Anda di halaman 1dari 22

ELEKTRODA, SENSOR dan TRANSDUSER

Zulfikar Husni Faruq


1


1,
Pascasarjana Jurusan Teknologi Biomedik
Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.
faruqolbu@gmail.com

I. PENDAHULUAN
Banyak instrumen kedokteran adalah peralatan elektronik
dan harus memiliki sinyal elektrik untuk input. Ketika
biopotensial harus diperoleh, beberapa bentuk elektroda
digunakan digunakan antara pasien dan instrumen. Pada kasus
yang lain tranduser digunakan untuk merubah non elektrikal
parameter fisika atau stimulus, seperti kekuatan, tekanan atau
temperatur, ke sinyal elektrikal analog yang sesuai untuk nilai
parameter stimulus. Definisi sebuah transduser daam konteks
ini adalah alat yang akan mengubah beberapa bentuk produksi
energi oleh stimulus fisik ke elektrikal analog stimulus.
II. TRANSDUSER
Kebutuhan untuk mengerti hubungan konsep transdusr dan
transducible property, transducible property adalah
karakteristik fisik kejadian yang secara istimewa
merepresentasikan parameter dan ditransformasikan menjadi
sinyal elektrik oleh beberapa peralatan atau proses. Seperti
contoh, karbon dioksida (CO
2
) menyerap gelombang
elektromagnetik 2,7 4,3 dan 14,7 m. Meskipun air juga
diserap 2,7 m merupakan derajat yang kecil/tak berarti, hal
ini mungkin untuk membuat sensor infra merah (IR) yang
akan merespon antara 4,3 atau 14,7 m atau tiga gelombang
untuk mengukur isi gas CO2, seperti udara. Untuk mengakhiri
monitor air pasang CO
2
digunakan dalam terapi pernapasan,
Intensive care, dan ruanganastesi, digunakan sensor infra
merah. Transduser adalah proses merubah transdusible
property menjadi sinyal elektrik yang dapat diinput ke sebuah
instrumen.
III. SENSOR AKTIF VERSUS PASIF
Terdapat penemuan ambigu dalam diskusi sensor biomedik
yaitu perbedaan antara sensor aktif dan pasif. sayangnya, teks
bersaing menggunakan definisi kebalikan dari istilah ini. teks
ini mengadopsi bentuk yang digunakan oleh kebanyakan
orang di bidang alat medis. yang juga konsisten dengan
penggunaan di daerah lain elektronik.
Sebuah sensor aktif meminta sebuah sumber elektrik ac
dan dc eksternal pada daya peralatan. Seperti contoh alat ukur
sensor regangan tekanan darah yang membutuhkan +7,5- V dc
diatur pasokan listrik ke operator. Tanpa potensi perangsangan
eksternal, tidak ada output dari sensor.
Sensor pasif, di sisi lain, menyediakan energi sendiri atau
mendapatkan energi dari fenomena yang diukur. contoh
adalah termokopel, yang sering digunakan untuk mengukur
temperatur dalam pengaturan penelitian.
Sangat disayangkan bahwa beberapa penulis buku
membalikkan definisi ini, tetapi jika definisi di atas yang
diterima, Anda akan konsisten dengan penggunaan yang
paling umum.


IV. SUMBER KESALAHAN SENSOR
Sensor, seperti semua perangkat lain, mempertahankan
kesalahan tertentu. untuk menjaga konsistensi, kesalahan
didefinisikan sebagai selisih antara nilai terukur dan nilai
sebenarnya. sementara berbagai macam kemungkinan
kesalahan berada di luar cakupan buku ini, mungkin sekali
mereka istirahat dimana kemungkinan tersebut menjadi lima
kategori dasar: penyisipan, aplikasi, karakteristik, kesalahan
dinamis dan lingkungan.

A. Kesalahan penyisipan
Pada kesalahan kelas ini terjadi selama tindakan
memasukkan sensor ke dalam sistem yang diukur. Hal
tersebut adalah masalah yang umum pada pengukuran listrik,
pada semua pengukuran. untuk contoh, ketika mengukur
tegangan dalam rangkaian satu harus diyakini bahwa
impedansi yang melekat pada voltmeter jauh lebih besar
dibandingkan rangkaian impedansi, jika muatan sirkuit ada,
dan akan membaca kesalahan yang signifikan. kemungkinan
sumber kesalahan termasuk menggunakan transducer yang
terlalu besar untuk sistem. (Contoh tekanan) satu yang terlalu
lamban sedangkan sistem harus dinamis, atau bagian yang
membuat terlalu panas yang menyebabkan energi panas yang
berlebihan pada saat ditambahkan ke sistem. Pada abad
kesembilan belas di Inggris lord kelvin merumuskan aturan
pertama instrumentasi, yang menyatakan bahwa alat ukur
tidak harus dirubah meskipun sedang dalam pengukuran.

B. Kesalahan Aplikasi
Kesalahan ini disebabkan karena operator seperti yang
terkenal disebut cockpit trouble yang berhubungan mesin
pesawat terbang. Lebih jauh lagi banyak kesalahan yang
mungkin maka harus segera membereskan pada beberapa
gambaran contoh. Kesalahan yang terlihat pada pengukuran
temperatur adalah kesalahan penempatan pemeriksaan atau
keliru dalam isolasi probe/pemeriksaan dari tempat
pengukuran masalah yang sering terjadi pada klinik
kedokteran ketika pemeriksaan digital termometer tidak
meletakkan dengan baik. Seperti contoh dilihat pada aplikasi
sensor tekanan darah termasuk kesalahan sistem pembersihan
udara dan gas lainnya (gelembung pada garis) dan kesalahan
penempatan fisik pada transduser (diatas atau dibawah garis
pokok) kepala tekanan positif atau negatif dengan
penambahan yang tak menentu pada pembacaan yang benar.

C. Kesalahan Karakteristik
Kesalahan ini sering terjadi ketika mendiskusikan
kesalahan tanpa memenuhi sarat ketentuan. Kesalahan yang
melekat pada peralatan milik sendiri, contoh perbedaan antara
karakteristik fungsi transfer penerbitan ideal pada peralatan
dan karakteristik aktual. Bentuk kesalahan ini mungkin
termasuk nilai yang keluaran. Sebuah kesalahan condong atau
kemiringan yang tidak linier sempurna.

D. Kesalahan Dinamis
Banyak sensor yang digolongkan dan disesuaikan dalam
sebuah kondisi statis. Seperti contoh dengan parameter input
yang salah satunya statis dan quasistatis. Banyak sensor yang
uapnya/kelembapannya tebal saehingga mereka tidak akan
merespon perubahan laju dalam parameter input. Seperti
contoh termistor cenderung membutuhkan banyak untuk
merespon perubahan fungsi langkah dalam temperatur. yaitu,
termistor di equilibrum tidak akan melompat langsung ke
resistensi baru jika terjadi perubahan mendadak dalam
temperatur.

E. Kesalahan Lingkungan
Kesalahan turunan ini berasal dari lingkungan pada saat
sensor digunakan. Sering dan banyak kejadian termasuk
temperatur tetapi juga diakibatkan getaran, shok, ketinggian
dari permukaan laut, pembukaan bahan kimia atau faktor lain.
Faktor tersebut banyak memberikan dampak kesalahan
karakteristik pada sensor dan juga sering digabungkan dengan
katagori dalam aplikasi praktek.
V. SENSOR TERMINOLOGI
Sensor, seperti area teknologi lainnya, mempunyai spesifik
teknologi yang harus dimengerti sebelum digunakan untuk
pengaplikasian yang baik. beberapa istilah yang paling umum
dibahas di bawah ini

A. Sensitivitas
Sensitifitas sensor didefinisikan sebagai kurva
karakteristik yang landai atau lebih umum minimum input
pada parameter fisik yang akan menuliskan/membuat
kemapuan mendeteksi perbahan output. Pada beberapa sensor,
sensitivitas didefinisikan sebagai parameter perubahan input
yang diperlukan untuk menstandarisasi perubahan output.
Untuk yang lain didefinisikan sebagai output perubahan
voltage untuk memberikan perubahan dalam input parameter.
Contoh tipe tekanan darah transduser meungkin mempunyai
peringkat sensitifitas 10 V/V/mmHg; diamana akan menjadi
10 V output volt untuk masing masing potensial aksitasi dan
masing-masing milimeter pada aplikasi tekanan merkuri.

B. Kesalahan sensitivitas
Kesalahan sensitivitas adalah keberangkatan dari
kemiringan ideal kurva karakteristik. Contoh tekanan
transduser yang mungkin memiliki sensitivitas aktual 7,8
V/V/mmHg menjadi 10 V/V/mmHg.

C. Jarak
Jarak nilai sensor maksimum dan minimum diaplikasikan
pada parameter yang dapat diukur. Sebagai contoh pemberian
tekanan sensor yang mungkin memberikan jarak -400 sampai
+400 mmHg. Alternativnya, jaraknya positif dan negatif
sering tak seimbang. Bebearapa transduser tekanan darah
dispesifikan pada minimum pada batas -50 mmHg dan
maksimum +450 mmHg. Spesifikasi ini umumnya
berdasarkan kejadian dan salah satu alasan dokter perawat














Gambar 1. Kurva ideal dan sensitifitas eror

karena kerusakan sensor tekanan darah ketika dicobakan
menggambarkan darah pada garis arteri tanpa hati-hati
mengunci pipa cairan pada sistem. Sebuah jarum dapat
mendesak vakum yang besar untuk menutup sistem.

D. Jarak dinamis
Jarak dinamis adalah jarak total sensor dari maksimum ke
minimum. yang diistilahkan pada gambar 1, R
dyn
=
max
-
min


E. Presisi
Konsep presisi berhubungan dengan derajat pengukuran
reprodusabilitas, dengan kata lain persisnya nilai yang sama
diukur pada sebuah nilai berdasarkan waktu. Sensor yang
ideal akan persis dengan output yang nilainya sama dengan
setiap waktu. Tetapi sensor yang sebenarnya sebuah jarak nilai
yang didistribusikan dalam beberapa cara yang relatif
mendapatkan nilai aktual yang benar. Seperti contoh, jika
tekanan persisnya 150 mmHg diaplikasikan ke sebuah sensor.
Jika diaplikasikan tekanan tidak berubah, nilai output dari
sensor akan sangat bervariasi.

F. Resolusi
Spesifikasi yang mampu mendeteksi yang paling kecil
pada perubahan tambahan parameter input yang dapat
dideteksi dalam output sinyal. Resolusi dapat di ekspresikan
sebagai salah satu pembacaan yang proporsional (atau
pembacaan dengan sekala penuh) atau istilah lain absolut
.
G. Akurasi
Sensor akurasi adalah perbedaan maksimum yang akan
keluar antara nilai sebenarnya (seharusnya diukur oleh standar
primer atau standar sekunder yang baik) dan nilai indikasi
pada output sensor. Akurasi dapat diekspresikan sebagai
presentase skala penuh atau mutlak.

H. Mengimbangi (Offset)
Kesalahan offset pada sebuah transduser didefinisikan
sebagai output yang akan keluar ketika seharusanya di nol kan,
alternatifnya, perbedaan antara nilai output yang sebenarnya
dan nilai output yang ditetapkan berdasarkan kumpulan fakta
sesuai kondisi. Sebagai contoh situasi dalam istilah gambar 6-
2 akan keluar jika karakteristik kurva sudah sama kemiringan
















Gambar 2. J enis pH elektroda yang memperlihatkan sensitifitas temperatur

sensitifitasnya yang disebut ideal tetapi menyebrang ke Y axis
(output) pada b dari pada nol. Sebagai contoh bentuk lain
adalah diperlihatkan dalam kurva karakteristik pada sebuah
pH elektroda yang diperihatkan pada gambar.2. Kurva ideal
hanya akan mengeluarakan pada satu temperatur (sering pada
suhu 25
o
C), saat kurva sebenarnya berada antara batas
temperatur minimum dan maksimum. Tergantung pada suhu
sampel dan elektroda.

I. Linieritas
Linieritas transducer adalah ekspresi keluaran pada kurva
aktual yang diukur pada sebuah penyimpangan sensor dari
kurva ideal. Pada gambar 3 mamperlihatkan hubungan yang
agak berlebihan antara ideal, kuadrat yang sesuai, garis dan
diukur actual. Atau kalibrasi, garis (dalam banyak kasus,
kurva statik digunakan penentuan lineritas, dan ini mungkin
agak menyimpang dari linieritas dinamis). Linieritas
seringkali di spesifikan dalam istilah presentase non linieritas,
yang didefinisikan sebagai:

Nonlineritas (%) =
DIn(max)
INs
X 100 (1)

Dimana

Nonlinieritas (%) =presentase non linier
D
in(max)
=deviasi simpangan input maksimum
Ins =skala penuh input maksimum.

Statistik non linier persamaan 1 seringkali subjek merupakan
faktor lingkungan, termasuk suhu, getaran, tingkatan akustik
noise, dan kelembapan. Hal ini sangat penting untuk
mengetahui apa kondisi sepesifik adalah valid, dan
keberangkatan diawalai dari kondisi yang mungkin hasil
linernya tidak berubah.

J. Histersis
Sebuah transduser mampu mengikuti perubahan tanpa
memperhatikan parameter input dari arah mana perubahan itu
diakukan.; histeresis adalah ukuran properti ini. Pada gambar















Gambar. 3. ideal versus kurva diukur menunjukkan kesalahan linearitas

4 memperlihatkan tipe kurva histeresis. sebagai catatan
bahwa hal tersebut penting dari arah mana perubahan
dilakukan. mendekati nilai masukan tetap (point B pada
gambar 4) dari nilai yang lebih tinggi (Point P) akan
menghasilkan indikasi yang berbeda dari mendekati nilai yang
sama dari nilai laser (point Q atau nol). Catatan bahawa nilai
input B dapat di representasikan oleh F(x)
1
, F(x)
2
, atau F(x)
3

yang bergantung pada nilai kedekatan sebelumnya- jelas
kesalahan karena hysteresis.

K. Waktu Respon
Sensor tidak dapat merubah model bagian output ketika
terjadi perubahan pada sebuah parameter input . agaknya, ini
akan merubah kepada bagian baru yang berlebihan pada
sebuah periode waktu yang disebut respon waktu (T
r
dalam
gambar 5). Respon waktu dapat didefinisikan sebagai waktu
yang diminta untuk sebuah sensor output untuk merubah dari
bagian sebelumnya ke nilai akhir yang sudah mapan dalam
toleransi kelompok nilai baru yang sebenarnya. Pada konsep
ini berbeda dari dugaan pada waktu konstan (T) sistem. Istilah
ini dapat didefinisikan sebagai cara yang sama untuk harga
sebuah kapasitor setiap resistansi dan pada umumnya kurang
dari pada respon waktu.

















Gambar 4. Kurva histeresis




















Gambar 5. (a) Definisi waktu naik; (b) definisi waktu turun

Pada kurva 5 memperlihatkan dua dua tipe respon waktu.
Pada gambar 5 A kurva merepresentasikan mengikuti waktu
respon yang mendandak perubahan fungsi langkah yang
positif pada input parameter. Bentuk yang memperlihatkan
gambar 5b kekurangan waktu (T
d
membedakan bentuk T
r
,
untuk mereka yang tidak slalu sama) pada respon untuk
sebuah prubahan fungsi tahap negatif pada input parameter.

L. Linieritas Dinamis
Linearitas dinamis pada sensor adalah mengukur
kemampuan mengikuti perubahan aliran pada input parameter.
Karakteristik distorsi amplitudo, fase distorsi karakteristik,
dan respon waktu sangat penting menentukan linieritas
dinamis. Pemberian sebuah sistem pada histeresis rendah
(selalu diperlukan ), respon amplitudo direpresentasikan oleh:

F(x) =ax +bx2 +cx3 +dx4 +...+K (2)

Pada penjumlahan diatas , istilah F(x) ada lah output sinyal,
saat x mereperesentasikan parameter input dan harmonik, dan
K merupakan pengganti konstanta (jika ada). Harmonik
menjadi penting ketika menghasilkan harmonik error oleh aksi
sensor jatuh menjadi band frekuensi yang sama sebagai
harmonik alami yang diproduksi oleh aksi dinamis pada input
parameter. Semua bentuk gelombang yang berkelanjutan
direpresentasikan oleh fourier series pada fundamental sin
harmonik saat ini. Pada gambar 6-6a, kurva kalibrasi.
( sebagai garis titik) adalah asimentris, jadi hanya odd
harmonik yang keluar. Asumsi bentuk ideal kurva adalah F(x)
=mx +K untuk asimetis adalah.

F(x) =ax +bx2 +cx3 +dx4 +...+K (3)


























Gambar. 6. Kurva sinyal input dan output. (a) kesalahan kuadratik; (b)
kesalahan kubik

Pada tipe kalibrasi kurva (gambar 6-6b), indikasi nilai
simentris yang ideal adalah mx =K kurva. Dalam kasus ini f(x)
=-f(-x) dan bentuk persamaan adalah

F(x) =ax +bx3 +cx5 +...+K (4)

Sekarang kami akan memperlihatkan beberapa taktik dan
kriteria proses sinyal yang dapat di adaptasi untuk aplikasi
kedokteran yang dapat memperbaiki pengumpulan data yang
alami dari sensor.

VI. TAKTIK DAN PROSES SINYAL UNTUK PENINGKATAN
PENGINDRAAN
pemilihan sensor dan sirkuit yang dapat menghubungkan
kepada mereka yang bisa pergi sepanjang jalan kemana saja
dan memastikan bahwa data yang diperoleh akan akurat
mewakili fenomena fisika atau peristiwa yang terdeteksi.
Operasi yang patut dalam sebuah lingkungan input yang
dinamis, sensor dipilih seharusnya mempunyai kurva respon
yang bertingkat. Contohnya distorsi amplitudo bebas, phase
distorsi fase. (yang hampir invaribel penyebab amplitudo
distorsi), jarak dan resonansi.
Perhatian pada masalah ini fokus pada frequency response
pada sistem sensor dan proses sinyal. Pada gambar 6-7
memperlihatkan sistim linier yang sempurna dimana
keuntungannya adalah konstant pada sepanjang spektrum
frekuensi. sebagai contoh pada sistem ideal DC to daylight
dan seterusnya. tetapi sitem nyata tidak dapat memiliki
karakteristik tersebut. pada gambar 6-7 b memperlihatkan tipe
respon frekuensi yang mungkin ditemukan pada sistem yang
nyata. pada contoh ii, gangguan pada flat antara 2 frekuensi
dan di atas wilayah kinerjanya yang mirip dengan kasus ideal.
tetapi sementara pada point ini memberi definisi flat region
adalah jika dikonversi dianggap sebagai frekuensi (FL dan FH)
pada saat gain fall off pada 70,7 % dimana gain ini dalam
wilayah yang datar. poin ini diketahui sebagai poin -6 dB
dalam sistem voltase dan poin -3 dB dalam sistem kekuatan.
ketika respon frekuensi tidak spenuhnya datar, satu yang
dapat diharapkan untuk menemukan fase distorsi. gambar 7c
memperlihatkan situasi pada saat terjadi perubahan fase pada
sistem dimana sebuah fungsi linier pada frekuensi ( garis solid)
dan di mana hal itu adalah fungsi nonlinear frekuensi (garis
titik-titik)
ketika dapat melihat efek fase distorsi dalam sedikit
pengertian yang sederhana. sebagai contoh, output pada sensor
ideal dalam merespon langkah perubahan fungi untuk
mengukur inpit parameter. jika proses sinyal elektronik dan
mekanisme sensor sendiri idelnya sempurna, kemudian hanya
efek perubahan yang dipindahkan dalam waktu (T), dapat
dilihat pada gambar 8 b. Disana tidak akan di distorsikan
menjadi bentuk gelombang. Tetapi dalam kehadirannya pada
fase distorsi, gelombang tidak hanya waktu pengungsi tetapi
juga terdistorsi. gambar 8c dan 8d memperlihatkan dua bentuk
distorsi yang dapat terjadi dengan fase nonlinier.

































Gambar 7. karakteristik ferkuensi respon: (a) wideband; (b) band-pass; (c)
Tipe untuk sebuah sensor



















Gambar 8. (a) Gelombang Kotak; (b) penundaan perambatan; (c) rolloff
frekuensi rendah; (d) cincin








Gambar. 9. Karkteristik respon band pass filter

Sedikit perbedaan yang diperlihatkan pada foenomena yang
sama yang diperlihatkan pada gambar 9 dan 10.
Mempertimbangkan sebuah sistem pada saat bandwidth dapat
divariasikan penyebrangannya pada batas yang umum,
diwakilkan oleh kurva a, b, dan c pada gambar 9. kurva c
mewakilkan banyak bersifat karena membatasi respon tajam
pada frekuensi rendah dan tinggi, saat kurva a bersifat
membatasi. sebagai catatan gambar 10 adalah macam macam
respon untuk tiga bandwidth yang diwakilkan dalam gambar 9.
kurva ini dapat disimulasikan oleh evaluasi respon untuk
bentuk gelombang pada jaringan filter kapasito dan resistor
(RC). Pada faktanya, satu permasalahan ketika menggunakan
filter elektronik adalah efek poin -6 dB saat diaplikasikan ke
gelombang.
Satu yang mungkin diasumsikan dengan tidak menentunya
dari pembahasan di atas bahwa perancang instrumen harus
memilih amplifier dengan band selebar yang memungkinkan
sehingga tidak terjadi bandwidth menyebabkan masalah yang
lainnya dan tidak separah yang harus diselesaikan. seperti
contoh, noise yang proporsional untuk bandwidth. ini
memungkinkan untuk mengeliminasikan masalah noise,
ditambah beberapa masalah sinyal input, seperti cincin atau
resonansi, oleh seleksi yang pantas pada poin pemotongan
frekuensi respon. Dengan demikian pemilihan bandwidth
amplifier dan fase karakteristikdistorsi adalah penukaran
antara kebutuhan untuk membuat keakuratan yang tinggi pada
pencatatan kejadian input dan dan masalah yang lainnya yang
dapat terjadi pada sistem.
















Gambar. 10. Kurva respon untuk sebuah gelombang kotak (a).

VII. ELEKTRODA UNTUK MERASAKAN BIOPOTENSIAL

Bioelectricity adalah sebuah foenomena kejadian secara
natural yang timbul dan terdapat dari organisme yang
mengubah ion dalam kuantitas perbedaan yang bermacam
macam. Ion conduction berbeda dari electronic conduction,
yang mungkin lebih familiar atau biasa didengar oleh para
teknisi atau teknologist. konduksi ion menyertakan migrasi
ion molekul beban ion positif dan negatif- disepanjang
wilayahnya, dimana menyertakan elektronik konduksi yang
mengalirkan elektron dibawah pengaruh bidang elektrik.
didalam sebuah electrolytic solution, ion dengan mudah
ditemukan. terjadi perbedaan potensial ketika konsentrasi ion
berbeda antara dua point.
ketika berhadapan dengan ion konduksi pada kedalaman,
kamu akan menemukan secepatnya yang sangat komplek,
fenomena non linier. tetapi untuk aplikasi sinyal kecil, dimana
hanya ada aliran arus sangat kecil, meragakan sebagai aliran
pada arus elektik antara poin perbedaan potensial adalah
perintah pendekatan yang adil.
Ahli kimia akan menemukan kekuranan model kecuali
dalam banyak kelas dasar, tetapi membutuhkan pengetahuan
yang lebih besar dari pada spesialis instrumentasi. Saat banyak
substansi aliran arus merubah situasi seluruhnya dan model
yang lebih tinggi dari yang dibutuhkan.
bioelektroda adalah kelas sensor yang ion transduce nya
untuk konduksi elektronik jadi sinyal dapat diproses melalui
rangkaian elektronik. biasanya tujuan bioelktroda adalah
untuk memperoleh sinyal bioelektrik medikal secara
signifikan. sebagai contoh elektrokrdiografi (EKG),
elektroencephalografi (EEG) dan elektromiografi (EMG).
kedua klinisi dan peneliti mencontohkan penemuan yang
mudah ditemukan, meskipun dalam kasus keduanya sama.
Banyak contoh bioelectrikal sinyal yang diperoleh dari satu
dari tiga bentuk elektroda: surface macroelectrode, indwelling
macroelectrodes, dan microelectrode. pertama dan yang kedua
umum digunakan pada invivo, dan yang lainnya digunakan
pada invitro. Disini kami akan mendiskusikan kemampuan
bioptensial dengan tipe elektroda yang umum diguakan pada














Gambar 11. Elektroda logamyang ditenggelamkan dalamlarutan elektrolit

instrumentasi biomedik.pengenalan dalam diskusi ini adalah
generik dan representatif, bukan ekshaustif, untuk subjek yang
cukup kompleks.

A. Elektroda potensial

Pada kulit dan jaringan yang lainnya pada organisme yang
ordenya lebih tinggi, seperti manusia, elektrolit dapat dimodel
menjadi larutan elektrolit. dalam beberapa model larutan
memperlihatkan garam, mencerminkan fakta bahwa manusia
mirip dengan air garam pada seluruh komposisi. pada gambar
sebuah metalik elektroda dibenamkan dalam larutan elektrolit
(gambar 11). meskipun secara seketika setelah dibenamkan,
elektroda akan mengawali pemberhentian beberapa metalik
ion menjadi larutan. saat beberapa ion dalam larutan dimulai
dengan kombinasi dengan metalik elektroda. Hal ini
merupakan fenomena kimia yang menyepuhkan listrik
(electroplating) dan proses menjadikan kutup positif
(anodizing) sebagai dasar kerjanya.
Setelah beberapa saat, harga grasien terbangun dan
menciptakan perbedaan potensial, atau potensial elektroda (Ve
dalam gambar 11), atau Helf-cell potential. Perbedaan
potensial dapat disebabkan oleh perbedaan konsentrasi pada
sebuah tipe ion tunggal. sebagai contoh, jika kamu
mempunyai dua positif ion (++) dalam satu lokasi, (Call A)
dan ion positifnya tiga (+++) pada lokasi yang lain (Cell B)
dibandingkan akan ada selisih bersih dari 3 -2, atau 1, dengan
titik B maka akan menjadi lebih positif dari pada titik A. dua
reaksi dasar akan di ambil tempat oleh elektroda penghubung.
sebuah reaksi oksidasi yang terlibat adalah metal - elektron +
metal ion; sebuah reaksi reduksi yang terlibat adalah elektron
+ion metal - >metal.
sebuah fenomena ompleks memperlihatkan pada
hubungan antara elektroda metal dan elektrolit. ion bermigrasi
kearah satu sisi pada wilayah yang lainnya, bentuk dua lapisan
paralel ion yang harganya berlawanan. Pada wilayah ini
disebut dengan lapisan elektoda dobel, dan perbedaan ion
adalah sumber elektroda atau half-cell potential (Ve).
Perbedaan material dapat dilihat perbedaan half-cell potential,
seperti tabel 1.


Tabel 1. Helf-cell potential elemen umum





















Gmabar 12. Logam yang berbeda direndam dalam larutan elektrolit
umum yang menghasilkan potensi diferensial

Oleh persetujuan ilmuan internasional, poin referensi nol
ketika membuat pengukuran half-cell potential adalah
elektroda hidrogen-hidrogen (H-H) yang menugaskan sebuah
half-cell potential zero volt oleh konvensi. semua elektroda
half-cell potential yang lainnya diukur kembali oleh referensi
nol H-H. half-cell potential menyebutkan beberapa memberi
kan elektroda yang perbedaan potensialnya antara elektroda
yang sebenaranya dan referensi elektroda H-H.
Sekarang mempertimbangkan apa yang terjadi ketika dua
elektroda (cell A dan B), membuat ketidak serupaan metal ,
ditenggelamkan dalam larutan elektrolit yang sama (gambar
12). Masing masing elektroda akan memamerkan kepemilikan
half-cell potential ini. (Vea da Veb) dan jika dua metal benar
benar tidak sama maka dua potensial akan dibedakan (Vea
Veb). Karena dua half-cell potential berbeda, dimana ada
perbedaan potensial bersih (Ved) antara mereka, yang
disebabkan oleh arus elektronik (Ie) untuk arus rangkain
eksternal yang diteruskan. Perbedaan potensial, kadang
disebut electrode offset potential, urutan pertama pendekatan
untuk kasus sinyal kecil dapat didefinisikan sebagai

Ved =Vea Veb (5)

Sebagai contoh, pada kasus elektroda emas (Au+)
ditenggelamkan dalam elektrolit yang sama sebagai elektroda
perak (Ag+). dalam situasi

Ved =Ve(au) Ve(ag) (6)

Ved =(+1,50 V) (+0,80 V) (7)
=+0,70 V

atau dalam kasus dapat dilihat kasus pada (Cu++) dan
perak (Ag+), yang dapat mengeluarkan dengan tak menentu
dalam rangkaian elektronik yang digunakan tembaga untuk
menghubungkan kawat,

Ved =Ve(ag) Ve (Cu)
Ved =(+0,80 V) (+0,34 V) (8)
=0,46 V

elektroda potensial penggnti akan di nolkan ketika dua
elektroda terbuat identik dari material, yang biasanya
menyebabkan merasakan bioelektrik.
Perhatian harus diberikan pada seleksi material ketika
mendisain elektroda untuk merasakan bioelektrik. Pilihan
material akan berpengaruh pada helf-cell dan pengganti
potensial. Disamping itu huruf awal merupakan
ketergantungan material, sebenarnya half-cell potential
diperankan oleh beberapa elektroda yang mungkin merubah
lebih lambat dengan waktu. Beberapa material dapat terlihat
baik dengan inisialya tetapi dapat digunakan, seperti
perubahan besar dengan waktu dan lingkungan kimia yang
menyumbangkan hampir tidak berguna dalam praktek aplkasi.
Dimana dua katagori umum pada kombinasi material.
Sebuah elektroda perfectly polarized atau perfectly
nonreversible adalah satu di mana tidak ada transfer bersih
dari muatan di antarmuka elektrolit logam. Pada elektroda ini
hanya satu dari dua tipe reaksi kimia yang dapat terjadi.
Perfectly nonpolarized dan perfectly reversible adalah satu
dari tiga yang dapat mentransfer tanpa hambatan yang
harganya antara logam elektroda dan elektroda. Meskipun
situasi mengidealkan diperoleh dalam realitanya, harus
diperhatikan pemberian pemilihan elektroda yang benar. Pada
umumnya, kami harus menyeleksi elektroda reversibel, seperti
perak-perak klorida (Ag-AgCl).
Cairan tubuh sangat korosif untuk metal, jadi tidak semua
material dapat digunakan untuk merasakan bioelektrik. Dalam
Penambahan, beberapa material yang bentuknya elektroda
reversibel (zink-zink sulphate) adalah racun yang ditinggalkan
pada jaringan dan menjadi tak terpisahan. Untuk alasan ini,
material seperti logam mulia (emas dan platinum), beberapa
tungsten campuran, silver-silver cklorida, dan sebuah material
disebut platinum-platinum hitam digunakan untuk membuat
elektroda biopotensial praktek. Pada umumnya kedokteran
menggunakan permukaan yang sederhana pada rekaman
biopotensial, elektroda perak-perak klorida banyak dan sering
digunakan. kecuali ada penetapan sebaliknya.










Gambar 13.elektroda biomedis Perak-Perak Klorida
Pada gambar 13 memperlihatkan mengapa elektroda
perak-perak klorida populer dengan desain instrumentasi
kedokteran. elektroda ini terdiri dari sebuah tubuh perak yang
terdapat sebuah layar kecil silver klorida yang disimpan. Perak
klorida menyediakan dua jalan bebas untuk menukarkan ion
Ag+dan CL- , jadi bentuk layar tidak dobel. Ketika dalam
pemabrikan elektroda perak-perak klorida membutuhkan
penggunaan spektroskopis murni perak untuk proses. seperti
perak 99,999% murni, dibandingkan dengan tukang emas dan
tukang perak biasa yang hanya 99,9% murni. catatan:
sejatinya perak adalah 92,5% perak dan 7,5 % tembaga.

B. Model Rangkaian Elektroda
Gambar 14 memperlihatkan model rangkaian elektroda
permukaan biomedis. Model ini lebih atau kurang cocok
dengan rangkaian elektroda ECG dan EEG. Pada rangkaian ini
perbedaan amplifier digunakan untuk proses sinyal dan akan
membatalkan efek elektroda helf-cell potential Vea dan Veb.
Resistensi Rr diwakilkan dengan resistensi internal pada tubuh,
yang mempunyai tipe keluaran rendah. Biopotensial sinyal
diwakilkan sebagai perbedaan voltage, Vd. Resistansi yang
lainnya dalam sirkuit yang mewakili resistensi pada pada
kontak yang menghubungkan kulit elktroda. Keheranan aspek
pada gambar 14 adalah nilai biasa yang diasosiasikan dengan
kapasitor CIA dan CIB. Saat beberapa kapasitansi adalah
diharapkan normal, seringkali orang orang dikejutkan unuk
mempelajari bahwa kontak kapasitansi dapat mencapai nilai
umum microfarads. (nilai 10 F seringkali disebutkan).
Ketika dua atau lebih elektroda digunakan bersamaan,
meskipun selalu hampir selalu terjadi dalam rekaman
fisiologis, Perbedaan voltage antara mereka adalah dua
penjumlahan Algebraic. Dalam gambar 14 b dimana dua
elektroda, A dan B, memproduksi voltage Va dan Vb.
Perbedaan voltage Vd adalah Va Vb.

C. Potensial Elektroda Penyebab Masalah Pada Rekaman
Elektrodan half-cell potential dapat menjadi masalah serius
padapenerimaan sinyal bioelektrik karena ada perbedaan yang
besar antara DC potensial dan biopotensial. Pada jenis half-
cell peotential untuk elektroda biomedis adalah 1,5 V, saat
biopotensial lebih dari 1000 kurang dari waktu helf-cell
potential. Manifestasi permukaan sinyal ECG adalah 1 2 mV,
sementara potensi EEG kulit kepala berada di urutan 50V.
Maka, voltase elektroda half-cell adalah 1500 waktu lebih
besar dari puncak potensial ECG dan 30.000 waktu lebih
besar dari sinyal EEG.
Desain instrumen harus tersedia sebagai strategi untuk
menanggulangi efek menyeluruh mengganti kerugian half-cell
potential karena bentuk half-cell potential memperbesar
komponen DC untuk menit sinyal voltase. Maka dibutuhkan
strategi yang tepat yang menggunakan kombinasi pendekatan
berikut:
1) Kami dapat menggunakan perbedaan amplifier DC
untuk memperoleh sinyal. Jika elektroda adalah identik,
maka half-cell potential harusnya sama. Secara teoritis,
pada akhir, potensial sama akan diperlihatkan sebagai
sebuah mode potensial umum yang tunggal maka























Gambar 14. Elektroda biomedis. (a) model rangkaian untuk elektroda
biomedis; (b) dua elektroda biomedis yang memproduksi sebuah
perbedaan voltase

dengan demikian akan membatalkan pada output.
Peabatasan pada pendekatan ini adalah gain yang
diperlukan untuk proses sinyal level rendah juga
bertindak atas perbedaan yang kecil antara 2 half-cell
potential. Sebuah perbedaan 1 mV antara 2 helf-cell
potential hanya total 0,1% - memperlihatkan seperti
beberapa 1 mV sinyal DC yang lain pada gain 100
amplifier ECG.
2) Rangkaina penerimaan sinyal harus didisai untuk
menyediakan voltase perhitungan yang disajikan
untuk membatalkan elektroda helf-cell potential.
Sementara pendekatan ini memiliki daya tarik tertentu
yang dibatasi olrh fakta bahwa perubahan hel-cell
potential dengan waktu dan gerakan relatif antara kulit
dan elektroda. Gerakan elektroda dapat menyababkan
garis dasar yang ramai dan bermacam macam.
3) Kami dapat merangkaikan AC amplifier input.
Pendekatan ini membolehkan perpindahan komponen
sinyal dari DC offset. pilihan ini mungkin yang paling
menarik- khususnya ketika variasi DC offset frekuensi
yang jauh lebih rendah dari pada sinyal frekuensi
komponen. Dalam hal ini, -3 dB adalah batasaan
respon frekuensi normal yang dapat digunakan untuk
menyesuaikan rendaman variasi pada DC offset.

Dalam beberapa aplikasi biomedis, komponen sinyal lebih
dekat ke DC. sebagai contoh, kandungan frekuensi pada sinyal
ECG adalah 0,05 sampai 100 Hz. Pada peralatan ECG
kedokteran seseorang dapat diharapkan untuk menggeser
baseline setiap kali pasien bergerak di sekitar di tempat tidur.
Dalam Banyak kasus, opsi pertama dan ketiga dipilih
untuk amplifier biopotensial. Pengguna akan membutuhkan.
AC-couple, perbedaan amplifier input untuk penerimaan
sinyal
VIII. ELEKTRODA PERMUKAAN MEDIS
Permukaan elektroda adalah tempat dimana elektroda
ditempatkan di kulit, dalam kelompok ini juga adalah
elektroda jarum ukuran tertentu yang mencegah mereka yang
dimasukkan dalam satu sel. Beberapa dasar untuk termasuk
memasukkan jarum elektroda dibawah rubrik Idwelling
electrode, tetapi umumnya tidak praktis untuk biomedical
engineering
Permukaan elektroda (jarum elektroda) berbeda beda
untuk diameternya dari 0,3 sampai 5 cm, dengan sebagian
besar berada di range 1 cm. Kulit manusia memelihara agar
mempunyai perbandingan impedansi tinggi dengan sumber
voltase yang lain. Jenis ini pada imedansi normal dikulit dapat
dilihat oleh elektroda, berbeda beda dari 0,5 k untuk
permukaan kulit berkeringat dan lebih dari 20 k untuk
permukaan yang kering. Masalah kulit khususnya kering,
bersisik, penyakit kulit, mungkin menjangkau impedansi pada
range 500 k. Pada beberapa kejadian, kita harus
memperlakukan elektroda permukaan sebagai sumber voltase
impedansi yang sangat tinggi.- faktanya pengaruh serius
desain biopotensial amplifiers biopotensial sekuriti,. Pada
banyak kasus, peraturan untuk amplifiers voltase adalah untuk
membuat input impedans amplifiers kurang 10 kali sumber
impedansi. Untuk biopotensial amplifiers kebutuhannya 5M
atau lebih input impedansi- sebuah nilai yang mudah
didappatkan menggunakan salah satu premium bipoar,
(BiFET), atau (BiMOS) amplifiers oprasional.

A. Tipe Elektroda Permukaan Medis (Medical Surface
Electrode)
Bermacam macam elektroda yang mempunyai desain
untuk memperoleh sinyal biomedis. Mungkin lebih tua dari
elektroda ECG pada penggunaan klinis. (lihat gambar 15 a).
Elektroda ini adalah 1 2 sqin. brass plate yang di tempatkan
pada tali karet. Gel konduktor atau pasta digunakan untuk
mengurangi impedansi atara elektroda dan kulit.















Gambar 15. Tipe elektroda ECG (a) Elektroda tali pengikat; (b) Elektroda
cekungan penghisap
Bentuk dihubungkan elektroda ECG adalah elektroda
mangkok sedot yang dapat dilihat pada gambar 15b. Alat ini
digunakan sebagai elektroda dada pada rekam EKG jangka
pendek. Untuk rekaman jangka panjang atau monitoring,
seperti monitoring terus menerus di sebuah pasien rumah sakit
pada serangan jantung dan pelayanan intensif, pasta pada
kolom elektroda digunakan sebagai pengganti.
Sebuah Jenis kolom elektroda memperlihatkan menurut
bagan pada gambar 16; contoh fotografi diperlihatkan pada
gambar 16b. Elektroda terdiri dari perak-perak klorida metal
yang dikancing di atas lubang kolom yang diisi dengan
konduktif gel atau pasta. pertemuan tersebut terjadi ditempat
busa yang dilapisi karet perekat disk.
Penggunaan kolom isi gel atau isi pasta memegang
elektroda logam yang sebenarnya dari permukaan utnuk
mengurangi gerak artefak. Untuk alasan ini lah maka
elektroda pada gambar 16 lebih disukai untuk monitoring
pasien rumah sakit.
sebuah bentuk yang tepat pada kolom elektroda
seringkali digunakan dalam monitoring situasi tiga blok
elektroda. Blok adesif mempunyai area permukaan 20 sampai
30 sq in. dan mengandung tiga elektroda EKG (dua dibedakan
sebagai elektroda pengambil sinyal dan satu lagi sebagai
elektroda referensi) dalam 1 paket. Mereka menyediakan
elektroda yang tepat untuk monitorig, meskipun untuk
penggunaan diagnostik, walaupun lebih menyukai elektroda
tradisional. Tiga elektroda pad adalah unit pakai sementara
yang dibuang setelah digunakan.




























Gambar 16. Elektroda kolom. (a) memotong sisi tampilan; (b) yag
terpopuler jenis busa yang didukung kolomelektroda
B. Masalah dengan Elektroda Permukaan.

Masalah pada umumnya diasosiasikan dengan elektroda
permukaan pada semua tipe. Salah satu masalah dengan
kolom elektroda yang kesulitan menempel dalam waktu yang
lama pada permukaan kulit yang basah atau lembab.
Pengguna juga harus menghindari penempatan elektroda pada
keadaan permukaan yang terlihat tulangnya. Pada umumnya,
wilayah gemuk pada dada dan perut dipilih untuk penempatan
elektroda. Bermacam macam rumah sakit memiliki perbedaan
dalam protokol untuk perubahan elektroda, tetapi pada
umumnya, elektroda diubah pada setiap 24 jam. Pada
beberapa rumah sakit, tempat elektroda dipindahkan dan
elektroda diubah- satu kali setiap 8 jam saat pergantian
perawat untuk menghindari iskemia pada kulit tempat
menempel.
Meskipun hampir semua bentuk elektroda dapat
digunakan dalam situasi perekaman waktu yang singkat,
monitoring pada waktu yang lama kemungkinan sedikit lebih
sulit. Salah satu masalah yang signifikan adalah perpindahan
artefak (komponen sinyal palsu), yang terjadi oleh karena
perpindahan pasien dan dilakukan oleh komponen elektrik
kecil dari bioelektrik sinyal pada otot tulang pasien dan
komponen yang lebih besar pada perubahan pada hubungan
antara elektroda dan kulit. Gerakan artefak menjadi lebih
buruk seiring waktu dan pasta atau gel mengering.
Untuk rekaman jangka pendek, perpindahan artefak
sedikit praktis penting karena banyak pasien dapat berbaring
diam untuk cukup waktu yang lama untuk membuat rekaman.
Tetapi pada ruang intensif dan serangan jantung
membutuhkan untuk melakukan monitoring dalam jangka
waktu yang lama dan merekamnya sinyal ECG, sehingga
masalahnya menjadi lebih akut.
Banyak mekanisme pada umumnya yang menciptakan
sinyal artefak adalah elektroda slip. Jika slip elektroda, dari
ketebalan lapisan jelly atau pasta berubah tiba-tiba dan
perubahan ini tercermin sebagai perubahan kedua impedansi
elektroda dan elektroda offset potensial. Efek luar
menghasilkan artefak dalam sinyal yang direkam dan
mungkin bisa mengaburkan sinyal nyata atau diartikan
sebagai bioelectric bahkan oleh dirinya sendiri. dalam kasus
yang pertama, orang-orang medis mungkin akan mengenali
Artifak, mereka umumnya cukup baik dalam membedakan
artefak kotor yang memunculkan anomali serupa asli
berdasarkan fisiologis. Pada kasus terakhir, artefak dapat
menyebabkan salah tafsir dari bentuk gelombang dari isi
informasi.
Beberapa upaya telah dilakukan untuk memecahkan
masalah gerakan artefak dengan mengamankan elektroda yang
lebih erat pada kulit pasien. pita perekat kadang-kadang
digunakan untuk membantu elektroda pada penempatan,
namunhanya bekerja sementara waktu saja yang kemudian
elektroda akan menjadi longgar, dalam satu atau dua jam
masalah kembali muncul.
Solusi lain yang populer melibatkan penggunaan sedikit
kasar (berduri) untuk elektroda permukaan dengan cara
meletakkan (menggali) di bawah lapisan luar kulit bersisik.
tetapi elektroda ini sering membuat pasien tidak nyama, dan
biasanya gagal untuk memecahkan masalah sama sekali.
Gerakan artefak sangat yang parah di EKG laboratorium
pengujian stres. pasien berjalan di atas treadmill sambil sistem
pemantauan mencatat bentuk gelombang EKG. Elektroda
kolom tidak cukup baik dalam mengatasi artefak gerak, tapi
tetap saja sering diperlukan untuk staf medis melakukan tes
untuk membersihkan dan perlahan mengelupas kulit di mana
tempat elektroda terpasang.

C. Jarum Elektroda

elektroda permukaan dibahas sejauh ini adalah non
invasif. yaitu, mereka meletakkan pada kulit tanpa menusuk.
Pada gambar 17 menggambarkan elektroda jarum. jenis EKG
elektroda dimasukkan ke dalam jaringan langsung di bawah
kulit dengan menusuk kulit pada sudut miring yang besar
(Contoh, dekat ke horizontal sehubungan dengan permukaan
kulit). elektroda jarum hanya digunakan untuk kulit yang
sangat buruk, terutama pada pasien dibius. Infeksi merupakan
masalah dalam kasus ini, sehingga jarum elektroda yang baik
harus sekali pakai (satu penggunaan waktu) atau disterilkan
dalam gas etilen oksida.

D. Indwelling electrode
Indwelling electrode dimaksudkan untuk dimaksudkan ke
dalam tubuh ke dalam lapisan bawah kulit. Indewelling
electrode biasanya kecil, terpapar kontak logam di ujung yang
panjang, berisinggungan dengan kateter (gambar 18). Dalam
satu aplikasi, elektroda berulir melalui pembuluh darah pasien
(biasanya di lengan kanan) ke sisi kanan jantung untuk
mengukur gelombang intrakardiak EKG. Beberapa amplitudo
rendah, fasilitas frekuensi tinggi menjadi terlihat hanya pada
saat indeweeling electrode digunakan.









Gambar 17. Elektroda jarum EKG












Gambar 18. Indewelling elektroda

E. EEG Elektroda
Otak menghasilkan sinyal bioelektrik yang dapat diambil
melalui elektroda permukaan yang melekat pada kulit kepala.
Elektroda ini akan terhubung ke amplifier EEG yang
mendorong ke salah satu osiloskop atau strip chart recorder.
Elektroda EEG yang khas adalah jarum, seperti pada gambar
17, tetapi dalam banyak kasus itu memiliki diameter 1 cm
cekungan disc yang terbuat salah satu dari emas atau perak.
Elektroda disc ditempatkan pada pasta tebal yang sangat
konduktif, atau pada ikat kepala dalam aplikasi monitoring
tertentu.
IX. MIKROELEKTRODA
microelectrode adalah perangkat ultrafine yang digunakan
untuk mengukur biopotentials pada tingkat sel (gambar 19).
Dalam prakteknya, microelectrode menembus sel yang
direndam dalam cairan tak terbatas (seperti garam fisiologis),
yang pada gilirannya terhubung ke elektroda referensi.
meskipun beberapa jenis microelectrode kebanyakan adalah
salah satu dari dua bentuk dasar: kontak logam atau diisi
cairan. Pada kedua kasus, permukaan kontak yang terbuka
sekitar 1 sampai 2 m (1 m =10
-6
m) yang berada dalam
kontak dengan sel. seperti yang diharapkan, fakta ini membuat
microelectrode perangkat impedansi sangat tinggi.
Gambar 20 memperlihatkan konstruksi tipe mikroelektroda
gelas logam. Platinum atau tungsten kawat yang sangat halus
menyelinap pas melalui 1,5 hingga 2 mm kaca pipet. ujung
tergores dan kemudian api dibentuk lancip dengan
memperlihatkan sudut yang dangkal. Elektroda kemudian
dapat dihubungkan ke satu input dari penguat sinyal. ada dua
subcatagories dari jenis elektroda. dalam satu jenis, ujung
logam rata dengan ujung lancip pipet, sementara di sisi lain,
lapisan tipis dari kaca diliputi poin logam. Lapisan kaca ini
begitu tipis sehingga memerlukan pengukuran dalam
angstrom dan secara drastis meningkatkan impedansi dari
perangkat.


















Gambar 19. Mikroelektroda EKG tang mengukur potensial seluler.

























Gambar 20. Elektroda logamgelas

Cairan yang mengisi microelectrode ditunjukkan pada
Gambar 21. dalam jenis ini, pipet kaca diisi dengan larutan
kalium klorida 3M (KCL), dan ujung besar dibatasi dengan
sumbatan perak perak klorida. ujung kecil tidak perlu
dibatasi karena pembukaan 1 m cukup kecil untuk memuat
cairan.
Gambar 22 menunjukkan sirkuit setara disederhanakan
untuk microelectrode (mengabaikan kontribusi elektroda
referensi). Analisis rangkaian mengungkapkan masalah
akuisisi sinyal yang disebabkan oleh komponen RC. Resistor
R
1
dan kapasitor C
1
adalah hasil dari efek antarmuka
elektroda/sel dan sangat tergantung pada frekuensi. Nilai ini
jatuh ke titik yang dapat diabaikan pada tingkat 1 / (2F)
2
dan
pada umumnya jauh lebih rendah daripada R
s
dan C
2
.

















Gambar 21. Mikroelektroda yang berisi cairan












Gambar. 22. Rangkaian mikroelektroda ekuivalen

Resistansi Rs pada gambar 22 adalah resistensi menyebar
pada elektroda dan fungsi ujung diameter. Nilai Rs dalam
logam mikroelektroda tanpa lapisan gelas kira kira adalah:

R
s
=
P
4n
(9)

dimana

Rs adalah resistensi dalam ohm ()
P adalah resistifitas elektroda (contoh 70 cm untuk
larutan garam fisiologis)
r adalah ujung radius ( jenis 0,5 m untuk sebuah 1 -
m mikroelektroda)






Asumsi jenis nilai diatas, jumlah resistensi sebaran ujung
1 m mikroelektroda.

R
x
=
P
4n
(10)

R
x
=
70 cm
(4n)_0,5 m X _
10
-4
cm
1 m
]_
(11)

Rs =111,4 k

Pada impedansi lapisan gelas logam mikroelektroda
setidaknya satu atau dua urutan besarnya lebih tinggi dari
angka ini.
Untuk cairan yang terisi mikroelektroda kalium klorida
dengan sudut lancip (/180 radian), resistensi seri kira kira
adalah
R
s
=
2P
nu
(12)

dimana
R
s
adalah resistensi dalam ohm ()
P adalah resistifitas ( jenis 3,7 cm untuk 3M KCI)
r adalah ujung radius ( jenis 0,1 m)
adalah sudut lancip (jenis /180)

Kapsitansi mikroelektroda diberikan oleh

C
2
=
0,55c
n[
R
r
cm
pP
cm
(13)
dimana
e dielektrikum konstan pada gelas
R sebelah luar ujung radius
r ujung radius didalam (r dan R dalam unit yang sama)

bagaimana nilai-nilai ini mempengaruhi kinerja
microelectrode? Resistensi Rs n dan kapasitor C2 beroperasi
bersama-sama sebagai RC low-pass filter. misalnya klorida
microelectrode kalium direndam dalam 3 cm garam fisiologis
memiliki kapasitansi sekitar 23 pF. Kira-kira ini terhubung ke
input amplifier (15 pF) melalui 3 ft dari kabel berdiameter
kecil koaksial (27 pF / ft, atau 81 pF). Kapasitansi total adalah
(23 +15 +81) pF =119 pF, Mengingat 13,5 M-resistensi,
respon frekuensi (pada -3 dB titik) adalah

F =
1
2nRC
(14)

diamana
F poin -3 dB dalam hertz (Hz)
R Resistensi dalam ohm ()
C kapasitansi dalam farads (f)

Frekuensi respon 100 Hz, dengan a -6 dB per oktav
Karakteristik diatas 100 Hz, hasil pembulatan mengakibatkan
waktu potensial aksi cepat naik. strategi harus dirancang
dalam desain instrumen untuk menanggulangi efek kapasitansi
dalam elektroda impedansi tinggi.

A. Menetralakan Mikroelektroda Kapasitansi
Gambar 23 memperlihatkan metode standar untuk
menetralkan kapasitansi mikroelektroda dan menghubungkan
rangkaian. Sebuah kapasitasi netralisasi, Cn, adalah pada jalur
umpan balik positif bersama dengan tegangan potensiometer
pembagi. nilai kapasitansi ini adalah















Gambar. 23. Rangkaian kapasitansi null.


Cn =
C
A-1
(15)

Dimana
Cn adalah netralisasi kapasitansi
C adalah total input kapasitansi
A gain pada amplifier.

X. TRANSDUSER DAN SENSOR YANG LAINNYA
Transduser adalah bagian dari kelas keseluruhan dari
perangkat yang disebut sensor, yang juga mencakup elektroda
biofisik. masalah umum dengan transduser adalah mengacu
pada perangkat seperti pengeras suara dan satuan pengirim
ultrasonik. Maksudnya transduser adalah perangkat yang
mengkonversi energi dari bentuk lain menjadi energi listrik
untuk keperluan pengukuran atau kontrol.
Transduser berbeda dari elektroda dalam hal menggunakan
beberapa intervensi elemen transducible untuk membuat
pengukuran, sedangkan elektroda langsung mendapatkan
sinyal. Untuk contoh, transduser tekanan dapat menggunakan
perubahan resistansi dari elemen tautwire ketika terlentur
sebagai ukuran tekanan. Termistor bergantung pada
perubahan hambatan listrik dari beberapa bahan mengalami
perubahan suhu untuk mengukur temperature karena banyak
elemen menggunakan transduser piezoresistif terhubung ke
dalam sebuah jembatan Wheatstone.

A. Jembatan Wheatstone
Banyak transduser biomedis digunakan dalam konfigurasi
sirkuit yang disebut jembatan Wheatstone (gambar 24).
banyak jembatan tranducer tidak berdiri sendiri, sering
dihubungkan dengan komponen lain untuk membentuk sebuah
jembatan Wheatstone. Setiap diskusi tentang transduser
biomedis harus dimulai dengan pengenalan rangkaian
jembatan.




































Gambar. 24. Rangkaina J embatan Wheatstone. (a) rangkaian asli. (b)
Rangkaian asli yang digambar ulang

Jembatan Wheatstone pada gambar 24 menggunakan satu
resistor di setiap empat lengan. Sebuah baterai (E)
membangkitkan jembatan yang terhubung di dua
persimpangan resistor yang berlawanan (A dan B). Tegangan
output jembatan Eo muncul di pasangan yang tersisa dari
persimpangan resistor (C dan D).
Sirkuit yang asli digambarkan pada gambar 24 di
gambarkan kembali pada gambar 16 b, agar terlihat lebih
mudah.
Kita banyak menganalisis rangkaian jembatan Wheatstone
dengan terlebih dahulu memecahnya sirkuit menjadi E: R1 -
R2 dan R3-R4. Kedua jaringan ini adalah pembagi tegangan
resistor. pada kenyataannya, jembatan wheatsone dapat
dipandang sebagai pemisah untuk tegangan resistor secara
paralel di seluruh pasokan E. Tegangan output (Eo) adalah
perbedaan antara dua potensi tanah yang direferensikan Ec
dan Ed yang dihasilkan oleh jaringan pembagi. Dalam bentuk
persamaan, diketahui hubungan ini:

E
o
=E
c
- E
D
(16)

Tapi Ec dan Ed dapat dinyatakan dalam hal eksitasi
potensi E, dengan menggunakan pembagi tegangan sederhana
teorema

Ec =E x
R
2
R
1
+R
2
(17)

dan

E
D
=E x
R
4
R
3
+R
4
(18)

subtitusi pada persamaan diatas didapatkan output voltage
E
o
sebagai

E
o
LR
2
R
1
+R
2

-
LR
4
R
3
+4
(19)

E
o
=E_
ER
2
R
1
+R
2

ER
4
R
3
+4
] (20)

Kondisi nol dalam rangkaian jembatan Wheatstone terjadi
ketika tegangan output Eo adalah nol. tapi dari persamaan E
c

j.ika Eo adalah nol, maka baik eksitasi potensi E harus nol
(tidak benar) atau ekspresi di dalam tanda kurung harus sama
dengan nol (benar). Kondisi nol terjadi ketika:

E
C
=E
D
(21)
E
CB
=E
DB
(22)

dan

E
AC
=E
AD
(23)

jadi sama dibagi dengan yang setara adalah sama, dan

L
CB
L
AC
=
L
DB
L
AD
(24)

Jadi tidak ada aliran arus dari C ke D pada saat nol dan Ec
=Ed, kemudian dari gambar 24 b

I
ACB
R
1
I
ACB
R
2
=
I
ADB
R
3
I
ADB
R
4
(25)

Jadi

R
1
R
2
=
R
3
R
4
(26)

Persamaan 26 memberi kita kondisi yang diperlukan untuk
menjawab kondisi nol dalam sebuah jembatan Wheatstone.
Perhatikan bahwa tidak perlu resistensi harus sama, hanya
rasio sajayang sama (dari dua setengah pembagi tegangan
jembatan).
Karena kedua sisi persamaan mengevaluasi kuantitas yang
sama, kita dapat menyimpulkan bahwa jembatan dalam
kondisi null. jembatan dalam kondisi nol dikatakan seimbang.
Dalam banyak transduser biomedis menggunakan
jembatan Wheatstone, keempat perlawanan setara dalam
kondisi null. ini bukan merupakan persyaratan fisik yang ketat,
tetapi itu adalah cara pembuatan yang banyak dipilih untuk
membangun produk mereka. nilai R dalam kisaran khas 150-
800 .
Pada sebagian besar desain, kondisi nol terjadi ketika
parameter merangsang transduser berada pada nol atau nilai
yang telah ditentukan (misalnya tekanan atmosfer) yang
diambil menjadi dasar nol. stimulus (parameter yang diukur)
akan menyebabkan salah satu atau semua elemen ketahanan
jembatan untuk mengubah perlawanan oleh sejumlah kecil h.
(perhatikan bahwa h adalah beberapa waktu yang ditulis R,
yang berarti perubahan kecil dalam parameter R). ketika
stimulus yang diterapkan adalah nol, maka keempat resistor
memiliki resistansi R, dan tegangan keluaran adalah nol.
jembatan dalam kondisi null.
ketika stimulus tidak nol, setiap lengan mengambil
resistansi R h, dan hal ini membuat tidak seimbang sirkuit
untuk menghasilkan tegangan output yang sebanding dengan
nilai stimulus yang diterapkan.
XI. PENGUKURAN REGANGAN
Suatu alat ukur regangan (strain gauge) adalah elemen
resistif yang menghasilkan perubahan perlawanan
proporsional terhadap strain mekanik yang diterapkan. Strain
adalah gaya yang diberikan baik dalam kompresi (tarikan
sepanjang sumbu yang jauh dari pusat).
Pada gambar 25 menunjukkan batang logam kecil dengan
tidak ada gaya yang diberikan. Maka akan memiliki panjang L
dan luas penampang A. perubahan panjang yang diberikan
oleh L dan perubahan di daerah oleh A.
Pada gambar 25b kita lihat hasil dari menerapkan gaya
tekan ke ujung batang tersebut. panjang dikurangi menjadi L -
L, dan peningkatan luas penampang A +A.
Sama ketika gaya tarik yang sama besarnya diterapkan ke
batang, panjang meningkat menjadi L + L dan luas
penampang tereduksi menjadi A - A.
resistensi dari bar logam diberikan adalah jangka panjang
dan luas penampang di ekspresikan

R =[
L
A
(27)

diaman

adalah resistivitas yang unik konstan untuk jenis
bahan yang digunakan di bar pada ohm-meter (m).
L Panjang dalam meter(m)
A luas penampang dalam meter persegi (m
2
)


Persamaan dari 27 dikatakan kepada kita bahwa
resistensi bervariasi secara langsung dengan panjang dan
terbalik seperti bagian medan yang melintas. Diantara
fenomena itu yang terpenting adalah untuk pelaksanaan
resistensi tegangan alat ukur transducer.
Fenomena perubahan resistensi dengan perubahan
ukuran dan bentuk kadang-kadang disebut piezoresistivity.
Hambatan dari batang akan menjadi R + h dalam
ketegangan dan R - h dalam tekanan. Jika kamu memeriksa
Persamaan 27 dengan cermat, kamu akan mencatat sebuah
perubahan baik panjang dan luas penampang yang
cenderung meningkatkan daya tahan dalam ketegangan dan
decase resistensi dalam tekanan. Resistensi setelah tekanan
dalam daerah tegangan diterapkan rumusan:

(R +h) =
L+AL
A-AA
(28)

dan dalam sebuah kompresi

(R +h) =
L+AL
A-AA
(29)


















Gambar 25. Makanisme untuk piezoresistivitas. (a) Batang saat istirahat
(tidak ada gaya yang diberikan), (b) batang dibawah gaya tekan (C)
batang di bawah gaya tarik

Perubahan resistansi pada sekitar linier akan berubah
dalam dimesi kecil, asalkan L jauh lebih sedikit dibandingkan
L. Tentu saja, jika terlalu besar gaya yang diterapkan, yang
terbentuk adalah elastisitas modulus. Hal ini kemudian
berguna sebagai transduser.

A. Faktor Ukuran
Faktor Ukuran (GF) untuk ukuran tegangan sebuah
transduser adalah dengan cara membandingkan transduser
jenis lainnya. Definisi faktor ukuran:

GF =
AR/ R
AL/ L
(30)

GF adalah faktor ukuran (berdimensi)
R adalah perubahan resistansi dalam ohm
R adalah resistansi longgar dalam ohm
L adalah perubahan panjang dalam meter (m)
L adalah panjang dalam meter

Faktor Pengukur memberi kita sarana untuk mengevaluasi
sensitivitas yang relatif dari elemen pengukur tegangan.
Semakin besar perubahan resistansi per unit panjang
perubahan, semakin besar sensitivitas elemen dan semakin
besar faktor pengukur nya.
Persamaan 6-30 kadang-kadang diberikan dalam bentuk
alternatif

GF =
AR/ R
s
(31)

di mana E (tegangan) adalah faktor dari AL / L.

B. Jenis Pengukuran Tegangan
Ada dua bentuk dasar piezoresistif pengukur tegangan
yaitu: terikat dan tak terikat. Gambar 6-26a menunjukkan
contoh singkat dari pengukur tegangan terikat. Elemen
resistensi adalah kawat tipis dari paduan khusus yang
terbentang kencang antara dua pendukung yang fleksibel,
pada gilirannya terpasang pada diafragma logam tipis. Ketika
kekuatan seperti F1 diterapkan, diafragma akan melentur
dengan cara yang menyebar pada dukungan lebih lanjut,
kemudian menyebabkan ketegangan meningkat dalam kawat
resistansi. Ketegangan ini cenderung meningkatkan ketahanan
kawat dalam jumlah sebanding dengan gaya yang diterapkan.
Demikian pula, jika kekuatan seperti F2 diterapkan pada
diafragma, bagian ujung mendukung bergerak lebih dekat
bersama-sama, mengurangi ketegangan dalam kawat yang
kencang. Tindakan ini sama dengan menerapkan gaya tekan
aa ke kawat. Hambatan listrik dalam hal ini akan berkurang
dalam jumlah sebanding dengan gaya yang diterapkan.
Sebuah ikatan pengukur tegangan dibuat dengan kawat
tipis atau elemen foil untuk diafragma, seperti yang
ditunjukkan pada gambar 26b. Meregangkan diafragma pada
elemen deforms, menyebabkan perubahan dalam hambatan
listrik persis seperti dalam pengukur tegangan terikat.
Pengukur regangan yang tak terikat dapat dibangun secara
linear sehingga pada bagian atas berbagai gaya yang
diterapkan, tetapi sangat halus. Pengukur tegangan terikat, di
sisi lain, umumnya lebih kasar tetapi secara linear pada
rentang yang lebih kecil dari daya. Perhatikan dengan baik,
bagaimanapun, bahwa tidak ada pengukur regangan
piezoresistive yang mengambil jumlah besar penyalahgunaan,
dan harus selalu diperlakukan sebagai instrumen yang lembut.
Banyak transduser pengukur tegangan biomedis dari
terikat dengan konstruksi karena rentang linear memadai dan
kekasaran ekstra merupakan fitur yang diinginkan di
lingkungan medis, di mana orang tidak dapat mengambil jenis
tindakan pencegahan yang akan diperlukan jika tipe yang
lebih halus digunakan. Catatan, bagaimanapun, bahwa
Statham deretan P-23 adalah dari jenis yang tak terikat tetapi
dibuat di perumahan yang sangat kuat. Ini di antara transduser
tekanan diovascular mobil yang paling umum digunakan
dalam pengobatan.


















Gambar. 26. Pengukuran regangan Piazoresistif; (a) tak terikat ukur
regangan (b) ukuran regangan terikat
Sangat sedikit transduser fisiologis pengukur tekanan yang
menggunakan elemen tunggal, sebagian besar menggunakan
empat elemen pengukur tekanan, yang dihubungkan dalam
rangkaian jembatan Wheatstone. Dalam jenis yang tak terikat,
akan ada empat pendukung, satu untuk setiap persimpangan
jembatan. Dua elemen resistensi akan terhubung ke setiap
dukungan. Dalam berbagai jenis ikatan akan ada foil atau
kawat elemen yang disusun dalam penataan jembatan.
Kedua jenis transduser ditemukan dengan geometri elemen
yang menempatkan dua unsur dalam ketegangan dan dua
elemen dalam himpitan untuk setiap gaya yang diterapkan.
Konfigurasi seperti meningkatkan ke luar dari jembatan untuk
setiap gaya yang diterapkan sehingga meningkatkan
sensitivitas transduser.
Gambar 27a menunjukkan sebuah jembatan Wheatstone
dengan elemen pengukur tekanan untuk masing-masing empat
lengan jembatan. Kita mungkin menemukan bahwa R
1
dan R
4

selaras sejajar satu sama lain sepanjang satu sumbu dari
diafragma, sedangkan resistor R
2
dan R
3
yang sejajar satu
sama lain dan tegak lurus terhadap R
1
/R
4
.
Pertimbangkan kekuatan yang diterapkan pada diafragma
transduser seperti gambar 27b. Resistor R
1
dan R
3
berada
dalam ketegangan.































Gambar 27. Pengukuran regangan J embatan Wheatstone. (a) elemen ukur
regangan dalamrangkaian jembatan. (b) konfigurasi mekanik menggunakan
diafragma umum

Asumsikan bahwa semua resistor adalah sama (R
1
=R
2
=
R
3
=R
4
=R) ketika tidak ada gaya yang diterapkan pada
diafragma, dan membiarkan R =h. Ketika sebuah gaya yang
diterapkan, resistansi R
1
dan R
4
akan R +h, dengan resistensi
dari R
2
dan R
3
akan Rh. Dari sebuah versi Persamaan yang
ditulis ulang adalah 20, kita tahu bahwa tegangan yang keluar
adalah

Eo =E x j
(R-h)
(R+h)+ (R-h)

(R+h)
(R-h)+ (R+h)
[ (32)
Eo =E x j
(R-h)
2R

(R+h)
2R
[ (33)
Eo =E[
h
R
= E [
AR
R
(34)
Eo =-E [
AR
R
(35)

C. Sensitivitas Transducer ()
Sensitivitas transduser adalah penilaian yang
memungkinkan kita untuk memprediksi tegangan dari luar
pengetahuan tentang perangsangan tegangan dan nilai
stimulus yang diterapkan. Satuan untuk mengetahui volt yang
paling kecil dengan rangsangan setiap satuan yang diterapkan
pada stimulus. (V/V/U)
Mari kita mempertimbangkan daya transduser. Sebuah
daya tertentu biomedis transduser biasanya dikalibrasikn
dalam gram. Sebelum kamu menyanggah bahwa ini menjadi
salah (gram adalah satuan masa), marilah kita bergegas
menunjukkan bahwa daya dalam hal ini akan menjadi daya
tarik gravitasi bumi pada masa dari 1 g. Konvensi ini
memungkinkan kalibrasi daya transduser menggunakan
metrik sederhana dengan berat set dari keseimbangan platform,
sebagai lawan gaya konvensional dalam dyne (1 g-daya =980
dyne).
Jika faktor sensitivitas dikenal transducer, maka tegangan
luar dapat dihitung dari E. dimana:

Eo = x E xF (36)



dimana:
E adalah potensi luar pada volt (V)
E adalah potensi eksitasi dalam volt
F adalah gaya yang diberikan dalam gram (g)
adalah sensitivitas dalam V/V / g

Perhatikan bahwa sensitivitas yang terpenting baik dalam
desain dan perbaikan alat-alat medis adalah karena
memungkinkan kita untuk memprediksi hasil tegangan untuk
tingkat stimulus yang diberikan, dan oleh karena itu perolehan
dari pengeras diperlukan untuk memproses sinyal.

D. Bagian-Padat piezoresistif Pengukur regangan

Di masa lalu, sebagian besar transduser pengukur
regangan dibuat menggunakan elemen kawat atau elemen
logam vakum yang disimpan. Namun sekarang, banyak
perangkat pengukur regangan didasarkan pada teknologi
silikon bagian-padat, di mana semua empat elemen jembatan
Wheatstone terbentuk dari bahan semikonduktor piezoresistif.
Beberapa dibuat mirip dengan pengukur regangan Berikat
(yaitu bahan yang disimpan atau disebarkan ke diafragma).
Lainnya menggunakan desain penopang di mana unsur-unsur
semikonduktor piezoresistif didukung antara pendukung tetap.

XII. TRANSDECER INDUKTIF
Hampir semua properti listrik yang dapat dibuat bervariasi
dengan cara yang dapat diprediksi di bawah pengaruh
stimulus fisik dapat digunakan untuk transduksi stimulus itu.
Induktansi, misalnya, dapat divariasikan dengan mudah oleh
gerakan fisik dari inti permeabel dalam sebuah induktor.
Induktor, dapat digunakan untuk membuat transduser. pada
kenyataannya, tiga bentuk dasar dari transduser induktif,
lingkaran tunggal, reaktiv pada jembatan Wheatstone, dan
tegangan transformator linear (LVDT) yang diferensial.
Tipe pertama, perangkat kumparan tunggal, jarang
digunakan dalam peralatan modern. Mereka dibangun seperti
mikrofon dinamis, di mana diafragma mempengaruhi baik
posisi besi atau inti ferit dalam kumparan atau lapangan dari
inti terbentuk dari magnet permanen.
Sebuah gaya diterapkan pada diafragma menciptakan arus
dalam gulungan yang terakhir dan perubahan induktansi yang
dahulu.
Sebuah contoh dari jembatan transducer induktif
ditunjukkan pada Gambar 6-28a. Fungsi dari hasil luar untuk
transduser ini ditunjukkan pada gambar 6-28b. Rangkaian
jembatan Wheatstone terdiri dari reaksi kumparan induktif L1
dan L2 ditambah 200 hambatan.
Perhatikan bahwa arus yang berselang (ac) perangsangan
diperlukan karena reaktansi kumparan adalah nol ketika dc
diterapkan. Hewlett-Packard biasanya menggunakan
perangsang sinyal 2400Hz di 5V (rms). Produsen lain
menggunakan sebanyak 10 V (rms) pada frekuensi antara 400
dan 5000 Hz.
Model Hewlett-Packard 1280 transduser ditunjukkan pada
Gambar 6-28a digunakan untuk pengukuran arteri dan tekanan
darah vena di mm Hg. (Perhatikan bahwa satuan yang
diterima dari tekanan torr (1 torr =1 mm Hg). Dalam ilmu
kedokteran, bagaimanapun juga, istilah mm Hg masih
digunakan setiap saat).
Transduksi terjadi karena perubahan posisi pada inti
induktor. Tapi ini hanya menghasilkan data posisi kecuali
gaya yang diterapkan beroperasi terhadap beberapa kekuatan
lain, seperti pegas. Gaya yang dibutuhkan untuk mengompres
atau meregangkan pegas diberikan oleh hukum Hooke: F =-kx,
di mana istilah X adalah perpindahan (perubahan posisi).
Pada nol tekanan pengukuran (diafragma transduser
terbuka ke udara) diafragma tidak menggembung di kedua
arah, sehingga inti armature dipindahkan sama di kedua L1
dan L2 adalah sama, sehingga jembatan ini seimbang. Tidak
akan ada tegangan dari luar.
Ketika tekanan di atas atau di bawah tekanan atmosfir
diterapkan, diafragma menjadi kembung dalam satu arah, dan


Gambar.28. Pengukuran regangan J embatan Wheatstone Induktif (a)
Rangkaian untuk model H-P (b) fungsi output.

ini memaksa dinamo menjadi satu kumparan dari yang lain.
Reaktansi induktif masing-masing L1 dan L2 tidak lagi sama,
sehingga jembatan tidak seimbang dan tegangan di luar
berkembang. Amplitudo dari sinyal ac-luar sebanding dengan
besarnya tekanan yang diterapkan, sedangkan fase
menunjukkan apakah tekanan positif (kompresi) atau negatif
(vakum) (gambar 6-28b). Sensitivitas transduser dalam hal ini
adalah sekitar 40 V / V / mm Hg.
Catatan pada Gambar 28a bahwa tegangan luar pada jarum
A perangkai diambil dari penyeka dari potensiometer. Kontrol
sensitivitas ini digunakan untuk memangkas perbedaan-
perbedaan normal antara transduser, sehingga instrumen-
tekanan pemantauan dapat dengan mudah dikalibrasi oleh
operator yang kurang terampil.
Sebuah contoh dari sebuah transducer LVDT ditunjukkan
pada Gambar 29. Ini adalah transformator dengan primer (L1)
dan dua sekunder (L2 dan L3). Para sekunder yang terhubung
dalam arti yang berlawanan sehingga arus masing-masing
cenderung membatalkan satu sama lain. Ketika stimulus














Gambar. 29. Perbedaan voltase linier transformer.
















Gambar. 30. Tekanan kuarsa Transduser Homogen yang melebur tekanan
kuarsa

adalah nol, inti mempengaruhi L2 dan L3 sama sehingga saat
ini jumlah pembatalan dan oleh karena itu, tegangan keluaran
adalah nol.
Sinyal perangsang ac diterapkan ke area utama. Ketika
stimulus diterapkan pada diafragma, yang dipindahkan pada
inti. Reaktansi induktif dari L2 dan L3 tidak lagi sama,
sehingga arus masing-masing tidak lagi sama. Pembatalan
arus sekunder kurang dari jumlah, sehingga arus mengalir
dalam beban lebih menciptakan sinyal tegangan dari luar.
Tegangan dari luar ini memiliki kekuatan sebanding dengan
rangsangan yang diterapkan dan tahap ini menunjukkan arah
inti yang dipindahkan. Dalam kasus transduser tekanan, ini
akan memberitahu kita apakah tekanan positif atau negatif.
XIII. TEKANAN SENSOR KUARSA
Bentuk lain sensor modern, terutama dalam pengukuran
tekanan medis, adalah kuarsa transduser. Perangkat ini pada
dasarnya kapasitasnya berdasarkan (lihat bagian 16) tetapi
dibuat berbeda daripada transduser kapasitas lainnya. Kapsul
sensor, tekanan perangkat ini terbuat dari homogen leburan
kuarsa (gambar 30). Ada dua kapasitor dalam kapsul:
kapasitor tekanan (Cp) dan kapasitor referensi (Cref). Pelat
kapasitor terbuat dari logam mulia yang telah disimpan ke
permukaan pada masing-masing kursa kapsul.












Gambar.31. Rangkaian Osilator

Kapasitor ini terhubung dalam susunan seri ratiometric
(gambar 30) sehingga perbedaan sifat dielectric, dari bahan
kuarsa kompensasi. Kapasitor dapat dihubungkan dalam
rangkaian kapasitif jembatan, RC rangkaian jembatan
campuran (keduanya mirip dengan jembatan Wheatstone),
atau dalam rangkaian osilator (Gambar 31). Beberapa sirkuit
ini dibahas dalam bagian 6-16 juga.
Keuntungan dari transduser kuarsa termasuk tingkatan
yang sangat rendah (beberapa sumber mengklaim nol)
hysteresis, tingkat yang sangat rendah dalam prosentase logam
dan paduan sehubungan dengan kristal, tingkat yang sangat
rendah pada kepekaan temperatur, sifat yang sangat elastis,
dan kasar.
XIV. KAPASITIF TRANSDUCER
Kapasitif transducer lain yang terlihat sesekali adalah
logam plat pada kapasitif transduser. Ini menyebabkan
kapasitansinya dari transducer untuk stimulus. Karena
kapasitansinya digunakan, diperlukan sebuah rangsangan ac.
Di hampir semua jenis, kapasitif transduser menggunakan
pelat seimbang atau piring yang melekat pada kerangka mesin
dan kemudian piring bergerak mengubah posisi di bawah
pengaruh stimulus. Ingat bahwa kapasitansi sebuah pelat
kapasitor yang paralel itu bervariasi, secara langsung dengan
daerah piring dan berbanding terbalik dengan pemisahan
antara pelat. Salah satu atau kedua dapat bervariasi dalam
transduser tertentu.












Gambar 32. Transduser kapasitansi sederhana
















Gambar. 33. Piringan kupu kupu transducer.

Salah satu bentuk transduser berkapasitif terdiri dari disc
logam paralel padat pada diafragma logam fleksibel, dua
elemen yang dipisahkan oleh udara atau dielektrik pada
vakum (gambar 32). Konstruksi ini sangat mirip dengan yang
ada pada kapasitor mikrofon, yang sebenarnya transduser
untuk gelombang suara. Ketika sebuah gaya yang diterapkan
pada diafragma, ia akan bergerak baik dekat atau lebih jauh
dari disc stasioner. Hal ini meningkatkan atau menurunkan
kapasitansinya masing-masing.
Bentuk lainnya yang dikenal (gambar 33) menggunakan
pelat logam stasioner (yaitu stator) dan piring bergerak
berputar. Lempeng bergerak biasanya berbentuk kupu-kupu.
Kapasitansiny bervariasi karena posisi rotor menentukan
berapa dari pelat stator yang dilindungi oleh rotor. Hanya pada
satu posisi saja akan membayangi paling besar, sehingga
kapasitansi juga akan besar. Pada 90 rotasi dari posisi itu,
bayangan terkecil, sehingga kapasitansi juga sedikit.





Gambar. 34. Perbedaan transducer kapasitansi. (a) Struktur mekanik. (b)
Simbol skema












Gambar .35. Transduser elektometer

Gambar 34 masih menunjukkan bentuk lain dari
kapasitansi transduser. Dalam jenis transduser, pelat logam
bergerak (P
3
) ditempatkan di antara dua pelat stasioner (P
1
dan
P
2
). Ini membentuk perbedaan kapasitor yang terdiri dari dua
bagian (gambar 34b). Kapasitor C
1
adalah kapasitansi antara
pelat P
1
dan P
3
sementara kapasitansi C
2
adalah kapasitansi
antara pelat P
2
dan P
3
. Ketika sebuah gaya yang diterapkan
pada pelat diafragma, P
3
akan bergerak lebih dekat satu pelat
ujung dari yang lain. Bila gaya ini dalam arah yang
ditunjukkan oleh panah, maka P
3
lebih dekat ke P
2
dibanding
P
1
, sehingga kapasitansi C
2
lebih besar dari C
1
. Dalam situasi
yang berlawanan pelat bergerak lebih dekat ke P1 dibanding
P
2
, sehingga kapasitansi C
1
lebih besar dari C
2
.
Ada beberapa cara untuk menggunakan transduser yang
kapasitansinya dalam rangkaian peralatan. Salah satu metode,
meskipun jarang digunakan dalam aplikasi biomedis, adalah
menjadikan transduser sebagai bagian dari aliran resonansi LC
yang mengendalikan frekuensi osilator. Perubahan kapasitansi
di bawah berpengaruh pada stimulus yang akan berfrekuensi
dalam osilator (yaitu, akan mengatur frekuensi) jumlah
sebanding terhadap stimulus.




















Gambar. 36. J embatan wheatstone kapasitif

Cara lain, yang ditunjukkan pada Gambar 35, disebut
teknik elektrometer. Dalam aliran ini, kapasitansi transduser
dibebankan melalui sumber arus konstan (R1 dan E).
Tegangan kapasitansi (tegangan diterapkan untuk memasukan
dari penguat) tergantung pada kapasitansi, yang sebanding
dengan stimulus yang diterapkan.
Salah satu metode yang paling umum adalah dengan
menggunakan transduser kapasitor di salah satu lengan
jembatan Wheatstone (Gambar 36). Dua lengan jembatan
adalah resistensi, sementara dua lengan reaktansi kapasitif.
Kapasitor C1 mewakili kapasitansi transduser, sedangkan C2
adalah kapasitansi dari penghias kapasitor variabel yang
digunakan untuk menyeimbangkan jembatan dalam kondisi
stimulus nol.
Dalam beberapa kasus resistor R2 akan menjadi bagian
kedua dari perbedaan kapasitor. Dalam kondisi stimulus nol
kapasitansi C2 dan kapasitansi yang menggantikan R2 pada
Gambar 36 akan sama, tetapi di bawah pengaruh stimulus,
perubahan hubungan dan keseimbangan yang rancu.
XV. TRANDUCER TEMPERATURE
Ada tiga jenis umum transduser suhu: termokopel,
termistor, dan solid-state PN junction. ini, dua terakhir
menemukan penggunaan terbesar dalam aplikasi klinis,
sedangkan ketiganya digunakan dalam aplikasi penelitian
biomedis dan biofisik.





























Gambar 37. Tiga tipe transduser temperatur. (a) thermocouple. (b) Thermistor.
(c) PN junction
Termokopel (gambar 37a) terdiri dari dua konduktor
yang berbeda atau semikonduktor bergabung bersama di
salah satu ujungnya. Karena fungsi kerja dari dua bahan
yang berbeda, potensi akan dihasilkan ketika persimpangan
ini dipanaskan. Potensi adalah linier dengan perubahan
temperatur pada kisaran yang relatif luas, meskipun pada
batas yang ekstrim suhu untuk pasangan material yang
diberikan menjadi nonlinier dan meningkat tajam.
Transistor (resistor termal) adalah resistor yang desain
untuk mengubah nilai dengan cara yang dapat diprediksi
dengan perubahan suhu (gambar 37b). Koefisien suhu
positif (PTC) perangkat meningkatkan daya tahan dengan
meningkatnya suhu.
Sebagian besar termistor memiliki kurva non linier
ketika kurva diplot pada rentang temperatur yang luas, tetapi
ketika terbatas pada kisaran suhu yang sempit (seperti suhu
tubuh manusia), linieritasnya lebih baik. ketika termistor
yang digunakan, perlu untuk memastikan bahwa suhu tidak
diperbolehkan pergi ke kisaran dimana kalibrasi yang tidak
diketahui atau sangat nonlinier. kebanyakan transduser suhu
medis adalah termistor.
Kelas terakhir dari transduser termal adalah solid-state
PN junction dioda (gambar 37c). jika Anda mengambil
penyearah solid-state dioda biasa dan menghubungkannya
melintasi ohmmeter, Anda dapat mengamati fenomena ini.
perhatikan resistance bias maju pada suhu kamar, dan lalu
panaskan dioda untuk sementara dengan lampu atau solder.
resistansi dioda turun dengan meningkatnya suhu.
Kebanyakan suhu transduser, bagaimanapun,
menggunakan transistor bipolar dihubungkan dioda-seperti
yang pada gambar 37c. kita tahu bahwa tegangan basis-
pemancar dari transistor sebanding dengan suhu. untuk
pasangan diferensial dalam gambar 37c tegangan keluaran
transduser adalah

V
be
=
K11n
I
c1
I
c2
q
(37)

dimana
K konstanta Blotzman (1,38 X 10
-23
J/
o
K)
T Temperature dalam derajat kelvin (0
o
C =273
o
K)
q Nilai Elektronik, 1,6 X 10
-19
coulomb per electron
I
c2
dan I
c2
pengumpulan arus Q
1
dan Q
2
berturut turut.

Kuantitas K / q adalah rasio konstanta dan konstan dalam
semua keadaan. rasio Ic1/Ic2 saat ini tetap konstan dengan
menggunakan sumber arus konstan dalam rangkaian
pemancar dari Q1 dan Q2. tentu saja, logaritma dari
konstanta adalah juga sebuah konstanta. jadi satu-satunya
variabel dalam persamaan 37 adalah temperatur.
sirkuit pada gambar 37c memiliki satu keuntungan yang
berbeda atas informasi yang lainnya: yaitu luas linier atas
sebagian besar suhu (sampai ke titik di mana termistor
rusak), sehingga tegangan keluaran V
be
dapat diproses
dalam amplifier sederhana dan tidak memerlukan sirkuit
khusus untuk melinearkan hasil.
Jika sebuah penguat gain cocok dipilih dan diberikan,
maka suhu dan tegangan keluaran penguat dapat dibuat
secara numerik yang setara, memungkinkan perangkat
voltmeter pembacaan dengan mudah. kebanyakan sistem
instrumen tersebut ditingkatkan untuk menghasilkan
tegangan output amplifier dari 10 mV/K
XVI. MENCOCOKAN SENSOR UNTUK RANGKAIAN
Gambar 38 menunjukkan serangkaian berbagai bentuk
model rangkaian sensor. Dalam setiap rangkaian, arus
resistansi sumber R ditampilkan, dan (dalam beberapa
sirkuit) sumber tegangan ditampilkan.
Pada 38 a menunjukkan standar single-ended sensor
ground. single-ended berarti satu sisi sirkuit sensor ground.
jika tidak ada bagian yang di bumikan (ground), maka
sensor dikatakan single-ended floating sensor. (gambar 38b).
sinyal output direferensikan baik ke ground atau ke titik
tunggal umum non ground. Bentuk ini kadang-kadang
mengalami gangguan serius dari bidang eksternal, terutama
di hadapkan frekuensi yang audio yang kuat, frekuensi radio,
atau bidang listrik sebesar ac 60 Hz ac. Variasi pada single-
ended floating digerakkan dari sensor ground yang
ditunjukkan pada Gambar 38c.
Jika sensor mendorong output melalui resistensi yang
sama, dikatakan seimbang. Gambar 38d menunjukkan
contoh dari sensor ground seimbang. pada bentuk rangkaian
output, sensor dirujuk ke ground melalui resistensi yang
sama (baik menunjuknya R). Versi ditunjukkan pada
Gambar 38e adalah contoh dari sebuah sensor mengambang
seimbang. yaitu, sensor terhubung ke non ground di titik A
dan output hingga dua resistensi yang sama R. Titik penting
untuk diingat tentang sensor mengambang seimbang adalah
bahwa keduanya seimbang dan tidak dibumikan. Akhirnya,
pada gambar 38f kita melihat digerakkan dari rangkaian
sensor ground yang seimbang.


















Gambar 38. Konfigurasi umber sinyal input
























Gambar. 39. (a) Rangkain sirkuit Single-ended; (b) Input diferensial; (c)
Rangkaian Ekuivalen amplifier single ended; (d) Rangkaian ekuivalen
differnsial amplifier.

A. Rangkaian Amplifier Input

rangkaian output dari sensor biasanya terhubung ke sirkuit
pemrosesan sinyal, paling sering amplifier dari berbagai
macam (meskipun sirkuit tertentu juga digunakan kadang-
kadang). Sayangnya, ada beberapa jenis yang berbeda dari
masukan rangkaian amplifier, dan tidak semua sensor dapat
dengan mudah dihubungkan dengan mereka semua. Gambar
39 menunjukkan empat tipe dasar dari rangkaian input.
Gambar 39a menggambarkan sirkuit tipe 1 dan penguat
berakhir tunggal. Sirkuit input dimodelkan sebagai
perlawanan ke ground. Gambar 39b menunjukkan sirkuit tipe
2 yang dimodelkan sebagai sepasang input diferensial yang
melihat resistensi sama dengan ground.
Di kedua rangkaian output adalah sumber tegangan secara
seri dengan output resistansi. gambar 39c menunjukkan sirkuit
input tipe 3, berakhir tunggal, mengambang, dan terlindung.
Input yang menyerupai reguler menunjukkan input yang
berakhir tunggal dalam gambar 39a, tapi input didasarkan dan
dilindungi dari interfensi oleh perisai. Pada gambar 39 d kita
melihat sirkuit input tipe 4. Sirkuit ini menyerupai tipe 2,
kecuali rangkaian input dilindungi oleh perisai, mengambang,
dan dijaga.

B. Pencocokan sensor dan amplifier

Seseorang tidak bisa hanya menghubungkan berbagai
bentuk sensor terhadap berbagai bentuk masukan amplifier
tanpa pertimbangan yang cermat. Gambar 40 menunjukkan
tabel umum yang berkaitan dengan sensor dan amplifier
sirkuit. "ya" di blok berarti bahwa kombinasi (baris vs kolom)
yang direkomendasikan. "tidak" berarti ada masalah dengan
itu kombinasi praticular, sehingga tidak direkomendasikan.
Ada dua kombinasi yang mungkin atau mungkin tidak
bekerja, tergantung pada keadaan, sehingga derajat yang sama
hati-hati diperlukan. untuk contoh pencampuran input
rangkaian tipe 1 dengan bentuk sirkuit output sensor
memerlukan pertimbangan tingkat sinyal. kombinasi ini tidak
boleh digunakan ketika output dari sensor di mikrovolt atau
millivolt jangkauan. juga, itu bukan ide yang baik untuk
mencampur dua tanah, yaitu, masing-masing pada amplifier
dan sensor. Salah satu ground harus dihilangkan atau mereka
harus bergabung bersama dalam satu titik (juga disebut
bintang) tanah. Masalah yang sama terjadi ketika bentuk
sensor dan amplifier Input tipe 2 dihubungkan. beberapa
penguat diferensial dapat diubah menjadi penguat tunggal
berakhir.



















Gambar 40. Bagan persimpangan jenis masukan penguat dan sumber sinyal
XVII. RINGKASAN
A. Ketika elektroda logam dikommbinasikan untuk kulit, half
cell potential gabungan dari dua atau lebih elektroda
membentuk elektroda untuk potensial elektroda offset.
polarisasi terjadi ketika dc mengalir melalui antarmuka
elektroda/kulit
B. Piring dan cangkir hisap elektroda digunakan untuk
membuat rekaman jangka pendek potensi bioelectric.
Dalam semua kasus pasta atau gel elektrolit digunakan
antara permukaan elektroda dan kulit.
C. Banyak transducer biomedis didasarkan pada prinsip
jembatan wheatstone.
D. pengukur regangan dibatasi dan tidak dibatasi
menggunakan prinsip piezoresistivity untuk membuat
tekanan dan kekuatan transduser.
E. tiga jenis dasar suhu pengukuran transduser adalah
termokopel, termistor dan solid state PN junction.
F. Transduser atau sensor harus memiliki beberapa
transducible property agar dapat digunakan.
G. Transduser dapat dibagi menjadi tipe aktif dan pasif.
H. Transduser dan sensor dapat dibagi menjadi 5 katagori:
insertion, aplication, charactristic, dynamic, dan
environmental.

REFERENSI
[1] J .J . Carr and J .M. Brown, Introduction to Biomedical Equipment
Technology, 4th ed., New J ersey, USA; prentice Hall, 2001.