Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu 1 . Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun dan beraktivitas di siang hari. Sekitar sepertiga orang dewasa mengalami kesulitan memulai tidur dan/atau mempertahankan tidur dalam setahun, dengan 17 mengakibatkan gangguan kualitas hidup!. Sebanyak "# mereka1. %i Indonesia, pada tahun !&1& terdapat 11,7 insomnia. Insomnia umumnya merupakan kondisi sementara atau jangka pendek. %alam beberapa kasus, insomnia dapat menjadi kronis. 'al ini sering disebut sebagai gangguan penyesuaian tidur karena paling sering terjadi dalam konteks situasional stres akut, seperti pekerjaan baru atau menjelang ujian. Insomnia ini biasanya hilang ketika stressor hilang atau individu telah beradaptasi dengan stressor. (amun, insomnia sementara sering berulang ketika tegangan baru atau serupa mun)ul dalam kehidupan pasien*. Insomnia jangka pendek berlangsung selama 1+, bulan. 'al ini biasanya berhubungan dengan faktor+faktor stres yang persisten, dapat situasional -seperti kematian atau penyakit. atau lingkungan -seperti kebisingan.. Insomnia kronis adalah setiap insomnia yang berlangsung lebih dari , bulan. 'al ini dapat dikaitkan dengan berbagai kondisi medis dan psikiatri biasanya pada pasien dengan predisposisi yang mendasari untuk insomnia*. /eskipun kurang tidur, banyak pasien dengan insomnia tidak mengeluh mengantuk di siang hari. (amun, mereka mengeluhkan rasa lelah dan letih, dengan konsentrasi yang buruk. 'al ini mungkin berkaitan dengan keadaan fisiologis hyperarousal. 0ahkan, meskipun tidak mendapatkan tidur )ukup, pasien dengan insomnia seringkali mengalami kesulitan tidur bahkan untuk tidur siang. di antaranya orang $merika telah penduduk mengalami

melaporkan sebuah episode dari insomnia pada beberapa waktu selama hidup

Insomnia kronis juga memiliki banyak konsekuensi kesehatan seperti berkurangnya kualitas hidup, sebanding dengan yang dialami oleh pasien dengan kondisi seperti diabetes, arthritis, dan penyakit jantung. 1ualitas hidup meningkat dengan pengobatan tetapi masih tidak men)apai tingkat yang terlihat pada populasi umum. Selain itu, insomnia kronis dikaitkan dengan terganggunya kinerja pekerjaan dan sosial. Insomnia merupakan salah satu faktor risiko depresi dan gejala dari sejumlah gangguan medis, psikiatris, dan tidur. 0ahkan, insomnia tampaknya menjadi prediksi sejumlah gangguan, termasuk depresi, ke)emasan, ketergantungan alkohol, ketergantungan obat, dan bunuh diri. Insomnia sering menetap meskipun telah dilakukan pengobatan kondisi medis atau kejiwaan yang mendasari, bahkan insomnia dapat meningkatkan resiko kekambuhan penyakit primernya. %alam hal ini, dokter perlu memahami bahwa insomnia adalah suatu kondisi tersendiri yang membutuhkan pengakuan dan pengobatan untuk men)egah morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup bagi pasien mereka*,2.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Fisiologi Tidur Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus !2 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian1,2. 3idur tidak dapat diartikan sebagai menifestasi proses deaktivasi Sistem Saraf 4usat. Saat tidur, susunan saraf pusat masih bekerja dimana neuron+neuron di substansia retikularis ventral batang otak melakukan sinkronisasi. 0agian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis batang otak yang disebut sebagai pusat tidur -sleep center.. 0agian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral batang otak disebut sebagai pusat penggugah -arousal center.. 3idur dibagi menjadi ! tipe yaitu5 1. 3ipe Rapid Eye Movement -67/. !. 3ipe Non Rapid Eye Movement -(67/. 8ase awal tidur didahului oleh fase (67/ yang terdiri dari 2 stadium, lalu diikuti oleh fase 67/. 1eadaan tidur normal antara fase (67/ dan 67/ terjadi se)ara bergantian antara 2+, kali siklus semalam. 3idur (67/ yang meliputi 7# dalam empat stadium, antara lain5 1. Stadium 1, berlangsung selama # dari keseluruhan waktu tidur. Stadium ini dianggap stadium tidur paling ringan. 77G menggambarkan gambaran kumparan tidur yang khas, bervoltase rendah, dengan frekuensi * sampai 7 siklus perdetik, yang disebut gelombang teta. !. Stadium !, berlangsung paling lama, yaitu 2# dari keseluruhan waktu tidur. 77G menggambarkan gelombang yang berbentuk pilin -spindle dari keseluruhan waktu tidur, dibagi

shaped. yang sering dengan frekuensi 1! sampai 12 siklus perdetik, lambat, dan trifasik yang dikenal sebagai kompleks 1. 4ada stadium ini, orang dapat dibangunkan dengan mudah. *. Stadium *, berlangsung 1! dari keseluruhan waktu tidur. 77G menggambarkan gelombang bervoltase tinggi dengan frekuensi &,# hingga !,# siklus perdetik, yaitu gelombang delta. 9rang tidur dengan sangat nyenyak, sehingga sukar dibangunkan. 2. Stadium 2, berlangsung 1* dari keseluruhan waktu tidur. Gambaran 77G hampir sama dengan stadium * dengan perbedaan kuantitatif pada jumlah gelombang delta. Stadium * dan 2 juga dikenal dengan nama tidur dalam, atau delta sleep, atau Slow Wave Sleep -S:S.. Sedangkan tidur 67/ meliputi !# dari keseluruhan waktu tidur. 3idak

dibagi+bagi dalam stadium seperti dalm tidur (67/1,2. 2.2 Definisi Insomni /enurut %S/+I;, Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non+restoratif yang berlangsung setidaknya satu bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu. The International Classification of Diseases mendefinisikan Insomnia sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal * malam/minggu selama minimal satu bulan. /enurut The International Classification of Sleep Disorders, insomnia adalah kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman setelah episode tidur tersebut. <adi, Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk melakukannya. Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional, kelainan fisik dan pemakaian obat+obatan. Insomnia dapat mempengaruhi tidak hanya tingkat energi dan suasana hati tetapi juga kesehatan, kinerja dan kualitas hidup.

2.! Kl sifi" si Insomni a. Insomnia 4rimer Insomnia primer ini mempunyai faktor penyebab yang jelas. insomnia atau susah tidur ini dapat mempengaruhi sekitar * dari 1& orang yang menderita insomnia. 4ola tidur, kebiasaan sebelum tidur dan lingkungan tempat tidur seringkali menjadi penyebab dari jenis insomnia primer ini. b. Insomnia Sekunder Insomnia sekunder biasanya terjadi akibat efek dari hal lain, misalnya kondisi medis. /asalah psikologi seperti perasaan bersedih, depresi dan dementia dapat menyebabkan terjadinya insomnia sekunder ini pada # dari 1& orang. Selain itu masalah fisik seperti penyakit arthritis, diabetes dan rasa nyeri juga dapat menyebabkan terjadinya insomnia sekunder ini dan biasanya mempengaruhi 1 dari 1& orang yang menderita insomnia atau susah tidur. Insomnia sekunder juga dapat disebabkan oleh efek samping dari obat+obatan yang diminum untuk suatu penyakit tertentu, penggunaan obat+obatan yang terlarang ataupun penyalahgunaan alkohol. 8aktor ini dapat mempengaruhi 1+! dari 1& orang yang menderita insomnia. 0erdasarkan International =lassifi)ation of Sleep %isordes yang direvisi, insomnia diklasifikasikan menjadi 5 a !cute insomnia " #sychophysiolo$ic insomnia c #arado%ical insomnia &sleep'state misperception( d Idiopathic insomnia e Insomnia due to mental disorder f Inade)uate sleep hy$iene $ *ehavioral insomnia of childhood h Insomnia due to dru$ or su"stance i Insomnia due to medical condition + Insomnia not due to su"stance or ,nown physiolo$ic condition, , unspecified &nonor$anic( #hysiolo$ic insomnia, unspecified &or$anic(
-

2.# T nd d n $e% l Insomni


1esulitan untuk memulai tidur pada malam hari Sering terbangun pada malam hari 0angun tidur terlalu awal 1elelahan atau mengantuk pada siang hari Iritabilitas, depresi atau ke)emasan 1onsentrasi dan perhatian berkurang 4eningkatan kesalahan dan ke)elakaan 1etegangan dan sakit kepala Gejala gastrointestinal 1,*,,

2.& E'iologi Insomni a. Stres 1ekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau keluarga dapat membuat pikiran menjadi aktif di malam hari, sehingga sulit untuk tidur. 4eristiwa kehidupan yang penuh stres, seperti kematian atau penyakit dari orang yang di)intai, per)eraian atau kehilangan pekerjaan, dapat menyebabkan insomnia. b. 1e)emasan dan depresi 'al ini mungkin disebabkan ketidakseimbangan kimia dalam otak atau karena kekhawatiran yang menyertai depresi. ). 9bat+obatan 0eberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur, termasuk beberapa antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat alergi, stimulan -seperti 6italin. dan kortikosteroid. d. 1afein, nikotin dan alkohol. 1opi, teh, )ola dan minuman yang mengandung kafein adalah stimulan yang terkenal. (ikotin merupakan stimulan yang dapat menyebabkan insomnia. $lkohol adalah obat penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur, tetapi men)egah tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun di tengah malam. ,

e. 1ondisi /edis <ika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan bernapas dan sering buang air ke)il, kemungkinan mereka untuk mengalami insomnia lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa gejala tersebut. 1ondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis, kanker, gagal jantung, penyakit paru+paru, gastroesophageal reflu> disease -G76%., stroke, penyakit 4arkinson dan penyakit $l?heimer. f. 4erubahan lingkungan atau jadwal kerja 1elelahan akibat perjalanan jauh atau pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya irama sirkadian tubuh, sehingga sulit untuk tidur. 6itme sirkadian bertindak sebagai jam internal, mengatur siklus tidur+bangun, metabolisme, dan suhu tubuh. g. @0elajar@ insomnia 'al ini dapat terjadi ketika $nda khawatir berlebihan tentang tidak bisa tidur dengan baik dan berusaha terlalu keras untuk jatuh tertidur. 1ebanyakan orang dengan kondisi ini tidur lebih baik ketika mereka berada jauh dari lingkungan tidur yang biasa atau ketika mereka tidak men)oba untuk tidur, seperti ketika mereka menonton 3; atau memba)a*,A. 2.( F "'or )esi"o Insomni 'ampir setiap orang memiliki kesulitan untuk tidur pada malam hari tetapi resiko insomnia meningkat jika terjadi pada 5 1. :anita 4erempuan lebih mungkin mengalami insomnia. 4erubahan hormon selama siklus menstruasi dan menopause mungkin memainkan peran. Selama menopause, sering berkeringat pada malam hari dan hot flashes sering mengganggu tidur. !. Bsia lebih dari ,& tahun 1arena terjadi perubahan dalam pola tidur, insomnia meningkat sejalan dengan usia.

*. /emiliki gangguan kesehatan mental 0anyak gangguan, termasuk depresi, ke)emasan, gangguan bipolar dan post+traumati) stress disorder, mengganggu tidur. 2. Stres Stres dapat menyebabkan insomnia sementara, stress jangka panjang seperti kematian orang yang dikasihi atau per)eraian, dapat menyebabkan insomnia kronis. /enjadi miskin atau pengangguran juga meningkatkan risiko terjadinya insomnia. #. 4erjalanan jauh -<et lag. dan 4erubahan jadwal kerja 0ekerja di malam hari sering meningkatkan resiko insomnia.1,2 2.* Di gnosis Bntuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian terhadap5 a. 4ola tidur penderita. b. 4emakaian obat+obatan, alkohol, atau obat terlarang. ). 3ingkatan stres psikis. d. 6iwayat medis. e. $ktivitas fisik f. %iagnosis berdasarkan kebutuhan tidur se)ara individual. Sebagai tambahannya, dokter akan melengkapi kuisioner untuk

menentukan pola tidur dan tingkat kebutuhan tidur selama 1 hari. <ika tidak dilakukan pengisian kuisioner, untuk men)apai tujuan yang sama $nda bisa men)atat waktu tidur $nda selama ! minggu. 4emeriksaan fisik akan dilakukan untuk menemukan adanya suatu permasalahan yang bisa menyebabkan insomnia. $da kalanya pemeriksaan darah juga dilakukan untuk menemukan masalah pada tyroid atau pada hal lain yang bisa menyebabkan insomnia. <ika penyebab dari insomnia tidak ditemukan, akan dilakukan pemantauan dan pen)atatan selama tidur yang men)angkup gelombang otak, pernapasan, nadi, gerakan mata, dan gerakan tubuh#.

Kri'eri Di gnos'i" Insomni Non+,rg ni" -erd s r" n PPD$J( 'al tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti5 a. b. ). d. 1eluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur yang buruk. Gangguan minimal terjadi * kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan. $danya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari. 1etidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang )ukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan. e. f. $danya gangguan jiwa lain seperti depresi dan an>ietas tidak menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan. 1riteria Clama tidurD -kuantitas. tidak diguankan untuk menentukan adanya gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Eama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas -seperti pada Ctransient insomniaD. tidak didiagnosis di sini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut -82*.&. atau gangguan penyesuaian -82*.!. 2.. T ' l "s n 1. Non F rm "o'er /i . Ter /i Ting" 0 L "u 3erapi tingkah laku bertujuan untuk mengatur pola tidur yang baru dan mengajarkan )ara untuk menyamankan suasana tidur. 3erapi tingkah laku ini umumnya direkomendasikan sebagai terapi tahap pertama untuk penderita insomnia. 3erapi tingkah laku meliputi 5 1. !. 7dukasi tentang kebiasaan tidur yang baik. 3eknik 6elaksasi. /eliputi merelaksasikan otot se)ara progresif, membuat biofeedba)k, dan latihan pernapasan. =ara ini dapat membantu

"

mengurangi ke)emasan saat tidur. Strategi ini dapat membantu $nda mengontrol pernapasan, nadi, tonus otot, dan mood. *. 3erapi kognitif. /eliputi merubah pola pikir dari kekhawatiran tidak tidur dengan pemikiran yang positif. 3erapi kognitif dapat dilakukan pada konseling tatap muka atau dalam grup. 2. 1ontrol stimulus 3erapi ini dimaksudakan untuk membatasi waktu yang dihabiskan untuk beraktivitas. #. 6estriksi 3idur. 3erapi ini dimaksudkan untuk mengurangi waktu yang dihabiskan di tempat tidur yang dapat membuat lelah pada malam berikutnya*,#. -. $ 1 0idu/ d n /engo- ' n di rum 0 0eberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia 5 /engatur jadwal tidur yang konsisten termasuk pada hari libur 3idak berada di tempat tidur ketika tidak tidur. 3idak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa. 'anya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur. 6elaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, memba)a, latihan pernapasan atau beribadah /enghindari atau membatasi tidur siang karena akan menyulitkan tidur pada malam hari. /enyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur, seperti menghindari kebisingan 9lahraga dan tetap aktif, seperti olahraga selama !& hingga *& menit setiap hari sekitar lima hingga enam jam sebelum tidur.

1&

/enghindari kafein, alkohol, dan nikotin. /enghindari makan besar sebelum tidur. =ek kesehatan se)ara rutin. <ika terdapat nyeri dapat digunakan analgesik1,!,*,#

2. F rm "ologi 4engobatan insomnia se)ara farmakologi dibagi menjadi dua golongan yaitu ben?odia?epine dan non+ben?odia?epine. a. 0en?odia?epine -(itra?epam,3ri?olam, dan 7sta?olam. b. (on ben?odia?epine -=hloral+hydrate, 4henobarbital. 4emilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur 5 Initial Insomnia -sulit masuk ke dalam proses tidur. 9bat yang dibutuhkan adalah bersifat CSleep indu)ing anti+insomniaD yaitu golongan ben?odia?epine -Short $)ting.. /isalnya pada gangguan an>ietas. %elayed Insomnia -proses tidur terlalu )epat berakhir dan sulit masuk kembali ke proses tidur selanjutnya.. 9bat yang dibutuhkan adalah bersifat C4rolong latent phase $nti+InsomniaD, yaitu golongan heterosiklik antidepresan -3risiklik dan 3etrasiklik.. /isalnya pada gangguan depresi. 0roken Insomnia -siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpe)ah+pe)ah menjadi beberapa bagian -multiple awakening.. 9bat yang dibutuhkan adalah bersifat CSleep /aintining $nti+ InsomniaD, psikososial. 4engaturan %osis yaitu golongan phenobarbital atau golongan ben?odia?epine -Eong a)ting.. /isalnya pada gangguan stres

11

4emberian tunggal dosis anjuran 1# sampai *& menit sebelum pergi tidur. %osis awal dapat dinaikkan sampai men)apai dosis efektif dan dipertahankan sampai 1+! minggu, kemudian se)epatnya tapering off -untuk men)egah timbulnya rebound dan toleransi obat..

4ada usia lanjut, dosis harus lebih ke)il dan peningkatan dosis lebih perlahan+lahan, untuk menghindari oversedation dan intoksikasi. $da laporan yang menggunakan antidepresan sedatif dosis ke)il !+* kali seminggu -tidak setiap hari. untuk mengatasi insomnia pada usia lanjut.

Eama 4emberian 4emakaian obat antiinsomnia sebaiknya sekitar 1+! minggu saja, tidak lebih dari ! minggu, agar resiko ketergantungan ke)il. 4enggunaan lebih dari ! minggu dapat menimbulkan perubahan CSleep 77GD yang menetap sekitar , bulan lamanya. 1esulitan pemberhetian obat seringkali oleh karena C4sy)hologi)al %ependen)eD -habiatuasi. sebagai akibat rasa nyaman setelah gangguan tidur dapat ditanggulangi. 7fek Samping 7fek samping dapat terjadi sehubungan dengan farmakokinetik obat anti+ insomnia -waktu paruh. 5 :aktu paruh singkat, seperti 3ria?olam -sekitar 2 jam.. Gejala rebound lebih berat pada pagi harinya dan dapat sampai menjadi panik. :aktu paruh sedang, seperti 7sta?olam gejala rebound lebih ringan. :aktu paruh panjang, seperti (itra?epam menimbulkan gejala Chang overD pada pagi harinya dan juga Cintensifying daytime sleepinessD. 4enggunaan lama obat anti+insomnia golongan ben?odia?epine dapat terjadi Cdisinhibiting effe)tD yang menyebabkan Crage rea)tionD. 1!

Interaksi obat 9bat anti+insomnia F =(S %epressants -alkohol dll. menimbulkan potensiasi efek supresi SS4 yang dapat menyebabkan Coversedation and respiratory failureD. 9bat golongan ben?odia?epine tidak menginduksi hepati) mi)rosomal en?yme atau Cprodu)e protein binding displa)ementD sehingga jarang menimbulkan interaksi obat atau dengan kondisi medik tertentu. 9verdosis jarang menimbulkan kematian, tetapi bila disertai alkohol atau C=(S %epressantD lain, resiko kematian akan meningkat. 4erhatian 1husus 1ontraindikasi 5 o Sleep apneu syndrome o =ongestive 'eart 8ailure o =hroni) 6espiratory %isease 4enggunaan 0en?odia?epine pada wanita hamil mempunyai risiko menimbulkan Cteratogeni) effe)tD -e.g.)left+palate abnormalities. khususnya pada trimester pertama. <uga ben?odia?epine dieksresikan melalui $SI, berefek pada bayi -penekanan fungsi SS4.1,*,7. 2.2 Kom/li" si 3idur sama pentingnya dengan makanan yang sehat dan olahraga yang teratur. Insomnia dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik.

1*

1omplikasi insomnia meliputi 5


Gangguan dalam pekerjaan atau di sekolah. Saat berkendara, reaksi refle> akan lebih lambat. Sehingga meningkatkan reaksi ke)elakaan. /asalah kejiwaan, seperti ke)emasan atau depresi 1elebihan berat badan atau kegemukan %aya tahan tubuh yang rendah /eningkatkan resiko dan keparahan penyakit jangka panjang, )ontohnya tekanan darah yang tinggi, sakit jantung, dan diabetes.

2.13 Prognosis 4rognosis umumnya baik dengan terapi yang adekuat dan juga terapi pada gangguan lain seperti depresi. Eebih buruk jika gangguan ini disertai ski?ophrenia.

BAB III PENUTUP

12

!.1. Kesim/ul n Insomnia merupakan kesulitan untuk masuk tidur, kesulitan dalam mempertahankan tidur, atau tidak )ukup tidur. Insomnia merupakan gangguan fisiologis yang )ukup serius, dimana apabila tidak ditangani dengan baik dapat mempengaruhi kinerja dan kehidupan sehari+hari. Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti stres, ke)emasan berlebihan, pengaruh makanan dan obat+obatan, perubahan lingkungan, dan kondisi medis. Insomnia didiagnosis dengan melakukan penilaian terhadap pola tidur penderita, pemakaian obat+obatan, alkohol, atau obat terlarang, tingkatan stres psikis, riwayat medis, aktivitas fisik, dan kebutuhan tidur se)ara individual. Insomnia dapat ditatalaksana dengan )ara farmakologi dan non farmakologi, bergantung pada jenis dan penyebab insomnia. 9bat+obatan yang biasanya digunakan untuk mengatasi insomnia dapat berupa golongan ben?odia?epin -(itra?epam, 3ri?olam, dan 7sta?olam., dan non ben?odia?epine -=hloral+hydrate, 4henobarbital.. 3atalaksana insomnia se)ara non farmakologis dapat berupa terapi tingkah laku dan pengaturan gaya hidup dan pengobatan di rumah seperti mengatur jadwal tidur. !.2. S r n 1arena kurangnya data mengenai epidemiologi insomnia di Indonesia, maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai gambaran insomnia di Indonesia.

DAFTA) PUSTAKA

1#

1. 1aplan, '.I, Sado)k 0<. !&1&. .aplan dan Sadoc, Sinopsis #si,iatri Ed/ Wi$una, I Made 3angerang5 0ina 6upa $ksara 4ublisher !. $meri)an $)ademy of Sleep /edi)ine. ICSD0 ' International Classification of Sleep Disorders $meri)an $)ademy of Sleep /edi)ine Dia$nostic and Codin$ Manual . Dia$nosti, dan Codin$ Manual !nd. !. :est)hester, Ill5 $meri)an $)ademy of Sleep /edi)ineG !&&#51+*!. *. Heidler, /.6. !&11. Insomnia. 7ditor5 Selim 6 0enbadis. %iakses -http5//www.emedi)ina.meds)ape.)om/arti)le/11A7A!".)om tanggal !A $pril !&1*. 2. 3omb, %avid $. !&&2. *u,u Sa,u #si,iatri Ed 1. <akarta5 7G= #. Insomnia. -http5//www.mayo)lini).)om/health/insomnia/%S&&1A7/%S7=3I9(Ialter native+medi)ine %iakses tanggal !A $pril !&1*. ,. /aslim, 6usdi. !&&1. *u,u Sa,u Dia$nosis 2an$$uan 3iwa Ru+u,an Rin$,as dari ##D23'III. <akarta5 0agian Ilmu 1edokteran <iwa 81+Bnika $tmajaya. 7. /aslim, 6usdi. !&&1. #anduan #ra,tis #en$$unaan .linis 4"at #si,otropi,. <akarta5 0agian Ilmu 1edokteran <iwa 81+Bnika $tmajaya. A. Gelder, /i)hael G, et). !&&*. (ew 9>ford 3e>tbook of 4sy)hiatry. Eondon5 9>ford Bniversity 4ress

1,