Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pemberian obat melalui kulit menjadi perhatian khusus bagi peneliti dalam mengembangkan sistem penghantaran obat (Bendas dan Mina. 2007). Menurut Selvam dkk. (2010) sistem penghantaran obat se!ara transdermal merupakan suatu bentuk sediaan "ang diberikan pada kulit menghantarkan obat masuk ke dalam sistem sirkulasi dengan ke!epatan "ang terkontrol. Bentuk transdermal menjadi pilihan terutama untuk obat#obat "ang apabila diberikan se!ara oral bisa memberi e$ek samping "ang tidak diinginkan. Pathan dan Sett" (200%) men"atakan bah&a pemberian obat se!ara transdermal memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan rute oral "aitu menghindari metabolisme lintas pertama obat mampu untuk mengontrol

pelepasan obat untuk &aktu "ang lebih lama (penghantaran obat jangka panjang dan terkontrol) dan mampu mengubah si$at#si$at barrier biologis untuk sistem transdermal juga memberikan ken"amanan

pen"erapan. Selain itu

terhadap pasien karena menghilangkan e$ek samping obat "ang bersi$at mengiritasi sistem gastrointestinal (Parashar dkk. 201'). (apisan terluar kulit stratum korneum merupakan suatu barrier penetrasi obat ke dalam tubuh. )ntuk meningkatkan permeasi obat ke dalam kulit beberapa metode telah dilakukan baik se!ara $isika maupun kimia seperti ionto$oresis sono$oresis penggunaan sistem berbasis lipid dan lain#lain (Parashar dkk. 201'). Sistem berbasis lipid menjadi metode "ang sempurna dalam sistem penghantaran obat se!ara transdermal karena biokompatibilitasn"a dan dengan mudah

ber!ampur dengan lipid pada kulit (*hourasia dkk. 2011). Salah satun"a adalah dengan menggunakan sistem pemba&a vesikuler "ang baru "aitu etosom. Menurut +nitha (2011) etosom adalah suatu pemba&a obat "ang mampu masuk dan men!apai lapisan kulit paling dalam hingga masuk ke sistem sirkulasi. ,tosom merupakan lipid vesikel "ang mengandung $os$olipid alkohol (etanol dan isopropil alkohol) konsentrasi tinggi dan air. -enilbuta.on adalah salah satu obat golongan antiin$lamasi non steroid (+/0S) tertua kedua setelah aspirin (Soma dkk. 2011). Pada tahun 1%12 $enilbuta.on dipasarkan di +merika Serikat untuk pengobatan rheumatoid arthritis dan gout (2odman dkk. 2010). -enilbuta.on (buta.olidin) %34 berikatan dengan protein telah dipakai selama bertahun#tahun untuk mengobati arthritis rematoid dan gout akut. 5bat ini mempun"ai &aktu paruh "ang sangat panjang 10#31 jam sehingga sering timbul reaksi "ang merugikan dan akumulasi obat dapat terjadi. Panjangn"a &aktu paruh "ang dimiliki oleh obat ini sering menimbulkan reaksi "ang merugikan terutama bila digunakan se!ara oral berupa iritasi lambung "ang terjadi pada 10#614 pasien (7ee dan ,vel"n. 1%%3). )ntuk mengurangi e$ek pada saluran !erna pendekatan "ang dilakukan adalah dengan membuat sediaan transdermal "aitu sistem penghantaran "ang meman$aatkan kulit sebagai tempat masukn"a obat (Sukma&ati dan Suprapto. 2010). 8ransdermal adalah salah satu !ara administrasi obat dengan bentuk sediaan $armasi9obat berupa krim gel atau patch "ang digunakan pada permukaan kulit namun mampu menghantarkan obat masuk ke dalam tubuh melalui kulit. :el merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi "ang dibuat dari partikel

anorganik "ang ke!il atau molekul organik "ang besar terpenetrasi oleh suatu !airan (2epkes ;/. 1%%1). 7euntungan sediaan gel dibandingkan sediaan topikal "ang lain adalah mudah merata jika dioleskan pada kulit tanpa penekanan memberi sensasi dingin tidak menimbulkan bekas dikulit dan mudah digunakan. -ormulasi gel $enilbuta.on#etosom untuk penggunaan transdermal

diharapkan dapat menjadi suatu alternati$ untuk menghindari variabilitas ketersediaan ha"ati obat pada penggunaan per oral menghindari kontak langsung obat dengan mukosa lambung sehingga mengurangi e$ek sampingn"a juga untuk memperoleh konsentrasi obat terlokalisir pada tempat kerjan"a sehingga dapat meningkatkan ken"amanan dan kepuasan pasien.

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan "ang akan diteliti dalam

penelitian ini adalah 1. Bagaimana $ormulasi gel $enilbuta.on dalam pemba&a vesikuler etosom sebagai sediaan transermal "ang baik< 2. Bagaimana uji organoleptis uji homogenitas uji viskositas uji p= dan uji stabilitas dalam mengevalusi sediaan gel $enilbuta.on#etosom<

C. Tujuan Penelitian 8ujuan "ang ingin di!apai pada penelitian ini adalah untuk> 1. Mem$ormulasikan gel $enilbuta.on dalam pemba&a vesikuler etosom sebagai sediaan transdermal "ang stabil.

2. Mengevaluasi sediaan gel $enilbuta.on#etosom melalui uji organoleptis uji homogenitas uji viskositas uji p= dan uji stabilitasn"a.

D. Manfaat Penelitian 2iharapkan penelitian ini dapat > 1. Menambah &a&asan keilmuan peneliti terutama pada bidang $ormulasi sediaan transdermal. 2. Sebagai salah satu sumber in$ormasi mengenai $ormulasi gel dengan pemba&a vesikuler etosom "ang dapat dijadikan rujukan untuk penelitian selanjutn"a. '. Sebagai salah satu bentuk terobosan dalam dunia pengobatan pen"akit arthritis rematoid dan gout akut 6. Sebagai bentuk sediaan "ang baru dari $enilbuta.on "ang bersi$at lebih n"aman digunakan terhadap pasien dengan pen"akit arthritis rematoid dan gout akut.