Anda di halaman 1dari 10

I.

JUDUL Management Dental Child

II.

LATAR BELAKANG Management dental child adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk

mengatasi anak dalam melakukan rangkaian perawatan gigi dan mulut. Dengan kata lain, Management Dental Child memberikan arahan bagi dokter gigi tentang bagaimana cara menangani pasien anak. Pada dasarnya setiap anak memiliki keperibadian yang berbeda-beda begitu pula tingkah lakunya. Berikut ini adalah macam-macam perilaku anak: 1. Anak yang mudah (easy child). Secara umum anak tersebur terlihat bahagia, fungsi biologisnya mempunyai ritme yang jelas, mudah menerima pengalaman baru dan mudah beradaptasi dengan lingkungan 2. Anak yang sulit (difficult child). Anak mudah terganggu dan sulit didiamkan, ritme biologisnya tidak teratur, sering meluapkan emosinya. 3. Anak yang bereaksi perlahan (slow to warm up child). Cenderung untuk bereaksi perlahan-lahan dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan orang lain dan lingkungan baru. (A.Thomas & Chess, 1977)
Frankl membagi derajat tingkah laku anak dalam 4 kategori yaitu jelas negatif, negatif, positif dan jelas positif : Anak dalam kategori jelas negatif akan menolak perawatan, menangis keras, ketakutan, menunjukkan sikap negatif, menarik diri dari perawatan, tidak terkendali dan tidak kooperatif. Anak enggan menerima perawatan gigi, tidak kooperatif, berwajah muram, enggan mendengar dan merespon kepada dokter gigi dalam kategori negatif sedangkan dalam kategori positif, anak menerima perawatan gigi, tidak menolak petunjuk dokter gigi, bekerjasama dengan dokter gigi

dengan mengikuti dan mematuhi arahan dokter gigi. Kategori jelas positif menunjukkan anak dengan gembira menerima perawatan, tertarik dengan tindakan yang dilakukan oleh dokter gigi, banyak bertanya, hubungan yang ramah dengan dokter gigi dan sangat kooperatif.

Wright membagi beberapa kategori berdasarkan kooperatif anak sebagai berikut yaitu anak tidak mampu menjadi kooperatif, anak belum mampu menjadi kooperatif dan anak mempunyai potensi menjadi kooperatif :

Anak yang tidak mampu menjadi kooperatif adalah anak tuna mental, kemampuannya terbatas sedangkan anak usia terlalu muda termasuk dalam kategori belum mampu menjadi kooperatif. Awal pertama anak tidak kooperatif, dengan pendekatan yang baik, tingkah lakunya berubah termasuk dalam kategori berpotensi menjadi kooperatif

Dari keterangan di atas dapat dilihat bahwa setiap anak memiliki perilaku bawaan masing-masing dan tentunya membutuhkan penanganan sesuai karakter masing-masing. Berikut adalah beberapa penanganan yang bisa dilakukan oleh operator kepada pasien anak: A. KOMUNIKASI
Tanda keberhasilan dokter gigi mengelola pasien anak adalah kesanggupannya berkomunikasi dan memperoleh rasa percaya dari anak, sehingga bersikap koperatif. Komunikasi dibagi atas komunikasi verbal dan non verbal, sebaiknya pembicaraan dilakukan secara wajar. Banyak cara untuk memulai komunikasi verbal, misalnya untuk anak kecil dapat ditanyakan tentang pakaian baru, kakak adik, benda atau binatang kesayangan. Anak yang lebih besar dapat ditanyakan tentang sekolah, aktifitas, olah raga atau teman. Perubahan nada dan volume suara dapat digunakan untuk mengubah perilaku dan mengkomunikasikan perasaan kepada anak.

Perintah yang tiba-tiba dan tegas dapat mengejutkan dan menarik perhatian anak sehingga anak dapat menghentikan apa yang sedang dilakukannya

B.

MENGALIHKAN PERHATIAN

Mengalihkan perhatian adalah suatu metode yang berguna untuk mengurangi rasa takut, tidak nyaman, stress dan menghilangkan rasa bosan selama periode perawatan. Semakin banyak mengetahui tentang anak, lebih besar taktik yang dapat dilakukan untuk mengalihkan anak, untuk memberikan kesempatan melakukan prosedur perawatan yang diperlukan. Bahan pengalih perhatian yang terbukti untuk membantu mengurangi rasa takut pada anak misalnya radio, program anak di tv dan lain-lain.

C. TELL-SHOW-DO (TSD) TSD merupakan suatu rangkaian pendekatan secara berurutan, sebagai metode persiapan,dipopulerkan pertama kali oleh Addelston (1959) dan dapat diterapkan pada anak dengan sikap dan umur yang berbeda, terutama pada anak yang pertama kali berkunjung ke dokter gigi. Sebelum melakukan perawatan, dokter gigi selangkah demi selangkah menjelaskan terlebih dahulu kepada anak apa yang akan dilakukan dengan bahasa yang dapat dimengerti anak dan menunjukkan berbagai instrumen yang akan digunakan. Kemudian kepada anak dijelaskan bagaimana prosedur yang akan dilakukan, setelah itu dokter gigi mendem onstrasikannya. Proses ini memerlukan waktu yang cukup lama pada anak dengan ketakutan yang berlebihan. TELL : Anak diberitahu apa yang akan dilakukan terhadap dirinya, bahasa sesederhana mungkin agar mudah dipahami. Istilah-istilah kedokteran gigi dapat diganti dengan bahasa sehari-hari. Misalnya ; karies diganti dengan gigi berlobang, disuntik diganti

dengan ditidurkan dan bor diganti dengan giginya akan dibersihkan supaya bahan tambalan dapat dimasukkan. SHOW : Memperlihatkan cara kerja dokter gigi menggunakan alat bantu peraga, misalnya pantom yang terbuat dari gips ataupun melalui gambar, slide dan film yang pendek. Pekerjaan dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak menimbulkan rasa takut dan terkejut pada anak. DO : Dokter gigi akan melakukan apa yang telah diterangkan dan diperlihatkan. Anak tidak boleh dibohongi, karena bila terjadi penyimpangan dari apa yang telah diterangkan dan diperlihatkan tadi, besar kemungkinan si anak tidak mau lagi dirawat giginya. Berikan pujian dan hadiah apabila anak telah menunjukkan kerja sama yang baik dalam menerima perawatan. B. DESENSITISASI Cara lain yang dipakai untuk merubah tingkah laku anak adalah desensitisasi, yaitu suatu cara untuk mengurangi rasa takut dan cemas seorang anak dengan jalan memberi rangsangan sehingga rasa takut/cemas sedikit demi sedikit akan berkurang. Rangsangan tersebut diberikan terus, sampai anak tidak merasa takut lagi. Cara ini terdiri atas tiga tahap, yaitu : Pertama: latih pasien agar merasa santai/relaks Kedua: susun secara berurutan hal-hal yang membuat pasien cemas/ takut yaitu dari hal yang paling menakutkan sampai ke hal-hal yang tidak begitu menakutkan. Ketiga: memberi rangsangan dari hal yang tidak begitu menakutkan sampai anak tidak merasa takut lagi dan rangsangan ini ditingkatkan menurut urutan yang telah disusun tersebut di atas.

C. MODELLING Anak mempunyai sifat keingin tahuan, menirukan hal-hal yang baru dan yang menarik perhatiannya. Sifat-sifat ini dapat dimanfaatkan dalam merawat gigi anak. Menurut Bandura (1969) modeling adalah suatu proses sosialisasi yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam interaksinya dengan lingkungan sosial. Gordon (1974) mengatakan bahwa modeling adalah proses belajar dengan memperhatikan model. Sedangkan Eichenbaum (1977) berpendapat bahwa modeling merupakan suatu teknik yang memakai kemampuan anak untuk meniru model yang sudah berpengalaman. Cara modeling dilakukan dalam mengatasi dan merubah tingkah laku anak yang tidak koperatif. Seorang dokter gigi juga dapat bertindak sebagai model yang akan ditiru oleh anak dengan syarat harus bersikap tenang, santai dan mantap. Jika dokter gigi tidak tenang, cemas dan ragu-ragu, akan menambah rasa takut dan cemas seorang anak.

D. HAND OVER MOUTH (HOME) Teknik hand-over-mouthbiasanya dianggap sebagai cara yang ekstrem dalam menangani anak yang tidak koperatif, misalnya anak yang menangis histeris. Anak seperti ini biasanya tidak takut, tetapi mereka tidak mau bekerja sama dan mencari jalan untuk menghindar. Tingkah laku biasanya segera terlihat pada kunjungan pertama dan dipertegas oleh cara penolakan terhadap pemeriksaan. Teknik ini dilakukan dengan cara menahan anak yang melawan dengan pelan tetapi kuat pada kursi perawatan gigi, meletakkan tangan di atas mulutnya untuk menahan perlawanannya dan berbicara dengan perlahan tetapi jelas ke dalam telinganya. Selanjutnya pada anak dikatakan bahwa tangan akan diangkat bila ia berhenti menangis. Bila ia menanggapi dengan baik, tangan segera diangkat dari mulutnya dan ia diberi pujian atas sikap baiknya. Teknik ini bukan untuk menakuti anak, tetapi untuk mendiamkannya dan

mendapatkan perhatiannya, agar ia dapat mendengar apa yang dikatakan dokter gigi dan menerima perawatan gigi yang diperlukannya. E. HIPNOTIS Hipnotis diartikan oleh Hartland (1971) sebagai suatu teknik yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain sehingga anjuran-anjuran yang diberikan akan diterima pasien dengan baik. Hipnotis paling sering digunakan dalam kedokteran gigi sebagai suatu metode untuk membantu pasien yang takut dan cemas supaya relaks, sehingga akan dapat menerima prosedur perawatan yang sebelumnya ditolak. Indikasi lain untuk hipnotis membantu pasien yang mual sewaktu sesuatu benda masuk ke dalam rongga mulutnya, mendorong anak untuk memakai peralatan ortodonti dan memperkenalkan anak pada sedasi inhalasi atau anestesia umum. F. PERANAN ORANG TUA Orangtua berperan dalam memberikan informasi pada dokter gigi serta memberi dorongan pada anak agar dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan dokter gigi. Sehingga karena itu, komunikasi dan kerjasama berjalan dengan lancar.

Peranan seorang ibu dalam kesehatan gigi anak-anaknya adalah sebagai motivator, edukator dan fasilitator. Motivator adalah orang yang memberikan motivasi atau mendorong seseorang untuk bertindak. Secara klinis, motivasi diperlukan untuk mendapatkan kekuatan pada pasien yang mendapat perawatan. Motivasi didasari atas suatu kebutuhan, tujuan dan tingkah laku yang khas. Sebagai edukator, seorang ibu wajib memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarganya dalam menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku seperti yang diharapkan dalam mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Sebagai fasilitator, seorang ibu dapat dijadikan panutan bagi anak-anaknya dalam memecahkan berbagai permasalahan dalam bidang kesehatan yang dihadapi sehari-hari.

Dari keterangan tersebut,terdapat macam-macam tingkah laku dan penanganannya.oleh karena itu,pada skill lab LBM 1 blok 16 ini diadakan observasi di RSGM untuk melihat kasus secara lansung tentang bagaimana management perawatan pada pasien anak-anak. III. PEMBAHASAN Pada materi management dental child ini dilakukan observasi terhadap penanganan pasien anak oleh operator (dokter gigi muda) di RSIGM Sultan Agung Semarang. Observasi dilakukan pada hari Jumat, 25 Oktober 2013 pukul 10.00. Hasil data yang diperoleh dari observasi dari sudut pandang pasien adalah: Pasien datang bersama neneknya,yang juga mau melakukan perawatan. Anak datang dengan enjoy sambil digandeng operator. Pasien naik ke atas kursi gigi. Pasien tidak merasa terganggu dengan keberadaan 2 asisten operator disekitarnya. Operator, memberitahu ke anak bahwa akan memeriksa giginya. Pasien tersebut adalah pasien yang akan menerima perawatan penambalan gigi. Pasien terlihat sangat antusias ketika giginya akan ditambal oleh operator. Pasien juga mematuhi apapun yang diperintahkan oleh operator,contohnya: berkumur,membuka mulut,menyikat gigi Sambil operator menyiapkan alat dan bahan, pasien main game.

Setelah alat dan bahan sudah siap, operator melakukan pemeriksaan IO dan pengisian rekam medis oleh operator.

Operator melakukan pemeriksaan gigi yang akan dirawat dengan CE.

Operator menentukan kelas V negative karies gigi 1.1. Anak sanagt kooperatif dan banyak tingkah saat melakukan perawatan.

Hasil data yang diperoleh dari observasi dari sudut pandang pasien adalah: Operator menyambut pasien dengan ramah dan senyum. Operator terlihat tenang dan sabar pada saat menghadapi pasien. Operator mempersiapkan semua alat dan bahan untuk melakukan perawatan, sembari mengawasi apa yang dilakukan oleh pasien yang sambil bermain game diatas kursi giginya. Operator menjelaskan dan menerangkan dengan rinci perawatan yang akan dilakukan oleh operator. Operator terlihat sabar dan membuat pasien untuk senyaman mungkin. Operator selalu menjelaskan apapun yang akan dilakukannya Saat perawatan pasien merasa capek karena membuka mulut yang relalu lama, dan saat di bur pasien tidak ingin pakai airnya. IV. KESIMPULAN Dari hasil pengamatan observasi yang telah dilakukan dapat disimpulakan bahwa pasien tersebut adalah termasuk pasien kooperatif dan termasuk easy child . dimana pasien yang kooperatif tidak memerlukan penanganan khusus dan menurut Frankl pasien tersebut termasuk sedangkan dalam kategori positif, anak

menerima perawatan gigi, tidak menolak petunjuk dokter gigi, bekerjasama dengan dokter gigi dengan mengikuti dan mematuhi arahan dokter gigi. .

LAPORAN SKILL LAB LBM 1 BLOK 16 MANAGEMENT DENTAL CHILD (OBSERVASI)

SGD 2 NAMA : DESY NISRINA ARUM SARI NIM : 112110188

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG ANGKATAN 2011