Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Infeksi persisten atau infeksi sekunder intraradikuler adalah penyebab utama post treatment disease. Oleh karena itu, retreatment non bedah saluran akar diindikasikan apabila prosedur perawatan awal tidak berhasil dan masih dapat dikoreksi dengan meningkatkan disinfeksi saluran akar dan debridement, dan menempatkan bahan pengisi dengan konsisten dan homogen. Bahan yang sering digunakan sebagai bahan pengisi saluran akar adalah gutta-percha yang dikombinasikan dengan sealer. Pembuangan yang tepat dari material dalam preparasi dan pengisian saluran akar yang tidak adekuat membutuhkan upaya substansial dan Dapat membutuhikan waktu yang lama. Namun, melakukan prosedur perawatan secara efektif memiliki pengaruh klinis yang sangat penting, karena instrumen dan larutan untuk irigasi yang digunakan selama proses retreatment dapat mencapai keseluruhan sistem saluran akar, sehingga menghasilkan pembersihan dan disinfeksi yang lebih baik. Ada beberapa, teknik untuk mengambil gutta-percha dan sealer dari saluran akar yang sudah terisi, termasuk hand files, burs, dan automated device, yang mana secara umum didahului dengan pelembutan material pengisi dengan pelarut atau suhu yang berbeda. Bagaimanapun, seluruh proses perawatan kembali tetap akan meninggalkan sisa debris pada dinsing saluran akar setelah reinstrumensasi. Sebuah konsep baru baru-baru ini diperkenalkan, di mana persiapan saluran akar dilakukan dengan menggunakan instrumen mesin berbasis nikeltitanium dirancang khusus menggunakan gerakan reciprocating. Teknik yang sama juga diindikasikan untuk tujuan perawatan ulang, di mana instrumen yang digunakan dengan gerakan menyikat terhadap dinding lateral kanal untuk membersihkan sisa material pengisi (Yared 2008, Kim et al. 2012). Hanya ada beberapa laporan menganalisis kinerja instrumen reciprocating (Alves et al. 2012, Berutti et al. 2012, Burklein et al. 2012, Gavini et al. 2012), dan tidak ada yang mengevaluasi penghapusan material pengisi.

Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas reciprocating dan teknik rotary dengan teknik file secara manual menggunakan tangan untuk membersihkan material pengisi dari gigi manusia yang telah dicabut. Hipotesis nol bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam efektivitas membersihkan material pengisi antara tiga teknik yang diuji.

1.2 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk membandingkan efektivitas teknik reciprocating dan teknik putar dengan hand files untuk menghilangkan gutta-percha dan sealer dari saluran akar.

1.3 Manfaat Hasil makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Bagi penulis dan pembaca, yaitu menambah wawasan dan pengetahuan tentang efektivitas teknik reciprocating dan teknik putar dengan hand files untuk menghilangkan gutta-percha dan sealer dari saluran akar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perawatan Saluran Akar Perawatan saluran akar adalah perawatan yang dilakukan dengan mengangkat jaringan pulpa yang telah terinfeksi dari kamar pulpa dan saluran akar, kemudian diisi padat oleh bahan pengisi saluran akar agar tidak terjadi kelainan lebih lanjut atau infeksi ulang. Tujuannya adalah untuk mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rahang, sehingga fungsi dan bentuk lengkung gigi tetap baik. Perawatan saluran akar membutuhkan ketelatenan sehingga seringkali membutuhkan lebih dari 1 kunjungan, bervariasi tergantung kasusnya. Tahapan PSA adalah sebagai berikut: 1. Tahap 1 Mahkota gigi di-bur untuk mendapatkan jalan masuk ke kamar pulpa. Semua tambalan dan jaringan rusak pada gigi (karies) dibuang. 2. Tahap 2 Pulpa dikeluarkan dari kamar pulpa dan saluran akar. Suatu instrumen kecil yang disebut file digunakan untuk membersihkan saluran akar. Gigi ditutup dengan tambalan sementara untuk melindungi kamar pulpa dan saluran akar agar tetap bersih. Tambalan sementara akan dibongkar pada kunjungan selanjutnya. 3. Tahap 3 Saluran akar diisi dan dibuat kedap dengan suatu bahan yang mencegah bakteri masuk. Kamar pulpa sampai dengan permukaan mahkota gigi ditutup dengan tambalan sementara. 4. Tahap 4 Tambalan sementara dibongkar dan diganti dengan tambalan tetap atau dibuatkan crown (sarung gigi). 5. Tahap 5 Saluran akar, tambalan tetap, atau crown dievaluasi untuk melihat ada / tidaknya masalah. Setelah PSA selesai, gigi akan disuplai nutrisinya oleh tulang dan gusi di sekitarnya.

Dalam masa Perawatan Saluran Akar (PSA) gigi, adakalanya gigi mengalami rasa sakit, bisa karena saraf pulpa belum seluruhnya mati, bisa juga karena pembersihan yang belum selesai. Bila gigi mempunyai akar yang bengkok, maka tingkat kesulitan pembersihan saluran akar lebih tinggi daripada saluran akar yang normal lurus. Belum lagi bila saluran akar utama mempunyai cabangcabang. Oleh karena itu PSA kadang bisa gagal karena faktor-faktor di atas. PSA dibutuhkan karena dapat membuang pulpa dan bakteri yang menyebabkan infeksi, sehingga tulang di sekitar gigi dapat sehat kembali dan sakit gigi pun hilang. Gejala-gejala gigi yang membutuhkan perawatan yaitu: sakit sepanjang waktu, selalu sensitif terhadap panas atau dingin, sakit saat mengunyah atau bila disentuh, gigi goyang, gusi bengkak, diskolorasi (perubahan warna) gigi, pipi bengkak dan adanya jerawat kecil berwarna putih di gusi yang mengeluarkan nanah. Bagaimana pun, terkadang ada juga kasus yang tidak terdapat gejala-gejala tersebut sama sekali. Perawatan saluran akar merupakan salah satu jenis perawatan yang bertujuan mempertahankan gigi agar tetap dapat berfungsi. Tahap perawatan saluran akar antara lain : preparasi saluran akar yang meliputi pembersihan dan pembentukan (biomekanis), disinfeksi, dan pengisian saluran akar. Keberhasilan perawatan saluran ini dipengaruhi oleh preparasi dan pengisian saluran akar yang baik, terutama pada bagian sepertiga apikal. Tindakan preparasi yang kurang bersih akan mengalami kegagalan perawatan, bahkan kegagalan perawatan 60% diakibatkan pengisian yang kurang baik. Pengisian saluran akar dilakukan untuk mencegah masuknya

mikroorganisme ke dalam saluran akar melalui koronal, mencegah multiplikasi mikroorganisme yang tertinggal, mencegah masuknya cairan jaringan ke dalam pulpa melalui foramen apikal karena dapat sebagai media bakteri, dan menciptakan lingkungan biologis yang sesuai untuk proses penyembuhan jaringan. Hasil pengisian saluran akar yang kurang baik tidak hanya disebabkan teknik preparasi dan teknik pengisian yang kurang baik, tetapi juga disebabkan oleh kualitas bahan pengisi saluran akar. Pasta saluran akar merupakan bahan pengisi yang digunakan untuk mengisi ruangan antara bahan pengisi (semi solid

atau solid) dengan dinding saluran akar serta bagian-bagian yang sulit terisi atau tidak teratur (Walton & Torabinejad, 1996). Setelah dilakukan pembersihan, perbaikan bentuk dan desinfeksi, saluran akar akan diisi. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan tindakan pengisian saluran akar yaitu gigi bebas dari rasa sakit, saluran akar bersih dan kering, tidak terdapat nanah, tidak terdapat bau busuk (Tarigan, 1994). Sebelum pengisian saluran akar, dilakukan preparasi saluran akar. Preparasi saluran akar biomekanikal dalam perawatan endodonti bertujuan untuk membersihkan dan membentuk saluran dalam mempersiapkan pengisian yang hermetis dengan bahan dan teknik pengisian yang sesuai. Bila preparasi saluran akar tidak dilakukan, maka perawatan endodontik akan gagal. Oleh karena itu, preparasi saluran akar biomekanikal harus dilakukan sebaik mungkin, sesuai dengan bentuk saluran akar (Harty, 1992). Dengan adanya bentuk gigi yang berbeda, anatomi rongga pulpa dari setiap gigi juga tidak sama, sehingga teknik preparasi saluran akar pada gigi yang satu akan berbeda dengan gigi yang lain. Jadi dalam melakukan preparasi saluran akar pada gigi yang mempunyai bentuk anatomi saluran yang berbeda, diperlukan beberapa teknik preparasi saluran akar yang sesuai yaitu : teknik preparasi konvensional, telescope, flaring, step-back (Tarigan, 1994; Rodneey, dkk, 1994). Saluran akar harus dikeringkan setelah irigasi yang terakhir, terutama sebelum pengisian saluran akar. Cairan dapat diaspirasi dengan meletakkan ujung spuit pada dinding saluran akar. pengeringan menyeluruh dapat dilakukan dengan menggunakan paper point yang tediri dari berbagai macam ukuran. Secara klinis perlu disadari bahwa paper point bekerja seperti kertas penyerap dan harus diberi waktu dalam saluran akar agar dapat bekerja efektif. Paper point dapat dipegang dengan pinset dan diukur sesuai dengan panjang kerja sehingga ujungnya tidak terdorong secara tidak sengaja melalui foramen apikal. Paper point dimasukkan secara perlahan sehingga mengurangi terdorongnya cairan irigasi ke dalam jaringan apikal. Kecelakaan seperti ini dapat menyebabkan pasien merasa sakit pada terapi endodontik (Harty, 1992). Saluran akar segera diisi setelah pengeringan. Pada kasus pulpektomi vital, pengisian saluran segera dilakukan setelah preparasi dan pembersihan, hal ini

dapat mengurangi resiko kontaminasi saluran akar, waktu yang diperlukan untuk perawatan dan menghasilkan tingkat keberhasilan yang tinggi (Harty, 1992). Ada berbagai macam teknik pengisian saluran akar, yang dapat dibagi menjadi teknik sementasi cone, teknik guttapercha hangat, teknik preparasi dentin. Hasil penelitian belum dapat membuktikan keunggulan teknik tersebut walaupun memang ada beberapa teknik yang kemungkinan kebocorannya lebih besar dari yang lain (Harty, 1992). Pada umumnya bahan pengisi saluran akar digolongkan dalam golongan padat, pasta, dan semen. Yang termasuk golongan padat ialah poin gutaperca, poin perak, poin titan, poin emas. Golongan pasta; bahan ini tidak mengeras dalam saluran akar misalnya jodoform pasta (Walkhoff). Golongan semen; bahan ini setelah beberapa waktu dalam saluran akar akan mengeras (Tarigan, 1994). Pasta dan semen dapat dibagi dalam lima kelompok; berbahan dasar zinc okside eugenol, resin komposit, gutta perca, bahan adhesif dentin, bahan yang ditambah obat- obatan (Harty, 1992). Tidak ada bahan pengisi saluran akar yang mempunyai sifat yang ideal. Tetapi paling tidak memenuhi beberapa kriteria yaitu mudah dimasukkan kedalam saluran akar, harus dapat menutup saluran lateral atau apikal, tidak boleh menyusut sesudah dimasukkan kedalam saluran akar gigi. Tidak dapat ditembus oleh air atau kelembaban, bakteriostatik, radiopague, tidak mewarnai struktur gigi, tidak mengiritasi jaringan apikal, steril atau dapat dengan mudah disterilkan, tidak larut dalam cairan jaringan, bukan penghantar panas, pada waktu dimasukkan harus dalam keadaan pekat atau semi solid dan sesudahnya menjadi keras (Tarigan, 1994; Walton & Torabinejad, 1996). Seperti halnya seluruh perawatan gigi, penggabungan beberapa faktor mempengaruhi hasil suatu perawatan endodontik. Faktor-faktor yang

mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan perawatan saluran akar adalah faktor patologi, factor penderita, faktor anatomi, faktor perawatan dan kecelakaan prosedur perawatan (Ingle, 1985; Cohen & Burn, 1994; Walton & Torabinejab, 1996). 1. Faktor Patologis

Keberadaan lesi di jaringan pulpa dan lesi di periapikal mempengaruhi tingkat keberhasilan perawatan saluran akar. Beberapa penelitian menunjukan bahwa tidak mungkin menentukan secara klinis besarnya jaringan vital yang tersisa dalam saluran akar dan derajat keterlibatan jaringan peripikal. Faktor patologi yang dapat mempengaruhi hasil perawatan saluran akar adalah (Ingle, 1985; Walton & Torabinejad, 1996): 1) Keadaan patologis jaringan pulpa. Beberapa peneliti melaporkan tidak ada perbedaan yang berarti dalam keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar yang melibatkan jaringan pulpa vital dengan pulpa nekrosis. Peneliti lain menemukan bahwa kasus dengan pulpa nekrosis memiliki prognosis yang lebih baik bila tidak terdapat lesi periapikal. 2) Keadaan patologis periapikal Adanya granuloma atau kista di periapikal dapat mempengaruhi hasil perawatan saluran akar. Secara umum dipercaya bahwa kista apikalis menghasilkan prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan lesi granulomatosa. Teori ini belum dapat dibuktikan karena secara radiografis belum dapat dibedakan dengan jelas ke dua lesi ini dan pemeriksaan histologi kista periapikal sulit dilakukan. 3) Keadaan periodontal Kerusakan jaringan periodontal merupakan faktor yang dapat mempengaruhi prognosis perawatan saluran akar. Bila ada hubungan antara rongga mulut dengan daerah periapikal melalui suatu poket periodontal, akan mencegah terjadinya proses penyembuhan jaringan lunak di periapikal. Toksin yang dihasilkan oleh plak dentobakterial dapat menambah bertahannya reaksi inflamasi. 4) Resorpsi internal dan eksternal Kesuksesan perawatan saluran akar bergantung pada kemampuan menghentikan perkembangan resorpsi. Resorpsi internal sebagian besar prognosisnya buruk karena sulit menentukan gambaran radiografis, apakah resorpsi internal telah menyebabkan perforasi. Bermacam-macam cara

pengisian saluran akar yang teresorpsi agar mendapatkan pengisian yang hermetis.

2. Faktor Perawatan Faktor perawatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu perawatan saluran akar bergantung kepada: 1) Perbedaan operator Dalam perawatan saluran akar dibutuhkan pengetahuan dan aplikasi ilmu biologi serta pelatihan, kecakapan dan kemampuan dalam manipulasi dan menggunakan instrumen-instrumen yang dirancang khusus. Prosedurprosedur khusus dalam perawatan saluran akar digunakan untuk memperoleh keberhasilan perawatan. Menjadi kewajiban bagi dokter gigi untuk menganalisa pengetahuan serta kemampuan dalam merawat gigi secara benar dan efektif (Healey, 1960; Walton &Torabinejad, 1996). 2) Teknik-teknik perawatan Banyak teknik instrumentasi dan pengisian saluran akar yang tersedia bagi dokter gigi, namun keuntungan klinis secara individual dari masingmasing ukuran keberhasilan secara umum belum dapat ditetapkan. Suatu penelitian menunjukan bahwa teknik yang menghasilkan penutupan apikal yang buruk, akan menghasilkan prognosis yang buruk pula (Walton & Torabinejad, 1996).

3. Perluasan preparasi atau pengisian saluran akar. Belum ada penetapan panjang kerja dan tingkat pengisian saluran akar yang ideal dan pasti. Tingkat yang disarankan ialah 0,5 mm, 1 mm atau 1-2 mm lebih pendek dari akar radiografis dan disesuaikan dengan usia penderita. Tingkat keberhasilan yang rendah biasanya berhubungan dengan pengisian yang berlebih, mungkin disebabkan iritasi oleh bahan-bahan dan penutupan apikal yang buruk. Dengan tetap melakukan pengisian saluran akar yang lebih pendek dari apeks radiografis, akan mengurangi kemungkinan kerusakan jaringan periapikal yang lebih jauh (Walton & Torabinejad, 1996).

4. Faktor Anatomi Gigi Faktor anatomi gigi dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu perawatan saluran akar dengan mempertimbangkan: 1) Bentuk saluran akar Adanya pengbengkokan, penyumbatan,saluran akar yang sempit, atau bentuk abnormal lainnya akan berpengaruh terhadap derajat kesulitan perawatan saluran akar yang dilakukan yang memberi efek langsung terhadap prognosis (Walton & Torabinejad, 1996). 2) Kelompok gigi Ada yang berpendapat bahwa perawatan saluran akar pada gigi tunggal mempunyai hasil yang lebih baik dari pada yang berakar jamak. Hal ini disebabkan karena ada hubungannya dengan interpretasi dan visualisasi daerah apikal pada gambaran radiografi. Tulang kortikal gigi-gigi anterior lebih tipis dibandingkan dengan gigi-gigi posterior sehingga lesi resorpsi pada apeks gigi anterior terlihat lebih jelas. Selain itu, superimposisi struktur radioopak daerah periapikal untuk gigi-gigi anterior terjadi lebih sedikit, sehingga interpretasi radiografinya mudah dilakukan. Radiografi standar lebih mudah didapat pada gigi anterior, sehingga perubahan periapikal lebih mudah diobservasi dibandingkan dengan gambaran radiologi gigi posterior (Walton & Torabinejad, 1989). 3) Saluran lateral atau saluran tambahan Hubungan pulpa dengan ligamen periodontal tidak terbatas melalui bagian apikal saja, tetapi juga melalui saluran tambahan yang dapat ditemukan pada setiap permukaan akar. Sebagian besar ditemukan pada setengah apikal akar dan daerah percabangan akar gigi molar yang umumnya berjalan langsung dari saluran akar ke ligamen periodontal (Ingle, 1985). Preparasi dan pengisian saluran akar tanpa

memperhitungkan adanya saluran tambahan, sering menimbulkan rasa sakit yang hebat sesudah perawatan dan menjurus ke arah kegagalan perawatan akhir (Guttman, 1988).

10

5. Kesalahan Prosedural 1) Terbentuknya ledge (birai) atau perforasi lateral Ledge adalah suatu daerah artifikasi yang tidak beraturan pada permukaan dinding saluran akar yang merintangi penempatan instrumen untuk mencapai ujung saluran (Guttman, et all, 1992). Ledge terbentuk karena penggunaan instrumen yang terlalu besar, tidak sesuai dengan urutan; penempatan instrument yang kurang dari panjang kerja atau penggunaan instrumen yang lurus serta tidak fleksibel di dalam saluran akar yang bengkok (Grossman, 1988, Weine, 1996). Ledge dan ferforasi lateral dapat memberikan pengaruh yang merugikan pada prognosis selama kejadian ini menghalangi

pembersihan, pembentukan dan pengisian saluran akar yang memadai (Walton & Torabinejad, 1966). 2) Instrumen patah Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan saluran akar akan mempengaruhi prognosis keberhasilan dan kegagalan perawatan. Prognosisnya bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal patahan yang masih belum dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak patahannya. Prognosis yang baik jika patahan instrumen yang besar dan terjadi ditahap akhir preparasi serta mendekati panjang kerja. Prognosis yang lebih buruk jika saluran akar belum dibersihkan dan patahannya terjadi dekat apeks atau diluar foramen apikalis pada tahap awal preparasi (Grossman, 1988; Walton & Torabinejad, 1996). 3) Fraktur akar vertikal Fraktur akar vertikal dapat disebabkan oleh kekuatan kondensasi aplikasi yang berlebihan pada waktu mengisi saluran akar atau pada waktu penempatan pasak. Adanya fraktur akar vertikal memiliki prognosis yang buruk terhadap hasil perawatan karena menyebabkan iritasi terhadap ligamen periodontal (Walton &Torabinejad, 1996).

2.2 Indikasi dan Kontraindikasi Perawatan Saluran Akar Indikasi umum perawatan endodonsia: a) Gigi dengan kelainan yang telah mengenai jaringan pulpa dan periapikal

11

b) Sebagai pencegahan untuk menghindari infeksi jaringan periapikal c) Untuk rencana pembuatan mahkota pasak d) Sebagai penyangga / abunment gigi tiruan e) Kesehatan umum pasien baik f) Oral hygiene pasien baik g) Masih didukung jaringan penyangga gigi yang baik h) Pasien bersedia untuk dilakukan perawatan i) Operator mampu.

Kontraindikasi perawatan endodonsia : a) Gigi yang tidak dapat direstorasi lagi b) Tidak didukung jaringan penyangga gigi yang cukup c) Gigi yang tidak strategis, tidak mempunyai nilai estetik dan fungsional. Misalnya gigi yang lokasinya jauh di luar lengkung. d) Fraktur vertikal e) Resorpsi yang luas baik internal maupun eksternal f) Gigi dengan saluran akar yang tidak dapat dipreparasi; akar terlalu bengkok, saluran akar banyak dan berbelit-belit. g) Jarak interoklusal terlalu pendek sehingga akan menyulitkan dalam instrumentasi. h) Kesehatan umum pasien buruk i) Pasien tidak bersedia untuk dilakukan perawatan j) Operator tidak mampu.

2.3 Teknik Perawatan Saluran Akar Tahap-tahap perawatan endotektomi : 1) Membuat foto untuk diagnose dan rencana perawatan 2) Menyiapkan file, paper point 3) Melakukan devitalisasi untuk gigi yang masih vital 4) Untuk gigi non vital dilakukan pre sterilisasi 5) Open bur, mengambil atap pulpa, mencari orifice : preparasi cavity entrance

12

6) DWF; tentukan panjang kerja 7) Preparasi saluran akar dengan file, irigasi, foto preparasi : teknik konvensional, teknik step back, teknik crown down 8) Sterilisasi memakai paper point, obat, kapas steril, tumpatan sementara. Sterilisasi ulang, sampai paper point kering dan tidak berbau 9) Tes perbenihan 10) Pengisian pasta Zn Oxide Eugenol : teknik single cone, teknik kondensasi lateral, teknik kondensasi vertikal 11) Foto pengisian 12) Basis Zn PO4 13) Control 2 minggu kemudian, apabila tidak ada keluhan, dapat ditumpat tetap. 2.4 Fase fase Perawatan Endodontik 1) Preparasi Akses: a) Fase yang paling penting dari aspek teknik perawatan akar. b) Merupakan kunci untuk membuka pintu bagi keberhasilan tahap pembersihan, pembentukan dan obturasi saluran akarnya. Tujuannya adalah: - Membuat akses yang lurus. - Menghemat preparasi jaringan gigi. - Membuka atap ruang pulpa. 2) Pembersihan dan Pembentukan Saluran Akar Pembersihan debridement yaitu pembuangan iritan dari sistem saluran akar. Tujuannya adalah membasmi habis iritan tersebut walaupun dalam kenyataan praktisnya hanyalah sebatas pengurangan yang signifikan saja. Contoh iritan antara lain: bakteri, produk samping bakteri, jaringan nekrotik, debris organik, darah dan kontaminan lain.

13

2.5 Teknik Perawatan Saluran Akar 1. Teknik Konvensional a) Teknik konvensional yaitu teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada gigi dengan saluran akar lurus dan akar telah tumbuh sempurna. b) Preparasi saluran akar menggunakan file tipe K c) Gerakan file tipe K-flex adalah alat diputar dan ditarik. Sebelum preparasi stopper file terlebih dahulu harus dipasang sesuai dengan panjang kerja gigi. Stopper dipasang pada jarum preparasi setinggi puncak tertinggi bidang insisal. Stopper digunakan sebagai tanda batas preparasi saluran akar. d) Preparasi saluran akar dengan file dimulai dari nomor yang paling kecil. Preparasi harus dilakukan secara berurutan dari nomor yang terkecil hingga lebih besar dengan panjang kerja tetap sama untuk mencegah terjadinya step atau ledge atau terdorongnya jaringan nekrotik ke apikal. e) Selama preparasi setiap penggantian nomor jarum preparasi ke nomor yang lebih besar harus dilakukan irigasi pada saluran akar. Hal ini bertujuan untuk membersihkan sisa jaringan nekrotik maupun serbuk dentin yang terasah. Irigasi harus dilakukan secara bergantian anatar H2O2 3% dan aquadest steril, bahan irigasi terakhir yang dipakai adalah aquadest steril. f) Bila terjadi penyumbatan pada saluran akar maka preparasi diulang dengan menggunakan jarum preparasi yang lebih kecil dan dilakukan irigasi lain. Bila masih ada penyumbatan maka saluran akar dapat diberi larutan untuk mengatasi penyumbatan yaitu larutan largal, EDTA, atau glyde (pilih salah satu). g) Preparasi saluran akar dianggap selelsai bila bagian dari dentin yang terinfeksi telah terambil dan saluran akar cukup lebar untuk tahap pengisian saluran akar.

2. Teknik Step Back a) Yaitu teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada saluran akar yang bengkok dan sempit pada 1/3 apikal.

14

b) Tidak dapat digunakan jarum reamer karena saluran akar bengkok sehingga preparasi saluran akar harus dengan pull and push motion, dan tidak dapat dengan gerakan berputar. c) Dapat menggunakan file tipe K-Flex atau NiTi file yang lebih fleksibel atau lentur. d) Preparasi saluran akar dengan jarum dimulai dari nomer terkecil: No. 15 s/d 25 = sesuai panjang kerja File No. 25 = Master Apical File (MAF) No. 30 = panjang kerja 1 mm MAF No. 35 = panjang kerja 2 mm MAF No. 40 = panjang kerja 3 mm MAF No. 45 = panjang kerja sama dengan no. 40 dst e) Setiap pergantian jarum file perlu dilakukan pengontrolan panjang kerja dengan file no. 25, untuk mencegah terjadinya penyumbatan saluran akar karena serbuk dentin yang terasah. f) Preparasi selesai bila bagian dentin yang terinfeksi telah terambil dan saluran akar cukup lebar untuk dilakukan pengisian.

3. Teknik Balance Force a) Menggunakan alat preparasi file tipe R- Flex atau NiTi Flex b) Menggunakan file no. 10 dengan gerakan steam wending, yaitu file diputar searah jarum jam diikuti gerakan setengah putaran berlawanan jarum jam. c) Preparasi sampai dengan no. 35 sesuai panjang kerja. d) Pada 2/3 koronal dilakukan preparasi dengan Gates Glidden Drill (GGD) GGD #2 = sepanjang 3 mm dari foramen apical GGD #3 = sepanjang GGD #2 2 mm GGD #4 = sepanjang GGD #3 2 mm GGD #5 = sepanjang GGD #4 2 mm GGD #6 = sepanjang GGD #5 2 mm e) Preparasi dilanjutkan dengan file no. 40 s/d no.45 f) Dilakukan irigasi g) Keuntungan balance force:

15

- Hasil preparasi dapat mempertahankan bentuk semula - Mencegah terjadinya ledge dan perforasi - Mencegah pecahnya dinding saluran akar - Mencegah terdorongnya kotoran keluar apeks

4. Teknik Crown Down Presureless a) Teknik disebut juga dengan teknik step down, merupakan modifikasi dari teknik step back. b) Diawali dengan file terbesar sx/Gates Gliden Drill preparasi 1/3 koronal (19 mm). c) Menghasilkan hasil yang serupa yakni seperti corong yang lebar dengan apeks yang kecil (tirus). d) Bermanfaat pada saluran akar yang kecil dan bengkok di molar RA dan RB. e) Saluran akar sedapat mungkin dibersihkan dengan baik sebelum instrument ditempatkan di daerah apeks sehingga kemungkinan terjadinya ekstruksi dentin ke jaringan periapeks dapat dikurangi. f) Menggunakan instrument nikel-titanium, baik yang genggam maupun digerakkan mesin.

5. Teknik Kondensasi Lateral Dengan teknik preparasi saluran akar secara step back. Sering digunakan hampir semua keadaan kecuali pada saluran akar yang sangat bengkok / abnormal. Tahapan: a) Pencampuran pasta b) Guttap point (trial foto disterilkan 70% alcohol dan dikeringkan: c) Guttap point nomor 25 (MAF) diulasi dengan pasta ke saluran akar sesuai dengan tanda yang telah dibuat dan ditekan kea rah lateral menggunakan spreader. d) Ke dalam saluran akar diberi guttap tambahan, setiap memasukan guttap di tekan ke arah lateral sampai saluran akar penuh dan spreader tidak dapat masuk dalam saluran akar.

16

e) Guttap point dipotong 1-2mm dibawah orifice dengan eskavator yang telah dipanasi f) Guttap point dipadatkan dengan root canal plugger g) Bila pengisian sudah baik, maka dasar ruang pulpa diberi basis semen seng fosfat, ditutup kapas dan tumpatan sementara.

6. Teknik Kondensasi Vertical (Gutta perca panas) Untuk pengisian saluran akar dengan teknik step back. Menggunakan pluger yang dipanaskan, dilakukan penekanan pada guttap perca yang telah dilunakan dengan panas kearah vertical dan dengan demikian menyebabkan guttap perca mengalir dan mengisi seluruh lumen saluran akar. Tahapan: a) Suatu kerucut guttap perca utama sesuai dengan instrument terakhir yang digunakan pada saluran dengan cara step back b) Dinding saluran dilapisi dengan lapis tipis semen dengan menggunakan lentulo. c) Kerucut disemen d) Ujung koronal kerucut dipotong dengan instrument panas e) Pembawa panas segera didorong ke dalam 1/3 koronal guttap perca. Sebagian terbakar oleh plugel bila diambil dari saluran akar. f) Condenser vertical dengan ukuran yang sesuai dimasukan dan tekanan vertical dikenakan pada guttap perca yang telah dipanasi untuk mendorong guttap perca yang menjadi plastis ke arah apikal g) Apikalis panas berganti oleh pembawa panas dan condenser diulangi sampai guttap perca plastis menutup saluran aksesori besar dan mengisi luman saluran dalam 3 dimensi foramen apikal. Bagian sisa saluran diisi dengan potongan tambahan guttap perca panas. h) Bila pengisisan sudah baik, maka dasar pulpa diberi basis semen ZnPO4, kemudian ditumpat sementara.

17

7. Metode seksional (teknik pluger) Dapat digunakan untuk mengisi saluran ke arah apikal dan lateral. Teknik menggunakan suatu bagian kerucut guttap perca untuk mengisi suatu bagian 1/3 saluran akar / ujung apikal. Tahapan: a) Dinding saluran akar dilapisi semen b) Pluger saluran dimasukan sampai 3-4mm dari apeks dipanaskan dalam sterilitator garam panas (1011) c) Kerucut guttap perca dipotong beberapa bagian sesuai dengan ukuran saluran yang telah dipreparasi dengan panjang 3-4mm d) Potong apikal ditempelkan pada pluger yang telah dipanasi, dimasukan ke dalam saluran pada kedalaman yang sebelumnya telah diukur dan ditekan ke arah vertical e) Pluger dilepas dengan hati-hati untuk mencegah ke luarnya bagian guttap perca yang dimasukan f) Dibuat radiograf untuk memeriksa posisi dan kesesuaian bagian yang dikondensasi g) Bagian berikutnya dimasukan kedalam eukaliptol, dipanaskan tinggi diatas nyala api dan ditambahkan pada bagian sebelumnya dengan tekanan vertical untuk memampatkan pengisi

8. Metode kompaksi a) Menggunakan panas untuk mengurangi viskositas guttap perca dan menaikan plastisitasnya b) Digunakan untuk pengisi saluran yang lurus c) Menggunakan metode step back

9. Metode Inverted cone Digunakan terbatas pada gigi dengan saluran kecil, berkelok-kelok, yang tidak dapat diisi dengan kerucut guttap perca secara lepas.

18

2.6 Bahan dan Obat-obatan Sterilisasi - ChKM (Chlorophenol Kamfer Menthol) - Cresophene - Cresatin - Formokresol - TKF ( Tri Kresol Formalin ) - Eugenol (sebagai sedative, digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang dikombinasikan pada saat dilakukan devitalisasi.)

2.7 Syarat-Syarat Bahan Pengisi Saluran Akar a. Bahan harus dapat dengan mudah dimasukkan ke saluran akar. b. Harus menutup saluran ke arah lateral dan apikal c. Harus tidak mengerut setelah dimasukkan. d. Harus kedap terhadap cairan. e. Harus bakterisidal atau paling tidak harus menghalangi pertumbuhan bakteri. f. Harus radiopak. g. Tidak menodai struktur gigi. h. Tidak mengiritasi jaringan periapikal atau mempengaruhi struktur gigi. i. Harus steril atau dapat segera disterilkan dengan cepat sebelum dimasukkan. j. Bila perlu dapat dikeluarkan dengan mudah dari saluran akar

2.8 Penyebab Kegagalan Perawatan Saluran Akar Secara umum penyebab kegagalan dapat didaftar secara kasar dari yang frekuensinya paling sering sampai ke yang paling jarang, yaitu kesalahan dalam diagnosis dan rencana perawatan; kebocoran tambalan di mahkota; kurangnya pengetahuan anatomi pulpa; debridement yang tidak memadai; kesalahan selama perawatan; kesalahan dalam obturasi; proteksi tambalan yang tidak cukup; dan fraktur akar vertikal. Berbagai prosedur yang terkait dengan perawatan saluran akar dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap praperawatan, selama perawatan dan pasca perawatan.

19

2.8.1 Faktor Kegagalan Tahap Pra-perawatan Kegagalan perawatan saluran akar pada tahap praperawatan sering disebabkan oleh: 1. Diagnosis yang keliru a. Diagnosis yang tidak tepat, biasanya berasal dari kurangnya atau salahnya interpretasi informasi, baik informasi klinis maupun radiografis. Radiograf merupakan alat bantu utama dalam penilaian konfigurasi anatomik sistem saluran akar perawatan. b. Tidak teridentifikasinya penyimpangan berbagai sistem saluran akar pada radiograf sering menjadi penyebab kegagalan perawatan saluran akar. Fraktur dentin akar atau didiagnosis keliru. Inflamasi kronis yang timbul akan menyebabkan defek periodontal, defek ini sering baru terlihat di kemudian hari. c. Dalam mendiagnosis suatu penyakit sangat diperlukan ketelitian dan pemahaman dokter gigi akan gejala-gejala suatu penyakit. Karena keterbatasan pengetahuan, peralatan ataupun karena kelalaian dokter gigi, tidak jarang terjadi kesalahan dalam mendiagnosis penyakit yang dapat mengakibatkan timbulnya masalah dalam proses penyembuhan. 2. Kesalahan dalam perencanaan perawatan Sebagian rencana perawatan adalah mengidentifikasi kasus-kasus mana yang cenderung akan mengalami kegagalan walaupun baiknya perawatan yang dilakukan. 3. Seleksi kasus yang buruk Seleksi kasus menentukan apakah perawatan dapat dilakukan atau tidak. Sejumlah kegagalan yang disebabkan oleh seleksi kasus yang buruk akan menimbulkan kekliruan dalam menilai kerjasama pasien serta kesukaran yang mungkin timbul selama perawatan. 4. Merawat gigi dengan prognosis yang buruk

2.8.2 Faktor Kegagalan Selama Perawatan Banyak kegagalan perawatan saluran akar yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan dalam prosedur perawatan, kesalahan dapat terjadi pada saat

20

pembukaan kamar pulpa, saat melakukan preparasi saluran akar dan saat pengisian saluran akar. 1. Kesalahan Pembukaan Kamar Pulpa Tujuan utama pembukaan kamar pulpa adalah untuk mendapatkan jalan langsung ke foramen apikal tanpa adanya hambatan serta untuk memudahkan penglihatan pada semua orofis saluran akar. Pembukaan kamar pulpa untuk setiap gigi mempunyai desain yang berbeda, suatu pembukaan yang dilakukan dengan baik akan menghilangkan kesulitan-kesulitan teknis yang dijumpai dalam perawatan saluran akar. Kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi selama melakukan pembukaan kamar pulpa adalah: a. Perforasi Permukaan akar Perforasi dapat terjadi ke arah proksimal atau labial. Perforasi disebabkan karena preparasi pembukaan dilakukan dengan sudut yang tidak mengarah ke kamar pulpa. Hal ini terjadi karena waktu melakukan preparasi akses, ditemui kesulitan menemukan lokasi kamar pulpa walaupun dari gambaran foto Rontgen jelas. b. Perusakan dasar kamar pulpa Bor yang memotong dasar kamar pulpa dapat menyebabkan terjadinya perforasi pada furkasi. Selai itu, pemakaian bor fisur yang berujung datar akan membuat dasar kamar pulpa menadi datar sehingga merusak bentuk corong alamiah orifis yang akan menyulitkan pemasukan instrumen, paper point serta bahan pengisian ke dalam saluran akar. c. Preparasi saluran melalui tanduk pulpa Preparasi yang terlalu dangkal akan menyebabkan saluran akar dicapai melalui tanduk pulpa, selain itu akan menyulitkan pembersihan kamar pulpa dan saluran akar dengan baik. d. Membuat pembukaan proksimal Pembukaan yang dilakukan melalui karies yang ada proksimal akan menyebabkan instrumen yang dipakai untuk saluran akar harus dibengkokkan, akibatnya preparasi saluran akar tidak tepat dan instrumen dapat patah dalam saluran akar. e. Membuat pembukaan yang terlalu kecil

21

Pembukaan yang terlalu kecil akan mengakibatkan terperangkapnya jaringan pulpa terutama yang berada dibawah tanduk pulpa, juga akan menyulitkan pencarian orifis sehingga saluran akar tidak dapat ditemukan. f. Preparasi pembukaan melebar ke arah dasar kamar pulpa Pada preparasi yang melebar ke arah dasar kamar pulpa akan mengakibatkan melemahnya kemampuan menerima daya kunyah sehingga dapat melepaskan tambalan sementara dan akhirnya terjadi kebocoran.

2. Kesalahan Selama Preparasi Saluran Akar Tahap preparasi saluran akar mencakup proses pembersihan (cleaning) dan pembentukan (shaping). Pada tahap ini dapat terjadi kegagalan perawatan saluran akar yang disebabkan oleh: a. Instrumentasi berlebih (over instrumentasi) Instrumen menembus ke luar melalui foramen apikal sehingga dapat menyebabakan terjadinya inflamasi periapikal. Instrumentasi yang melewati konstriksi apikal dapat mentransfer mikroorganisme dan mendorong bubuk dentin dari saluran akar ke jaringan periapikal sehingga dapat memperburuk hasil perawatan. b. Instrumentasi kurang (underinstrumentasi) Instrumen tidak mencapai panjang kerja yang benar sehingga pembersihan saluran akar tidak sempurna, masih meninggalkan jaringan nekrotik di dalam saluran akar. c. Preparasi berlebihan Yang dimaksud dengan preparasi berlebihan adalah pengambilan jaringan gigi yang berlebih dalam arah mesio-distal dan buko-lingual. Hal ini dapat terjadi dibagian koronal atau pertengahan saluran sehingga melemahkan akar dan dapat menyebabkan fraktur akarselama

berlangsungnya kondensasi. d. Preparasi yang kurang Preparasi yang kurang adalah kegagalan dalam pengambilan jaringan pulpa, kikiran dentin dan mikroorganisme dari sistem saluran akar. Saluran dibentuk sempurna sehingga pengisian kurang hermetis.

22

e. Terbentuknya birai (ledge) dan perforasi Terbentuknya birai atau perforasi laterala dapat menghalangi proses pembersihan, pembentukan dan pengisian saluran akar yang sempurna. Adanya birai atau perforasi lateral akan meninggalkan bahan iritasi dan atau akan menambah buruk keadaan pada ligamen perodontal sehingga prognosisnya menjadi buruk. f. Instrumen patah dalam saluran akar Instrumen patah dalam saluran menyebabkan kesulitan tahap perawatan saluran akar selanjutnya. Prognosisnya buruk bila saluran akar disebelah apical patahan yang belum dibersihkan masih panjang atau fragmen patahan keluar dari foramen apikal. g. Kesalahan pada waktu irigasi saluran akar Bila bahan irigasi yang dipakai bersifat toksik, dapat menyebabkan iritasi pada jaringan periapikal. Cara penyemprotan bahan irigasi terlalu keras atau memasukkan jarumnya terlalu dalam dapat mendorong bubuk dentin dan mikroorganisme keluar dari foramen apikal, sehingga dapat mengiritasi jaringan periapikal. h. Kesalahan dalam sterilisasi saluran akar Mikroorganisme masih tersisa di dalam tubuli dentin, saluran lateral atau ramifikasi saluran akar karena obat-obat disinfeksi yang digunakan kurang efektif, sehingga dapat menyebabkan terjadinya reinfeksi. 3. Kesalahan Saat Pengisian Saluran Akar

Kegagalan perawatan saluran akar dapat disebabkan karena kesalahankesalahan yang terjadi saat pengisian saluran akar, yaitu: a. Pengisian yang tidak sempurna Pengisian yang berlebih (overfilling), pengisian yang kurang (underfilling) atau pengisian yang tidak hermetis, dapat memicu terjadinya inflamasi jaringan periapikal, saluran akar dapat terkontaminasi bakteri dari periapikal sehingga terjadi reinfeksi. b. Pengisian saluran akar dilakukan pada saat yang tidak tepat.

23

Pengisian saluran akar dilakukan pada keadaan belum steril, masih terdapat eksudat yang persisten atau masih terdapat sisa jaringan yang terinfeksi. c. Pengisian saluran akar dilakukan pada keadaan tidak steril. Keadaan rongga mulut maupun alat-alat yang digunakan pada waktu dilakukan pengisian saluran akar, tidak steril.

2.8.3 Faktor Penyebab Kegagalan Pasca Perawatan Kejadian pasca perawatan dapat menyebabkan kegagalan perawatan secara langsung atau tidak langsung, misalnya: 1. Restorasi yang kurang baik atau desain restorasi yang buruk. Restorasi yang baik akan melindungi sisa gigi dan mencegah kebocoran dari rongga mulut kedalam sistem saluran akar. Restorasi pasca perawatan saluran akar yang kurang baik akan menyebabkan terbukanya semen dan menyebabkan terkontaminasinya kamar pulpa dan saluran akar oleh saliva dan bakteri, sehingga mengakibatkan kegagalan perawatan saluran akar. 2. Trauma dan fraktur Kesalahan preparasi pada waktu pembuatan pasak dapat menyebabkan kegagalan perawatan. Pengambilan dentin saluran akar yang terlalu banyak akan melemahkan akar gigi, sehingga dapat menyebabkan terjadinya fraktur vertikal. 3. Terkenanya jaringan periodontal Kegagalan bisa disebabkan karena non endodontik, walaupun perawatan saluran akar dilakukan dengan baik. Hal ini dapat disebabkan karena efek merusak dari perawatan ortodontik atau penyakit periodontium.

24

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Material dan Metode Persiapan Bahan Lima puluh empat buah gigi insisif sentral rahang atas hasil ekstraksi dengan kanal tunggal dan jelas, diverifikasi dengan radiografi. Dipilih dan disimpan dalam larutan thymol 0.1% (Formulae Ac_~ao, S~ao Paulo, SP, Brazil)

Instrumen Saluran Akar Panjang saluran akar ditentukan menggunakan K-file ukuran 10 (Dentsply Maillefer) yang dimasukkan secara pasif kedalam saluran akar sampai ujung alat terlihat pada foramen apical utama. Kemudian menggunakan mikroskop untuk gigi, panjang sesungguhnya dari saluran akar diperoleh, panjang kerja dihitung dengan mengurangi 1mm dari pengukuran tersebut. Saluran akar dipreparasi menggunakan tehnik crown-down (Morgan dan Montgomery 1984). Ketiga coronal dari saluran akar diperlebar menggunakan Gates-Glidden drills ukuran 3 dan 2, lalu saluran akar diinstrumentasi menggunakan Flexicut reamers (VDW, Munich, Germany) pada area kerja dengan file ukuran 40. Sebanyak 25 ml NaOCl2.5% diberikan selama instrumentasi menggunakan jarum dengan ukuran 30 gauge setiap saat menggunakan bur dan file. Saat instrumentasi pertama selesai, irigasi ultrasonic pasif diberikan pada semua gigi menggunakan CPR-6 Ultrasonik Tip (Obtura Spartan Endodontics, Algonquin, IL, USA) dengan larutan NaOCl 2.5% selama 1 menit diikuti irigasi dengan 5ml selama 3 menit. Irigasi terakhir dengan 5ml NaOCl 2.5%. larutan EDTA 17%

Standarisasi Bahan Pengisi Bahan pengisi saluran akar (Sybron Dental Specialities, Orange, USA) zinc oxide eugenol based sealer dicampur berdasarkan takaran pabrik hingga tercapai konsistensi yang kental. Bahan pengisi terdiri atas satu bubuk takar dan satu tuang larutan yang cukup untuk melapisi dinding saluran akar.

24

25

Pengisi Saluran Akar Saluran akar diisi menggunakan teknik lateral compaction (Walton &Torabinejed, 1996). Sebelum pengisian saluran akar dikeringkan menggunakan paper points (VDW) yang dipilih dan dipadukan menggunakan gutta percha 40 master cone (Dentsply, Pretropolis, RJ, Brazil). Setelah itu lapisan sealer ditempatkan sampai sesuai panjang kerja dipadatkan hingga mencapai 5mm lebih dalam dari saluran akar. Instrumen plugger dipanaskan untuk memotong gutta percha di daerah posisi atap saluran akar. Setelah proses selesai, makagigi yang dipreparasi harus dilakukan foto radiografik di daerah buccolingual dan mesiodistal untuk memastikan konsistensi dari bahan pengisi saluran akar. Jika dalam foto radiografik ada ketidaktepatan gutta percha maka sampel harus dibuang dan akses saluran akar diperbaiki dengan Cavit-G (3M Escape, Seefeld, Germany) dan gigi disimpan dibawah suhu 37o selama 30 hari untuk memperoleh keberhasilan pengisian saluran akar.

Re-instrumentasi dan teknik pengambilan tumpatan Re-instrumentasi awal dari semua saluran akar dilakukan dengan cara yang sama, yakni sebagai berikut: Bur largo ukuran 2 dan 3 (tip ukuran 90 dan 110, masing-masing) (Dentsply Maillefer), digunakan pada 4 mm awal dari saluran akar. Setelah menggunakan bur, diberikan 0,1 mL kloroform pada saluran akar untuk melunakkan gutta perca selama 30 detik sebelum instrumentasi lanjut. Gigi kemudian secara acak dibagi menjadi tiga kelompok dengan masing masing 18 gigi, dan kembali diinstrumentasikan sebagai berikut:

Kelompok 1: Saluran akar diinstrumentasi ulang dengan panjang kerja asli

menggunakan K-file (Dentsply Maillefer) sampai dengan ukuran 50. Bur Gates Glidden ukuran 2 dan 3 (tip ukuran 70 dan 90, masing-masing) juga digunakan dalam sepertiga tengah kanal pada kedalaman 6 mm. Setelah mencapai panjang kerja dengan ukuran file 50, ukuran file 55, 60, 70 dan 80 yang digunakan dengan cara step-back sampai ukuran file 55 mencapai titik 0,5 mm dari panjang kerja

26

untuk menyelesaikan preparasi. Setiap set instrumen yang telah digunakan untuk preparasi tiga saluran akar harus dibuang.

Kelompok 2: File Mtwo rotary retreatment ukuran 15, taper 0,05 dan 25, taper 0,05 (VDW) dan file Mtwo rotary ukuran 30, taper 0,05, 35, taper 0,04, 40, taper 0,04, dan 50, taper 0,04 digunakan dengan motor listrik (Silver VDW). Torsi dan pengaturan kecepatan untuk setiap file yang digunakan seperti yang

direkomendasikan oleh produsen. Instrumen diaplikasikan dengan lembut menggunakan teknik in-and-out, stroke singkat / gerakan menggosok dari arah koronal ke dalam menuju panjang kerja asli. Jika instrumen gagal mencapai panjang kerja setelah tiga stroke, maka keluarkan instrumen dari kanal, bersihkan dengan kasa steril kemudian gunakan lagi untuk pengulangan sampai panjang kerja tercapai. Setiap set instrumen yang telah digunakan untuk preparasi tiga saluran akar harus dibuang.

Kelompok 3: Saluran akar yang diinstrumentasikan (preparasi) menggunakan instrument Reciproc R50 (VDW). Instrumen dimasukkan kedalam saluran, yang digerakkan oleh motor listrik VDW dan diterapkan dengan gerakan maju mundur. Kemudian bergerak menuju apeks menggunakan gerakan maju mundur (mematuk) secara perlahan dengan amplitude sekitar 3 mm. Tekanan apikal yang lembut dikombinasikan dengan gerakan menyikat pada dinding lateral, sesuai dengan instruksi dari pabrik. Setelah gerakan mematuk, instrument dikeluarkan dari saluran dan dibersihkan dengan kasa steril. Prosedur ini diulang sampai instrument mencapai panjang kerja. Reciproc adalah alat sekali pakai, sehingga setiap file hanya digunakan untuk saluran akar. Saluran akar pada semua kelompok tersebut kembali diinstrumentasikan sampai dinding saluran halus dan tidak terlihat bahan pengisi pada instrument. 25 mL NaOCl 2,5% diirigasikan dengan jarum 30-gauge (tip size 25) selama pengerjaan. Irigasi ultrasonic pasif kembali dilakukan pada semua gigi dengan larutan NaOCl 2,5% selama 1 menit diikuti dengan irigasi 5 mL larutan EDTA

27

17%. Irigasi akhir dilakukan dengan 5 mL larutan NaOCl 2,5%. Setelah irigasi, saluran dikeringkan dengan paper points. Untuk menghindari variabilitas / perbedaan antar operator, semua prosedur intrakanal dilakukan oleh operator yang sama. Setiap gigi yang telah dilakukan perawatan difoto radiografi pada sisi buccolingual dan mesiodistal. Jika masih terlihat sisa material pengisi, saluran akar tersebut dilakukan perawatan ulang hingga foto radiografi tidak menunjukkan gambaran radiopak pada saluran akar.

Penilaian terhadap pengangkatan gutta-percha yang efektif Gigi diberi alur (grooved) longitudinal pada permukaan buccal dan lingual menggunakan disc stainless steel dan kemudian dipecah menjadi dua menggunakan chisel (pahat) dan mallet (palu). Semua contoh diberi kode dan kemudian difoto, dengan pembesaran 89 kali dan kondisi pencahayaan seragam, menggunakan kamera digital (Sony Cyber-shot DSC-W530, Sony do Brasil, Sao Paulo, SP, Brazil) yang dipasang pada mikroskop operasi dental (D.F. Vasconcelos, Sao Paulo, SP, Brazil). Foto-foto berkode tadi ditransfer ke komputer workstation, dan kontur eksternal dari setiap setengah kanal dan area dengan material pengisi (filling) diberi outline. Tanda tadi diukur dengan software Image Tool 3.0 (Image Tool; University of Texas Health Science Center, San Antonio, CA, USA). Daerah kanal total dan sisa material pengisi (filling) dihitung pada setiap gigi. Rasio dari material pengisi (filling) yang tersisa banding root canal periphery di komputerisasi dan diekspresikan dalam pixel persegi. Persentase rata-rata dari material pengisi (filling) yang tersisa pada setiap grup dibandingkan menggunakan tes Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mengangkat material pengisi (filling) dengan setiap teknik juga diukur.

Penilaian durasi waktu pengangkatan gutta perca Total waktu yang dibutuhakan untuk pengisan akar adalah dimulai dari instrument pertama kali dimasukkan pada saluran akar sampai kembali pada

28

panjang kerja yang asli. Kemudian stopwatch dihentikan ketika instrumen di ambik dali saluran akar dan dimulai kembali ketika intrument lain dimasukkan.

3.2 Hasil Sisa sisa material pengisian diamati pada semua sampel. Rata rata presentase dari sisa material pengisian adalah 7,19% pada kelompok 1, 12,17% pada kelompok 2 dan 4,575 pada kelompok 3 (Tabel 1). Ada perbedaan yang signifikan antara kelompok 2 dan kelompok lain (p=0,05). Ada perbedaan yang signifikan antara kelompok 1 dan 3. Hasil ini menunjukan bahwa kelompok 1 (tehnik konvesional) (gambar 1) dan kelompok 3 (tehnik reciprocating dengan instrument Reciproc R50 ) (gambar 2) meninggalkan sisa bahan yanag lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok 2 (tehnik rotary dengan instrument Mtwo R) (gambar 3). Waktu yang diperlukan untuk melakukan penafsiran tersebut secara significan lebih pendek pada kelompok 3 (194,5 detik), kemudian kelompok 2 (365 detik) dan kelompok 1 (725 detik) (p<0,05) (tabel 2). Fraktur instrumen tidak kelompok. terjadi pada saat melakukan pengangkatan pada salah satu

3.3 Diskusi Tujuan utama dari root canal retreatment adalah untuk membuang bahan pengisi yang terkontaminasi. Dengan membuang bahan pengisi sebanyak mungkin, praktisi mampu membuka daerah di mana masih terdapat jaringan pulpa atau bakteri yang mungkin telah menyebabkan kegagalan pengobatan sebelumnya (Stabholz& Friedman 1988, Saad et al. 2007).

Table 1. Persentasi dari debris bahan pengisi yang ditemukan dalam dinding saluran akar setelah dilakukan teknik pembuangan bahan pengisi saluran akar.

29

Gambar 1. Spesimen yang mewakili grup I. Bahan pengisi saluran akar masih menutupi 7,19% dari dinding saluran akar.

30

Gambar 2. Spesimen yang mewakili grup III. Bahan pengisi saluran akar masih menutupi 4,57% dari dinding saluran akar.

Gambar 3. Spesimen yang mewakili grup II. Bahan pengisi saluran akar masih menutupi 12,17% dari dinding saluran akar.

Tabel 2. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan teknik pembuangan bahan pengisi saluran akar.

Penelitian ini membandingkan tiga teknik removal bahan pengisi yang berbeda dengan tujuan akhir menentukan apakah teknik instrumentasi endodontik baru-baru ini diperkenalkan kepasar mampu menghapus material pengisi dari saluran akar lebih cepat dan efektif daripada metode lain. Penggunaan vertical split root untuk mendapatkan gambar untuk menyelidiki dinding saluran akar didirikan (Marques da Silva et al. 2012), bersama dengan penggunaan dental

31

operating microscope untuk mengevaluasi kehadiran sisa-sisa material pengisi (Mello et al. 2009, Takahashi et al. 2009). Selain itu, metodologi ini telah terbukti lebih efektif untuk menyelidiki sisa bahan pengisi dibandingkan dengan teknik radiografi (Carvalho

Maciel&Zaccaro Scelza 2006). Dalam studi ini, gigi seri tengah digunakan, pada kenyataanya sebagian besar studi eksperimental membandingkan efektifitas teknik retreatment yang telah dilakukan dengan menggunakan saluran akar lurus (Rodig et al, 2012) Untuk menyederhanakan standarisasi spesimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas instrument Reciproc R50 (group III) serupa dengan Gates Glidden burs dan hand-file (group I) dalam mengambil / melepaskan gutta perca dan sealer, tetapi dengan waktu yang lebih cepat (194 versus 725 s). Sebaliknya, file rotary Mtwo (group II) meninggalkan sisa sisa material yang lebih signifikan pada dinding saluran akar dari pada instrument dalam dua group lainnya. Namun, file rotary Mtwo melakukan proses pengambilan / pelepasan lebih cepat dibandingkan dengan group I (365 versus 725 s). Oleh karena itu, hipotesis nol ditolak karena teknik yang digunakan dalam group II kurang efektif dalam pengambilan / pelepasan bahan pengisi saluran akar daripada yang digunakan dalam group lain. Kloroform digunakan sebagai pelarut karena kapasitas untuk melarutkan gutta perca dan batas toksisitas bila digunakan secara klinis sudah diketahui (McDonald &Vire, 1992). Pelarut ini telah digunakan di sebagian besar studi yang mengevaluasi pengambilan / pelepasan gutta perca dan sealer dan juga menggunakan metodologi yang sama dengan yang digunakan dalam penelitian ini (Mello et al., 2009, Kfir et al., 2012, Mollo et al., 2012). Akhirnya, meskipun memiliki sifat toksis, kloroform mengurangi tingkat bakteri intrakanal E. faecalis secara signifikan, sebuah properti yang mungkin berguna ketika menangani infeksi sekunder endodontik (Edgar et al., 2006). Namun, perlu dicatat bahwa, gutta perca yang melunak secara kimiawi membentuk lapisan halus dan melekat pada dinding saluran akar (Sae - Lim et al., 2000). Hal ini juga dapat dikarenakan anatomi saluran akar yang kompleks (adanya isthmuses, kanal lateral dan ketidakteraturan bentuk saluran akar) (Kfir et al., 2012). Hal ini membuat

32

pengambilan / pelepasan bahan pengisi malah menjadi lebih sulit dan memakan waktu. Dalam penelitian ini, tidak satupun dari tiga teknik ini yang mampu untuk mengambil atau memindahkan secara keseluruhan sampel bahan yang dimasukkan kedalam saluran akar. Temuan ini disetujui dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menggunakan instrumen yang berbeda, teknik, pelarut dan teknologi tambahan, seperti dental mikroskop dan ultrasonik tips (Saad et al. 2007, Tasdemir et al. 2008, Mello et al. 2009, Marsi et al. 2010, Kr et al. 2012, Marques da Silva et al. 2012, Mollo et al. 2012, Rodig et al. 2012, Xu et al. 2012). Kemampuan instrument Mtwo R untuk menghapus bahan pengisi saluran akar sebelumnya telah dinilai dan ditemukan secara signifikan kurang efektif dibandingkan file ProTaper Universal dan hand-file dalam menghilangkan material pengisi (Bramante et al. 2010). Sebaliknya, Mollo et al. (2012) membandingkan keberhasilan Mtwo R instrument dan R-Endo file (Micro - Mega, Besancon, Prancis) dengan hand instrument dan melaporkan bahwa kedua system NiTi lebih efektif dan lebih cepat dari pada teknik konvensional. Perbedaan antara hasil ini dan studi sebelumnya mungkin disebabkan oleh fakta bahwa digunakannya bur Gates Glidden setelah menggunakan hand files untuk menyelesaikan preparasi. Selain itu, sebuah studi yang membandingkan kedua metodologi deteksi menyimpulkan bahwa radiografi saja gagal untuk mendeteksi semua bahan pengisi yang tersisa di saluran akar, dan menemukan bahwa sisa sisa secara menyeluruh terdeteksi menggunakan sebuah dental operating mikroskop (Kfir et al., 2012). Oleh karena itu, metodologi radiografi yang digunakan oleh penulis ini menganalisis sisa pengisi bahan yang ditunjukkan agak menyesatkan (Carvalho Maciel & Zaccaro Scelza, 2006). File Reciproc R50 dianggap efektif dalam menghilangkan bahan pengisi dari dinding saluran akar, dengan rata rata hanya 4,57% daerah kanal yang ditutupi oleh sisa sisa. Selain itu, teknik reciprocating ini adalah metode tercepat dibandingkan dengan teknik rotary dan hand file.

33

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Sisa sisa bahan pengisi yang diamati pada semua sampel tidak memperhatikan kelompok kelompok yang diteliti. Rotary instrument tidak efektif dalam menghilangkan pengisi sisa sisa bahan sebagai alat reciprocating atau hand file. Teknik reciprocating adalah metode yang paling cepat untuk mengeluarkan guta perca dan sealer, diikuti oleh teknik rotary dan teknik hand file.

33

34

DAFTAR PUSTAKA

Bence, R. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik, terjemahan Sundoro. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia. Cohen, S. and Burns, R.C. 1994. Pathway of the pulp. 6 th ed. St. Louis : Mosby. Grossman, L.I., Oliet, S. and Del Rio, C.E., 1988. Endodontics Practice. 11 ed. Philadelphia : Lea & febiger. Guttman, J.L. 1992. Problem Solving in Endodontics, Prevention, identification and management. 2 nd ed., St louis : mosby Year Book. Harty. FJ. alih bahasa Lilian Yuono. 1992. Endodontik Klinis. Jakarta : Hipokrates. Ingle, J.L. & Bakland, L.K. 1985. Endodontics. 3rd ed. Philadelphia : Lea & Febiger. Mardewi, S. K.S.A. 2003. Endodontologi, Kumpulan naskah. Cetakan I. Jakarta : Hafizh. Tarigan, R. 1994. Perawatan Pulpa Gigi (endodonti). Cetakan I. Jakarta : Widya Medika. Walton, R. and Torabinejad, M., 1996. Principles and Practice of Endodontics. 2nd ed. Philadelphia : W.B. Saunders Co. Weine, F.S. 1996. Endodontics Theraphy. 5th ed. St. Louis : Mosby Year Book. Inc Zuolo, A. S. et al, 2013. Efficacy of reciprocating and rotary techniques for removing filling material during root canal retreatment. Blackwell Publishing Ltd.
th