Anda di halaman 1dari 15

PERCOBAAN VIII SINTESIS DIAZOAMINOBENZEN I. Tujuan Percobaan Mempelajari reaksi garam diazonium dengan amina dalam sintesis diazoaminobenzen.

II. Tinjuan Pustaka Senyawa diazoamino disintesis dari senyawa garam diazonium dengan amina. Pada proses diazonisasi digunakan asam klorida berlebih.

Diazoaminobenzen dapat disintesis dari dua ekivalen aniline dengan tiga ekivalen asam klorida dan ditambahkan natrium nitrit yang diikuti dengan dua ekivalen natrium asetat (Tim Dosen Kimia Organik Sintesis, 2013). Amina aromatik primer bereaksi dengan asam nitrtit pada suhu 00C menghasilkan ion arildiazonium. Prosesnya dinamakan diazotisasi. Senyawa diazonium merupakan zat antara sintetik yang sangat berguna (Harold, 2003). Diazoaminobenzene adalah amina aromatik yang berbentuk kristal kuning pada suhu kamar. Diazoaminobenzen tidak larut dalam air tetapi bebas larut dalam benzena, eter, dan alkohol panas. Titik lebur senyawa ini adalah 980C dan titik didihnya 3050C. Sedangkan untuk kelarutannya dalam air 0.500 g / Lc. Diazoaminobenzene digunakan sebagai perantara kimia, agen kompleks dan termaksud polimer yang aditif. Dapat pula digunakan untuk menghasilkan pewarna sintetik dan menghasilkan insektisida. Diazoaminobenzene dihasilkan oleh reaksi anilin dengan isoamil nitrat atau dengan diazotization dari anilin terlarut dalam asam klorida dengan natrium nitrit, diikuti dengan penambahan natrium asetat (Akron, 2009). Menurut Aceto Corp (1994), Nama lain dari diazoaminobenzen adalah Anilinoazobenzene; diazoaminobenzene; benzeneazoanilide; 1,3-diphenyltriazene; benzeneazoaniline; p-

1,3-diphenyl-1-triazene;N-

(phenylazo)aniline. Diazoaminobenzen memiliki rumus molekul C12H11N3 dan struktur molekul sebagai berikut

Diazoaminobenzen dapat dibuat melalui proses diazotisasi. Reaksinya berlangsung sebagai berikut

III. Alat dan Bahan 3.1 Alat 1. Erlenmeyaer 250 ml 2. Gelas ukur 100 ml 3. Magnetik stirer 4. Penyaring buchner 5. Corong kaca 6. Kaca arloji 7. Kertas saring 8. Thermometer 9. Batang pengaduk 10. Pipet tetes 11. Btol semprot 12. Hotplate 13. Pipa kapiler 14. Melting point 3.2 Bahan 1. Air 2. HCl pekat 3. Anilin 4. Natrium nitrit 5. Natrium asetat 6. Petroleum benzen 7. Es batu 8. Kertas saring

IV. Prosuedur Kerja 1. Memasukkan 75 ml aquadest, 20 ml HCl dan 13,7 ml anilin ke dalam erlenmeyer. Menambahkan 50 g serpihan es lalu mengocok dengan stirer. 2. Memasukkan 5,2 g natrium nitrit dalam 12 ml aquadest, dengan pengadukan konstan 5-10 menit. 3. Menambahkan 21 g CH3COONa dalam 40 ml aquadest lalu mengocok selama 5 menit. Akan terbentuk endapan kuning diazoaminobenzen, 4. Melanjutkan pengocokan selama 45 menit dan menjaga suhu agar tetap dibawah 20oC. 5. Menyaring endapan kuning diazoaminobenzen dengan corong buhner dan mencuci denngan 250 ml aquadest dingin, kemudian mengeringkan hingga kering sempurna. Lalu, menentukan titik lelehnya dengan menggunakan alat melting point. 6. Mengkristalisasi sebagian kecil diazoaminobenzen dengan 200 ml petroleum benzen. Senyawa murni diazoaminobenzen akan diperoleh. Menentukan titik lelehnya dengan melteing point seperti perlakuan sebelumnya.

V. Hasil Pengamatan No. 1. Perlakuan Hasil

75 ml air + 20 ml HClpekat + Larutan berwarna coklat 13,7 ml anilin

2.

Dikocok

dengan

stirer

+ Larutan berwarna coklat

serpihan es 50 gram 3. + 5,2 gram natrium nitrit dalam Larutan berwarna coklat 12 ml air dan diaduk dengan pengadukan konstan 4. + 21 gran natrium asetat dalam Mulai terbentuk endapan 40 ml air kocok selama 5 menit 5. diazoamino benzen dari

+ pengocokan selama 45 menit Larutan berwarna coklat dan ada dan suhu tidak lebih dari 20C endapan + es seperlunya

6.

+ saring dengan penyaring Residu yang berwarna kuning bucner + cuci dengan 250 ml air dingin

7.

Timbang dihasilkan

produk

yang 37,970 gram ( produk + kaca arloji + kertas saring) 99C

8.

Mengukur titik lelehnya

9.

Rekristalisasi dengan 100 ml Endapan berwarna kuning benzene lalu disaring dengan diazoaminobenzen corongbucner

dari

10.

Timbang dihasilkan

produk

yang 32,540 gram

11.

Mengukur titik leleh sesudah 103C rekristalisasi

VI. Persamaan Reaksi

VII. Analisa Data Sebelum rekristralisasi : Berat kertas saring (a) Berat kaca (b) Berat c. Petri+endapan+k.saring (C) Sesudah rekristralisasi : Berat kertas saring (a) Berat kaca (b) Berat c. Petri+endapan+k.saring (C) Sebelum rekristralisasi Berat kristal diaminobenzen Berat kristal diaminobenzen Berat kristal diaminobenzen Sesudah rekristralisasi Berat kristal diaminobenzen Berat kristal diaminobenzen Berat kristal diaminobenzen Rendemen = = 100%

= 0,380 g =24,401 g =37,970 g = 0,380 g =24,401 g =32,540 g =(C)-(A+B) =(37,970)g-(0,380+24,40)g =13,189 g

=(C)-(A+B) =(32,540)g-(0,380+24,401)g =7,759 g 100%

=169,98 %

VIII. Pembahasan Dalam praktikum ini bertujuan untuk mempelajari reaksi yang terjadi dari senyawa garam diazonium dengan amina dalam sintesis

diazoaminobenzen. Senyawa diazoamino disintesis dari senyawa garam diazonium dengan amina. Pada proses diazonisasi digunakan asam klorida berlebih. Diazoaminobenzen dapat disintesis dari dua ekivalen aniline dengan tiga ekivalen asam klorida dan ditambahkan natrium nitrit yang diikuti dengan dua ekivalen natrium asetat (Tim Dosen Kimia Organik Sintesis, 2013). Menurutr Akron (2009), diazoaminobenzene adalah amina aromatik yang berbentuk kristal kuning pada suhu kamar. Diazoaminobenzen tidak larut dalam air tetapi bebas larut dalam benzena, eter, dan alkohol panas. Titik lebur senyawa ini adalah 980C dan titik didihnya 3050C. Sedangkan untuk kelarutannya dalam air 0.500 g / Lc. Diazoaminobenzene digunakan sebagai perantara kimia, agen kompleks dan termaksud polimer yang aditif. Dapat pula digunakan untuk menghasilkan pewarna sintetik dan menghasilkan insektisida. Diazoaminobenzene dihasilkan oleh reaksi anilin dengan isoamil nitrat atau dengan diazotization dari anilin terlarut dalam asam klorida dengan natrium nitrit, diikuti dengan penambahan natrium asetat Garam diazonium adalah senyawa organik yang diperoleh dari reaksi suatu amina aromatik primer yang dilarutkan atau disuspensikan dalam suatu larutan asam mineral dalam air, kemudian direaksikan dengan natrium nitrit dalam keadaan dingin. Jika ditinjau dari sudut sintesis senyawa orgaik. Garam diazonium mempunyai arti penting karena dari senyawa tersebut dapat dibuat berbagai senyawa aromatik. Pembuatan garan diazonium disebut dengan reaksi diazotasi/diazotisasi. Garam diazonium klorida

dihasilkan dari reaksi antara amina aromatik primer seperti aniline dengan asam nitrit dingin dalam larutan asam klorida pada suhu 00C. Pada percobaan pertama yaitu mencampurkan aniline ke dalam Erlenmeyer yang berisi aquadest dan HCl pekat. Lalu mengocoknya dengan stirrer dan menambahkan dengan serpihan es batu yang berfungsi untuk mendinginkan larutan sebelum ditambahkan dengan natrium nitrit. Menurut Hart (2003), bahwa asam nitrit mengurai agak cepat pada suhu kamar. Oleh karena itu, senyawa ini dibuat secukupnya dengan

mengolah larutan berair natrium nitrit dengan asam kuat pada suhu es. Pada perlakuan ini mengasilkan larutan yang berwarna coklat. Selanjutnya menambahkan natrium nitrit ke dalam air,

Penambahan natrium nitrit ke dalam aniline klorida disebut diazotasi. Pada saat diazotasi suhu dijaga dibawah 20oC dengan pendingin es, karena reaksi tersebut sangat eksotermis. Dalam reaksi ini ion nitrogen bertindak sebagai elektrofil. Struktur resonansi ion diazonium menunjukkan bahwa kedua nitrogen mengemban muatan positif parsial. Nitrogen terminal menyerang posisi orto atau para dari cincin benzene teraktifkan (cincin yang disubstitusi dengan suatu gugus pelepas electron seperi NH2 atau OH). Pada perlakuan ini senyawa anilin yang merupakan senyawa amina aromatik primer akan bereaksi dengan natrium nitrit sehingga menghasilkan ion arildiazonium, kemudian ion arildiazonium akan berikatan dengan Cl- dari HCl sehingga ttmenghasilkan senyawa benzenadiazonium klorida dan menghasilkan H2O. Reaksi ini disebut dengan reaksi diazosiasi. Pada perlakuan ini dilakukan pengadukan selama 5 10 menit yang berfungsi agar larutan menjadi homogen. Hasil yang diperoleh dari perlakuan ini yaitu larutan berubah menjadi warna coklat dan terdapat endapan yang menunjukkan sudah terbentuknya senyawa diazonium. Jika digunakan alkil amina dalam reaksi pembuatan senyawa azo, maka garam azo yang akan terbentuk sangat tidak stabil dan sangatmudah melepas gas nitrogendan menghasilkan suatu karbokation, dimana reaksi yang terjadi mengikuti reaksi eliminasi proton yang mengikuti mekanisme

E1. Karbokation yang dihasilkan sangat mudah bereaksi dengan molekull air menghasilkan suatu alkohol primer. Sesuai dengan pernyataan Riswiyanto (2009), bahwa senyawa azo merupakan senyawa yang termasuk dalam kelas senyawa yang mempunyai warna yang kuat. Senyawa ini dapat memberikan warna kuning, orange, biru, atau hijau tergantung dari struktur molekulnya. Kemudian melanjutkan pengocokan dengan menambahkan Kristal natrium asetat untuk membentuk senyawa diazoaminobenzen. Hal ini bertujuan untuk mengeliminasi suatu ion klorida yang masih terdapat dalam campuran sebagaimana yang terlihat pada reaksi dan mekanisme reaksi. Menurut literatur Tim Dosen Kimia (2013), bahwa

Diazoaminobenzen dapat disintesis dari dua ekivalen aniline dengan tiga ekivalen asam klorida dan ditambahkan natrium nitrit yang diikuti dengan ekivalen natrium asetat. lalu melakukan pengocokan campuran selama 45 menit menggunakan magnetik stirrer. Hal ini bertujuan agar sampel tercampur secara sempurna sehingga menghasilkan endapan yang maksimal dan menjaga temperature pada suhu 20 oC yang bertujuan agar larutan tidak terurai. Bila perlu menambahkan es batu ke dalam campuran untuk menjaga temperature agar tidak di atas suhu 20oC. Selanjutnya menyaring endapan kuning diazoaminobenzen

menggunakan penyaring Buchner dan membilas endapan yang diperoleh menggunakan air dingin sebanyak 250 mL yang berfungsi untuk mengeliminasi alkali. Hasil yang diperoleh yaitu endapan berwarna kuning yang merupakan endapan diazoaminobenzen dengan berat endapan sebelum rekristralisasi adalah 13,189 g dan sesudah rekristralisasi sebanyak 7,759 g . Kemudian mengeringkan endapan dan menentukan titik lelehnya

mengguanakan alat melting point apparatus. Titik leleh yang diperoleh sebelum rekristralisasi sebesar 99 oC. Setelah itu, kristal diazoaminobenzen direkristralisasi

menggunakan petroleum benzen. Karena sifatnya yang sama-sama tidak polar, maka kristal diazoaminobenzen dapat larut walaupun sedikit. Hal ini

10

diakibatkan masih ada gugus polar pada diazoaminobenzen, karena diperlukan pelarut yang kepolaranya sedikit lebih tinggi dari petroleum benzen yaitu petroleum eter. Karena bahan yang kepolarannya yang lebih tinggi dari petroleum benzen tidak tersedia dilaboratorium, maka yang digunakan adalah petroleum benzen. Hasil dari sesudah rekristralisasi yaitu sebesar 103 oC. Kemudian menghitung rendemennya dengaan membagi hasil endapan sebelum rekristralisasi dengan sesudah rekristralisasi dikalikan dengan seratus persen diperoleh rendemen sebanyak 169,98 %. Menurut Carey (2001), Prinsip kerja alat meltiong point yaitu , memasukkan bahan ke dalam pipa kecil yang akan ditentukan titik lelehnya. Bahan tersebut kemudian dimampatkan oleh pipa kapiler dengan cara menjatuhkannya dengan cara memantulkannya hingga ke tanah. Bahan yang telah di mampatkan, dimasukkan ke dalam alat melting point yang mempunya dua lubang pada sisi kanan dan sisi kirinya. Lalu, dimasukkan ke dalam salah satu lubang. Kemudian suhu pada melting point diatur hingga suhu 85oC. Suhu di atur agar naiknya konstan, kemudian mulai mengamati yang terjadi pada bahan yang telah dimasukkan pada alat melting point.

11

IX. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa : 1. Garam diazonium adalah senyawa organik yang diperoleh dari reaksi suatu amina aromatik primer yang dilarutkan atau disuspensikan dalam suatu larutan asam mineral dalam air, kemudian direaksikan dengan kalium nitri dalam keadaan dingin. 2. Diazoaminobenzen dapat disintesis dari dua ekivalen aniline dengan tiga ekivalen asam klorida dan ditambahkan natrium nitrit yang diikuti dengan ekivalen natrium nitrit. 3. Hasil yang diperoleh yaitu endapan berwarna kuning yang merupakan endapan diazoaminobenzen dengan berat endapan sebelum

rekristralisasi adalah 13,189 g dan sesudah rekristralisasi sebanyak 7,759 g 4. Titik leleh yang diperoleh sebelum rekristralisasi sebesar 99 oC dan sesudah rekristralisasi 103 oC. 5. Rendemen yang diperoleh adalah sebanyak 169,98 %

12

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2013.

Garam

Diazonium

http://

theresaelasari2305.

blogspot.

com/2012/11/garam-iazonium.html. diakses pada tanggal 16 Maret 2014). Akron. 2009. The Chemical Database. The Department of Chemistry at the University of Akron. (http://ull.chemistry.uakron.edu/erd.htm diakses pada tanggal 09 Mei 2013) Aldrich Chemical Co., Inc., 1995, Material Safety Data Sheet: 1,3Diphenyltriazene, Milwaukee, WI Barker, J., Cameron, N.D., Kilner, M., Mahmoud, M.M. & Wallwork, S.C., 1991, Orthometalated amidine complexes of palladium, platinum and nickel (II). J. Chem. Soc., Dalton Trans., 12, 34353445 [Abstract CA116-106491]

Budavari, S., ed., 1989, The Merck Index, 11th ed., Rahway, NJ, Merck & Co., Inc., p. 473 Fessenden R. J. dan Fessenden J. S.,1984, Kimia Organik Jilid II, a.b. Pudjaatmaka, Edisi ketiga, Penerbit Erlangga Hart, Harold, Leslie E. Craine, David J. Hart. 2003. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta. Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta. Tim Dosen Kimia Organik Sintesis. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Organik Sintesis. FMIPA UNTAD. Palu. Lewis, R.J., Sr., 1993, Hawley's Condensed Chemical Dictionary, 12th ed., New York, Van Nostrand Reinhold Co., p. 366

13

LAPORAN PRAKTIKUM ORGANIK SINTESIS PERCOBAAN VIII SINTESIS DIAZOAMINOBENZEN

DISUSUN OLEH NAMA KELOMPOK ASISTEN :AYU A. PUSPITASARI : :

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TADULAKO 2013

14

Lembar asistensi Nama Stambuk Kelompok Asisten Tanggal : Ayu A. Puspitasari : G 301 11 023 : VI : Kurniawati Ralat paraf

15