dan pemegang kepentingan khusus menunjukkan bahwa banyak biaya yang dihasilkan dari keputusan bisnis yang tidak tercermin dalam laporan perusahaan. Polusi alam, misalnya, harus ditanggung oleh pihak lain, bukan oleh perusahaan yang menyebabkan masalah. Dengan demikian maka, manajemen akan mencari teknik analisis yang memperhitungkan biaya dan manfaat eksternal tersebut ketika mereka akan mengambil kebijakan perusahaan. Muncullah suatu analisis tentang hal ini, yang disebut dengan analisis biaya manfaat (ABM) yang dapat digunakan untuk menentukan proyek apa yang harus dilakukan dan untuk memantau kinerja sebuah perusahaan atau proyek yang dilakukan oleh perusahaan. Penggunaan analis biaya manfaat, dibagi menjadi 2 yakni pada organisasi sektor privat dan sektor publik. Pada sektor privat, ABM digunakan untuk: memperkirakan dampak pencemaran terhadap masyarakat karena kegiatan perusahaan, penilaian waktu karyawan yang dihabiskan untuk kegiatan publik, evaluasi alokasi sumber daya untuk proyek-proyek atau kampanye kepentingan umum, dan untuk memperhitungkan waktu luang. Sedangkan pada organisasi sektor publik, ABM digunakan untuk cara evaluasi alternative program social yang mengarah pada alokasi sumber daya untuk program: kesehatan, pendidikan, fasilitas rekreasi umum, konservasi alam, perbaikan transportasi umum, dan penanganan polusi. ABM dicap lebih baik dibandingkan dengan pendekatan tradisional. Penilaian ini didasarkan pada beberapa kelemahan pada pendekatan tradisional, yaitu: hal ini berfokus pada tindakan masa lalu yang tidak relefan untuk tindakan masa depan dalam pengambilan keputusan, tidak memperhitungkan faktor-faktor eksternal, mempertimbangkan beberapa sumber daya sebagai sumber daya bebas atau tanpa biaya, fokusnya jauh lebih sempit, selalu berhubungan dengan kepentingan pemegang saham, bukan kepentingan pemangku kepentingan (atau masyarakat). Teknik Analisis Biaya-Manfaat Daripada menggunakan istilah normal seperti pendapatan, beban, dan laba bersih, maka istilah yang dipakai dalam ABM adalah keuntungan, biaya, dan kelebihan manfaat atas biaya. Konsep ABM tentang manfaat dan biaya lebih luas daripada pendapatan dan biaya karena meraka memperhitungkan nilai-nilai eksternal masa depan sampai sekarang. Kekurangan dan Keunggulan Analisis Biaya Manfaat (ABM) Beberapa akuntan berpendapat bahwa anggaran biaya manfaat terlalu jauh dari misi tradisional. Selain itu jelas bahwa teknik anggaran biaya manfaat akan dipakai di sektor swasta untuk memberikan fokus dalam pengambilan keputusan program-progam perusahaan yang berdampak pada masyarakat. Akuntan tradisional telah mengasumsikan peran pokok dalam menyediakan data untuk keputusan di sektor swasta dan jika posisi ini harus dipertahankan itu adalah kepentingan terbaik akuntan untuk mengenal dengan baik teknik

ABM dan kekurangannya. Selain itu akuntan yang terlibat langsung dengan ABM di sektor public, akan membuat keputusan yang kurang terampil kecuali mereka menyadari teknik ABM yang relefan. Kekurangan dari ABM tersebut dikelompokkan menjadi: Pilihan yang tersedia untuk yang mempersiapkannya (preparer). Kendala yang harus dipertimbangkan oleh preparer dan pengguna. Masalah yang tidak dapat diatasi oleh ABM. Adapun kendala yang harus dipertimbangkan oleh preparer dan pengguna ABM maka penting memisahkan masing-masing proyek. Jika sedang dipertimbangkan proyek bersama, maka analisis ABM harus mencakup semua aspek proyek. Selain itu proyek yang diterima memenuhi persyaratan hukum dan sesuai dengan administrasi. Pilihan yang Tersedia Pilihan yang banyak dan mungkin tidak terlalu akurat, akan menjadi bias bagi ABM sampai di titik di mana keputusan yang tidak bijaksana akan dihasilkan. Ada metode yang bisa mencegah bias dan tidak masuk akal, tapi pengambil keputusan di level pertama harus memahami semua potensi masalahnya. Bias dapat masuk ke dalam ABM melalui pilihan buruk sebagai pengganti dan metode yang digunakan untuk mengukur nilai-nilai masyarakat. Pengambil keputusan ABM harus menyadari bahwa ada banyak isu yang tidak pernah dapat sepenuhnya diselesaikan dengan teknik ABM. ABM tidak memperhitungkan masalah ekuitas, seperti kelayakan dari menghukum satu kelompok atas keuntungan kelompok lain. C. Analisis Etika Untuk Pemecahan Masalah Lingkungan (Graham Tucker, 1990) Saat ini tidak ada perusahaan yang dapat mengklaim jika dirinya etis kecuali menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup. Fokus dari sub bahasan ini adalah pada alat analisis etika dan pemecahan masalah yang dapat memberikan kerangka kerja praktis bagi tindakan. Sebelum menyelesaikan keputusan bisnis, eksekutif harus mengajukan serangkaian pertanyaan untuk memastikan pilihan terbaik yang akan dipilih untuk para pemegang saham, serta pemangku kepeentingan lainnya. Pertanyaan ini harus diajukan dalam urutan sebagai berikut untuk meneliti nilai-nilai yang ditampilkan, yaitu terkait dengan nilai: pasar, hukum, sosial, pribadi, dan lingkungan. Fokus pada nilai-nilai sangat penting untuk analisis yang tepat dari keputusan bisnis, karena moralitas menjadi makin penting untuk kesehatan perusahaan dan masyarakat meskipun hal itu tidak dapat diundangkan. Fokus ini bergantung pada sistem nilai pemimpin perusahaan dan karyawan. Sangat penting untuk kita membuat perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan serta antara menjadi sah menurut hukum dan bersikap etis. Adanya perbedaan yang jelas di area ini banyak menimbulkan pikiran yang membingungkan dalam etika bisnis. Penilaian berikut dihasilkan dari orang-orang yang memiliki pendefinisian tersendiri atas nilai-nilai jelas atau tidak jelas tentang etis dan tidak etis. Nilai Yang Tidak Jelas Nilai Yang Jelas

Apatis Mengetahui siapa mereka Tidak bertanggung jawab Mengetahui apa yang merake mau Tidak konsisten Positif Penggembala (tidak tetap) Penuh tujuan Tokoh pemeran Antusias Tidak dapat mengambil keputusan Dapat mengambil keputusan Baik secara individu maupun korporat adalah menguntungkan bagi kita untuk mengembangkan seperangkat niali yang jelas, karena nilai-nilai yang membingungkan akan menghasilkan keputusan etis yang membingungkan.

Analisis etika membawa kita pada dua konsep etika dasar, yang akan berlaku dalam studi kasus saat ini. Pertama adalah aturan etika, Tingkat aturan etika berikutnya terdiri atas aturan atau prinsip-prinsip yang keluar dari tradisi moral kita. Utilitarianisme atau Etika Titik Akhir John Stuar Mill mengatakan bahwa untuk menentukan apakah suatu tindakan benar atau salah, seorang harus berkonsentrasi pada kosekeensi yang mungkin terjadi-titik akhir atau hasil akhir. Apa manfaat terbesar bagi jumlah yang terbesar?. Hal ini mengarahkan pada analisis biaya-manfaat. Apakah manfaat membenarkan biaya?, dan untuk analisis resiko manfaat, berarti apakah manfaat tidak membenarkan resiko bisnis? Dimuai dengan aturanaturan etika dimana para pemangku kepentingan menguji keputusan dengan mengajukan pertanyaan: 1. Apakah legal (atau sah)? 2. Apakah adil? 3. Apakah benar 4. Apakah ramah lingkungan Kemudian pindah ke etika etik akhir yang berusaha memberikan manfaat terbesar bagi jumlah orang terbesar dan memaksa kita membuat perdagangan untuk mencapai kebaikan. Referensi: Brooks, Leonard J. & Paul Dunn. 2011.Etika Bisnis dan Profesi: Untuk Direktur, Eksekutif, dan Akuntan. Edisi Kelima. Buku Satu. Terjemahan oleh Kanti Pertiwi. Jakarta: Salemba Empat.