Anda di halaman 1dari 4

Nama Mahasiswa NIM FK Trisakti

: Shanti Handayani : 03008224

Dyspnea didefinisikan sebagai pernapasan yang abnormal atau kurang nyaman dibandingkan dengankeadaan normal seseorang sesuai dengan tingkat kebugarannya. Dyspnea merupakan gejala yang umum ditemui dan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi dan etiologi. Organ yang paling sering berkontribusi dalam dyspnea adalah jantung dan paru. Mekanisme pernafasan : Inspirasi Udara masuk rongga dada membesar diafragma mendatar Ekspirasi Udara keluar rongga dada mengecil diafragma melengkung Dyspnea atau yang biasa disebut sesak napas merupakan manifestasi penting untuk penyakit kardiopulmoner, selain itu dapat pula ditemukan pada penyakit neurogenik, metabolic, saluran pencernaan, dan ginjal. Secara normal, manusia dapat menderita dyspnea akibat aktivitas fisik yang berat, namun napas akan kembali normal setelah istirahat selama beberapa menit. Dalam banyak keadaan, dyspnea merupakan salah satu gejala dari kelainankelainan dalam tubuh. Misalnya dyspnea pada penderita asma, COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease), pneumonia. Selain karena penyakit paru, dyspnea dapat juga terjadi akibat kelainan di jantung, misal pada heartfailure, congestive heart disease. Gabungan antara penyakit paru dan jantung juga dapat menimbulkan dyspnea yang berat. Terdapat juga berbagai penyebab lain yangmemungkinkan terjadinya dyspnea seperti gangguan psikogenik, anemia, dll.

Pasien

sebelum

pemeriksaan

sebaiknya

ditanyakan

penggambaran

dari

ketidaknyamanannya seperti efek dari posisi mereka, apakah ada infeksi, atau adanya stimulus lingkungan dan posisi pada dyspnea, contohnya ada 3 : 1. Dispnea yang terjadi pada posisi berbaring. 2. Dispnea yang terjadi pada posisi tegak dan akan membaik dalam posisi berbaring. 3. Jika dengan posisi bertumpu pada sebuah sisi dapat bernafas lebih enak Etiologi Menurut etiologi berdasarkan organ yang penting : 1. Kardiak : Gagal jantung, Penyakit koroner, Kardimiopati, Disfungsi katup, Hipertrofi ventrikel kiri, Hipertrofi katub asimetris, Perikarditis 2. Pulmonal : Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), Asma, Penyakit paru restriktif, Penyakit paru herediter, Pneumotoraks 3. Gabungan kardiak atau pulmonal : PPOK dengan hipertensi pulmonal atau cor pulmonal, Emboli paru kronik, Trauma Etiologi Kardiak AKUT Iskemia atau infark miokard Regurgitasi mitral akibat ruptur korda Terjadi atrial fibrilation pada penyakit katub mitral dan aorta Non Kardiak AKUT Emboli paru Pneumothorax Asma Sindroma hiperventilasi KRONIK Disfungsi ventrikel kiri Penyakit katup mitral dan aorta Miksoma atrium

KRONIK Penyakit paru obstruktif Hipertensi pulmnal Kelainan dinding dada Anemia Kegemukan dan kurang fit

Untuk mengetahui sesak napas sudah berapa lama bermanifestasi, maka dibagi menjadi : Akut, Subakut dan Kronis.

Sesak nafas akut (selama beberapa jam sampai hari) :

Saluran pernafasan (serangan akut asma), Parenkim paru (acute pulmonary edema atau proses infeksi akut seperti bakterial pneumonia), Rongga pleura (pneumotoraks. fracture) Vaskularisasi paru (emboli paru) Sesak nafas subakut (selama beberapa hari hingga minggu) :

Eksaserbasi penyakit saluran nafas yang ada sebelumnya (asma atau chronic bronchitis) Infeksi parenkimal yang berjalan lambat (Pneumocystis carinii, pneumonia pada pasien AIDS, mycobacterial or fungal pneumonia) Proses inflamasi non-infeksi yang berjalan relatif lambat (Wegeners granulomatosis, eosinophilic pneumonia, bronchiolitis obliterans with organizing pneumonia, dll) Penyakit neuro muskular (Guillain-Barre syndrome, myasthenia gravis), Penyakit pleura (efusi pleura dengan berbagai penyebab atau penyakit jantung kronik) Sesak nafas kronik (selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun)

Penyakit paru obstruksi kronik, penyakit paru interstisial kronik, atau penyakit jantung kronik.

Gambaran klinis : 1. Dyspnea d effort (exertional dyspnea) : Sesak nafas pada waktu melakukan kerja fisik tetapi menghilang setelah istirahat selama beberapa waktu. 2. Paroxysmal nocturnal dyspnea: Sesak nafas timbul sewaktu tidur malam hari sehingga pasien terbangun dan harus duduk selama beberapa waktu sampai sesaknya hilang. 3. Ortopnea: Sesak nafas yang timbul ketika berbaring. Pada sikap berbaring, aliran balik vena lebih lancar sehingga pengisian atrium dan ventrikel kanan jadi lebih banyak. Akibatnya bendungan parulebih mudah terjadi 4. Asma kardial : Terjadi karena edema paru akut. Sesak nafas timbul tiba-tiba karena edema paru mendadak akibat gagal jantung kiri akut. Gagal jantung kiri menimbulkan bendungan paru dan akhirnyaterjadi edema paru akut. Cairan masuk ke dalam ruang alveoli sehingga timbul gejala dispneayang agak berat.

5. Pernafasan Cheyne-Stoke: Pernafasan ini ditandai dengan hiperpnea periodik diselang fase apnea. Keadaan inidisebabkan oleh karena curah jantung yang menurun. Patofisiologi Dyspnea berkaitan dengan ventilasi. Ventilasi dipengaruhi oleh kebutuhan metabolic dari konsumsi oksigen dan eliminasi karbondioksida. Frekuensi ventilasi bergantung pada rangsangan pada kemoreseptor yang ada di badan karotid dan aorta. Selain itu, frekuensi ini juga dipengaruhi oleh sinyal dari reseptor neural yang ada di parenkim paru, saluran udara besar dan kecil, otot pernapasan, dan dinding toraks. Pada dyspnea, terjadi peningkatan usaha otot dalam proses inspirasi dan ekspirasi. Karena dypsnea bersifat subjektif, maka dypsnea tidak selalu berkorelasi dengan derajat perubahan secara fisiologis. Tidak terdapat teori yang dipakai secara universal dalam menjelaskan mekanisme dypsnea pada seluruh situasi klinik. Campbell dan Howell (1963) telah memformulasikan teori length-tension ina ppropriateness yang menyatakan defek dasar dari dypsnea adalah ketidakcocokan antara tekanan yang dihasilkan otot pernafasan dengan volume tidal (perubahan panjang). Kapanpun perbedaan tersebut muncul, muscle spindle dari otot interkostal mentransmisikan sinyal yang membawa kondisi bernapas menjadi sesuatu yang disadari. Reseptor juksta kapiler yang terlokasi di interstitium alveolar dan disuplai oleh serat saraf vagal tidak termielinisasi akan distimulasi oleh terhambatnya aktivitas paru. Segala kondisi tersebut akan mengaktivasi refleks Hering-Breuer dimana usaha inspirasi akan dihentikan sebelum inspirasi maksimal dicapai dan menyebabkan pernapasan yang cepat dan dangkal. Reseptor jukstakapiler juga bertanggung jawab terhadap munculnya dyspnea pada situasi dimana terdapat hambatan pada aktivitas paru, seperti pada edema pulmonal. Dyspnea pada saat aktivitas fisik dapat disebabkan oleh output ventrikel kiri yang gagal untuk meningkat selama berolahraga dan mengakibatkan meningkatnya tekanan vena pulmonal. Pada asmakardiak, bronkospasme diasosiasikan dengan terhambatnya aktivitas paru dan kemungkinandisebabkan karena cairan edema pada dinding bronkus