Anda di halaman 1dari 240

BAHANAJAR

PERANCANGANPEMBANGKITANTENAGA LISTRIK
OLEH :
Prof. Dr. Ir. Nadjamuddin Harun, MS
PROGRAMSTUDI TEKNIK ELEKTRO
JURUSAN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
i
KATA PENGANTAR
Buku ajar ini dikembangkan berdasarkan pengajaran ditingkat Strata Satu (S1) dan Strata
Dua (S2) untuk bidang Pembangkitan Perencanaan Pembangkitan Tenaga Listrik. Dalam
buku ini disajikan teori-teori pembangkitan tenaga listrik dan dilanjutkan dengan perencanaan
pembangkitan tenaga listrik untuk mahasiswa teknik elektro.
Diasumsikan bahwa mahasiswa bidang teknik elektro telah mengambil mata kuliah teknik
kendali, aljabar linear dan matematika teknik. Pembahasan untuk teori dilanjutkan dengan
contoh soal serta diskusi-diskusi tentang simulasi atau model sistem. Pada edisi pertama ini
masih banyak kekurangan tetapi diharapkan para pemakai dapat mengembangkan sesuai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam Bab I telah disampaikan bahwa mata kuliah Pembangkitan dan Perencanaan
Pembangkitan Tenaga listrik untuk bidang teknik elektro dengan mempertimbangkan dua
aspek yaitu aspek teknik dan ekonomis, mengembangkan sistem untuk memenuhi kebutuhan
energi listrik.
Bab II dijabarkan Karaketeristik Pembangkit Hidro dan Pembangkit Listrik Tenaga
Thermal, pada pembahasannya ditekankan pada karakteristik masukan dan keluaran.
Bab III menjelaskan Operasi Pembangkit Listrik Tenaga Hidro secara mendasar dan
perumusan analisis daya baik daya mekanis dan daya listrik dari proses tenaga air dan termis.
Bab IV menyajikan Pembangkit Listrik Tenaga Termal. Bab ini menguraikan secara
ringkas prinsip kerja, Proses Konversi Energi dan Pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga
Termal diantaranya PLTG, PLTU, dan PLTGU.
Bab V membahas tentang Sekuriti Sistem . Pada bab ini disajikan pembahasan mengenai
monitoring aliran daya pada sistem interkoneksi dengan menggunakan peralatan Remote
Terminal Unit (RTU). Pada bab ini juga dikemukakan metode analisis dengan menggunakan
algoritma Load Flow dan selanjutnya dilakukan analisa tindakan korektif.
Bab VI dibahas secara singkat tentang Stabilitas Steady State, Stabilitas Transient dan
Stabilitas Dinamis pada sistem tenaga listrik.
ii
Bab VII membahas tentang Operasi Sistem Tenaga Listrik, Bab ini menyajikan operasi
sistem secara optimal khususnya Pembangkit Thermal dan dilanjutkan dengan operasi
ekonomis pada sistem tenaga listrik.
Bab VIII membahas tentang Pengendalian Sistem Tenaga Listrik . Pada bab ini dibahas
secara singkat tentang pengendalian daya aktif dan frekuensi demikian juga pengendalian daya
reaktif dan tegangan. Pada Pengendalian sistem transmisi digunakan peralatan FACTS dan
hanya dibatasi untuk beberapa komponen FACTS untuk diaplikasikan pada tenaga listrik.
Bab IX membahas tentang Optimalisasi Sistem Tenaga Listrik. Pada bab ini digunakan
beberapa metode optimalisasi sistem tenaga listrik diantaranya pemograman liniear, metode
pemograman dinamis, metode merit order, metode pemograman gradient orde dua dan
optimasi sistem tenaga listrik dengan metode logika samar ( Fuzzy Logic).
Penyusun berterima kasih kepada teman-teman yaitu Muhammad Syahwil,
A. Muhammad Syafar, dan A. Nur Putri. Atas bantuannya dalam menyusun buku ajar ini
dalam bentuk sederhana. Penulis juga mengharapkan koreksi perubahan dari pihak-pihak yang
berkecimpun dalam bidang teknik elektro. Akherulkalam bersyukur kepada Allah Yang Maha
Esa atas limpahan Rahmat-nya kepada kita sekalian.
Makassar, November 2011
Prof.Dr.Ir.H.Nadjamuddin Harun. MS
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.. i
DAFTAR ISI. iii
BAB I PENDAHULUAN... 1
BAB II KARAKTERISTIK PEMBANGKIT HIDRO DAN
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA THERMAL 4
2.1 Karakteristik Input Output Pembangkit Listrik Tenaga
Thermal. 4
2.2 Karakteristik Input Output Pembangkit Listrik Tenaga
Hidro . . . . . . 5
2.3 Laju Pertambahan Pemakaian Bahan Bakar. 7
2.4 Kendala-Kendala Operasi Pada Pusat Pembangkit Listrik 8
2.5 Kendala-Kendala Operasi Pada Pusat Listrik Tenaga Gas 10
2.6 Kendala-Kendala Operasi Pada Pusat Listrik Tenaga
Diesel. 13
2.7 Kendala-Kendala Operasi Pada Pusat Listrik Tenaga Uap 14
BAB III PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA HIDRO . . . . . . . . . . . .. 16
3.1 Klasifikasi Pembangkit Listrik Tenaga Hidro . . . . . . . . . .. . 16
3.2 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro............ 16
3.3 Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro . . ......... 21
3.4 Pembangkit Listrik Tenaga Air 21
BAB IV PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA THERMAL . . . . . . . . 40
4.1 Pembangkit Listrik Tenaga Gas . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . 40
4.2 Pembangkit Listrik Tenaga Uap . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 43
4.3 Pembangkit Listrik Tenaga Gas-Uap . . . . . . . . . . . . . . . . . . 46
4.4 Cogeneration... . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 50
iv
BAB V SEKURITI SISTEM TENAGA LISTRIK. . . . . . . . . . . . . . . . 61
5.1 Pendahuluan.. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 61
5.2 Sistem Monitoring Tenaga Listrik. . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . 63
5.3 Analisis Kontigensi Sistem Tenaga Listrik.. . . . . . . 85
5.4 Analisis Korektif Sistem Tenaga Listrik. 95
BAB VI STABILITAS SISTEM TENAGA LISTRIK. . . . . . . . . . . . . . 96
6.1 Pendahuluan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 96
6.2 Stabilitas Steady State Sistem Tenaga Listrik . . . . . . . . . . .. 97
6.3 Stabilitas Transient Sistem Tenaga Listrik... 98
6.4 Stabilitas Dinamis Sistem Tenaga Listrik. 99
6.5 Perasamaan Ayunan.. 100
6.6 Pemodelan Mesin Sinkron Pada Studi Kestabilan 102
6.7 Pemodelan Mesin Sinkron Memperhitungkan Saliency... 104
6.8 Stabilitas Steady State dengan Gangguan-gangguan Kecil.. 107
6.9 Stabilitas Transient dengan Kriteria Sama Luas.. 117
6.10 Aplikasi Pada Penambahan Daya Input Tiba-tiba 119
6.11 Apalikasi Pada Gangguan Tiga Fasa 121
6.12 Pemecahan Numerik Pada Persamaan Non-linear 128
6.13 Pemecahan Numerik Pada Persamaan Ayunan. 130
6.14 Sistem Multi-Mesin... 134
6.15 Stabilitas Transient Multi-Mesin 136
BAB VII OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK. . . . . . . . . . . . . . . 141
7.1 Operasi Optimal Sistem Tenaga Listrik . . . . . . . . . . . . . .. 141
7.1.1 Pendahuluan .. 141
7.1.2 Pemodelan Biaya Bahan Bakar Pembangkit Thermal 142
7.1.3 Operasi Optimal Pembangkit Listrik Tenaga Thermal... 147
7.1.4 Perhitungan Rugi-rugi Transmisi 151
7.2 Operasi Ekonomis Sistem Tenaga Listrik .. . . . . . . . . . . .. 156
7.2.1 Kesepakatan Unit Pembangkit Thermal..... 158
v
7.2.2 Operasi Ekonomis Dengan Mengabaikan Rugi-rugi
Saluran Transmisi. 160
7.2.3 Operasi Ekonomis Dengan Memperhitungkan Rugi-rugi
Saluran Transmisi. 161
BAB VIII PENGENDALIAN SISTEM TENAGA LISTRIK . . . . . . . . . 165
8.1 Pendahuluan 165
8.2 Pengendalian Daya Aktif dan Frekuensi 166
8.3 Pengendalian Daya Reaktif dan Tegangan. 172
8.4 Pengendalian Sistem Tenaga Listrik dengan FACTS. 181
BAB IX OPTIMASI SISTEM TENAGA LISTRIK. . . . . . . .. .. 186
9.1 Pendahuluan 186
9.2 Optimasi Sistem Tenaga Listrik Metode Liniear
Programing.. 187
9.3 Optimasi Sistem Tenaga Listrik Metode Program Dinamis.. 191
9.4 Optimasi Sistem Tenaga Listrik Metode Merit Order 206
9.5 Optimasi Sistem Tenaga Listrik Metode Gradien Orde Dua.. 211
9.6 Optimasi Sistem Tenaga Listrik Metode Fuzzy Logic... 214
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
PENDAHULUAN
Sebagai bagian dari tata dunia baru di era persaingan pasar global, Indonesia dituntut
untuk mampu melahirkan manusia-manusia yang berkualitas dan mampu memainkan peran
sebagai garda depan persaingan antar bangsa-bangsa. Untuk itu perlu adanya kerja keras dari
semua komponen bangsa dalam menghadapi persaingan tersebut. Atas dasar realitas dan
tantangan masa depan tersebut maka menyiapkan individu-individu yang berkualitas dengan
sejumlah karakteristik menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi. Salah satu cara untuk
mempersiapkan bangsa Indonesia untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat tersebut
adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada melalui pendidikan.
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mencerdaskan bangsa, investasi jangka panjang
yang memerlukan usaha dan dana yang cukup besar. Pendidikan juga merupakan usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat.
Perancangan Pembangkitan Tenaga Listrik merupakan salah satu mata kuliah wajib pada
jurusan Teknik Elektro, konsenstrasi Teknik Energi Elektrik pada Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin yang disajikan pada Semester tiga setiap tahun ajaran. Mata kuliah ini
memberikan gambaran tentang perencanaan sistem pembangkitan dengan mempertimbangkan
dua aspek yaitu aspek ekonomis dan aspek teknis, mengembangkan sistem untuk memenuhi
kebutuhan energi listrik dari pemakai energi (demand) secara kontinu dan memenuhi kualitas
yang diinginkan dengan analisis demand dan evaluasi sumber-sumber energi yang ada,
sehingga akan tercapai keseimbangan antara pemasok (supply) energi dan pemakai energi
(demand). Ada 4 kriteria kunci yang perlu diketahui dari mata kuliah ini adalah Economic
Viability, Technical Fesiability, Financial Security dan Inveronmental Asceptability.
Proses pembelajaran yang digunakan saat ini berupa kuliah tatap muka dan
diskusi/presentasi kelompok. Dengan adanya proses pembelajaran ini diharapkan penilaian
yang dilakukan tidak hanya dari segi kognitif saja tetapi juga termasuk segi afektif. Selain
diskusi kelompok mahasiswa diberikan tugas individu dengan mengambil kasus sistem
kelistrikan yang relevan dengan materi yang telah disajikan, mahasiswa juga dituntut
2
menggunakan software aplikasi program untuk analisis, sehingga akan membuat mahasiswa
lebih aktif dalam menguasai materi.
Perancangan Pembangkitan Tenaga Listrik merupakan mata kuliah dengan Jumlah
peserta setiap kelasnya berkisar 22 orang. Nilai angka rata-rata yang diperoleh sebesar 90
dimana nilai ini setara dengan nilai A.
Tabel Jumlah Mahasiswa yang Memperoleh Nilai A-E
Nilai Jumlah Mahasiswa
A 10
A- 6
B 4
B- 2
C 0
E 0
Total 22
Dari Tabel diatas dapat disimpulkan bahwa hasil dari proses pembelajaran sudah
cukup baik sesuai yang diharapkan. Dengan adanya bahan ajar ini, diharapkan dapat lebih
meningkatkan kualitas pembelajaran dan memudahkan mahasiswa dalam menguasai materi-
materi perkuliahan secara sistematis, disisi lain kurangnya buku bacaan dalam bahasa
indonesia yang dapat diakses oleh mahasiswa juga menjadi salah satu kendala, sehingga
keberadaan bahan ajar ini sangat penting dalam proses belajar mengajar dikelas.
Bahan ajar ini juga dapat di-download di website milik Universitas Hasanuddin
( sistem pembelajaran berbasis Learning Management System /LMS) sehingga memudahkan
mahasiswa dalam mengakses materi perkuliahan setiap saat.
Sistematika penulisan buku ajar ini terbagi dalam 9 (Sembilan) Bab dengan harapan
maksud dan tujuan dari penulisan ini dapat terangkum seluruhnya. Pembagian Bab tersebut
adalah sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan
Bab pendahuluan menggambarkan secara singkat deskripsi mata kuliah
Perancangan Pembangkitan Tenaga Listrik dan proses pembelajaran
yang diterapkan dalam mata kuliah ini.
BAB II : Karakteristik Pembangkit Hidro dan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal
3
Bab ini mencakup karakteristik input output pembangkit listrik tenaga
thermal, karakteristik input output pembangkit listrik tenaga hidro, dan
kendala-kendala operasi pada pusat pembangkit listrik (PLTA, PLTD,
PLTG dan PLTU ).
BAB III : Pembangkit Listrik Tenaga Hidro
Bab ini menguraikan secara ringkas prinsip kerja, proses konversi energi
dan masalah operasi pada pembangkit listrik tenaga hidro, yakni PLTMH,
PLT Minihidro (PLTM) dan PLTA.
BAB IV : Pembangkit Listrik Tenaga Thermal
Bab ini menguraikan secara ringkas prinsip kerja, proses konversi energi
dan masalah operasi pada pembangkit listrik tenaga thermal, yakni PLTG,
PLTU dan PLTGU.
BAB V : Sekuriti Sistem Tenaga Listrik
Bab ini membahas fungsi sekuriti pada sistem tenaga listrik yaitu sistem
monitoring, analisis kontigensi dan analisis tindakan korektif.
BAB VI : Stabilitas Sistem Tenaga Listrik
Bab ini membahas Stabilitas Steady State, Stabilitas Transient dan
Stabilitas Dinamis pada sistem tenaga listrik.
BAB VII : Operasi Sistem Tenaga Listrik
Bab ini mencakup operasi optimal dan ekonomis pada sistem tenaga listrik
dengan atau tanpa memperhitungkan rugi-rgi saluran transmisi.
BAB VIII : Pengendalian Sistem Tenaga Listrik
Bab ini mencakup pengendalian daya aktif dan frekuensi pengendalian
daya reaktif dan tegangan, seerta pengendalian dengan FACTS pada
sistem tenaga listrik.
BAB IX : Optimasi Sistem Tenaga Listrik
Bab ini membahas beberapa metode optimasi sistem tenaga listrik yaitu
optimasi sistem tenaga listrik metode linear programming, optimasi sistem
tenaga listrik metode Program Dinamis, optimasi sistem tenaga listrik
metode Merit Order, optimasi sistem tenaga listrik metode Gradien Orde
Dua, dan optimasi sistem tenaga listrik metode Fuzzy Logic.
4
Garis Besar Rencana Pembelajaran (GBRP
Nama / Kode Mata Kuliah : PERANCANGANPEMBANGKITAN TENAGALISTRIK
Kompetensi Sasaran : Kompetensi Utama:
Kemampuan merencanakan pembangkitan sistem tenaga dengan
memprtimbangkanaspek ekonomis dan teknis
Kompetensi Pendukung:
1. Mahasiswa mengembangkan kemampuan dalam perencanaan
pembangkitan energi listrik.
2. Mahasiswa mengembangkan kemampuan bekerjasama, baik sebagai ketua
maupun anggota dari sebuah timkerja.
Sasaran Belajar : 1. Mahasiswa memahami prinsip perancangan pembangkitan secara
ekonomis dan teknis.
2. Mahasiswa mampu mengutarakan pendapat di depan orang banyak dan
menjawab pertanyaan dari audience.
3. Mahasiswa mampu berdiskusi secara kelompok dan mengutarakan
pendapat.
4. Mahasiswa mampu menganalisis literatur yang menggunakan bahasa
Inggris
Model Pembelajaran : Project Based Learning
Minggu
ke-
Sasaran
Pembelajaran
Materi Pembelajaran
Strategi
Pembelajaran
Kriteria
Penilaian
(indicator
Bobot
Nilai
(%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Mahasiswa
mengetahui tujuan
perancangan
pembangkitan
Kontrak Kuliah/Pengantar
Perancangan
Pembangkitan dan Tren
Pengembangannya
Ceramah
0
2 Mahasiswa
mampu
menyebutkan
karakteristik
pembangkit
thermal dan hidro
Karakteristik Input
Output Pembangkit
Listrik Tenaga
Thermal
Karakteristik Input
Output Pembangkit
Listrik Tenaga Hidro
Kendala-Kendala
Operasi Pada Pusat
Pembangkit Listrik
thermal dan hidro,
PLTA,PLTG,PLTU,P
LTGU.
Ceramah/Lapor
an - Kedalama
n materi
- Referensi
yang
sesuai.
- Format
Paper
5%
5
3 Mahasiswa mampu
menjelaskan
prinsip kerja,
proses konversi
energy dan
masalah operasi
pada pembangkit
hidro PLTMH,
PLTM dan PLTA
Klasifikasi
Pembangkit Listrik
Tenaga Hidro
Pembangkit Listrik
Tenaga Mikrohidro
Pembangkit Listrik
Tenaga Minihidro
Pembangkit Listrik
Tenaga Air
Ceramah
&
Diskusi
- Kedalaman
materi
- Kemampuan
Diskusi
5 %
4-5 Mahasiswa mampu
menjelaskan
prinsip kerja,
proses konversi
energy dan
masalah operasi
pada pembangkit
thermal PLTG,
PLTU dan PLGU
Pembangkit Listrik
Tenaga Gas
Pembangkit Listrik
Tenaga Uap
Pembangkit Listrik
Tenaga Gas-Uap
Cogeneration

Ceramah
&
Diskusi
- Kedalaman
materi
- Kemampuan
Diskusi 5%
6-8 Mahasiswa
mampu
memahami dan
menjelaskan
pentingnya fungsi
sekuriti pada
tenaga listrik .
Sistem Monitoring
Tenaga Listrik
Analisis Kontigensi
Sistem Tenaga Listrik
Analisis Korektif
Sistem Tenaga Listrik
Presentase
&
Diskusi
- Kedalaman
materi
- Kemampuan
Diskusi
5%
9 Mid Test Mid Test
25 %
10 12 Mahasiswa
mampu
memahami
stabilitas pada
system tenaga
listrik
Stabilitas Steady
State Sistem Tenaga
Listrik
Stabilitas Transient
Sistem Tenaga
Listrik
Stabilitas Dinamis
Sistem Tenaga
Listrik
Perasamaan Ayunan
dan pemodelan
Mesin Sinkron Pada
Studi Kestabilan
Presentase
&
Diskusi
- Kedalaman
materi
- Kemampuan
presentasi
- Kemampuan
Menjawab
- Kemampuan
Diskusi
pendapat
kelompok
5 %
13 Mahasiswa
mampu
memahami
operasi system
tenaga listrik
Operasi Optimal
Sistem Tenaga
Listrik
Operasi Ekonomis
Sistem Tenaga
Listrik
Presentase
&
Diskusi
- Kedalaman
materi
- Kemampuan
presentasi
- Kemampuan
Diskusi
kelompok
5%
6
14 Mahasiswa
Mampu
melakukan
simulasi
pengendalian
pembangkitan
tenaga listrik
Simulasi
pengendalian daya
aktif dan frekuensi
Simulasi
pengendalian daya
reaktif dan tegangan
Simulasi
pengendalian
FACTS.
Project/Tugas
Besar
- Kedalaman
materi
- Kemampuan
presentasi
- Kemampuan
Menjawab
- Kemampuan
Diskusi
pendapat
kelompok
5%
15 Mahasiswa
mampu
memahami
metode-metode
optimasi system
tenaga listrik
Optimasi Sistem
Tenaga Listrik
Metode Liniear
Programing
Optimasi Sistem
Tenaga Listrik
Metode Program
Dinamis
Optimasi Sistem
Tenaga Listrik
Metode Merit Order
Optimasi Sistem
Tenaga Listrik
Metode Gradien
Orde Dua
Optimasi Sistem
Tenaga Listrik
Metode Fuzzy Logic
Ceramah., Tugas
dan presentase
- Kedalaman
materi
- Kemampuan
presentasi
- Kemampuan
Menjawab
- Kemampuan
Diskusi
pendapat
kelompok 5%
16 Final Test Final Test 35%
4
BAB II KARAKTERISTIK PEMBANGKIT
HIDRO
DAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA THERMAL
Karakteristik pembangkit merupakan modal dasar dalam melakukan pengaturan ouput
pembangkit untuk menekan pembiayaan bahan baku energi. Melalui karakteristik
pembangkit ini dibuat model matematisnya sehingga dapat dilakukan proses optimasi
dalam memperoleh optimum ekonomi biaya pembangkitan.
2.1 KARAKTERISTIK INPUT OUTPUT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
THERMAL
Karakteristik ini menyetarakan hubungan antara input pembangkit sebagai fungsi dari
output pembangkit. Persamaan karateristik input-output pembangkit menyatakan
hubungan antara jumlah bahan bakar yang dibutuhkan untuk menghasilkan daya tertentu
pada pembangkit tenaga listrik yang didekati dengan fungsi binomial, yaitu :
Keterangan :
F = input bahan bakar (liter/jam)
P = output daya pembangkit (MW)
a,b,c = konstanta persamaan
persamaan input output diperoleh dengan mengolah data operasi pembangkit dengan
menggunakan Metode Kuadrat Terkecil ( Least Square Methode ). Apabila terdapat N
data daya keluaran Pi dan jumlah bahan bakar Fi, konstanta persamaan dengan
menyelesaikan persamaan (2.1).
Apabila pada pusat pembangkit terdapat unit pusat pembangkit yang memiliki
persamaan input-output yang berbeda. Untuk tujuan penjadwalan pembangkit tenaga
5
listrik diperlukan satu persamaan karateristik yang mengimplementasikan persamaan
karateristik input-output pembangkit tenaga listrik yang terhubung pada bus yang sama.
Persamaan tersebut lebih dikenal dengan persamaan karateristik input-output ekuivalen.
Dimisalkan suatu pusat pembangkit listrik yang terdiri dari m buah unit pembangkit
dengan masing-masing persamaan karakteristik input-output sebagai berikut :
Untuk mendapatkan sebuah persamaan ekuivalen dari m buah persamaan digunakan
rumus :
Koefesien persamaan karakteristik input-output ekuivalen diperoleh dengan
menyelesaikan persamaan (2.6 ) berikut :
2.2 KARAKTERISTIK INPUT OUTPUT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA
HIDRO
Karateristik input-output dari pembangkit tenaga listrik hidro menggambarkan hubungan
antara input kepenggerak mula (turbin) berupa jumlah air yang dialirkan diantara sudu-
sudu turbin persamaan waktu dengan output daya dari generator. Output dari pembangkit
listrik hidro adalah daya yang dikirim keluar yaitu net output generator dikurangi dengan
daya untuk pemakaian sendiri seperti untuk pompa, pengisian baterai dan peralatan
penunjang lainnya.
6
Daya output generator sebagai fungsi dari tinggi terjun dan debit air dapat dinyatakan
sebagai berikut :
Suatu bentuk alternative dari persamaan di atas dapat diperoleh dengan mendefenisikan
variabel efesiensi baru G sebagai berikut :
Sehingga menghasilkan persamaan (2.9),
Untuk ketinggian air yang konstan bentuk karateristik tersebut dapat digambarkan seperti
gambar 2.1.
7
Oleh karena tinggi terjun air dianggap konstan, maka besar debit air sebagai fungsi daya
output pembangkit akan didekati dengan persamaan polynomial orde dua yaitu :
Persamaan laju pertambahan pemakaian air ( incremental Water Rate ) diperoleh dari
turunan pertama persamaan input-output, yaitu :
2.3 LAJU PERTAMBAHANPEMAKAIAN BAHAN BAKAR
( Incremental Fuel Rate )
Laju pertambahan pemakaian bahan bakar (IFR) menggambarkan hubungan antara
perubahan masukan dan perubahan keluaran yang sesuai dengan perubahan tersebut.
Secara sistematis dapat dituliskan sebagai berikut :
Bila perubahannya sangat kecil ( mendekati nol), maka persamaan (2.13) dapat
dinyatakan seperti :
8
Kurva karakteristik laju pertambahan bahan bakar pembangkit thermal diperlihatkan
pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2 Kurva karakteristik laju pertambahan pemakaian bahan bakar untuk
pembangkit thermal.
Sebenarnya input dalam kurva pertambahan biaya produksi (Incremental Production
Cost-IPC) pembangkit tenaga listrik termal tidak hanya meliputi bahan bakar, melainkan
juga mencakup biaya operasi lainnya. Namun karena komponen biaya bahan bakar jauh
lebih besar daripada komponen biaya lain, maka biaya produksi (production cost)
dianggap sebagai biaya bahan bakar ( fuel cost).
Kurva pertambahan biaya produksi atau kurva biaya bahan bakar memberikan
informasi tentang perbedaan segi ekonomis operasi setiap unit pembangkit tenaga listrik.
Kurva pertambahan biaya produksi bahan bakar diperoleh dengan mengalikan jumlah
bahan bakar dengan harga satuan bahan bakar, sehingga dari karakteristik ini dapat
dilakukan penjadwalan pembangkitan yang ekonomis.
2.4 KENDALA-KENDALA OPERASI PADA PUSAT LISTRIK TENAGA AIR
Tidak terdapatnya proses pembakaran sehingga tidak ada perubahan suhu yang besar
pada bagian-bagian PLTA, merupakan faktor yang sangat mengurangi kendala operasi
pada PLTA. Kendala operasi dari unit PLTA tidak sebanyak pada unit PLTU terutama
untuk keadaan dinamis PLTA umumnya dapat cepat distart dan lebih mudah mengalami
9
perubahan beban.Kendala operasi pada PLTA umumnya adalah kendala operasi dalam
keadaan musim kemarau sehingga kurang air dan PLTA tidak dapat beroperasi secara
optimal.
1. Beban Maksimum
Beban maksimum pada unit PLTA pada umumnya dapat mencapai nilai nominal
seperti yang tertera dalam spesifikasi pabrik. Dalam prakteknya nilai nominalnya ini
kadang-kadang tidak dapat tercapai ini dikarenakan ada bagian berputar (totaring
part) yang kurang sempurna atau proses yang kurang baik kedudukannya sehingga
timbul suhu atau getaran yang berlebihan. Ada pereparat (Seal) yang kurang baik
sehingga air yang bertekanan tidak melalui rotor turbin tetapi langsung mengalir ke
pipa pembuangan.
Kurang tingginya permukaan air dalam kolam tando sehingga tinggi terjun tidak
cukup. Kurang daripada nilai yang disyaratkan oleh spesifikasi pabrik. Hal semacam
ini kadang-kadang terjadi pada musim kemarau.
2. Beban Minimum
Beban minimum pada unit PLTU disyaratkan karena pemakaian air tidak semata
mata untuk pembangkit tetapi juga digunakan uintuk keperluan lainnya. PLTA serba
guna misalnya dimana airnya juga dipakai untuk irigasi, ada syarat air minuman yang
harus keluar dan PLTA untuk keperluan irigasi sehingga hal ini juga mensyaratkan
beban minimum bagi PLTA. Hal ini serupa juga terjadi apabila air keluar dari PLTA
digunakan untuk pelayanan air minum.
3. Kecepatan Perubahan Beban
Untuk PLTA masalah kecepatan perubahan beban dapat dilakukan dengan cepat jika
dibandingkan dengan unit pembangkit lainnya. Unit PLTA umumnya dapat diubah
bebannya dari 0%sampai 100% dalam waktu kurang dari setengah menit.
4. Perhitungan Cadangan Berputar
Untuk unit PLTA, cadangan berputar dapat dianggap sama dengan kemampuan
maksimum dikurangi dengan beban sesaat dari unit.
10
2.5 KENDALA-KENDALA OPERASI PADA PUSAT LISTRIK TENAGA GAS
Karena unit PLTG adalah unit pembangkit yang termahal biaya operasinya khususnya
termahal biaya bahan bakarnya maka diinginkan agar unit PLTA beroperasi dalam waktu yang
sependek mungkin, misalnya pada waktu beban puncak atau pada waktu ada kerusakan/gangguan
unit lain (sebagai unit cadangan). Tetapi dilain pihak men-start dan men-stop unit PLTG akan
menambah keausan unit tersebut sehingga merupakan kendala operasi yang harus diperhitungkan.
Pada PLTG turbin gas diputar oleh gas hasil pembakaran yang suhunya 9000C, operasi dengan gas
yang bersuhu tinggi inilah merupakan sebab utama timbulnya keausan apabila unit PLTG
mengalami start-stop sehingga merupakan kendala operasi seperti tersebut diatas. Beban operasional
pada unit PLTG perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Operasi dengan gas bersuhu tinggi inilah yang merupakan sebab utama timbulnya
keausan apabila unit PLTG mengalami start-stop yang merupakan kendala operasi.
Dalam operasi PLTG perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Beban Maksimum
Dalam spesifikasi teknik PLTG disebut dua macam rating kemampuan yaitu :
a. Base Load Rating yang menggambarkan kemampuan unit untuk melayani beban
terus menerus.
b. Peak Load Rating yang menggambarkan kemampuan unit untuk melayani beban
selama dua jam. Peak load rating besarnya kurang lebih 10% diatas base load
rating.
Seperti telah diuraikan diatas, unit PLTG beroperasi pada suhu tinggi. Hal ini mudah
menimbulkan karosi suhu tinggi apabila bahan bakar banyak mengandung vanadium,
potassiumatau sodium.
Dalam praktek spesifikasi berkuis untuk bahan bakar menjadi dua hal ini dinyatakan
dengan batas metallic content yang tidak boleh dilampaui, berkisar pada nilai satu
part permillion berat (ppm).
Masalah kwalitas bahan bakar, suhu gas hasil pembakaran beserta metallic content
inilah faktor utama yang membatasi beban maksimumdari turbin gas.
11
Unit PLTG dilengkapi daya speed tronic card yang secara otomatis melalui governer
akan mengurangi beban dari unit apabila ia mendeteksi tegangan yang
diperbolehkan.
Untuk beban yang sama suhu gas hasil pembakaran ini bisa naik karena proses
pembakaran yang tidak sempurna misalnya karena pengaruh bahan bakar kurang
sempurna kerjanya.
2. Beban Minimum
Batas beban minimum untuk unit PLTG tidak disebabkan karena alus melainkan
lebih disebabkan oleh masalah ekonomi yaitu efisiensi yang mudah pada beban yang
rendah.
Gambar 2.3 kurva Biaya Minimum
Pada gambar diatas tampak bahwa :
Pada beban 100% bb minyak dilampaui 0,346 l/kwh
Pada beban 75% bb minyak dilampaui 0,335 l/kwh
Pada beban 50% bb minyak dilampaui 0,443 l/kwh
Pada beban 25% bb minyak dilampaui 0,645 l/kwh
Apabila harga bahan bakar yang dipakai adalah HSD ril dengan harga Rp. 2200/ liter
maka ini berarti bahwa pada beban 100% biaya bahan bakar Rp. 761,2/kwh sedang
pada beban 25% Rp. 1419/kwh.
12
3. Kecepatan Perubahan Beban
Umumnya PLTG dapat dirubah bebannya dari 0% menjadi 100% dalam waktu
kurang dari 15 menit, sehingga bagi tiap termis termasuk unit yang dapat dirubah
bebannya secara cepat. Tetapi jika diinput bahwa unit PLTG beroperasi dan suhu gas
pembakaran yang tinggi maka perubahan beban berarti perubahan suhu yang sudah
kecil pada beroperasi bagian turbin gas dan menambah keausan. Juga perlu diinput
bahwa penambah beban yang rendah maka sebaiknya unit PLTG tidak diubah-ubah
beban tetapi diusahakan berbeban mendekati penuh (80%) dan kawat. Perubahan
beban PLTG dilakukan dalamkeadaan darurat.
4. Perhitungan Cadangan Berputar
Karena kemampuannya untuk menambah beban yang relatif cepat seperti telah
diusulkan diatas maka cadangan berputar yang dapat diperhitungkan pada unit PLTG
adalah sama dengan kemampuan maksimum dikurangi dengan beban sesaat dari unit.
Tetapi sebaiknya juga diadakan perubahan beban.
PLTG sebaiknya dioperasikan untuk menangani beban puncak. Dalam operasi tenaga
listrik seringkali ada pembangkit start dan stop dalamsetiap hari, minggu.
PLTG memberikan konsekuensi biaya yang lain dari pada unit PLTU. Pada PLTG
perlu disuplai pada start-stop 300 kali atau setelah mengalami sejumlah jam operasi
tertentu tergantung pada mode of operation.
Perhitungan untuk menentukan time between combustion inspection unit PLTG
F x S x (6x + 3y z) 7500 + 10% (2.15)
Dimana :
F = Fuel factor yang besarnya bergantung kepada bahan bakar yang dipakai.
F = 1.0 untuk bahan bakar pada alami
= 1.4 untuk HSD
S = Start faktor yang besarnya tergantung kepada sekali berapa jam unit PLTG di
star besarnya adalah :
13
Start/waktu jam 1/1 1/3 1/5 1/10 1/20 1/100 1/500 1/1000
S = start faktor 2,6 2,83 1,80 1,28 1,15 1,9 0,9 0,85
X = Jumlah jam operasi yang melampaui peak rating.
Y = Jumlah jam operasi yang melampaui normal rating tetapi masih di bawah peak
rating.
Z = Jumlah jam operasi di bawah normal rating
2.6 KENDALA-KENDALA OPERASI PADA PUSAT LISTRIK TENAGA DIESEL
PLG yang terpelihara dengan baik praktis tidak mempunyai kendala operasi. Dapat di
start stop dengan cepat tanpa banyak menambah keausan, pemakaian bahan bakarnya
lebih hemat daripada PLTG tetapi masih lebih mahal dibanding dengan PLTU.
Walaupun pada PLTD praktis tidak ada kendala operasi, tetapi seperti juga pada
unit pembangkit lainnya secara operasional perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Beban Maksimum
Beban maksimum dari PLTD seringkali tidak bisa mencapai nilai yang tertulis dalam
spesifikasi pabrik karena ada bagian-bagian dari mesin diesel yang tidak bekerja
dengan sempurna.Misalnya pada beban 90% suhu gas buang sudah mencapai suhu
maksimum yang diperbolehkan sehingga beban tidak boleh dinaikkan lagi. Suhu gas
buang yang tidak tinggi ini bisa disebabkan karena pengabut kurang baik kerjanya
atau karena turbo charger sudah kotor sehingga tekanan udara yang masuk ke silinder
kurang tinggi.
2. Beban Minimum
Tidak ada hal yang membatasi beban minimum pada unit PLTD. Hanya saja pada
unit PLTD sering dibebani rendah, misalnya kurang dari 50% maka biaya operasinya
bertambah mahal jika dibebani minimum,sehingga lebih baik dibebani maksimum
efisiensinya standar seperti pada name plate.Disamping biaya operasi tinggi pada
beban rendah juga efisiensinya menjadi rendah.
14
3. Kecepatan Perubahan Beban
Pada PLTD umumnya dapat diubah bebannya dari 0% menjadi 100% dalam waktu
kurang dari 10 menit. Oleh karena kemampuannya yang cepat dalam mengikuti
perubahan beban, unit PLTD baik dipakai untuk turut mengatur frekuensi sistem
hanya sayangnya seperti telah diuraikan diatas kemampuan dayanya relatif kecil
dibanding dengan unit-unit pembangkit lainnya.
4. Perhitungan Cadangan Berputar
Mengingat kemampuannya dalam mengikuti perubahan beban seperti diuraikan diatas
maka cadangan berputar yang dapat diperhitungkan adalah sama dengan kemampuan
maksimum dikurangi dengan beban sesaat.
2.7 KENDALA-KENDALA OPERASI PADA PUSAT LISTRIK TENAGA UAP
Dari segi operasional PLTU paling banyak kendalanya khususnya dalam kondisi dinamis,
hal ini disebabkan banyaknya kendala komponen dalam PLTU yang harus diatasi.
Kendala operasi yang terdapat pada PLTU adalah :
a. Starting Time (waktu yang diperlukan untuk menstart) yang relatif lama, bisa
mencapai 6 sampai 8 jam apabila star dilakukan dalamkeadaan dingin.
b. Perubahan daya persatuan waktu yang terbatas kira-kira5% per menit. Hal ini
disebabkan karena proses star memerlukan waktu lama yaitu pada PLTU minyak
adalah memerlukan waktu 2 jam jika distar dalam keadaan dingin, maupun perubahan
daya dalam PLTU cukup lambat, menyangkut pula berbagai perubahan suhu yang
selanjutnya menyebabkan produksi uap tidak mencapai suhu minimal 500 derajat
Celsius sehingga energi panas yang dikandungnya untuk proses expansi tidak tercapai
dengan sempurna.
Untuk keperluan operasional pada PLTU perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Beban Maksimum
Dalam keadaan sempurna beban maksimum dari unit PLTU adalah sampai dengan
yang tercantum dalam buku spesifikasi teknis unit pembangkit. Dalam spesifikasi
teknik tersebut umumnya disebutkan beberapa beban maksimum untuk pembebanan
15
yang kontinu dan beberapa beban maksimum untuk waktu tertentu, dan apabila ada
bagian dari unit pembangkit yang bekerja tidak sempurna maka beban maksimumnya
dapat diturunkan.
2. Beban Minimum
Beban minimum dari PLTU berkisar disekitar 25%. Pembatasan ini biasanya
berhubungan dengan masalah kontrol karena pada beban rendah banyak yang
hubungannya tidak linear sehingga menyulitkan kerjanya alat-alat kontrol disamping
itu pula beban rendah nyala api menjadi kurang stabil dan mudah padam.
3. Kecepatan Perubahan Beban
Kecepatan perubahan beban pada unit PLTU harus menurut pada petunjuk Instruction
Manual yang dibuat oleh pabrik. Kecepatan perubahan beban yang mampu dilakukan
oleh unit PLTU tergantung pada kepada posisi beban permulaan dalam kaitannya
dengan sistem bahan bakar dan sistem pengisian air ketel. Ada PLTU yang didisain
apabila bebannya kurang dari 50% harus ada burner yang dimatikan dan juga ada
pompa pengisian air ketel yang dihentikan. Untuk menaikkan bebannya misalnya dari
40% ke 80%, tahapnya terbagi dua yaitu dari 40% sampai 50%, kemudian berhenti
sesaat untuk menyalakan burner tambahan dan pompa air pengisian ketel tambahan,
baru setelah burner tambahan dan pompa air pengisian ketel tambahan bekerja normal
beban dapat dinaikkan dari 50% sampai dengan 80%.
4. Perhitungan Cadangan Berputar
Untuk kondisi seperti diuraikan diatas, apabila unit pembangkit berbeban 40% maka
unit harus dianggap mempunyai cadangan berputar sebesar 50% - 40% : 40%, kalau
unit dalam keadaan 60% maka cadangan berputarnya bisa dianggap 100% - 60% :
40%.
16
BAB III
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA HIDRO
3.1 KLASIFIKASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA HIDRO
Pada dasarnya suatu pembangkit listrik tenaga hidro berfungsi untuk mengubah potensi
tenaga air yang berupa aliran air (sungai) yang mempunyai debit dan tinggi jatuh (head)
untuk menghasilkan energi listrik.
Secara umum Pusat Listrik Tenaga Air terdiri dari :
1) Pembangkit listrik tenaga mikrohidro,
2) Pembangkit listrik tenaga minihidro, dan
3) Pembangkit listrik tenaga Air.
Pembangkit listrik tenaga hidro dapat dikatagorikan dan diklasifikasikan sesuai besar
daya yang dihasilkannya, sebagaimana diperlihatkan pada tabel berikut:
No. JENIS DAYA / KAPASITAS
1. PLTA > 5 MW ( 5.000 kW).
2. PLTM 100 kW < PLTM < 5.000 kW
3. PLTMH < 100 kW
(Sumber : Severn Wye Energi Agency, www.swea.co.uk)
3.2 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) adalah pembangkit listrik berskala
kecil (kurang dari 100 kW), yang memanfaatkan tenaga (aliran) air sebagai sumber
penghasil energi. PLTMH termasuk sumber energi terbarukan dan layak disebut clean
energi karena ramah lingkungan. Dari segi teknologi, PLTMH dipilih karena
konstruksinya sederhana, mudah dioperasikan, serta mudah dalam perawatan dan
penyediaan suku cadang.
Secara ekonomi, biaya operasi dan perawatannya relatif murah, sedangkan biaya
investasinya cukup bersaing dengan pembangkit listrik lainnya. Secara sosial, PLTMH
mudah diterima masyarakat luas (bandingkan misalnya dengan Pembangkit Listrik
Tenaga Nuklir). PLTMH biasanya dibuat dalam skala desa di daerah-daerah terpencil
17
yang belum mendapatkan listrik dari PLN. Tenaga air yang digunakan dapat berupa
aliran air pada sistem irigasi, sungai yang dibendung atau air terjun.
3.2.1 Prinsip kerja PLT Mikrohidro
PLT Mikrohidro pada prinsipnya memanfaatkan beda ketinggian dan jumlah debit air per
detik yang ada pada aliran air saluran irigasi, sungai atau air terjun. Aliran air ini akan
memutar poros turbin sehingga menghasilkan energi mekanik. Energi ini selanjutnya
menggerakkan generator dan menghasilkan listrik.
Pembangunan PLTMH perlu diawali dengan pembangunan bendungan untuk
mengatur aliran air yang akan dimanfaatkan sebagai tenaga penggerak PLTMH.
Bendungan ini dapat berupa bendungan beton atau bendungan beronjong. Bendungan
perlu dilengkapi dengan pintu air dan saringan sampah untuk mencegah masuknya
kotoran atau endapan lumpur. Bendungan sebaiknya dibangun pada dasar sungai yang stabil
dan aman terhadap banjir.
Di dekat bendungan dibangun bangunan pengambilan (intake). Kemudian
dilanjutkan dengan pembuatan saluran penghantar yang berfungsi mengalirkan air dari
intake. Saluran ini dilengkapi dengan saluran pelimpah pada setiap jarak tertentu untuk
mengeluarkan air yang berlebih. Saluran ini dapat berupa saluran terbuka atau tertutup.
Di ujung saluran pelimpah dibangun kolam pengendap. Kolam ini berfungsi untuk
mengendapkan pasir dan meny aring kotoran sehingga air yang masuk ke turbin relatif
bersih. Saluran ini dibuat dengan memperdalam dan memperlebar saluran penghantar dan
menambahnya dengan saluran penguras. Kolam penenang (forebay) juga dibangun untuk
menenangkan aliran air y ang akan masuk ke turbin dan mengarahkannya masuk ke pipa
pesat (penstok). Saluran ini dibuat dengan konstruksi beton dan berjarak sedekat mungkin
ke rumah turbin untuk menghemat pipa pesat.
Pipa pesat berfungsi mengalirkan air sebelum masuk ke turbin. Dalam pipa ini,
energi potensial air di kolam penenang diubah menjadi energi kinetik yang akan
memutar roda turbin. Biasany a terbuat dari pipa baja yang dirol, lalu dilas. Untuk
sambungan antar pipa digunakan flens. Pipa ini harus didukung oleh pondasi yang
mampu menahan beban statis dan dinamisnya. Pondasi dan dudukan ini diusahakan
selurus mungkin, karena itu perlu dirancang sesuai dengan kondisi tanah.
18
Turbin, generator dan sistem kontrol masing-masing diletakkan dalam sebuah rumah
yang terpisah. Pondasi turbin-generator juga harus dipisahkan dari pondasi rumahnya.
Tujuannya adalah untuk menghindari masalah akibat getaran. Rumah turbin harus
dirancang sedemikian agar memudahkan perawatan dan pemeriksaan.
Setelah keluar dari pipa pesat, air akan memasuki turbin pada bagian inlet. Di
dalamnya terdapat guided vane untuk mengatur pembukaan dan penutupan turbin serta
mengatur jumlah air yang masuk kerunner/blade (komponen utama turbin). Runner
terbuat dari baja dengan kekuatan tarik tinggi y ang dilas pada dua buah piringan sejajar.
Aliran air akan memutar runner dan menghasilkan energi kinetic yang akan memutar
poros turbin. Energi y ang timbul akibat putaran poros kemudian ditransmisikan ke
generator. Seluruh sistem ini harus balance. Turbin perlu dilengkapi casing yang berf
ungsi mengarahkan air ke runner. Pada bagian bawah casing terdapat pengunci turbin.
Bantalan (bearing) terdapat pada sebelah kiri dan kanan poros dan berfungsi untuk meny
angga poros agar dapat berputar dengan lancar.
Daya poros dari turbin ini harus ditransmisikan ke generator agar dapat diubah
menjadi energi listrik. Generator yang dapat digunakan pada mikrohidro adalah generator
sinkron dan generator induksi. Sistem transmisi daya ini dapat berupa sistem transmisi
langsung (daya poros langsung dihubungkan dengan poros generator dengan bantuan
kopling), atau sistem transmisi daya tidak langsung, yaitu menggunakan sabuk atau belt
untuk memindahkan daya antara dua poros sejajar. Keuntungan sistem transmisi langsung
adalah lebih kompak, mudah dirawat, dan ef isiensiny a lebih tinggi. Tetapi sumbu poros
harus benar-benar lurus dan putaran poros generator harus sama dengan kecepatan putar
poros turbin.
Masalah ketidaklurusan sumbu dapat diatasi dengan bantuan kopling fleksibel.
Gearbox dapat digunakan untuk mengoreksi rasio kecepatan putaran. Sistem transmisi
tidak langsung memungkinkan adanya variasi dalam penggunaan generator secara lebih
luas karena kecepatan putar poros generator tidak perlu sama dengan kecepatan putar
poros turbin. Jenis sabuk yang biasa digunakan untuk PLTMH skala besar adalah jenis
flat belt, sedang V-belt digunakan untuk skala di bawah 20 kW. Komponen pendukung
yang diperlukan pada sistem ini adalah pulley, bantalan dan kopling. Listrik yang
19
dihasilkan oleh generator dapat langsung ditransmisikan lewat kabel pada tiang-tiang
listrik menuju rumah konsumen.
3.2.2 Perhitungan Teknis
Potensi daya mikrohidro dapat dihitung dengan persamaan:
Daya (P) = 9.8 x Q x Hn x h; ( 3.1 )
di mana:
P = Daya (kW)
Q = debit aliran (m3/s)
Hn = Head net (m)
9.8 = konstanta gravitasi
h = ef isiensi keseluruhan.
Misalnya, diketahui data di suatu lokasi adalah sebagai berikut: Q = 300 m3/s
2
, Hn = 12
m dan h = 0.5. Maka, besarnya potensi daya (P) adalah:
P = 9.8 x Q x Hn x h
= 9.8 x 300 x 12 x 0.5
= 17 640 W
= 17.64 kW
3.2.3 Perhitungan Ekonomis
Pembangunan PLT Mikrohidro memerlukan investasi yang relatif besar. Adapun, biaya
(harga) listrik per kWH-nya dihitung berdasarkan biaya awal (initial cost) dan biaya
operasional (operational cost). Komponen biaya awal terdiri dari: biaya bangunan sipil,
biaya fasilitas elektrik dan mekanik serta biaya sistem pendukung lain.Komponen biaya
operasional yaitu: biaya perawatan,biaya penggantian suku cadang, biaya tenaga
kerja(operator) serta biaya lain yang digunakan selama pemakaian.
Contoh perhitungan harga listrik per kWh dari PLT Mikrohidro adalah sebagai
berikut : Misalkan, untuk membangun suatu PLTMH dengan kapasitas terpasang 1 kW,
dibutuhkan biaya awal Rp 4 juta. Umur pakai mikrohidro yang dirancang adalah 10 tahun
20
dengan biaya operasional Rp. 1 Juta/tahun. Sehingga total biayanya menjadi Rp. 10 Juta.
Maka, biaya rata-rata (Rp) per hari adalah:
Sehingga,
Biaya (harga) per kWh ditentukan oleh biaya rata-rata perhari dan besarnya energi
listrik yang dihasilkan per hari (kWh/hari). Energi per hari ini ditentukan oleh besarnya
daya terpasang serta faktor daya. Jika diasumsikan faktor daya besarnya 12 jam/hari,
maka harga energi listrik per kWh adalah:
Sehingga,
3.2.4 Perancangan SistemPLT Mikrohidro
Tahap pertama perancangan PLT Mikrohidro adalah studi awal. Studi ini diawali dengan
survey lapangan untuk memperoleh data primer mengenai debit aliran dan head (beda
ketinggian). Debit aliran dapat diukur dengan metode konduktivitas atau metode Weir.
Berdasarkan data tersebut dapat dihitung perkiraan potensi daya awal. Data lapangan
sebaiknya diambil beberapa kali pada musim yang berbeda untuk memperoleh gambaran
yang tepat mengenai potensi daya dari aliran air tersebut. Selain itu, perlu dicari data
pendukung, yaitu: kondisi air (keasaman, kekeruhan, serta kandungan pasir atau lumpur),
keadaan dan kestabilan tanah di lokasi bangunan sipil, serta ketersediaan bahan,
transportasi dan tenaga trampil (operator).
Setelah survey lapangan, tahap perancangan selanjutnya adalah pemilihan lokasi dan
penentuan dimensi utama, pembuatan analisis keunggulan dan kelemahan setiap alternatif
pilihan, pembuatan sketsa elemen utama, penentuan tipe serta kapasitas turbin dan
generator y ang akan digunakan, penentuan sistem kontrol sistem (manual/otomatis),
21
perancangan jaringan transmisi dan distribusi serta perancangan sistem penyambungan ke
rumah-rumah.
Sebelum membangun PLT Mikrohidro di suatu tempat perlu diketahui dahulu
rencana PLN untuk daerah yang bersangkutan, kebutuhan listriknya, rencana penggunaan
day a listrik dan faktor bebannya, studi kelayakan ekonomi serta kesiapan lembaga
pengelola. Setelah semua studi yang diperlukan siap dan layak, dilakukan proses disain
yang lebih lebih rinci, yaitu: pembuatan detail gambar teknik, penentuan spesif ikasi
teknis secara jelas, penyusunan jadwal kegiatan, penghitungan biaya setiap komponen
serta penyiapan pengurus yang akan mengelola PLTMH. Jika seluruh disain ini telah siap
maka pembangunan PLT Mikrohidro dapat dimulai.
3.3 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO
Pembangkit Listrik Tenaga Minihdro adalah pembangkit listrik tenaga air dengan kisaran
output daya antara 100 kW sampai dengan 5000 kW. Keuntungan utama dari
pembangkit mini hidro adalah:
Efisiensi tinggi (70 - 90%), sejauh ini yang terbaik dari semua teknologi energi.
Faktor kapasitas tinggi (biasanya> 50%)
Tingkat tinggi prediktabilitas, bervariasi dengan pola curah hujan tahunan
Daya keluaran bervariasi hanya secara bertahap dari hari ke hari (tidak dari menit
ke menit).


3.4 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR
Pada umumnya energi air dapat dibagi atas :
1. Energi air kandungan mekanis :
a. Energi air terjun
b. Energi pasang surut
c. Energi ombak
2. Energi air kandungan termis
a. Energi panas laut
Dalam bentuk diagram dapat digambarkan sebagai berikut :
22
Gambar 3.1 Diagram Pembagian Sumber Daya Energi Air
3.4.1 Energi Air Kandungan Mekanis
3.4.1.1 Energi Air Terjun
Potensi tenaga air terjun tergantung pada kondisi geografis, keadaan curah hujan dan
areal (penampungan) aliran (catch ment area). Pengembangan sumber tenaga air secara
wajar, perlu diketahui secara jelas seluruh potensi sumber tenaganya. Jumlah potensi
tenaga air dipermukaan tanah disebut potensi tenaga air teoritis. Sedang yang dapat
dikembangkan atau diomanfaatkan dari segi teknis disebut potensi tenaga air teknis.
Untuk pengembangan secara ekonomis disebut potensi tenaga air ekonomis.
Pada umumnya potensi tenaga ekonomislah yang dianggap sebagai potensi tenaga
air. Namun dengan kemajuan dibidang teknologi dan perubahan konsep tentang ekonomi
potensi tenaga air, maka kategori potensi tenaga air teknis diperluas hingga meliputi
potensi tenaga air teoritis, dan tidak ada lagi perbedaan yang tegas diantara ketiganya.
Perbandingan antara potensi tenaga air teknis dan ekonomis terhadap potensi tenaga
air teoritis diperkirakan berturut-turut 34 - 40 % dan 20 - 30%. Berubah-ubah tergantung
pada tingkatan teknik dan ekonomi setempat.
Pada umumnya, ada 3 faktor utama untuk penentuansuatu potensi tenaga air bagi
pembangkit tenaga listrik yaitu :
23
a. Jumlah air yang tersedia, yang merupakan fungsi dari jatuh hujan dan atau salju.
b. Tinggi terjun yang dapat dimanfaatkan, dalam hal ini tergantung dari topopgrafi
daerah tersebut.
c. Jarak lokasi yang dapat dimanfaatkan terhadap adanya pusat-pusat beban atau
jaringan transmisi.
Penggunaan tenaga air disamping untuk keperluan pembangkit tenaga listrik, juga
masih merupakan pemanfaatan multiguna karena masih berhubungan dengan irigasi,
pengendalian banjir, perikanan, rekreasi dan navigasi. Sumber tenaga air diperoleh dari
adanya siklus hidolik daripada air, yaitu pemanasan dari sinar matahari yang kemudian
turun ke bumi dan kembali lagi terjadi penguapan akibat pemamanasan sinar matahari
tersebut.
Tabel 3.1 memperlihatkan angka-angka dan lokasi yang mempunyai kemungkinan
potensi tenaga air yang dapat digunakan untuk pembangkit tenaga listrik beberapa negara
didunia.
Tabel 3.1 Potensi Ekonomis Tenaga Air Untuk Pembangkit Tenaga Listrik
Beberapa Negara Didunia.
NO N E G A R A
POTENSI EKONOMIS
TENAGA AIR (GW)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Uni soviet
Amerika serikat (termasuk Alaska)
Kanada
Jepang
Norwegia
Swedia
Prancis
Italia
Austria
Swiss
Jerman barat
1.100
648
218
130
105
85
76
60
43
33
25
Sumber : Dr. A. Arismunandar dan DR. S. Kuwuhara, Teknik Tenaga Listrik, 1991.
Tabel 3.2 memperlihatkan angka-angka dan lokasi yang mempunyai
kemungkinan potensi tenaga air yang dapat digunakan untuk pembangkit tenaga listrik
diIndonesia.
24
Tabel 3. 2 Potensi Ekonomis Tenaga Air Untuk Pembangkit Tenaga Listrik Di Indonesia.
NO LOKASI
POTENSI EKONOMIS
TENAGA AIR (MW)
Presentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Sumatera
Jawa
Kalimantan
Sulawesi
Irian Jaya
Pulau lainnya
15.587
4200
21.589
10.183
22.371
1.054
22,8
5,6
28,8
13,6
29,8
1,4
TOTAL 74.976 100
Sumber : Komite Nasional Indonesia (World Energi Council ). Hasil-Hasil Lokakarya
1993.
3.4.1.2 Keuntungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
1. Tidak menimbulkan polusi udara.
Tidak ada SOX, NOX dan CO2 seperti yang biasa ditimbulkan oleh pembangkit listrik
berbahan bakar fosil ( minyak, batubara dan gas ). Sebagaimana diketahui SOX dan
NOX dapat menimbulkan hujan asam, yang sangat berbahaya bagi tumbuh-tumbuhan
maupun makhluk hidup lainnya. CO2 dianggap dapat menimbulkan pemanasan
global ( efek rumah kaca) yang akan menimbulkan perubahan cuaca serta dapat menaikkan
permukaan air laut karena es dikutub mencair. Jadi dengan membangun PLTA
berarti telah mengurangi kemungkinan timbulnya hujan asam dan pemanasan global.
2. Tenaga air adalah energi yang terbarukan dan umur ekonomis PLTA panjang.
Banayak PLTA yang berumur lebih dari 50 tahun masih beroperasi dengan baik.
3. Mengoperasikan PLTA berarti menghemat pemakaian BBM yang selama ini dipakai
oleh PLTD, PLTG, PLTGU maupun PLTU minyak, terutama mengurangi pemakaian
solar yang sekarang sudah terpaksa diimpor karena produksi dalam negeri tidak
cukup. Dengan demikian pengoperasian PLTA juga berarti menghemat devisa.
4. Pemakaian PLTA pada umumnya lebih menguntungkan karena biaya pembangkitan
lebih murah daripada jenis pembangkit lainnya. Selain itu tidak ada kenaikan biaya
operasi yang biasanya disebabkn oleh kenaikan biaya BBM.
5. Dengan memakai tenaga air berarti memanfaatkan sumber energi yang tidak dapat
diekspor, dan memeberi kesempatan sumber energi lain seperti minyak, gas dan
25
batubara untuk diekspor dan menghasilkan devisa atau diproses menjadi bahan lain
yang diperlukan.
6. Sumber energi air tersebar didaerah-daerah di seluruh Indonesia, sehingga dengan
membangun PLTA didaerah-daerah berarti pemerataan pembangunan dan
pembangunan prasarana berupa PLTA ini dengan jaringan transmisi dan distribusi
akan dapat memenuhi permintaan tenaga listrik baik untukpelanggan umum
perkotaan, industri maupun kelistrikan desa.
7. Membangun PLTA dengan waduk mempunyai dampak positif yang luas dan
keuntungan tambahan misalnya waduk dipakai untuk parawisata, perikanan, olahraga
air, pengendalian banjir, sumber air minum, sumber air tanah, sumber air pengairan
untukpertanian dan sebagainya.
8. Tergantung dari sumber tenaga air yang tersedia, kebutuhan sistem tenaga listrik
sertga desain yang ekonomis dan optimum maka PLTA dapat dioperasikan untuk
beban puncak (peak load) maupun beban dasar ( base-load). PLTA dapat melayani
perubahan beban yang cepat, sehingga sangat penting untuk membantu menjaga
stabilitas serta keandalan sistem tenaga listrik.
9. Pembangunan PLTA akan membuka lapangan kerja di daerah-daerah yang mungkin
letaknya dipelosok (terpencil).
10. Beberapa peralatan PLTA sudah dapat dibuat didalam negeri dengan atau tanpa
kerjasama dengan asing antara lain pintu air, pipa pesat, bagian-bagian turbin air dan
alat bantu mekanik. Juga generator, transformator, panel-panel, kabel switchgears dan
sebagainya. Hal ini berarti menghemat devisa, memungkinkan alih teknologi dari
perusahan asing serta memberikan lapangan kerja dalam negeri.
11. Karena biaya pembangkitan PLTA murah, maka PLTA cocok untuk industri yang
electric energi intensive seperti industri aluminium (PLTAAsahan II/tangga dan
sigura-gura) dan nickel (PLTA Larona).
12. Bila perlu PLTA dapat dioperasikan secara automatic dari jarak jauh (remote control)
dengan aman, sehingga tidak memerlukan operator yang banyak. Ini penting terutama
ditempat terpencil atau untuk PLTA dengan gedung sentral bawah tanah. Beberapa
PLTA juga dapat dikendalikan dari jarak jauh dari suatu pusat pengendalian ( control
center ) sehingga hanya memerlukan operator sedikit sekali.
26
13. Biaya operasi dan pemeliharaan PLTA sangat murah dan pemakaian listrik untuk
keperluan sendiri kecil.
14. Sudah terbukti beberapa spare part peralatan mesin dan listrik untuk PLTA dapat
dibuat didalam negeri, denganbiaya lebih murah dari impor, sehingga menghemat
devisa, memberi pengalaman kepada bengkel-bengkel didalam negeri serta
memberikan lapangan pekerjaan. Sebagai contoh runner turbin air untuk PLTA kecil
telah dapat dibuat didalam negeri.
3.4.1.3 Prinsip Pembangkit Energi Air
Pembangkit Tenaga Air adalah suatu bentuk perubahan tenaga dari tenaga air dengan
ketinggian dan debit tertentu menjadi tenaga listrik dengan menggunakan turbin air dan
generator. Untuk keperluan estimasi daya yang dibangkitkan secara kasar dapat
digunakan rumus sederhana yaitu :
Dimana
P = daya [kW]
Q = debit air [m3/detik]
P= f. Q .H (3.2)
H = tinggi air terjun [m]
F = suatu factor antara 0,7 dan 0,8
Untuk keperluan survai data-data primer yang diperlukan :
a. umlah energi yang secara teoritis dapat diperoleh setahun, dalam kondisi-kondisi
tertentu dimusim hujan dan musim kering.
b. Jumlah daya pusat listrik yang akan dipasang, dengan memeperhatikan apakah
pusat listrik itu akan dipakai untuk beban dasar atau beban puncak.
Gambar 3.2 memperlihatkan secara skematis
A. Bendungan besar
B. Saluran terbuka dan bendungan ambil air B
Air masuk ke dalam pipa tekan, dan selanjutnya ke turbin melalui katub.
27
3.4.1.4 Beberapa Kendala Dalam Pemanfaatan Tenaga Air
Untuk Pembangunan PLTA
1. Waktu persiapan dan pembangunan PLTA yang lama
Pembangunan PLTA harus dipersiapkan jauh sebelumnya, karena kebutuhan waktu
yang lama untuk survey prastudikelayakan, studi kelayakan, desain (basic dan detail
plant design) serta pembuatan dokumen lelang, yang semuanya membutuhkan waktu
kira-kira empat tahun, belum termasuk waktu yang diperlukan untuk penyediaan
dana, penunjukan konsultan, pelelangan dan lain-lain.
Sedangkan pembangunan sendiri rata-rata memerlukan waktu lama, belum termasuk
waktu yang diperlukan untuk penyediaan dana negoisasi, penunjukan kontraktor dan
lain-lain. Dengan sendirinya PLTA tidak dapat memenuhi kebutuhan pembangunan
pusat listrik yang cepat, yang biasanya dapat dipenuhi dengan PLTD, PLTG dan
PLTGU.
2. Biaya investasi yang tinggi
Kapasitas (MW) suatu PLTA untuk beban dasar maupun beban puncak didesain
sehingga optimum dan biaya pembangkitannya lebih murah daripada jenis
28
pembangkit lain, baik PLTU untuk beban dasar maupun PLTG untuk beban puncak.
Akan tetapi biaya investasi per kW untuk PLTA adalah lebih mahal daripada PLTG,
PLTD, PLTGU dan PLTU. Dengan keterbatasan sumber dana ditambah lagi
kebutuhan adanya pembankit listrik yang mendesak, maka sering terjadi pilihan
terhadap pembangkit lain lebih didahulukan.
3. Masalah infrastruktur untuk pembangunan
Karena proyek PLTA umumnya asa didaerah terpencil, maka diperlukan adanya
infrastruktur berupa jalan, base camp, jaringan listrik atau PLTD. Hal ini memerlukan
biaya cukup besar dan perlu waktu untuk pembangunanannya anatara 1,5 sampai 2
tahun.
4. Masalah Lingkungan
Termasuk dalam lingkungan antara lain masalah pembebasan tanah. Terutama untuk
PLTA dengan waduk, maka masalah jumlah ganti rugi pembebasan tanah ( baik
tempat tinggal, kebun, maupun sawah ) sering menimbulkan masalah. Hal ini sangat
tergantung adanya dukungan pemerintah daearah dan dana yang tersedia.
Sering juga tanah kehutanan terkena oleh proyek. Kelangsungan proyek tergantung
ijin dari menteri kehutanan, sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Disamping
masalah pemindahan penduduk, pengaruh pembangunan proyek terhadap fauna dan
flora juga penting sekali, terutama untuk daerah yang akan tergenang dengan adanya
pembangunan waduk. Sebagai contoh di proyek PLTA kota panjang terpaksa
memindahkan gajah sebanyak 25 ekor. Pengaruh pembangunan dan terhadap
kehidupan ikan juga perlu dipelajari dan diatasi. Pada umumnya dampak masalah
lingkungan dari PLTA adalah local.
5. Masalah yang berhubungan dengan kondisi alam
Masalah yang berhubungan dengan kondisi alam yaitu kondisi geologi dan hidrologi.
Sering terjadi geological investigation yang telah dikerjakan ternyata belum cukup.
Hal ini dapat menimbulkan masalah terutama pada pembuatan bendungan,
terowongan, gedung sentral, angker blok pada pipa pesat dan lain-lain, sehingga
terpaksa terjadi perubahan desain dan ada pekerjaan tambahan dan tambahan biaya,
serta waktu pembangunan bertambah.
29
Selama ini dalam batas-batas tertentu, hal ini tidak merupakan masalah. Sedangkan
data hidrologi yang dipakai untuk desain PLTA umumnya telah diambil selama dari
sepuluh tahun ( untuk curah hujan ada sekitar 30 tahun ) sehingga ada kesesuaian
dengan kondisi sebesarnya pada waktu operasi, kecuali bila ada penyimpangan
musim.
Bila musim hujan lebih panjang tentunya lebih menguntungkan sedangkan bila
musim kemarau lebih panjang maka ini menjadi masalah. Di beberapa PLTA
kekeurangan curah hujan dipecahkan dengan hujan buatan.
3.4.2.1 Potensi energi pasang surut
Pasang surut air laut adalah suatu gejala fisik yang selalu berulang dengan periode
tertentu dan pengaruhnya dapat dirasakan sampai jauh masuk kearah hulu dari muara
sungai. Pasang surut terjadi karena adanya gerakan dari benda benda angkasa yaitu rotasi
bumi pada sumbunya, peredaran bulan mengelilingi bumi dan peredaran bulan
mengelilingi matahari. Gerakan tersebut berlangsung dengan teratur mengikuti suatu
garis edar dan periode yang tertentu. Pengaruh dari benda angkasa yang lainnya sangat
kecil dan tidak perlu diperhitungkan.
Gerakan dari benda angkasa tersebut di atas akan mengakibatkan terjadinya beberapa
macam gaya pada setiap titik di bumi ini,yang disebut gaya pembangkit pasang surut.
Masing masing gaya akan memberikan pengaruh pada pasang surut dan disebut
komponen pasang surut, dan gaya tersebut berasal dari pengaruh matahari, bulan atau
kombinasi keduanya.
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek
sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung
dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih
kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik
matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak
matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari
dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari
tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan
bidang orbital bulan dan matahari.
30
Energi pasang surut pada lautan terjadi akibat pengaruh massa bulan terhadap bumi,
yang mengakibatkan adanya gaya tarik, sehingga menjelma suatu gejala yang dikenal
sebagai pasang surut. Gejala ini terjadi secara teratur, disebabkan bulan mengelilingi
bumi, sehingga air laut ditarik karena gaya tarik gravitasi bulan.
Gambar 3.3 Terjadinya pasang surut akibat gaya tarik bulan
Gambar 3.3 memperlihatkan permukaan laut dititik A. keadaan ini, laut pada titik
A berada dalam keadaan pasang, sedangkan pada titik B berada dalam keadaan surut.
Kira-kira 6 jam kemudian, terjadi situasi sebaliknya, akibat perputaran bulan.
Penyebab pasang surut
Bulan tepat di atas titik P1 pada permukaan bumi. Karena gaya tarik bulan di titik P1
paling besar maka P1 bergerak lebih banyak ke arah bulan daripada titik O (titik pusat
bulan). Jika titik O bergerak ke arah bulan, maka titik P2 akan bergerak lebih lambat dari
titik O. Oleh karena itu, maka permukaan air di titik P1 dan P2 lebih tinggi daripada
permukaan air laut rata-rata. Pasang naik terjadi di P1 dan P2, sementara itu, di daerah
yang letaknya 90 derajat dari kedua titik itu terjadi pasang surut.
31
Gambar 3.4. Posisi bumi terhadap bulan
Peredaran semu harian bulan memerlukan waktu 24 jam 50 menit. Periode tersebut
disebut satu hari bulan. Oleh karena itu satu titik di khatulistiwa pada permukaan bumi
mengalami dua kali pasang naik dalam periode satu hari bulan.
Ternyata gaya tarik matahari juga memberikan pengaruh terhadap molekul air laut,
walaupun perbandingan antara gaya tarik matahari dengan gaya tarik bulan terhadap
bumi adalah 1 : 2,2. Pasang laut purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan
matahari berada dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang
sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang laut purnama ini terjadi pada
saat bulan baru dan bulan purnama.
Gambar 3.5. Posisi Bumi, bulan dan matahari ketika pasang Purnama
Pasang naik yang paling rendah dalam periode satu siklus pasang surut disebut pasang
perbani. Pasang perbani terjadi pada waktu kedudukan bulan, bumi dan matahari
o
membentuk sudut 90 . Pada posisi tersebut, gaya tarik matahari dan gaya tarik bulan
bekerja pada titik-titik yang tegak lurus satu sama lain
32
Pada waktu bulan perbani, gaya tarik bulan bekerja pada titik P1 dan P2 sedangkan gaya
tarik matahari bekerja pada titik P3 dan P4. Besar gaya yang menyebabkan pasang
perbani adalah resultan dari dua gaya yang berarah tegak sesamanya.
Gambar 3.6 Posisi Matahari dan bulan terhadap bumi membentuk sudut 90o
Menurut medar gobel dalam bukunya Energi Earth and everyone, memperkirakan jumlah
potensi dari energi pasang surut di seluruh dunia adalah 26 x 1012 kWH. Namun sebagian
kecil saja bumi dimanfaatkan oleh manusia.
Puncak pasang surut air laut diikuti 12 jam kemudian dengan rendahnya surut air
laut. Kemudian pasang kembali, sehingga dalam waktu 24 jam terjadi dua kali pasang
dan dua kali surut. Beda antara permukaan laut ketika pasang dan surut itu disebut
amplitude. Pasang laut itu dipengaruhi oleh kedalaman air laut dan keadaan lokasi pantai
setempat.
Untuk memanfaatkan air pasang dipakai bendungan, sehingga terbentuk wadah dan
ketika surut, air waduk dilepaskan melalui turbin generator untuk pembangkit tenaga
listrik.atau diwaktu pasang, turbo generator yang dapat bekerja dua arah aliran air alut itu,
dikerjakan oleh air pasang laut yang masuk melalui pipa turbin ke dalam waduk
penyimpanan air laut.
33
Tabel 3.3 memperlihatkan angka-angka dan lokasi sumber daya terpasang yang
diketahui di dunia. Terlihat bahwa potensi yang cukup besar terdapat di Amerika Utara,
utamanya diteluk funny.
Tabel 3.3 Potensi energi pasang surut di dunia.
LOKASI
H RATA-
RATA (M)
POTENSI
ENERGI
(109 kWh/th )
Potensi
Daya
(MW)
AMERIKA UTARA
Bay of Fundy
Cook inlet, Alaska
AMERIKA SELATAN
San Yose, Argentina
EROPA
Seven, Inggris
Bebagai Lokasi, Prancis
Berbagai Lokasi, USSR
JUMLAH DUNIA
5,5 10,7
7,5
5,9
9,8
5,0 8,4
2,4 6,6
2,4 10,7
275,3
18,5
51,5
14,7
97,85
140,42
598,27
29000
1800
5.870
1.680
11.150
16.050
65.550
SUMBER :
1. World Energi Resources, 1985-2020, WEC
2. S.S Panner : Demands, Resources, Impact, Technology, and Policy Volume I. Addision-Wesley
Publishing Coy.
Konversi Energi Pasang Surut
Pada dasarnya antara tenaga pasang surut dengan tenaga air konvensional, yaitu kedua
duanya adalah tenaga air yang memanfaatkan gravitasi tinggi jatuh air untuk
pembangkitan tenaga listrik
a. Pasang surut menyangkut arus air periodik dwi arah dengan dua kali pasang dan dua
kali surut setiap hari
b. Operasi di lingkungan air laut memerlukan bahan bahan konstruksi yang lebih tahan
korosi daripada material untuk air tawar
c. Tinggi jatuh relatif sangat kecil (maksimal 11 meter) bila dibanding dengan instalasi
hydro lainnya.
Bila selisih antara tinggi air laut dan tinggi waduk pasang surut adalah H, dan debit
air adalah Q, maka besar daya yang dihasilkan adalah Q x H.
34
Selanjutnya bila luas waduk pada ketinggian D adalah S (h), yaitu S sebagai fungsi h,
maka jumlah energi yang dibangkitkan dengan mengosongkan sebahagian h dari
ketinggian dh adalah berbanding lurus dengan isi S (h). h. dh.
Sehingga diperoleh :
Waktu pengosongan waduk :
Waktu mengisi waduk :
Diasumsikan bahwa pengisian dan pengosongan waduk dilakukan pada pergantian
pasang dan surut, untuk mendapatkan penyederhanaan rumus.
Diperoleh energi yang dibangkitkan per-siklus adalah:
Dimana :
E = energi yang dibangkitkan per-siklus.
H = selisih tinggi permukaan air laut antara pasang surut.
V = volume waduk pasang surut.
Bila besaran V diganti dengan besaran massa air laut, maka rumus diatas dapat ditulis
menjadi :
Emaks = b . g . H2 . S (3.6)
P = f . Q H (3.7)
Dimana :
Emaks = Jumlah energi maksimum dapat diproses per siklus
b = Berat jenis air laut
g = Grafitasi
H = Tinggi pasang surut terbesar
S = Luas waduk rata-rata antara pasang dan surut
Q = Debit air
f = Faktor efisiensi , P = Daya
35
Besaran H adalah kwadrat, sehingga tinggi pasang surut sangat penting. Untuk tinggi H
kurang dari 2 meter pada umumnya pembangkit energi pasang surut tidak memenuhi
syarat.
Prinsip Konversi Pasang Surut
Prinsip sederhana dari pemanfaatan ketiga bentuk energi itu adalah: memakai energi
kinetik untuk memutar turbin yang selanjutnya menggerakkan generator untuk
menghasilkan listrik.
(a)
(b)
(c)
Gambar 3.7 Prinsip proses konversi energy pasang surut
36
Pasang surut menggerakkan air dalam jumlah besar setiap harinya; dan pemanfaatannya
dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang cukup besar. Dalam sehari bisa terjadi
hingga dua kali siklus pasang surut. Oleh karena waktu siklus bisa diperkirakan (kurang
lebih setiap 12,5 jam sekali), suplai listriknya pun relatif lebih dapat diandalkan daripada
pembangkit listrik bertenaga pasang surut.
Kelebihan PLTPs
a. Setelah dibangun, energi pasang surut dapat diperoleh secara gratis.
b. Tidak menghasilkan gas rumah kaca ataupun limbah lainnya.
c. Tidak membutuhkan bahan bakar.
d. Biaya operasi rendah.
e. Produksi listrik stabil.
f. Pasang surut air laut dapat diprediksi.
g. Turbin lepas pantai memiliki biaya instalasi rendah dan tidak menimbulkan dampak
lingkungan yang besar.
Kekurangan PLTPs
a. Sebuah dam yang menutupi muara sungai memiliki biaya pembangunan yang sangat
mahal, dan meliputi area yang sangat luas sehingga merubah ekosistem lingkungan baik
ke arah hulu maupun hilir hingga berkilo-kilometer.
b. Hanya dapat mensuplai energi kurang lebih 10 jam setiap harinya, ketika ombak bergerak
masuk ataupun keluar
Energi Ombak
Gelombang yang memecah di pantai dan tebing-tebing merupakan energi yang cukup
besar. Salah satu kemungkinan pemanfaatan ini dapat dilihat pada gambar 3.8.
37
Gambar 3.8 Pusat Listrik Tenaga Pecah Gelombang (PLTPG)
dibuat ruangan penampungan air yang berada di bawah gelombang yang memecah di
tebing pantai sepanjang 1 km, dan ketika air gelombang tiba kemudian surut, katub
dibuka, sehingga tertangkap sejumlah volume air laut di ruangan atas. Kemudian
disalurkan melalui pipa untuk menggerakkan turbin air dan generator. Air itu disalurkan
ke ruangan sebelah bawah, maka generator akan membangkitkan energi listrik. Metode
ini seperti pemanfaatan energi pasang surut, tapi dalam hal ini tidak tergantung pada
pasang air, tapi pada tinggi gelombang datang memecah di tebing pantai.
Pada gambar 3.9 memperlihatkan gagasan desain sebuah rakit yang digunakan untuk
pemanfaatan gelombang laut.
Gambar 3.9 Skema Rakit Ombak Laut
Menurut Hulls, daya yang terkandung dalam ombak mempunyai bentuk:
38
Dimana
P = Daya
b = Berat jenis air laut
g = Grafitasi
T = Periode
H = Tinggi ombak rata-rata
Selanjutnya Hulls menjelaskan bahwa ombak yang mempunyai tinggi rata rata 1 meter
(H), dan periode 9 detik (T, jarak waktu antara dua ombak), mempunyai daya sebesar 4,3
kW per meter panjang ombak. Sedang deretan ombak serupa dengan tinggi 2 meter
mempunyai daya 17 kW per meter panjang ombak. Sedangkan ombak dengan ketinggian
10 meter dan periode 12 detik mempunyai daya 600 kW per meter.
3.4.2.2 Energi Pasang Laut
Lautan atau samudera merupakan kolektor sinar radiasi matahari secara alamiah dan yang
terbesar di dunia. Di daerah tropis terdapat perbedaan suhu antara lapisan permukaan laut
o
dengan kedalaman laut sekitar 20 sampai 25 C. perbedaan suhu ini siang dan malam terus
ada, sehingga merupaka sumber energi yang selalu tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh
manusia.
Energi thermal ini dapat dikonversi menjadi energi lsitrik dengan suatu teknologi yang
disebut Ocean Thermal Energi Conversion (OTEC) atau Konversi Energi Panas
Laut (KEPL).
3.4.2.3 Teknologi Panas Laut
Perbedaan suhu dimanfaatkan untuk menjalankan mesin penggerak dengan menggunakan
peruap thermodinamika. Pada suhu yang lebih tinggi digunakan untuk mencairkan zat
kerja kembali. Zat kerja yang dapat digunakan adalah Gas Fron R 22 (CHCL F2),
ammonia (NH3), titik didih sangat rendah.
Air hangat yang mempunyai temperature 25 dan 35
o
C masuk ke evaporator yang
berisis misalnya zat kerja Fron R-22 yang akan mendidih akibat temperature tersebut.
39
Gambar 3.10 Skema Konversi energy Panas Laut ( KEPL)
Uap gas ini dengan tekanan 12 kg/cm2, masuk keturbin dan menggerakkan generator.
Gas yang telah dipakai didinginkan dalam kondesator oleh air laut dingin yang memiliki
o
suhu sekitar 5 7 C pada kedalaman sekitar 500 m, sehingga menjadi cair. Siklus ini
berputar terus derngan memompai zat kerja air kedalam evaporator. Gambar dibawah
memperlihatkan 2 type pusat listrik KEPL
Gambar 3.11 a) Pusat Listrik KEPL Darat, b) Pusat Listrik KEPL Darat
40
BAB IV
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA THERMAL
4.1 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG)
Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) merupakan sebuah pembangkit energi listrik yang
menggunakan peralatan/mesin turbin gas sebagai penggerak generatornya. Turbin gas
dirancang dan dibuat dengan prinsip kerja yang sederhana dimana energi panas yang
dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar diubah menjadi energi mekanis dan
selanjutnya diubah menjadi energi listrik atau energi lainnya sesuai dengan
kebutuhannya.
Adapun kekurangan dari turbin gas adalah sifat korosif pada material yang
digunakan untuk komponen-komponen turbinnya karena harus bekerja pada temperature
tinggi dan adanya unsur kimia bahan bakar minyak yang korosif (sulfur, vanadium dll),
tetapi dalam perkembangannya pengetahuan material yang terus berkembang hal tersebut
mulai dapat dikurangi meskipun tidak dapat secara keseluruhan dihilangkan. Dengan
tingkat efisiensi yang rendah hal ini merupakan salah satu dari kekurangan sebuah turbin
gas juga dan pada perkembangannya untuk menaikkan efisiensi dapat diatur/diperbaiki
temperature kerja siklus dengan menggunakan material turbin yang mampu bekerja pada
temperature tinggi dan dapat juga untuk menaikkan efisiensinya dengan menggabungkan
antara pembangkit turbin gas dengan pembangkit turbin uap dan hal ini biasa disebut
dengan combined cycle.
4.1.1 Prinsip Kerja
Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) mempunyai beberapa peralatan utama seperti :
Turbin Gas(Gas Turbine), Kompresor (Compressor), Ruang Bakar (Combustor).
Udara dengan tekanan atmosfir ditarik masuk ke dalam compressor melalui pintu,
udara ditekan masuk ke dalam compressor. Udara ditekan masuk ke dalam ruang bakar
dengan tekanan 250 Psi dicampur dengan bahan bakar dan di bakar dalam ruang bakar
41
dengan temperatur 2000 3000
0
F. Gas hasil pembakaran yang merupakan energi termal
dengan temperature dan tekanan yang tinggi yang suhunya kira-kira 900
0
C .
Gambar 4.1 Pembangkit Listrik Tenaga Gas
Dari energi panas yang dihasilkan inilah kemudian akan dimanfaatkan untuk memutar
turbin dimana didalam sudu-sudu gerak dan sudu-sudu diam turbin, gas panas tersebut
temperature dan tekanan mengalami penurunan dan proses ini biasa disebut dengan
proses ekspansi. Selanjutnya energi mekanis yang dihasilkan oleh turbin digunakan untuk
memutar generator hingga menghasilkan energi listrik.
Adapun sebagai pendukung pusat listrik tenaga gas ini digunakan beberapa alat
bantu (auxiliary equipments) untuk membantu proses siklus turbin gas berjalan dengan
baik, seperti :
Sistem Pelumas
Sistem Bahan Bakar
Sistem Pendingin
Sistem Udara Kontrol
Sistem Hidrolik
Sistem Udara Tekan
Sistem Udara Pengkabutan
42
4.1.2 Masalah Operasi PLTG
Dari segi operasi, unit PLTG tergolong unit yang masa start-nya pendek, yaitu antara
15-30 menit, dan kebanyakan dapat di-start tanpa pasokan daya dari luar (black start),
yaitu menggunakan mesin diesel sebagai motor start. Dari segi pemeliharaan, unit PLTG
mempunyai selang waktu pemeliharaan (time between overhaul) yang pendek, yaitu
sekitar 4.000-5.000 jam operasi. Makin sering unit mengalami start-stop, makin pendek
selang waktu pemeliharaannya. Walaupun jam operasi unit belum mencapai 4.000 jam,
tetapi jika jumlah startnya telah mencapai 300 kali, maka unit PLTG tersebut harus
mengalami pemeriksaan (inspeksi) dan pemeliharaan.
Saat dilakukan pemeriksaan, hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah
bagian-bagian yang terkena aliran gas hasil pembakaran yang suhunya mencapai
1.300
0
C, seperti: ruang bakar, saluran gas panas (hot gas path),dan sudu-sudu turbin.
Bagian-bagian ini umumnya mengalami kerusakan (retak) sehingga perlu diperbaiki
(dilas) atau diganti.
Proses start-stop akan mempercepat proses kerusakan (keretakan) ini, karena proses
start-stop menyebabkan proses pemuaian dan pengerutan yang tidak kecil. Hal ini
disebabkan sewaktu unit dingin, suhunya sama dengan suhu ruangan (sekitar 30
0
C
sedangkan sewaktu operasi, akibat terkena gas hasil pernbakaran dengan suhu sekitar
1.300
0
C.
Dari segi efisiensi pemakaian bahan bakar, unit PLTG tergolong unit termal yang
efisiensinya paling rendah, yaitu berkisar antara 15-25%. Dalam perkembangan
penggunaan unit PLTG di PLN, akhir-akhir ini digunakan unit turbin gas aero derivative,
yaitu turbin gas pesawat terbang yang dimodifikasi menjadi turbin gas penggerak
generator.
43
4.2 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU)
4.2.1 Prinsip Kerja
Pembangkit Listrik Tenaga Uap adalah pembangkit yang mengandalkan energi kinetik
dari uap untuk menghasilkan energi listrik. Bentuk utama pembangkit listrik jenis ini
adalah Generator yang di hubungkan ke turbin dimana untuk memutar turbin diperlukan
energi kinetik dari uap panas atau kering.
Gambar 4.2 Prinsip kerja PLTG
Dalam PLTU, energi primer yang dikonversikan menjadi energi listrik adalah bahan
bakar. Baban bakar yang digunakan dapat berupa batubara (padat), minyak (cair), atau
gas. Ada kalanya PLTU menggunakan kombinasi beberapa macam bahan bakar.
Konversi energi tingkat pertama yang berlangsung dalam PLTU adalah konversi energi
primer menjadi energi panas (kalor). Hal ini dilakukan dalam ruang bakar dari ketel uap
PLTU. Energi panas ini kemudian dipindahkan ke dalam air yang ada dalam pipa ketel
untuk menghasilkan uap yang dikumpulkan dalam drum dari ketel. Uap dari drum ketel
dialirkan ke turbin uap. Dalam turbin uap, energi uap dikonversikan menjadi energi
mekanis penggerak generator, dan akhirnya energy mekanik dari turbin uap ini
dikonversikan menjadi energi listrik oleh generator.
Komponen utama sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Umumnya sebuah PLTU memiliki komponen utama antara lain :
1. Boiler/ketel uap berfungsi sebagai tempat pemanasan air menjadi uap air yang
bertekanan untuk selanjutnya memutar turbin uap.
44
2. Turbin ialah mesin yang dijalankan oleh aliran air; uap atau angin yang dihubungkan
dengan sebuah generator untuk menghasilkan energi listrik. Turbin uap ialah turbin
yang menggunakan uap sebagai fluida kerja, di mana uap yang digunakan dihasilkan
dari boiler.
3. Generator uap ialah suatu kombinasi antara sistem sistem dan peralatan yang
dipakai untuk perubahan energi kimia dari bahan bakar fosil menjadi energi termal
dan pemindahan energi termal yang dihasilkan itu ke fluida kerja, biasanya air untuk
dipakai pada proses-proses bertemperatur tinggi ataupun untuk perubahan parsial
menjadi energi mekanis di dalam sebuah turbin
4. Kondensor adalah tempat yang berfungsi untuk mengembunkan uap dengan jalan
mendinginkannya. Air pengembunan yang terjadi dalam kondensor disebut air
kondensat yang kemudian disalurkan kembali ke dalam ketel uap dengan
menggunakan sebuah pompa
5. Pompa berfungsi untuk mengalirkan air dari kondensor menuju ke Boiler.
6. Cerobong berfungsi sebagai tempat pelepasan exhausted steam (Uap terbuang) ke
udara.
Selain komponen di atas masih banyak komponen tambahan yang berfungsi untuk
meningkatkan efesiensi kerja dari pembangkit tersebut, seperti superheater, reheater dan
lain lain.
4.2.2 Masalah Operasi PLTU
Untuk men-start PLTU dari keadaan dingin sampai operasi dengan beban penuh,
dibutuhkan waktu antara 6-8 jam. Jika PLTU yang telah beroperasi dihentikan, tetapi
uapnya dijaga agar tetap panas dalam drum ketel dengan cara tetap menyalakan api
secukupnya untuk menjaga suhu dan tekanan uap ada di sekitar nilai operasi (yaitu
0
sekitar 500 C dan sekitar 100 kg/cm 2) maka untuk mengoperasikannya kembali sampai
beban penuh diperlukan waktu kira-kira 1 jam. Waktu yang lama untuk mengoperasikan
PLTU tersebut di atas terutama diperlukan untuk menghasilkan uap dalam jumlah yang
cukup untuk operasi (biasanya dinyatakan dalam ton per jam). Selain waktu yang
diperlukan untuk menghasilkan uap, yang cukup untuk operasi, juga perlu diperhatikan
masalah pemuaian bagian-bagian turbin. Sebelum di-start, suhu turbin adalah sama
dengan suhu ruangan.
45
0
Pada waktu start, dialirkan uap dengan suhu sekitar 500 C. Hal ini harus dilakukan
secara bertahap agar jangan sampai terjadi pemuaian yang berlebihan dan tidak merata.
Pemuaian yang berlebihan dapat menimbulkan tegangan mekanis (mechanical stress)
yang berlebihan, sedangkan pemuaian yang tidak merata dapat menyebabkan bagian
yang bergerak (berputar) bergesekan dengan bagian yang diam, misalnya antara. ,sudu-
sudu jalan turbin dengan sudu-sudu tetap yang menempel pada rumah turbin.
Apabila turbin sedang berbeban penuh kemudian terjadi gangguan yang
menyebabkan pemutus tenaga, (PMT) generator yang digerakkan turbin trip, maka turbin
kehilangan beban secara mendadak. Hal ini menyebabkan putaran turbin akan naik secara
mendadak dan apabila hal ini tidak dihentikan, maka akan merusak bagian-bagian yang
berputar pada turbin maupun pada generator, seperti: bantalan, sudu jalan turbin, dan
kumparan arus searah yang ada pada rotor generator. Untuk mencegah hal ini, aliran uap
ke turbin harus dihentikan, yaitu dengan cara menutup katup uap turbin. Pemberhentian
aliran uap ke turbin dengan menutup katup uap turbin secara mendadak menyebabkan
uap mengumpul dalam drum ketel sehingga tekanan uap dalam drum ketel naik dengan
cepat dan akhirnya menyebabkan katup pengaman pada drum membuka dan uap dibuang
ke udara. Bisa juga sebagian dari uap di by pass ke kondensor. Dengan cara by passini
tidak terlalu banyak uap yang hilang sehingga sewaktu turbin akan dioperasikan kembali
banyak waktu dapat dihemat untuk start. Tetapi sistem by pass memerlukan biaya
investasi tambahan karena kondensor harus tahan suhu tinggi dan tekanan tinggi dari by
pass.
Dari uraian di atas tampak bahwa perubahan beban secara mendadak memerlukan
pula langkah pengurangan produksi uap secara mendadak agar tidak terlalu banyak uap
yang harus dibuang ke udara. Langkah pengurangan fluksi dilakukan dengan mematikan
nyala api dalam ruang bakar ketel dan mengurangi pengisian air ketel ini bahwa
walaupun nyala api dalam ruang bakar padam, masih cukup banyak panas yang tinggal
dalam ruang bakar untuk menghasilkan uap sehingga pompa pengisi ketel harus tetap
mengisi air ke dalam ketel untuk mencegah penurunan level air dalam drum yang tidak
dikehendaki. Mengingat masalah-masalah tersebut di atas yang menyangkut masalah
proses produksi uap dan masalah-masalah pemuaian yang terjadi dalam turbin, sebaiknya
PLTU tidak dioperasikan dengan persentase perubahan-perubahan beban yang besar.
46
Efisiensi PLTU banyak dipengaruhi ukuran PLTU, karena ukuran PLTU
menentukan ekonomis tidaknya penggunaan pemanas ulang dan pemanas awal. Efisiensi
thermis dari PLTU berkisar pada angka 35-38%.
4.3 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS-UAP (PLTGU)
PLTGU merupakan kombinasi PLTG dengan PLTU. Gas buang dari PLTG yang
0
umumnya mempunyai suhu di atas 400 C, dimanfaatkan (dialirkan) ke dalam ketel uap
PLTU untuk menghasilkan uap penggerak turbin uap. Dengan cara ini, umumnya didapat
PLTU dengan daya sebesar 50% daya PLTG. Ketel uap yang digunakan untuk
memanfaatkan gas buang PLTG mempunyai desain khusus untuk memanfaatkan gas
buang di mana dalam bahasa Inggris disebut Heat Recovery Steam Generator (HRSG).
4.3.1 Prinsip Kerja
Dalam operasinya, unit turbin gas dapat dioperasikan terlebih dahulu untuk menghasilkan
daya listrik sementara gas buangnya berproses untuk menghasilkan uap dalam ketel
pemanfaat gas buang. Kira-kira 6 (enam) jam kemudian, setelah uap dalam ketel uap
cukup banyak, uap dialirkan ke turbin uap untuk menghasilkan daya listrik.
Bagian-bagian penting dari PLTGU adalah :
1) Turbin gas
2) HRSG (Heat Recovery Steam Generator)
3) Turbin Uap dan alat-alat bantu lainnya
Secara sederhana cara kerja PLTGU dapat dijelaskan dengan gambar 4.3.
Gambar 4.3 Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU)
47
Gambar 4.4 Skema sebuah Blok PLTGU yang terdiri dari 3 unit PLTG dan
sebuah unit PLTU
Keterangan : Header uap ; Pr : Poros;TG: Turbin Gas; KU :Ketel uap; GB: Gas Buang;
Kd: Kondensor; HA : Header Air; TU: Turbin Uap; Generator; P : Pompa
Karena daya yang dihasilkan turbin uap tergantung kepada banyaknya gas buang
yang dihasilkan unit yaitu kira-kira menghasilkan 50% daya unit PLTG, maka dalam
mengoperasikan PLTGU ini, pengaturan daya PLTGU dilakukan dengan mengatur daya
unit PLTG, sedangkan unit PLTU mengikuti saja, menyesuaikan gan gas buang yang
diterima dari unit PLTG-nya.
Perlu diingat bahwa selang waktu untuk pemeliharaan unit PLTG lebih pendek
daripada unit PLTU sehingga koordinasi pemeliharaan yang baik dalam suatu blok
PLTGU agar daya keluar dari blok tidak terlalu banyak berubah sepanjang waktu.
Ditinjau dari segi efisiensi pemakaian bahan bakar, PLTGU tergolong sebagai unit yang
paling efisien dari unit-unit termal (bisa mencapai angka di atas 45%).
4.3.2 EFFISIENSI PLTGU
Apabila : Effisiensi PLTG E
ta
(GT)
Maka untuk 1 (satu) satuan kalor bahan bakar, dapat dihasilkan energi listrik sebesar Eta
(GT). Dengan mengabaikan rugi-rugi lain pada PLTG adalah 1 E
ta
(GT). Apabila
semua kalor tersebut dapat dipergunakan oleh siklus tenaga uap dan dimisalkan effisiensi siklus
tenaga uap adalah effisiensi PLTU = E
ta
(ST).
48
Maka energi listrik yang dihasilkan pada siklus tenaga uap adalah Eta (GT) x (1-E
ta
(GT)),
dan energi yang dihasilkan oleh siklus PLTGU adalah :
E
ta
(COMBI) = E
ta
(GT) + E
ta
(ST) x (1 E
ta
(GT))
= E
ta
(GT) + E
ta
(E
ta
(GT) x E
ta
(ST))
Jadi Effisiensi PLTGU adalah :
E
ta
(COMBI) = E
ta
(GT) + E
ta
(ST) E
ta
(GT) x E
ta
(ST)
Sebagai contoh :
Effisiensi PLTG = E
ta
(GT) = 34%
Effisiensi PLTU = E
ta
(ST) = 26%
Maka Effisiensi PLTGU = 51%
4.3.3 HRSG (HEAT RECOVERY STEAM GENERATOR)
HRSG berfungsi untuk menangkap kalor yang diterima dari gas buang PLTG kemudian
memberikan kalor tersebut kepada air sehingga menjadi uap yang digunakan untuk
menggerakkan turbin uap dan generator. Seperti halnya Boiler, HRSG terdiri dari (lihat
Gambar 4.5)
Gambar 4.5 Diagram PLTGU dengan HRSG Single Pressure
4.3.4 KONDENSOR
Faktor yang besar pengaruhnya terhadap effisiensi siklus tenaga uap adalah tekanan pada
kondensor. Pengaruh tekanan kerja tersebut ditunjukkan pada gambar 12. Pada kurva atas
ditunjukkan pengaruh tekanan kerjakondensor terhadap effisiensi semakin rendah
tekanan kerja kondensor semakin tinggi effisiensi siklus (biasanya tekanan kerja
kondensor diatas 0,04 bar).
49
Gambar 4.6 Kondensor
4.3.5 PLTGU DENGAN HRSG BERTEKANAN TINGGI
Diagram pada gambar 16 menunjukkan proses PLTGU dengan HRSG bertekanan
tunggal. Udara atmosfir ditekan pada compressor dan dicampur dengan bahan bakar
0
kemudian terbakar dan menghasilkan temperatur tinggi ( - 1100 C) pada ruang
bakar. Gas dengan tekanan dan temperatur tinggi tersebut dipergunakan untuk
menggerakkan turbin gas dan generatorsehingga menghasilkan tenaga listrik.
Gas buang yang keluar dari turbin gas masih bertemperatur tinggi dengan tekanan diatas
tekanan atmosfir. Gas buang ini disalurkan ke HRSG dan pada HRSG tersebut terjadi
perpindahan kalor dari gas buang ke air/uap.
4.3.6 PLTGU DENGAN HRSG BERTEKANAN GANDA
Effisiensi thermal dapat ditingkatkan dengan merubah HRSG menjadi bertekanan ganda.
HRSG bertekanan ganda dihubungkan dengan turbin uap bertekanan ganda seperti pada
gambar 4.7.
Gas buang turbin gas dimasukkan ke dalam HRSG yang mempunyai penukar panas
bertekanan tinggi dan penukar panas bertekanan rendah untuk menghasilkan uap
bertekanan tinggi dan uap bertekanan rendah.
Pada siklus ini kontribusi dari turbin uap tidak ditujukan untuk meningkatkan effisiensi
akan tetapi dipergunakan untuk menjaga agar temperatur air masuk ke HRSG tidak
terlalu rendah.
Pertimbangan thermodinamis menginginkan agar air pengisi masuk ke HRSG dalam
temperatur yang serendah-rendahnya agar gas buang keluar dari HRSG dalam temperatur
serendah-rendahnya pula. Akan tetapi temperatur yang sangat rendah akan meningkatkan
50
laju koresi pada sisi dingin, sehingga untuk mencegahnya dicampurkan uap ekstraksi dari
turbin uap.
Gambar 4.7 Pembangkit daya Siklus Gabungan
4.4 CO GENERATION
4.4.1 Pengertian CoGeneration
Cogeneration adalah nama baru untuk teknologi yang sudah dimanfaatkan sejak tahun
1800an. Dalam pengertian yang lebih luas, cogeneration adalah produksi yang bersamaan
dari uap atau cairan panas lainnya dan gas bersama-sama dengan listrik dengan satu
peralatan konversi energi. Perbedaan fundamental antara alat konversi energi konvesional
dengan cogeneration adalah bahwa pada sistem konvesional hasil yang diproduksi hanya
semata-mata listrik atau uap saja, sedang pada sistem cogeneration keduanya diproduksi
sekaligus bersamaan dengan penghematan energi. Suatu peralatan cogeneration dalam
memproduksi listrik dan uap dengan bahan bakar yang kurang 10 30% dari yang
dibutuhkan suatu pembangkit energi konvensional.
Pada awal tahun 1900-an, di Amerika Serikat, pembangkit listrik dan uap untuk
industri dalam jumlah besar dihasilkan dan pembangkit cogeneration. Hal ini berubah,
setelah pada tahun 1920-an tersedia jaringan listrik yang menawarkan biaya tenaga listrik
yang relatif lebih murah. Hal tersebut memberikan intensif ekonomi kepada industri
untuk meningggalkan fasilitas cogeneration. Kecendrungan ini tetap berlaku sampai saat
ini.
51
Cogeneration adalah alternatif sumber energi yang dapat bertahan terus karena
potensi penghematan energi yang dihasilkan. Konsep ini membutuhkan pengaturan kerja
teknis, ekonomis dan kelembagaan antara industri, penyedia utilitas dan kota.
4.4.2 Sistem Konversi energi
Terdapat banyak sekali peralatan konversi energi yang dapat dimanfaatkan sebagai
bangunan cogeneration. Pertimbangan penting dan suatu sistem cogeneration adalah
perbandingan tenaga listrik dan tenaga uap yang akan diproduksi. Angka ini hendaknya
hampir sama dengan kebutuhan listrik dan uap dan pasar yang akan dilayani. Bilamana
terdapat kelebihan dan energi yang tidak dapat dimanfaatkan, maka konsep cogeneration
tidak bermanfaat dan tidak dapat diteruskan. Pertimbangan lain dari suatu sistem
cogeneration adalah fleksibel pemanfaatkan berbagai jenis bahan bakar tersebut.
Terdapat dua konsep cogeneration : topping cycle ( daur atas) dan bottoming cycle
(daur bawah), Instalasi daur atas memanfaatkan peralatan konversi energi untuk pertama-
tama membangkitkan tenaga listrik dan kemudian memanfaatkan energi panas untuk
pembuatan uap. Sistem konversi energi yang dimanfaatkan sistem daur atas, antara lain
mesin disel, turbin gas, tenaga uap dan lain-lain. Suatu instalasi daur bawah tidak
menggunakan peralatan energi, tetapi memanfaatkan panas terbuang untuk pembangkit
tenaga listrik. Sistem konversi energi yang menggunakan daur bawah adalah pembangkit
tenaga uap dan mesin organik Rankine.
Setiap pasar energi dengan sistem cogeneration mempunyai rasio yang unik antara
kebutuhan listrik dan kebutuhan uap, Untuk industri yang intensif, rasio yang umum
adalah 50:1 (50 kW listrik untuk setiap seribu pon-pound uap). Banyak dari sistem
konversi yang sebelumnya disebut mampu memberikan rasio yang lebih tinggi (misalnya
memproduksi listrik yang berlebihan bila semua kebutuhan uap dapat dipenuhi dari
sistem cogeneration). Hal ini merupakan pembanding yang penting dalam memilih
peralatan cogeneration, karena setiap kelebihan tenaga listrik hendaknya dapat dijual
kepada konsumen lokal, agar dihasilkan suatu skala ekonomi yang baik. Bilamanana hal
tersebut tidak mungkin, proyek dapat menemui kesulitan ekonomi. Berbagai jenis sistem
konversi energi, hubungannya dengan cogeneration, rasio listrik-uap, dan bahan bakar
yang digunakan, akan dijelaskan secara singkat berikut ini.
52
4.4.3 Berbagai Sistem Konversi Energi Dengan Cogeneration
4.4.3.1 Mesin diesel
Mesin disel adalah mesin pembakar dalam yang dimanfaatkan secara meluas dalam
bidang transportasi, alat berat dan sebagai listrik untuk memenuhi kebutuhan puncak.
Mesin jenis ini dapat dimanfaatkan sebagai alat cogeneration type daur atas, dimana
mesin membangkitkan tenaga listrik dan dan gas buangan digunakan untuk memproses
uap (Gambar 1).
Kapasitas mesin berkisar antas 0 sampai 25 MW
Rasio listik uap diperkirakan 400: 1, bilamana semua industri yang memelukan
uap dihasilkan dan mesin disel, maka kebutuhan listrik yang berlebihan dapat
dimanfaatkan untuk keperluan utilitas lainnya.
Mesin jenis ini memerlukan bahan bakar dalam bentuk cair, misalnya bahan bakar
disel, etanol dan metanol.
4.4.3.2 Turbin gas
Gambar 4.8 Cogeneration diesel
Turbin gas digunakan sangat intensif di dalam kegiatan industri, mesin pesawat terbang
dan sebagai pembangkit listik untuk memenuhi kebutuhan puncak,. Peralatan yang ada
antara lain sebuah kompressor, ruang bakar dan turhin. Bahan bakar di bakar di dalam
53
ruang bakar yang kemudian memanaskan udara yang ditekan dan kompressor, ruang
bakar dan turbin. Bahan bakar di bakar didalam ruang bakar yang kemudian memanaskan
udara yang ditekan dari kompressor. Gas yang telah dipanaskan mengembang dan
melalui turbin yang menghasilkan listrik. Proses ini dikenal sebagai daur Brayton,
penamaan menggunakan penemunya, George Brayton. Dimanfaatkan sebagai peralatan
cogeneration type daur atas, panas diambil dan gas buangan dan dimanfaatkan untuk
memproses uap. (Lihat Gambar 2).
Kapasitas pembangkit berkisar antar 0,5 sampai 75 MW
Rasio perbandingan listrik uap adalah 200 1. sama halnya dengan pembangkit
listrik disel, bilamanana kebutuhan uap dari industri dihasilkan melalui turbine
gas, maka listrik yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
utilitas industri dan permukiman disekitarya.
Kekurangannya, ialah bahwa bahan bakar yang dibutuhkan adalah bahan bakar
minyak, termasuk gas alam, gas sintetis dengan Blu rendah, etanol dan metanol.
Gambar 4.9 Cogeneration Turbin Gas
4.4.3.3 Combined cycle
Pembangkit jenis ini juga menggunakan turbin gas Brayton. Perbedaan dengan
cogeneration sebelumnya ialah pemanfaatan panas dan buangan gas tidak untuk pembuatan
yang langsung dimanfaatkandalam bentuk uap, tetapi uap tadi digunakan
54
untuk pembangkitkan lagi tenaga listrik. Untuk keperluan tersebut, maka perlu tambahan
bahan bakar untuk dicampur dengan gas yang kaya oksigen yang berasal dari
pembuangan turbin gas pertama (Lihat Gambar 3).
Kapasitas jenis ini berkisar antar 1 sampai 150 MW
Sistem ini menghasilkan rasio listrik uap sebesar 150: 1
Turbin gas membutuhkan gas dan bahan bakar cair. Untuk keperluan tambahan
bahan bakar, berbagai sumber energi lain dapat dimanfaatkan, misalnya bahan
bakar fosil, sampah, kayu, gambut dan lain-lain.
Gambar 4.10 Cogeneration Combined Cycle
4.4.3.4 Tenaga Uap
Pembangkit listrik tenga uap, merupakan pembangkit listrik yang paling banyak
digunakan untuk beban dasar listrik perkotaan. Sistem ini juga dikenal dengan Rankine
cycle, sesuai nama penemunya. Komponen utama pembangkit jenis ini adalah sebuah
furnace, ketel, generation turbin dan kondensor (Gambar 4). Pemanasan mengakibatkan
aliran air menjadi uap di dalam ketel.
55
Gambar 4.11 Cogeneration Pembangkit Listrik Konvensional Rangkine
Kekuatan dari uap yang mengembang diarahkan untuk memutar turbin dan
menghasilkan listrik. Setelah melewati turbin, uap yang telah dimanfaatkan
dikondensasikan kembali menjadi air dan dimanfaatkan kembali menjadi air dan
dimanfaatkan kembali melalui ketel. Lebih 60% nilai energi dan bahan bakar dilepas ke
atmosfir sebagai limbah panas pada saat kondensasi. Polusi panas yang potensil ini dapat
dimanafaatkan sebagai sumber panas untuk cogeneration. Bila sistem cogeneration ini
dimanfaatkan, maka turbin konvensional perlu diperbaiki.
Ada dua metode yang dapat dilakukan dengan turbin ekstraksi (Ekstraction
turbines,) dan turbin tekanan balik (Back-pressure turbines).
Turbin Ekstraksi
Semua uap yang berasal dan ketel masuk ke dalam turbin dengan suhu tinggi dan
tekanan, sebagaimana di dalam pembangkit konvensional. Sebagian dan uap setelah
energinya dimanfaatkan dalam proses pemutaran dan pembangkitan, diekstraksi melalui
turbin. Uap yang diekstraksi dapat digunakan untuk panas, uap dan pemanas di sekitar
lokasi, Uap yang tidak diektraksi dikondensasikan sebagaimana pada proses
konvensional (lihat Gambar 4.12).
56
Gambar 4.12 Cogeneration Turbin Ekstraksi
Turbin Tekanan Balik
Uap yang melalui turbin dimanfaatkan sepenuhnya untuk memproses panas, uap atau
pemanas di sekitar lokasi pembangkit. Konsep ini menghilangkan kebutuhan kondenser
dan menghasilkan uap dalam jumlah yang besar dalam hubungan dengan listrik yang
dihasilkan. Dengan alasan ini, turbin tekanan balik banyak diminati oleh industri.
Kapasitas pembangkit berkisar antara 1 sanipai 600 MW
Rasio listrik terhadap uap adalah 45 sampai 75: 1. Rentan ini merupakan rentan umum
dimana industri dapat bekerja intensif dengan sumber daya listrik yang
besar. Juga dengan hasi uap dalam jumlah besar, energi tersebut dapat
dimanfaatkan dengan baik untuk pemanasan di daerah sekitar pembangkit.
Bahan bakar yang digunakan fleksibel, temasuk bahan bakar padat, cair, gas,
panas bumi, tenaga surya dan lain-lain.
57
Gambar 4.13 Cogeneration Turbin Tekanan Balik
4.4.3.5 Fuell Cells
Suatu fuell cells mengkonversikan energi kimiawi dari suatu bahan bakar menjadi arus
searah tanpa perantaraan pembakaran atau panas. Sistem ini terdiri dan prosesor, bagian
pengolahan tenaga, dan pengaturan tenaga (Gambar x). Prosesor akan membuat bahan
bakar padat, cair atau gas yang diperkaya dengan hydrogen yang dengan campuran udara
(oxigen) menghasilkan tenaga listrik searah dan panas. Pengatur tenaga mengubah tenaga
listrik arus searah menjadi arus bolak balik yang dapat disalurkan melalui jaringan.
Inti dari sistem ini adalah fuel cells yang terdiri dan zat elektrolit asam fospor yang
disusun diantara dua elektode, Hydrogen yang melewati satu elektrode, dan oksigen
melalui bagian Iainnya. Dengan sebuah katalisator, hidrogen dan oksigen melalui reaksi
kimia, akan menjadi air, panas dan arus listrik. Panas yang terbuang dapat dimanfaatkan
sebagi panas untuk prosesor dan/atau untuk memproses panas dan uap dalam sistem
cogeneration daur atas.
Peralatan konversi tenaga konvensioil sangat efisien (sekitar 30 sampai 35%) pada
kapasitas pembangkitannya, tetapi kurang efisien (sekitar 30 sampai 35%) pada kapasitas
pembangkitannya, tetapi kurang efisien bila kapasitannya dikurangi. Oleh karena fuel
cells terdiri dan banyak sel kecil yang bersifat individu, efisiensinya tidak tergantung
pada ukutan. Suatu pembangkit yang kecil yang bersifat individu, efisiensinya tidak
tergantung pada ukuran.Suatu pembangkit yang kecil dapat seefisien pembangkit yang
58
besar dengan angka efisien berkisar 38 sampai 45%. Fuel cells ukuran komersil belum
tersedia. Sebuah pembangkit tenaga listrik kapasitas 4,5 MW baru merupakan percobaan,
yang dibangun oleh DOE, Amerika Serikat.
Capasitas pembangkit akan berkisar 1 sampai 150 MW
Rasio listrik-uap diperkirakan sebesar 300:1, tetapi sebagian uap yang dihasilkan
dapat digunakan oleh prosesor. Jadi, dengan bersandar pada konsep cogeneration,
maka pembangkit ml akan sesuai dimana kebutuhan listrik yang besar dan
kebutuhan pemanasan yang rendah.
Gambar 4.14 Cogeneration Fuel Cells
4.4.3.6 Steam Waste Boilers
Pembangkit listrik jenis ini bekerja dengan prinsip yang sama dengan pembangkit Listrik
tenaga uap Rankine. Perbedaaannya adalah sumber energi berasal dan panas yang
terbuang (waste heat source,). Sebagai sistem cgeneration daur bawah, hasil utamanya
adalah listrik .
Kapasitas pembangkit berkisar antar 0,5 MW sampai 10 MW
Sumber panas yang sesuai berasal dan panas buangan yang berasal dan industri
misalnya, pembakaran batu bata, tungku peleburan kaca dan lain-lain.
Uap yang telah digunakan melalui turbin energi simpannnya mungkin terlalu
rendah untuk dimanfaatkan seterusnya.
59
4.4.3.7 Potensi Pasar
Penghematan energi dari cogeneration merupakan salah satu alternatif untuk
penghematan energi. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan kerja sama yang baik
antara pihak industri, penyedia energi dan pemerintah. Beberapa issu teknis, ekonomis
dan kelembagaan akan mempengaruhi kerja sama tersebut agar upaya ini dapat berhasil
dengan baik.
Disisi industri, ketersediaan bahan bakar dan fleksibilitasnya, merupakan dua hal
yang akan memungkinkan pemilihan cogeneration. Berbagai tawaran untuk industri
dalam mempertimbangkan sistem ini, antara lain:
Industri dapat menghasilkan semua kebutuhan uapnya dan kebutuhan dasar
listriknya. Kebutuhan listrik puncak dan cadangan, dapat dibeli dan penyedia
tenaga listrik setempat.
Kelebihan tenaga listrik yang diproduksi untuk industri, dapat dijual kepada
pengguna setempat.
Semua kebutuhan tenaga listrik dan uap disediakan oleh industri
Dengan berbagai ragam pilihan tersebut diatas, suatu kegiatan industri harus
mengevaluasi sendiri tujuannya, kriteria investasi, dan sumber pembiayaan untuk dapat
menentukan strategi dalam pemilihan cogeneration. Beberapa pertanyaan dasar yang
perlu dikaji, antara lain:
Cogeneration belum merupakan teknologi yang sudah luas dikenal, dan oleh
karena itu memerlukan pendidikan.
Tanggung jawab manejemen akan bertambah, karena mereka akan mengelola
sumber daya energi yang lebih rumit.
Resiko pertambahan kebutuhan listrik dapat terjadi akibat tidak tersedianya
sumber daya yang terpercaya.
Peralatan cogeneration membutuhkan investasi modal yang lebih besar dan biaya
operasi serta penawaran yang juga lebih besar.
Daya terpasang cadangan yang disiapkan oleh penyedia energi harus dievaluasi
kembali.
60
Kelebihan energi listrik yang dihasilkan oleh suatu industri mempunyai nilai lebih
untuk penyedia tenaga listrik, apabila tersedia pada saat dibutuhkan, umumnya
pada jam puncak dalam satu hari. Untuk mendapatkan manfaat kelebihan energi
listrik yang tersedia, industri hendaknya bersedia menyesuaikan jam kerja, yaitu
memaksimalkan pemakaian energi pada siang hari, dan meminimumkannya pada
malam hari.
Untuk pemakaian sistem cogeneration yang lebih bermanfaat, kebutuhan uap
seharusnya lebih besar dan 50.000 pon/jam, pemakaian tidak terlalu berfluktuasi,
dan dengan faktor kapasitas sebesar 70% (atau berproduksi selama 6.000
jam/tahun).
Penggunaan sistem cogeneration akan mengurangi emisi polusi udara. Hal ini
akan lebih bermakna bilaman pada daerah dimana akan dibangan sistem
cogeneration aturan standar buangan polusi lebih kecil dan daerah lainnya.
.
61
5.1 PENDAHULUAN
BAB V
SEKURITI SISTEM TENAGA LISTRIK
Dalam operasi sistem tenaga listrik, selain upaya untuk meminimalisasi biaya operasi, faktor
penting lainnya adalah menjaga keamanan sistem (security system) dalam operasinya.
Keamanan sistem meliputi kegiatan yang direncanakan untuk mempertahankan operasi sistem
apabila terjadi kegagalan komponen sistem. Sebagai contoh, suatu unit pembangkit mungkin
harus keluar sistem (off-line) karena kegagalan peralatan pembantu. Dengan mempertahankan
sejumlah pembangkit cadangan berputar yang sesuai, unit-unit pembangkit yang tersisa pada
sistem dapat mengatasi kekurangan daya tanpa turunnya frekuensi yang terlalu rendah atau
tanpa perlu melakukan pemutusan beberapa beban (load shedding). Dalam pembangkitan dan
pengiriman tenaga listrik, apabila suatu saluran transmisi mengalami kerusakan karena terkena
badai sehingga menyebabkan saluran terputus, maka saluran transmisi yang tersisa akan
memikul beban yang lebih besar namun masih berada pada batasan yang diijinkan.
Sekuriti sistem diartikan sebagai kemampuan suatu sistem tenaga untuk menahan
gangguan tiba-tiba. Keandalan dan keamanan sistem tenaga listrik dapat dicapai dengan
melakukan operasi sistem yang toleran terhadap keluarnya salah satu elemen sistem (single
outage) ataupun keluarnya lebih dari satu elemen sistem (multiple outage). Artinya, dengan
keluarnya salah satu elemen sistem (atau lebih) seharusnya tidak menyebabkan keluarnya
elemen sistem secara bertingkat (cascading outage) yang mengakibatkan pemadaman
sebagian atau pemadaman total.
Sebagai contoh dari suatu urutan kejadian yang dapat menyebabkan pemadaman total
mungkin bermula dari suatu saluran tunggal yang terbuka akibat kegagalan isolasi, saluran
transmisi yang tersisa dalam sistem akan mengambil aliran yang mengalir pada saluran yang
terbuka. Apabila satu saluran yang tersisa pada saat ini terlalu kelebihan beban, saluran tersebut
dapat terputus yang diakibatkan oleh kerja relai sehingga menyebabkan saluran yang
tersisa juga mengalami beban lebih. Proses ini disebut dengan istilah gangguan yang
bertingkat (cascading outage). Suatu sistem tenaga listrik harus mampu untuk mengatasi
gangguan tersebut terutama menghindari kegagalan yang bertingkat.
62
i i
Dalam sistem tenaga, pendekatan sekuriti dibagi atas dua bagian yaitu: (1) pendekatan
sekuriti statik, dan (2) pendekatan sekuriti dinamik. Kendala-kendala sekuriti statik merupakan
batasan-batasan operasi yang harus dipenuhi dalam pengoperasian sistem tenaga. Kendala-
kendala tersebut dapat berupa hal-hal berikut.
a. Tegangan
m
Batasan operasi yang harus dipenuhi tegangan di setiap bus beban (PQ bus) adalah: v
i
<
v
i
< v
M
m
dengan v
i
dan v
M
masing-masing merupakan tegangan minimum dan tegangan
maksimum yang diperkenankan di bus-i.
b. Aliran daya di saluran
Batasan operasi yang harus dipenuhi oleh daya yang mengalir melalui saluran T adalah: -
T
L
< S
T
< T
L
dengan S
T
merupakan daya total yang mengalir di saluran T sedangkan T
L
merupakan batasan operasi termal dari saluran T.
c. Pembangkitan daya aktif
Batasan operasi untuk pembangkitan daya aktif adalah: pk
m
< pk < pk
M
dengan pk
m
dan pk
M
masing-masing merupakan daya minimum dan daya maksimum pembangkit di bus-k.
d. Pembangkitan daya reaktif
Batasan operasi untuk pembangkitan daya reaktif adalah: Qk
m
< Qk < Qk
M
dengan Qk
m
dan
Qk
M
masing-masing merupakan daya minimum dan daya maksimum pembangkit di bus-k.
Menurut Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (2004:79) sistem dinyatakan berada
dalam keadaan operasi yang berhasil atau memuaskan bila :
1. Frekuensi dalambatas kisaran operasi normal (50 0.2 Hz), kecuali penyimpangan dalam waktu
singkat diperkenankan pada kisaran (50 0,5 Hz), sedangkan selama kondisi gangguan
frekuensi boleh berada pada batas 47.5 Hz sampai 51.5 Hz.
2. Tegangan di Gardu Induk berada dalam batas yang ditetapkan dalam aturan
penyambungan yaitu : Tegangan 500 kV adalah 5% sedangkan Tegangan 150 kV, 70
kV, 20 kV adalah +5 % dan -10%. Batas-batas ini harus menjamin bahwa tegangan pada semua
pelanggan berada pada kisaran yang telah ditetapkan sepanjang pengatur tegangan jaringan
distribusi dan peralatan pemasok daya reaktif bekerja dengan baik. Operasi pada batas-batas
tegangan ini diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya tegangan- kolleps (voltage
collapse) dan masalah stabilitas sistem.
63
3. Tingkat pembebanan saluaran transmisi dipertahankan pada batas-batas yang telah
ditetapkan dan tingkat pembebanan arus di semua peralatan jaringan transmisi dan gardu
induk berada dalam batas rating normal untuk semua single contingency gangguan
peralatan.
4. Konfigurasi sistem sedemikian rupa sehingga semua PMT (circuit breaker) jaringan
transmisi mampu memutus arus gangguan yang mungkin terjadi dan mengisolir peralatan yang
terganggu.
Pada suatu pusat pengatur operasi (operation control center), upaya untuk menjaga
keamanan sistem dilakukan dalam 3 tahap yaitu (1) Pemantauan sistem (system monitoring),
(2) Analisis kontingensi (contingency analysis), (3) Analisis Korektif (corrective action
analysis). Sehingga dalamoperasi sistem tenaga listrik dapat dibagi menjadi empat keadaan
yaitu :
1. Pengiriman yang optimal (Optimal dispatch) : Pada keadaan ini sistem tenaga listrik bekerja
pada keadaan optimal secara ekonomis tetapi sistem tidak terjamin dalam keadaan
aman.
2. Setelah kontingensi (Post contingency) yaitu kedaan dimana sistem tenaga listrik setelah
kontingensi terjadi.
3. Pengiriman yang terjamin (Secure dispatch) : Pada keadaan ini sistem tenaga listrik tidak
ada kontingensi yang menyebabkan kegagalan, dengan koreksi terhadap parameter
sehingga pengiriman tenaga cukup aman.
4. Keadaan terjamin setelah kontingensi (Secure post-contingency) yaitu Keadaan sistem
tenaga listrik setelah kontingensi terjadi dan sistem beroprasi dengan normal.
5.2 SISTEM MONITORING TENAGA LISTRIK
Sistem monitoring merupakan satu diantara tiga fungsi utama sistem keamanan yang
dilakukan di operasi control center. Sistem pemantauan (monitoring) menyediakan operator
sistem tenaga dengan informasi up-to-date terkait pada kondisi sistem tenaga. Sistem
monitoring berfungsi untuk memberikan informasi secara real time nilai daya yang
disalurkan, beban dan pembangkitan suatu sistem tenaga listrik yang kemudian akan
ditransmisikan ke control center. Sistem seperti pengukuran dan transmisi data, yang disebut
sistem telemetri (SCADA) , telah berevolusi untuk skema yang dapat memonitor tegangan,
arus, arus listrik, dan status pemutus sirkuit, dan switch di setiap Gardu dalam sistem jaringan
64
transmisi tenaga listrik. Selain itu, informasi penting lain seperti frekuensi, output generator
unit dan posisi tap transformator juga bisa telemeterikan.
Masalah pemantauan arus listrik dan tegangan pada sistem transmisi sangat penting dalam
menjaga keamanan sistem, Dengan hanya memeriksa setiap nilai yang diukur terhadap batas,
operator daya sistem dapat mengatakan di mana masalah-masalah yang ada dalam sistem
transmisi dan diharapkan mereka dapat mengambil tindakan perbaikan untuk menghilangkan
kelebihan beban line atau ambang batas tegangan.
5.2.1 Remote Terminal Unit (RTU)
Remote Terminal Unit adalah salah satu dari suatu sistem pengendalian tenaga listrik yang
merupakan perangkat eletronik yang dapat diklasifikasikan sebagai perangkat cerdas.
Biasanya ditempatkan di gardu-gardu induk maupun pusat pembangkit sebagai peralatan yang
diperlukan oleh control centre untuk mengakuisisi data-data rangkaian proses untuk
melakukan remote control, teleindikasi dan telemetering.
Pada prinsipnya RTU mempunyai fungsi-fungsi dasar sebagai berikut:
1. Mengakuisisi data-data analog maupun sinyal-sinyal indikasi. Melakukan control
buka/tutup kontak, naik/turun setting atau fungsi-fungsi set point lainnya.
2. Meneruskan hasil-hasil pengukuran (daya aktif, daya reaktif, frekuensi, arus,
tegangan) dan sebagainya ke pusat pengendalian.
3. Melakukan komunikasi dengan pusat pengendalian.
Karena merupakan komponen yang sangat penting dalam system pengendalian maka RTU
ini harus memiliki tingkat keandalan dan ketepatan (akurasi) yang tinggi, yang tidak boleh
terpengaruh oleh gangguan-gangguan, misalnya noise, guncangan tegangan catu, dan
sebagainya.
FUNGSI-FUNGSI RTU
Fungsi-fungsi remote terminal unit antara lain:
a. Sebagai perangkat pemproses sinyal, RTU dirancang untuk melakukan proses-proses
sebagai perangkat pemproses pengiriman data ke pusat pengendalian system seperti:
- Perubahan status peraltan gardu
- Perubahan besaran-besaran analog
- Perubahan besaran signal
65
- Pembacaan harga-harga pulsa akumulator
- Pembacaan besaran-besaran analog
b. Memproses data-data perintah yang datang dari satu, dua atau tiga control centre,
mengirim data-data jawaban/hasil pengukuran/pemantauan ke pusat pengendali yang
sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan konfigurasinya maka suatu RTU pada dasarnya dapat menangani atau
memproses fungsi-fungsi sebagai berikut:
a. Akuisisi data logic (pensinyalan jarak jauh)
b. Akuisisi data analog (pengukuran jarak jauh)
c. Restitusi data logic (pengendalian jarak jauh)
d. Akuisis sinyal jarak jauh
e. Pengaturan set point, tap charger (untuk setting transformator), pengaturan perputaran
generator dan sebagainya.
RANGKAIAN PROSES
Rangkaian proses terdiri dari instalasi/wiring, terminal, relay bantu dan transducer yang
berfungsi untuk mengirim indikasi, kontrol, alarm-alarm dan pengukuran dari suatu Gardu
induk/Pembangkit. Secanggih apapun sistem SCADA yang dipasang tidak akan ada artinya
jika terjadi salah penyambungan/merangkai proses ke sistem Gardu Induk/Pembangkit. Untuk
itu diperlukan pemahaman dalam memasang rangkaian proses ini. Secara umum rangkaian
proses terdiri dari :
Control Panel
Pada lemari control panel inilah instalasi dan terminasi sistem SCADA paling banyak
dipasang, karena pada dasarnya sistem SCADA itu memindahkan fungsi control panel ke
control center (pusat pengaturan) secara real time. Indikasi, remote control dan telemetering
dipasang pada lemari ini.
Relay Panel
Pada lemari relay ini dipasang peralatan-peralatan proteksi, kita memasang instalasi dan
terminasi untuk signal-signal alarm.
66
Transducer Board
Transducer merupakan suatu konverter yang berfungsi sebagai pengubah bentuk besaran
energi yang satu ke besaran energi lain. Dalamtelemetering untuk sistem SCADA, transducer
digunakan untuk mengubah besaran listrik dari CT dan PT menjadi besaran miliampere. Fisik
transducer ini cukup besar maka untuk memudahkan instalasi dan pemeliharaan maka
ditempatkan pada satu lemari yaitu transducer board.
Komponen transducer yang dipakai di APD Makassar berasal dari vendor ENERDIS
dengan produknya yang bernama TRIAD. TRIAD yang digunakan, mempunyai 2 tipe, yaitu:
T32 (3 input, 2 output pengukuran) dan T33 (3 input, 3 output pengukuran). Masing masing
transducer disupply dengan tegangan 48 Vdc.
Supervisory Interface Cubicle (SIC)
SIC ini merupakan terminal yang berfungsi sebagai pintu ( gate ) signal keluar dan masuk
antara rangkaian proses denganremote terminal unit (RTU). Pada SIC ini dilakukan
pengelompokan sinyal-sinyal, penamaan bay-bay yang terdapat di suatu gardu
induk/pembangkit. Ke sisi luar dihubungkan dengan rangkaian terminasi relay bantu dan
transducer. Ke sisi dalam dilakukan pengalamatan/addressing ke card-card digital input
(DI), analog input (AI), digital output (DO) dan analog output (AO).
SIC ini pada umumnya menggunakan disconnected terminal ( terminal dimana kedua sisinya
dapat dipisahkan) sehingga memudahkan dalam pemeliharaan.
Misalnya :
- memeriksa abnormalitas telesignalling, remote control dan telemetering.
- melakukan simulasi telesignalling, remote control dan telemetering.
DATA PROSES YANG DI AKUISISI RTU
Telemetering ( Analog Input )
Telemetering adalah pengukuran besaran-besaran daya MW/MX/A/KV/HZ yang
dibutuhkan sistem SCADA untuk dikirim ke control center sebagai bahan pengaturan sistem
tenaga listrik. Untuk mengubah besaran-besaran daya yang bertegangan tinggi (CT/PT
sekunder) menjadi output berarus lemah maka digunakan transducer.
Standar input transducer : 1A/100V/ V3 dan 5A/100/V3.
Standar output transducer : +/- 5mA,010mA dan 420mA
67
Gambar 5.1 Transducer T33
Gambar 5.2 Transducer T32
Telesignalling (Digital Input)
Digital input adalah input/masukan sinyal yang berupa indikasi-indikasi dan alarm-alarm dari
suatu peralatan, yang diperlukan sistem SCADA untuk dikirim ke control center sebagai status
dan indikator dalam pengaturan sistem. Ada dua jenis telesignalling :
68
Telesignalling Single (TSS)
Terdiri dari alarm-alarm suatu proteksi dengan output ON atau OFF. Misalnya alarm
Over current, Distance, Ground fault, Breaker fault dll.
Gambar 5.3 Schematic Telesignaling Single (TSS)
Telesignalling Double (TSD)
Terdiri dari indikasi-indikasi posisi suatu peralatan dengan output masuk atau keluar
misalnya indikasi : Circuit Braker ( CB ), Pemisah rel ( PMS ), Pemisah line ( LI ),
Pemisah tanah ( ES ) dll.
Gambar 5.4 Schematic Telesignaling Double (TSD)
69
Pada telesignalling double (TSD) terdapat istilah valid dan invalid.. Validadalah posisi
(data) yang benar, close/open atau open/close.Invalid adalah posisi (data) yang salah,
close/close atau open/open.
Telecontrol ( Remote Control )
Telecontrol adalah keluaran sinyal digital/analog dari remote terminal unit (RTU) hasil
manipulasi perintah control center. Remote Control yang digunakan di APD makassar untuk
RTU S900 merupakan remote control Digital (Digital Output) menggunakan card DOU.
Remote control jenis ini merupakan perintah close dan open pada PMT, PMS dari control
center melalui RTU.
Gambar 5.5 Schematic Remote Control Digital
5.2.2 State Estimasi Sistem Tenaga Listrik
Sama seperti perangkatperangkat pengukuran lainnya, tranducertranducer pengukuran pada
sistem tenaga listrik adalah perangkat perangkat yang tidak terlepas dari error. Bila error
tersebut sedemikian kecil, bisa jadi tidak terdeteksi sehingga hasil interpretasi pembacaan meter
tidak akan memberikan nilai yang tepat. Dalam hal ini tranducer akan menjadi
perangkat yang menyumbangkan kesalahan dalam sistem pengukuran.
Kesalahan lain yang mungkin timbul adalah hilangnya data data pengukuran yang
disebabkan karena putusnya hubungan komunikasi antara control Centre dengan remote
70
terminal unit yang menyebabkan hanya sebagian dari jaringan yang dapat dipantau oleh
operator.
Untuk mengatasi masalah masalah di atas maka pada sistem pengendalian tenaga listrik
dikenal sistem estimasi. Teknik estimasi dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menyaring dan
mendeteksi kesalahan kesalahan yang secara acak dapat terjadi pada sistem
pengukuran. Bahkan dalam keadaan kritis, estimasi harus dapat memperkirakan besaran
besaran pengukuran pada bagian bagian jaringan yang tidak dapat terpantau karena
gangguan pada jaringan sub jaringan telekomunikasi.
State estimasi sistem tenaga adalah sebuah algoritma untuk menentukan keadaan sistem
dari model satusistem jaringan listrik dan sistem pengukuran redundan. Model pengukuran
state estimasi nonlinier didefinisikan oleh
z = m-dimensi pengukuran vektor;
x = n-dimensi (n <m) menyatakan vektor (besarnya tegangandan sudut fase);
h(x) = fungsi vektor nonlinear yang berkaitan dengan pengukuran untukmenyatakan (m-
vektor);
m-dimensi nol berarti kesalahan pengukuran fungsi vektor ;
m = jumlah pengukuran, n = jumlah state variable
Masalahnya adalah untuk menentukan x estimasi yang paling cocok dengan model
pengukuran. Statis state dari jaringan bus tenaga listrik N dinotasikan oleh x, vector
berdimensi n =2N - 1, terdiri dari tegangan bus N dan N - 1 sudut tegangan bus.
Masalah state estimasi dapat dirumuskan sebagai sebuah minimalisasi persoalan fungsi
weighted least square (WLS)
atau dalam hal vektor residual
di mana r = z - h (x) adalah vektor sisa; fungsi nonlinier pengukuran didefinisikan
sebagai
71
dan R adalah matriks bobot yang diagonal elemen yang sering dipilih sebagai varians
kesalahan pengukuran, yaitu:
algoritma untuk masalah minimisasi tidak dibatasi adalah sebuah prosedur iteratif numerik di
mana fungsi objektif J (x) didekati biasanya dengan model kuadrat.
Solusi yang efisien masalah minimisasi unconstrained sangat bergantung metode. Metode
Newton memiliki peran sentral dalam pengembangan solusi numerik untuk yang tanpa
masalah minimisasi. Jenis metode Newton yang paling menarik di sini adalah Metode Gauss-
Newton. Ada dua cara untuk mendefinisikan hal itu. Dalam pendekatan pertama, kita linearize
vektor fungsi nonlinier h (x) dengan menggunakan ekspansi deret Taylor
di mana matriks Jacobian dari dimensi m n didefinisikan sebagai:
dan kemudian mendapatkan fungsi least square tujuan linierisasi
72
yang menghasilkan persamaan biasa dikenal,
Adapun cara kerja suatu estimator dapat diilustrasikan dalam perhitungan load flow
sederhana dengan memperhatikan komponen daya aktif yang mengalir pada jaringan. Seperti
pada sistem sederhana dengan konfigurasi pada gambar 5.6 dengan informasi pengukuran
daya aktif (MW) yang mengalir pada bus seperti pada gambar 5.7.
Gambar 5.6 Sistem tenaga Listrik sederhana
Untuk menentukan sudut phasa tegangan tegangan dari persamaan persamaan
aliran daya, kita hanya memerlukan pembacaan dua meter yaitu M12 dan M32. Misalnya
dengan menganggap pembacaan kedua meter tersebut sempurna, maka daya yang mengalir
pada jaringan yang bersangkutan adalah :
M13 = 5 MW = 0.05 pu
M32 = 40 MW = 0.4 pu
Dari persamaan aliran daya pada jaringan 1, 3 dan jaringan 3, 2 yang dapat ditulis
sebagai berikut:
73
Gambar 5.7 Penempatan meter pengukuran
Dengan menganggap
3
= 0, maka dari persamaan f
13
untuk
1
dan persamaan f
32
untuk 2, diperoleh :
1 = 0.02 rad
2 = - 0.10 rad
Jika masing masing meter memiliki kesalahan misalnya sebagai berikut:
M12 = 62 MW = 0.62 pu
M32 = 6 MW = 0.06 pu
M13 = 37 MW = 0.37 pu
Dengan mengulangi perhitungan dari hasil pembacaan meter M13 dan M32 dengan tetap
menganggap 3= 0, maka:
1 = M13 x X13 = 6 x 0.04 = 0.024 rad
2 = M32 x X32 = - 37 x 0.25 = -0.0925 rad
hasil perhitungan load flow memberikan hasil hasil seperti pada gambar 5.8.
74
Pada gambar terlihat bahwa aliran daya antara 1 3 dan 3 2 sesuai dengan
pembacaan meter M13 dan M32, tapi aliran daya pada jaringan 1 2 tidak lagi sesuai dengan
pembacaan M12.
Jika menggunakan hasil pembacaan meter M12 dan M23 maka aliran daya pada jaringan
tersebut diperlihatkan pada gambar 5.8.
Gambar 5.8 Perhitungan aliran daya dengan menggunakan pembacaan M13 dan M32
Gambar 5.9 Perhitungan aliran daya dengan menggunakan hasil
pembacaan M12 M32
Contoh contoh di atas merupakan gambaran sederhana untuk menjelaskan static state
estimation yaitu cara untuk menentukan keadaan yang pasti dari sistem pengukuran yang
meragukan pada suatu sistem tenaga listrik.
75
1. Least Square Estimation
Perkiraan perkiraan statistik adalah suatu prosedur statistik untuk menentukan harga
harga atau parameterparameter yang belum diketahui dengan menggunakan sejumlah besaran
pengukuran. Mengingat sample yang ada merupakan besaran besaran yang tidak pasti, maka
nilai perkiraan yang diperoleh juga tidak pasti. Olehnya itu, dibutuhkan suatu cara yang dapat
digunakan untuk menentukan hargaharga pasti dari sejumlah parameterparameter yang
belum diketahui dengan menggunakan sejumlah datadata pengukuran.
Asumsiasumsi yang dikembangkan pada state estimation dapat dilakukan mengikuti
beberapa cara, tergantung dari kriteriakriteria statistik yang diinginkan. Ada tiga
kemungkinan yang akan ditemukan dalam state estimation adalah:
1. Kriteria peluang maksimum adalah kriteria yang digunakan untuk memperkirakan harga
state variable x^ dari harga benar vector state variable x dengan memaksimumkan
fungsi probabilitas P(x^ ) = x.
2. Kriteria weighted least square. Kriteria ini digunakan dengan cara meminimumkan
pangkat dua selisih dari perkiraan pengukuran pengukuran z dari hasil perkiraan real z.
3. Kriteria minimum variance, adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan kepastian
dengan cara meminimalkan jumlah pangkat dua dari komponenkomponen perkiraan
suatu vector state variable dengan harga benar dari state variable tersebut.
Dalam prosedur peluang maksimum, peluang yang akan diperoleh dari hasil pengukuran
tergantung dari besarnya kesalahan acak yang terdapat pada perangkat pengukuran
sebagaimana untuk menentukan parameterparameter yang belum diketahui. Akan terlihat
bahwa estimator peluang maksimum ternyata memerlukan probability density function (PDF)
error acak pengukuran. Metode estimasi lain juga dapat digunakan dengan estimator least
square yang tidak memerlukan PDF error pengukuran. Namun bila dianggap bahwa
probability density function error pengukuran mengikuti distribusi normal, maka sebenarnya
kedua cara tersebut akan memberikan formula estimasi yang sama. Hasilnya akan merupakan
least square atau lebih dikenal dengan metode estimasi dengan weighted least square meskipun
dikembangkan dengan menggunakan kriteria peluang paling besar.
76
Misalnya z
ukur
adalah nilai besaran pengukuran yang diterima dari perangkat pengukuran
dan Z
benar
adalah harga sebenarnya dari besaran yang diukur. Dengan menganggap adalah
kesalahan pengukuran, maka:
Besar kesalahan acak merupakan model ketidak pastian untuk pengukuran di atas. Bila
kesalahan pengukuran tidak menyimpang, maka probability density function dapat dinyatakan
dengan:
adalah standar deviasi dan
2
disebut variance dari jumlah acak. PDF () menggambarkan
perilaku seperti pada gambar 5.10.
Standar deviasi dapat digunakan sebagai dasar untuk membuat model kesalahan acak
pengukuranpengukuran. Bila besar besar, pengukuran relative kurang teliti, sebaliknya bila
harga kecil, terlihat adanya pancaran kesalahan kecil dari perangkat pengukuran, dengan
demikian dapat kita lihat tidak ada suatu sistem pengukuran yang sempurna. Distrbusi normal
umumnya digunakan sebagai model kesalahan pengukuran karena distribusi ini member hasil
terhadap banyak factor yang terkontribusi terhadap semua kesalahan.
Gambar 5.10 Kurva distribusi normal
a. Konsep Peluang maksimum
Konsep estimasi dengan metode peluang maksimum digambarkan dengan menggunakan
rangkaian sederhana seperti gambar 6.Besar sumber tegangan x
benar
ingin dicari dengan menggunakan amperemeter yang mempunyai kesalahan standar
deviasi yang diketahui. Pembacaan meter adalah z1
ukur
yang besarnya sama dengan
77
z
1
benar
yaitu besar arus sebenarnya yang mengalir pada rangkaian tersebut, dan 1 error
yang at pada meter tersebut.
benar
Karena harga rata rata
1
sama dengan nol, maka z
1
ukur
akan sama dengan z
1
.
Dengan demikian probability density function untuk z
1
ukur
adalah:
Dimana 1 adalah standar deviasi untuk kesalahan acak 1.
Dengan menganggap tahanan dalam meter r
1
diketahui maka persamaan (5.12) di atas
dapat ditulis:
Gambar 5.11 Rangkaian DC sederhana
Prosedur peluang maksimum membutuhkan agar harga Prob(Z
1
ukur
) dimaksimumkan
sebagai fungsi x.
Transformasi yang sesuai dan dapat digunakan pada titik ini untuk memaksimumkan
peluang dapat dilakukan dengan logaritmanatural PDF (z
1
ukur
) yang sebenarnya berarti
juga memaksimumkan PDF(z
1
ukur
)
78
Harga x yang memberikan harga minimum diperoleh dengan membuat turunan
pertama persamaan tersebut sama dengan nol,
Jadi diperoleh besar tegangan sumber sama dengan besar arus yang dikali dengan
tahanan. Namun dengan menambahkan sirkuit pengukuran yang kedua yang
mempunyai kualitas berbeda dengan meter pertama maka kondisi perhitungan akan
menjadi lain. Seperti Gambar 5.11.
Gambar 5.12 Rangkaian DC dengan dua pengukuran yang sangat berbeda
79
2
Pada rangkaian tersebut berlaku:
Dimana kesalahan kesalahan akan direpresentasikan oleh independent zero mean,
variable variable acak terdistribusi dengan probability density function sebagai
berikut:
Atau dengan cara terdahulu kita dapat menyatakan sebagai berikut:
Fungsi peluang seharusnya merupakan probabilitas dari perhitungan data data
pengukuran z
1
ukur
dan z
2
ukur
.Karena dianggap kesalahankesalahan acak
1
dan
2
adalah variablevariable acak yang bebas, maka perhitungan probabilitas z1ukur dan
z
2
ukur
adalah perkalian probabilitas z
1
ukur
dikalikan z
ukur.
Untuk memaksimumkannya maka dilakukan dengan mengambil harga logaritma
natural fungsi tersebut, seperti terlihat pada persamaan berikut;
80
Dengan menurunkan ruas kanan persamaan (5.23) pada harga ekstrim sama dengan
nol, maka diperoleh:
Akan menghasilkan:
Bila salah satu dari meter tersebut merupakan meter dengan kualitas super maka
variance meter tersebut akan jauh lebih kecil dari meter lainnya.
Dari persamaan (5.17) dan (5.23) dapat kita lihat bahwa perkiraan probabilitas
maksimum dari parameter-parameter yang tidak diketahui selalu dinyatakan sebagai
harga yang memberikan harga paling kecil dari jumlah pangkat dua dari beda hasil
pembacaan pengukuran dengan harga benar (dinyatakan sebagai parameter yang belum
diketahui) dibagi dengan variance dari kesalahan meter.
Dengan demikian bila kita memperkirakan satu harga x dengan menggunakan
sejumlah data data pengukuran Nm, kita dapat menuliskan:
Dimana:
81
Persamaan (16) tersebut dapat dinyatakan dalam satuan per unit atau dalam satuan
biasa seperti MW, MVAR atau kV.
Untuk melakukan estimasi sejumlah besaran-besaran yang tidak diketahui Ns dengan
menggunakan parameter-parameter pengukuran Nm dapat dilakukan sebagai berikut:
Perhitungan perkiraan estimasi ini disebut weighted least square estimator,sama
seperti estimator probabilitas maksimum dimana kesalahan pengukuran dimodelkan
sebagai parameter acak yang mengikuti hukum distribusi normal.
b. Formula Matriks
Bila fungsi merupakan fungsi linier maka persamaan (5.17) di atas
akan mempunyai solusi yang dapat didekati dengan cara sebagai berikut, misalnya
( ditulis dalam bentuk sebagai berikut:
Dalam bentuk vector dapa dituliskan :
Dimana :
[H ] = Matriks N
m
x N
s
yang mengandung koefisien fungsi fungsi linier f
i
(x)
N
m
= Jumlah titik pengukuran
Ns = Jumlah parameter yang akan ditentukan
Dengan menempatkan pengukuran dalam persamaan vector sebagai berikut:
82
Maka persamaan (26) dapat ditulis:
Disebut sebagai matriks co variance kesalahan-kesalahan pengukuran. Untuk
menentukan penampakan minimum persamaan (5.29) subtitusikan [H]x untuk f(x)
dengan menggunakan persamaan (5.27).
Dengan mengetahui banyaknya pengukuran adalah Nm maka untuk menghitung x
est
terdapat tiga kondisi yang harus diselesaikan yaitu dalam hal jumlah pengukuran N
m
lebih banyak dari state variable Nx, sama dengan state variable Ns, dan keadaan
dimana jumlah pengukuran yang tersedia lebih sedikit dari jumlah state variable yang
ditentukan.
Kondisi dimana jumlah pengukuran lebih banyak dari jumlah variable state
(N
s
<N
m
).dengan membuat j(x)/dx = 0 untuk i=1,N
s
, berarti identik dengan gradient
j(x), j(x )sama dengan nol.
Gradient j(x) dapat ditulis
Bila J(x) =0, maka untuk (Ns<Nm) state variable dapat dihitung dengan persamaan:
Dalam hal jumlah pengukuran sama dengan jumlah state variable yaitu dimana N
s
=
N
m
maka persamaan tersebut dapat dinyatakan dengan:
Jumlah pengukuran lebih sedikit dari jumlah state variable.
83
Sedangkan untuk keadaan dimana jumlah pengukuran lebih sedikit dari jumlah state
variable atau (Ns>Nm) maka akan ada beberapa cara penyelesaian untuk mencari xest
yang dapat memberikan harga j(x) sama dengan nol. Mengingat (Ns>Nm). maka teknik
penyelesaian yang biasa dilakukan tidak dengan memaksimumkan fungsi peluang,
tetapi pada prinsipnya adalah untuk mendapatkan harga xest yang memberikan harga
minimum jumlah pangkat dua dari harga yang dicari. Untuk semua i=1,2,,Nm
maka,
ukur
Dengan kondisi Z = |H|x
Bentuk yang sesuai untuk persamaan ini dapat ditempuh dengan persamaan lagrange
yang hasilnya dapat dinyatakan sebagai berikut:
Dalam sistem tenaga di mana jumlah state variable jauh lebih banyak daripada jumlah
pengukuran N
s
>N
m
, estimator tidak lagi mampu melakukan perhitungan dengan benar,
untuk mengatasi hal tersebut biasanya dilakukan dengan teknik pseudo
measurement. Teknik tersebut ditempuh dengan menambah sejumlah manual data
data pengukuran pada bagian- bagian tertentu dari jaringan sehingga diperoleh jumlah
pengukuran yang cukup untuk menjalankan state estimator.
c. Identifikasi dari deteksi bad measurement dengan mengggunakan state estimation
Kemampuan untuk mendeteksi dan mengidentifikasikan hasil hasil pengukuran
yang jelek pada suatu sistem pengendalian tenaga listrik merupakan hal yang sangat
berguna dalam mengoperasikan sistem tenaga listrik. Sebagaimana telah diketahui
bahwa tranducer- tranducer merupakan perangkat yang bisa rusak atau tersambung
secara tidak benar sehingga hasil pengukuran yang dihasilkan menjadi kurang teliti
atau tidak berarti sama sekali.
Dasar untuk mendeteksi hasil-hasil pengukuran jelek adalah dengan mengamati
hasil state estimation terhadap j(x), yang akan konvergen menjadi sangat kecil bila
tidak terdapat pengukuran yang jelek pada sistem. Ini berarti bila j(x) kecil, maka
vector x yaitu tegangan-tegangan dan sudut fasanya akan menghasilkan aliran daya,
beban dan pembangkitan yang dekat dengan nilai nilai pengukuran.
Pada umumnya keadaan pengukuran yang jelek akan menyebabkan konvergensi
est
perhitungan J(x) lebih besar dari perhitungan dimana diharapkan x= x
84
Sebagaimana telah diketahui bahwa error dalam pengukuran merupakan bilangan-
bilangan yang real, jadi nilai-nilai j(x) sebenarnya adalah nila-nilai yang acak. Bila
dianggap bahwa semua error terdistribusi normal pad probability density function,
maka akan dapat diperlihatkan bahwa J(x) mempunya PDF yang dikenal sebagai chi-
squared distribution yang dapat ditulis X
L
(k).parameter k disebut sebagai tingkat
ketidak tergantungan (degree of freedom) dari chi-squared distribution yang dapat
didefenisikan sebagai berikut:
k = N
m
- Ns
dimana:
Nm = jumlah pengukuran (pengukuran P+jQ dihitung sebagai dua pengukuran.
Ns = jumlah state = (2n-1)
n = jumlah bus pada jaringan sistem tenaga
Bila x = xest, maka harga rata rata J(x) sama dengan k dan standar deviasi J(x) sama
dengan 2k.
Bila terdapat satu atau lebih pengukuran yang jelek maka error akan lebih besar dari
lebar bidang error yang diperhitungkan yaitu sebesar . Dengan demikian secara
sederhana dapat diidentifikasikan adanya pengukuran yang jelek dengan cara men set
up suatu nilai tj yang memenuhi keadaan normal J(x). ini berarti bahwa untuk setiap
J(x)>tj terdapat adanya pengukuran yang jelek. Terdapat dua keadaan yang mungkin
memberikan salah tafsir yaitu bila tj diset pada harga yang kecil yang akan
menimbulkan alarm-alarm peringatan, pada hal semua pengukuran berjalan tanpa ada
kesalahan. Sebaliknya bila tj diset terlalu besar akan menghasilkan keadaan yang
seakan-akan semua berjalan sebagaimana mestinya, padahal sebenarnya banyak
kesalahan pengukuran terjadi.
Kejadian tersebut dapat dijadikan sebagai dasar untuk menuliskan persamaan berikut:
Dengan k adalah tingkat ketidak tergantungan.
Persamaan ini menyatakan bahwa peluang pada J(x) yang lebih besar dari tj adalah
sama dengan akan menghasilkan PDF j(x) merupakan chi-squared dengan tingkat
ketidak tergantungan k.
85
Jenis pengetesan ini dikenal sebagai pengujian hypothesis dimana parameter tertentu
maka nilai tj dapat digunakan untuk pengetesan .dengan menggunkan tj, maka peluang
alarm palsu mungkin sebesar 1 % dari semua pengetesan.
5.3 ANALISIS KONTIGENSI SISTEM TENAGA LISTRIK (CONTINGENCY
ANALYSIS)
Dalam analisis ini gangguan yang mungkin terjadi pada sistem dimodelkan, sehingga bisa
diambil tindakan yang diperlukan, jika benar-benar terjadi. Kontingensi adalah suatu kejadian
yang disebabkan oleh kegagalan atau pelepasan dari satu atau lebih generator dan/atau
transmisi (Ditjen LPE, 2004).
Teknik analisis kontingensi dari tahun ke tahun berkembang terus seiring dengan
perkembangan komputer. Walaupun ada metode aliran daya yang lebih baik seperti Gauss-
Seidel dan Newton- Rhapson yang bisa mempercepat proses komputasi, namun untuk
menganalisis sistem dengan mensimulasi satu persatu gangguan pada saluran dan pembangkit
, akan memakan waktu yang lama. Ada 2 metoda analisis kontingensi :
1. Analisis kontingensi deterministik..
Yaitu cara penganalisisan dengan membuat simulasi terlepasnya elemen dari sistem tenaga
misalnya satu saluran dilepas atau satu trafo dilepas atau satu unit pembangkit dilepas, serta
melihat pengaruh yang diakibatkannya. Beberapa metoda analisis kontingensi deterministik
yang dikenal saat ini yaitu:
1) Analisis kontingensi dengan menggunakan aliran daya arus searah (DC Power-
Flow Contingency Analysis) : Metoda ini paling sederhana tetapi hasil yang
diberikan kurang akurat. Dapat digunakan untuk menganalisis kontingensi tunggal
atau kontingensi multi. Pada metoda ini, resistansi saluran diabaikan sehingga daya
reaktifnya dapat diabaikan dan didapatkan model rangkaian linearnya (P-).
2) Analisis kontingensi dengan menggunakan matriks impedansi bus (Z BUS).
3) Analisis kontingensi dengan menggunakan metoda aliran daya Fast Decoupled dan
Newton-Rhapson.
86
2. Analisis kontingensi non-deterministik.
Penganalisisan didasarkan pada tingkat keandalan sistem yang didefinisikan pada 2 indeks
keandalan yaitu LOLP (Loss-Off-Load-Probability) dan EDNS (Expected Values Of
Demand Not Served). Keandalan sistem yang dimaksud tergantung kepada :
- Ketidakpastian perkiraan beban.
- Tingkat kepercayaan komponen/unit sistem tenaga.
- Jadwal pemeliharaan komponen/unit sistem tenaga.
- Kendala-kendala bagian yang terinterkoneksi.
Dengan kedua metoda di atas (LOLP dan EDNS), maka perencana sistem mampu
menentukan kapasitas elemen sistem tenaga yang akan dievaluasi dengan menggunakan fungsi
probabilitas kerapatan. Dengan teknik penganalisisan secara probabilistik ini dapat ditentukan
bagian saluran yang mana yang dibebani lebih atau bus mana yang bertegangan abnormal
tanpa mengevaluasi keseluruhan sistem. Dengan demikian diharapkan waktu komputasi lebih
cepat dan pengevaluasian dapat dititikberatkan pada daerah dimana sering terjadi gangguan
(outage).
5.3.1 Analisis Kontingensi dengan Metode Aliran Daya Newton-Raphson
Pendekatan tradisional untuk analisis kontingensi keadaan mantap dilakukan dengan
menguji semua kontingensi secara berurutan. Pada sistem tenaga listrik yang besar pengujian
kontingensi secara lengkap dengan mengikutsertakan semua kemungkinan kontingensi adalah
tidak efisien karena memerlukan waktu proses yang lama. Di sisi lain, pengujian kontingensi
yang dipilih berdasarkan pengalaman dan perasaan (intuisi) dari perencana tidaklah memadai
karena kemungkinan akan mengabaikan kasus-kasus kontingensi yang kritis. Dengan
demikian diperlukan suatu daftar kontingensi yang dipilih dan melakukan analisis kontingensi
hanya untuk kasus-kasus kontingensi yang dipilih tersebut.
Suatu sistem tenaga listrik mungkin mengalami kondisi kontingensi, antara lain: (1)
lepasnya unit pembangkit dan/atau saluran transmisi akibat adanya gangguan, dan (2) adanya
penambahan atau pengurangan yang tiba-tiba dari kebutuhan beban pada sistem tenaga listrik.
Meskipun banyak kontingensi lain yang dapat terjadi, namun hanya kontingensi-kontingensi
yang mempunyai probabilitas yang tinggi (credible) yang akan dipertimbangkan.
87
Kriteria yang digunakan untuk menentukan keandalan sistem, salah satunya dengan
menggunakan kriteria keandalan keamanan N-1 (Pottonen, 2005, Kundur, 2003, Marsudi,
1990). Kontingensi N-1 adalah kontingensi yang dihasilkan dari terlepasnya satu komponen
sistem yaitu satu saluran transmisi atau satu generator. Kontingensi N-k adalah kontingensi
yang dihasilkan dari terlepasnya sejumlah k komponen sistem.
Metode ini menggambarkan tingkat keandalan sistem dengan memperhitungkan
kemungkinan gangguan unit pembangkit dan juga gangguan peralatan transmisi. Dengan
kriteria indeks keandalan keamanan N-1 apabila dalam sistem terdapat N buah elemen baik unit
pembangkit maupun peralatan transmisi, sistem tidak akan kehilangan beban (tidak terjadi
pemadaman) apabila sebuah elemen sistem mengalami gangguan.
Dalam analisis kontigensi dilakukan studi aliran daya. Dalam penyelesaian masalah aliran
daya, sistem tenaga diasumsikan beroperasi pada keadaan seimbang dan digunakan
model satu fase. Untuk menghitung aliran daya pada jaringan sederhana dengan bentuk radial
dapat dilakukan secara analitik, tetapi untuk jaringan yang lebih rumit diselesaikan secara
iterasi. Ada empat kuantitas yang berhubungan dengan setiap bus, yaitu magnitude tegangan
|V|, sudut fase tegangan u, daya riil P, dan daya reaktif Q. Bus-bus sistem secara umum
dikelompokkan ke dalam tiga tipe , sebagai berikut :
Bus tadah (slack bus). Dikenal juga sebagai bus ayun (swing bus), yang diambil sebagai bus
referensi dimana besar dan sudut fase tegangannya ditetapkan, sedang injeksi daya aktif dan
reaktif dihitung. Bus ini akan memenuhi kebutuhan selisih daya antara beban terjadwal dan daya
yang dibangkitkan yang disebabkan oleh rugi-rugi jaringan.
Bus-PV atau lazim disebut bus pembangkit. Disini injeksi daya aktif P dan besar tegangan |V|
ditentukan sedang sudut tegangan u dan injeksi daya reaktif Q dihitung.
Bus-PQ atau lazim disebut bus beban. Disini baik injeksi daya aktif P maupun daya reaktif Q
dua-duanya ditentukan sedang besar dan sudut tegangan dihitung.
Konsep bus tadah atau simpul tadah yang membiarkan injeksi daya aktif tidak ditentukan
diperlukan karena ke bus inilah nantinya semua rugi daya aktif yang terjadi pada jaringan
ditimpakan setelah tegangan selesai dihitung, disamping injeksi daya aktif yang ada di bus ini
sendiri. Dengan tujuan hampir sama konsep bus tadah, bus pembangkit (PV) yang
membiarkan injeksi daya reaktif tidak ditentukan diperlukan karena ke bus inilah nantinya
88
rugi-rugi daya reaktif yang terjadi pada jaringan ditimpakan setelah tegangan selesai dihitung,
disamping injeksi daya reaktif yang ada di bus-bus ini sendiri.
. Secara umum persamaan arus yang memasuki suatu bus i pada sistem tenaga adalah
sebagai berikut :
dimana Yij adalah admitansi bus antara bus i dan j, dan pada persamaan di atas j termasuk bus
i. Dalam bentuk polar, dapat ditulis menjadi
Daya kompleks pada bus i adalah
Dengan memasukkan (38) ke dalam (39), diperoleh
Kemudian dipisahkan bagian-bagian riil dan imajiner,
Persamaan (5.41) dan (5.42) merupakan satu set persamaan aljabar nonlinear yang
berhubungan dengan variabel-variabel bebas, magnitude tegangan dalam per unit (pu), sudut
fase dalam radian. Terdapat dua persamaan untuk setiap bus beban, diberikan oleh (5.40) dan
(5.41), dan satu persamaan untuk setiap bus pembangkit, diberikan oleh (5.41). Pengembangan
(5.41) dan (5.42) ke dalam deret Taylor dan mengabaikan semua suku-suku yang berorde
tinggi, menghasilkan satu set persamaan-persamaan linear berikut :
89
berikut :
Langkah-langkah solusi aliran daya dengan metode Newton-Raphson adalah sebagai
sch
1. Untuk bus PQ, dimana P
i
sch
dan Q
i
ditentukan, nilai awal magnitude dan sudut fase
tegangan diset sama dengan nilai bus tadah, atau 1,0 dan 0,0, yaitu ,V
i
(0)
, = 1,0 dan
sch
ui(0) = 0,0. Untuk bus PV, dimana ,V
i
, dan P
i
ditentukan, sudut fasenya diset sama
(0)
dengan sudut fase tegangan bus tadah, atau 0, yaitu u
i
= 0.
2. Untuk bus PQ, (P
i
(k)
dan Q
i
(k)
dihitung dengan persamaan (41) dan (42),
3. Untuk bus PV, P
i
(k)
dan P
i
(k)
berturut-turut dihitung dengan persamaan (41)
4. Menyelesaikan persamaan linear simultan (42) secara langsung dengan cara faktorisasi
triangular dan eliminasi Gauss.
Proses berulang sampai selisih daya P
i
(k) (k)
dan Q
i
lebih kecil dari tingkat akurasiya.
Analisis kontingensi dengan metode aliran daya digunakan untuk mengetahui pengaruh
gangguan yang terjadi pda sistem tenaga listrik baik gangguan yang terjadi merupakan
gangguan tunggal (single contingencies) atau gangguan jamak (multiple contingencies) pada
saluran transmisi terhadap besarnya tegangan pada bus dan sudut fasa tegangan, serta
perubahan aliran daya pada sistem tenaga listrik dengan perhitungan dan kecepatan komputasi
yang baik.
90
5.3.2 Analisis Kontingensi Tunggal
Analisis kontingensi tunggal adalah analisis kontingensi setelah terputusnya aliran listrik
(outage) pada salah satu bagian sistem, artinya tidak terjadi dua pemutusan secara bersamaan.
Pemutusan dapat terjadi karena salah satu saluran atau transformator lepas dari sistem,
generator lepas, atau terjadi pergeseran pembangkitan, baik karena direncanakan untuk
pemeliharaan rutin, maupun terpaksa karena kondisi cuaca, atau karena gangguan.
a. Pergeseran Arus-Injeksi
Misalkan suatu sistem tenaga listrik, jika pada bus m diberikan tambahan arus injeksi
sebesar I
m
, akan terjadi perubahan tegangan pada setiap bus dan perubahan arus yang
mengalir pada setiap saluran. Perubahan tegangan pada sistem karena tambahan arus injeksi
tadi dinyatakan dengan,
dengan Z
bus
adalah matriks impedansi bus sistem awal, sebelum enambahan arus
injeksi. Perubahan tegangan pada bus i dan j dapat ditulis,
dengan Z
im
dan Z
jm
adalah komponen-komponen dari Z
bus
. Jika saluran yang
menghubungkan bus i dan bus j mempunyai impedansi primitif z
c
, maka perubahan arus yang
mengalir dari bus
i
ke bus
j
adalah
dari persamaan ini kita mendefinisikan istilah faktor distribusi arus-injeksi atau
current-injection distribution factor, Kij,m yang dirumuskan dengan,
91
yaitu perbandingan antara perubahan arus di satu saluran, saluran ij, terhadap
perubahan arus-injeksi pada satu bus, bus m. Maka perubahan arus pada saluran ij karena
perubahan arus-injeksi pada bus m adalah
Hubungan ini menunjukkan bahwa beban lebih pada saluran dapat dihilangkan
dengan menurunkan arus-injeksi pada suatu bus dan menaikkan arus-injeksi pada bus lain,
atau dengan kata lain menurunkan pembangkitan daya suatu unit pembangkit dan menaikkan
daya yang dibangkitkan pada unit yang lain.
Apabila arus-injeksi pada bus p diubah sebesar I
p
sedangkan pada bus q arus injeksi
diubah sebesar I
q
, maka dengan prinsip superposisi, perubahan arus pada saluran ij dapat
dihitung dengan,
Karena penggunaan seperti di atas, Faktor Distribusi Arus-Injeksi disebut sebagai
faktor distribusi pergeseran arus (current-shift distribution factor). Pada model aliran daya
DC pergeseran arus dari bus yang satu ke bus yang lain ekivalen dengan pergeseran
pembangkitan daya aktif dari bus yang satu ke bus yang lain. Oleh karena itu Faktor Distribusi
Pergeseran Arus sering disebut Faktor Distribusi Pergeseran Pembangkitan (generation-shift
distribution factor).
b. Saluran Lepas dari Sistem
Mengeluarkan satu saluran dari operasi sistem tenaga dapat disimulasikan dalam
model sistem dengan penambahan suatu impedansi negatif yang besarnya sama dengan
impedansi saluran itu di antara kedua bus di ujung saluran tersebut. Dengan menggunakan
konsep kompensasi arus, Z
bus
sistem tidak perlu dimodifikasi, penurunan persamaan perubahan
tegangan tiap bus dan perubahan arus pada tiap saluran cukup dengan menggunakan Z
bus
sistem
awal sebelum saluran lepas.
Misalkan suatu saluran antara bus m dan bus n dengan impedansi seri z
a
yang
terlepas dari sistem dapat disimulasikan dengan menambah impedansi -z
a
antara kedua bus
92
dalam rangkaian ekivalen sistem pre-outage, yaitu sebelum saluran mn lepas, seperti pada
Gambar 1. Saluran mn lepas disimulasikan dengan menghubungkan impedansi -z
a
dengan
memasukkan saklar S sehingga mengalir arus I
a
. Dengan Z
mn
= Z
nm
, dari Gambar 1 terlihat
bahwa,
dengan V
m
dan V
n
adalah tegangan pre-outage bus m dan bus n dan Z
th,mn
= (Z
mm
+ Z
nn
- 2 Z
mn
) adalah impedansi Thevenin antara bus m dan bus
n
. Efek arus I
a
terhadap tegangan
pre-outage bus m dan bus n sama dengan memberikan arus injeksi I
m
= -I
a
ke dalam bus
m
dan I
n
= I
a
ke dalam bus n. Perubahan arus pada sembarang arus ij dengan impedansi z
c
adalah,
Gambar 5.13 Rangkaian ekivalen Thevenin pre-outage untuk simulasi lepasnya
saluran mn.
Substitusi untuk I
a
dari persamaan (5.51) ke dalam persamaan (5.52) diperoleh,
Sebelum saluran mn lepas, arus yang mengalir pada saluran tersebut,
Dengan menggabungkan persamaan (5.53) dan (5.54) kita peroleh perubahan arus pada
saluran ij yang disebabkan oleh lepasnya saluran mn dari sistem yaitu,
93
L
ij,mn
disebut Faktor Distribusi Saluran-Keluar (line-outage distribution factor) yang
menyatakan besar perubahan arus pada saluran ij dengan impedansi seri z
c
karena keluarnya
saluran mn dari sistem yang mempunyai impedansi seri z
a
.
Arus yang mengalir pada saluran ij setelah saluran mn keluar diberikan oleh
persamaan,
I
mn
adalah arus saluran mn sebelum lepas dari sistem, dapat diperoleh dari hasil analisis
aliran daya. Dengan demikian dengan persamaan (5.50) dapat diketahui apakah tiap saluran
mengalami pembebanan lebih (overload) atau tidak setelah satu saluran lepas dari sistem.
5.3.2 Analisis Multi Kontingensi
Bila terjadi dua kontingensi tunggal berturut-turut atau simultan, perhitungan perubahan arus
yang mengalir melalui setiap saluran dapat dilakukan dengan mengkombinasikan faktor-faktor
distribusi dari kontingensi tunggal yang sudah dihitung lebih dahulu pada studi kontingensi
tunggal.
a. Satu Saluran Lepas dan Pergeseran Arus-Injeksi
Bila saluran mn keluar dari sistem diikuti dengan pengurangan arus-injeksi ke bus p
serta penambahan arus injeksi ke bus q, maka perubahan arus pada sembarang saluran ij dapat
diturunkan dengan prinsip superposisi menggunakan faktor-faktor distribusi dari kontingensi
tunggal dan hasilnya diberikan oleh persamaan,
dengan K
ij,p
adalah faktor distribusi pergeseran pembangkitan yang baru, yang
menyatakan perubahan arus pada saluran ij karena penambahan atau pengurangan arus injeksi
94
di bus p sebesar I
p
yang sebelumnya didahului oleh lepasnya saluran mn. Hal yang sama
dapat dinyatakan untuk K
ij,q
b. Dua saluran Lepas
Misalkan saluran pq lepas dari sistem pada saat saluran mn telah lepas sebelumnya dari
sistem karena pemeliharaan, maka perubahan arus pada sembarang saluran ij adalah,
L
ij,mn
= adalah Faktor Distribusi Saluran Lepas efektif yang menyatakan perubahan
arus dalam kondisi statis (steady state) saluran ij akibat lepasnya saluran mn ketika saluran pq
telah lepas lebih dulu dari sistem. Pernyataan yang sama juga untuk L
ij,pq
Untuk melakukan analisis kontingensi, sebelumnya diperlukan data-data awal dari
hasil studi aliran daya. Analisis kontingensi sangat berguna dalam perencanaan dan operasi
sistem tenaga listrik. Dengan hasil-hasil yang diperoleh dari studi analisis kontingensi
disamping data-data dari studi-studi lainnya, seorang perencana dapat menentukan kapasitas
peralatan yang akan dipasang pada bagian-bagian tertentu dari sistem. Dan seorang operator
dapat mengambil tindakan cepat jika terjadi gangguan, misalnya lepasnya saluran atau
lepasnya generator di salah satu bus, seorang operator dapat dengan cepat melakukan
pergeseran pembangkitan ke bus lain atau melepas sebagian beban untuk menghindari terjadinya
beban lebih (overload) pada saluran tertentu, sehingga gangguan yang lebih besar,
seperti lepasnya saluran secara berentetan dapat dihindari.
95
5.4 ANALISIS KOREKTIF SISTEM TENAGA LISTRIK (CORRECTIVE ACTION
ANALYSIS).
Salah satu bentuk analisis ini dikenal dengan istilah OPF (Optimal Power Flows). Analisis
aliran daya optimal (OPF) adalah perhitungan untuk meminimalkan suatu fungsi tujuan yaitu
biaya pembangkitan suatu pembangkit tenaga listrik atau rugi-rugi pada saluran transmisi
dengan mengatur pembangkitan daya aktif dan daya reaktif setiap pembangkit yang
terinterkoneksi dengan memperhatikan batas-batas tertentu. Batas yang umum dinyatakan
dalam perhitungan analisis aliran daya optimal adalah berupa batas minimum dan maksimum
untuk pembangkitan daya aktif pada pembangkit.
Salah satu tujuan analisis aliran daya optimal yaitu
(1). Untuk mengatahui bagaimana kemampuan sistem sehubungan dengan berbagai
kontingensi kredibel dan
(2). Berapa banyak biaya untuk memenuhi kendala operasi pada saat kontigensi dan pra-
kontigensi.
Selain itu. metode OPF akan menentukan kondisi operasi optimal dari jaringan listrik yang
mengalami hambatan secara fisik dan operasional. Faktor mana yang akan dicari titik
optimalnya, akan dirumuskan dan diselesaikan dengan menggunakan algoritma optimasi yang
sesuai, seperti metode Newton. Batasan-batasan yang harus diperhatikan dalam metode OPF ini
yaitu seperti pengaturan pembangkit listrik, ketersediaan sistem transmisi, batas desain
peralatan listrik, dan strategi operasi.
Masalah semacam ini jika diimplementasi dalam bentuk persamaan matematika
merupakan sebuah persamaan statis nonlinier, dengan fungsi objektif direpresentasikan
sebagai persamaan nonlinier. Tujuan utama dari metode OPF adalah untuk menentukan
pengaturan variabel kontrol dan sistem persamaan yang mengoptimalkan nilai fungsi objektif.
Pemilihan fungsi ini harus didasarkan pada analisis yang cermat dari sistem daya listrik dan
secara ekonomi.
96
BAB VI
STABILITAS SISTEM TENAGA LISTRIK
6.1 PENDAHULUAN
Keseimbangan daya antara kebutuhan beban dengan pembangkitan generator merupakan salah
satu ukuran kestabilan operasi sistem tenaga listrik. Dalam pengoperasian sistem tenaga listrik
pada setiap saat akan selalu terjadi perubahan kapasitas dan letak beban dalam sistem.
Perubahan tersebut mengharuskan setiap pembangkit menyesuaikan daya keluarannya melalui
kendali governor maupun eksitasi mengikuti perubahan beban sistem. Jika hal ini tidak
dilakukan maka akan menyebabkan keseimbangan daya dalam sistem terganggu dan efisiensi
pengoperasian sistem menurun menyebabkan kinerja sistem memburuk.
Kecepatan pembangkit memberi reaksi terhadap perubahan yang terjadi dalam sistem
menjadi faktor penentu kestabilan sistem. Kestabilan mesin pembangkit sangat tergantung
pada kemampuan sistem kendalinya. Sistem kendali yang andal jika mampu mengendalikan
mesin tetap beroperasi normal mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem. Jika
semua mesin tetap beroperasi dalam kondisi normal meskipun ada gangguan, maka sistem
tersebut akan benar-benar stabil.
Sistem tenaga listrik secara umum terdiri dari unit-unit pembangkit yang terhubung dengan
saluran untuk melayani beban. Sistem tenaga listrik yang memiliki banyak mesin
biasanya menyalurkan daya kebeban melalui saluran interkoneksi. Tujuan utama dari sistem
saluran interkoneksi adalah untuk menjaga kontinuitas dan ketersediaan tenaga listtrik
terhadap kebutuhan beban yang terus meningkat. Semakin berkembang sistem tenaga listrik
dapat mengakibatkan lemahnya performansi sistem ketika mengalami gangguan. Salah satu
efek gangguan adalah osilasi elektromekanik yang jika tidak diredam dengan baik maka
sistem akan terganggu dan dapat keluar dari area kestabilannya sehingga mengakibatkan
pengaruh yang lebih buruk seperti pemadaman total (black out).
Stabilitas sistem tenaga lisitrik merupakan karakteristik sistem tenaga yang
memungkinkan mesin bergerak serempak dalam sistem pada operasi normal dan dapat
kembali dalam keadaan seimbang setelah terjadi gangguan. Secara umum permasalahan
stabilitas sistem tenaga listrik terkait dengan kestabilan sudut rotor (Rotor Angle Stability) dan
kestabilan tegangan (Voltage Stability). Klasifikasi ini berdasarkan rentang waktu dan
97
mekanisme terjadinya ketidakstabilan. Kestabilan sudut rotor di klasifikasikan menjadi Small
Signal Stability dan Transient Stability. Small Signal Stability adalah kestabilan sistem untuk
gangguan-gangguan kecil dalam bentuk osilasi elektromekanik yang tak teredam, sedangkan
Transient Stability dikarenakan kurang sinkronnya torsi dan diawali dengan gangguan-
gangguan besar.
Masalah kestabilan biasanya diklasifikasikan menjadi tiga tipe bergantung pada sifat
alami dan magnitude gangguan, yaitu:
a. Stabilitas steady state
b. Stabilitas transient
c. Stabilitas dinamis
6.2 STABILITAS STEADY STATE SISTEM TENAGA LISTRIK
Stabilitas steady-state dapat didefinisikan sebagai kemampuan sistem tenaga listrik untuk
tetap menjaga sinkronisasi diantara mesin dalam sistem dan saluran external apabila terjadi
perubahan beban baik secara normal ataupun lambat. Stabilitas steady-state bergantung
kepada batas-batas transmisi dan kapasitas pembangkitan dan efektifitas perangkat kontrol
automatis, terutama untuk regulasi tegangan automatis (AVR) pada generator. Pernyataan diatas
juga berlaku untuk kestabilan transien dan dinamik.
Apabila beban pada generator meningkat maka, rotasi rotor akan melambat, dan
sebaliknya, akan semakin cepat apabila beban menurun. Pada kondisi normal, perubahan sudut
rotor akan sedikit mengalami overshoot, yaitu akan sedikit lebih lambat atau lebih cepat.
Pada kondisi stabil maka osilasi akan tetap terjadi sampai akhirnya berada pada posisi tertentu
untuk kondisi beban yang baru. Apabila rotor berada pada kondisi tetap yang hanya terjadi
dalam waktu yang cepat, maka mesin dapat dikatakan dalam keadaan stabil, dan osilasi
dikatakan memiliki damping yang baik.
Ayunan pada kondisi yang telah dijelaskan tersebut biasanya terlalu cepat untuk direspon
oleh governor pada mesin. Bagaimanapun juga, sistem eksitasi generator yang cepat beraksi
(eksiter dan regulasi tegangan pada generator) akan peka terhadap perubahan tegangan yang
menyebabkan osilasi sudut rotor dan memperkuat atau memperlemah medan generator,
sehingga mempengaruhi kecepatan mesin untuk mencapai kondisi operasi yang stabil.
98
Kondisi yang telah dijabarkan diatas akan selalu ada pada sistem tenaga listrik karena
beban yang ada akan selalu bertambah dan ada pula yang hilang, dan semua generator yang
terinterkoneksi harus selalu menyesuaikan energi input, sudut rotor, dan eksitasi agar sesuai
dengan kondisi pada saat itu juga.
6.3 STABILITAS TRANSIENT SISTEM TENAGA LISTRIK
Situasi yang lebih hebat akan terjadi bila pembangkitan atau beban besar hilang dari sistem
atau terjadi gangguan pada saluran tranmisi. Pada kasus semacam itu stabilitas transient harus
cukup kuat untuk mempertahankan diri terhadap kejutan (shock) atau perubahan beban yang
relatif besar yang terjadi. Stabilitas transien adalah kemampuan sistem untuk tetap pada
kondisi sinkron (sebelum terjadi aksi dari kontrol governor) yang mengikuti gangguan pada
sistem.
Setelah hilangnya pembangkitan atau beban besar secara tiba-tiba, keseimbangan antara
energi input dan output elektris pada sistem akan hilang. Jika energi input tidak lagi
mencukupi, inersia rotor mesin yang masih bekerja, pada periode yang singkat, akan
melambat. Apabila beban hilang maka energi input pada sistem akan melebihi beban elektris,
dan mesin akan bergerak semakin cepat.
Bermacam-macam faktor mempengaruhi stabilitas sistem, seperti kekuatan pada jaringan
transmisi didalam sistem dan saluran pada sistem yang berdekatan, karaktristik pada unit
pembangkitan, termasuk inersia pada bagian yang berputar, dan properti elektris seperti
reaktansi transient dan karakteristik saturasi magnetik pada besi stator dan rotor. Faktor penting
lainnya adalah kecepatan pada saluran atau perlengkapan yang terjadi gangguan dapat
diputus (disconnect ) dan, dengan reclosing otomatis pada saluran transmisi, yang menentukan
seberapa cepat saluran dapat beroperasi lagi. Sebagaimana pada stabilitas steady-state,
kecepatan respon pada sistem eksitasi generator merupakan faktor yang penting dalam
mempertahankan stabilitas transient. Gangguan pada sistem biasanya diikuti oleh perubahan
tegangan yang cepat pada sistem, dan pemulihan kembali tegangan dengan cepat menuju ke
kondisi normal merupakan hal yang penting dalam mempertahankan stabilitas.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, stabilitas transient adalah kemampuan untuk
tetap pada kondisi sinkron selama periode terjadinya gangguan dan sebelum adanya reaksi dari
governor. Pada umumnya ayunan pertama pada rotor mesin akan terjadi selama satu detik
setelah gangguan, tetapi waktu yang sebenarnya bergantung pada karakteristik mesin dan
99
sistem transmisi. Setelah periode ini, governor akan mulai bereaksi, biasanya sekitar 4 hingga
5 detik, dan stabilitas dinamis akan efektif. Ayunan dinamis juga akan dipengaruhi oleh osilasi
tegangan, penguatan pada sistem eksitasi, dan waktu pada frekuensi jaringan.
6.4 STABILITAS DINAMIS SISTEM TENAGA LISTRIK
Beberapa waktu setelah gangguan, governor pada prime mover akan bereaksi untuk
menaikkan atau menurunkan energi input, sesuai kondisi yang terjadi, untuk mengembalikan
keseimbangan antara energi input dan beban elektris yang ada. Hal ini biasanya terjadi sekitar
satu hingga satu setengah detik setelah terjadi gangguan. Periode ketika governor mulai bereaksi
dan waktu ketika kestabilan mencapai kondisi steady-state adalah periode ketika
karakteristik kestabilan dinamik mulai efektif. Stabilitas dinamis adalah kemampuan sistem
untuk tetap pada kondisi sinkron setelah ayunan pertama (periode stabilitas transien ) hingga
sistem mencapai kondisi equilibrium steady-state yang baru.
Selama periode ini, governor membuka atau menutup katup, sabagaimana diperlukan,
untuk meningkatkan atau menurunkan energy input pada prime mover, dan operasi kontroler
saluran untuk mengembalikan aliran daya pada saluran ke kondisi normal. Biasanya, bila
generator peka terhadap drop kecepatan, mereka akan beraksi untuk membuka katup untuk
memberikan uap lebih pada turbin uap atau air pada turbin air dan memberikan cukup energi
untuk menahan penurunan kecepatan (frekuensi) dan mempercepat sistem hingga kembali ke
keadaan normal. Ini masih merupakan kondisi tidak seimbang, karena energi input sekarang
melebihi beban, dan kecepatan akan meningkat untuk titik dibawah normal, ketika governor
akan beraksi untuk mengurangi energi input. Sebagai hasilnya, osilasi energi input dan sudut
rotor mesin akan terjadi. Apabila sistem stabil secara dinamis, osilasi akan diredam, yaitu,
pengurangan pada magnitude, dan setelah beberapa kali ayunan sistem akan berada pada kondisi
equilibrium steady state.
Kondisi yang secara transient stabil tetapi secara dinamik tidak stabil bisa saja terjadi.
Segera setelah gangguan rotor pada mesin akan melalui ayunan pertama (sebelum aksi dari
governor), kemudian setelah kontrol mulai bekerja, osilasi akan meningkat sampai mesin tidak
berada dalam kondisi sinkron. Hal ini dapat terjadi bila aksi kontrol governor, yang terjadi
akibat adanya kebutuhan untuk menaikkan atau menurunkan daya input, terjadi penundaan
waktu sehingga aksi tersebut akan menambah ayunan berikutnya bukannya mengurangi.
10
0
6.5 PERSAMAAN AYUNAN
Mesin yang mengalami gangguan atau perubahan kondisi dalam pengoperasian akan
menyebabkan energinya berayun, dan mempunyai kemungkinan sebagai berikut; kembali
stabil setelah gangguan hilang, atau tetap berayun dan tidak mungkin lagi kembali stabil maka
perlu dilakukan pemisahan dari sistem. Jika generator sinkron menerima torka mekanik sebesar
Tm maka akan menimbulkan torka elektrik sebesar Te, dan dengan mengabaikan rugi-
rugi energy yang terjadi maka didapatkan persamaan sebagai berikut :
Jika T
a
adalah selisih antara torka mekanik dengan torka elektrik pada mesin maka T
a
dapat
didefenisikan sebagai torka percepatan atau perlambatan dari mesin dengan persamaan:
Jika mesin memiliki momen inersia atau momen kelembaman dalam merespons perubahan
kondisi yang terjadi sebesar J dan dengan mengabaikan gaya gesekan serta redaman maka
torka percepatan/perlambatan mesin dapat dirumuskan:
Dimana u
m
besar sudut perputaran mesin. Jika Wsm kecepatan sudut yang tetap maka
Dimana om adalah posisi baling-baling sebelum gangguan pada saat t = 0, maka kecepatan
sudut rotor ;
Dan percepatan putaran sudut rotor adalah :
Substitusi persamaan (6) dalam persamaan (3) diperoleh persamaan :
Dan dengan mengalikan dengan , mengakibatkan
Daya adalah perkalian antara torka dan besar sudut perputarannya maka didapat persamaan
sebagai berikut :
101
Hasil kali disebut konstanta inersia dan dinotasikan dengan M, maka kaitannya denngan
energy kinetic Wk adalah :
atau
Selanjutnya dinyatakan sebagai berikut :
maka persamaan ayunan dapat dinyatakan menjadi :
Jika p adalah jumlah kutub dari generator sinkron maka dapat dinyatakan:
Juga,
Persamaan ayunan mesin menjadi:
Atau dapat ditulis menjadi:
Sebagai konstanta H tetap dan dengan menggunakan satuan perunit maka didapat:
Dimana P
m(pu)
dan P
e(pu)
adalah gaya mekanis per-unit dan daya listrik. Kecepatan sudut
elektrik dihubungkan dengan kecepatan sudut mekanis oleh persamaan:
10
2
Dalam kaitan dengan kecepatan sudut elektrik adalah:
Jika kecepatan dinyatakan dalam frekuensi maka didapat:
Dimana o adalah radian dalam elektrik, maka didapat persamaan ayunan adalah:
6.6 PEMODELAN MESIN SINKRON PADA STUDI KESTABILAN
Representasi mesin sinkron pada kondisi transient dinyatakan dengan sumber tegangan
dalamnya dan disertai dengan reaktans transientnya. gambar dibawah ini menunjukkan sebuah
generator sinkron dihubung ke busbar tak hingga
Gambar 6.1 Sebuah mesin terhubung ke bus tak hingga
Jika tegangan terminal generator diberi nomor 1, dan busbar diberi nomor 2, serta grounding
diberi nomor 0, maka impedans sistem tersebut diatas dapat dinyatakan dalam admitans
sebagai berikut:
103
Sehingga dapat digambarkan dalambentuk t (phi) sebagai berikut:
Gambar 6.1 Rangkaian ekivalen sebuah mesin terhubung ke bus tak hingga.
Maka didapat persamaan sistem sebagai berikut:
Maka persamaan daya aktif sistem adalah:
10
4
Gambar 6.2 Kurva sudut daya
Apabila dinyatakan dalam kurva sudut daya, maka seperti ditunjukkan pada gambar diataas,
dan persamaan daya maksimum sebagai berikut:
Dan persamaan daya elektrik adalah :
Bila terjadi hubung singkat, maka tegangan transient generator dapat dihitung dengan rumus:
6.7 PEMODELAN MESIN SINKRON MEMPERHITUNGKAN SALIENCY
Pada bagian ini diperkenalkan pemodelan mesin pada 2(dua) sumbu, tetapi lebih dikenal
dengan sumbu dq0. Maka phasor diagram sistem dapat digambarkan pada sumbu dq0
sebagai berikut:
Gambar 6.3 Phasor diagram selama periode keadaan mantap
105
Maka sudut daya sistem dapat dihitung sebagai berikut:
Dari hubungan diatas, maka dapat diperoleh dari:
Selama kondisi transient maka phasor diagramnya digambarkan sebagai berikut:
Gambar 6.4 Phasor diagram selama periode keadaan transient
Atau
Dari persamaan (6.31), kita peroleh
Dengan mengadakan subsitusi persamaan diatas didapatkan rumus (6.34)
10
6
Contoh Soal 6.1 :
Tentukan karakteristik mesin sinkron, jika diketahui parameter-parameternya sebagai berikut:
Dengan mengabaikan resistans armature mesin, dan mesin terhubung langsung pada busbar
tak hingga dengan tegangan 1,0 pu. Jika generator memberikan daya aktif 0,5 pu pada faktor
daya 0,8 lagging. Hitung tegangan pada reaktans transient dan persamaan sudut daya mesin,
jika:
a. pengaruh saliency diabaikan?
b. Pengaruh saliency diperhitungkan?
Keterangan:
Arus steady state sebelum gangguan,
(a) pengaruh saliency diabaikan, tegangan reaktansi transient adalah
Kurva Sudut daya diberikan,
atau
(b) Pengaruh saliency diperhitungkan, inisial daya steady state diberikan oleh persamaan
(6.32) adalah
Tegangan eksitasi steadi state E, persamaan (6.32),adalah
107
Tegangan transient E
q
, dari persamaan (6.33) adalah,
Dan dari (6.33) persamaan sudut daya transient adalah
atau
Gambar 6.5 Kurva sudut daya pada keadaan transien pqda contoh 6.1 di atas.
6.8 STABILITAS STEADY-STATE DENGANGANGGUAN-GANGGUANKECIL
Gangguan kecil sering disebut kestabilan dinamik, dan pengaruhnya terhadap tiap mesin
dalam sistem dapat ditentukan dari:
Jika persamaan (6.36) disubstitusi dalam persamaan (6.37) maka diperoleh:
10
8
atau
Untuk o adalah kecil, cos o ~ 1 and sin o ~ o , dan diperoleh
Untuk keadaan initial operasi,
Persamaan sebelumnya untuk persamaan linear dari perubahan sudut daya antara lain,
Maka persamaan kestabilan marginal pada frekuensi osilasi sebagai berikut:
Dan torka redamannya adalah:
Jika damping linier, maka persamaan ayunan sistem menjadi:
109
Maka persamaan karakteristik sistem adalah:
Dimana e
d
adalah frekuensi damping dari osilasi,
Penulisan persamaan sebelumnya dalam matrik sebagai berikut,
atau
dimana
dan
atau
atau
11
0
Dimana
dan
dan
Dan frekuensi sudut rotor adalah
Konstantarespon waktu adalah
Contoh Soal 6.2:
Pada frekuensi 60 Hz, generator sinkron dengan konstanta inersia H = 9,94 MJ/MVA dan
reaktans transient Xd= 0,3 pu, terhubung pada bus tak hingga dengan tegangan V = 1,0 pu.
Generator memberikan daya aktif P = 0,6 pu pada faktor daya 0,8 lagging. Asumsi bahwa
koefisien redaman D = 0,138. Tentukan kestabilan sistem pada o = 10
0
= 0,1745 r adian.
111
Keterangan:
Daya semu per unit adalah
Arus,
Tegangan eksitasinya adalah
Gambar 6.6 One-line diagram contoh soal 6 2.
Dari pers. (6.49), frekuensi damping sudut osilasi adalah
Frekuensi osilasi damped (teredam),
11
2
113
Gambar 6.7 Respon alamiah dari susdut rotor dan frekuensi mesin untuk contoh soal 6.2
Kesimpulan dari gambar 6.8 adalah:
dan
atau
11
4
Dimana,
Penulisan persamaan sebelumnya dalam matrik, diperoleh,
atau
atau
dimana
Subsitusi untuk (sI A)
-1
, diperoleh,
dan
Contoh Soal 6.3
Membuat Invers Transformasi Laplace Hasil Step Respon
115
Dan frekuensi sudut rotor dalam radian per detik,
atau
Juga, subsitusi nilai dalam persamaan (6.75) dan nyatakan frekuensi dalam Hz, akan
diperoleh,
atau
Gambar 6.8 Step response dari sudut and frekuensi mesin contoh soal 6.3
11
6
dan
Selanjutnya didapatkan matriks A, B, C, dan D sebagai berikut:
A = [0 1; -37.705 -2.617];
Dp = 0.2; Du = 3.79; % Small step change in power input
B = [0 ; 1] *Du ;
C = [1 0; 0 1] ; % Unity matrix defening output y as x1 and x2
D = [0 ; 0] ;
[y, x] = step (A, B, C, D, 1, t) ;
Dd = x ( : , 1) ; Dw = x ( : , 2) ; % State variables x1 and x2
d = (d0 + Dd)*180/pi ; % Power angle in degree
f = f0 + Dw/ (2*pi) ; % Frequency in Hz
subplot (2 , 1 , 1) , plot (t , d) , grid
xlabel ( t sec ) , ylabel ( Delta Degree )
subplot (2 , 1 , 2) , plot (t , f) grid
xlabel ( t sec ) , ylabel ( Frequency
Hz ) , subplot (111) Respons sistem
dapat ditunjukkan dengan simulasi dibawah ini:
Gambar 6.9 Block diagram simulasi contoh soal 6.3
117
Hasilnya,
6.9 STABILITAS TRANSIENT DENGAN KRITERIA SAMA LUAS
Kestabilan transient menentukan apakah suatu mesin dapat kembali kekeadaan stabil setelah
mengalami gangguan?. Berangkat dari persamaan ayunan mesin yang terhubung ke bus tak
hingga sebagai berikut:
Dimana Pa adalah daya percepatan. Dari persamaan sebelumnya, kita peroleh,
Dengan mengalikan kedua sisi persamaan sebelumnya dengan , kita dapatkan,
Dapat juga ditulis,
atau
dengan mengintegralkan kedua sisi,
11
8
atau
Jika sudut o meningkat maka keluaran daya generator juga meningkat hingga mencapai P
m1
,
dan jika sudut daya bertambah terus maka keluaran daya akan berkurang seperti gambar
dibawah ini:
Gambar 6.10 Kriteria sama luas --- perubahan beban tiba-tiba.
119
6.10 APLIKASI PADA PENAMBAHANDAYA INPUT TIBA-TIBA
Kriteria sama luas digunakan untuk menentukan penambahan daya maksimum Pm yang dapat
dilakukan untuk mempertahankan kestabilan system, diperlihatkan pada gambar dibawah ini:
Gambar 6.11 Kriteria Sama Luas --- Batas Daya Maksimum.
Integralkan persamaan sebelumnya,
subsitusi P
m
, dari
Kedalam persamaan sebelumnya. Diperoleh hasil,
Dimana,
Dimana df/do
max
adalah turunan (6.82) dan diberikan oleh,
12
0
dan
Contoh Soal 6.4
Mesin pada contoh 6.2 diberikan daya aktif 0,6 pu pada system daya 0,8 lagging, dan
dihubungkan langsung ke bus tak hingga.
a. Tentukan daya input daya maksimum yang dapat diberikan agar mesin tidak
kehilangan sinkronisasinya.
b. Ulangi soal a untuk inisial daya input sama dengan nol.
Keterangan :
`Diketahui:
P0 = 0.6; E = 1.35; V = 1.0; X = 0.65;
Eac power (P0, E, V, X)
Jika:
Inisial Daya = 0.600 pu
Inisial susdut daya = 54.160 derajat
inisial daya tiba-tiba (Sudden) = 1.084 pu
Total Daya untuk stabilitas kritis = 1.684 pu
Sudut ayunan mask (Maximum angle swing) = 125.840 pu
Sudut operasi baru (Newoperating angle) = 54.160 derajat
Inisial daya = 0.000 pu
Inisial sudut daya = 0.000 derajat
Sudden initial power = 1.505 pu
Total Daya untuk stabilitas kritis
(Total power for critical stability) = 1.505 pu
Sudut ayunan mask (Maximum angle swing) = 133.563 pu
Sudut operasi baru (Newoperating angle) = 46.437 derajat
121
Gambar 6.12 Batas daya maksimum dengan kriteria sama luas untuk contoh 6.4(a)
Gambar 6.13 Batas daya maksimum dengan kriteria sama luas untuk contoh 6.4(b)
6.11 APLIKASI PADA GANGGUANTIGA FASA
Perhatikan gambar dibawah ini, dimana sebuah generator dihubungkan ke bus tak hingga
lewat saluran pararel. Jika terjadi gangguan tiga fasa pada ujung bus pengirim, tentukan
kestabilan system sesudah gangguan dilepaskan dari system?
12
2
Gambar 6.14 Sistem satu mesin yang dihubungkan ke bus tak hingga,
gangguan tiga fasa pada F.
Keterangan:
Gambar 6.15 Kriteria sama luas untuk gannguan tiga fasa pada
sisi pengiriman (sending end).
Integralkan kedua sisi, diperoleh
Penyelesaiaan c, kita dapatkan,
123
atau
Gambar 6.16 Kriteria sama luas untuk sudut pemutusan kritis
Integralkan kedua sisi,
Inegralkan lagi, kita dapatkan,
Jika gangguan tiga fasa terjadi pada titik tengah saluran transmisi seperti gambar dibawah ini:
Gambar 6.17 Sistem satu mesin yang dihubungkan ke bus tak hingga,
gangguan tiga fasa pada F.
12
4
Keterangan:
Gambar 6.19 Kriteria sama luas untuk gannguan tiga fasa pada
Sebuah jalur sisi pengiriman (sending end).
Sudut pemutusan kritis diperlihatkan pada gambar dibawah ini:
Gambar 6.18 Kriteria sama luas untuk sudut pemutusan kritis
Integralkan kedua sisi, dan penyelesaian untuk , kita dapatkan,
125
Contoh Soal 6.5
Mesin pada frekuensi 60 Hz dihubungkan pada bus tak hingga seperti pada gambar dibawah
ini.
a. Jika gangguan sesaat terjadi pada ujung bus pengirim, tentukan waktu pemutusan
kritisnya?.
b. Jika gangguan tiga fasa terjadi pada pertengahan saluran transmisi seperti pada
gambar, tentukan waktu pemutusan kritisnya?.
Gambar 19 diagram satu garis untuk contoh soal 6.5
Keterangan:
Tegangan transient internalnya adalah
Sudut inisial operasi,
atau
Dan kembali ke gambar Gambar 6.17.
12
6
Dengan demikian, sudut pemutusan kritis adalah
Dari (6.91), waktu pemutusan kritis adalah
Menggunakan data yang diketahui dibawah ini untuk penyelesaian masalah tersebut diatas
P0 = 0.8; E = 1.17; V = 1.0;
X1 = 0.65; X2 = inf; X3 = 0.65
eacfault (Pm, E, V, X1, X2, X3)
The graph is displayed as shown in Gambar 22. And the result is
Initial power angle (inisial sudut daya) = 26.388
Maximum angle swing(sudut ayunan maksimum) = 153.612
Sudut pemutusan kritis = 84.775 derajat
Waktu pemutusan kritis = 80.260 sec
Aplikasi dari kriteria sama luas untuk system pemutusan kritis
Gambar 6.20 Kriteria sama luas untuk contoh soal 6.5(a)
127
Dinyatakan dengan rangkaian pengganti seperti dibawah ini:
Gambar 6.21 Rangkaian pengganti setelah transformasi Y -
Dengan demikian, kurva sudut daya selama gangguan,
Dimana gangguan adalah diputus pada saluran terganggu terisolasi. Dengan demikian,
reaktansi transfer setelah gangguan adalah
Dan kurva sudut daya adalah,
Kembali ke gambar 6.20,
Gunakan persamaan (6.93), sudut pemutusan kritis, diberikan oleh,
12
8
Dengan demikian, sudut pemutusan kritis,
Gambar 6.22 Kriteria sama luas untuk contoh soal 6.5(b)
P0 = 0.8; E = 1.17; V = 1.0;
X1 = 0.65; X2 = 1.8; X3 = 0.65
eacfault (Pm, E, V, X1, X2, X3)
grafik ditampilkan seperti pada Gambar 6.24. and the result is
inisial sudut daya = 26.388
sudut ayunan maksimum = 146.838
sudut pemutusan kritis = 98.834
6.12 PEMECAHAN NUMERIK PADA PERSAMAAN NON-LINIER
Metode numeric dapat diterapkan sebagai metode pendekatan pada pemecahan persamaan
sistem non-linier. Jika suatu persamaan difrensial orde satu dinyatakan sebagai berikut:
129
Maka pemecahan dengan metode pendekatan Euler digambarkan sebagai berikut:
Gambar 6.23 Grafik interpretasi dari metode Euler
Sehingga diperoleh:
Untuk:
|
|
|
13
0
6.13 PEMECAHAN NUMERIK PADA PERSAMAAN AYUNAN
Untuk menunjukkan pemecahan dari persamaan ayunan sistem, seperti ditunjukkan pada
gambar 18 diatas , dimana generator sinkron dihubungkan ke bus tak hingga lewat dua saluran
pararel. Jika diasumsikan bahwa daya input konstan maka sudut daya dinyatakan sebagai
berikut:
dimana
131
kemudian,nilai rata-rata dari dua turunan digunakan untuk mencari nilai yang sebenarnya,
Contoh Soal 6.6
Pada contoh 6.5, gangguan tiga fasa terjadi pada pertengahan salah satu saluran yang
menghubungkan generator dengan bus tak hingga.
a. Jika waktu pemutusan kritis adalah 0,3 detik, tentukan pemecahan numeric dari
persamaan ayunan pada 1 detik dengan pendekatan Euler.
Keterangan:
Saat gangguan terjadi pada pertengahan salah satu saluran maka:
Sehingga,
13
2
Maka diperoleh hasil prediksi yang pertama adalah:
Selanjutnya dari turunan pertama didapat:
Sehingga diperoleh nilai rata-rata adalah:
Proses pendekatan ini dilanjutkan hingga mencapai waktu pemutusan kritis 0,3 detik,
maka persamaan akselerasi daya saat itu adalah:
Pm = 0.80; E = 1.17; V = 1.0;
X1 = 0.65; X2 = 1.80; X3 = 0.8;
H = 5; f = 60; tc = 0.3; tf = 1.0; Dt =0.01
swingmeu (Pm, E, V, X1, X2, X3, H, f, tc, tf, Dt)
b. Jika program tersebut diatas dijalankan pada waktu pemutusan kritis 0,4 detik dan 0,5
detik maka hasilnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 6.24 Kurva ayunan mesin untuk contoh soal 6.6 pemutusan gangguan 0,3 sec.
133
Gambar 25 Kurva ayunan mesin untuk contoh soal 6.6 pemutusan
gangguan 0,4 sec and 0,5 sec.
Pm = 0.80; E = 1.17; V = 1.0; H = 5.0; f = 60;
X1 = 0.65; X2 = 1.80; X3 = 0.8;
tc = 0.3; tf = 1;
swingrk4 (Pm, E, V, X1, X2, X3, H, f, tc, tf)
tc = .5;
sSwingrk4 (Pm, E, V, X1, X2, X3, H, f, tc, tf)
tc = .4;
swingrk4 (Pm, E, V, X1, X2, X3, H, f, tc, tf)
c. Menggunakan representasi steady-state, kemudian disimulasi menggunakan Simulink
Windows sebagai berikut:
13
4
Set the Switch Threshold at the value of fault clearing time
Gambar 6.26 Blok diagram simulasi untuk contoh soal 6.6
6.14 SISTEM MULTI-MESIN
Persamaan sistem multi-mesin dapat dituliskan menyerupai sistem mesin tunggal yang
terhubung ke bus tak hingga, sebagai berikut:
Termasuk tegangan sumber dibelakang reaktans transient, terhubung ke m bus seperti gambar
dibawah ini:
Gambar 6.27 Reperesentasi system tenaga untuk analisis stabilitas transient
135
Sehingga persamaan arus pada tiap cabang saluran dapat dituliskan sebagai berikut:
Atau
Vektor tegangan V
n
dapat dieliminasi dengan subsitusi berikut,
Dari (6.104)
Sekarang subsitusi kedalam (6.105), diperoleh
Matriks admintansi sisa adalah,
atau
dimana
13
6
6.15 STABILITAS TRANSIENT MULTI-MESIN
Studi stabilitas transient klasik didasarkan pada analisis gangguan tiga fasa. Persamaan ayunan
dengan mengabaikan redaman dapat ditulis sebagai berikut:
Contoh Soal 6.7.
Suatu jaringan sistem seperti gambar dibawah ini, dengan data beban, besar tegangan, jadwal
pembangkitan, dan batas-batas daya reaktif pada setiap bus sistem diberikan dalam bentuk
table berikut:
Gambar 6.28 Diagram satu garis contoh soal 6.7.
137
Dengan memilih daya dasar pada 100 MVA, dan jika terjadi gangguan pada line 5-6 didekat
bus 6, dan terjadi pemutusan dengan pembukan CB secara simultan pada kedua ujung line.
Buatlah program untuk menentukan kondisi kestabilan sistem sebagai berikut:
a. Ketika gangguan diputuskan pada 0,4 detik.
b. Ketika gangguan diputuskan pada 0,5 detik.
c. Ulangi simulasinya untuk menentukan waktu pemutusan kritis.
Keterangan:
Dengan menggunakan program TRSTAB (atau program load Flow desain sendiri), maka
diperoleh hasil:
13
8
139
Gambar 6.29 Plots perbedaan sudut untuk mesin 2 and 3 contoh soal 6.7(a).
Jika program dijalankan untuk penentuan waktu pemutusan kritis pada CB yang berikutnya
sebagai berikut:
Mau menentukan waktu pemutusan untuk gangguan yang lainnya?
Tekan y untuk lanjut!
Masukkan waktu pemutusan dalam detik, tc = 0,5
Masukkan lama waktu iterasi dalam detik, tf = 1,5
Maka hasil simulasi digambarkan sebagai berikut:
14
0
Gambar 6.30 Plot perbedaan sudut untuk mesin 2 and 3 untuk soal 6.7(b).
141
BAB VII
OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK
7.1 OPERASI OPTIMAL SISTEM TENAGA LISTRIK
7.1.1 Pendahuluan
Sistem tenaga listrik terdiri atas komponen tenaga listrik yaitu pembangkit tenaga listrik,
sistem transmisi dan sistem distribusi. Pembangkit pembangkit tenaga listrik yang
lokasinya berjauhan satu sama lain terhubung ke sistem melalui sistem transmisi yang
luas untuk mencatu tenaga listrik pada beban yang tersebar, disebut sebagai sistem
interkoneksi. Adanya sistem interkoneksi menyebabkan :
1. Keandalan sistem yang semakin Tinggi
2. Effisiensi pembangkitan tenaga listrik dalam sistem meningkat
3. Mempermudah penjadwalan pembangkit
Sebuah sistem tenaga listrik merupakan sebuah unit usaha dimana selain faktor
teknis, faktor ekonomis sangat dominan dalam pengoperasiannya. Secara umum selalu
dijaga kondisi balance (kesetimbangan) antara pendapatan (penjualan) dan pengeluaran
(pembiayaan) agar dapat diperoleh margin keuntungan yang layak, sehingga unit usaha
dapat dijaga kelangsungannya. Demikian pula untuk unit usaha tenaga listrik, Penjualan
listrik dalam bentuk pemakaian energi (kWh) oleh konsumen yang harganya diatur dalam
sistem tarif tertentu ( di Indonesia menggunakan Keppres). Pengeluaran (pembiayaan)
dalam mengoperasikan sistem tenaga listrik meliputi : 1) Belanja pegawai, 2) Belanja
barang dan jasa, 3) Pemeliharaan dan Penyusutan, 4) Penelitian/pengembangan, 5) Pajak,
dsb, 6) Bahan baku energi ( BBM, Batubara, Nuklir, Air dsb), 7) Losses, dan lain lain.
Bagian terbesar dari pembiayaan adalah untuk bahan baku energi ( sekitar 80 %),
selain itu naik/turunnya pemakaiannya selalu terkait dari penggunaan energi listrik oleh
beban. Pembiayaan terbesar ini terletak di pembangkit pembangkit , sehingga sangat
diperlukan cara pengoperasian total pembangkitan yang efisien.
Dengan terhubungnya banyak pembangkit kedalam sebuah sistem interkoneksi
memberikan kemungkinan pengaturan output setiap pembangkit juga biaya
pembangkitannya dapat diatur pada tingkat yang rendah/optimum.
14
2
Tujuan utama dari operasi system tenaga listrik memenuhi kebutuhan daya demand
dengan biaya yang minimum, dimana sistem harus aman dengan dampak terhadap
lingkungan di bawah standar, mempunyai keandalan yang memenuhi standar dan dapat
melayani permintaan secara continue sepanjang waktu. Berkaitan dengan itu dalam
mencapai tujuan di atas, maka perlu dijadualkan pembangkit secara efisien atau dengan
OPF. Dengan OPF maka biaya total produksi dari suplai/pembangkit minimum.
7.1.2 Pemodelan Biaya Bahan Bakar Pembangkit Thermal.
Di atas telah dijelaskan tujuan operasi optimal secara umum, pada bagian ini dibahas
model biaya bahan bakar untuk pembangkit thermal yang beroperasi optimal. Model
biaya bahan bakar di sini adalah berkaitan dengan daya aktif yang diproduksi oleh
pembangkit. Timbul suatu pertanyaan mengapa daya aktif yang menjadi pokok
pembahasan, karena bahan bakar digunakan pada penggerak mula, sedangkan telah
diketahui bahwa penggerak mula menghasilkan daya aktif.Pembahasan bahwa bahan
bakar yang merupakan input dan keluaran adalah daya aktif. Demikian model biaya
bahan bakar dapat dituliskan dengan persamaan sebagai berikut:
Persamaan (7.1) biasa disebut model input-output (F-P), dengan kurva input output
seperti gambar 7.1.
Gambar 7.1 Kurva Input Output sebuah Pembangkit Listrik Tenaga
Thermal
143
Dalam satuan standar internasional (SI) yang merupakan input adalah thermal
dengan satuan MJ/h atau Kcal/h dan satuan British Temperatur Unit dengan satuan
Mbtu/h dengan daya keluaran dengan satuan Megawatt (MW). Biaya total operasi sistem
tenaga listrik adalah terdiri dari : biaya bahan bakar, biaya pegawai dan biaya
pemeliharaan.
Heat rate kurva input-output seperti pada gambar 7.1 yang merupakan contoh untuk
pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan batubara, minyak bumi dan gas.
Gambar 7.2. Kurva incremental heat
Karakteristik incremental Heat rate dapat diperlihatkan seperti pada gambar 7.2
yaitu versus P. Satuan dari heat tare adalah MJ/KWh. Heat rate untuk pembangkit
listrik tenaga uap dengan bahan bakar batu bara, minyak bumi atau gas. Dapat dilihat
pada Tabel 7.1.
Pada operasi ekonomi pembangkit listrik secara umum yang telah diberikan seperti
pada persamaan 7.1. Dalam menentukan harga parameter , dan pada persamaan
(7.1), dapat dilakukan dengan meminimisasi dan memberikan simbol J
14
4
Tabel 7.1 Net Present Rates untuk bahan bakar fosil yang digunakan pada pembangkit
listrik Thermal dan variasi beban
Fossil
Fuel
Unit
Rating
100 %
Output
MJ/kWh
80 %
Output
MJ/kWh
60 %
Output
MJ/kWh
40 %
Output
MJ/kWh
25 %
Output
MJ/kWh
Coal 50 11,59 11,69 12,82 12.82 14,13
Oil 50 12,12 12,22 12,59 13,41 14,78
Gas 50 12,13 12,43 12,81 13,64 15,03
Coal 200 10,01 10,09 10,41 11,07 12,21
Oil 200 10,43 10,52 10,84 11,54 12,72
Gas 200 10,59 10,68 11,01 11,72 12,91
Coal 400 9,49 9,53 9,75 10,31 11,25
Oil 400 9,91 9,96 10,18 10,77 11,75
Gas 400 10,01 10,06 10,29 10,88 11,88
Coal 600 9,38 9,47 9,77 10,37 11,40
Oil 600 9,80 9,90 10,20 10,84 11,91
Gas 600 9,81 10,01 10,31 10,96 12,04
Coal 800/1200 9,22 9,28 9,54 10,14
Oil 800/1200 9,59 9,65 9,92 10,55
Gas 800/1200 9,70 9,75 10,03 10,67
Untuk memperoleh jawaban dan , defrensial parsial J disamakan dengan nol
Persamaan disusun kembali, diperoleh,
145
Dengan menyelesaikan persamaan linear di atas, maka o dan dapat ditentukan
nilainya seperti contoh di bawah ini:
Contoh Soal 7.1 :
Data untuk kurva tingkat panas heat rate yang diharapkan untuk sebuah unit pembangkit
listrik dalam sebuah pusat pembangkit listrik tenaga thermal yang ditunjukkan di bawah
ini
MW 70 75 112,5 150
Btu/kWh 8200 8150 7965 7955
a. Carilah titik corresponding pada kurva input-output (input dalam Btu/h).
b. Carilah parameter o dan dari persamaan biaya
Penyelesaian
a. Fungsi F(P
i
) sebagai masukan dan ditentukan untuk berbagai variasi (Pi ) seperti
pada tabel yang dikalikan dengan daya output. Dengan demikian untuk:
P1 = 70 MW, diperoleh:
F1 = 8200 x 70 x 103 = 574 x 106 Btu/jam.
Dengan cara yang sama dapat diperoleh:
Untuk P
2
= 75 MW F
2
= 611 x 106 Btu/h
Untuk P
3
= 112, 5 MW F
3
= 896 x 106 Btu/h
Untuk P
4
= 150 MW F
4
= 1190 x 106 Btu/h
b. Besaran yang telah diperoleh, dapat diurutkan sebagai berikut untuk perhitungan
selanjutnya.
14
6
Maka jawabannya,
Dengan menyelesaikan persamaan diatas diperoleh nilai o dan
Selanjutnya biaya bahan bakar dapat ditentukan dengan persamaan:
F( Pi ) = 69,23 + 6,98 P + 3, 2828 x 10-3 P2 M B t u / h
147
7.1.3 Operasi Optimal Pembangkit Listrik Tenaga Thermal
Pada pembahasan ini diambil m buah pembangkit thermal yang beroperasi pada
suatu bus yang sama, seperti diperlihatkan pada gambar 7.3.
Gambar 7.3 m buah pembangkit thermal beroperasi pada satu bus yang sama
Pembangkit tersebut mempunyai biaya bahan yang berbeda yaitu (Fi) dengan daya
aktif (Pi) yang dimodelkan dengan persamaan polynomial kuadrat, biaya bahan bakar
total dari plant adalah merupakan penjumlahan setiap unit pembangkit dengan satuan
$/jam.
Dimana i, oi dan i adalah suatu konstanta
Dalam menentukan biaya minimum (F), maka persamaan (7.5) di deffrensial
terhadap (Pi) dan disamakan dengan nol.
Nilai optimal untuk daya yang dibangkitkan dapat dituliskan dengan persamaan
sebagai berikut:
14
8
Daya aktif optimal dan biaya minimal, kalau differensial derajat dua dari (F)
terhadap Pi nilainya positif. Kondisi ini dapat diperoleh apabila nilai:
Pada persamaan (7.7) dapat diperoleh daya yang dibangkitkan negatif apabila

i
dan o
i
adalah positif nilainya untuk suatu pendefferensialan parsial dilakukan dua
kali.
Masalah optimisasi untuk memperoleh biaya minimum maka kendalanya harus daya
dalam keadaan seimbang, apabila rugi-rugi transmisi diabaikan fungsi kendala dapat
dituliskan sebagai berikut:
Jika tidak ada fungsi kendala, maka persamaan (7.7) merupakan suatu penjumlahan
seperti berikut:
Dalam metode Lagrange fungsi kendala dapat dituliskan
Kalau metode lagrange ( ) ditarafkan fungsi daya, maka diperoleh rumus:
Diamana,
149
(7.11)
Perlu dicatat bahwa jika semua pembangkit independent t, dengan menggunakan
metode pengali Lagrange diperoleh nilai yang sama yaitu:
Selanjutnya () yang merupakan pertambahan biaya dalam analisis optimisasi daya
bahan bakar pada suatu system pembangkit energi listrik. Grafik pertambahan biaya
pembangkitan seperti pada gambar 7.4 pada kondisi optimal dari persamaan (7.11) dapat
dirumuskan menjadi:
Gambar 7.4. Ilustrasi pertumbuhan biaya atau pertambahan pembebanan
Selanjutnya nilai dapat ditentukan dengan memperoleh persamaan yang diturunkan
diperoleh:
15
0
Pada akhirnya dalam pembangkitan optimal dengan penurunan diperoleh persamaan
seperti:
Contoh Soal 7.2
Dua buah unit pembangkit listrik tenaga thermal yang dioperasikan dalam satu bus
memberikan model persamaan biaya sebagai berikut:
dimana P
1
dan P
2
dalam MW, Pembangkit daya ini mensuplai ke beban sebesar 1000
MW. Jika rugi transmisi diadimana P1 dan P2 dalam MW diabaikan, tentukan besar daya
yang disuplai masing-masing pembangkit dan nilai pertambahan biaya pembangkitan
Penyelesaian :
Dengan menggunakan persamaan (7.13) dan (7.9) diperoleh,
Dengan menyelesaikan persamaan di atas diperoleh jawaban
Selanjutnya diperoleh incremental cost
151
7.1.4 Perhitungan Rugi-rugi Transmisi
Masalah operasi optimal telah dibicarakan di atas dimana keseimbangan daya dengan
rugi transmisi diabaikan. Pada bagian ini untuk operasi ekonomis sistem tenaga listrik
ditinjau rugi-rugi transmisi, ambil statu sistem seperti pada gambar (7.6), sistem radial
dengan satu pembangkit.
Gambar 7.6 Sistem transmisi radial
Mencari rugi daya P
1
dengan daya yng dipasok oleh pembangkit P
G
ke pusat P
D
,
Diagram ekivalen dari sistem di atas adalah seperti pada Gambar 7.7.
Gambar 7. 7 Rangkaian ekivalent sistem radial
Pada gambar diperoleh rugi-rugi transmisi:
dimana R adalah tahanan dari saluran dalam Ohm/phasa. Arus I dapat diperoleh dari :
15
2
dimana ;
P
a
= daya yang dibangkitkan oleh generator
V
a
= tegangan line to line (phasa ke phasa)
COSa = factor daya generator
Dengan asumsi ke dua persamaan di atas, diperoleh :
Asumsikan bahwa tegangan generator V
a
dan cos
a
konstan, maka diperoleh
Dimana,
Kalau ditinjau dari dua sumber pemasok daya ke pusat beban seperti pada gambar 7.8.
Gambar 7.8. Sistem radial dengan dua sumber pemasok pada demand P
D
153
Berdasarkan pada persamaan (7.16) maka rugi daya dapat diperoleh:
Dimana
R
D
= Nilai real dari Zbus
V1 = tegangan bus generator P1
pf1 = faktor daya pada bus 1
Tinjau dua sumber pemasok daya pada pusat beban seperti pada gambar 7.9.
Gambar 7.9. Dua saluran radial yang terhubung ke beban
Dua pembangkit terhubung ke bus pusat beban dengan tahanan masing-masing R
1D
dan
R
2D
sehingga rugi daya adalah :
Selanjutnya ditinjau sistem radial dengan tiga saluran seperti pada gambar 7.10.
15
4
Gambar 7.10. Sistem pemasok daya dua sumber dengan tiga saluran
Pada gambar 7.10, tiga saluran dua sumber pemasok daya yaitu P
1
dan P
2
untuk
memenuhi permintaan P
D
. Pada saluran bus beban P
D
ada turunan R
3D
, sehingga
diperoleh rugi saluran transmisi.
Besar arus dapat ditentukan dengan harga mutlak.
Sekarang kalau diambil :
Diperoleh,
155
kemudian disubsitusikan ke dalam persamaan (7.18), diperoleh:
Dengan demikian besar konstanta B dapat ditentukan, yaitu
Contoh Soal 7.3
Pada gambar 7.10 dua sumber daya memasok daya ke beban dengan sistem tiga saluran,
data diberikan dalam per unit (pu) adalah:
Tentukanlah persamaan rugi transmisi dengan menggunakan persamaan (7.19) sampai
dengan (7.21) diperoleh:
156
maka diperoleh persamaan rugi daya saluran transmisi per unit sebagai berikut:
Masalah rugi daya pada saluran transmisi dijelaskan Korns, dalam Korns Loss
Formula untuk suatu sistem pemasok daya dengan dua sumber dan satu pusat beban.
Atau dapat ditulis,
Selanjutnya dapat ditulis dalam bentuk persamaan matriks:
Kalau jumlah pembangkit banyak dan jaringan, misalnya (m) maka Korns Loss
Formula dapat ditulis:
7.2 OPERASI EKONOMIS SISTEM TENAGA LISTRIK
Operasi ekonomis sangatlah penting untuk sebuah sistem tenaga listrik untuk
mengembalikan modal yang telah diinvestasikan. Tarif ditetapkan oleh sebuah badan
pengatur dan penting nya pengamanan tekanan tempat bahan bakar pada perusahaan
tenaga listrik untuk memperoleh efisiensi maksimum yang memungkinkan. Efisiensi
157
maksimum mengurangi biaya kilowattjam pada konsumen dan biaya pada perusahaan
yang mensupplai kilowattjam yang juga meningkatkan harga bahan bakar, buruh, supplai
dan perawatan
Ekonomis operasional melibatkan pembangkitan daya dan pentransmisian yang
dapat dibagi kedalam dua bagian; satu berhubungan dengan biaya minimum produksi
daya dan disebut penjadualan ekonomis (economic dispatch) dan yang lain berhubungan
dengan rugi-rugi transmisi minimum dari daya yang dibangkitkan ke beban. Untuk
kondisi beban khusus, penjadwalan ekonomis menentukan daya keluaran dari setiap
pembangkit (dan setiap unit pembangkit dalam satu pusat pembangkit) yang akan
meminimalisasi biaya bahan bakar keseluruhan yang diperlukan untuk melayani beban
sistem. Dengan demikian, penjadualan ekonomis fokus pada koordinasi biaya produksi
pada semua pembangkit tenaga listrik yang beroperasi pada sistem dan merupakan
penekanan utama pada bagian ini.
Masalah rugi-rugi minimum dapat diasumsikan dalam beberapa bentuk tergantung
pada bagaimana pengendalian aliran daya dalam sistem dievaluasikan. Masalah
penjadualan ekonomis dan juga masalah rugi-rugi minimum dapat diselesaikan dengan
cara program aliran daya optimal (optimal power-flow-OPF program). Perhitungan OPF
dapat dilihat sebagai rangkaian perhitungan aliran daya Newton-Raphson yang
konvensional dimana parameter yang dapat dikontrol secara otomatis ditambahkan untuk
memenuhi batasan-batasan jaringan dan meminimalisasi fungsi objektive yang khusus.
Pada bab ini kita akan menggunakan pendekatan klasik penjadualan ekonomis.
Pertama-tama kita akan mempelajari pendistribusian keluaran pembangkitan antara
generator atau unit pembangkit dalam sebuah pusat pembangkit yang paling ekonomis.
Metode yang kita kembangkan yang juga menggunakan penjadualan ekonomis keluaran
pembangkit untuk beban yang diberikan sistem tanpa mempertimbangkan rugi-rugi
transmisi. Kemudian kita mengekspresikan rugi-rugi transmisi sebagai sebuah fungsi out
put dari pembangkit-pembangkit yang bervariasi. Kemudian kita menentukan bagaimana
keluaran dari setiap pembangkit dari sebuah sistem penjadualan untuk mendapatkan
biaya minimal dari daya yang disupplai ke beban.
Karena beban total dari sistem tenaga listrik berubah-ubah sepanjang hari, kontrol
keluaran daya pembangkit yang terkoordinir sangat lah penting untuk memastikan
158
pembangkitan ke beban seimbang sehingga frekuensi sistem akan dekat dengan nilai
operasi nominal, biasa nya 50 atau 60 hz. Berdasarkan hal itu, masalah pengontrolan
pembangkit otomatis (automatic generation control) dikembangkan dari sudut pandang
steady-state. Juga karena beban harian bervariasi, penggunaan harus ditentukan
berdasarkan dasar ekonomis, mana generator start-up, mana yang shut-down dan
urutannya bagaimana. Prosedur perhitungan untuk membuat keputusan itu disebut
pengaturan unit pembangkit (unit commitment), yang juga dikembangkan pada level
perkenalan pada bab ini.
7.2.1 Kesepakatan Unit Pembangkit Tenaga Listrik
Kesepakatan unit dapat didefenisikan sebagai proses pengambilan keputusan yang
optimal, penjadualan start-up dan shut-down unit-unit pembangkit guna meminimumkan
biaya operasi selama periode pengamatan yang menjamin tercukupinya cadangan daya.
Asumsi yang biasa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan kesepakatan unit
adalah:
1. Beban sistem setiap periode pengamatan adalah konstan dan telah diberikan
(diperoleh dari estimasi beban)
2. Rugi-rugi transmisi diabaikan
3. Cadangan daya panas telah ditentukan.
Berdasarkan asums di atas kesepakatan unit dapat diformulasikan sebagai berikut :
7.2.1.1 Fungsi Obyektif
Minimisasi (Biaya bahan bakar + biaya Start-up)
Keterangan:
COST = Biaya total selama periode pengamatan
I = Jumlah unit pembangkit
FCOSTi(GiH) = Biaya yang dibutuhkan untuk membangkitkan daya sebesar Gi
oleh unit pembangkit ke-i pada jam ke-H
159
SCOST = biaya start-up pembangkit ke I
N = total periode pengamatan
7.2.1.2 Kriteria Pembatas
Kesetimbangan daya pembangkit dan beban
Keterangan:
G
i
H = daya yang dibangkitkan oleh unit ke I jam ke-H
L(H) = beban pada jam ke H
7.2.1.3 Kapasitas Pembangkitan
Keterangan:
P
iH
= daya yang dibangkitkan oleh unit ke-i jam ke-H
P
maxi
= kapasitas pembangkitan maksimum unit ke-i
P
mini
= kapasitas pembangkitan minimum unit ke-i
7.2.1.4 Spanning reverse margin
Keterangan:
P
maxi
= kapasitas pembangkitan maksimum ke-i
S
iH
= status unit ke-I ( On or Off )
R (H ) = cadangan daya yang diizinkan pada jam ke-H
L (H) = beban pada jam ke H
7.2.1.5 Minimum up time
160
Suatu unit pembangkit apabila sedang beroperasi (On) tidak dapat dimatikan
seketika sebelum minimum up time nya terpenuhi.
7.2.1.6 Minimum down time
Unit pembangkit thermal tidak dapat dihidupkan dengan seketika karena
memerlukan waktu untuk menaikkan temperature dan tekanan untuk siap
membangkitkan daya. Dibutuhkan sejumlah biaya energi untuk menghidupkan unit-unit
tersebut, biaya energi tersebut disebut biaya start-up. Biaya start-up diformulasikan
sebagai berikut :
Keterangan:
C
su
= biaya start-up
C
si
= biaya dingin
C
f
= biaya konstan untuk pemeliharaan
V = laju pendinginan
t = lama waktu unit off
7.2.2 Operasi Ekonomis dengan mengabaikan Rugi-Rugi Saluran Transmisi
Pada pusat pembangkit tenaga umumnya dioperasikan lebih dari satu unit pembangkit
tenaga listrik. Untuk melakukan pembagian beban diantara pembangkit tenaga listrik
yang berdekatan letaknya, rugi-rugi transmisi dapat diabaikan walaupun pada
kenyataannya rugi-rugi tetap ada.
Biaya bahan bakar dan biaya pembangkit tenaga listrik dari suatu sistem tenaga
listrik dengan mengabaikan rugi transmisi dapat dinyatakan sebagai berikut :
Biaya pembangkitan, daya output dan beban dapat digambarkan sebagai berikut:
161
Gambar 7.12 Representasi biaya pembangkit, daya output dan beban
suatu pusat pembangkit listrik thermal
7.2.3 Operasi Ekonomis Dengan Memperhitungkan Rugi-Rugi Saluran Transmisi
Umumnya letak pusat-pusat pembangkit jauh dari pusat beban, sehingga penyaluran daya
harus melalui saluran transmisi yang panjangnya bias mencapai ratusan kilometer.
Akumulasi rugi daya pada saluran transmisi dalam satu tahu bisa mencapai 12 digit.
Dengan demikian, untuk pendekatan yang lebih realistis susut daya atau rugi-rugi daya
pada saluran transmisi harus diperhitungkan dalam optimasi biaya operasi pembangkit
tenaga listrik.
Biaya bahan bakar dan daya pembangkit tenaga listrik dari suatu sistem tenaga listrik
dengan memperhitungkan susut daya pada saluran transmisi dapat direpresentasekan
seperti gambar 7.13 berikut :
Gambar 7.13 Representasi biaya pembangkit, daya output dan beban
suatu pusat pembangkit listrik thermal
162
Biaya bahan bakar dan daya pembangkit tenaga listrik dari suatu sistem tenaga listrik
dengan memperhitungkan susut daya pada saluran transmisi dinyatakan seperti pada
persamaan :
Keterangan ;
F
i
= fungsi biaya pembangkit ke-i
P
i
= daya keluaran pembangkit ke-i
Total daya yang disuplai oleh N pembangkit ke sistem adalah :
Keterangan ;
P
T
= total daya yang dibangkitkan (MW)
P
gi
= total daya yang dibangkitkan oleh pembangkit ke-i
Fungsi biaya seperti pada persamaan (49) akan diminimalkan dengan memperhatikan
fungsi kendala operasi (constraining), yaitu persamaan neraca daya.
Keterangan ;
P
L
= rugi daya pada saluran transmisi (MW)
P
D
= daya beban (MW)
Kendala lain yang juga harus diperhatikan adalah kendala teknis setiap pembangkit, yaitu
daya maksimum dan minimum yang disyaratkan
Salah satu cara untuk menyelesaikan problem optimasi adalah dengan Metode Pengali
Langrange ( Methode of Lagrange Multipliers). Sebuah fungsi biaya baru C, dibentuk
dengan menggabungkan fungsi biaya pembangkitan dan persamaan kendala sistem, yaitu
163
Untuk setiap keluaran pembangkit P
g1
, P
g2
, .........P
gN
disebabkan oleh Fi hanya
bergantung pada Pgi, maka turunan parsial Fi dapat dinyatakan sebagai turunan penuh,
sehingga persamaan (7.36) dapat dinyatakan sebagai berikut.
Untuk setiap nilai ke-i persamaan diatas sering dinyatakan dalam bentuk,
Dalam hal ini,
Persamaan (7.38) menyatakan biaya bahan bakar paling minimum yang diperoleh saat
biaya tambahan bahan bakar dikalikan dengan faktor penalti adalah sama untuk semua
unit pembangkit dalam sistem. Sehingga untuk tiga pembangkit pada pusat pembangkit
dengan bus yang sama berlaku bahwa :
Namun masalahnya adalah apabila batasandaya maksimum dan minimum dari setiap
pembangkit dijadikan sebagai suatu fungsi kendala operasi dan kelompok pembangkit
yang dioperasikan memiliki karakteristik operasi berbeda maka keadaan seperti yang
dinyatakan pada persamaan (7.40) sering tidak terpenuhi.
Pola distribusi cadangan daya pada metode Operasi Ekonomis konvensional tidak
praktis karena metode ini mempunyai keterbatasan dalam menangani kapasitas
maksimum pembangkitan dan perbedaan laju kenaikan pembangkitan.
Jika seluruh kapasitas cadangan ditanggung oleh satu unit, maka kemampuan untuk
mensuplai beban puncak sistem tersebut akan minimum. Agar laju kenaikan pembangkit
164
untuk membangkitkan cadangan daya lebih maksimal, maka cadangan daya harus
didistribusi kepada beberapa unit yang mempunyai kapasitas pembangkit besar. Sehingga
perlu ditentukan jumlah minimal dan cadangan daya panas yang telah ditentukan. Unit-
unit tersebut ditandai sebagai unit yang harus tetap beroperasi selama pengamatan (must
run unit).
165
BAB VIII
PENGENDALIAN SISTEM TENAGA LISTRIK
8.1 PENDAHULUAN
Pengendalian sistem tenaga listrik dewasa ini berkembang pesat baik dalam ilmu dan
teknologi maupun dalam dunia industri. Perkembangan ini dirasakan pula pihak pemasok daya
listrik dalam mengatur suplainya ke beban. Hal ini terlihat dengan penggunaan peralatan
kontrol baik di sisi pembangkitan, saluran transmisi dan sisi beban.
Peralatan kontrol untuk pembangkitan biasanya digunakan untuk mengatur suplai daya
aktif dan reaktif. Perubahan beban yang terjadi sangat berpengaruh terhadap perubahan
frekuensi dan tegangan. Naik turunnya frekuensi tergantung perubahan daya aktif, demikian
halnya dengan tegangan tergantung pada perubahan daya reaktif.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa pengendalian daya aktif berkaitan dengan
pengendalian frekuensi sementara pengendalian daya reaktif berhubungan dengan
pengendalian tegangan.Selengkapnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Keterangan :
1. Katup (Valves)
2. Turbin (Turbine)
3. Generator Sinkron
4. Sistem Eksitasi (Excitation System)
5. Automatic Voltager Regulator (AVR)
6. Sensor Tegangan (Voltage Sensor)
7. Sensor Frekwensi (Frequency Sensor)
8. Load Frequency Control (LFC)
9. Governor
10. Valve Control Mecanism
Sumber : POWER SYSTEMANALYSIS, Hadi Saadat, Hal. 529, 1999.
Gambar 8.1 Skematik pengendalian daya aktif dan daya reaktif
166
8.2 PENGENDALIAN DAYA AKTIF DAN FREKUENSI
Pengendalian daya aktif pada generator, berkaitan dengan pengaturan frekwensi. Dimana
frekwensi itu sendiri, diatur oleh putaran rotor generator yang terkopel dengan penggerak
mula (prime mover).
Sebagaimana pembahasan sebelumnya, bahwa pengaturan daya aktif dilakukan oleh AVR
(Automatic Voltage Regulator) sementara untuk pengaturan daya aktif dilakukan oleh LFC
(Load Frequency Regulator) seperti yang terlihat pada gambar berikut ini :
Gambar 8.2 Diagram blok LFC pada sebuah generator
Frekwensi merupakan faktor umum yang terdapat pada seluruh sistem, perubahan
permintaan (demand) di dalam daya aktif pada satu titik akan berakibat terhadap perubahan
frekwensi. Oleh karena terdapat banyak generator yang mensuplai daya ke sistem, maka pada
pembangkit harus disediakan alokasi perubahan pada permintaan terhadap generator.
Kecepatan governor pada tiap-tiap pembangkit memberikan kecepatan pokok sebagai fungsi
kontrol. Sementara itu tujuan dasar pengaturan frekwensi itu sendiri adalah :
Member kesimbangan sistem pembangkit ke beban.
Memperkecil penyimpangan frekwensi akibat perubahan beban secara tiba-tiba
agar perubahan frekwensi tersebut mendekati nol.
Menjaga aliran daya pada pembangkit-pembangkit yang terinterkoneksi agar
berada pada kemampuan kapasitas masing-masing generator.
Untuk melihat pengendalian frekwensi tersebut maka masing-masing komponen yang
berperan dalam pengaturan frekwensi atau LFC tersebut dimodelkan dalam bentuk persamaan
matematis, sebagai berikut (Hadi Saadat, 1999) :
167
Model generator
Model matematis generator dapat dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut :
dimana :
(s) : Perubahan kecepatan (rad/s)
H : Konstanta inersia
Pm(s) : Perubahan daya mekanik (Watt)
Pe(s) : Perubahan daya akibat perubahan beban (Watt)
Blok diagram dari persamaan di atas, yaitu :
Gambar 8.3 Diagram blok model generator
Model beban
Dari persamaan (8.1), komponen Pe(s) merupakan penjumlahan antara komponen
frekwensi (D ) dan non-frekwensi (PL), seperti pada persamaan berikut ini :
Sehingga gambar (8.3) dapat diubah menjadi :
Gambar 8.4 Diagram blok model beban
168
Model penggerak mula
Dasar pemodelan penggerak mula dalam hal ini sebagai contoh yaitu turbin uap adalah
melihat hubungan antara daya mekanik Pm dan perubahan posisi dari katup (valve) PV.
Model matematis turbin dapat dituliskan sebagai berikut :
Sementara diagram blok berdasarkan pesamaan di atas, yaitu :
Gambar 8.5 Diagram blok model penggerak mula / turbin uap
Konstanta waktu turbin (T) memiliki range antara 0,2 secons sampai 2,0 seconds
Model governor
Model matematis untuk suatu governor dapat dituliskan menjadi :
dengan :
P
g
: daya output governor (Watt)
P
reff
: daya referensi/acuan (Watt)
R : speed regulation (berkisar 5 6 persen)
Daya output governor Pg tersebut diubah dari penguat hidraulik ke sinyal input posisi
katup (valve) PV, sehingga hubungan antara keduanya menjadi :
Dengan g sebagai konstanta waktu governor. Sehingga persamaan (8.4) dan (8.5) dapat
direpresentasikan dalam diagram blok berikut ini :
169
Gambar 8.6 Diagram blok model governor
Jika representasi diagram blok pada gambar (8.4), (8.5) dan (8.6) digabungkan, maka akan
diperoleh suatu model load frequency control (LFC) seperti pada gambar berikut ini :
Gambar 8.7 Diagram blok sebagai representasi dari sebuah Load
Frequency Control (LFC)
Seperti halnya pada pengaturan daya reaktif dengan menggunakan AVR, maka pada
pengaturan daya aktif dengan LFC biasanya ditambahkan dengan suatu pengendali lain
untuk mengoptimalkan kinerja LFC tersebut. Pengendali tersebut dapat berupa pengendali
PID dan pengendali Logika Samar (Fuzzy Logic Control / FLC). Pengendali tambahan
diharapkan dapat mempercepat respon LFC terhadap setiap perubahan frekwensi yang
terjadi dalam sistem tenaga listrik, dan dalam pembahasan selanjutnya akan ditekankan
pada pengendali fuzzy logic.
Fuzzy Logic Control / FLC yang digunakan tersebut digunakan untuk menggantikan posisi
governor dalam mengontrol mekanisme pembukaan dan penutupan katup (valve). Oleh
170
karena itu, maka pengendali dengan menggunakan FLC sering juga disebut sebagai Fuzzy
Logic Governor. (Imam Robandi, 2006) \
Adapun diagram blok dengan penambahan pengendali Fuzzy Logic, dapat dilihat pada
gambar berikut ini :
Gambar 8.8. Diagram blok representasi sebuah Load Frequency Control (LFC)
dengan menggunakan Fuzzy Logic Control (FLC)
Pada gambar di atas, nilai 2H = M dan ditambahkan dengan sebuah speed drop governor
(Ki/s) yang berfungsi sebagai pengatur proporsional untuk mengurangi kesalahan frekwensi
yang terjadi selama operasi berlangsung.
Untuk mengetahui perbedaan antara governor konvensional dengan governor yang
menggunakan logika fuzzy, berikut akan diberikan hasil simulasi dari gambar (8.9) dan
(8.10) dengan menggunakan aplikasi MATLAB Versi 6.1. (Imam Robandi, 2006)
Parameter simulasi yang digunakan meliputi :
Konstanta waktu turbin (T) = 0,3 detik
Konstanta waktu governor (g) = 0,2 detik
D = 1,0
R = 0,05
M = 10 detik
Hasil simulasi diperoleh, sebagai berikut :
171
Gambar 8. 9 Respon frekwensi sistem tanpa kendali Fuzzy
Gambar di atas menunjukkan respon frekwensi dengan hanya menggunakan pengendali
LFC konvensional. Dimana dengan kenaikan kebutuhan daya aktif beban pada detik ke-40
maka frekwensi turun sampai -0,031pu lalu stabil pada -0,023 pu, begitu pula ketika terjadi
penurunan beban pada detik ke 70 maka frekwensi naik lagi sampai 0,01 pu lalu stabil pada
0,001 pu.
Gambar 8.10 Respon frekwensi sistem dengan kendali Fuzzy
Hal sebaliknya terjadi ketika diberi pengendali fuzzy seperti pada gambar (8.10). Terlihat
bahwa respon terhadap perubahan beban yang menyebabkan turun naiknya frekwensi
berlangsung sangat cepat, artinya waktu untuk mencapai kestabilan pada frekwensi
normalnya sangat cepat.
172
Untuk melihat langsung perbedaan ke dua respon di atas maka gambar hasil simulasi di
plotkan dalam satu grafik sebagai berikut :
Gambar 8.11 Grafik perbandingan respon frekwensi FLC tanpa pengendali fuzzy
(konvensional) dan dengan pengendali fuzzy
8.3 PENGENDALIAN DAYA REAKTIF DAN TEGANGAN
Berdasarkan gambar (8.1), dengan mengambil bagian pengendalian reaktifnya maka dapat
digambarkan sebagai berikut :
Gambar 8.12 Skematik pengendalian daya reaktif
173
Persoalannya sekarang adalah bagaimana hubungan antara daya reaktif dengan tegangan itu
sendiri. Untuk melihat hubungan tersebut maka dapat dilihat pada persamaan gambar berikut
ini
Gambar 8.13 Rangkaian sederhana pembebanan generator
Rangkaian pada gambar (8.13) dapat digambarkan dalam satu diiagram fasor sebagai berikut :
Gambar 8.14 Diagram fasor tegangan terminal generator
karena:
dimana:
E = tegangan induksi (EMF) dalam Volt
V = tegangan keluaran generator di beban dalam Volt
R = reistansi saluaran dalam Ohm
X = reaktansi induktif saluran dalam Ohm
I = arus beban dalam Ampere
174
maka:
P = daya aktif dalam Watt
Q = daya reaktif dalam VAr
dengan demikian:
dan
jika
maka:
Jadi dapat juga dituliskan bahwa
dengan demikian maka terlihat bahwa hubungan daya reaktif beban dengan tegangan keluaran
generator adalah:
maka
atau
atau
175
Jadi berdasarkan persamaan (8.15) tersebut maka maka dapat dilihat bahwa perubahan
tegangan keluaran generator tergantung pada perubahan daya reaktif beban. Tetapi dalam
operasi sistem yang andal tegangan generator harus dijaga pada range tegangan 0,9 1,0
1,05 pu, dimana untuk memenuhi hal tersebut maka dibutuhkan suatu pengendalian yang baik.
Persoalan pengendalian tegangan sebenarnya hanya terletak pada sisi pembangkitan tetapi
juga terletak pada seluruh bagian-bagian sistem tenaga listrik itu sendiri. Misalnya pada sisi
beban maupun pada saluran transmisi. Pengendalian yang digunakan pada bagian-bagian
sistem tersebut antara lain (Prabha Kundur, 1993):
a. Pemasangan kapasitor shunt (shunt capasitors), reaktor shunt (shunt reactors),
synchronous condenser / motor sinkron dan static var compensators (SVC).
b. Pemasangan line reactance compensators seperti kapasitor seri (series capasitors).
c. Pemasangan regulating transformers seperti tap-changing transformers.
Jadi pengendalian tegangan sistem tenaga listrik merupakan suatu persoalan yang sangat luas
sehingga kajian satu persatu terhadap berbagai pengendalian tersebut juga semakin luas. Oleh
karena itu pembahasan dalam diktat ini dibatasi hanya pada pengendalian daya reaktif melalui
kendali tegangan pada sisi pembangkitan saja.
Model Sistem AVR
Fungsi dari AVR adalah mempertahankan besaran tegangan terminal generator pada
tingkatan yang ditentukan. System AVR terdiri dari empat (4) komponen utama yaitu:
Amplifier, Exciter, Generator dan Sensor. Model matematika dan fungsi transfer dari ke
empat komponen tersebut diperlihatkan di bawah ini (Hadi Saadat, 1999).
Vref(s) Ve(s) VR(s) Vf(s) VTB(s)
Gambar 8.15 Diagram blok sistem AVR
176
Amplifier / Penguatan
Amplifier / penguatan dari sistem eksitasi merupakan penguatan magnetik, penguatan
putaran atau penguatan elektronik moderen. Amplifier / penguatan dinyatakan dengan
sebuah gain dengan simbol KAdan konstanta waktu (time constant) dengan simbol t
A
.
Fungsi transfernya adalah (Hadi Saadat, 1999):
Nilai konstanta waktu tA sangat kecil yaitu berkisar antara 0.02 sampai 0.1 detik.
Exciter / Eksitasi
Eksitasi yang umum digunakan dalam sebuah generator terdapat beberapa tipe mulai
yang menggunakan generator DC sampai yang tipe modern dengan menggunakan SCR
sebagai penyearah untuk menghasilkan daya AC.
Sebuah model yang layak dari eksitasi moderen adalah model yang linier, yang mana
diambil untuk menghitung konstanta waktu yang besar dan mengabaikan saturasi atau
non linier lainnya.
Dalam bentuk sederhana, fungsi transfer dari modern exciter dapat dipresentasekan
dengan sebuah konstanta waktu tunggal (a single time constant) E dan gain KE.
Dalam bentuk persamaan dituliskan(Hadi Saadat, 1999):
Generator
Tegangan terminal sebuah generator sangat tergantung pada bebannya. Dalam bentuk
linier (in the model linearized), hubungan fungsi transfer tegangan terminal generator
dengan tegangan medannya dapat dipresentasekan dengan sebuah gain K
G
dan sebuah
konstanta waktu t
G
sebagai berikut (Hadi Saadat, 1999):
177
Sensor
Tegangan yang dilewatkan pada sebuah transformator tegangan dan disearahkan
lewat sebuah bridge-rectifier. Sensor dimodelkan dengan sebuah fungsi transfer orde
pertama yang sederhana yang dituliskan dengan (Hadi Saadat, 1999) :
Beban
Beban dalam sistem tenaga terdiri atas berbagai peralatan elektrik. Beban kapasitif
yang terjadi seperti motor sangat mempengaruhi perubahan tegangan sistem. Beban
tersebut dinyatakan sebagai daya reaktif AQ yang terjadi, dalam bentuk persamaan:
Pengendalian OptimumDaya Reaktif
Pengendalian daya reaktif seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebenarnya telah dapat
dilakukan dengan baik oleh AVR. Namun kinerja AVR sebagai pengendali daya reaktif dapat
dioptimalkan dengan menggunakan pengendali tambahan untuk meningkatkan performansi dari
AVR itu sendiri. Pengendali modern saat ini sudah banyak digunakan dalam
mengoptimalkan kinerja AVR, salah satunya dengan menggunakan pengendaliPID
(Proporsional-Integrative-Derivative).
Setelah menambahkan pengendali PID maka blok diagram seperti yang ditunjukkan pada
gambar (8.15), akan berubah menjadi gambar (8.16) berikut ini :
ambar 8.16 Diagram blok sistem AVR dengan pengendali PID
178
Persoalannya adalah dengan pengendali PID, harus dapat menentukan nilai parameter yang
tepat agar dapat diperoleh pengendalian yang optimum. Parameter yang dimaksud adalah
konstanta proporsional (Kp), konstanta Integrative (Ki) dan konstanta derivative (KD), dimana
fungsi alih dari pengendali PID dapat dirumuskan sebagai berikut:
Nilai parameter tersebut di atas dapat ditentukan dengan menggunakan metode ke dua Ziegler-
Nichols (the second Ziegler-Nichols method) yang dituangkan dalam bentuk tabel berikut ini ;
Tabel 8.1 Ziegler-Nichols Tuning Rules based on Critical Gain ( K
cr
) and Critical
period (P
cr
) (second method)
Tipe Pengendali K
p
T
i
T
d
P 0.5 Kcr Tak Terhingga 0
PI 0.45 Kcr Pcr/1.2 0
PID 0.6 Kcr 0.5 Pcr 0.125 Pcr
Sumber, Ogata (1997) Hal. 673
Dengan demikian gambar (8.16), dapat disederhanakan dengan menjadi :
Gambar 8.17 Model transformasi laplace dari sistem AVR dengan pengendali PID
179
Model Simulasi AVR dengan Pengendali PID
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dengan penentuan konstanta PID yang
tepat maka akan diperoleh suatu pengendali AVR yang optimal. Oleh karena itu, dalam bahasan
ini akan ditampilkan contoh simulasi sistem AVR dengan pengendali PID
Pada contoh simulasi ini, digunakan parameter-parameter sebagai berikut:
Tabel 8.2 Parameter AVR generator yang disimulasikan
Gain Time Constant (Second)
K
A
= 1325 t
A
= 0.02
K
E
= 1 t
E
= 0.5
K
g
= 1 t
G
= 1
K
R
= 1 t
R
= 0.025
Sementara itu parameter PID yang digunakan adalah : Kp = 0,0161354, Ki= 0,01815 dan Kd
= 0,00359.
Gambar 8.18 Model simulink AVR tanpa pengendali PID
(Kp=0, Ki=0 dan KD=0)
180
Gambar 8.19 Model simulink AVR dengan pengendali PID
(Kp=0,0161354, Ki=0,01815 dan KD=0,00359)
Berdasarkan simulink seperti yang terlihat pada gambar (8.18) dan gambar (8.19), maka
diperoleh perbedaan hasil output tegangan terminal generator sebagai berikut :
Gambar 8.20 Sinyal tegangan generator dengan AVR tanpa PID
181
Gambar 8.21 Sinyal tegangan generator dengan AVR tanpa PID
Jadi dengan mengacu pada persamaan (8.10), bahwa dengan AVR maka besarnya daya
reaktif yang disuplai oleh generator ke beban dapat diatur sesuai dengan kebutuhan beban
tersebut. Dimana setiap kenaikan beban atau kenaikan daya reaktif akan menyebabkan
tegangan turun sehingga AVR secara otomatis akan menaikkan tegangan terminal generator
begitupun sebaliknya. Namun perubahan naik turunnya tegangan tersebut menyebabkan
terjadinya osilasi sebelum mencapai kondisi steady statenya. Untuk memperkecil periode
osilasi tersebut maka AVR perlu ditambahkan dengan suatu pengendali tambahan yaitu
pengendali PID untuk mengoptimumkan kinerja AVR tersebut.
8.4 PENGENDALIAN SISTEM TENAGA LISTRIK DENGAN FATCS
FACTS merupakan perangkat kontrol elektronik terpadu yang mengontrol varibel-variabel
saluran transmisi seperti impedansi saluran, tegangan sistem dan sudut tegangan secara cepat
dan efektif. Dengan demikian FACTS juga sangat berperan untuk menjaga operasi sistem
tenaga listrik yang optimal.
Peralatan FACTS itu sendiri, terdiri atas beberapa tipe yang dapat bekerja pada keadaan
transien (transient state) atau pada keadaan mantap (steady state). Adapun jenis-jenis FACTS
antara lain :
182
Thyristor Controlled Series Capacitor (TCSC)
TCSC berfungsi untuk mengontrol parameter saluran berupa reaktansi saluran. Sehingga
dapat menjadi kompensasi kapasitif atau induktif dengan memodifikasi reaktansi saluran.
Gambar 8.22 TCSC : (a) Pasangan pada saluran, (b) Model matematis
Tingkatan nilai TCSC adalah fungsi reaktansi saluran transmisi dimana TCSC tersebut
dipasang, yaitu ;
sedangkan reaktansi TCSC, sebesar :
dengan :
X
line
: reaktansi saluran (Ohm)
X
ij
: reaktansi antara bus i dan j (Ohm)
rtsc : koefisien sudut kompensasi TCSC sebesar -0,7 (minimum) dan 0,2
(maksimum) yang merupakan batas bawah dan batas atas TCSC untuk
menghindari kompensasi yang berlebihan.
Sementara itu menurut database Siemen AG[Zimmermann, 1997], fungsi biaya peralatan
TCSC dapat dirumuskan menjadi :
dengan :
cTCSC : biaya peralatan TCSC (US$/kVAr)
q : daerah operasi peralatan TCSC (MVAr)
183
Thyristor Controlled Phase Shifting Transformer (TCPST)
TCSPT berfungsi untuk mengatur sudut tegangan antara sisi pengiriman dan sisi penerima
pada saluran transmisi. TCPST dimodelkan sebagai kompensasi seri tegangan, seperti
yang terlihat pada gambar berikut ini :
Gambar 8.23 TCSPT : (a) Pemasangan pada saluran, (b) Model matematis
Range kerja dari TCSPT antara sudut -5
0
sampai +5
0
, dimana besarnya arus yang
diinjeksikan pada bus i dan j sebesar :
dengan :
I
is
: arus yang diinjeksikan pada bus i (Ampere)
I
js
: arus yang diinjeksikan pada bus j (Ampere)
U
TCPST
: kompensasi tegangan TCPST (kV)
Z
ij
: impedansi saluran antara bus i dan bus j (Ohm)
Fungsi biaya peralatan TCPST, dirumuskan sebagai berikut :
dengan :
C
TCPST
: biaya peralatan TCPST (US$/kVAr)
d : konstanta biaya capital
P
maks
: batas daya penyaluran maksimum (MW)
184
IC : biaya instalasi TCPST (US$)
Unified Power Flow Controller (UPFC)
UPFC merupakan peralatan FACTS yang paling efektif karena dapat mengatur beberapa
variabel sistem secara terpadu yaitu impedansi saluran, tegangan terminal dan sudut
tegangan.
Gambar 8.24 UPFC : (a) Pemasangan pada saluran, (b) Model matematis
Range kerja dari TCSPT antara sudut -180
0
sampai +180
0
, dimana besarnya arus yang
diinjeksikan pada bus i dan j sebesar :
dengan :
I
is
: arus yang diinjeksikan pada bus i (Ampere)
I
js
: arus yang diinjeksikan pada bus j (Ampere)
U
UPFC
: kompensasi tegangan UPFC (kV)
Z
ij
: impedansi saluran antara bus i dan bus j (Ohm)
Fungsi biaya peralatan UPFC, dirumuskan sebagai berikut :
dengan :
C
UPFC
: biaya peralatan UPFC (US$/kVAr)
q : daerah operasi peralatan UPFC (MVAr)
185
Static Var Compensator (SVC)
Peralatan ini dapat dioperasikan pada kompensasi induktif maupun kompensasi kapasitif.
Range kerja dari SVC yaitu dari -100 MVAr sampai +100 MVAr.
Gambar 8.25 SVC : (a) Pemasangan pada saluran, (b) Model matematis
Besarnya injeksi daya reaktif pada bus i adalah sebesar ;
Q
is
= Q
SVC
(8.32)
dengan :
Q
is
: daya yang dinjeksikan pada bus I (MVAr)
Q
SVC
: daya kompensasi peralatan SVC (MVAr)
Sementara itu fungsi biaya peralatan SVC dirumuskan sebagai berikut:
CSVC = 0,0003 q
2
0,301 q + 127,38 (8.33)
dengan :
C
SVC
: biaya peralatan SVC (US$/kVAr)
q : daerah operasi peralatan UPFC (MVAr)
Pada analsis lebih lanjut, penempatan peralatan FACTS yang optimal pada sistem tenaga
listrik dapat dilakukan dengan menggunakan metode optimasi seperti Algoritma Genetika
(Genetic Algorithm).
186
BAB IX
OPTIMASI SISTEMTENAGA LISTRIK
9.1 PENDAHULUAN
Mengelola operasi pernbagian beban pembangkit dalam suatu operasi sistem tenaga listrik
merupakan hal yang sangat penting. Apalagi bilamana sistem itu terdiri dari berbagai jenis
pmbangkit, seperti Pusat Listrik tenaga air (PLTA), Pusat Tenaga Listrik Uap (PLTU) Pusat
Tenaga Listrik Diesel (PLTD), Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG). Pada hakekatnya jenis-jenis
pembangkit ini dapat dibagi kedalam sub sistem hidro (kelompok PLTA) dan subsistem termis
(kelompok pusat listrik tenaga termis).
Mengoperasikan suatu sistem tenaga listrik yang terdiri dari beberapa pusat pembangkit
listrik, diperlukan suatu koordinasi di dalam penjadualan pembebanan besar daya listrik yang
dibangkitkan masing-masing pusat pembangkit listrik, sehingga diperoleh biaya pembangkit
yang minimum. Sistem tenaga listrik yang terdiri dari pusat-pusat listrik tenaga air dan pusat
listrik tenaga thermal, telah diketahui bahwa biaya operasi PLTA jauh lebih kecil dari biaya
operasi pembangkit listrik tenaga thermal untuk menghasilkan daya yang sama.
Masalah pada operasi sistem tenaga listrik seperti di atas adalah dalam melayani beban
listrik yang tertentu besarnya dan dalam selang waktu tertentu. Yang menjadi permasalahan
adalah bilamana terjadi interkoneksi antar subsistem hidro dan subsistem termis. Banyak
pertanyaan yang akan dimunculkan dimana salah satunya adalah bagaimana membebani
pembangkit hidro dan pembangkit termis agar didapatkan suatu pembebanan yang optimal
atau yang dikenal dengan lebih ekonomis.
Hal ini berarti dalam pembangkitan dan penyaluran energi itu harus dilakukan secara
ekonomis dan rasional. Terdapat dua pokok permasalahan yang harus dipecahkan dalam
operasi ekonomis pembangkitan pada system tenaga listrik yaitu:
1. Pengaturan Unit Pembangkit (Unit Commitment)
Penanganan biaya operasi pembangkit tenaga listrik bisa diminimalkan dengan cara
mencari kombinasi yang tepat dari unit pembangkit yang ada. Hal ini dikenal dengan
pengaturan unit (Unit Commitment). dengan membuat skema urutan prioritas, yaitu
187
merupakan metode pengoperasian unit pembangkit berdasarkan total biaya rata-rata bahan
bakar yang paling murah.
2. Penjadwalan Ekonomis (Economic Dispatch)
Penjadwalan ekonomis (economic dispatch) adalah suatu usaha untuk menentukan besar
daya yang harus di supplai dari tiap unit generator untuk memenuhi beban tertentu dengan
tujuan meminimumkan biaya operasi pembangkitan.
Berbagai metode dikembangkan untuk memecahkan persoalan optimasi pembebanan
pembangkit. Diantaranya adalah metode Linear Programming, metode La Grange Multiplier,
metode Gradien yang dapat digabungkan dengan metode dynamic programing dan masih
banyak gabungan metode lain yang dikembangkan oleh para pakar dalam bidang kelistrikan.
Pada bahasan ini dibahas berberapa metode optimasi sebagai berikut.
9.2 OPTIMASI SISTEM TENAGA LISTRIK METODE LINEAR PROGRAMMING
Sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan secara optimal dan permasalahannya
membutuhkan cara yang lebih baik dalam:
- Pemecahannya
- Teknik-teknik operation research
- Model-model pemrograman optimal
- Metode-metode pemrograman optimal
Sejak revolusi industri, dunia teknologi mengalami perubahan dan perkembangan yang
sangat pesat dengan perkembangan industri, maka timbul masalah-masalah yang cukup rumit,
yang membutuhkan pemecahan yang tidak mudah. Disini para teknokrat mencari/mengadakan
studi riset operasi (operation research, model-model pemrograman optimal dalam
menyelesaikan masalah yang timbul dan kompleksitas serta spesialisasi dalam
mengalokasikan sumber daya.
Defenition Operation Research
1. Morse & Kimball dalam bukunya Method Operation Research adalah suatu metode
ilmiah yang memungkinkan para manajer mengambil keputusan mengenai kegiatan yang
mereka tangani dengan dasar kuantitatif.
2. Churghman & Arkoff, dalam bukunya Introduction Operation Research (OR) sebagai
aplikasi metode-metode, teknik-teknik dan peralatan ilmiah dalam menghadapi masalah
188
yang timbul dalam operasi perusahaan dengan tujuan ditemukannya pemecahan yang
optimum.
3. Miller & MK.Stam; Executive Decisions & Operation Research sebagai peralatan
manajemen yang menyatukan ilmu pengetahuan matematika dan logika dalam kerangka
pemecahan masalah-masalah, dipecahkan secara optimal.
Dari ke tiga defenisi dapat disimpulkan bahwa: Operation Research (OR) berkenaan dengan
pengambilan keputusan optimal, optimal dalam teknik ekonomi. Dalam pengalokasian sumber
daya dengan menggunakan model-model pemrograman optimal seperti Linear Programming
(L.P.)
9.2.1 Pemrograman Linear
Dalam pemrograman Linear dimulai dengan teknik pemrograman yang meliputi:
Metode grafik
Metode simplex
Metode dualitas
Dalam kuliah ini dititik beratkan pada:
- Metode simplex dan
- Metode dualitas
Keduanya saling berkaitan karena:
Karena pemrograman linear simplex memberikan persamaan yang lebih dari tiga
variabel sistem pembangkitan variabel.
Biaya pembangkitan tiap pembangkit
Besar daya yang dibangkitkan tiap pembangkit
Jadi ini berkaitan dengan teori umum pemrograman linear, dimana Pemrograman linear
merupakan model umum yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah,
pengalokasian/penjadualan sumber pembangkit secara optimal.
9.2.2 Optimasi Biaya
Optimasi biaya dapat didefenisikan sebagai suatu proses menemukan kondisi yang
memberikan nilai maksimum atau minimum suatu fungsi.
189
Gambar.9.1 Optimasi Biaya
Karena maksimum suatu fungsi dapat diperoleh dengan menentukan dari negative fungsi
tersebut, sehingga optimasi dapat diartikan sebagai minimisasi. Jadi optimasi biaya sama
dengan minimisasi biaya.
Optimisasi:
1. Optimisasi multivariabel tanpa kendala (constrained)
2. Optimisasi multivariabel dengan kendala
9.2.3 Model Pemrograman Linear
Perhatikan aplikasi optimisasi pada sistem hibrid dengan load duration curve. Model
matematik perumusan masalah pengaplikasian sumber daya untuk berbagai kegiatan disebut
pemrograman linear. Dalam pemecahan masalah ada dua macam fungsi:
1. Fungsi kendala Fungsi tujuan (objective function) adalah fungsi yang menggambarkan
tujuan/sasaran di dalam permasalahan pemrograman linear dengan pengaturan secara
optimal sumber daya, untuk memperoleh keuntungan maksimal atau biaya minimal.
2. Fungsi kendala (constrained function) adalah fungsi batasan merupakan bentuk
penyajian secara matematis batasan-batasan (kendala-kendala) kapasitas yang tersedia
yang akan dialokasikan secara optimal sebagai kegiatan.
190
Untuk mempermudah pembahasan PLdigunakan simbol-simbol sebagai berikut:
m = macam batasan sumber daya atau fasilitas yang tersedia.
n = macam kegiatan-kegiatan yang menggunakan sumber daya.
i = nomor setiap macam sumber atau fasilitas yang tersedia (i = 1.2.3m)
j = nomor setiap macam kegiatan yang mengunakan sumber daya fasilitas yang tersedia
; (j = 1,2,n).
Xj = kapasitas daya yang harus dibangkitkan oleh pembangkit daya (j = 1,2,n).
Aij = banyaknya sumber (eleven-elemen masukan) koefisien yang diperlukan untuk
menghasilkan setiap unit keluaran (output) kegiatan i (1= 1,2,m dan j =
1,2,,n).
Bi = banyaknya sumber yang tersedia / beban yang dialokasikan.
Cj = biaya pembangkitan (USD Cent/kWh)
Fungsi Tujuan
Fungsi Kendala
191
9.3 OPTIMASI SISTEM TENAGA LISTRIK METODE PROGRAMDINAMIS
9.3.1 Perkembangan Pemrograman Dinamis
Pada persoalan praktis aplikasi pemrograman dinamis pengambilan kondisi berbeda dalam
waktu, kondisi berbeda dalam ruang dan pada tingkat-tingkat (level) yang berbeda. Katakan,
untuk sebuah komponen, untuk sebuah system atau sebuah sub system. Persoalan yang
padanya dibuatkan keputusan secara berurutan disebut persoalan-persoalan dengan keputusan
berturutan. Karena keputusan- keputusan ini dibuat dalam sejumlah tahap, mereka
persoalannya juga dikatakan persoalan dengan keputusan bertahap banyak.
Sejalan dengan pendapat di atas menyatakan, pemrograman dinamis adalah suatu
pendekatan optimalisasi yang mengalihkan sebuah persoalan yang kompleks ke dalam
sederetan persoalan-persoalan yang lebih sederhana yang mempunyai karakteristik utama
sebagai tahapan prosedur-prosedur optimalisasi.
Selanjutnya membahas mengenai pemrograman dinamis seperti yang dipaparkan pada
paragraph- paragraph berikut ini:
Pemrograman dinamis adalah sebuah teknik matematik yang sangat sesuai untuk
optimalisasi dari persoalan- persoalan dengan keputusan bertahap banyak. Teknik ini dibuat
oleh Richard Bellman pada awal tahun 1950-an.
Teknik pemrograman dinamis bila diterapkan, memperlihatkan atau menguraikan sebuah
persoalan keputusan tahap banyak sebagai sebuah deretan dari persoalan- persoalan dengan
penyelesaian bertahap tunggal. Jadi sebuah persoalan dengan N-variabel digambarkan sebagai
sebuah deretan dari N buah persoalan tunggal yang diselesaikan secara berturut-turut.
Pada kebanyakan persoalan, N buah sub-persoalan ini lebih mudah diselesaikan dari
program asalnya. Penguraian menjadi N buah sub-persoalan adalah dengan tujuan untuk
mendapatkan penyelesaian optimal suatu persoalan asal menggunakan penyelesaian secara
optimal dari sub-sub persoalan.
Adalah penting untuk dicatat bahwa hanya satu teknik optimalisasi tertentu yang
digunakan untuk optimasi persoalan-tunggal tidak selamanya relevan. Boleh jadi
pemecahannya bervariasi dari proses berturutan sederhana sampai kalkulus diferensial atau
sebuah teknik pemrograman non linear.
Persoalan dengan keputusan tahap banyak dapat juga diselesaikan dengan aplikasi
langsung dari optimalisasi klasik. Akan tetapi, hal ini membutuhkan jumlah variabel yang
192
kecil, fungsi-fungsi yang terlibat menjadi kontiniu dan dapat diturunkan (differentiable) secara
kontiniu dan titik-titik optimum tidak berada pada titik batas (boundary).
Lebih jauh, persoalan harus relatif sederhana sehingga set dari persamaan-persamaan
resultant dapat diselesaikan apakah secara analisis atau numerik. Teknik-teknik pemrograman
non linear dapat digunakan untuk menyelesaikan secara lebih mudah persoalan- persoalan
dengan keputusan bertahap yang ruwet (complicated). Tetapi aplikasi-aplikasi membutuhkan
variabel-variabel yang kontiniu dan sebuah pengetahuan awal mengenai daerah maksimum dan
minimum global. Pada keseluruhan kasus ini, pemakaian dari variabel-variabel stochastic
membuat persoalan menjadi sangat kompleks dan bertele-tele. Persoalan ini tidak dapat
diselesaikan kecuali dengan menggunakan beberapa pendekatan seperti optimisasi bersyarat
kesempatan (change constained optimization).
Pemrograman Dinamis, pada sisi lain dapat berkesesuaian dengan variabel-variabel diskrit,
tidak cembung (non convex) dan fungsi-fungsi yang tidak dapat diturunkan (non
differentiable). Secara umum, pemrograman ini dapat memasuki sejumlah variabel stokastik
dengan modifikasi sederhana dari prosedur deterministic. Pemrograman dinamis menderita
(mengalami) kekurangan dari apa yang disebut sebuah major drawback, dikenal dengan curse
of dimensionality. Akan tetapi, karena kekurangan ini dia cocok untuk penyelesaian yang
mempunyai wilayah luas dari persoalan-persoalan rumit (complex) pada beberapa hal
pembuatan keputusan.
Beberapa penyelesaian pemrograman dinamis memakai metode graf maupun digraf. Graf
adalah himpunan berhingga titik-titik V yang diszebut Vertex dan garis-garis penghubungnya
E yang disebut rusuk. Sementara digraf adalah suatu graf yang setiap rusuknya mempunyai
arah dari titik awal (i) ke titik akhir (j).
Sementara Wood (1984), menyatakan bahwa pemrograman dinamis mempunyai
keunggulan melalui bentuk skema barisan, yang mana akan memperkecil dimensi dari
persoalan-persoalan. Juga dikatakan oleh Wood, andaikan terdapat empat unit dari system
pembangkitan akan memungkinkan terjadi: 2
4
- 1 - 15, kombinasi dari system pembangkitan
tersebut. Dalam pemakaian pemrograman dinamis pada pembangkitan, terdapat kemungkinan
subyektif untuk menentukan prioritas mana yang akan diambil sebagai urutan-urutan
penyalaan pembangkit.
193
9.3.2 Penyelesaian Penjadualan Pembangkitan dengan Pemrograman Dinamis.
Terdapat komitmen yang berlaku untuk penjadualan pembangkitan, yaitu:
Tidak ada biaya pembangkitan yang nol
Karakteristik input-output linear mulai dari beban nol sampai dengan beban penuh
Tidak ada pembatasan lain
Biaya awal (pemanasan) dianggap konstan.
Selain itu, dalam penyelesaian menggunakan pemrograman dinamis berikut terdapat
asumsi-asumsi:
Adanya sebuah keadaan, di mana system terdiri dari deretan (matrix) unit pembangkit
dengan karakteristik khusus sedang beroperasi dan lainnya berada di luar system
tersebut dan siap masuk ke dalam system.
Biaya pembangkitan awal (pemanas) dari tiap unit adalah tidak terikat waktu dan dia
tidak masuk dalam kurva input-output terpakai.
Tidak terdapat biaya dalam memutuskan pembangkit keluar dari system.
Terdapat instruksi yang ketat mengenai prioritas dan pada setiap interval sejumlah
kapasitas minimum yang harus dioperasikan.
9.3.3 Pendekatan Pemrograman Dinamis Mundur ke belakang (backward).
Awal dari pendekatan pemrograman dinamis adalah dengan menggunakan pendekatan
mundur ke belakang (backward) dalam waktu, yang mana penyelesaian mulai dari interval
terakhir dan berjalan mundur menuju titik awal. Terdapat penentuan sebanyak M interval pada
periode ini. Persamaan pemrograman dinamis untuk penghitungan biaya bahan bakar total
yang minimum dalam sebuah rentang waktu, diberikan oleh persamaan berikut:
dimana:
F
cost
( K,I) = biaya bahan bakar total minimum dari keadaan I dimana dalam
P
cost
( K,I) =
interval K sampai akhir dari interval M
biaya pembangkitan minimum dalam penyuplaian beban selama
interval K pada keadaan I
194
S
cost
(I,K: J, K +1 ) = kenaikan (incremental) biaya pemanasan dari keadaan I pada
interval ke K sampai keadaan J di dalaminterval ke (K+1).
(J) = set dari keadaan keadaan yang mungkin di dalam interval K+1.
Biaya produksi P
cost
(K+1)diperoleh melalui pembebanan ekonomis unit-unit
terpasang pada keadaan I.
Sebuah jalur (path) adalah sebuah penjadualan dimulai dari sebuah keadaan pada interval
ke akhir interval M.
Sebuah kalor optimal (optimal path) adalah sebuah jalur biaya yang mana total biaya
beban adalah minimum.
Persamaan (9.3) memperlihatkan dengan memberikan jalur jalur optimal mulai dari
semua keadaan individual di dalam interval ke (K+1), jalur optimal mulai dari tiap keadaan di
dalam interval ke K dapat diperoleh. Ini adalah sebuah keuntungan dari metode pemrograman
dinamis. Prosedur untuk menentukan penjadualan optimal dan biaya bahan bakar total
minimum diperlihatkan oleh flowchart pada gambar 9.2.
9.3.4 Pendekatan Pemrograman Dinamis dengan Langkah Maju
Pendekatan langkah mundur yang dibahas sebelumnya, tidak mengatasi banyak situasi
praktis, misalnya: bila biaya pemanasan awal tidak merupakan fungsi dari waktu dan berada di
luar system (off line). Pada pendekatan langkah maju mungkin lebih cocok untuk dipakai bila
keadaan praktis diperhatikan, seperti keadaan sebelum penjadualan dapat diperhitungkan pada
setiap keadaan (stage). Hal ini dapat dilihat pada flowchart pada gambar 9.2
195
Gambar 9.2 Flowchart Penyelesaian Metode Pemrograman Dinamis dengan Metode
Langkah Mundur
196
Gambar 9.3 Flowchart Penyelesaian Metode Pemrograman Dinamis dengan Metode
Langkah Maju
197
Hal tersebut, termasuk hal-hal lain, menjadi alasan praktis lain untuk memilih metode
langkah maju. Algoritma rekursi yang dipakai untuk menghitung biaya minimum dalam jam K
pada kombinasi I adalah:
dimana:
F
cost
(K , I) = biaya total terkecil untuk mencapai keadaan (K,I)
P
cost
(K,I) = biaya produksi untuk keadaan (K,I)
S
cost
(K : 1, L : K,1) = biaya transisi dari keadaan (K-1,L) ke keadaan (K,1) dimana
keadaan (K,I) adalah kombinasi ke I dalam jam
Dalam pendekatan Pemrograman Dinamis Langkah Maju, didefenisikan sebuah strategi
mengenai transisi atau jalur, dari satu keadaan pada jam yang diberikan ke keadaan lain pada
jam berikut.
Tercatat di sini ada dua variabel baru : X dan N seperti yang diperlihatkan pada gambar 9. 2.
X = banyaknya keadaan untuk meninjau tiap periode
N = banyaknya strategi atau jalur untuk menyelamatkan pada tiap langkah.
Variabel-variabel ini mengendalikan usaha perhitungan (lihat gambar 3). Untuk
penderetan secara lengkap, nilai maximum dari X atau N adalah 2
n
- 1.
Sebagai contoh, dengan penjadualan ketat dari daftar yang diinstruksikan, batas dari X
adalah n, sebesar banyaknya unit pembangkit. Mengurangi jumlah n berarti membuang jadual
dengan biaya tertinggi pada tiap-tiap interval waktu dan hanya menggunakan jalur atau
strategi N terendah. Tidak ada jaminan bahwa jadual teoritis akan diperoleh dengan
mengurangi jumlah dari strategi dan rentang penyelidikan (nilai X): hanya pengharapan
dengan sebuah program khusus akan mengindifikasikan potensial sehubungan dengan
pembatasan nilai X dan Ndi bawah batas atas mereka.
198
Gambar 9.4. Jalur-jalur Pembatas pada Algoritma PD dengan N=3 dan X=5
Gambar 9.5. (a) Kurva Biaya Penaikan Step Tunggal
(b) Kurva Biaya Penaikan Step Berganda
199
Contoh Soal 9.1 :
Pada contoh ini, tentang penyelidikan lengkap akan digunakan dan tiga kasus akan
dipelajari. Pertama adalah sebuah penjualan list-prioritas, kedua menggunakan contoh yang
sama dengan deretan yang lengkap. Masing-masing dari ke dua kasus pertama tersebut
mengabaikan biaya start pemanasan sebagaimana juga waktu minimum pelepasan dan
penggabungan. Kasus ke tiga memasukkan biaya pemanasan awal begitu pula waktu
penggabungan dan pelepasan pembangkit. Empat unit pembangkit disetujui untuk melayani
sebuah pola pembebanan 8 jam. Data dari unit-unit dan pola pembebanan terlihat pada tabel
9.1 berikut.
Tabel 9.1. Karakteristik Unit, Pola Beban dan Status Awal untuk kasus pada contoh 9.1
Unit Max
(MW)
(MW)
(MW)
Incremental
Heat rate
(Btu/kWh)
No-
load*
Cost
(R/h)
Full load
Ave cost
(R/mWh)
Minimum
Times (h)
Initialcon-
Ditions
Hours off-
line (-) or
on-line (+)
Up Dow
n
1 80 25 10,440 213,00 2354 4 2 -5
2 250 60 9,000 585,62 20,30 5 3 8
3 300 75 8,730 684,74 19,74 5 4 8
4 60 20 11,900 252,00 28,00 1 1 -6
Dalam usaha untuk membuat perhitungan yang dikehendaki lebih efisien, sebuah model
dari karakteristik unit digunakan. Pada aplikasi praktis, dua atau tiga bagian kurva penaikan
200
bertahap dapat digunakan, seperti terlihat pada gambar 9.5. Untuk contoh yang diberikan,
hanya satu step tunggal antara titik-titik daya minimum dan maksimum yang digunakan. Untuk
contoh ini, biaya pemanasan awal untuk dua kasus pertama diambil sebagai biaya start dingin.
Prioritas yang diperintahkan adalah: unit 3, unit 2, unit 1, unit 4. Untuk dua kasus
pertama waktu minimumgabung dan lepas diambil 1 jam untuk tiap-tiap unit.
Pada ke tiga kasus dipakai patokan kapasitas yang diintruksikan terhadap setiap unit. Ini
terlihat pada tabel 2, di mana kombinasi unit atau keadaan-keadaan diinstruksikan sebagai
maksimum kapasitas bersih dari tiap kombinasi.
Tabel 9.2. Kapasitas Yang Ditetapkan Untuk Tiap Unit
Catatan :
1 = unit beroperasi; 0 = unit tidak beroperasi
Kasus 1.
Pada Kasus 1 unit- unit beroperasi sesuai perintah prioritas. Yang artnya, unit-unit
beroperasi beroperasi sampai beban terpenuhi. Biaya total dari interval adalah jumlah dari
delapan biaya pembebanan ditambah dengan biaya transisi untuk starting tiap unit-unit.
Dalam kasus awal, sebuah pembebanan maksimum sebanyak 24 harus ditentukan. Untuk
kasus 1 keadaan-keadaan yang diperhatikan terdiri dari:
201
Jadi terlihat di sini, prioritas untuk:
keadaan 5 = unit 3; keadaan 12 = unit 3+2; keadaan 14 = unit 3 +2 +1 dan
keadaan 15 = unit 3 + 2 +1 +4.
Untuk 4 jam pertama hanya tiga keadaan terakhir yang diharapkan, perhitungan-
perhitungan contoh menggambarkan keteknikan. Seluruh komitmen yang mungkin mulai pada
keadaan 12 karena ini diberikan sebagai kondisi awal. Untuk jam ke-1 biaya minimum adalah
keadaan 12 dan seterusnya. Hasil-hasil untuk prioritas yang dikehendaki adalah sebagai
berikut:
Catatan : keadaan 13 tidak tercapai di dalam instruksi prioritas.
Contoh perhitungan untuk kasus 1.
Keadaan yang diperbolehkan adalah:
{} = {0010,0110,1110,1111} = {5,12,14,15}
Pada jam 0{L} ={12}, kondisi awal
202
J=1; jam pertama
K
15
J = 2; jam ke dua
Keadaan yang adalah: { 12,14,15} = {K}
Jadi X = 3
Anggap dua strategi diberlakukan pada tiap-tiap tahap, sehingga:
N = 2 dan
{L} = {12,14}
Kasus 2.
Pada Kasus 2 deretan lengkap dicoba dengan batas 24 -1 = 15, pembebanan tiap tiap 8
jam. Sedemikian sehingga terjadi kemungkinan maksimum terbesar : 15
8
= 2,56* 10
9
Untungnya, sebagian besar darinya tidak layak, karena mereka tidak dapat mensuplai
kapasitas yang cukup dan dapat dibuang dengan sedikit pertolongan analisis.
203
Gambar 9.6 memperlihatkan proses perhitungan untuk 4 jam pertama bagi kasus 2 pada
penggambaran tersebut, lingkaran-lingkaran menunjukkan keadaan tiap jam. Angka-angka di
dalam lingkaran adalah penunjuk. Dengan demikian, mereka menunjukkan nomor keadaan
pada jam sebelumnya yang menyediakan jalur pada keadaan khusus dalam jang sedang
berjalan. Sebagai contoh, pada jam ke 2, biaya minimum untuk keadaan 12,13,14 dan 15
semua hasilnya diperoleh dari transisi dari keadaan di dalam jam ke 1.
Biaya-biaya yang ditunjukkan pada titik hubung adalah biaya-biaya pemanasan. Pada tiap
keadaan, gambar-gambar yang terlihat adalah biaya per jam/total cost.
Gambar 9.6 Penggambaran kasus 1 dan 2 (4 jam pertama)
Sementara gambar 9.7 memperlihatkan penyelesaian lengkap untuk kasus 1 dan 2
204
Gambar 9.7 Penyelesaian lengkap untuk kasus 1 dan 2
Pada kasus 2 komitmen optimal yang tepat diperoleh. Hal itu adalah, lebih kecil
pengeluaran untuk menyalakan unit dengan kapasitas yang kurang efisien, nomor 4, untuk jam
ke 3 dibandingkan dengan men-start unit 1 yang lebih efisien untuk periode tersebut. Pada jam
ke 3 perbedaan total biaya adalah R 165 atau R 0,104 /MWh. Ini bukan jumlah yang tidak
signifikan bila dibandingkan dengan biaya bahan bakar per MWh untuk rata-rata unit thermal
dengan heat rate netto 10.000Btu/kWh dan sebuah pembiayaan R 2,00 Mbtu. Penghematan
sebesar R 165 setiap 3 jam adalah sama dengan R 481.000 per tahun.
Total 8 jam pembangkitan untuk kasus 2 dan 2 terlihat pada gambar 6 di atas. Pengabaian
penetapan penyalaan dan pemutusan pada kasus-kasus ini mengizinkan untuk melepaskan
semua unit kecuali unit 3 pada jam ke 6 dan ke 7. Perbedaan satu-satunya pada dua perjalanan
pembangkitan terjadi pada jam ke 3 sebagaimana yang telah dibahas pada paragraph
sebelumnya.
205
Kasus 3.
Pada Kasus 3. ini data asli dari unit-unit dipakai, yang mana waktu-waktu penyalaan dan
pemutusan ikut diteliti. Algoritma pemrograman dinamis dengan langkah maju diulangi untuk
periode 8 jam yang sama. Penderetan lengkap digunakan. Dengan demikian, batas atas dari X
yang terlihat pada flowchart adalah 15, tiga nilai berbeda untuk N, jumlah strategi dikenakan
pada tiap tahap, diambil pada 4,8,10. Perjalanan (trajectory) pembangkitan yang sama terlihat
pada gambar 7. Akan tetapi, bila hanya empat strategi dipakai, prosedur akan gagal (dengan kata
lain gagal untuk mendapatkan jalur yang mungkin ) dalam jam ke 8, sebab strategi
dengan biaya terendah pada jam ke 7 telah melepaskan unit-unit yang tidak dapat di-start
ulang pada jam ke 8 disebabkan karena aturan pelepasan minimum yang berlaku.
Penanggulangan praktis untuk ketidak-efisienan ini dalam metode yang terlihat pada
flowchart gambar 2 (dengan langkah maju) adalah kembali ke periode sebelumnya yaitu pada
jam-jam dengan beban rendah dan kadang-kadang mengambil lebih (walaupun dengan biaya
yang lebih banyak) banyak strategi. Ini berarti pembebasan untuk mengambil sejumlah strategi
pada tiap-tiap tahap.
Alternatif lain adalah, tentu saja metode yang digunakan adalah menjalankan semua
periode dengan lebih banyak strategi yang dikenakan
Gambar 9.8 Hasil Kasus 3
206
Selanjutnya kesimpulan yang diperoleh untuk kasus 1-3 diperlihatkan pada tabel berikut
yang mana tabel tersebut memperlihatkan pemakaian metode pemrograman dinamis untuk tiga
buah kasus dan juga memasukkan penyelesaian praktek pada metode ini.
Tabel 9.3. Kesimpulan dari kasus 1-3
9.4 OPTIMASI SISTEM TENAGA LISTRIK METODE MERIT ORDER
Djiteng (1990) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pembebanan merit order ( merit
loading ) adalah pembebanan yang dilakukan berdasarkan urutan dari unit pembangkit yang
mempunyai biaya pembangkit termurah disusul dengan unit yang mempunyai biaya
pembangkit lebih mahal. Selanjutnya Djiteng menguraikan hirarki biaya pembangkit dimulai
dari yang termurah sampai dengan yang lebih mahal. Dimulai dengan PLTA yang hanya
tergantungn pada adanya air. Namun salah satu kekurangan dari PLTA adalah masalah
kavitasi, sehingga pembebanan harus memperhitungkan secara cermat ketersediaan air
apalagi bila musim kemarau telah tiba. Oleh sebab itu disarankan untuk membebani PLTA
dengan beban minimum (pada saat air surut maksimal) selanjutnya pembebanan yang
disarankan berada pada range 30% - 90 % beban nominal.
207
Gambar 9.9 Grafik pemakaian air sebagai fungsi beban dari unit PLTA
Urutan kedua ditempati oleh PLTU batubara kemudian PLTU memakai bahan bakar
minyak residu yang mempunyai sistem pemanasan kembali (reheat sistem) dan disusul dengan
PLTU memakai bahan bakar residu minyak yang tidak memakai sistem reheat. Dalam praktek
unit PLTU kebanyakan tidak mungkin diberhentikan selama satu atau dua jam untuk
kemudian dioperasikan kembali dengan kondisi api ketel uap mati sama sekali. Hal ini akan
menggeser grafik biaya bahan bakar/jam sebagai fungsi beban.
Tentu saja merit loading ini berubah apabila struktur harga bahan bakar berubah misalnya
apabila ada PLTG yang karena sesuatu fleksibiltas penempatannya dapat menggunakan gas
alam yang murah maka kedudukan PLTG ini dapat menukar kedudukan PLTU bahan bakar
minyak non reheat dalammerit loading.
Berikut diberikan contoh pemakaian merit loading untuk PLTA, PLTU, PLTD dan PLTG
(Djiteng, 1990):
208
Catatan :
Gambar 9.10 Biaya bahan bakar per jam sebagai fungsi beban sistem
1. PLTA minimum 500 MW
2. PLTU batubara 800 MWRp24 Juta/jam
3. PLTU minyak residu denga reheat : 400 MW, Rp 24 Juta/jam
4. PLTU minyak residu tanpa reheat : 200 MW, Rp 14 Juta/jam
5. PLTG minyak HSD : 300 MW, Rp 36 Juta/jam
Gambar disusun atas dasar asumsi unit-unit pembangkit yang tersedia untuk operasi
mempunyai data sebagai berikut :
a. PLTA minimum harus berbeban 500 MW, hal ini disyaratkan untuk keperluan irigasi
dan untuk mengatasi masalah kavitasi
b. Titik A pada gambar didapat berdasar a tersebut diatas
c. PLTU dengan batubara mempunyai kemampuan 800 MW, ini dipakai untuk
menentukan letak titik B, yang jaraknya dari titik A = 800 MW
209
t1
(jam)
Beban (MW)
F (FT)
(Rp. 10
6
/jam)
dF(PT) / dPT
(Rp/kWH)
00
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
1400
1380
1350
1380
1420
1600
1500
1100
2500
1700
1800
1750
1600
1700
1750
1700
1650
1500
1850
2100
2000
1900
1800
1600
1500
32
30
28
30
33
43
36
18
36
49
56
53
43
49
53
49
45
36
62
88
75
63
56
43
36
60
60
60
60
60
60
60
30
60
60
70
70
60
60
70
60
60
60
70
120
120
70
70
60
60
d. PLTU yang menggunakan bahan bakar minyak residu dan menggunakan reheat sistem
mempunyai kemampuan 400 MW, sehingga titik B
1
ke titik C
1
= 400 MW.
e. PLTU yang menggunakan bahan bakar minyak residu tetapi tidak menggunakan reheat
sistem mempunyai kemampuan 200 MW sehingga arah titik C
1
ke titik D
1
= 200 MW
f. PLTG yang menggunakan HSD mempunyai kemampuan 300 MW sehingga arah titik
D
1
ke titik E
1
= 300 MW
Tabel 9.4
210
Dari penyusuan tabel 9.4, tampak bahwa nilai dF(PT) / dPT dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
1. Besarnya beban yang harus dilayani oleh sistem seperti digambarkan oleh gambar 9.11.
2. Unit pembangkit yang tersedia yang akan menetukan kurva biaya bahan bakar seperti
gambar 9.10.
Berdasarkan uraian pada butir a dan b di atas maka titik A letaknya pada sumbu MW karena
biaya bahan bakar PLTA = 0.
Titik B dicari dengan perhitungan sebagai berikut :
PLTU yang menggunakan batubara dan berbeban 800 MWberdasar angka pada butir 2 akan
menghabiskan biaya : 800 x 1 x 1000 x 30 = Rp.24 juta/jam.
Titik B terletak pada posisi beban 500 MW (beban PLTA yang minimum) + 800 MW = 1300
MW.
Biaya bahan bakar PLTA ( = 0) + 24 juta/jam = Rp.24 juta/jam
Dengan cara serupa maka akan didapatkan titik C, D, dan E
Gambar 9.10 Beban dan dF(PT) / dPT sebagai fungsi waktu
211
9.5 OPTIMASI SISTEM TENAGA LISTRIK METODE GRADIEN ORDE DUA
Methode gradient orde dua merupakan salah satu methode yang dikembangkan untuk
memeperoleh penjadualan pembebanan pembangkit yang ekonomis. Methode gradient orde
dua merupakan pengembangan deret Taylor dari fungsi obyektif pembangkit. Pengembangan
fungsi tersebut sebagai berikut:
Turunan ke dua dari persamaan biaya (Fuel cost) dari setiap unit pembangkitan dalam
kondisi normal, hanya tergantung pada daya output dari tiap pembangkit:
untuk I = j juga pembatasan daya output dari masing-masing unit pembangkit harus sama
dengan total permintaan (demand) beban sehingga peningkatan pembebanan tidak merubah
frekuensi dari sistem yang persamaannya sebagai berikut:
persamaan (9.7) disubsitusikan ke dalam persamaan (9.4) menjadi:
Perubahan biaya operasional total AF
T
dapat dilakukan perhitungan dengan methode
kalkulus biasa, bila nilai tersebut merupakan fungsi dari perubahan tersendiri dari N 1 dalam
level output AP
i
. Tidak ada pembatasan kondisis yang lain, selain batas-batas daya output
pembangkit. Biaya operasional optimum diperoleh pada saat turunan parsial dari AF
T
sama
dengan nol, dengan memperhatikan variable bebas AP
i
. Hal tersebut berarti bahwa turunan-
212
turunan parsial , harus bernilai nol untuk semua 1, 1 = 0, turunan-turunan ini dihasilkan
dalam sebuah kumpulan persamaan simultan, sebagai berikut:
maka persamaan simultan N-1, dapat dituliskan dalam bentuk matrix sebagai berikut:
dari persamaan di atas akan diperoleh daya baru (Pbaru n) yang perhitungannya :
213

Data input output pembangkit


Persamaan input output pembangkit perunit
Persamaan biaya bahan bakar, perlu diperhatikan harga bahan bakar yang

digunakan oleh masing-masing pembangkit.


Persamaan incremental fuel cost (IFC).
Persamaan ekivalen input output biaya bahan bakar pembangkit.
Persamaan ekivalen incremental fuel cost pembangkit.
Tahapan tahapan perhitungan penjadualan pembangkit hidro thermal dengan methode
gradien orde dua, kita perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan kondisi awal, yaitu mengalokasikan daya beban total P
R
berdasarkan
kapasitas pembangkit
2. Menghitung nilai F
i
dan F
i
sesuai dengan nilai-nilai pada kondisis awal.
3. Menentukan variabel acuan Px (pembangkit x)
4. Menyusun matrix berdasarkan persamaan (9.12) sesuai dengan nilai yang diperoleh
pada langkah 1 sampai 3
5. Menginvers matrix pada langkah 4 untuk memperoleh AP
i
dari setiap unit
6. Menjumlahkan AP
i
dengan nilai pada kondisis awal
7. Menginput nilai P
i
yang baru ke persamaan daya pembangkitan
Data yang diperlukan pada optimasi sistem tenaga listrik adalah:
Data kapasitas pembangkit yang akan dioptimalkan
Data input output pembangkit yang akan dioptimalkan
Data beban sistem.
Data kapasitas pembangkit dan beban sistem tenaga listrik jelas. Data input output
pembangkit yang akan dioptimasikan:
214
9.6 OPTIMASI SISTEM TENAGA LISTRIK METODE FUZZY LOGIC
9.6.1 Pendahuluan
Ditinjau dari segi prakteknya, kebanyakan teori fuzzy dipusatkan pada fuzzy system ,
khususnya fuzzy control. Kerena sensitivitasnya terhadap teknologi baru, diera 1980-an para
insinyur jepang [dimulai oleh Sugeno : control instalasi pemurnian air dari Fuji Electric dan
diikuti oleh, Yasunobu dan Myamoto dari Hitachi : pembangunan fuzzy control system untuk
Sandai subway dan lain lain] telah menemukan bahwa, dalam beberapa hal fuzzy controller
lebih mudah dirancang dan bekerja lebih baik dari pada convensional controller. Kondisi
tersebut berkaitan dengan control fuzzy tidak membutuhkan model matematika dalam
representasi suatu proses dan dapat diterapkan pada beberapa sistem dimana teori
konvensional tidak dapat dipakai karena kekurangan/ketidak tersediaan model matematika
atau model matematika yang tersedia terlampau sulit dipecahkan, terlalu kompleks untuk
dipelajari secara cepat atau melibatkan terlalu banyak memori dalam komputasi atau sistem
kontrol. Bebarapa alasan lain dari penggunaan fuzzy logic selanjutnya dijabarkan sebagai
berikut
1. Dalam proses yang melibatkan ketertarikan manusia (pemikiran deskriptif dan intuisi
manusia).
2. Ketika ada seorang yang telah berpengalaman yang dapat menjabarkan aturan perilaku
sistem. Intuisi boleh diadopsi jika ada operator berpengalaman yang menangani masalah
dengan sukses.
3. Dalam proses yang mempertimbangkan fenomena kontinyu yang tidak dengan mudah
dijadikan diskrit.
4. Ketika tingkat derau tinggi atau menjadi lebih penting untuk menggunakan sensor yang
tidak mahal.
5. Formula fuzzy dapat membantu pencapaian berbagai kemudahan, kekokohan, solusi yang
6. lebih optimal dan kesederhanaan.
7. Sangat mudah dihibridkan dengan teknologi lain, misalnya GA, NN, AIS, control optimal
dsb.
Seiring dengan waktu, penerapan fuzzy control merambat dari peralatan rumah tangga
(mesin cuci, AC dsb.) hingga industry (otomotif, kesehatan dsb.) termasuk bidang sistem
tenaga listrik, diantaranya adalah kontrol perluasan batas kestabilan (PSS) , control frekwensi
215
(LFC) dan penjadwalan pembangkit operasi pembangkit (commitment unit). Jika bukan
sebagai pengganti control sistem yang telah ada paling tidak fuzzy control dapat dijadikan
alternative.
Meskipun dapat diterapkan dalam banyak bidang, penulisan makalah ini akan
dipusatkan pada penerapan control fuzzy pada penjadwalan operasi pembangkit (commitment
unit). Bahasan akan dimulai dengan teori singkat yang berkaitan dengan beberapa hal penting
dalam commitment unit dan teori singkat fuzzy logic, kemudian membahas bagaimana
pendekatan pendekatan fuzzy logic dalam penjadwalan operasi pembangkit.
9.6.2 Konsep Fuzzy Logic
9.6.2.1 Himpunan Fuzzy
Pada himpunan klasik dengan logika Boolean, jawaban apakah suatu elemen adalah anggota
atau bukan anggota sebuah himpunan bagian, dinyatakan dengan nilai 1 atau 0, seperti hitam
atau putih dan tidak memiliki jawaban abu abu (samar samar). Suatu pernyataan yang
menggunakan logika Boolean dinamakan Crisp.
Pada fuzzy logic, keanggotaan sebuah elemen dalam suatu himpunan dinyatakan dengan
level kesamarannya (fuzziness) dalam variable linguistic dan menggunakan level level
keanggotaan terletak diantara nilai 0 sampai 1. Disini, niali 0,5 diterima akan tetapi dengan level
keanggotaan abu abu. Angka 0,9 menunjukkan bahwa elemen tersebut benar sebagai
anggota dan angka 0,3 menunjukkan besar kemungkinan elemen tersebut bukan anggota.
Untuk jelasnya, himpunan fuzzy dan bagian bagianya diperlihatkan seperti pada gambar
9.11.
Gambar 9.11. Himpunan fuzzy dan bagian - bagiannya
216
9.6.2.2 Variabel Linguistik
Sistem dengan pendekatan fuzzy logic merupakan sistem yang menirukan cara kerja manusia
dalam melakukan proses pengambilan keputusan melalui ungkapan ungkapan kualitatif dari
apa yang di-inderanya. Contoh, Seorang operator yang sedang mengatur suatu proses secara
manual akan menggunakan ungkapan ungkapan seperti sangat besar, sedang, mendekati
maksimum, sekitar set-point dan sebagainya.
Dalam fuzzy logic, variable linguistic dapat dinyatakan dengan ungkapan linguistic VL
(Verry Low), L (Low), BAV (Below Average), AV (Average), AAV (Above Average), H
(High), VH (Verry High), Z (Zero), M (Medium), B (Big) dan VB (Very Big) untuk variable
masukkan dan keluaran.
9.6.2.3 Fungsi Keanggotaan
Nilai nilai linguistik pada fuzzy logic dipetakan kedalam suatu interval [0,1] yang disebut
nilai keanggotaan sedangkan fungsi keanggotaan merupakan grafik yang menunjukkan
hubungan pemetaan antara nilai linguistik dan nilai keanggotaanya. Banyaknya nilai
linguistik yang akan digunakan dalam membentuk fungsi keanggotaan pada fuzzy logic yaitu
tiga hingga tujuh buah nilai linguistik untuk setiap variable linguistiknya atau menggunakan
nilai linguistik yang berjumlah ganjil.
Fungsi keanggotaan dapat berbentuk fungsi segitiga, fungsi eksponen, trapezium, phi atau
fungsi S. Untuk pembahasan selanjutnya dipilih segitiga dengan ekspresi matematis dan
gambar seperti yang diperlihatkan dibawah ini.
Gambar 9.12 Fungsi keanggotaan segitiga
217
9.6.2.4 Fuzzifies (Fuzzifikasi)
Fuzzifikasi merupakan proses pemetaan masukkan dari domain crisp ke domain fuzzy untuk
menghasilkan suatu set nilai keanggotaan untuk semua fungsi keanggotaan yang ada.
Fuzzifikasi merupakan proses awal untuk mengubah masukkan yang berupa crisp menjadi
himpunan fuzzy sebagaimana contoh yang diperlihatkan diperlihatkan pada gambar 9.13. Dari
gambar nampak bahwa harga crisp 0,5 memiliki dua derajat keanggotaan yaitu
Z
(x) = 0,4 dan

N
(x) = 0,6.
Gambar 9.13 Proses Fuzzifikasi nilai crisp x = 0,5
9.6.2.5 Basis Pengetahuan
Basis pengetahuan dalam fuzzy logic adalah bagian yang berisi basis data dan basis aturan.
Basis data berfungsi mengatur kerja dan proses fuzzifikasi sehingga pembentukkan basis data
meliputih penentuan ruang semesta dan penentuan banyaknya nilai linguistik untuk
membentuk fungsi keanggotaan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membentuk fungsi
keanggotaan diantaranya adalah intuisi, inferensi, rank ordering, angular fuzzy set, NN, GA
dan soft partitioning.
Basis aturan berfungsi mengatur proses inferensi yang menghubungkan antara masukkan
an keluaran. Basis aturan harus mencakup seluruh kombinasi masukkan yang ada kecuali
menggambarkan kondisi yang tidak mungkin terjadi atau sudah termuat pada aturan lainnya.
Dalam pendekatan fuzzy logic, keputusan dibuat dengan pembentukkan sederet aturan yang
menghubungkan variable masukkan ke-keluaran dengan pernyataan Jika Maka.
Contoh basis aturan dengan pernyataan kondisional yang terdiri dari tiga masukkan (x) dengan
satu keluaran (y) adalah sebagai berikut :
218
Jika x
1
adalah A
1
dan x
2
adalah B
1
dan x
3
adalah C
1
maka y adalah D
1
Jika x
1
adalah A
2
dan x
2
adalah B
2
dan x
3
adalah C
2
maka y adalah D
2
Jika x
1
adalah A
3
dan x
2
adalah B
3
dan x
3
adalah C
3
maka y adalah D
3
9.6.2.6 Proses Inferensi
Proses inferensi adalah proses transformasi dari suatu masukkan dalam domain fuzzy ke
keluaran juga yang masih dalam domain fuzzy, dengan menggunakan basis pengetahuan.
Dalam proses ini terdapat dua metode yang paling umum digunakan, yaitu penalanaran
MAKS MIN dan MAKS DOT. Penalaran MAKS MIN menggunakan aturan minimum
Mamdani sedangkan penalaran MAKS DOT menggunakan aturan hasil kali Larsen.
Proses inferensi dengan penalaran MAKS MIN untuk kondisi dua masukkan dan satu
keluaran dihubungkan dengan basis aturan AND yang dituliskan dalam ekspresi matematis
(9.15) dan grafis seperti gambar 9.14.
Gambar 9.14. Proses inferensi dengan penalaran MAKS
Untuk kondisi yang sama dengan diatas, penalaran MAKS DOT memberikan :
219
Perbedaan antara MAKS DOT dengan MAKS MIN adalah MAKS DOT memperkalian
semua nilai keanggotaan C1 dengan 1 dan C2 dengan 2. Proses penalaran MAKS DOT
diperlihatkan pada gambar dibawah ini.
Gambar 9.15. Proses inferensi dengan penalaran MAKS
9.6.2.7 Defuzzifikasi
Proses defuzzifikasi merupakan kebalikan dari proses fuzzifikasi, yaitu mentransformasikan
suatu nilai domain fuzzy yang merupakan hasil inferensi ke suatu nilai crisp. Terdapat paling
tidak ada tujuh metode yang dapat digunakan dan dua metode yang paling populer adalah :
1. Metode centroid (Center of Area).
Metode ini disebut juga metode pusat grafitasi dan merupakan metode yang paling banyak
digunakan. Secara matematis, metode ini dinyatakan sebagai :
Dimana :
Z* = Nilai keluaran

c(Zk
) = derajat keanggotaan elemen elemen pada hinpunan fuzzy Z
z
k
= Elemen ke-k
2. Metode Maksimum of Mean (MOM)
Metode ini secara matematis dinyatakan sebagai :
220
Dimana : Z* = Nilai keluaran
zj = Maks = nilai keluaran maksimum ke j

c
(Z) = derajat keanggotaan elemen elemen pada himpunan fuzzi Z
J = Jumlah harga maksimum
9.6.3 PENJADWALAN UNIT PEMBANGKIT DENGAN PENDEKATAN
FUZZYLOGIC
Secara umum, dalam penyelesaian suatu masalah dengan pendekatan fuzzy logic mengikuti
tahapan tahapan sebagai berikut :
1. Menentukan variabel masukkan dan keluaran
2. Menentukan range variabel masukkan dan keluaran berdasarkan basis data
3. Partisi range dari variabel masukkan dan keluaran dan berikan label linguistik untuk
masing masing range tersebut
4. Membentuk fungsi keanggotaan dari setiap variabel pada tahap 3
5. Membentuk relasi-relasi yang menghubungkan variabel variabel masukkan dan keluaran
pada tahap 4 sehingga membentuk suatu basis aturan
6. Fuzzifikasi masukkan
7. Melakukan inferensi untuk mendapatkan keluaran
8. Mengaplikasikan proses defuzzifikasi untuk menghasilkan nilai crisp dari keluaran hasil
proses inferensi
Tahapan 1 hingga 6 adalah langkah untuk membentuk basis pengetahuan berdasarkan basis
data dan basis aturan sedangkan tahapan 6 hingga 8 adalah mengevaluasi basis pengetahuan
yang sudah dibentuk.
Gambar 9.16 Penjadwalan pembangkitan tenaga listrik menggunakan sistem fuzzy logic
221
9.6.3.1 Menentukan Variabel Masukkan dan Keluaran
Dalam penyelesaian masalah penjadwalan unit pembangkit, variabel variabel yang harus
dijadikan sebagai variabel masukkan (yang difuzzifikasi) adalah :
1. Kapasitas beban generator
2. Biaya inkremental
3. Biaya start up
4. Biaya produksi
Sedangkan variabel keluaran adalah Biaya Produksi
9.6.3.2 Membentuk Himpunan Fuzzy
Himpunan himpunan yang mendefinisikan kapasitas beban generator, biaya inkremental,
biaya start up dan biaya produksi direpresentasikan sebagai berikut :
Kapasitas Beban Generator : LGC
9.6.3.3 Membentuk Fungsi Keanggotaan
Untuk membentuk fungsi keanggotaan diperlukan basis data yang berfungsi untuk mengatur
kerja dari proses fuzzifikasi yang meliputih penentuan range dan nilai linguistik. Basis data
222
adalah sistem tenaga, misalnya sistem sulsel, Manado minahasa, Jawa Bali Area I dan
sebagainya. Sedangkan fungsi keanggotaan dipilih berbentuk fungsi segitiga.
Adapun nilai linguistik dan range dari variabel variabel fuzzy diatas adalah sebagai
berikut :
Kapasitas Beban Generator : LGC = {VL, L, BAV, AV, AAV, H, VH} ; Range 0 00
(MW)
Biaya Inkremental : IC = {Z, S, M, B, VB} ; Range 0 80.000 (Rp)
Biaya Start up : SUP = {L, BAV, AV, AAV, H}
Biaya Produksi : PRC = {VL, L, BAV, AV, AAV, H, VH} ; Range 0 22.000.000 (Rp)
Dengan fungsi keanggotaan ini, maka variabel masukkan terhubung ke variabel keluaran
dengan aturan Jika Maka seperti yang diperlihatkan pada gambar dibawah ini.
Gambar 9.17. Fungsi Keanggotaan LGC dengan Range 0 600
223
9.6.3.4 Membentuk Basis Aturan
Kita telah menentukan Kapasitas beban generator (LGC), Biaya Inkremental (IC) dan Biaya
start up (SUP) sebagai variable masukkan dan dan Biaya Produksi (PRC) adalah sebagai
variable keluaran.
Dari gambar (9.17), (9.18), (9.19) dan (9.20), basis aturan dalam masalah penjadwalan ini
tersusun dalam 70 basis aturan seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini.
224
225
9.6.3.5 PROSES DEFUZZIFIKASI
Untuk mendapatkan keluaran dalam bentuk crisp (dalam hal ini biaya produksi dalam Rp),
proses defuzzifikasi dalam kasus ini menggunakan metode centroid.
Dengan mengacu pada persamaan (10), biaya produksi dalam kasus ini dapat dituliskan
Sebagai:
Untuk perhitungan proses defuzzifikasi, selanjutnya akan dilakukan dengan bantuan program
MATLAB, sehingga proses perhitungan ini dapat diselesaikan dengan cepat.
DAFTAR PUSTAKA
Allen J. Wood, Bruce F. Wollenberg, Power Generation, Operation and Control, John Wiley
and Sons, New York, NY, 1996.
Brown, Ryan, Reliability Enhancement of The Avista Electric Power System. Gonzaga
University, Spokane, 2005.
Conant, MA. & F.R.Gold.. The Geopolitics of Energy. Westview Press, Boulder Colorado.
1978.
Considine, D.M. (Editor in chief).. Energy Technology Handbook. McGraw Hill Bokk
Company. New York. 1977.
Cuip, A.W. (penerjemah:Darwin Sitompul). Prnsip-Prinsip Konversi Energi. Penerbit
Erlangga. Jakarta. 1991.
Direktorat Jendral Listrik dan Pemanfaatan Energi, Aturan Jaringan Jawa- Madura- Bali.
Jakarta.2004, 79-85.
E. Warren King and Claudio A. Canizares, Hong Chen, A Probabilistic Approach to
Evaluate Security Costs and Levels in Competitive Electricity Markets, Bulk Power
Sistem Dynamics and Control - VI, August 22-27, 2004.
Ebrahim Vaahedi, Yakout Mansour, Chris Fuchs, Sergio Granville, Maria de Lujan Latore,
Hamid Hamadanizadeh, Dynamic Security Constrained Optimal Power Flow/VAr
Planning, IEEE TRANSACTIONS ON POWER SYSTEMS, VOL. 16, NO. 1,
FEBRUARY2001.
Federico Milano, Sensitivity-Based Security-Constrained OPF Market Clearing Model,
IEEE Transactions on Power Sistems, Vol. 20, No. 4, November 2005.
Felix F. Wu, Sadatoshi Kumagai, Steady State Security Regions of Power Sistems, IEEE
Transaction on Circuit and Ssytems, Vol CAS-29, No. 11, November 1982.
Hyungchul Kim, Evaluation of Power System Security and Development of Transmission
Pricing Method, Texas A&M University, PhD, August 2003.
Gates, D.M.. Energy and Ecology. Sinauer Associates, Inc. Sunderlandd, Massachusetts. 1985.
Gonen Turan, Modern Power Sistem Analysis, John Wiley and Sons.
I. Dobson, B.A. Carreras, V.E. Lynch, D. E. Newman, An initial model for complex
dynamics in electric power sistem blackouts, Hawaii International Conference on
Sistem Sciences, January 2001.
Kaanan Nithiyananthan, Neelamegam Manoharan, Velimuthu Ramachandran, An Algorithm
Ranking Based on Reactive for Contingency Compensation Index, Journal of
Electrical Enginnering, Vol. 57, No. 2, 2006, 116119 SA.
Kadir,A.,Prof.lr, Pengantar Teknik Tenaga Listrik,1995, LP3ES, Jakarta
Kadir,A.,Prof.lr. Energi. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 1990.
Neville, R.C.Solar Energy Conversion; the Solar Cell. Elsevier Scientific Publishing
Company. Amsterdam. 1978.
Marek Zima, Contributions to Security of Electric Power Sistems, Swiss Federal Institute of
Technology Zurich, PhD, 2006.
Marsudi, Djiteng. Operasi Sistem Tenaga Listrik. Balai Penerbit dan Humas ISTN,
Jakarta,1990.
Nadjamuddin Harun, Operasi Ekonomis Sistem Tenaga Listrik Berbasis Logika Samar,
2002, Kementerian Riset Teknologi.
Naoto Yorino, E. E. El-Araby, Hiroshi Sasaki, Shigemi Harada,A New Formulation for
FACTS Allocation forSecurity Enhancement Against Voltage Collapse, IEEE
Transaction On Power Systems, Vol. 18, NO. 1, February 2003.
OConnor, P.D.T; and Harris, L.N : Reliability prediction : a state-of-the art review, Proc.
IEE (IEE Reviews), 1986,133A (4).
P. Kundur, Power System Stability and Control, Mc Graw Hill, 1994.
Peter W. Sauer, Post-Contingency Equilibrium Analysis of Power Sistems, Proceedings of
the 35th Hawaii International Conference on Sistem Sciences, 2002.
Pottonen, Liisa. A Method for The Probabilistic Security Analysis of Transmission Grid.
Doctoral Dissertation, Helsinki University of Technology, 2005.
Ristanovic, P., Bjelogrlic,M., dan Babib, B.S. Improvement in Sparse Matrix/ Vektor
Technique Applications for On-Line Load Flow Calculation. IEEE Transactions on
Power Systems, Vol.PWRS-4,No.1, 190-196, 1989.
Saadat, Hadi. Power System Analysis. McGraw Hill Bokk Company. NewYork. 1999.
Sheahan, R.T. Alternative Energy Source, a Strategy Planning Guide An Aspen Publication.
Maryland, London. 1981.
Slesser, M (General Editor). Dictionary of Energy, second edition. Nichols Publishing. New
York. 1988.
Scott Greene, Margin and Sensitivity Methods for Security Analysis of Electrical Power
Sistems, University of Wisconsin Madison, PhD, 1998.
Veziroglu, T.N.(Editor). Solar Energy and Conservation. Proceedings of the Solar Energy and
Conservation Synposium, 11-13 Desember 1978, Miami Beach, Florida. Pergamon
Press. New York. 1978.
X. Wang, J. R. McDonald, Modern Power Sistem Planning, McGraw Hill Inc., New York,
NY, 1994.