Anda di halaman 1dari 34

Ikatan kimia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari


Portal Kimia

Ikatan kimia adalah sebuah proses fisika yang bertanggung jawab dalam interaksi gaya
tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa diatomik
atau poliatomik menjadi stabil. Penjelasan mengenai gaya tarik menarik ini sangatlah
rumit dan dijelaskan oleh elektrodinamika kuantum. Dalam prakteknya, para kimiawan
biasanya bergantung pada teori kuantum atau penjelasan kualitatif yang kurang kaku
(namun lebih mudah untuk dijelaskan) dalam menjelaskan ikatan kimia. Secara umum,
ikatan kimia yang kuat diasosiasikan dengan transfer elektron antara dua atom yang
berpartisipasi. Ikatan kimia menjaga molekul-molekul, kristal, dan gas-gas diatomik
untuk tetap bersama. Selain itu ikatan kimia juga menentukan struktur suatu zat.

Kekuatan ikatan-ikatan kimia sangatlah bervariasi. Pada umumnya, ikatan kovalen dan
ikatan ion dianggap sebagai ikatan "kuat", sedangkan ikatan hidrogen dan ikatan van der
Waals dianggap sebagai ikatan "lemah". Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa ikatan
"lemah" yang paling kuat dapat lebih kuat daripada ikatan "kuat" yang paling lemah.

Contoh model titik Lewis yang menggambarkan ikatan kimia anatara karbon C, hidrogen
H, dan oksigen O. Penggambaran titik lewis adalah salah satu dari usaha awal kimiawan
dalam menjelaskan ikatan kimia dan masih digunakan secara luas sampai sekarang.
Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Tinjauan
• 2 Sejarah
• 3 Teori ikatan valensi
• 4 Teori orbital molekul
• 5 Perbandingan antara teori ikatan valensi dan teori orbital molekul
• 6 Ikatan dalam rumus kimia
• 7 Ikatan kuat kimia
o 7.1 Ikatan kovalen
o 7.2 Ikatan polar kovalen
o 7.3 Ikatan ion
o 7.4 Ikatan kovalen koordinat
o 7.5 Ikatan pisang
o 7.6 Ikatan 3c-2e dan 3c-4e
o 7.7 Ikatan tiga elektron dan satu elektron
o 7.8 Ikatan aromatik
o 7.9 Ikatan logam
• 8 Ikatan antarmolekul
o 8.1 Dipol permanen ke dipol permanen
o 8.2 Ikatan hidrogen
o 8.3 Dipol seketika ke dipol terimbas (van der Waals)
o 8.4 Interaksi kation-pi
• 9 Elektron pada ikatan kimia
• 10 Lihat pula
• 11 Referensi

• 12 Pranala luar

[sunting] Tinjauan
Elektron yang mengelilingi inti atom bermuatan negatif dan proton yang terdapat dalam
inti atom bermuatan positif, mengingat muatan yang berlawanan akan saling tarik
menarik, maka dua atom yang berdekatan satu sama lainnya akan membentuk ikatan.

Dalam gambaran yang paling sederhana dari ikatan non-polar atau ikatan kovalen, satu
atau lebih elektron, biasanya berpasangan, ditarik menuju sebuah wilayah diantara dua
inti atom. Gaya ini dapat mengatasi gaya tolak menolak antara dua inti atom yang positif,
sehingga atraksi ini menjaga kedua atom untuk tetap bersama, walaupun keduanya masih
akan tetap bergetar dalam keadaan kesetimbangan. Ringkasnya, ikatan kovalen
melibatkan elektron-elektron yang dikongsi dan dua atau lebih inti atom yang bermuatan
positif secara bersamaan menarik elektron-elektron bermuatan negatif yang dikongsi.

Dalam gambaran ikatan ion yang disederhanakan, inti atom yang bermuatan positif
secara dominan melebihi muatan positif inti atom lainnya, sehingga secara efektif
menyebabkan satu atom mentransfer elektronnya ke atom yang lain. Hal ini
menyebabkan satu atom bermuatan positif dan yang lainnya bermuatan negatif secara
keseluruhan. Ikatan ini dihasilkan dari atraksi elektrostatik di antara atom-atom dan
atom-atom tersebut menjadi ion-ion yang bermuatan.

Semua bentuk ikatan dapat dijelaskan dengan teori kuantum, namun dalam prakteknya,
kaidah-kaidah yang disederhanakan mengijinkan para kimiawan untuk memprediksikan
kekuatan, arah, dan polaritas sebuah ikatan. Kaidah oktet (Bahasa Inggris: octet rule) dan
teori VSEPR adalah dua contoh kaidah yang disederhanakan tersebut. Ada pula teori-
teori yang lebih canggih, yaitu teori ikatan valens yang meliputi hibridisasi orbital dan
resonans, dan metode orbital molekul kombinasi linear orbital atom (Bahasa Inggris:
Linear combination of atomic orbitals molecular orbital method) yang meliputi teori
medan ligan. Elektrostatika digunakan untuk menjelaskan polaritas ikatan dan efek-
efeknya terhadap zat-zat kimia.

[sunting] Sejarah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah kimia dan Sejarah molekul

Spekulasi awal dari sifat-sifat ikatan kimia yang berawal dari abad ke-12 mengganggap
spesi kimia tertentu disatukan oleh sejenis afinitas kimia. Pada tahun 1704, Isaac Newton
menggarisbesarkan teori ikatan atomnya pada "Query 31" buku Opticksnya dengan
mengatakan atom-atom disatukan satu sama lain oleh "gaya" tertentu.

Pada tahun 1819, setelah penemuan tumpukan volta, Jöns Jakob Berzelius
mengembangkan sebuah teori kombinasi kimia yang menekankan sifat-sifat
elektrogenativitas dan elektropositif dari atom-atom yang bergabung. Pada pertengahan
abad ke-19 Edward Frankland, F.A. Kekule, A.S. Couper, A.M. Butlerov, dan Hermann
Kolbe, beranjak pada teori radikal, mengembangkan teori valensi yang pada awalnya
disebut "kekuatan penggabung". Teori ini mengatakan sebuah senyawa tergabung
berdasarkan atraksi kutub positif dan kutub negatif. Pada tahun 1916, kimiawan Gilbert
N. Lewis mengembangkan konsep ikatan elektron berpasangan. Konsep ini mengatakan
dua atom dapat berkongsi satu sampai enam elektron, membentuk ikatan elektron
tunggal, ikatan tunggal, ikatan rangkap dua, atau ikatan rangkap tiga.
Dalam kata-kata Lewis sendiri:

An electron may form a part of the shell of two different atoms and cannot be
“ said to belong to either one exclusively. ”
Pada tahun yang sama, Walther Kossel juga mengajukan sebuah teori yang mirip dengan
teori Lewis, namun model teorinya mengasumsikan transfer elektron yang penuh antara
atom-atom. Teori ini merupakan model ikatan polar. Baik Lewis dan Kossel membangun
model ikatan mereka berdasarkan kaidah Abegg (1904).

Pada tahun 1927, untuk pertama kalinya penjelasan matematika kuantum yang penuh atas
ikatan kimia yang sederhana berhasil diturunkan oleh fisikawan Denmark Oyvind
Burrau.[1] Hasil kerja ini menunjukkan bahwa pendekatan kuantum terhadap ikatan kimia
dapat secara mendasar dan kuantitatif tepat. Namun metode ini tidak mampu
dikembangkan lebih jauh untuk menjelaskan molekul yang memiliki lebih dari satu
elektron. Pendekatan yang lebih praktis namun kurang kuantitatif dikembangkan pada
tahun yang sama oleh Walter Heitler and Fritz London. Metode Heitler-London menjadi
dasar dari teori ikatan valensi. Pada tahun 1929, metode orbital molekul kombinasi linear
orbital atom (Bahasa Inggris: linear combination of atomic orbitals molecular orbital
method), disingkat LCAO, diperkenalkan oleh Sir John Lennard-Jones yang bertujuan
menurunkan struktur elektronik dari molekul F2 (fluorin) dan O2 (oksigen) berdasarkan
prinsip-prinsip dasar kuantum. Teori orbital molekul ini mewakilkan ikatan kovalen
sebagai orbital yang dibentuk oleh orbital-orbital atom mekanika kuantum Schrödinger
yang telah dihipotesiskan untuk atom berelektron tunggal. Persamaan ikatan elektron
pada multielektron tidak dapat diselesaikan secara analitik, namun dapat dilakukan
pendekatan yang memberikan hasil dan prediksi yang secara kualitatif cukup baik.
Kebanyakan perhitungan kuantitatif pada kimia kuantum modern menggunakan baik
teori ikatan valensi maupun teori orbital molekul sebagai titik awal, walaupun pendekatan
ketiga, teori fungsional rapatan (Bahasa Inggris: density functional theory), mulai
mendapatkan perhatian yang lebih akhir-akhir ini.

Pada tahun 1935, H. H. James dan A. S. Coolidge melakukan perhitungan pada molekul
dihidrogen.Berbeda dengan perhitungan-perhitungan sebelumnya yang hanya
menggunakan fungsi-fungsi jarak antara elektron dengan inti atom, mereka juga
menggunakan fungsi yang secara eksplisit memperhitungkan jarak antara dua elektron.[2]
Dengan 13 parameter yang dapat diatur, mereka mendapatkan hasil yang sangat
mendekati hasil yang didapatkan secara eksperimen dalam hal energi disosiasi. Perluasan
selanjutnya menggunakan 54 parameter dan memberikan hasil yang sangat sesuai
denganhasil eksperimen. Perhitungan ini meyakinkan komunitas sains bahwa teori
kuantum dapat memberikan hasil yang sesuai dengan hasil eksperimen. Namun
pendekatan ini tidak dapat memberikan gambaran fisik seperti yang terdapat pada teori
ikatan valensi dan teori orbital molekul. Selain itu, ia juga sangat sulit diperluas untuk
perhitungan molekul-molekul yang lebih besar.

[sunting] Teori ikatan valensi


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Teori ikatan valensi

Pada tahun 1927, teori ikatan valensi dikembangkan atas dasar argumen bahwa sebuah
ikatan kimia terbentuk ketika dua valensi elektron bekerja dan menjaga dua inti atom
bersama oleh karena efek penurunan energi sistem. Pada tahun 1931, beranjak dari teori
ini, kimawan Linus Pauling mempublikasikan jurnal ilmiah yang dianggap sebagai jurnal
paling penting dalam sejarah kimia: "On the Nature of the Chemical Bond". Dalam jurnal
ini, berdasarkan hasil kerja Lewis dan teori valensi ikatan Heitler dan London, dia
mewakilkan enam aturan pada ikatan elektron berpasangan:

1. Ikatan elektron berpasangan terbentuk melalui interaksi elektron tak-


berpasangan pada masing-masing atom.
2. Spin-spin elektron haruslah saling berlawanan.
3. Seketika dipasangkan, dua elektron tidak bisa berpartisipasi lagi pada ikatan
lainnya.
4. Pertukaran elektron pada ikatan hanya melibatkan satu persamaan gelombang
untuk setiap atom.
5. Elektron-elektron yang tersedia pada aras energi yang paling rendah akan
membentuk ikatan-ikatan yang paling kuat.
6. Dari dua orbital pada sebuah atom, salah satu yang dapat bertumpang tindih
paling banyaklah yang akan membentuk ikatan paling kuat, dan ikatan ini akan
cenderung berada pada arah orbital yang terkonsentrasi.

Buku teks tahun 1939 Pauling: On the Nature of Chemical Bond menjadi apa yang
banyak orang sebut sebagai "kitab suci" kimia modern. Buku ini membantu kimiawan
eksperimental untuk memahami dampak teori kuantum pada kimia. Namun, edisi 1959
selanjutnya gagal untuk mengalamatkan masalah yang lebih mudah dimengerti
menggunakan teori orbital molekul. Dampak dari teori valensi ini berkurang sekitar tahun
1960-an dan 1970-an ketika popularitas teori orbital molekul meningkat dan
diimplementasikan pada beberapa progam komputer yang besar. Sejak tahun 1980-an,
masalah implementasi teori ikatan valensi yang lebih sulit pada program-program
komputer telah hampir dipecahkan dan teori ini beranjak bangkit kembali.

[sunting] Teori orbital molekul


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Teori orbital molekul

Teori orbital molekul (Bahasa Inggris: Molecular orbital tehory), disingkat MO,
menggunakan kombinasi linear orbital-orbital atom untuk membentuk orbital-orbital
molekul yang menrangkumi seluruh molekul. Semuanya ini seringkali dibagi menjadi
orbital ikat, orbital antiikat, dan orbital bukan-ikatan. Orbital molekul hanyalah sebuah
orbital Schrödinger yang melibatkan beberapa inti atom. Jika orbital ini merupakan tipe
orbital yang elektron-elektronnya memiliki kebolehjadian lebih tinggi berada di antara
dua inti daripada di lokasi lainnya, maka orbital ini adalah orbital ikat dan akan
cenderung menjaga kedua inti bersama. Jika elektron-elektron cenderung berada di
orbital molekul yang berada di lokasi lainnya, maka orbital ini adalah orbital antiikat dan
akan melemahkan ikatan. Elektron-elektron yang berada pada orbital bukan-ikatan
cenderung berada pada orbital yang paling dalam (hampir sama dengan orbital atom), dan
diasosiasikan secara keseluruhan pada satu inti. Elektron-elektron ini tidak menguatkan
maupun melemahkan kekuatan ikatan.

[sunting] Perbandingan antara teori ikatan valensi dan


teori orbital molekul
Pada beberapa bidang, teori ikatan valensi lebih baik daripada teori orbital molekul.
Ketika diaplikasikan pada molekul berelektron dua, H2, teori ikatan valensi, bahkan
dengan pendekatan Heitler-London yang paling sederhana, memberikan pendekatan
energi ikatan yang lebih dekat dan representasi yang lebih akurat pada tingkah laku
elektron ketika ikatan kimia terbentuk dan terputus. Sebaliknya, teori orbital molekul
memprediksikan bahwa molekul hidrogen akan berdisosiasi menjadi superposisi linear
dari hidrogen atom dan ion hidrogen positif dan negatif. Prediksi ini tidak sesuai dengan
gambaran fisik. Hal ini secara sebagian menjelaskan mengapa kurva energi total terhadap
jarak antar atom pada metode ikatan valensi berada di atas kurva yang menggunakan
metode orbital molekul. Situasi ini terjadi pada semua molekul diatomik homonuklir dan
tampak dengan jelas pada F2 ketika energi minimum pada kurva yang menggunakan teori
orbital molekul masih lebih tinggi dari energi dua atom F.

Konsep hibridisasi sangatlah berguna dan variabilitas pada ikatan di kebanyakan senyawa
organik sangatlah rendah, menyebabkan teori ini masih menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari kimia organik. Namun, hasil kerja Friedrich Hund, Robert Mulliken, dan
Gerhard Herzberg menunjukkan bahwa teori orbital molekul memberikan deskripsi yang
lebih tepat pada spektrokopi, ionisasi, dan sifat-sifat magnetik molekul. Kekurangan teori
ikatan valensi menjadi lebih jelas pada molekul yang berhipervalensi (contohnya PF5)
ketika molekul ini dijelaskan tanpa menggunakan orbital-orbital d yang sangat krusial
dalam hibridisasi ikatan yang diajukan oleh Pauling. Logam kompleks dan senyawa yang
kurang elektron (seperti diborana) dijelaskan dengan sangat baik oleh teori orbital
molekul, walaupun penjelasan yang menggunakan teori ikatan valensi juga telah dibuat.

Pada tahun 1930, dua metode ini saling bersaing sampai disadari bahwa keduanya
hanyalah merupakan pendekatan pada teori yang lebih baik. Jika kita mengambil struktur
ikatan valensi yang sederhana dan menggabungkan semua struktur kovalen dan ion yang
dimungkinkan pada sekelompok orbital atom, kita mendapatkan apa yang disebut sebagai
fungsi gelombang interaksi konfigurasi penuh. Jika kita mengambil deskripsi orbital
molekul sederhana pada keadaan dasar dan mengkombinasikan fungsi tersebut dengan
fungsi-fungsi yang mendeskripsikan keseluruhan kemungkinan keadaan tereksitasi yang
menggunakan orbital tak terisi dari sekelompok orbital atom yang sama, kita juga
mendapatkan fungsi gelombang interaksi konfigurasi penuh. Terlihatlah bahwa
pendekatan orbital molekul yang sederhana terlalu menitikberatkan pada struktur ion,
sedangkan pendekatan teori valensi ikatan yang sederhana terlalu sedikit menitikberatkan
pada struktur ion. Dapat kita katakan bahwa pendekatan orbital molekul terlalu ter-
delokalisasi, sedangkan pendekatan ikatan valensi terlalu ter-lokalisasi.

Sekarang kedua pendekatan tersebut dianggap sebagai saling memenuhi, masing-masing


memberikan pandangannya sendiri terhadap masalah-masalah pada ikatan kimia.
Perhitungan modern pada kimia kuantum biasanya dimulai dari (namun pada akhirnya
menjauh) pendekatan orbital molekul daripada pendekatan ikatan valensi. Ini bukanlah
karena pendekatan orbital molekul lebih akurat dari pendekatan teori ikatan valensi,
melainkan karena pendekatan orbital molekul lebih memudahkan untuk diubah menjadi
perhitungan numeris. Namun program-progam ikatan valensi yang lebih baik juga
tersedia.

[sunting] Ikatan dalam rumus kimia


Bentuk atom-atom dan molekul-molekul yang 3 dimensi sangatlah menyulitkan dalam
menggunakan teknik tunggal yang mengindikasikan orbital-orbital dan ikatan-ikatan.
Pada rumus molekul, ikatan kimia (orbital yang berikatan) diindikasikan menggunakan
beberapa metode yang bebeda tergantung pada tipe diskusi. Kadang-kadang
kesemuaannya dihiraukan. Sebagai contoh, pada kimia organik, kimiawan biasanya
hanya peduli pada gugus fungsi molekul. Oleh karena itu, rumus molekul etanol dapat
ditulis secara konformasi, 3-dimensi, 2-dimensi penuh (tanpa indikasi arah ikatan 3-
dimensi), 2-dimensi yang disingkat (CH3–CH2–OH), memisahkan gugus fungsi dari
bagian molekul lainnnya (C2H5OH), atau hanya dengan konstituen atomnya saja (C2H6O).
Kadangkala, bahkan kelopak valensi elektron non-ikatan (dengan pendekatan arah yang
digambarkan secara 2-dimensi) juga ditandai. Beberapa kimiawan juga menandai orbital-
orbital atom, sebagai contoh anion etena−4 yang dihipotesiskan (\/C=C/\ −4)
mengindikasikan kemungkinan pembentukan ikatan.

[sunting] Ikatan kuat kimia


Panjang ikat dalam pm
dan energi ikat dalam kJ/mol.
Panjang ikat dapat dikonversikan menjadi Å
dengan pembagian dengan 100 (1 Å = 100
pm).
Data diambil dari [1].

Panjang Energi
Ikatan
(pm) (kJ/mol)

H — Hidrogen

H–H 74 436

H–C 109 413


H–N 101 391

H–O 96 366

H–F 92 568

H–Cl 127 432

H–Br 141 366

C — Karbon

C–H 109 413

C–C 154 348

C=C 134 614

C≡C 120 839

C–N 147 308

C–O 143 360

C–F 135 488

C–Cl 177 330

C–Br 194 288

C–I 214 216

C–S 182 272

N — Nitrogen

N–H 101 391

N–C 147 308

N–N 145 170

N≡N 110 945

O — Oksigen

O–H 96 366
O–C 143 360

O–O 148 145

O=O 121 498

F, Cl, Br, I — Halogen

F–H 92 568

F–F 142 158

F–C 135 488

Cl–H 127 432

Cl–C 177 330

Cl–Cl 199 243

Br–H 141 366

Br–C 194 288

Br–Br 228 193

I–H 161 298

I–C 214 216

I–I 267 151

S — Belerang

C–S 182 272

Ikatan-ikatan berikut adalah ikatan intramolekul yang mengikat atom-atom bersama


menjadi molekul. Dalam pandangan yang sederhana dan terlokalisasikan, jumlah elektron
yang berpartisipasi dalam suatu ikatan biasanya merupakan perkalian dari dua, empat,
atau enam. Jumlah yang berangka genap umumnya dijumpai karena elektron akan
memiliki keadaan energi yang lebih rendah jika berpasangan. Teori-teori ikatan yang
lebih canggih menunjukkan bahwa kekuatan ikatan tidaklah selalu berupa angka bulat
dan tergantung pada distribusi elektron pada setiap atom yang terlibat dalam sebuah
ikatan. Sebagai contohnya, karbon-karbon dalam senyawa benzena dihubungkan satu
sama lain oleh ikatan 1.5 dan dua atom dalam nitrogen monoksida NO dihubungkan oleh
ikatan 2,5. Keberadaan ikatan rangkap empat juga diketahui dengan baik. Jenis-jenis
ikatan kuat bergantung pada perbedaan elektronegativitas dan distribusi orbital elektron
yang tertarik pada suatu atom yang terlibat dalam ikatan. Semakin besar perbedaan
elektronegativitasnya, semakin besar elektron-elektron tersebut tertarik pada atom yang
berikat dan semakin bersifat ion pula ikatan tersebut. Semakin kecil perbedaan
elektronegativitasnya, semakin bersifat kovalen ikatan tersebut.

[sunting] Ikatan kovalen

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ikatan kovalen

Ikatan kovalen adalah ikatan yang umumnya sering dijumpai, yaitu ikatan yang
perbedaan elektronegativitas (negatif dan positif) di antara atom-atom yang berikat
sangatlah kecil atau hampir tidak ada. Ikatan-ikatan yang terdapat pada kebanyakan
senyawa organik dapat dikatakan sebagai ikatan kovalen. Lihat pula ikatan sigma dan
ikatan pi untuk penjelasan LCAO terhadap jenis ikatan ini.

[sunting] Ikatan polar kovalen

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ikatan polar kovalen

Ikatan polar kovalen merupakan ikatan yang sifat-sifatnya berada di antara ikatan
kovalen dan ikatan ion.

[sunting] Ikatan ion

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ikatan ion

Ikatan ion merupakan sejenis interaksi elektrostatik antara dua atom yang memiliki
perbedaan elektronegativitas yang besar. Tidaklah terdapat nilai-nilai yang pasti yang
membedakan ikatan ion dan ikatan kovalen, namun perbedaan elektronegativitas yang
lebih besar dari 2,0 bisanya disebut ikatan ion, sedangkan perbedaan yang lebih kecil dari
1,5 biasanya disebut ikatan kovalen.[3] Ikatan ion menghasilkan ion-ion positif dan negatif
yang berpisah. Muatan-muatan ion ini umumnya berkisar antara -3 e sampai dengan +3e.

[sunting] Ikatan kovalen koordinat

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ikatan kovalen koordinat

Ikatan kovalen koordinat, kadangkala disebut sebagai ikatan datif, adalah sejenis ikatan
kovalen yang keseluruhan elektron-elektron ikatannya hanya berasal dari salah satu atom,
penderma pasangan elektron, ataupun basa Lewis. Konsep ini mulai ditinggalkan oleh
para kimiawan seiring dengan berkembangnya teori orbital molekul. Contoh ikatan
kovalen koordinat terjadi pada nitron dan ammonia borana. Susunan ikatan ini berbeda
dengan ikatan ion pada perbedaan elektronegativitasnya yang kecil, sehingga
menghasilkan ikatan yang kovalen. Ikatan ini biasanya ditandai dengan tanda panah.
Ujung panah ini menunjuk pada akseptor elektron atau asam Lewis dan ekor panah
menunjuk pada penderma elektron atau basa Lewis

[sunting] Ikatan pisang

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ikatan pisang

Ikatan pisang adalah sejenis ikatan yang terdapat pada molekul-molekul yang mengalami
terikan ataupun yang mendapat rintangan sterik, sehingga orbital-orbital ikatan tersebut
dipaksa membentuk struktur ikatan yang mirip dengan pisang. Ikatan pisang biasanya
lebih rentan mengalami reaksi daripada ikatan-ikatan normal lainnya.

[sunting] Ikatan 3c-2e dan 3c-4e

Dalam ikatan tiga-pusat dua-elektron, tiga atom saling berbagi dua elektron. Ikatan
sejenis ini terjadi pada senyawa yang kekurangan elektron seperti pada diborana. Setiap
ikatan mengandung sepasang elektron yang menghubungkan atom boron satu sama
lainnya dalam bentuk pisang dengan sebuah proton (inti atom hidrogen) di tengah-tengah
ikatan, dan berbagi elektron dengan kedua atom boron. Terdapat pula Ikatan tiga-pusat
empat-elektron yang menjelaskan ikatan pada molekul hipervalen.

[sunting] Ikatan tiga elektron dan satu elektron

Ikatan-ikatan dengan satu atau tiga elektron dapat ditemukan pada spesi radikal yang
memiliki jumlah elektron gasal (ganjil). Contoh paling sederhana dari ikatan satu elektron
dapat ditemukan pada kation molekul hidrogen H2+. Ikatan satu elektron seringkali
memiliki energi ikat yang setengah kali dari ikatan dua elektron, sehingga ikatan ini
disebut pula "ikatan setengah". Namun terdapat pengecualian pada kasus dilitium. Ikatan
dilitium satu elektron, Li2+, lebih kuat dari ikatan dilitium dua elektron Li2. Pengecualian
ini dapat dijelaskan dengan hibridisasi dan efek kelopak dalam. [4]

Contoh sederhana dari ikatan tiga elektron dapat ditemukan pada kation dimer helium,
He2+, dan dapat pula dianggap sebagai "ikatan setengah" karena menurut teori orbital
molekul, elektron ke-tiganya merupakan orbital antiikat yang melemahkan ikatan dua
elektron lainnya sebesar setengah. Molekul oksigen juga dapat dianggap memiliki dua
ikatan tiga elektron dan satu ikatan dua elektron yang menjelaskan sifat paramagnetiknya.
[5]

Molekul-molekul dengan ikatan elektron gasal biasanya sangat reaktif. Ikatan jenis ini
biasanya hanya stabil pada atom-atom yang memiliki elektronegativitas yang sama.[5]

[sunting] Ikatan aromatik


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Aromatisitas

Pada kebanyakan kasus, lokasi elektron tidak dapat ditandai dengan menggunakan garis
(menandai dua elektron) ataupun titik (menandai elektron tungga). Ikatan aromatik yang
terjadi pada molekul yang berbentuk cincin datar menunjukkan stabilitas yang lebih.

Pada benzena, 18 elektron ikatan mengikat 6 atom karbon bersama membentuk struktur
cincin datar. "Orde" ikatan antara dua atom dapat dikatakan sebagai (18/6)/2=1,5 dan
seluruh ikatan pada benzena tersebut adalah identik. Ikatan-ikatan ini dapat pula ditulis
sebagai ikatan tunggal dan rangkap yang berselingan, namun hal ini kuranglah tepat
mengingat ikatan rangkap dan ikatan tunggal memiliki kekuatan ikatan yang berbeda dan
tidak identik.

[sunting] Ikatan logam

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ikatan logam

Pada ikatan logam, elektron-elektron ikatan terdelokalisasi pada kekisi (lattice) atom.
Berbeda dengan senyawa organik, lokasi elektron yang berikat dan muatannya adalah
statik. Oleh karena delokalisai yang menyebabkan elektron-elektron dapat bergerak
bebas, senyawa ini memiliki sifat-sifat mirip logam dalam hal konduktivitas, duktilitas,
dan kekerasan.

[sunting] Ikatan antarmolekul


Terdapat empat jenis dasar ikatan yang dapat terbentuk antara dua atau lebih molekul,
ion, ataupun atom. Gaya antarmolekul menyebabkan molekul saling menarik atau
menolak satu sama lainnya. Seringkali hal ini menentukan sifat-sifat fisik sebuah zat
(seperti pada titik leleh).

[sunting] Dipol permanen ke dipol permanen

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Gaya antarmolekul

Perbedaan elektronegativitas yang bersar antara dua atom yang berikatan dengan kuat
menyebabkan terbentuknya dipol (dwikutub). Dipol-dipol ini akan saling tarik-menarik
ataupun tolak-menolak.

[sunting] Ikatan hidrogen

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ikatan hidrogen


Ikatan hidrogen bisa dikatakan sebagai dipol permanen yang sangat kuat seperti yang
dijelaskan di atas. Namun, pada ikatan hidrogen, proton hidrogen berada sangat dekat
dengan atom penderma elektron dan mirip dengan ikatan tiga-pusat dua-elektron seperti
pada diborana. Ikatan hidrogen menjelaskan titik didih zat cair yang relatif tinggi seperti
air, ammonia, dan hidrogen fluorida jika dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang
lebih berat lainnya pada kolom tabel periodik yang sama.

[sunting] Dipol seketika ke dipol terimbas (van der Waals)

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Gaya van der Waals

Dipol seketika ke dipol terimbas, atau gaya van der Waals, adalah ikatan yang paling
lemah, namun sering dijumpai di antara semua zat-zat kimia. Misalnya atom helium,
pada satu titik waktu, awan elektronnya akan terlihat tidak seimbang dengan salah satu
muatan negatif berada di sisi tertentu. Hal ini disebut sebagai dipol seketika (dwikutub
seketika). Dipol ini dapat menarik maupun menolak elektron-elektron helium lainnya,
dan menyebabkan dipol lainnya. Kedua atom akan seketika saling menarik sebelum
muatannya diseimbangkan kembali untuk kemudian berpisah.

[sunting] Interaksi kation-pi

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Interaksi kation-pi

Interaksi kation-pi terjadi di antara muatan negatif yang terlokalisasi dari elektron-
elektron pada orbital π dengan muatan positif.

[sunting] Elektron pada ikatan kimia


Banyak senyawa-senyawa sederhana yang melibatkan ikatan-ikatan kovalen. Molekul-
molekul ini memiliki struktur yang dapat diprediksi dengan menggunakan teori ikatan
valensi, dan sifat-sfiat atom yang terlibat dapat dipahami menggunakan konsep bilangan
oksidasi. Senyawa lain yang mempunyai struktur ion dapat dipahami dengan
menggunakan teori-teori fisika klasik.

Pada kasus ikatan ion, elektron pada umumnya terlokalisasi pada atom tertentu, dan
elektron-elektron todal bergerak bebas di antara atom-atom. Setiap atom ditandai dengan
muatan listrik keseluruhan untuk membantu pemahaman kita atas konsep distribusi
orbital molekul. Gaya antara atom-atom secara garis besar dikarakterisasikan dengan
potensial elektrostatik kontinum (malaran) isotropik.

Sebaliknya pada ikatan kovalen, rapatan elektron pada sebuah ikatan tidak ditandai pada
atom individual, namun terdelokalisasikan pada MO di antara atom-atom. Teori
kombinasi linear orbital yang diterima secara umum membantu menjelaskan struktur
orbital dan energi-energinya berdasarkan orbtial-orbital dari atom-atom molekul. Tidak
seperti ikatan ion, ikatan kovalen bisa memiliki sifat-sifat anisotropik, dan masing-
masing memiliki nama-nama tersendiri seperti ikatan sigma dan ikatan pi.

Atom-atom juga dapat membentuk ikatan-ikatan yang memiliki sifat-sifat antara ikatan
ion dan kovalen. Hal ini bisa terjadi karena definisi didasari pada delokalisasi elektron.
Elektron-elektron dapat secara parsial terdelokalisasi di antara atom-atom. Ikatan sejenis
ini biasanya disebut sebagai ikatan polar kovalen. Lihat pula elektronegativitas.

Oleh akrena itu, elektron-elektron pada orbital molekul dapat dikatakan menjadi
terlokalisasi pada atom-atom tertentu atau terdelokalisasi di antara dua atau lebih atom.
Jenis ikatan antara dua tom ditentukan dari seberapa besara rapatan elektron tersebut
terlokalisasi ataupun terdelokalisasi pada ikatan antar atom.

[sunting] Lihat pula


• Ikatan Aromatik
• Ikatan Ion
• Ikatan Kovalen
• Ikatan Kovalen Tunggal
• Ikatan Kovalen Rangkap
• Ikatan Kovalen Rangkap Tiga
• Ikatan Kovalen Koordinasi
• Ikatan Kovalen Polar
• Ikatan Kovalen Nonpolar
• Ikatan Logam
• Ikatan Pisang
• Ikatan Antarmolekul
• Ikatan 3c-2e dan 3c-4e

[sunting] Referensi
1. ^ Laidler, K. J. (1993) The World of Physical Chemistry, Oxford University
Press, p. 347
2. ^ James, H. H., A. S. Coolidge (1933). "The Ground State of the Hydrogen
Molecule". Journal of Chemical Physics 1: 825 - 835.
3. ^ Atkins, Peter; Loretta Jones (1997). Chemistry: Molecules, Matter and Change.
New York: W. H. Freeman & Co., 294- 295. ISBN 0-7167-3107-X.
4. ^ Weinhold, F.; Landis, C. Valency and bonding, Cambridge, 2005; pp. 96-100.
5. ^ a b Pauling, L. The Nature of the Chemical Bond. Cornell University Press,
1960.

[sunting] Pranala luar


• W. Locke (1997). Introduction to Molecular Orbital Theory. Retrieved May 18,
2005.
• Carl R. Nave (2005). HyperPhysics. Retrieved May 18, 2005.
• Linus Pauling and the Nature of the Chemical Bond: A Documentary History.
Retrieved February 29, 2008.

[sembunyikan]
l•d•s
Ikatan kimia

Ikatan kovalen Ikatan sigma: 3c-2e · Ikatan


& Antiikat pisang · 3c-4e (Ikatan
hidrogen, Ikatan dihidrogen,
Interaksi agostik) · 4c-2e
Ikatan pi: Pengikatan balik π ·
Konjugasi · Hiperkonjugasi ·
Aromatisitas · Aromatisitas
logam
"Kuat" Ikatan delta: Ikatan rangkap
empat · Ikatan rangkap lima ·
Ikatan rangkap enam
Ikatan dipolar · Haptisitas

Ikatan ion Interaksi kation-pi · Jembatan


garam

Ikatan logam Aromatisitas logam

Ikatan hidrogen Ikatan dihidrogen ·


Kompleks dihidrogen ·
Ikatan hidrogen sawar
rendah · Ikatan hidrogen
simetris · Hidrofil
"Lemah"
Nonkovalen lain Gaya van der Waals · Ikatan
mekanis · Ikatan halogen ·
Aurofilisitas · Interkalasi ·
Penumpukan · Gaya
entropik · Polaritas kimia

lainnya Ikatan disulfida · Ikatan peptida · Ikatan fosfodiester

Catatan: ikatan kuat yang paling lemah tidak seperlunya lebih kuat dari ikatan lemah
yang paling kuat
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_kimia"
Kategori: Ikatan kimia | Kimia fisik | Kimia kuantum

Tampilan
• Halaman
• Pembicaraan
• Sunting
• ↑
• Versi terdahulu

Peralatan pribadi

• Coba Beta
• Masuk log / buat akun

Cari

Tuju ke Cari

Navigasi

• Halaman Utama
• Perubahan terbaru
• Peristiwa terkini
• Halaman sembarang

Komunitas

• Warung Kopi
• Portal komunitas
• Bantuan

wikipedia

• Tentang Wikipedia
• Pancapilar
• Kebijakan
• Menyumbang

Cetak/ekspor

• Buat buku
• Unduh sebagai PDF
• Versi cetak

Kotak peralatan

• Pranala balik
• Perubahan terkait
• Halaman istimewa
• Pranala permanen
• Kutip halaman ini

Bahasa lain

• ‫العربية‬
• Български
• Bosanski
• Català
• Česky
• Cymraeg
• Dansk
• Deutsch
• Ελληνικά
• English
• Esperanto
• Español
• Eesti
• ‫فارسی‬
• Suomi
• Français
• Galego
• ‫עברית‬
• िहनदी
• Magyar
• Ido
• Íslenska
• Italiano
• 日本語
• 한국어
• Latina
• Lumbaart
• Lietuvių
• Latviešu
• Македонски
• मराठी
• Bahasa Melayu
• Nederlands
• Norsk (nynorsk)
• Norsk (bokmål)
• Polski
• Português
• Română
• Русский
• Srpskohrvatski / Српскохрватски
• සිංහල
• Simple English
• Slovenčina
• Slovenščina
• Српски / Srpski
• Basa Sunda
• Svenska
• தமிழ்
• తలుగు
• ไทย
• Tagalog
• Türkçe
• Uyghurche / ‫ئۇيغۇرچە‬
• Українська
• Tiếng Việt
• ‫יִידיש‬
• 中文

Jenis ikatan kimia lain


Ditulis oleh Yoshito Takeuchi pada 11-08-2008

a. Ikatan logam

Setelah penemuan elektron, daya hantar logam yang tinggi dijelaskan dengan
menggunakan model elektron bebas, yakni ide bahwa logam kaya akan elektron yang
bebas bergerak dalam logam. Namun, hal ini tidak lebih dari model. Dengan kemajuan
mekanika kuantum, sekitar tahun 1930, teori MO yang mirip dengan yang digunakan
dalam molekul hidrogen digunakan untuk masalah kristal logam.

Elektron dalam kristal logam dimiliki oleh orbital-orbital dengan nilai energi diskontinyu,
dan situasinya mirip dengan elektron yang mengelilingi inti atom. Namun, dengan
meingkatnya jumlah orbital atom yang berinteraksi banyak, celah energi dari teori MO
menjadi lebih sempit, dan akhirnya perbedaan antar tingkat-tingkat energi menjadi dapat
diabaikan. Akibatnya banyak tingkat energi akan bergabung membentuk pita energi
dengan lebar tertentu. Teori ini disebut dengan teori pita.

Tingkat energi logam magnesium merupakan contoh teori pita yang baik (Gambar 3.8).
Elektron yang ada di orbital 1s, 2s dan 2p berada di dekat inti, dan akibatnya terlokalisasi
di orbital-orbital tersebut. Hal ini ditunjukkan di bagian bawah Gambar 3.8. Namun,
orbital 3s dan 3p bertumpang tindih dan bercampur satu dengan yang lain membentuk
MO. MO ini diisi elektron sebagian, sehingga elektron-elektron ini secara terus menerus
dipercepat oleh medan listrik menghasilkan arus listrik. Dengan demikian, magnesium
adalah konduktor.

Bila orbital-orbital valensi (s) terisi penuh, elektron-elektron ini tidak dapat digerakkan
oleh medan listrik kecuali elektron ini lompat dari orbital yang penuh ke orbital kosong di
atasnya. Hal inilah yang terjadi dalam isolator.

b. Ikatan hidrogen

Awalnya diduga bahwa alasan mengapa hidrogen fluorida HF memiliki titik didih dan
titik leleh yang lebih tinggi dibandingkan hidrogen halida lain (gambar 3.9) adalah bahwa
HF ada dalam bentuk polimer. Alasan tepatnya tidak begitu jelas untuk kurun waktu yang
panjang. Di awal tahunh 1920-an, dengan jelas diperlihatkan bahwa polimer terbentuk
antara dua atom flourin yang mengapit atom hidrogen.

Sangat tingginya titik didih dan titik leleh air juga merupakan masalah yang sangat
menarik. Di awal tahun 1930-an, ditunjukkan bahwa dua atom oksigen membentk ikatan
yang mengapit hidrogen seperti dalam kasus HF (gambar 3.9). Kemudian diketahui
bahwa ikatan jenis ini umum didapatkan dan disebut dengan ikatan hidrogen.
Ikatan hidrogen dengan mudah terbentuk bila atom hidroegen terikat pada atom
elektronegatif seperti oksigen atau nitrogen. Fakta bahwa beberapa senyawa organik
dengan gugus hidroksi -OH atau gugus amino -NH2 relatif lebih larut dalam air
disebabkan karena pembentukan ikatan hidrogen dengan molekul air. Dimerisasi asam
karboksilat seperti asama asetat CH3COOH juga merupakan contoh yang sangat baik
adanya ikatan hidrogen.

Ikatan Van der Waals

Gaya dorong pembentukan ikatan hidrogen adalah distribusi muatan yang tak seragam
dalam molekul, atau polaritas molekul (dipol permanen). Polaritas molekul adalah sebab
agregasi molekul menjadi cair atau padat. Namun, molekul non polar semacam metana
CH4, hidrogen H2 atau He (molekul monoatomik) dapat juga dicairkan, dan pada suhu
yang sangat rendah, mungkin juga dipadatkan. Hal ini berarti bahwa ada gaya agreagasi
antar molekul-molekul ini.. Gaya semacam ini disebut dengan gaya antarmolekul.
Ikatan hidrogen yang didiskusikan di atas adalah salah satu jenis gaya antarmolekul.
Gaya antarmolekul khas untuk molekul non polar adalah gaya van der Waals. Asal usul
gaya ini adalah distribusi muatan yang sesaat tidak seragam (dipol sesaat) yang
disebabkan oleh fluktuasi awan elektron di sekitar inti. Dalam kondisi yang sama,
semakin banyak jumlah elektron dalam molekul semakin mudah molekul tersebut akan
dipolarisasi sebab elektron-elektronnya akan tersebar luas. Bila dua awan elektron
mendekati satu sama lain, dipol akan terinduksi ketika awan elektron mempolarisasi
sedemikian sehingga menstabilkan yang bermuatan berlawanan. Dengan gaya van der
Waals suatu sistem akan terstabilkan sebesar 1 kkal mol-1. Bandingkan harga ini dengan
nilai stabilisasi yang dicapai dengan pembentukan ikatan kimia (dalam orde 100 kkal
mol-1). Kimiawan kini sangat tertarik dengan supramolekul yang terbentuk dengan
agregasi molekul dengan gaya antarmolekul.

Latihan 3.1 Kekuatan ikatan ion

Energi interaksi antara dua muatan listrik Q1 dan Q2 (keduanya adalah bilangan bulat
positif atau negatif) yang dipisahkan dengan jarak r (nm) adalah E = 2,31×10-19 Q1Q2/r (J
nm). Hitung energi interaksi untuk kasus: (1) interaksi antara Na+ dan Cl– dengan r =
0,276 nm; (2) interaksi antara Mg2+ dan O2- dengan r = 0,25 nm.

3.1 Jawab

(1) E = 2,31 x 10-19 (+1)(-1)/(0,276) = -8,37 x 10-19 (J); atau untuk per mol,
(2) E = 2,31×10-19 (+2)(-2)/(0,205) = -4,51 x 10-18 (J); atau per mol,

E(mol) = -8,37 x 10-19 x 6,022 x 1023 J = 5,04 x 105 J = 504,0 kJ.

E(mol) = -4,51 x 10-18 x 6,022 x 1023 J = 2,71 x 105 J = 271,0 kJ

Alasan mengapa yang kedua lebih besar adalah lebih besarnya muatan ion dan kedua
karena jarak antar ionnya lebih pendek.

3.2 Kepolaran ikatan

Besarnya kepolaran ikatan, yakni besarnya distribusi pasangan elektron yang tidak
merata, ditentukan oleh perbedaan ke-elektronegativan dua atom yang membentuk
ikatan. Susuanlah ikatan-ikatan berikut berdasarkan kenaikan kepolarannya. Anda dapat
menggunakan Tabel 5.7 untuk melihat nilai keelektronegativannya.

H-H, O-H, Cl-H, S-H, F-H

3.2 Jawab

H-H < S-H < Cl-H < O-H < F-H

3.3 Rumus struktur Lewis


Dengan mengikuti aturan oktet, tuliskan rumus struktur Lewis senyawa-senyawa berikut:

(a) hidrogen fluorida HF (b) nitrogen N2 (c) metana CH4 (d) karbon tetrafluorida CF4 (e)
kation nitrosil NO+ (f) ion karbonat CO32- (g) asetaldehida HCHO

3.3 Jawab

3.4 Senyawa-senyawa boron-nitrogen

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

(1) Tuliskan konfigurasi elektron boron dalam keadaan dasar. (2) Gambarkan rumus
struktur Lewis BF3. (3) Gambarkan rumus struktur Lewis NH3. (4) Reaksi antara NH3 dan
BF3 menghasilkan senyawa adisi. Jelaskan mengapa reaksi ini berlangsung, dan sarankan
struktur senyawa adisinya.

3.4 Jawab

(1) 1s22s23p1

Go
Cari Artikel
Artikel ini termasuk kategori: Ikatan Kimia dan memiliki 1 Komentar sejauh ini.
Anda dapat mengikuti perkembangan artikel melalui RSS 2.0 feed.
Anda dapat mengirimkan komentar, atau taut balik dari situs pribadi.

• ruri iruru says:

September 4, 2009 at 11:33 am

ad contoh bwt presentasi ga ???

Reply

Beri Komentar

Anda Member Chem-is-try.org? Silahkan login disini


Kirim
Nama: Kata Kunci:
Belum menjadi member? Beri komentar disini:
Nama :
(wajib)
Email :
(wajib) (tidak dipublikasi)
Website:

Komentar:

BAB 4
IKATAN KIMIA

• Definisi Ikatan Kimia


Adalah ikatan yang terjadi antar atom atau antar molekul dengan cara sebagai
berikut :
a) atom yang 1 melepaskan elektron, sedangkan atom yang lain menerima
elektron (serah terima elektron)
b) penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari masing-masing
atom yang berikatan
c) penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang
berikatan

 Tujuan pembentukan ikatan kimia adalah agar terjadi pencapaian kestabilan


suatu unsur.
 Elektron yang berperan pada pembentukan ikatan kimia adalah elektron
valensi dari suatu atom/unsur yang terlibat.
 Salah 1 petunjuk dalam pembentukan ikatan kimia adalah adanya 1 golongan
unsur yang stabil yaitu golongan VIIIA atau golongan 18 (gas mulia).
 Maka dari itu, dalam pembentukan ikatan kimia; atom-atom akan membentuk
konfigurasi elektron seperti pada unsur gas mulia.
 Unsur gas mulia mempunyai elektron valensi sebanyak 8 (oktet) atau 2
(duplet, yaitu atom Helium).

Perio Uns Nomor


K L M N O P
de ur Atom
1 He 2 2
2 Ne 10 2 8
3 Ar 18 2 8 8
4 Kr 36 2 8 18 8
5 Xe 54 2 8 18 18 8
6 Rn 86 2 8 18 32 18 8

 Kecenderungan unsur-unsur untuk menjadikan konfigurasi elektronnya sama


seperti gas mulia terdekat dikenal dengan istilah Aturan Oktet

o Lambang Lewis
Adalah lambang atom yang dilengkapi dengan elektron valensinya.
• Lambang Lewis gas mulia menunjukkan 8 elektron valensi (4 pasang).
• Lambang Lewis unsur dari golongan lain menunjukkan adanya elektron tunggal
(belum berpasangan).

Berdasarkan perubahan konfigurasi elektron yang terjadi pada pembentukan ikatan,


maka ikatan kimia dibedakan menjadi 4 yaitu : ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan
kovalen koordinat / koordinasi / dativ dan ikatan logam.

1). Ikatan Ion ( elektrovalen )


o Terjadi jika atom unsur yang memiliki energi ionisasi kecil/rendah melepaskan
elektron valensinya (membentuk kation) dan atom unsur lain yang
mempunyai afinitas elektron besar/tinggi menangkap/menerima elektron
tersebut (membentuk anion).
o Kedua ion tersebut kemudian saling berikatan dengan gaya elektrostatis
(sesuai hukum Coulomb).
o Unsur yang cenderung melepaskan elektron adalah unsur logam sedangkan
unsur yang cenderung menerima elektron adalah unsur non logam.

Contoh 1 :
Ikatan antara 11Na dengan 17 Cl
Konfigurasi elektronnya :
11Na = 2, 8, 1
17 Cl = 2, 8, 7
 Atom Na melepaskan 1 elektron valensinya sehingga konfigurasi elektronnya
sama dengan gas mulia.
 Atom Cl menerima 1 elektron pada kulit terluarnya sehingga konfigurasi
elektronnya sama dengan gas mulia.

+
Na → Na + e
(2,8,1) (2,8)


Cl + e → Cl
(2,8,7) (2,8,8)


 ** 
+  * *
( N )a  C  l
• *
 
 ** 

 Antara ion Na+ dengan Cl terjadi gaya tarik-menarik elektrostatis sehingga
terbentuk senyawa ion NaCl.

Contoh 2 :
Ikatan antara Na dengan O
 Supaya mencapai oktet, maka Na harus melepaskan 1 elektron menjadi
+
kation Na
Na → Na+ + e
(2,8,1) (2,8)
 Supaya mencapai oktet, maka O harus menerima 2 elektron menjadi anion
O2−
O + 2e → O2−
(2,6) (2,8)

 Reaksi yang terjadi :


+
Na → Na + e (x2)
2−
O + 2e → O (x1)
+
+
2 Na + O 2 Na + O2− Na2O

Contoh lain : senyawa MgCl2, AlF3 dan MgO

 Soal : Tentukan senyawa yang terbentuk dari :


1). Mg dengan F
2). Ca dengan Cl
3). K dengan O

Senyawa yang mempunyai ikatan ion antara lain :


a) Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan halogen (VIIA)
Contoh : NaF, KI, CsF
b) Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : Na2S, Rb2S,Na2O
c) Golongan alkali tanah (IIA) dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : CaO, BaO, MgS

Sifat umum senyawa ionik :


1) Titik didih dan titik lelehnya tinggi
2) Keras, tetapi mudah patah
3) Penghantar panas yang baik
4) Lelehan maupun larutannya dapat menghantarkan listrik (elektrolit)
5) Larut dalam air
6) Tidak larut dalam pelarut/senyawa organik (misal : alkohol, eter, benzena)

2). Ikatan Kovalen


o Adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron
secara bersama oleh 2 atom yang berikatan.
o Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan salah 1 atom yang akan
berikatan untuk melepaskan elektron (terjadi pada atom-atom non logam).
o Ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur yang memiliki afinitas
elektron tinggi serta beda keelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan
ikatan ion.
o Atom non logam cenderung untuk menerima elektron sehingga jika
tiap-tiap atom non logam berikatan maka ikatan yang terbentuk dapat
dilakukan dengan cara mempersekutukan elektronnya dan akhirnya terbentuk
pasangan elektron yang dipakai secara bersama.
o Pembentukan ikatan kovalen dengan cara pemakaian bersama
pasangan elektron tersebut harus sesuai dengan konfigurasi elektron pada
unsur gas mulia yaitu 8 elektron (kecuali He berjumlah 2 elektron).

Ada 3 jenis ikatan kovalen :


a). Ikatan Kovalen Tunggal
Contoh 1 :
 Ikatan yang terjadi antara atom H dengan atom H membentuk molekul H2
 Konfigurasi elektronnya :
1H = 1
 Ke-2 atom H yang berikatan memerlukan 1 elektron tambahan agar
diperoleh konfigurasi elektron yang stabil (sesuai dengan konfigurasi
elektron He).
 Untuk itu, ke-2 atom H saling meminjamkan 1 elektronnya sehingga
terdapat sepasang elektron yang dipakai bersama.
H∗ + •H →H ∗
•H
Rumus struktur = H− H
Rumus kimia = H2

Contoh 2 :
 Ikatan yang terjadi antara atom H dengan atom F membentuk molekul HF
 Konfigurasi elektronnya :
1H =1
9F = 2, 7
 Atom H memiliki 1 elektron valensi sedangkan atom F memiliki 7 elektron
valensi.
 Agar atom H dan F memiliki konfigurasi elektron yang stabil, maka atom H
dan atom F masing-masing memerlukan 1 elektron tambahan (sesuai
dengan konfigurasi elektron He dan Ne).
 Jadi, atom H dan F masing-masing meminjamkan 1 elektronnya untuk
dipakai bersama.

∗∗ ∗∗
∗ • ∗
H• + ∗ F ∗ → H∗ F ∗
∗∗ ∗∗
Rumus struktur = H− F
Rumus kimia = HF

 Soal :
Tuliskan pembentukan ikatan kovalen dari senyawa berikut :
( lengkapi dengan rumus struktur dan rumus kimianya )
1) Atom C dengan H membentuk molekul CH4
2) Atom H dengan O membentuk molekul H2O
3) Atom Br dengan Br membentuk molekul Br2

b). Ikatan Kovalen Rangkap Dua


Contoh :
 Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O2
 Konfigurasi elektronnya :
8O= 2, 6
 Atom O memiliki 6 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi
elektron yang stabil tiap-tiap atom O memerlukan tambahan elektron
sebanyak 2.
 Ke-2 atom O saling meminjamkan 2 elektronnya, sehingga ke-2 atom
O tersebut akan menggunakan 2 pasang elektron secara bersama.

•• ∗∗
•• ∗∗
•O + ∗ O→ O• ∗ O
• ∗ •∗
•• ∗∗ • • ∗ ∗
Rumus struktur : O= O
Rumus kimia : O2

 Soal :
Tuliskan pembentukan ikatan kovalen dari senyawa berikut : (lengkapi
dengan rumus struktur dan rumus kimianya)
1) Atom C dengan O membentuk molekul CO2
2) Atom C dengan H membentuk molekul C2H4 (etena)

c). Ikatan Kovalen Rangkap Tiga


Contoh 1:
o Ikatan yang terjadi antara atom N dengan N membentuk molekul N2
o Konfigurasi elektronnya :
7N = 2, 5
o Atom N memiliki 5 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi
elektron yang stabil tiap-tiap atom N memerlukan tambahan elektron
sebanyak 3.
o Ke-2 atom N saling meminjamkan 3 elektronnya, sehingga ke-2 atom N
tersebut akan menggunakan 3 pasang elektron secara bersama.

** oo ** oo
N + N
ooo
***

N N
ooo
***

Rumus struktur : N≡ N
Rumus kimia : N2

Contoh 2:
 Ikatan antara atom C dengan C dalam etuna (asetilena, C2H2).
 Konfigurasi elektronnya :
6C = 2, 4
1H =1

 Atom C mempunyai 4 elektron valensi sedangkan atom H mempunyai 1


elektron.
 Atom C memasangkan 4 elektron valensinya, masing-masing 1 pada atom
H dan 3 pada atom C lainnya.

••
• ∗ H− C ≡ C − H
H∗ C• • C • H
••
(Rumus Lewis) (Rumus bangun/struktur)

3). Ikatan Kovalen Koordinasi / Koordinat / Dativ / Semipolar


o Adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan
elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron
Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan elektron
yang digunakan bersama.
o Pasangan elektron ikatan (PEI) yang menyatakan ikatan dativ digambarkan
dengan tanda anak panah kecil yang arahnya dari atom donor menuju
akseptor pasangan elektron.
Contoh 1:
o Terbentuknya senyawa BF3 − NH3

* **
F* **
* * H * F*
*
o * ** H
** o

*o
**

*o
*
*F B
o
+ N H *
*o
o
*F B N H

**
*

**
o
*
*
**

o
*

o
*o **

*
*o
H H
* F*
* * * F*
** * *
**
atau
F H

F B N H

F H

Contoh 2:
o Terbentuknya molekul ozon (O3)
o Agar semua atom O dalam molekul O3 dapat memenuhi aturan oktet maka
dalam salah 1 ikatan O − O , oksigen pusat harus menyumbangkan kedua
elektronnya.

oo oo oo
O +
** ** oo
oo

O + O O O ** O
oo

oo
oo

oo
**
**

**

oo oo oo
Rumus struktur :
O= O O

4). Ikatan Logam


 Adalah ikatan yang terbentuk akibat adanya gaya tarik-menarik yang terjadi
antara muatan positif dari ion-ion logam dengan muatan negatif dari elektron-
elektron yang bebas bergerak.
 Atom-atom logam dapat diibaratkan seperti bola pingpong yang terjejal rapat
1 sama lain.
 Atom logam mempunyai sedikit elektron valensi, sehingga sangat mudah
untuk dilepaskan dan membentuk ion positif.
 Maka dari itu kulit terluar atom logam relatif longgar (terdapat banyak tempat
kosong) sehingga elektron dapat berpindah dari 1 atom ke atom lain.
 Mobilitas elektron dalam logam sedemikian bebas, sehingga elektron valensi
logam mengalami delokalisasi yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi
tersebut tidak tetap posisinya pada 1 atom, tetapi senantiasa berpindah-
pindah dari 1 atom ke atom lain.

ionpositif
awanelektron

Gambar Ikatan Logam

 Elektron-elektron valensi tersebut berbaur membentuk awan elektron yang


menyelimuti ion-ion positif logam.
 Struktur logam seperti gambar di atas, dapat menjelaskan sifat-sifat khas
logam yaitu :
a). berupa zat padat pada suhu kamar, akibat adanya gaya tarik-menarik
yang cukup kuat antara elektron valensi (dalam awan elektron) dengan
ion positif logam.
b). dapat ditempa (tidak rapuh), dapat dibengkokkan dan dapat direntangkan
menjadi kawat. Hal ini akibat kuatnya ikatan logam sehingga atom-atom
logam hanya bergeser sedangkan ikatannya tidak terputus.
c). penghantar / konduktor listrik yang baik, akibat adanya elektron valensi
yang dapat bergerak bebas dan berpindah-pindah. Hal ini terjadi karena
sebenarnya aliran listrik merupakan aliran elektron.

Polarisasi Ikatan Kovalen


• Suatu ikatan kovalen disebut polar, jika Pasangan Elektron Ikatan (PEI)
tertarik lebih kuat ke salah 1 atom.
Contoh 1 :
Molekul HCl
oo
H Cl
oo
*o

oo
• Meskipun atom H dan Cl sama-sama menarik pasangan elektron, tetapi
keelektronegatifan Cl lebih besar daripada atom H.
• Akibatnya atom Cl menarik pasangan elektron ikatan (PEI) lebih kuat daripada
atom H sehingga letak PEI lebih dekat ke arah Cl (akibatnya terjadi semacam
kutub dalam molekul HCl).

δ+ δ−
oo
H Cl

oo
*o
oo

• Jadi, kepolaran suatu ikatan kovalen disebabkan oleh adanya perbedaan


keelektronegatifan antara atom-atom yang berikatan.
• Sebaliknya, suatu ikatan kovalen dikatakan non polar (tidak berkutub), jika PEI
tertarik sama kuat ke semua atom.

Contoh 2 :
oo oo
Cl *o Cl
oo

oo
H *o H oo oo
• Dalam tiap molekul di atas, ke-2 atom yang berikatan menarik PEI sama kuat
karena atom-atom dari unsur sejenis mempunyai harga keelektronegatifan yang
sama.
• Akibatnya muatan dari elektron tersebar secara merata sehingga tidak
terbentuk kutub.

Contoh 3 :
H
*o

*o
H *o C H
*o

oo oo
H O C O
oo

oo
oo

**
**
oo

• Meskipun atom-atom penyusun CH4 dan CO2 tidak sejenis, akan tetapi
pasangan elektron tersebar secara simetris diantara atom-atom penyusun
senyawa, sehingga PEI tertarik sama kuat ke semua atom (tidak terbentuk
kutub).

o Momen Dipol ( µ )
Adalah suatu besaran yang digunakan untuk menyatakan kepolaran suatu ikatan
kovalen.
Dirumuskan :

µ=Qxr ; 1 D = 3,33 x 10-30 C.m


keterangan :
µ = momen dipol, satuannya debye (D)
Q = selisih muatan, satuannya coulomb (C)
r = jarak antara muatan positif dengan muatan negatif, satuannya meter (m)
Perbedaan antara Senyawa Ion dengan Senyawa Kovalen
No Sifat Senyawa Ion Senyawa Kovalen
1 Titik didih Tinggi Rendah
2 Titik leleh Tinggi Rendah
3 Wujud Padat pada suhu Padat,cair,gas pada
kamar suhu kamar
4 Daya hantar listrik Padat = isolator
Padat = isolator
Lelehan =
Lelehan = isolator
konduktor
Larutan = ada yang
Larutan =
konduktor
konduktor
5 Kelarutan dalam air Umumnya larut Umumnya tidak larut
6 Kelarutan dalam
Tidak larut Larut
trikloroetana (CHCl3)

Pengecualian dan Kegagalan Aturan Oktet


1). Pengecualian Aturan Oktet
a) Senyawa yang tidak mencapai aturan oktet
Meliputi senyawa kovalen biner sederhana dari Be, B dan Al yaitu atom-atom
yang elektron valensinya kurang dari empat (4).
Contoh : BeCl2, BCl3 dan AlBr3
b) Senyawa dengan jumlah elektron valensi ganjil
Contohnya : NO2 mempunyai jumlah elektron valensi (5 + 6 + 6) = 17
oo o
o

O
N
o
oo
Oo
oo

c) Senyawa dengan oktet berkembang


Unsur-unsur periode 3 atau lebih dapat membentuk senyawa yang melampaui
aturan oktet / lebih dari 8 elektron pada kulit terluar (karena kulit terluarnya
M, N dst dapat menampung 18 elektron atau lebih).
Contohnya : PCl5, SF6, ClF3, IF7 dan SbCl5

2). Kegagalan Aturan Oktet


Aturan oktet gagal meramalkan rumus kimia senyawa dari unsur transisi maupun
post transisi.
Contoh :
 atom Sn mempunyai 4 elektron valensi tetapi senyawanya lebih banyak
dengan tingkat oksidasi +2
 atom Bi mempunyai 5 elektron valensi tetapi senyawanya lebih banyak
dengan tingkat oksidasi +1 dan +3

Penyimpangan dari Aturan Oktet dapat berupa :


1) Tidak mencapai oktet
2) Melampaui oktet ( oktet berkembang )
Penulisan Struktur Lewis
Langkah-langkahnya :
1) Semua elektron valensi harus muncul dalam struktur Lewis
2) Semua elektron dalam struktur Lewis umumnya berpasangan
3) Semua atom umumnya mencapai konfigurasi oktet (khusus untuk H, duplet)
4) Kadang-kadang terdapat ikatan rangkap 2 atau 3 (umumnya ikatan rangkap 2
atau 3 hanya dibentuk oleh atom C, N, O, P dan S)

Langkah alternatif : ( syarat utama : kerangka molekul / ion sudah


diketahui )
1) Hitung jumlah elektron valensi dari semua atom dalam molekul / ion
2) Berikan masing-masing sepasang elektron untuk setiap ikatan
3) Sisa elektron digunakan untuk membuat semua atom terminal mencapai
oktet
4) Tambahkan sisa elektron (jika masih ada), kepada atom pusat
5) Jika atom pusat belum oktet, tarik PEB dari atom terminal untuk membentuk
ikatan rangkap dengan atom pusat

Resonansi
a. Suatu molekul atau ion tidak dapat dinyatakan hanya dengan satu struktur
Lewis.
b. Kemungkinan-kemungkinan struktur Lewis yang ekivalen untuk suatu
molekul atau ion disebut Struktur Resonansi.
Contoh :
beresonansi oo
oo o oo oo oo
O S oo
O O S O
ooo
oo

oo
oo

oo
oo
oooo

oo
oo oo
c. Dalam molekul SO2 terdapat 2 jenis ikatan yaitu 1 ikatan tunggal ( S − O )
dan 1 ikatan rangkap ( S = O ).
d. Berdasarkan konsep resonansi, kedua ikatan dalam molekul SO 2 adalah
ekivalen.
e. Dalam molekul SO2 itu, ikatan rangkap tidak tetap antara atom S dengan
salah 1 dari 2 atom O dalam molekul itu, tetapi silih berganti.
f. Tidak satupun di antara ke-2 struktur di atas yang benar untuk SO 2, yang
benar adalah gabungan atau hibrid dari ke-2 struktur resonansi tersebut.