Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRATIKUM AGENT PENYAKIT

UJI WIDAL

Di susun oleh : Nama NIM Kelompok : Aulia Rakhman : N 201 12 018 :1

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TADULAKO 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit internasional, menjangkit 13,5 juta individu tiap tahunnya. Sejak 1948 kloramfenikol digunakan untuk mengurangi kasus yang fatal dari 20% menjadi 1%. Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi merupakan penyakit infeksi sistemik, bersifat endemis dan masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Diagnosis dini demam tifoid sangat diperlukan agar pengobatan yang tepat dapat segera diberikan, sehingga komplikasi dapat dihindari. Diagnosis pasti demam tifoid dengan cara mengisolasi kuman S. typhii, memerlukan waktu yang cukup lama (47 hari) dan tidak semua laboratorium mampu melaksanakannya. Diagnosis demam tifoid sering ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis dan tes serologis saja. Uji widal merupakan salah satu uji serologis yang sampai saat ini masih digunakan secara luas, khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. Uji widal dapat dilakukan dengan metode tabung atau dengan metode peluncuran (slide). Uji widal dengan metode peluncuran dapat dikerjakan lebih cepat dibandingkan dengan uji widal tabung, tetapi ketepatan dan spesifisitas uji widal tabung lebih baik dibandingkan dengan uji widal peluncuran. Antigen merupakan suatu substansi yang dapat merangsang hewan atau manusia untuk membentuk protein yang dapat berikatan dengannya dengan cara spesifik. Antibodi merupakan suatu substansi yang dihasilkan sebagai jawaban (respon) terhadap antigen yang reaksinya spesifik terhadap antigen tersebut. Antibodi yang dihasilkan tadi hanya akan bereaksi dengan antigennya atau dengan antigen lain yang mempunyai persamaan dekat dengan antigen pertama. Antibodi yang terdapat dalam cairan tubuh biasanya disebut antibodi humoral dan beberapa diantaranya dapat menghasilkan reaksi yang dapat dilihat dengan mata (visibel).

Antibodi spesifik dibentuk di dalam sel tertentu yang bereaksi secara spesifik dan langsung terhadap antigen. Antibodi semacam ini dikenal sebagai antigen seluler. Aglutinasi merupakan reaksi serologi klasik yang dihasilkan gumpalan suspensi sel oleh sebuah antibodi spesifik yang secara tidak langsung meyerang spesifik antigen. Beberapa uji telah digunakan secara luas untuk mendeteksi antibodi yang menyerang penyakit yang dihasilkan mikroorganisme pada serum dalam waktu yang lama. Fase pertama aglutinasi adalah penyatuan antigen-antibodi terjadi seperti pada presipitasi dan tergantung pada kekuatan ion, pH dan suhu. Fase kedua yaitu pembentukan kisi-kisi tergantung pada penanggulangan gaya tolak elektrostatik partikel-partikel. Berdasarkan uraian diatas maka yang melatarbelakangi praktek ini adalah untuk mengetahui pemeriksaan Salmonella typhi dengan teknik uji widal. 1.2 Tujuan Adapun tujuan sehingga dilaksanakan percobaan ini adalah : 1. Untuk mengetahui teknik pemeriksaan uji widal 2. Untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri Salmonella typhi penyebab tifus pada serum. 2.3 Manfaat Adapun manfaat sehingga dilaksanakan percobaan ini yang dihubungkan dengan kesehatan yaitu untuk mengetahui penyebab demam tifoid yaitu Salmonella typhi agar nantinya bisa dicegah dengan pola hidup yang baik dan bersih.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Uji reaksi Widal menggunakan suspensi bakteri S.typhii dan S. paratyphi dengan perlakuan antigen H dan O. Antigen ini dikerjakan untuk mendeteksi antibodi yang sesuai pada serum pasien yang diduga menderita demam typhoid. Antibodi IgM somatik O menunjukksn awal dan merepresentasikan respon serologi awal pada penderita demam thypoid akut, dimana antibodi IgG flagela H biasanya berkembang lebih lambat tetapi tetap memanjang. Salmonella sering bersifat pathogen untuk manusia atau hewan jika masuk ke dalam tubuh melalui mulut. Bakteri ni ditularkan dari hewan atau produk hewan kepada manusia, dan menyebabkan enteris, infeksi sistemik dan demam enteric. Salmonella merupakan bakteri Gram (-) batang, tidak berkapsul dan bergerak dengan flagel peritrich. (Soemarno, 2000). Prinsip uji widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi agglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen O (somatic) dan antigen H (flagel) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. Uji Widal dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pernah mendapat vaksinasi, reaksi silang dengan spesies lain, reaksi anamnestik, dan adanya faktor rheumatoid (E. jawet dkk, 1996). Pemeriksaan Widal ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi (di dalam darah) terhadap antigen kuman Salmonella typhi. Adapun struktur antigen Salmonella yaitu antigen H atau antigen flagel, antigen ini mengandung beberapa unsur imunologik, dalam satu spesies Salmonella antigen flagel dapat ditemukan dalam fase 1 dan 2, ini dinamakan variasi fase antibodi terdapat antigen H terutama Ig C. Dan, antigen O atau antigen somatik, dengan serum yang mengandung antigen O, antigen ini mengadakan aaglutinasi dengan lambat membentuk gumpalan berpasir,

antigen terdapat antigen O terutama Ig M, anti somatik O adalah lipopolisakarida (Dwijoseputro, 1989). Uji reaksi Widal menggunakan suspensi bakteri S.typhii dan S. paratyphi dengan perlakuan antigen H dan O. Antigen ini dikerjakan untuk mendeteksi antibodi yang sesuai pada serum pasien yang diduga menderita demam typhoid. Antibodi IgM somatik O menunjukksn awal dan merepresentasikan respon serologi awal pada penderita demam thypoid akut, dimana antibodi IgG flagela H biasanya berkembang lebih lambat tetapi tetap memanjang (Verma, 2010). Tekhnik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji hapusan/ peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). Perbedaannya, uji tabung membutuhkan waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang lebih rumit dan uji widal peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit saja yang biasanya digunakan dalam prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih banyak digunakan uji widal peluncuran. Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat dipengaruhi oleh jenis antigen yang digunakan (Wardhani, 2005). Menurut beberapa peneliti uji widal yang menggunakan antigen yang dibuat dari jenis strain kuman asal daerah endemis (local) memberikan sensitivitas dan spesifitas yang lebih tinggi daripada bila dipakai antigen yang berasal dari strain kuman asal luar daerah enddemis (import). Walaupun begitu, menurut suatu penelitian yang mengukur kemampuan Uji Tabung Widal menggunakan antigen import dan antigen local, terdapat korelasi yang bermakna antara antigen local dengan antigen S.typhi O dan H import, sehingga bisa dipertimbangkan antigen import untuk dipakai di laboratorium yang tidak dapat memproduksi antigen sendiri untuk membantu menegakkan diagnosis Demam tifoid (Soenarjo, 1989). Pada pemeriksaan uji widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai parameter penilaian hasil uji Widal. Berikut ini penjelasan macam antigen tersebut : 1. Antigen O Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman. Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. 2. Antigen H

Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S. typhi dan berstruktur kimia protein. S. 3. Antigen Vi Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi (kapsul) yang melindungi kuman dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila dipanaskan selama 1 jam pada suhu 60C, dengan pemberian asam dan fenol. 4. Outer Membrane Protein (OMP) Antigen OMP S typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan sekitarnya. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein nonporin. Panjang Salmonella bervariasi, kebanyakan spesies kecuali Salmonella pullorumgallinarum dapat bergerak dengan flagel peritrich, bakteri ini mudah tumbuh pada pembenihan biasa, tetapi hampir tidak pernah meragikan laktosa dan sukrosa. Bakteri ini termasuk asam dan kadang kadang gas dari glukosa dan maltosa, dan biasanya membentuk H2S. Bakteri ini dapat hidup dalam air beku untuk jangka waktu yang cukup lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu (misalnya hijau brilliant, natrium tetratrionat, dan natrium desoksikolat) yang menghambat bakteri enteric lainnya. Oleh karena itu senyawa ini bermanfaat untuk dimasukkan dalam pembenihan yang dipakai untuk mengisolasi Salmonella dari tinja. (Jawetz, dkk. 1996). Salmonella pada umumnya harus diidentifikasikan dengan analisa antigenik seperti Enterobacteriaceae yang lain. Salmonella mempunyai antigen O dan antigen H, tetapi beberapa diantaranya ada yang memiliki antigen Vi. Antigen ini dapat mengganggu aglutinasi O atau anti serum O dan berhubungan dengan virulensi. Bagian paling luar dari dinding sel lipopolisakarida salah satunya adalah antigen O, yang terdiri dari satuan-satuan lipopolisakarida yang berulang, sehingga jika kehilangan antigen ini mengakibatkan bentuk koloni yang seharusnya menjadi kasar. Antigen H terletak pada flagel dan jika kehilangan antigen H dapat mengakibatkan Salmonella ini tidak dapat bergerak. Kedua antigen ini dapat digunakan untuk identifikasi Salmonella (Jawetz et al., 1974).

Penyakit tifus yang berat menyebabkan komplikasi pendarahan, kebocoran usus, infeksi selaput, renjatan bronkopnemonia dan kelainan di otak. Terdapat gejala penyakit tifus segera di lakukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa penyakit tifus, koma. Keterlambatan diagnose dapat menyebabkan komplikasi yang berakibat fatal, sampai pada kematian. Tanda-tanda dan gejala PA (Paratyphoid fever A) menunjukan tidak spesifitas, jenis penyakit ini sulit untuk didiagnosa secara akurat. Meskipun diagnosis definitife tetapi, dapat dibuat isolasi SPA (serovar Paratyphi A (SPA), dari spesimen klinis seperti darah, sumsum tulang, urin atau tinja atau dengan menunjukan meningkatnya titer O (somatic), H (flagelata), dan A (flagella), ditandai dengan aglutinasi antibodi dalam sampel serum yang berpasangan (Shukun et.al., 2011). Salmonella typhi merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang, bersifat fakultatif aerob. Salmonella typhi dapat hidup tahan lama dalam air, tanah atau bahan makanan. Bakteri ini memiliki antigen O9 dan O12 LPS, antigen protein flagelar Hd dan antigen kapsular Vi (Handojo, 1982). Salmonella typhim atau paratyphi dalam dosis yang infektif (>105) masuk kedalam saluran pencernaan dari seorang penderita yang tidak mempunyai daya tahan terhadap kuman tersebut, maka kuman ini akan menembus sel-sel epitel usus dan masuk ke dalam kelenjar-kelenjar limpa dari mesentrium. Kuman-kuman ini akan berkembang biak, kemudian melalui ductus thoracicus akan masuk ke aliran darah untuk selanjutnya menyebar ke organ-organ seperti hati, kandung empedu, limpa, ginjal dan sum-sum tulang. Dalam organ-organ ini kuman-kuman tersebut akan berkembang biak lagi dan menimbulkan keradangan. Proses ini akan berlangsung selama 7-10 hari. Selanjutnya kuman-kuman tersebut akan menyebar ke dalam aliran darah dan menimbulkan bakteremia untuk kedua kalinya (Handojo, 1982). Dalam stadium bakteremi kedua ini, Salmonella typhi akan melepaskan endotoksinnya yang di duga sebagai penyebab dari timbulnya gejala-gejala klinik demam typhoid. Tubuh berusaha untuk menetralkan efek dari endotoksin ini (AgO) dengan menggunakan jalur alternatif dari system komplemen. Salmonella typhi, amat sukar untuk di fagositosis oleh sel-sel makrofag karena terlindung oleh kapsulnya (Ag

Vi). Baru setelah kuman-kuman ini agak lama berada dalam

peredaran darah

(Kira-kira 1 minggu), sel-sel fagosit atau makrofag berhasil memfagositosis kuman-kuman tersebut. Untuk ini penderita harus mengerahkan semua sel-sel makrofag yang terdapat dalam jaringan RES seperti hati dan limpa. Sehingga seringkali sampai menimbulkan pembengkakan dari organ-organ tersebut di atas (Handojo, 1982). Sebagai hasil dari fagositosis ini maka umumnya pada akhir minggu kedua, dapat dikatakan sudah tidak di temukan Salmonella typhi lagi dalam darah dan pembentukan antibody (Aglutinin O kemudian di susul oleh H dan Vi) mulai terjadi lebih aktif. Bila kemudian oleh karena pengobatan penderita sembuh, maka kadar Ab dalam darah akan di pertahankan selama beberapa bulan, untuk selanjutnya menurun secara perlahan. Biasanya agglutinin O menghilang terlebih dahulu yang diikuti oleh agglutinin H dan Vi (Handojo, 1982).

BAB III METODOLOGI


2 3 3.1 Waktu dan tempat Adapun waktu dan tempat pada saat melakukan percobaan ini yaitu : Hari/Tanggal Waktu Tempat 3.2 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu : 3.2.1 Alat 1. Tensimeter 2. Stetoskop 3. Suntik 4. Tourniquet 5. Tabung Centrifuge 6. Centrifuge 7. Pipet tetes 8. Plat 9. Penjepit tabung : Sabtu, 18 Mei 2013. : 10.00 WITA Selesai. :Laboratorium Terpadu FKIK UNTAD.

10. Handsprayer 10..22 Bahan 1. Sampel darah 2. Antigen A 3. Antigen O 4. Antigen AH 5. Antigen BH 6. Tissue 7. Jarum suntik 8. Alkohol 70% 9. Label 10. Lidi steril 11. Handskun 12. Masker 12.3 Prosedur Kerja Adapun prosedur kerja pada saat melakukan percobaan ini adalah: 1. Mengambil sampel darah dengan menggunakan suntik, namun sebelumnya ditensi terlebih dahulu. 2. Memasukkan sampel darah ke dalam tabung reaksi kemudian tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam sentrifuge selama 15 menit. 3. Memasukkan serum ke dalam plat sebanyak 1 tetes sesuai dengan kode antigen (O, H, AH dan BH). 4. Memasukkan antigen (O, H, AH dan BH) ke dalam plat sebanyak 1 tetes sesuai dengan kode antigen (O, H, AH dan BH) yang sudah terdapat serum di dalamnya. 5. Menghomogenkan serum dengan antigen. 6. Mendiamkan dan mengamati hasilnya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


1. 2. 3. 4. 4.1. Hasil Pengamatan Adapun hasil Pengamatan yang diperoleh pada saat melakukan percobaan ini yaitu : No 1. Sampel I Antigen O + H AH BH + Gambar Ket Terjadi aglutinasi pada antigen O dan AH.

2.

II

Terjadi aglutinasi + + + + pada antigen O, H, AH dan BH.

Terjadi aglutinasi 3. III + + pada antigen H dan BH.

Terjadi aglutinasi 4. IV + + + pada antigen O, H dan AH.

Terjadi aglutinasi 5. V + + + pada antigen O, H dan AH.

6.

VI

Terjadi aglutinasi pada antigen O.

4.2 Pembahasan

Uji reaksi widal menggunakan suspensi bakteri S.typhii dan S. paratyphi dengan perlakuan antigen H dan O. Antigen ini dikerjakan untuk mendeteksi antibodi yang sesuai pada serum pasien yang diduga menderita demam typhoid. Pada pratikum kali ini, langkah pertama yang dilakukan adalah mengecek tekanan darah orang yang akan diambil darahnya dengan menggunakan tensimeter. Pengecekan tekanan darah ini dimaksudkan untuk mengetahui tekanan darah dari orang yang akan diambil darahnya apakah normal atau tidak, jika tidak normal tekanan darahnya maka tidak bisa diambil sampel darahnya. Tekanan darah yang tidak normal jika diambil bisa menyebabkan volume darah berkurang, otomatis akan tergannggu sistem fisologis peredaran darah orang tersebut terkadang menyebabkan orang tersebut akan merasa pusing karena kurangnya suplai darah. Orang yang tekanan darah tinggi, darahnya tinggi akan glukosa, berbeda dengan orang normal, bila darah keduanya bercampur, akan terjadi perbedaan kadar glukosa. Setelah itu mengambil darah dari orang yang normal tensinya untuk dijadikan sampel dengan menggunakan suntik. Sampel darah tadi dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dimasukkan ke dalam sentrifuge selama 15 menit. Sentrifuge berfungsi sebagai alat untuk memperoleh serum dari sampel darah yang digunakan, setelah itu mengambil dan memasukkan serum ke dalam plat masing-masing sebanyak 1 tetes sesuai dengan kode antigen (O, H, AH dan BH), lalu memasukkan antigen (O, H, AH dan BH) ke dalam plat masing-masing sebanyak 1 tetes sesuai dengan kode antigen (O, H, AH dan BH). Hasil pengamatan yang didapatkan adalah sampel darah 1 hasilnya positif dengan terjadinya aglutinasi di antigen O dan antigen AH. Terjadinya aglutinasi karena serum dari kedua antigen tersebut mempunyai antibody terhadap antigen O dan antigen AH Salmonella typhi. Pada antigen H dan antigen BH tidak terjadi aglutinasi karena kedua antigen tersebut tidak memiliki antibodi terhadap antigen H dan antigen BH. Pada sampel darah 2 hasilnya juga positif dengan terjadinya aglutinasi pada semua antigen yang diuji. Terjadinya aglutinasi di semua antigen karena serum dari semua antigen mempunyai antibody terhadap antigen O, antigen H, antigen AH

dan antigen BH Salmonella typhi, jadi antigen tersebut menyerang kembali pada penderita maka tidak akan mudah terserang penyakit tifus karena didalam tubuh penderita sudah kebal terhadap keempat antigen tersebut. Penderita mungkin hanya terserang tifus antigen O, karena antigen ini mudah berubah-ubah atau bermutasi sehingga antibody dalam tubuh sudah tidak mengenalinya. Pada sampel darah 3 hasilnya positif dengan terjadinya aglutinasi diantigen H dan antigen BH. Terjadinya aglutinasi karena serum dari kedua antigen tersebut mempunyai antibody terhadap antigen H dan antigen BH Salmonella typhi. Pada antigen O dan antigen AH tidak terjadi aglutinasi karena serum dari kedua antigen tersebut tidak memiliki antibody dari antigen O dan antigen AH. Pada sampel darah 4 hasilnya positif dengan terjadinya aglutinasi pada antigen O, antigen H dan antigen AH. Terjadinya aglutinasi karena serum dari ketiga antigen tersebut mempunyai antibody terhadap antigen O, antigen H dan antigen AH Salmonella typhi. Pada antigen BH tidak terjadi aglutinasi karena antigen tersebut tidak memiliki antibody terhadap antigen BH. Pada sampel darah 5 hasilnya positif dengan terjadinya aglutinasi pada antigen O, antigen H dan antigen AH. Terjadinya aglutinasi karena serum dari ketiga antigen tersebut mempunyai antibody terhadap antigen O, antigen H dan antigen AH Salmonella typhi. Pada antigen BH tidak terjadi aglutinasi karena antigen tersebut tidak memiliki antibody terhadap antigen BH. Pada sampel darah 6 hasilnya positif dengan terjadinya aglutinasi pada antigen O. Terjadinya aglutinasi karena serum dari antigen tersebut mempunyai antibody terhadap antigen O Salmonella typhi. Pada antigen H, antigen AH dan antigen BH tidak terjadi aglutinasi karena antibodi tubuh belum mengenali antigen tersebut.

BAB V PENUTUP
5 6 6.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah: 1. Teknik pemeriksaan uji widal merupakan teknik yang dilakukan untuk menjelaskan reaksi antara anti body aglutinin dalam serum penderita tifus terhadap antigen O, H, AH dan BH yang dilakukan dengan memasukkan sampel dan antigen (O, H, AH dan BH) ke dalam plat masing-masing sebanyak 1 tetes, kemudian dihomogenkan dan diamati hasilnya. 2. Pada sampel darah 1 hasilnya positif ditandai dengan terjadinya aglutinasi pada antigen O dan AH. Pada sampel darah 2 hasilnya positif ditandai dengan terjadinya aglutinasi pada semua antigen. Pada sampel darah 3 hasilnya positif ditandai dengan terjadinya aglutinasi pada antigen H dan BH. Pada sampel darah 4 hasilnya positif ditandai dengan terjadinya aglutinasi pada antigen O, H dan AH. Pada sampel darah 5 hasilnya positif ditandai dengan terjadinya aglutinasi pada antigen O, H dan AH dan pada sampel darah 6 hasilnya positif ditandai dengan terjadinya aglutinasi pada antigen O. 2.2 Saran Adapun saran yang diberikan oleh penulis adalah sebaiknya dalam melakukan percobaan, di perlukan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan, serta ada baiknya alat dan bahan yang akan digunakan lebih dilengkapi, sehingga menunjang proses kerja pada saat melakukan praktek.

DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro. 1989. Dasar-dasar Mikrobiologi, Djambatan. Malang. Dikutip dari jurnal Indro Handojo. Widal slide agglutination test using antigens from locally prevalent Salmonella typhi for diagnosis of typhoid fever in children. 2012. Surabaya. Diakses pada hari Sabtu, 18 Mei 2013 Pukul 11.00 WITA. Handojo. 1982. Diktat Kuliah FK Unair Serologi Klinik. Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UNAIR. Jakarta. Dikutip dari jurnal Suryantini. Perawatan Singkat Demam Tifoid pada Anak. 2001. Jakarta. Diakses pada hari Sabtu, 18 Mei 2013 Pukul 10.11 WITA. Jawetz, E, J. L Melnick, and E. A. Adelberg. 1974. Review of Medical Microbiology. Lange Medical Publication, Canada. Jawetz, Ernest. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : EGC. Soemarno. 2000. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Klinis. Yogyakarta: Akademi Analis kesehatan Yogyakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Soenarjo. 1989. Dasar-dasar Imuno Bioreproduksi pada Hewan. Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto. Jakarta Shukun, W. Qian, W. Conjia, C. Deshen, S. and Xianhua, W. 2011. Value of a single serum widal agglutination test in diagnosis of paratyphoid fever A. International Research Journal of Biochemistry and Bioinformatics (ISSN-2250-9941) Vol. 1(8) pp. 209-214. Verma. 2010. Emerging Salmonella parathypi A Enteric fever and changing trends in antimicrobial resistance pattern of salmonella in Shimla. Indian Journal Of Medical Microbiology. Jakarta. Dikutip dari jurnal Sylvia Y. MuliawanValiditas. Pemeriksaan Uji Aglutinin O Dan H S.Typhi Dalam Menegakkan Diagnosis Dini Demam Tifoid. 2012. Jakarta. Diakses pada hari Sabtu, 18 Mei 2013 Pukul 12.45 WITA. Wardhani. 2005. Kemampuan Uji Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen Lokal. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, 12 (1) : 31-37.

LEMBAR ASISTENSI

Nama NIM Kelompok Kelas

: Aulia Rakhman : N 201 12 018 : 1 (Satu) :B

Asisten: Muh.Syahrir. S.Si No . Hari/tanggal Koreksi paraf