Anda di halaman 1dari 11

JENIS IMUNISASI

Menurut NNII (2010), Marimbi (2010), Wilson dan Hockenberry (2008), Depkes RI (2005) serta Ball dan Binder (2003), uraian beberapa jenis imunisasi diatas yaitu sebagai berikut: 1) Imunisasi BCG (Bacilus Calmette Guerin) a) Tujuan dan manfaat Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit Tubercolisis (TBC). Penyakit ini umumnya menyerang paru dengan manifestasi klinis yaitu demam, batuk, menggigil dan keringat dingin pada malan hari. Vaksin BCG tidak dapat mencegah seseorang terhindar dari infeksi M. tuberculosa 100%, tapi dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut. Di negara-negara berkembang kematian akibat TBC merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang. Di Amerika dan Belanda, imunisasi BCG tidak termasuk yang direkomendasikan karena keefektifan vaksin BCG tidak maksimal. b) Jenis dan sediaan vaksin Vaksin BCG mengandung kuman TBC yang masih hidup yang telah dilemahkan. Ditemukan oleh Calmette dan Guerin dan digunakan pertama kali untuk manusia pada tahun 1921. Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkan dengan 4 cc NaCl 0,9%. Setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam, sisanya dibuang. Penyimpanan pada suhu < 5C terhindar dari sinar matahari (indoor day-light). c) Cara pemberian imunisasi Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan ketika bayi baru lahir sampai umur 12 bulan, tetapi sebaiknya pada umur 0 2 bulan. Disuntikkan intra kutan di daerah insertio deltoid muscle dengan dosis 0,05 ml, sebelah kanan. d) Reaksi dan Efek samping Biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak menderita demam, bila demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan keadaan lain. Untuk hal ini dianjurkan agar berkonsultasi ke dokter. Efek setelah imunisasi BCG yaitu akan timbul indurasi dan kemerahan di tempat suntikan kemudian berubah menjadi pustula, kemudian pecah menjadi luka.

"!

Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda parut. Kadangkadang terjadi pembengkakan kelenjar regional di ketiak atau leher, terasa padat, tidak sakit, dan tidak menimbulkan demam reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya. e) Kontra indikasi Tidak diberikan pada individu dengan kondisi berikut: - Menderita penyakit TBC atau menunjukkan uji Mantoex positif - Respon imunologik terganggu: infeksi HIV, defisiensi imun kongenital, leukemia, keganasan - Respon imunologik tertekan: menajalani terapi kortikosteroid, kemoterapi, radiasi - Hamil 2) Imunisasi DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus) a) Tujuan dan manfaat Manfaat pemberian vaksinasi ini adalah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu bersamaan terhadap penyakit Defteria, Pertusis dan Tetanus. Difteri disebabkan Corynebacterium diphtheriae yang menyerang temggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Penyakit ini mudah menular melalui batuk atau bersin. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi Bordotella pertussis pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti peneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi Clostridium tetani yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Penyakit tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman bakteri. Prevalensi tetanus masih cukup tinggi di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum). Vaksin DPT atau DPaT diketahui 95% efektif mencegah difteri, pertussis dan tetanus. Dikethui bahwa tingkat perlindungan untuk difteri mencapai 95%, sedangkan untuk pertussis dan tetanus lebih rendah daya perlindungannya. Vaksin ini memiliki kekuatan imunitas yang dapat bertahan hingga 10 tahun, sehingga setelah 10 tahun vaksinasi, sebaiknya dilakukan boster atau imunisasi ulang. b) Jenis dan sediaan vaksin Vaksin DPT atau DPaT terdiri dari Toxoid difteri (racun yang dilemahkan), Bordittela pertusis (bakteri yang dilemahkan) dan Toxoid tetanus (racun yang lemahkan + aluminium fosfat dan mertiolat). Vaksin DPT yang mengandung komponen sel pertusis

#!

utuh memiliki efek samping demam yang cukup tinggi. Oleh karena itu saat ini direkomendasikan menggunakan vaksin DPaT yang mengandung pertussis aselular (hanya bagian tertentu dari kuman yang masih dapat menstimulus antibody) dengan efek samping yang lebih ringan. DPT/ DPaT Merupakan vaksin cair, jika didiamkan sedikit berkabut, dan terdapat endapan putih di dasarnya. Vaksin mengandung Alumunium fosfat, jika diberikan subkutan menimbulkan peradangan dan nekrosis setempat. Penyimpanan vaksin yaitu pada suhu 2-8 derajat celcius di refrigerator. Sediaan vaksin untuk menghindari penyakit Difteri, pertussis dan tetanus yaitu sebagai berikut: - DTaP (Diphtheria, Tetanus, acellular Pertussis vaccine) - DTaP kombinasi dengan Haemophilus influenzae type b (Hib) vaccine - DTaP kombinasi dengan hepatitis B and inactivated polio vaccines - DTaP kombinasi dengan Hib, hepatitis B and inactivated polio vaccines - DT or Td (in combination with tetanus vaccine) - Tdap (Tetanus, reduced diphtheria, acellular Pertussis) c) Cara imunisasi Diberikan pada bayi dengan usia lebih dari 2 bulan, dosis 0,5 ml secara intramuscular di bagian luar paha, Imunisasi dasar 3x dengan interval 4 minggu. d) Reaksi dan Efek samping Reaksi yang umum terjadi biasanya demam ringan (hingga 38,3 derajat celcius), pembengkakan dan rasa nyeri di tempat penyuntikan selama 12 hari. Kadang-kadang terdapat akibat efek samping seperti demam tinggi atau kejang yang biasanya disebabkan unsur pertusis, bila hanya diberikan DP (Difteri dan Tetanus) tidak akan menimbulkan efek samping demikian. Efek samping dikatakan serius jika terdapat manifestasi syok anafilaktik, demam diatas 38,3 derajat celcius, dan anak terus menerus rewel atau menangis. e) Kontra indikasi (tidak boleh diberikan) Imunisasi DPT atau DPaT tidak boleh diberikan pada kondisi: - Memiliki riwayat anafilaktik syok dan ensefalopati (koma atau kejang yang lama) selama 7 hari pada imunisasi sebelumnya - Memiliki riwayat alergi anafilaktik syok terhadap komponen vaksin - Sakit parah dan menderita kejang demam kompleks - Anak batuk yang diduga menderita batuk rejan pada tahap awal atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imun)

$!

f) Precaution/ perhatian (dapat diberikan tetapi dengan observasi ketat dan manfaat melebihi resiko). Status kondisi precaution yaitu meliputi: - Alergi lateks - Penyakit sedang atau berat dengan atau tanpa demam - Demam (lebih dari 40,5 derajat celcius) dlaam waktu 2 hari setelah vaksinasi DPaT pada imunisasi sebelumnya - Memiliki riwayat episode hipotonic-hyporesponsive dalam waktu 2 hari setelah mendapatkan vaksin pada dosis sebelumnya - Terdapat manifestasi GBS (Guillane Baire Syndrome) dalam waktu 6 minggu setelah vaksinasi g) Tidak kontraindikasi atau bisa diberikan, yaitu pada kondisi: - Suhu mencapai kurang dari 40,5 derajat celcius pada imunisasi sebelumnya - Sakit batuk, pilek, dan diare ringan - Memiliki riwayat keluarga dengan kejang atau SIDS - Sedang menjalani terapi antimikroba h) Pertimbangan keperawatan Hal-hal yang harus diperhatikan perawat dalam imunisasi ini yaitu: - Jelaskan reaksi vaksin dengan tepat pada orang tua - Gunakan produk/ merk vaksin yang sama pada semua dosis, jika memungkingkan - Sebelum imunisasi, tanyakan reaksi imunisasi sebelumnnya - Jika anak memiliki riwayat kejang dengan atau tanpa demam, berikan acetaminophen pada saat vaksinasi serta setiap 4 jam selama 24 jam - Kocoklah vaksin terlebih dahulu sebelum diaspirasi. Vaksin akan menjadi keruh setelah dikocok, jika vaksin terlihat terdapat gumpalan menunjukkan bahwa vaksin tidak dapat digunakan atau rusak - Jika dibutuhkan, imunoglobulin tetanus atau antitoksin difteri dapat diberikan secara simultan pada sisi yang tidak sama dengan area injeksi vaksin, dengan menggunakan jarum dan spuit yang berbeda pula.

%!

3) Imunisasi campak a) Tujuan dan manfaat Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak (Measles). Merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak, dan termasuk penyakit akut dan sangat menular, menyerang hampir semua anak kecil. Penyebabnya virus dan menular melalui saluran pernafasan yang keluar saat penderita bernafas, batuk dan bersin (droplet). b) Jenis vaksin (Markum ,1997) Vaksin campak mengandung virus campak hidup (CAM 70chick chorioallantonik membrane) yang dilemahkan + kanamisin sulfat dan eritromisin. Setiap dosis (0,5 ml)mengandung tidak kurang dari 1000 infektive unit virus strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcgresidu erithromycin. Vaksin Berbentuk beku kering, dilarutkan dalam 5 cc pelarut aquades. Disimpan pada suhu 2-8C, bisa sampai 20 derajat Celsius. Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8C. c) Cara pemberian Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibodi yang diperoleh dari ibu. Dosis 0,5 ml diberikan sub kutan di lengan kiri. Kekebalannya seumur hidup sehingga hanya dilakukan imunisasi 1 kali tanpa imunisasi ulang. d) Reaksi dan efek samping Biasanya tidak terdapat efek samping setelah imunisasi. Dapat terjadi kurang nafsu makan, kelemahan, kemerahan dan demam pada hari ke 7-10 setelah imunisasi. Sangat jarang terjadi kejang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10 dan ke 11 setelah penyuntikan. Kejadian encefalopati sangat jarang terjadi. e) Kontra indikasi (tidak boleh diberikan) Yaitu pada kondisi infeksi akut dengan demam, defisiensi imunologik, terapi imunosupresif, alergi protein telur, hipersensitifitas dng kanamisin dan eritromisin, wanita hamil. Anak yang telah diberi transfusi darah atau imunoglobulin ditangguhkan minimal 3 bulan. Tuberkulin tes ditangguhkan minimal 2 bulan setelah imunisasi campak. f) Pertimbangan keperawatan Hal yang menjadi tanggung jawab perawat dalam imunisasi ini yaitu menjelaskan kemungkinan efek samping yang muncul, menganjurkan memberikan antipiretik jika terdapat demam serta menyarankan orang tua untuk segera menghubungi

&!

dokter jika terdapat demam yang terus menerus dan muncul manfestasi penyakit. 4) Imunisasi polio a) Tujuan dan manfaat Imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit Poliomeilitis. Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Berdasarkan hasil surveilans AFP (Acute Flaccide Paralysis) dan pemeriksaan laboratorium, penyakit ini sejak tahun 1995 tidak ditemukan di Indonesia. Namun kasus AFP ini dalam beberapa tahun terkahir kembali ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. b) Jenis dan sediaan vaksin Ada dua jenis vaksin yaitu: - Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) Di Indonesia, meskipun sudah tersedia Vaksin Polio Inactivated atau Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV), tetapi vaksin jenis ini belum banyak digunakan. IPV dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan, kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia. Karena IPV tidak hidup dan tidak dapat replikasi maka vaksin ini tidak dapat menyebabkan penyakit polio walaupun diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh yang lemah. Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi tipe 1,2,3 dibiakkan pada selsel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid. Selain itu dalam jumlah sedikit terdapat neomisin, streptomisin dan polimiksin B. IPV harus disimpan pada suhu 2 8 C dan tidak boleh dibekukan. Oral Polio Vaccine (OPV) Jenis vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV) ini paling sering dipakai di Indonesia. Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut. Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan. Komposisi vaksin tersebut terdiri dari virus Polio tipe 1, 2 dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. Tiap dosis sebanyak 2 tetes mengandung virus tipe 1, tipe 2, dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak lebih dari 2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg.

'!

c) Cara pemberian Pemberian vaksin IPV yaitu dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0,5 ml diberikan dalam 4 kali berturut-turut dalam jarak 2 bulan. Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan OPV maka dapat menggunakan IPV. Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV. OPV diberikan secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml). Vaksin polio ini diberikan 4 kali, interval 4 minggu.Virus dalam vaksin ini setelah diberikan 2 tetes akan menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar lapisan usus yang mengakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang akan masuk. Pemberian Air susu ibu tidak berpengaruh pada respon antibodi terhadap OPV dan imunisasi tidak bioleh ditunda karena hal ini. Setelah diberikan dosis pertama dapat terlindungi secara cepat, sedangkan pada dosis berikutnya akan memberikan perlindungan jangka panjang

d) Reaksi dan efek samping Biasanya tidak ada, mungkin terdapat iritabilitas, kelelahan, dan bengkak pada area injeksi IPV. Efek serius dapat berupa reaksi anafilaktik. Mungkin pula terjadi kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya, namun snagat jarang dengan rasio 1/3.000.000 e) Kontra indikasi Imunisasi ini tidak boleh diberikan jika terdapat respon anafilaktik dan hipersensitivity terhadap komponen vaksin yaitu neomicin, streptomicin, dan polymyxin B. g) Precaution/ perhatian (dapat diberikan tetapi dengan observasi ketat dan manfaat melebihi resiko) Yaitu jika diberikan pada ibu hamil h) Tidak kontraindikasi (bisa diberikan) Yaitu pada kondisi diare dan menyusui i) Pertimbangan keperawatan Hal yang perlu diperhatikan perawat yaitu: - Sebelum imunisasi, tanyakan apakah anak alergi terhadap neomycin, streptomycin dan polymixin B - Vaksin ini jernih dan tidak berwarna. Jangan digunakan jika pada vaksin terdapat partikel tertentu, berwarna keruh dan terdapat perubahan warna

(!

5)

Vaksin hepatitis B a) Tujuan dan manfaat Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit Hepatitis B. Penyakit ini dalam istilah sehari-hari lebih dikenal sebagai penyakit lever. b) Jenis dan sediaan vaksin Vaksin ini kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk cair, HBsAg (hepatitis B surface antigen) adalah protein yang dilepaskan oleh virus hepatitis B yang sedang menginfeksi tubuh. Vaksin hepatitis akan rusak karena pembekuan, juga karena pemanasan. Vaksin hepatitis paling baik di simpan pada temperatur dua sampai delapan derajat celcius. c) Cara pemberian - Jumlah Pemberian: Sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua, kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga. Usia Pemberian: Sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir. Dengan syarat, kondisi bayi stabil, tak ada gangguan pada paru-paru dan jantung. Dilanjutkan pada usia 1 bulan, dan usia antara 3-6 bulan. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap VHB, selain imunisasi yang dilakukan kurang dari 12 jam setelah lahir, juga diberikan imunisasi tambahan dengan imunoglobulin antihepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam. Lokasi Penyuntikan: Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. Sedangkan pada bayi di paha lewat anterolateral (antero = otot-otot di bagian depan; lateral = otot bagian luar). Penyuntikan di bokong tak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas vaksin.

d) Reaksi dan efek samping Reaksi imunisasi terjadi biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan yang mungkin disertai dengan timbulnya rasa panas ataupun pembengkakan. Akan hilang dalam waktu dua hari. Reaksi lain atau mungkin terjadi ialah demam ringan. Reaksi serius dapat terjadi respon anafilaktik. Selama pemakaian 10 tahun ini tidak dilaporkan adanya efek samping yang berarti. e) Kontra indikasi (tidak boleh diberikan) Imunisasi tidak dapat diberikan pada anak yang memiliki respon alergi yang serius pada dosis sebelumnya, terdapat respon anafilaktik pada imunisasi sebelumnya dan memiliki kelainan fungsi hepar.

)!

f) Precaution/ perhatian (dapat diberikan tetapi dengan observasi ketat dan manfaat melebihi resiko) Yaitu jika diberikan pada bayi lahir perterm dengan berat badan kurang dari 2000 grams. g) Tidak kontraindikasi (bisa diberikan) Vaksinasi Hepatitis B dapat diberikan pada Ibu Hamil dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan akan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir h) Pertimbangan keperawatan Hal yang perlu diperhatikan perawat yaitu: - Jelaskan pada orang tua alasan dilakukannya imunisasi. Pertimbangan kemampuan financial keluarga dapat didiskusikan sehubungan dengan biaya 3 kali injeksi vaksin ini tidaklah mudah terjangkau. - Pastikan bahwa vaksin dapat digunakan. Kocok sebelum diaspirasi, vaksin dapat digunakan jika terlihat keruh/berawan. - Vaksin Hepatitis B (HB) disediakan dalam berbagai formula untuk anak, dewasa dan dialysis dengan berbagai kekuatan yang berbeda. Cek jenis vaksin yang akan digunakan sesuai dengan formula dan dosis yang tepat. 6) Imunisasi Haemophylus Influenza Type B (Hib) a) Tujuan dan manfaat Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh haemophilus influenza tipe b yang disebabkan oleh bakteri. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang paru) dan infeksi tenggorokan b) Jenis dan sediaan vaksin Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0,5 ml pelarut dalam semprit, disimpan pada suhu 2-8C. Sediaan vaksin Hib yaitu: Hib (tunggal); Hib kombinasi dengan DTaP (Diphtheria Tetanus acellular Pertussis) vaccine; Hib kombinasi dengan recombinant hepatitis B (HBV) vaccine c) Cara pemberian Vaksin ini diberikan 4 kali pada usia 2,4,6 dan 15-18 bulan. Dosis 0,5 ml diberikan Intra Muskular dibahagian otot paha. d) Reaksi dan efek samping Reaksi local ringan (kemerhan dan nyeri) pad araea injeksi, sangat jarang ditemukan reaksi anafilaktik.

*!

e) Kontraindikasi (tidak boleh diberikan) Terdapat reaksi anafilaktik pada imunisasi sebelumnya f) Tidak kontraindikasi (bisa diberikan) Yaitu pada individu dengan riwayat pernah menderita penyakit Hib. g) Pertimbangan keperawatan Hal yang perlu diperhatikan perawat yaitu: - Sebelum memberikan imunisasi, tanyakan apakah anak dalam kondisi imunosupresif - Vaksin yang layak digunakan adalah jernih dan tidak berwarna - Cek dengan benar formula dan regulasi vaksin karena produsen produk memiliki regulasi yang berbeda - Jika memungkinkan, gunakan vaksin dengan produk yang sama pada rangkaian serial pemberian vaksinasi ini 7) Imunisasi Mumps, Measles dan Rubella (MMR) a) Tujuan dan manfaat Memberikan kekebalan terhadap serangan penyakit Mumps (gondongan/parotitis), Measles (campak), dan Rubella (campak Jerman). Terutama buat anak perempuan, vaksinasi MMR sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya rubela pada saat hamil. Sementara pada anak lelaki, nantinya vaksin MMR mencegah agar tak terserang rubela dan menulari sang istri yang mungkin sedang hamil. Penting diketahui, rubela dapat menyebabkan kecacatan pada janin. Vaksin MMR merupakan pengulangan dari vaksin campak (tunggal), ditambah dengan Gondongan dan Rubela (Campak Jerman). b) Jenis dan sediaan vaksin Merupakan vaksin hidup yang dilemahkan terdiri dari: Measles strain moraten (campak) Mumps strain Jeryl lynn (parotitis) Rubela strain RA (campak jerman) Vaksin ini harus disimpan pada suhu 2-8C di refrigerator. Setelah digunakan, simpan vaksin dalam refrigerator tertutup dan kedap cahaya. Buang vaksin jika tidak digunakan dalam waktu 8 jam. c) Cara pemberian Dosis 0,5 ml secara sub kutan, diberikan minimal 1 bulan setelah suntikan imunisasi lain. Diberikan 2 kali, yaitu pada usia 15 bulan dan 6 tahun. Jika belum mendapat imunisasi campak di usia 9 bulan, maka MMR dapat diberikan di usia 12 bulan, dan diulangi pada umur 6 tahun.

"+!

d) Reaksi dan efek samping Beberapa hari atau 1-2 minggu setelah diimunisasi, biasanya anak mengalami demam, timbul ruam atau bercak merah, serta terjadi pembengkakan di lokasi penyuntikan. Namun tak perlu khawatir karena gejala tersebut berlangsung sementara saja. Demamnya pun dapat diatasi dengan obat penurun panas yang dosis pemakaiannya sesuai anjuran dokter. Efek dikatakan serius jika menunjukkan reaksi anafilaktik, ensefalopati, purpura trombositopenia, artritis kronis e) Kontraindikasi (tidak boleh diberikan) Alergi terhadap neomycin atau gelatin, gangguan system imun yang berat karena keganasan, penyakit defisiensi imun, terapi imunosupresif, dan kondisi hamil. f) Precaution/ perhatian (dapat diberikan tetapi dengan observasi ketat dan manfaat melebihi resiko) Yaitu pada kondisi trombositopenia, tuberculosis atau positif test kulit tuberculin kulit g) Tidak kontraindikasi (bisa diberikan) Menyusui, kontak dengan individu yang menderota imunidefisien, HIV, reaksi nonanafilaktik terhadap telur atau neomycin h) Pertimbangan keperawatan Hal yang perlu diperhatikan perawat yaitu: - Sebelum imunisasi, tanyakan apakah anak alergi terhadap neomycin atau gelatin - Jelaskan untuk menghindari kehamilan setelah 3 bulan imunisasi - Vaksin layak digunakan jika berwarna kuning jernih - Pemberian test tuberculin TB dapat diberikan pada saat bersamaan dengan MMR atau 4-6 minggu setelah injeksi MMR

""!